Latest Entries »

= Nuna’s Diary =

Page: 137-140

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“taeminie, sudah siap?” tanyaku pada taemin yang baru saja keluar dari kamarnya.

“ne! gaja, nuna~” jawab taemin dengan senyum lebar.

Kemarin aku dan taemin membuat janji kalau hari ini kami akan belanja bulanan sama-sama. Karena barang yang harus kami beli banyak, jadi kami memilih super-mart yang jauh dari rumah. Itu karena harga barang di super-mart itu jauh lebih murah daripada mini-mart yang ada di dekat rumah kami. Dari rumah sampai ke super-mart itu memakan waktu lebih kurang 45 menit dengan bis.

“sudah matikan lampu kamarmu?” tanyaku pada taemin selagi memasang sepatu.

“sudah! Eh, sudah belum, ya?” taemin meletakkan telunjuknya di depan bibirnya selagi berpikir.

“ish, kau ini! Sana lihat dulu!” suruhku.

“yaah~ aku kan sudah pasang sepatu, nuna~” rengek taemin malas.

“sana lihat dulu~!” aku bersikeras.

Taemin memajukan bibirnya karena kesal, tapi dia melepas sepatunya dan setengah berlari menuju ke kamarnya. Sebentar kemudian, dia kembali lagi ke pintu depan dengan senyum sumringah.

“ternyata sudah nuna, hehe” katanya sambil nyengir. Aku mengangguk sebagai respon.

“taeminie, zipper-mu belum dinaikkan.” Ujarku sambil menunjuk zipper celananya.

“eh? Oh iya..” taemin langsung melihat ke bawah dan menaikkan zipper-nya. Setelah itu ekspresi-nya berubah, seperti baru menyadari sesuatu, “iih, nuna ngapain lihat-lihat ke celanaku~? Nuna mesum~ kyaa~” taemin menutup matanya sambil senyum-senyum. Perutku geli melihat ekspresi-nya.

“sudah, cepat pasang sepatumu!” suruhku lagi.

Tanpa kata, taemin segera duduk untuk memasang sepatunya. Aku memperhatikan taemin yang masih berkutat dengan sepatu setengah-boots-nya itu. Sepatu hitam kesukaannya, dibeli hampir dua tahun yang lalu tapi sampai sekarang masih terlihat baru.

Hari ini taemin memakai kemeja merah kotak-kotak yang aku belikan saat hari natal tahun kemarin. Sudah lama dia tak memakai kemeja itu, padahal dulu hampir setiap hari dipakainya. Lalu taemin memakai celana jeans hitam ketat. Kadang-kadang aku heran kenapa anak ini suka sekali pakai celana sempit-sempit begitu.

“aku siap nuna, gaja!” taemin berdiri sambil tersenyum. Tubuh taemin yang lebih tinggi dariku terlihat menjulang karena dia berdiri dengan tiba-tiba.

Aku keluar lebih dulu daripada taemin. Taemin mengikutiku setelah sebelumnya menaikkan sedikit celananya ke atas.

“kenapa sih, kau suka celana sempit-sempit begitu?” tanyaku saat menutup pintu depan dan menguncinya.

“suka saja, kenapa memangnya nuna?” taemin malah balik bertanya. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.

“katanya laki-laki tidak boleh terlalu sering pakai celana ketat loh, taeminie~” ujarku lagi saat kami mulai menyusuri jalanan kompleks.

“aku juga pernah sih dengar yang seperti itu. Tapi kan aku suka, nuna, mau bagaimana lagi?” ujar taemin cuek.

“terserahmu kalau begitu.” Sahutku malas.

Selama berada di bis, taemin bercerita macam-macam. Tentang mimpinya tadi malam, tentang lelucon baru yang didapatnya dari kai, tentang acara televisi yang disukainya akhir-akhir ini. Sempat juga dia bertanya padaku mengenai chen, tapi aku tak terlalu menggubrisnya. Hari ini aku ingin kepalaku dipenuhi oleh adikku, bukan oleh orang lain. Bukan karena aku jadi tidak suka chen, hanya saja aku ingin menempatkan diriku di tempat dan saat yang tepat.

Setelah setengah jam lebih kami berada di dalam bis, taemin mulai bosan. Dia tidak lagi berceloteh tentang macam-macam hal. Sekarang dia diam sambil membuat pola-pola aneh di kaca jendela bis dengan jarinya. Sebentar kemudian, taemin tiba-tiba menggenggam tanganku dan merebahkan kepalanya di pundakku.

“jangan tidur, kita sudah hampir sampai.” Kataku mengingatkan.

“tidak tidur kok, cuma ingin merebahkan kepalaku saja,” sahut taemin dengan suara pelan, “nuna pendek sekali sih, leherku jadi sakit~” Tambahnya lagi sambil menggerutu.

Hah?? Apa maksudnya??, omelku dalam hati.

“ya sudah, tidak usah direbahkan saja!” balasku ketus.

“hehe, nuna jangan marah dong~”

Ccuk!

Taemin langsung mencium pipiku sekilas setelah berkata seperti itu. Setelah itu dia merebahkan kepalanya lagi ke pundakku.

“ya!!” aku mencoba membentaknya sambil berbisik.

“hihi.” taemin hanya tertawa kecil. Genggamannya di tanganku dieratkannya setelah itu. Rasanya seperti diremas sebentar. Tidak sakit, tapi entah kenapa aku bisa merasakan rasa sayangnya dari remasan kecil itu.

Dasar kecil, gerutuku dalam hati. Meski begitu aku tahu kalau bibirku membentuk senyuman.

Mesin bis yang berderum pelan membuat mataku menjadi berat. Kulihat kepala taemin yang masih ditaruhnya di pundakku. Dengan perlahan, aku menyandarkan kepalaku di kepalanya. Posisinya pas sekali.

“nuna jangan tidur. Kita sudah hampir sampai.” Terdengar suara taemin sedetik kemudian.

Hatiku jadi panas. Dia menyalin kata-kataku. Anak ini benar-benar…

“iya, cerewet!” bisikku ketus. Akhirnya aku tidak jadi menyandarkan kepala di kepala taemin dan ganti melihat lurus ke jalanan di depan. Taemin juga langsung menegakkan kepalanya.

“wah, nuna, kita sampai! Itu di depan!” taemin menunjuk keluar jendela.

Benar kami sudah hampir sampai. Halte turun juga sudah kelihatan.

“ayo turun!” ajakku. Genggaman tangan taemin langsung kulepas. Rasanya tidak enak saja bergandengan di tempat umum seperti ini. Apalagi yang kugandeng itu adikku.

Taemin terus mengikuti di sampingku sampai kami berada di dalam gedung. Puluhan keranjang dorong mart berjejer rapi di depan pintu masuk.

“taeminie, ambil satu.” Suruhku pada taemin. Dengan setengah berlari taemin mengambil salah satu keranjang dorong terdekat dan mendorongnya mendekatiku.

“daftar belanjaannya, nuna?” tanyanya mengingatkan.

“oh iya.” Aku segera merogoh tas dan mengambil buku agenda kecil tempat aku menulis apa-apa saja yang harus kami beli hari ini.

Keadaan di mart cukup ramai. Aku dan taemin masuk beriringan dengan dua keluarga saat kami berjalan melewati pintu masuk.

Begitu masuk, aku dan taemin langsung berbelok ke kanan, menuju rak paling ujung mart ini. Meski aku sudah mencatat barang-barang apa saja yang harus dibeli, tapi seperti ada yang kurang kalau tidak menelusuri tiap lorong yang ada di mart ini.

Sesuai perkiraanku, rak paling ujung kanan berisi perabotan berat seperti lemari, meja, kursi dan lain-lain. Meski kami tidak memerlukan itu semua, tapi tetap saja aku dan taemin selalu berhenti di depan beberapa perabot hanya untuk melihat atau mengagumi beberapa disain perabot yang unik.

“taeminie, lemari yang itu sepertinya cocok kalau diletakkan di kamarmu.” Ujarku sambil menunjuk salah satu lemari kecil berbentuk rumah jamur.

“tidak lucu, nuna!” gerutu taemin, bibirnya sudah maju lagi. Aku nyengir melihat ekspresi-nya seperti itu. Empat tahun yang lalu, taemin pernah salah potong rambut dan akhirnya rambutnya berbentuk seperti jamur. Sejak saat itu, kalau aku mengingat hal itu, aku selalu meledek taemin dan dia selalu tampak tak suka.

Setelah melihat-lihat perabot di lorong pertama, kami melanjutkan ke lorong kedua sambil mendorong keranjang yang masih kosong. Mungkin lebih tepatnya taemin yang mendorong, soalnya tadi sebelum masuk dia bersikeras untuk mendorong keranjang itu.

Di lorong kedua, kami memasukkan beberapa peralatan dapur ke dalam keranjang, taemin membantuku mengambil peralatan yang letaknya lebih tinggi. Ada bagusnya juga membawa taemin belanja bulanan seperti ini.

Taemin berhenti lumayan lama di suatu bagian peralatan dapur yang didisain khusus untuk anak-anak. Dia melihat peralatan-peralatan kecil itu dengan senyum sumringah. Taemin mengambil salah satu sendok panjang yang dihiasi bentuk pororo di ujungnya dan menggerakkannya sedemikian rupa seakan-akan sendok itu tongkat sihir.

“wingardium leviosa!” ujarnya sambil mengarahkan sendok itu ke arahku. Setelah itu dia tersenyum-senyum sendiri dan kembali melihat peralatan unik lainnya.

Aku mengambil alih keranjang dorong dan mulai mendorongnya menjauhi taemin. Kalau si kecil itu terus ditunggu, mungkin kami tak akan selesai belanja sampai malam.

Sambil memperhatikan daftar belanjaan, aku melihat kedua sisi rak. Taemin sudah aku tinggalkan di belakang. Aku sedang mengambil mangkuk kaca kecil di rak sebelah kiri saat aku tidak sengaja mendengar percakapan dua orang cewek yang lewat di sampingku.

“itu dia! kau sudah siapkan kamera? Ayo cepat foto sebelum orangnya pergi!” Begitu kata-kata yang dapat kudengar dari salah satu cewek itu.

Dengan sedikit curiga, aku mengikuti arah pandangan kedua cewek itu. Mereka berdua ternyata sedang melihat ke arah dari mana aku datang tadi, lebih tepatnya di tempat taemin berada. Taemin tak berpindah jauh dari tempat aku meninggalkannya tadi, dia masih berkutat dengan peralatan kecil-kecil itu.

“taemnie?” panggilku sedikit keras agar taemin bisa mendengarku. Taemin langsung menoleh padaku dan tersenyum. Kemudian dengan berlari kecil, dia menyusulku. Sebelum kami berpidah ke lorong sebelah, aku sempat melirik sekilas ke arah dua orang cewek tadi.

Enak saja mau foto-foto adikku!, gerutuku dalam hati.

Aku selalu bilang kalau adikku imut, adik terimut yang pernah ada. Tapi aku jarang sekali bilang, atau bahkan tak pernah bilang, kalau taemin cukup tampan. Secara keseluruhan memang bukan tipe-ku, tapi dia tampan. Matanya berkelopak, hidungnya mancung, bibirnya tebal dan berwarna pink, kalau dia sedang haus bibirnya akan berubah sedikit kemerahan. Dan dengan sekali lihat sekalipun, orang-orang pasti mengatakan kalau rambut taemin halus. Dan benar, rambutnya memang sangat halus. Bagiku taemin itu seperti malaikat, ditambah lagi dengan senyum polosnya. Bukan sekali-dua kali aku mencuri dengar perkataan orang-orang di sekeliling kami yang mengatakan kalau taemin tampan. Tapi taemin sangat tidak peka dengan masalah ini. Terhadap orang yang tak dikenal, dia termasuk orang yang cuek. Karena itu aku cukup merasa bangga dengan keadaan adikku yang seperti itu.

Kami terus berkeliling mart, sementara keranjang dorong sudah setengahnya terisi. Saatnya menuju lantai dua, tempat di mana makanan di jual.

Di bagian ini, taemin sangat bersemangat. Sering kali aku kembali mengeluarkan makanan-makanan yang dimasukkan taemin ke dalam keranjang karena makanan itu tidak ada di daftar belanja. Kalau sudah begitu, bibir taemin makin maju, tapi dia sudah bersemangat kembali di lorong berikutnya.

Semangat taemin mulai menurun saat kami hampir sampai di lorong paling ujung. Sepertinya dia kecapekan. Taemin menurut saja perkataanku kalau aku suruh dia mengambil sesuatu, tak banyak omong seperti biasanya.

“nuna, aku capek~” gerutu taemin setelah kami selesai dan membayar semua barang belanjaan di kasir.

“nado. Kita makan dulu di atas, baru pulang. Eottae?” tawarku. Taemin hanya mengangguk setuju.

Kami menitipkan tiga buah kantong plastik besar di tempat penitipan dan kemudian naik ke lantai atas. Di lantai paling atas gedung ini ada banyak restoran. Memang sedikit mahal dibandingkan restoran yang ada di pinggir jalan, tapi tidak ada salahnya sekali-sekali mengajak adikku ke tempat yang sedikit mewah.

Kami selesai makan kira-kira dua jam kemudian, dan saat kami keluar gedung, malam sudah tiba. Karena belanjaan kami cukup banyak, aku memilih menggunakan taksi untuk pulang. Setelah menghentikan salah satu taksi, meletakkan barang-barang di bagasi belakang, aku dan taemin masuk ke dalam taksi.

Taksi mulai melaju di jalanan. Lampu kota berlari berlawanan arah dengan kami. Sementara itu, GPS berbunyi hampir tiap lima menit sekali.

“nuna, aku kenyang~ aku ngantu—hooahm~” kata-kata taemin terpotong karena dia menguap lebar. Taemin kemudian tersenyum padaku dengan mata setengah tertutup.

Aku membalas senyumannya dan menepuk pundak kiriku.

“tidur sini.” Suruhku.

Tanpa tunggu lagi, taemin langsung merebahkan kepalanya di pundakku. Kedua tangannya meraih tangan kiriku dan memeluknya.

“hmm~ nyamannya~” ujar taemin sambil memperbaiki posisinya. Dia mencoba meluruskan kakinya yang panjang ke bawah kursi supir. “nuna, aku tidur, ya~” ujarnya lagi.

“jal ja~” jawabku pelan, mataku kembali memperhatikan lampu-lampu di luar.

“ppoppo.” bisik taemin kemudian.

Aku menoleh pada taemin, kepalanya yang disandarkannya ke pundakku didongakkannya ke atas, bibirnya juga sudah maju. Senyumku tak bisa kutahan saat melihat ekspresinya yang lucu itu.

Ccuk!

Aku mengecup bibir tebal itu sekilas dan kembali melihat keluar jendela. Namun tiba-tiba dua jari taemin menarik daguku dan memaksa kembali wajahku untuk menoleh ke arahnya.

Ccuk~~

Sebuah ppoppo yang cukup panjang. Aku sampai menutup mataku karena ppoppo yang ini cukup lama.

“kalau sudah sampai bangunkan aku ya, nuna.” pinta taemin setelah ppoppo panjang itu. Dia kembali merebahkan kepalanya di pundakku, sementara tangan kiriku masih dipeluknya dengan erat.

“hm,” gumamku pelan. Aku melihat keluar jendela taksi lagi sambil merapatkan bibir setelah ppoppo panjang yang hangat barusan.

= Nuna’s Diary =

Page: 132-136

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“nuna~~ sudah belum~~?”

Suara ketukan di pintu disertai suara taemin sedikit mengejutkanku. Aku memutar keran shower ke posisi mati dan menyambar handuk yang kugantungkan di gantungan handuk.

“hampir selesai~ kenapa?” sahutku sedikit keras.

“aku sakit perut, nuna~ palli jom~~”

Hehe, si kecil itu sakit perut rupanya.

Aku segera mengeringkan badan dengan handuk putih punyaku.

“cepat, nuna~ sudah tidak tahan~ aigoo~~”

“sebentar, taeminie~ aku pasang baju dulu~” ujarku lagi. Dengan sigap aku menyambar pakaianku dan secepat mungkin memakainya.

“di kamar saja, nuna~~ aku tak tahan lagi~~ huwaa~~ palli~”

Gedoran di pintu semakin cepat.

Aku masih belum pakai baju, hanya dalaman.

“nunaa~~~”

Ah, ya sudahlah.

Aku melingkarkan handuk ke sekeliling badanku dan segera membuka pintu.

Wajah taemin sudah tidak keruan saat aku lihat. Tapi kemudian mulutnya terbuka lebar dan tiba-tiba semburat merah terlihat di pipi berisinya.

“huwa, nunaa~ aku maluu~” suaranya teredam karena dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Wajahku terasa panas saat menyadari yang terjadi. Wajah taemin memerah karena melihat keadaanku yang hanya dibalut handuk. Dan gara-gara dia malu, aku juga jadi ikut malu.

“apa-apaan itu? Sudah cepat masuk!” ujarku sambil sedikit mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.

“oh iya, aku lupa.” Kata taemin sambil nyengir, “aigooo~” erangnya sambil memegang perutnya dan menutup pintu.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala saat pintu tertutup. Setelah itu aku segera menuju kamar untuk memakai baju di sana.

Saat aku lihat jam dinding di kamarku, ternyata aku sudah terlambat lima belas menit dari waktu perkiraanku. Aku terlalu banyak memakai waktu untuk mandi ternyata. Ada bagusnya juga taemin menyuruhku untuk cepat keluar tadi, kalau tidak mungkin aku akan lebih lama lagi berada di dalam.

Dengan cepat aku memakai pakaian yang sudah aku siapkan, tak lupa mengeringkan rambutku dan sedikit memakai kosmetik. Hari ini aku ada janji dengan seseorang. Seseorang yang mungkin menjadi orang yang penting bagiku.

Wajahku memanas lagi saat aku membayangkan wajahnya. Dan aku sedikit bingung melihat pantulan diriku yang tersenyum malu-malu di cermin. Ah, kenapa hanya satu orang saja bisa membuatku seperti ini?

Aku melirik jam lagi dan aku langsung terlonjak. Aku tak sadar kalau waktu janjian sudah hampir tiba. Butuh dua puluh menit untuk sampai ke tempat yang sudah dijanjikan, dan sekarang kurang dari sepuluh menit dari waktu janjian. Aku terlambat.

Aku langsung menyambar tas, tak mau datang lebih terlambat lagi dari pada ini.

Taemin baru saja keluar dari kamar mandi saat aku lewat ruang keluarga dengan bergegas.

“nuna mau kemana?” tanyanya.

“ada janji. Mungkin aku pulang malam. Kau makan malam sendirian, ya. Aku terlambat. Daah~” ujarku cepat selagi membuka pintu depan.

Blamm!

Pintu depan tertutup di belakangku dan aku segera berlari menuju halte bis terdekat.

Untunglah saat aku datang, ada bis yang baru saja tiba. Aku bisa langsung naik dan tidak perlu menunggu lagi.

Aku duduk di barisan kursi ketiga dari belakang. Sambil mencoba menenangkan napasku, aku meraih tas untuk mengambil handphone. Aku harus mengabarkan Chen kalau aku akan terlambat.

Sudah kucari handphone-ku di setiap bagian tasku tapi aku tak menemukannya. Aku menghela napas berat saat menyadari kalau handphone-ku ketinggalan. Ya ampun, mudah-mudahan ini berakhir baik.

Tidak ada hambatan di jalan, untunglah. Kalau perkiraanku benar, aku paling tidak terlambat sepuluh menit dari waktu janjian.

Rasanya supir bus ini lama sekali menekan rem saat waktunya aku harus turun. Aku langsung menginjakkan kaki ke tanah begitu pintu bus terbuka. Untuk sampai ke tempat yang dijanjikan, aku harus berjalan sedikit lagi. Aku mempercepat langkahku.

Dari jauh sudah terlihat Chen. Dia memakai kemeja hijau lumut dan kaos putih di dalamnya. Aku sedikit merasa bersalah saat melihat ekspresi wajahnya yang berkerut sambil melihat handphone-nya.

“maaf aku terlambat.” Sapaku saat sampai di dekatnya. Dia tampak sedikit terkejut saat melihatku.

“oh, kukira kau tak bisa datang?” tanyanya sambil memperlihatkan layar handphone-nya padaku.

Mataku menyipit melihat isi sms di sana. Jelas sekali sms itu dari nomor-ku. Ada tulisan ‘yeongmi’ di sana.

 

Aku tak bisa datang. Kau pergi sendiri saja.

 

Begitu yang tertulis di sana.

Bagaimana bisa? Aku tak pernah mengirim sms seperti itu. Lagipula handphone-ku keting—

“ah! Taeminie! Anak itu benar-benar!” omelku sendiri. Aku melirik Chen yang masih tampak bingung.

“ah, mianhaeyo. Handphone-ku ketinggalan. Itu pasti adikku yang kirim. Mianhaeyo” ujarku merasa bersalah padanya.

“oh~” Chen mengangguk dengan mulut sedikit terbuka. Dia kemudian memasukkan handphone-nya ke dalam kantong celananya.

“gwaenchanha. Ayo pergi.” Chen tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dan mengikutinya berjalan di sampingnya.

“jadi kau punya adik?” tanyanya saat kami berjalan bersama.

“ne, adik laki-laki. Umurnya hanya beda tipis denganku.” Jawabku.

Aku jadi membayangkan taemin lagi. Berani sekali dia mengirim sms seperti itu kepada Chen. Kalau aku sudah sampai rumah awas saja.

“apa kalian akur?” tanya Chen lagi.

“ne, begitulah. Meski kadang-kadang dia buat ulah. Anak itu cengeng sekali. Dan aku harus selalu mengurusnya. Terkadang aku sedikit kesal, tapi itu sudah tugasku sebagai nuna.” Aku bercerita panjang lebar. Chen mengangguk sebagai respon

“sepertinya adikmu lucu.” Sahut Chen, “tapi aku bingung, kenapa dia mengirim sms seperti tadi itu?”

“si taeminie itu terkadang sedikit protektif terhadap nuna-nya. Kami besar bersama, jadi dia seperti ada rasa memiliki terhadapku. Anak itu masih belum dewasa. Jadi harap maklum, dan maaf.” Aku nyengir sedikit bersalah pada Chen.

Chen menggeleng pelan.

“tidak ada masalah tentang itu.” Ujarnya sambil tersenyum lagi. “kalau kita nonton, bagaimana?” ajak Chen.

“joha” ujarku sambil mengangguk.

“geurae. Ayo pergi ke bioskop~” ujar Chen lagi sambil menyambar tanganku dan menggenggamnya erat.

Jantungku langsung berdegup kencang. Diam-diam aku tersenyum kecil. Sepertinya hari ini akan menyenangkan.

***

“apa benar tidak apa? kau jadi memutar terlalu jauh.” Tanyaku sedikit tidak enak. Chen tadi memaksa untuk mengantarkanku pulang. Padahal rumahnya berlainan arah dengan rumahku.

“gwaenchanha. Aku sekalian ingin tahu di mana rumahmu. Barangkali lain waktu aku ingin menjemputmu langsung kalau kita janjian lagi.” Jawabnya tenang, lampu jalan yang remang menyinari wajahnya. Aku hanya tersenyum sebagai respon. Wajahku panas lagi.

Dari tadi sore, Chen selalu menggenggam tanganku kalau kami berjalan berdua. Kami terus menyusuri komplek perumahan dekat rumahku dengan bergandengan tangan. Kalau malam komplek ini selalu jadi sepi, aku pun tak tahu kenapa. Kami tak pernah berpapasan dengan orang lain setelah turun dari bus tadi.

“rumahku yang itu.” Ujarku sambil menunjuk rumah tak jauh dari tempat kami berada beberapa lama kemudian.

“ah, yang itu.” Chen mengangguk, “baiklah, aku sudah tahu sekarang.” Bibirnya membentuk senyuman khas. Sepertinya hanya Chen yang punya senyuman seperti itu.

Kami berhenti di depan rumahku. Dan entah kenapa genggaman tangan Chen menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

“aku senang bersamamu hari ini.” ujar Chen kemudian, dia sudah berdiri menghadapku. Lagi-lagi dengan senyum itu.

“aku juga senang hari ini. Semua tempat tadi menyenangkan…” kata-kataku berhenti saat kulihat Chen yang menatap mataku dalam. Cukup lama kami bertatapan, sampai Chen tersenyum dan mengedipkan matanya sekali, kemudian mengecup bibirku.

Aku menelan ludahku saat bibir kami bersentuhan. Namun kemudian aku menutup mataku.

Hanya kecupan ringan yang manis. Saat Chen menjauhkan wajahnya, wajahku langsung memanas. Chen menatapku dengan senyuman yang itu lagi.

“gomawo.” katanya kemudian. Aku menunduk dan kemudian mengangguk. Aku masih terlalu malu memperlihatkan wajah merahku padanya. “aku akan menghubungimu lagi. Dah~” Aku melambaikan tangan saat Chen berjalan menjauh. Dia berjalan mundur sambil melambaikan tangannya padaku.

“masuklah.” aku masih bisa membaca gerakan mulutnya dari jarak segini, gerakan tangannya yang menunjuk pintu rumahku menambah keyakinanku bahwa dia berkata demikian.

Aku mengangguk dan tersenyum, lalu sekali lagi melambai padanya.

Aku menghembuskan napas panjang sebelum berjalan menuju pintu. Jantungku masih berdegup keras. Tadi kami berciuman, aku dan Chen. Bibirnya dingin.

Jglek!

Tiba-tiba pintu rumah di depanku terbuka, memperlihatkan taemin dengan muka masamnya. Dia melihatku dengan tatapan tak suka, lalu dia melemparkan pandangannya jauh ke arah Chen.

“jadi itu yang namanya chen?” ujar taemin.

Aku mengikuti tatapannya. Chen sudah berjalan cukup jauh dan tidak melihat ke sini lagi.

Tiba-tiba tanganku ditarik ke dalam dan kemudian pintu tertutup dengan keras. Taemin menyudutkanku. Aku membelakangi pintu sementara taemin berdiri dekat sekali di depanku.

Tak ada waktu untuk bicara. Taemin sudah lebih dulu menangkap wajahku dengan kedua tangannya dan menciumku dalam. Bibirnya menekan bibirku dengan kuat. Dia mengecupnya berkali-kali. Aku hanya pasrah, tak berani melawan.

Taemin menjauhkan wajahnya beberapa lama kemudian. Dia masih menatapku dengan tak suka.

“bibir nuna punyaku!” ujarnya dengan ketus kemudian. Alisnya berkerut dan bibirnya memberengut. Matanya sudah mulai berair. “punyaku! Kenapa nuna membiarkan chen mencium nuna~~? Huweee~~~”

Tangis taemin pecah seketika. Air matanya mengalir di pipinya. Aku paling tak tahan kalau taemin sudah menangis seperti ini. Aku menghapus air matanya.

“huwee~~ nuna jahat~~~ nuna jahat padaku! huweee~~” taemin memelukku dengan sisa tenaganya. Terlihat sekali kalau dia lemas. Aku membelai rambutnya. Aku tak bisa marah kalau seperti ini.

“ayo ke kamar.” Ajakku.

Taemin menyeret langkahnya untuk mengimbangiku. Dia tak mau melepaskan tangannya dariku.

Aku mendudukkan taemin di kasurku, sementara itu aku berdiri di depannya sambil terus memperhatikannya. Taemin masih menangis dengan keras.

“nuna jahat~~ aku mengizinkan nuna suka sama chen, tapi aku tak bilang kalau nuna dan chen boleh cium-cium~ aku tak mau bibir nuna dicium orang lain selain aku~~ huwee~ nuna jahat~~” taemin terus merengek. Aku menghela napas panjang dan memeluknya lagi. Posisi begini lebih membuatku nyaman dari pada berdiri di depan pintu tadi.

Taemin memeluk pinggangku. Bahuku mulai terasa basah karena air mata hangatnya. Taemin masih terus menangis.

“nuna tidak boleh dicium orang lain lagi~ aku tak suka~~ bibir nuna punyaku~~ punyaku~!!”

Taemin melepas pelukan kami dan menyambar wajahku lagi. Kali ini ciumannya lebih liar daripada yang tadi. Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah. Air mata taemin ikut membuat basah pipiku.

Taemin memelukku lagi setelah itu. Tangisannya lama-lama berhenti sementara aku terus membelai bagian belakang kepalanya.

“nuna, aku ngantuk. Aku tidur di sini saja.” ujar taemin kemudian sambil melepaskan pelukan kami lagi. Taemin kemudian berbaring. Aku membantunya menarik selimut dan kemudian menyelimutinya. Mata taemin bengkak dan memerah.

“nuna tidur juga~” suruhnya.

“aku ganti baju dulu.” Ujarku. Saat aku mau beranjak, taemin menahan tanganku.

“nuna. cium aku” ujar taemin kemudian.

Aku melihatnya sebentar, kemudian mulai mendekatinya dan mengecup bibir tebalnya.

Saat aku mengangkat wajahku, taemin sudah menutup matanya. Aku menyambar baju rumahku dan berjalan ke kamar mandi untuk ganti baju di sana.

Pikiranku penuh. Saat aku melihat taemin yang menangis, juga saat taemin menciumku, pikiranku tentang Chen hilang sama sekali. Yang aku pikirkan hanya taemin. Padahal sepanjang sore tadi aku bersama Chen, tak pernah sekalipun aku memikirkan taemin. Namun, saat taemin muncul lagi di depanku, pikiran tentang Chen hilang begitu saja, bahkan kecupan manis dari dia tadi tak terasa lagi. Aku juga tak bisa mengatakan apapun saat taemin protes padaku tadi. Aku hanya diam dan melihatnya menangis saja. Harusnya aku marah, tapi tak sedikit pun perasaan marah muncul.

Aku masuk ke kamar lagi dengan perasaan campur aduk. Kepalaku sedikit pusing. Aku merebahkan badanku di samping taemin yang sudah tertidur. Kusambar handphone-ku yang terletak di atas meja samping kasur. Ada sebuah panggilan dari Chen dan sebuah sms juga darinya.

 

Hai, aku sudah sampai rumah. Sepertinya kau sudah tertidur. Semoga mimpi indah.

PS: mimpikan aku ya ^x^

 

Aku menaruh handphone-ku ke tempatnya semula. Sambil menatap langit-langit kamar, aku menghembuskan napas panjang lagi. Kulirik taemin yang tidur di sebelahku. Wajahnya tenang, seperti malaikat yang sedang tidur. Aku menatap langit-langit lagi, masih tak tahu bagaimana perasaanku sebenarnya. Aku ingin bersama Chen, tapi taemin…

Aku melirik lagi ke anak kecil itu. Alisnya sedikit berkerut, mungkin dia mimpi buruk. Aku mencium pipinya singkat dan membelai rambutnya.

Aku juga tak mau kehilangan taeminie. Bagaimana ini?

= = =

= Taemin’s Diary =

SubTitle: Don’t Cry, Noona

Rating: PG

Author’s note: Short one, haha! enjoy ;D

= = =

Nuna sudah pulang. Aku tahu itu karena mulai berisik di luar. Dari tadi aku berada di kamar sambil membaca majalah.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki nuna yang mendekati kamarku. Pasti sebentar lagi nuna masuk.

Cklek!

“taemnie~” panggil nuna.

“hmm?” aku sengaja tidak menoleh ke nuna dan terus pura-pura fokus dengan majalah.

“taemnie~” pintu kamarku tertutup lalu nuna mendekatiku. Aku tahu itu meskipun aku sedang menelungkup, tapi aku masih tak mau menoleh. “taemnie~” panggil nuna lagi. Kali ini sambil menarik-narik ujung bajuku. Ada yang tidak beres, suara nuna serak seperti mau menangis. Aku langsung melihat nuna. Benar saja, mata nuna sudah berair.

“nuna kenapa?” tanyaku sambil duduk menghadap nuna. Nuna hanya melihatku dengan bendungan air mata yang hampir jebol.

“aku dimarahin” ujar nuna sambil merengek, berbarengan dengan air mata pertama-nya yang jatuh. Hanya dua yang bisa membuat nuna menangis, saat nuna merasa kecewa dan kalau nuna merasa sangat bersalah.

“dimarahkan siapa, nuna?” tanyaku. Aku jadi ikut sedih dan jadi ingin menangis. Selalu begini, kalau nuna menangis, aku juga pasti akan menangis.

Nuna tak menjawab. Dia hanya memandang ke bawah, nyaris menutup matanya, dan mencoba sekuat tenaga menahan isakannya. Kemudian nuna menggeleng.

“nuna jangan menangis lagi~” suruhku sambil menghapus air mata nuna. Nuna menggeleng lagi. Aku tak tahu maksudnya apa. Nuna hanya meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat. Sementara itu air mata nuna terus mengalir.

Aku tak tahan, tak mungkin aku tak berbuat apa-apa.

“nuna jangan menangis~” akhirnya aku peluk nuna. Saat badan kami menempel, barulah nuna mengeluarkan isakannya. Nuna menangis seperti anak kecil sambil memelukku erat-erat. Aku menenangkan nuna dengan menggosok punggungnya, hal yang sering nuna lakukan padaku kalau aku menangis.

Nuna menangis hanya sebentar. Setelah itu nuna melepaskan pelukannya. Wajah nuna sudah basah dengan air mata, dan nuna masih saja melihat ke bawah, mungkin tak berani melihat wajahku, mungkin nuna malu.

Aku mengelus pipi nuna, menghapus bekas air mata yang ada di sana. Nuna akhirnya memandangku, setelah elusan-ku yang ketiga di pipi nuna. Baru aku sadar kalau wajah nuna begitu dekat. Bibirnya sedikit maju karena dia memberengut. Kalau dekat begini aku jadi tak tahan.

Aku menempelkan bibirku ke bibir nuna setelah dagu nuna sedikit kuangkat dengan menggunakan jari telunjukku. Nuna tidak menolak, malah tadi nuna yang duluan menutup mata. Bibir nuna lembut, tapi sedikit asin. Mungkin karena bekas air mata tadi.

Aku menarik dagu nuna sedikit ke bawah agar bibir nuna terbuka, dan kemudian aku mulai meraupnya. Nuna merespon, nuna juga meraup bibirku. Lembut sekali. Kami melakukannya dengan perlahan dan hati-hati.

Setelah berapa lama, aku menyudahi ciuman itu. Nuna tiba-tiba memelukku lagi.

“nuna jangan menangis lagi~” ujarku lagi. Hanya itu yang bisa aku katakan dari tadi.

Nuna mengangguk.

“gomawo, taemnie” ujar nuna kemudian.

Aku mengangguk. Aku senang bisa jadi sumber kekuatan bagi nuna.

= = =

 

I saw so many EXO pages in facebook which offer some EXO’ fans member cards. then i was thinking why i don’t make it myself? :)

 

yeah i know they haven’t named exo’s official fandom yet, but here let’s say it ‘exotics’. i love that name :)

 

so here it is…

i know it’s sooooo simple that i only used ‘paint’ to make it. but i’m satisfied enough with this. also i could insert CHEN’s symbol in it! :D

however, EXO 파이팅!!!

= = =

Posted by: Taemznuna

Protected: FF/Nuna’s Diary (Taemin got his ears pierced/NC)

This post is password protected. To view it please enter your password below:

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 603 other followers