FF – 7 Years of Love (2/2)

annyeong lagi~^^

okeh, saya sadar nge-post 7 years of love ny antara part 1 ama 2 cuma beda beberapa menit.. 사실, nh ff jga uda komplit dari sono ny, berhub saya bru ngebuat nh blog plus masi blum ada isi ny, maka ny lgsg d post aja. biar sekalian rame gitu.. kikiki *nyengir kuda*

oke, baca aja dh klnjutan cerita Yesung-Byora 🙂

= 7 YEARS OF LOVE =

Length : 2 shots

Episode : 2 of 2 (end)

Main cast :

  • Super Junior Yesung
  • Park Byora (someone)

Genre : Romance

= = =

“setelah pulang kerja kita pergi?”, tanya jaeseo pada kami.

“terserah. Tapi aku pulang dulu sebentar, aku harus menyerahkan barang yang kupinjam dari temanku setelah itu, jadi aku mengambilnya dulu di rumah”, kata minje.

“taesan onni, kau ikut, ‘kan?”, kataku. Taesan onni menggeleng.

“mian, sepertinya tak bisa. Aku belum menyiapkan makan malam untuk anak-anakku. Lain kali mungkin aku bisa ikut”, jawabnya.

“bagaimana kalau sebelum itu kita mampir dulu ke mini market? Ada bagusnya kita membeli kue-kue kecil dulu di sana”, saran hyerim.

“bagus juga idemu”, kata jaeseo, menjentikkan tangannya pada hyerim.

“bagaimana dengan yeonha onni, mungi onni dan saera onni? Apa mereka ikut?”, tanyaku sambil menggaruk hidungku yang gatal.

“ne, aku sudah menelpon mereka. Dan mereka bilang oke”, jawab jaeseo, “sayang sekali eunji dan geumji tak bisa datang”, tambahnya.

“hh..”, keluh minje, “mereka itu kembar yang aneh. Sakit pun bersamaan”

“lho? Bukannya sudah biasa orang kembar sakit bersamaan?” tanya taesan onni. Minje mengangkat alisnya.

“oh, iya ya? Aku asal bicara saja sih sebenarnya”, kata minje sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aku nyengir melihatnya.

Kami sedang berkumpul di ruangan penata rias. Orang-orang yang kusebut di atas juga mempunyai jabatan yang sama denganku, bekerja sebagai penata rias permanen Super Junior. Kami sedang membicarakan rencana untuk pergi karaoke setelah jam kerja ini.

“menurutmu aku lebih cocok memakai warna pink atau orange?”, tanya minje padaku. Dia mengangkat dua lipstick yang berbeda warna di kedua tangannya. Dia memang sering bertanya tentang kosmetik yang cocok untuknya padaku. Kami cukup dekat, mungkin karena umur kami sama dan meja kerja kami bersebelahan.

“pink” kataku.

Tiba-tiba pintu ruangan menjeblak terbuka dan seorang pria berkemeja masuk ke dalam ruangan.

“annyeonghaseyo, yorobun..”, ujar pria itu. Kami menjawab sekedarnya.

“aku hanya menyampaikan info singkat. Ini berhubungan dengan penata rias yang ikut pergi ke Jepang selama konser KRY. Ini surat keputusannya.”, dia menyerahkan selembar amplop pada taesan onni selaku ketua penata rias kami. “baiklah, aku buru-buru. Kalau ada yang mau ditanyakan silakan datang ke kantorku. Annyeonghaseyo”, dia langsung pergi.

“dasar sok sibuk”, bisik minje. Aku melirik padanya dan tersenyum.

“baiklah, akan aku bacakan”, taesan onni membesarkan suaranya. Dia sudah membuka isi amplop itu. Kami langsung menoleh padanya. “berdasarkan rapat perundingan.. blablabla..selama penyelenggaraan konser Syupo..blablabla..maka kami memutuskan bahwa penata rias yang dipercaya mendampingi Super Junior KRY untuk penyelenggaraan konser mereka adalah..” taesan onni berhenti sebentar untuk menatap kami, lalu dilanjutkannya lagi, “Lee Minje, Gu Hyerim, Baek Yeonha, Yu Mungi dan Ahn Saera. Kami harapkan penata rias yang namanya disebut di atas dapat bekerja dengan sebaik-baiknya selama berada di Jepang dan kami juga berharap bagi penata rias yang tinggal dapat bekerja lebih baik lagi.”, taesan onni menurunkan kertas itu dan menatap kami semua. Tangan jaeseo terulur untuk mengambil surat itu dari tangan taesan onni.

“kau tak ikut?”, kata minje, menolehkan kepalanya menghadapku dengan pandangan tak percaya. Aku menatapnya sambil merebahkan kepalaku di punggung kursi. Aku pun masih belum percaya.

“aku tak tahu”, aku menggeleng.

“beritahu saera, yeonha dan mungi”, kata taesan onni pada jaeseo.

Aku termenung. Kenapa namaku tak dimasukkan dalam daftar? Apa kinerjaku menurun? Nama taesan onni tidak masuk tentu saja perusahaan mengkhawatirkan anak-anaknya yang ditinggal di korea jika dia pergi. Biasanya aku dipercaya jika ada acara penting. Apa benar kemampuanku merias sudah tidak memenuhi keinginan mereka lagi?

Pikiranku berkecamuk. Aku terus termenung sampai minje menepuk pundakku.

“sudah jam makan siang. Ayo”, katanya. Dari wajahnya tampak kalau dia prihatin melihatku. Aku mengangguk dan beranjak dari kursi. Tapi pikiranku masih penuh.

***

Tanganku sibuk merias wajah ryeowook. Super Junior akan menampilkan live performance di salah satu chart musik. Ruangan rias terasa sibuk karena seluruh member Super Junior, enam penata rias dan tujuh penata rambut ada di dalamnya. Belum lagi kameraman yang meliput member yang sudah siap dirias. Dan beberapa staff wanita yang masuk ke dalam ruangan hanya untuk menambah hiruk pikuk suasana.

“kyuhyun-ah. Berhenti dulu main game. Make-up mu jadi tak rata!”, ujar jaeseo kesal di sebelahku.

“sebentar. Musuhku hampir kalah”, kata kyuhyun. Aku melirik laptopnya dan menggeleng-gelengkan kepalaku sambil tersenyum.

“kau tak berniat memotong rambutmu, ryeowookie? Bukankah sudah cukup panjang?”, aku berkata pada ryeowook yang sedang mengutak-atik handphone-nya. Dia langsung memandang wajahnya di cermin.

“apa iya?”, katanya, memegang ujung rambutnya. “apa terlihat jelek?”, tanyanya padaku.

“ani”, kataku, “modelnya sudah bagus, hanya saja kalau ponimu kepanjangan kau tak bisa melihat fans-mu dengan benar dipanggung”. Ryeowook nyengir mendengar perkataanku.

“nuna ini bisa saja”, katanya.

“sudah level berapa?”

Sebuah suara yang datang dari sampingku membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Jongwoon berdiri di sebelahku, memperhatikan kyuhyun yang sedang bermain game. Saat aku melihatnya, dia melirik ke arahku.

Deg.

Aku mengalihkan pandanganku lagi ke wajah ryeowook. Diam-diam menghembuskan napas panjang.

“ah, hyung” jawab kyuhyun, tak mengalihkan pandangannya dari monitor. Dia masih sibuk bermain.

“sudah” ujarku pada ryeowook.

“gamsahamnida~”, katanya sambil beranjak dari kursi, membawa serta dua handphone yang diletakkannya di meja rias. “sungmin hyung! Berfoto yuk!”

“ryeowook-ah! Sini dulu! Rambutmu belum ditata”, aku mendengar suara jihwang, salah seorang penata rambut, berujar tiga kursi di sebelah kananku.

Jongwoon duduk di kursi ryeowook. Aku memberinya bando agar dipakainya. Poninya sudah panjang dan pasti sangat menggangguku meriasnya jika tetap dibiarkan tergerai. Dia memakainya dan menutup matanya.

“aku benci memakai bando”, katanya.

Aku yang sudah mulai memolesi wajahnya tersenyum.

“apalagi di depanmu”, tambahnya. Gerakan tanganku yang sedang memolesi alas bedak di hidungnya berhenti. Sedetik kemudian, aku meratakan lagi alas bedak di hidungnya dengan keras, yah, bisa dibilang mencubit hidungnya.

“jangan menggodaku”, kataku. Kulihat bibirnya berkerut-kerut karena menahan senyum. Aku melanjutkan pekerjaanku. “jadi minggu depan kau pergi ke Jepang?” tanyaku. Alisnya berkerut.

“maksudmu? Kau tak ikut?”, katanya.

“namaku tak ada di surat keputusan” kataku, membalikkan badan untuk mengambil eye-liner di meja, “jadi, yah, aku tak ikut” kataku, menghadapnya lagi. Dia sudah membuka matanya dan sedang menatapku. “jangan buka matamu. Aku sudah ingin memberi eye-liner”, kataku padanya.

“tak perlu kututup”, katanya. Tatapannya menusuk sekali. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.

“kalau tak kau tutup nanti matamu berair” kataku. Jantungku sudah berdetak cepat lagi.

“akan lebih berair lagi kalau aku tak puas memandangmu sekarang”

Deg!

Aduh! Kenapa sih, jantungku ini?

Aku memandangnya dan menggigit bibir. Aku lalu menghembuskan napas dan berbisik, “nappeun”

Dia tersenyum lebar, menampakkan gigi putihnya dan matanya makin menyipit. Dia menutup matanya lagi, membiarkanku bekerja.

Aku mengambil pelembab bibir di atas meja dan menarik dagunya ke bawah agar bisa memoleskan pelembab bibir dengan rata di bibirnya. Matanya tiba-tiba terbuka. Pandanganku beralih dari bibirnya, matanya, lalu bibirnya lagi. Aku mulai memoleskan pelembab di bibirnya. Wajah kami dekat. Dari sudut mataku, aku merasakan pandangan matanya yang menusuk menatap wajahku. Grogi, pelembab bibir yang aku oleskan jadi melenceng jauh dari bibirnya. Aku berdecak sedikit dan menghapus pelembab bibir yang keluar jalur itu dengan tanganku.

“hehe”

Aku memandangnya kesal, “kenapa kau tertawa?” tanyaku.

Bibirnya berkerut lagi karena menahan senyum. Dia menggeleng, masih tersenyum.

“sudah” kataku.

Dia melepas bandonya.

“gomawo” katanya, kemudian pergi.

Aku melihat ke sekeliling. “sudah semua?”, aku keraskan suaraku agar terdengar. Ternyata yang mendengar hanya shindong yang sedang duduk di lantai. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

“ye! ye!”, dia memandangku saat mengatakannya. Aku mengangguk.

Aku menyusun perlengkapanku di kotak rias.

“super junior?”, sebuah suara berat memanggil dari pintu. Pria berbadan besar dan berseragam melihat seisi ruangan yang ramai. Dia salah satu staff.

“ye!”, jawab leeteuk oppa sambil beranjak dari sofa. Super Junior langsung bersiap-siap. Sebelum keluar ruangan, beberapa dari mereka ada yang mematut diri di cermin dan memperbaiki baju mereka, sebagian yang lain berujar “phaiting!” lebih kepada dirinya sendiri. Beberapa penata rambut memperbaiki rambut mereka sambil mengikuti mereka yang sedang berjalan. Aku bersandar di meja rias dan memperhatikan mereka. Jongwoon berjalan melewatiku.

“neo gatheun saram tto eobseo~”, dia bersenandung, melirikku. Aku terdiam, menatap kosong dinding di seberangku. Jantungku berdetak cepat.

Setelah keadaan sepi dan yang tinggal hanya beberapa penata rias dan penata rambut, aku mengambil napas panjang dan menunduk.

“jongwoon..”

***

Aku membuka pintu kamar apartemenku dan menghidupkan lampu-lampunya. Apartemenku kecil, bukan termasuk yang mewah, tapi paling tidak aku merasa nyaman berada di sini.

Aku meletakkan handphone-ku di atas meja dan segera mandi. Badanku sudah lengket. Seharian aku berada di luar.

Siraman air hangat membasahi tubuhku, membangunkan sel-sel yang kelelahan.

Rasanya segar sekali sehabis mandi. Aku menghampiri handphone-ku. Ada satu sms masuk. Terkirim sepuluh menit yang lalu. Aku membukanya.

 

sudah tidur?

 

Anonim. Aku membalasnya.

Nuguya?

 

Aku merebahkan diri di kasur. Sebentar kemudian handphone-ku bergetar. Sms balasan.

Jongwoon

 

Jantungku langsung berdegup kencang. Jariku cepat sekali mengetik.

Belum tidur.

Tau dari mana no ku?

 

Aku tak sabar menunggu jawabannya. Aku jadi mondar-mandir sendiri. Handphone-ku bergetar lagi. Cepat-cepat kubuka.

Aku di depan kamarmu

 

Jantungku seperti mau keluar. Setengah berlari aku menuju ke pintu depan. Sebelum membuka pintu, aku melihat diriku di cermin yang ada di dinding. Tak ada yang salah. Aku membuka pintu. Benar dia di sana.

“sudah lama?” tanyaku. Dia hanya menatapku.

“aku ingin melihatmu” katanya, tatapannya tajam sekali. Aku jadi salah tingkah.

“besok kau berangkat ke Jepang, ‘kan?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk dan tetap menatapku.

“ma-masuk dulu”, kataku. Kegrogianku membuat kata-kata yang keluar dari mulutku jadi tidak lancar. Dasar byora pabo!

“ani. Aku hanya ingin melihatmu. Aku akan pulang. Annyeong”, dia segera pergi. Aku bingung.

“mainlah kapan-kapan!”, ujarku padanya sebelum dia semakin menjauh. Dia berhenti dan membalikkan badannya.

“tunggu saja”, katanya sambil tersenyum. Dia berjalan lagi.

Aku tersenyum dan menutup pintu kamar. Senyumku masih belum hilang saat aku sampai di kasur dan langsung meraih handphone-ku. Aku ingin melihat sms-nya yang tadi sekaligus menyimpan nomornya. Aku merebahkan diri di kasur dan membuka handphone-ku. Ada satu sms masuk lagi.

Jalja

 

Aku tersenyum. Sepertinya mimpiku akan indah malam ini.

~flashback~

Aku melepas genggaman tangannya dan tersenyum padanya.

“gomawo telah mengantarku pulang” kataku, “annyeong”. Dia tersenyum. Aku membalikkan badan.

“byora-ya”, dia memanggilku. Aku membalikkan badanku lagi.

“hm?”

Dia berdehem.

“coba tutup matamu sebentar” katanya. Aku menatapnya dan menutup mataku.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat dibibirku. Aku membuka mata. Dia sedang menciumku. Matanya tertutup. Aku menutup mataku lagi.

Sesaat kemudian, aku tak merasakan lagi bibirnya. Aku membuka mata. Dia menunduk dan mundur satu langkah.

“jongwoon-ssi..” ujarku. Dia mengangkat kepalanya. Wajahnya yang terkena sinar lampu jalanan tampak memerah.

“masuklah”, katanya.

Aku tersenyum dan membalik badan lagi.

“byora-ya”

Aku menoleh ke belakang. Angin yang berdesir menerbangkan pelan rambutku.

“saranghaeyo”

~flashback end~

Aku terbangun karena bunyi alarm handphone-ku. Aku mematikannya. Kupandang langit-langit apartemen. Termenung memikirkan mimpiku barusan, saat dia pertama kali menciumku, tepatnya delapan tahun yang lalu. Aku tersenyum memikirkannya.

***

Teriakan-teriakan histeris sayup-sayup terdengar. Dan beberapa suara yang kukenal bergaung.

“yak! Bagaimana kalau kita keluar untuk melihat penampilan mereka?”, minje berkata dengan muka berseri.

Kami, para penata rias, berkumpul di ruangan rias yang cukup luas. Konser Super Junior Super Show 3 sedang dilaksanakan. Ini konser pertama mereka, dan diadakan di negara kami.

“bukannya kita disuruh menunggu di sini?” tanya saera onni. Beberapa dari kami mengangguk mengiyakan.

“kan sudah lagu terakhir..” kata jaeseo, memandang harap pada taesan onni.

“aku ingin lihat” gumam hyerim tak jelas.

“kami juga”, eunji dan geumji menjawab bersamaan. Aku melirik taesan onni. Taesan onni menghembuskan napas panjang.

“ya sudah, pergilah” katanya setelah itu. Minje, hyerim, eunji-geumji dan aku segera beranjak dari kursi. “tapi jangan lama-lama! Aku yang susah mencari kalian nanti” tambah taesan onni.

“jangan khawatir, onni..” kata minje sambil tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar. Si kembar dan hyerim mengikuti di belakangnya.

“jaeseo-ssi, kau tak ikut?” kataku pada jaeseo yang berada di sudut ruangan, handphone-nya di kupingnya. Dia menoleh padaku dan melambaikan tangan, lalu melanjutkan obrolannya di telpon. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Sudah pasti dia sedang berbicara dengan pacar—yang katanya—tercintanya.

Gemuruh teriakan memekakkan telinga saat aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam stadion. Konser sudah mau selesai. Super Junior mulai bertingkah yang aneh-aneh di atas panggung. Biasanya eunhyuk menyebutnya sebagai ‘fans service’. Aku hanya mengangguk-angguk saat dia berkata begitu.

Aku memandang mereka dengan takjub. Mereka yang seperti manusia biasa di belakang panggung dan mengobrol denganku, sekarang berada di sana, dipuja-puja oleh ribuan orang yang hadir di sini. Nama-nama mereka terdengar dari berbagai penjuru, bersahut-sahutan, diteriaki oleh ratusan orang. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh stadion. Lautan light-stick biru yang terlihat. Beberapa wajah yang tertangkap mataku sedang menangis, bersimbah air mata. Seketika aku merinding. Begitu dicintainya mereka.

“URI SYUPEO JUNI~~”

“EO-EYO!!!”

Aku melihat lagi ke arah panggung. Konser sudah selesai. Super Junior memberi penghormatan terakhir dengan membungkuk dalam-dalam dan saling berpegangan. Hanya sosoknya yang terlihat di mataku. Jongwoon. Aku tersenyum melihatnya.

“gamsahamnida~”, leeteuk oppa membungkuk berkali-kali. Diikuti beberapa member lain.

“elphu~”, eunhyuk berkata sambil berjalan masuk ke belakang panggung. Ratusan orang berteriak histeris.

“saranghaeyo!”, jongwoon melambai ke penjuru stadion.

Aku terdiam. Kenangan-kenangan yang telah lalu meluncur di otakku.

 “byora-ya”

Aku menoleh ke belakang. Angin yang berdesir menerbangkan pelan rambutku.

“saranghaeyo”

 

Tiba-tiba aku tersadar. Aku bukan siapa-siapa. Jongwoon. Dia bukan milikku, tapi milik mereka. Mereka yang hadir di sini, dan puluhanribu lain di tempat yang berbeda. Dia tak lagi orang yang kukenal dulu. Dia yesung, bukan jongwoon. Dia ada untuk mereka. Mereka mencintainya, dan cintanya hanya untuk mereka. Cintanya bukan untukku.

Jantungku sakit memikirkan ini. Mataku terpaku ke lantai.

Aku bukan siapa-siapa.

“byora-ya! Ayo masuk! taesan onni sudah menelpon—kau kenapa??”, minje memegang bahuku. Aku menoleh padanya.

“kenapa aku?” ujarku dengan suara lemah. Tangan minje terulur ke wajahku. Jarinya menyentuh pipiku.

“ini..” katanya, “kau menangis?”

Aku meraba pipiku.

Basah.

“oh, ani. Aku hanya terbawa suasana” kataku sambil menghapus airmataku. Minje menatapku curiga.

“kau ini benar-benar aneh”, minje melangkah mendahuluiku, “yak kembar! Kajja!”

Aku berjalan mengikuti mereka. Seluruh badanku terasa kebas.

***

Aku menghindarinya. Jelas sekali aku menghindarinya. Semenjak konser waktu itu, aku tak mau bertatapan dengannya. Aku tak mau jatuh lebih jauh lagi dengan perasaanku. Aku tak mau rasa ini berkembang. Sudah cukup tujuh tahun. Aku tak mau menambah lagi.

Sudah tiga minggu sejak Super Junior Super Show 3 berakhir. Selama itu, aku tak pernah memandang wajahnya dengan benar. Pandanganku kualihkan ke tempat lain. Sejak saat itu tak pernah sekalipun aku meriasnya, atau berbicara dengannya. Di minggu-minggu pertama aku mengacuhkannya, beberapa kali dia mengirimiku pesan, bertanya kenapa sikapku berubah padanya, dan itu tak pernah aku balas. Setelahnya, dia tak pernah lagi mengirim pesan. Menambah kuat keyakinanku bahwa cintanya bukan untukku.

Aku duduk di meja kerjaku. Waktu pulang kerja sudah dua jam yang lalu. Aku tinggal sendiri di ruangan ini, teman-temanku sudah pulang daritadi. Aku beralih masih ada tugas yang harus diselesaikan saat mereka mengajakku pulang tadi.

Aku mengambil handphone-ku yang tergeletak di atas meja. Membuka inbox pesanku dan menemukan sebuah pesan yang terkirim empat jam yang lalu. Aku membukanya.

Aku menunggumu jam 7 malam di atap. Jangan menghindariku lagi

 

Dikirim oleh jongwoon. Tidak, maksudku, dikirim oleh yesung.

Aku melihat jam tanganku. Kurang sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Aku mengambil tasku dan melangkahkan kaki ke luar ruangan. Ini yang terakhir, batinku, meyakinkan diri.

Hembusan angin malam menerpa rambutku saat aku membuka pintu yang menuju ke atap. Aku melihatnya di sana, membelakangiku, melihat berjuta lampu di bawah. Aku melangkah mendekatinya. Bunyi suara sepatuku membuatnya membalikkan badan dan menoleh kepadaku. Ekspresi wajahnya tak menyiratkan apapun. Aku berhenti dua meter di depannya. Angin menerbangkan rambutku. Kami saling bertatapan.

“kau datang”, dia mulai bicara, “akhirnya..”

Aku tetap diam, melihatnya. Dia menghembuskan napas berat dan melihat lantai dibawah kakinya.

“apa aku menyakitimu dua kali?”, dia mengangkat kepalanya, menatapku lagi. Jantungku sakit. Aku menutup mata dan menggeleng. Hembusan napasnya terdengar lagi. Diam beberapa saat.

“lalu?”

Aku menikmati suaranya. Menanamkan suara merdunya itu di memori otakku. Mataku yang tertutup menambah ketajaman indra pendengarku. Aku tetap diam. Hanya terdengar suara angin setelah itu.

“byora-ya..”, suaranya terdengar pedih. Aku membuka mata. Menghirup udara dalam-dalam.

“aku hanya tak ingin bertemu denganmu” kataku akhirnya, menatapnya tajam. Jantungku sesak dan seperti ada yang mencekat kerongkonganku. Jangan menangis, batinku.

Ada perubahan di wajahnya saat aku mengatakan itu. Sorot kesedihan. Kerongkonganku makin tercekat. Aku bernapas dalam untuk menenangkan diri.

“apa kau begitu membenciku?” ujarnya lagi. Cahaya redup di sini, tapi aku dapat melihat matanya berkaca-kaca. Jantungku pedih.

“ani”, aku menggeleng. Kututup mataku. Kenapa airmata ini mendesak keluar? Aku menatapnya lagi, “saranghae”

Angin berhembus. Suara angin yang lembut terdengar di telingaku.

“kenapa kau menghidariku kalau begitu?”, dia melangkah mendekat dan berhenti satu langkah di depanku, “teruslah mencintaiku”

Aku tak tahan lagi. Airmataku jatuh lebih dulu sebelum aku bisa mencegahnya.

“UNTUK APA?? UNTUK APA AKU TERUSKAN?? MENGHARAPKAN APA AKU?? CINTAMU???”, suaraku bergema. Airmataku sudah membanjir, membasahi pipi dan bibirku. “sampai kapanpun aku tak akan mendapatkannya! Aku sadar akan posisiku!!”

Seperti gerakan lambat saat dia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibirku. Tangannya menekan tengkukku agar bibirku tetap berada di bibirnya. Bibirnya terasa hangat, tapi menyakitkan. Aku tak bisa menggerakkan kepalaku. Hidungku tersumbat, aku membuka mulut untuk mengambil napas dan saat itulah dia menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku mendorongnya. Batinku sebenarnya menolak, menginginkan sesuatu yang lebih jauh, tapi ini harus segera dihentikan.

Tubuhnya menjauh dariku karena doronganku, tak lagi menempel seperti tadi. Kedua tanganku berada di depan dadanya, menjaga agar tubuh kami tetap berjarak. Aku menunduk, tak berani menatap wajahnya.

“jangan mempermainkanku” ujarku lemah. Napasku menderu. Aku menurunkan tanganku dari dadanya.

“kau yang mempermainkan hatiku” ujarnya. Salah satu tangannya memegang daguku, memaksa wajahku melihatnya. Sorot matanya membekukanku.

“tujuh tahun..”, dia mulai berbicara, menatapku tajam, “..hanya kau”

Dia mendekatkan wajahnya lagi dan mulai menutup matanya.

 

“gamsahamnida~”, leeteuk oppa membungkuk berkali-kali. Diikuti beberapa member lain.

“elphu~”, eunhyuk berkata sambil berjalan masuk ke belakang panggung. Ratusan orang berteriak histeris.

“saranghaeyo!”, jongwoon melambai ke penjuru stadion.

 

Aku mendorongnya sekuat tenaga, tepat sebelum bibirnya menyentuh bibirku.

“CUKUP!! SUDAH CUKUP!!”, aku berteriak padanya dan segera lari. Berlari menjauhinya. Menjauhi wajahnya. Menjauhi tubuhnya dan bibirnya yang hangat.

Langkahku berdentum-dentum di lorong. Airmataku mengalir deras. Kakiku sakit karena sepatu hak tinggi. Tapi jantungku lebih sakit. Aku ingin lari dari ini semua. Aku tak tahan lagi.

***

Aku senang sudah mencapai akhir tulisan ini. Empat jam nonstop aku mengetik, agar kalian tahu bahwa aku mencintainya. Sudah cukup aku menjalani kehidupan. Sudah banyak hal yang aku pelajari dan rasakan. Kurasa itu semua sudah cukup. Ini saat untuk mengakhiri semua. Mengakhiri kehidupanku.

Dan untuk kim jongwoon jika kau membaca tulisan ini:

SARANGHAEYO

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

-Author PoV-

[soundtrack: Super Junior – No Other]

 

Neo gateun saram tto eobseo

<There’s no one like you>

Juwireul dureubwado geujeo georeohdeongeol ,eodiseo channi

<Even if i look around it’s just like that, where else to look for?>

 

Yesung duduk di lantai kamarnya, bersandar pada dinding, handphone-nya di tangannya. Dia melihat layar handphone-nya dengan pandangan nanar.

@shfly3424 oppa SARANGHAE ❤ ^^

Annyeonghaseyo @shfly3424

@shfly3424 goodnight~^^

Still online oppa? @shfly3424

Oii @shfly3424 bales twit gue dong!

How are you @shfly3424 your wife is here, kkk

Saranghae saranghae saranghae saranghae @shfly3424

SUPER JUNIOR yesung @shfly3424 i put my heart only for him !!

Neo gateun saram tto eobseo @shfly3424

 

Airmata yesung jatuh. Dadanya sesak. Kabar buruk yang didengarnya tadi pagi benar-benar membuat runtuh dunianya. Byora ditemukan gantung diri di kamarnya.

Eonjena deo maneun geol haejugo shipeun nae mam neon da mollado dwae

<You don’t know this heart of mine, which always wants to do more for you>

Dia belum mengatakan apapun pada byora. Dia belum menyampaikan perasaannya pada byora. Selama tujuh tahun di pendamnya. Bahwa hanya byora yang ada dalam pikirannya, kemanapun dia pergi, dimanapun dia berada. Hanya wajah byora yang tertangkap oleh matanya.

Yesung menunduk, membiarkan airmatanya jatuh, membasahi baju yang dipakainya. Dia menggali memorinya. Memori delapan tahun yang lalu, saat byora masih menjadi kekasihnya.

~flashback~

“kita pergi kemana?” tanya byora pada jongwoon. Matanya tampak bercahaya. jongwoon menoleh padanya dan tersenyum.

“tempat yang akan kau sukai” jawab jongwoon. Byora menggenggam tangan jongwoon lebih erat.

“kau selalu penuh dengan kejutan” kata byora.

“benarkah?”, jongwoon berhenti. Langkah byora juga ikut berhenti.

“kenapa berhenti?”, tanya byora bingung. Dia melihat ke sekeliling dan tidak menemukan hal menarik.

“kita sudah sampai” kata jongwoon.

Byora mengerjap-kerjapkan matanya, dia masih bingung. Dia lalu tersenyum.

“jadi kau yakin bahwa tempat ini akan menjadi tempat yang aku sukai?” tanya byora. Jongwoon mengangguk. Mereka berpandangan dan saling mendekatkan wajah.

~flashback end~

Yesung memeluk lututnya. Tubuhnya lemas. Dia tak berhenti menangis dari tadi. Yesung kesusahan mengatur napasnya.

 

Saranghae, negeneun ojik neoppun iran geol babo gateun naegeneun jeonburaneungeol arajweo

<I love you, please know it that to me there’s only you, that i foolishly see you as my everything>

 

Dia belum mengatakan pada byora bahwa dia mencintai byora. Semua yang dia rasakan menekan dadanya sekarang.

Byora telah pergi.

Airmata yesung mengalir lebih deras. Foto byora yang diambilnya diam-diam waktu itu berada di tangannya.

“eottohke..” bisik yesung, dia menutup wajahnya, “eottohke..”

Neo gateun saram tto eobseo

<There’s no one like you>

Juwireul dureubwado geujeo georeohdeongeol ,eodiseo channi?

<Even if i look around it’s just like that, where else to look for?>

 

“byora-ya…”

= FIN =

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s