FF – 7 Years of Love (1/2)

annyeong~^^

ini ff pertama saya yg uda komplit. laen ny ada, tapi masi ngegantung semua gtu kea jemuran =.=”

mungkin di ff ini ada beberapa kesalahan di sana-sini, abis ny saya malas edit si, hehe~ ^-^a

happy reading^-^

= 7 YEARS OF LOVE =

Length : 2 shots

Episode : 1 of 2

Main cast :

  • Super Junior Yesung
  • Park Byora (someone)

Genre : Romance

###

Aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan direktur. Suasana tegang dan grogi menyelimutiku. Direktur Hwang menatapku. Wajahnya tampak angkuh.

“annyeonghaseyo”, kataku canggung sambil membungkukkan badan.

Direktur Hwang mengangguk dan mempersilakan aku duduk dengan isyarat tangannya. Aku melangkah cepat dan duduk di kursi yang berada tepat di depan mejanya.

“kau Park Byora?”tanyanya, suaranya tegas.

“ne, sajangnim”aku memandangnya dengan pandangan tajam, padahal sebenarnya lututku bergetar.

Dia melepas kacamatanya dan menatapku lekat-lekat.

“kau tahu bahwa kau melamar pekerjaan ke sini TANPA melampirkan surat pengalaman bekerja?”ujarnya. Aku menelan ludah. Hatiku mulai resah. Sepertinya ini tak akan berhasil, pikirku.

“ne, sajangnim”, kataku akhirnya.

“kau tahu, PARK BYORA, bahwa ‘melampirkan surat pengalaman bekerja’ adalah salah satu syarat melamar pekerjaan di perusahaan ini?”, intonasi direktur makin tinggi. Nyaliku makin menciut.

“ne, sajangnim”. Aku menundukkan kepalaku. Benar-benar sudah pasrah. Sudah tak ada harapan sepertinya.

Direktur Hwang terdiam lama.

“baiklah, kau diterima”

Mwo??

Aku mengangkat kepalaku, menatap direktur dengan pandangan tak percaya. Dia balas menatapku.

“kau sudah mulai bekerja besok”, kata direktur Hwang sambil menulis sesuatu di sebuah kertas, “berikan ini pada sekretarisku di depan. Dia akan memberikanmu semua yang kau butuhkan untuk resmi menjadi pegawai perusahaan ini.”. Direktur menyerahkan selembar kertas itu padaku. Aku menerimanya. “selamat bergabung”, katanya lagi.

“gomapseumnida, sajangnim”, kataku, membungkuk dalam-dalam lalu bergegas pergi.

Hampir tak bisa dipercaya aku diterima. Aku kira aku akan berakhir menjadi mahasiswi biasa jurusan ekonomi, sesuai dengan yang orangtuaku inginkan jika tes wawancaraku ini tak membuahkan hasil. Aku mempercepat langkahku saat menghampiri seorang wanita muda yang di mejanya ada papan kecil yang bertuliskan ‘sekretaris’. Wanita itu tersenyum padaku.

“kau diterima?”katanya, mengambil kertas dari direktur tadi yang aku sodorkan padanya. Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menghadap komputernya lagi.

“gomapseumnida”, kataku setengah sadar. Wanita itu menolehkan kepalanya padaku. dia tampaknya terkejut dengan jawabanku. Dia tersenyum.

“aku tak memberimu selamat” katanya setengah tertawa, alisnya yang berkerut membuatnya tampak lebih cantik, “tapi baiklah, chukhaeyo”, dia tersenyum lagi. Kertas yang aku berikan padanya tadi digoyang-goyangkannya. Dia lalu sibuk lagi dengan komputernya.

Aku memperhatikannya. Tubuhnya benar-benar bagus. Wajahnya cantik dan rambutnya pirang, panjang dan bergelombang. Kenapa dia tak jadi artis saja?

“bagaimana caramu diterima? Sepertinya kau cepat sekali di dalam”, tanya wanita itu tiba-tiba.

“a-aku tak tahu. Seingatku aku hanya menjawab ‘ne, sajangnim’ pada dua pertanyaannya dan tiba-tiba ‘kau diterima’”, ujarku, menirukan suara direktur Hwang pada dua kata terakhir. Wanita itu tertawa.

“kau lucu”, katanya. “Hwang sajangnim memang kadang-kadang aneh. Semua karyawan di sini tahu tentang itu dan kau juga harusnya tahu karena kau sudah resmi menjadi karyawan di sini”, wanita itu tersenyum sambil menyerahkan sebuah map kepadaku. Aku menerima map itu.

“ini sudah semua? Maksudku, aku sudah resmi menjadi karyawan di sini?”, tanyaku.

“tentu saja”, katanya, “datanglah besok, seperti keterangan yang ada di dalam map itu. Semuanya ada di situ. Baca baik-baik. Dan jangan terlambat. Kami sangat menghargai karyawan yang disiplin”

Aku mengangguk padanya dan tersenyum.

“gomawoyo” kataku dan membungkuk.

Langkahku ringan sekali. Aku mulai bekerja di tempat yang sudah aku incar dari tiga tahun yang lalu. Aku menimbang-nimbang apakah orangtuaku akan senang atau malah kesal karena aku mendapat pekerjaan ini. Haha, sudahlah. Yang penting, aku akan bekerja keras mulai dari sekarang. Phaiting!

———————–

Baiklah, itu ceritaku enam tahun lalu, saat aku baru diterima di perusahaan ini, perusahaan besar yang menerbitkan bintang-bintang muda yang bersinar. Waktu itu aku berumur 20 tahun. Eh? Aku belum memperkenalkan diri ya?

Aku Park Byora, lahir tanggal 2 November 1984, bekerja di perusahaan ** Entertainment <aku tak bisa menyebutkan nama perusahaannya. Aku menulis tulisan ini bukan untuk promosi, lagipula aku juga tak dibayar se-sen pun oleh perusahaan itu jika aku menyebutkan namanya> sebagai penata rias. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan besar yang sudah menerbitkan banyak artis terkenal di negaraku, Korea Selatan. Pekerjaanku ini cukup menyenangkan. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari aku melihat artis-artis populer berwajah cantik atau tampan, baik karena operasi plastik maupun yang tidak. Tapi tetap saja wajah mereka hampir sempurna.

Pada tahun ke-3 ku bekerja, aku dipercaya perusahaan untuk menjadi salah satu penata rias permanen bagi boyband baru yang mereka terbitkan tahun itu. Boyband besar yang beranggotakan dua belas orang <mungkin kalian tahu, ‘Super Junior’. Tau, ‘kan?>. Karena member boyband itu cukup banyak, penata rias permanen yang direkrut untuk mereka pun banyak. Aku sudah mengenal beberapa dari membernya saat itu. Tapi saat ini jumlah member-nya menjadi 13. Aku sendiri tak tahu rahasia apa yang ditutupi perusahaan karena berani memasang angka sial itu sebagai jumlah angka anggota boyband yang mereka terbitkan.

“byora-ya. Kau melihat kotak riasku?”, tanya temanku sesama penata rias, minje. Dia sedang mengaduk-aduk tasnya.

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.

“itu bukan kotak riasmu?”, tanyaku sambil menunjuk sebuah kotak rias besar di atas salah satu meja rias.

Minje melihat kotak yang aku tunjuk. Seketika mukanya mengerut.

“itu punya ‘mereka’. Maksudku punyaKU”, katanya sedikit kesal. Tentu saja ‘mereka’ yang dia maksud itu para member Super Junior.

“oh..” kataku, “molla”

Aku melanjutkan mengutak-utik handphone-ku. Kami sedang menunggu member Super Junior di ruang rias. Hari ini mereka akan menghadiri sebuah acara televisi dan kami ditunjuk sebagai penata rias mereka untuk acara itu. Yah, seperti biasa, artis selalu datang lebih lama daripada penata riasnya. Aku banyak belajar selama bekerja, dan itu salah satu pelajaran kecil yang kudapat.

“onni. Kau tahu siapa saja yang kita rias hari ini?”, tanya hyerim, penata rias lain.

Aku membuka buku agendaku dan mencari tanggal hari ini.

“leeteuk, yesung, eunhyuk, ryeowook dan kyuhyun”, jawabku sambil membaca agendaku. Di agendaku itulah aku menulis semua tugasku dan tugas kami sebagai penata rias.

“tak ada donghae oppa?”, tanya hyerim lagi.

Aku tersenyum jahil padanya. “ada, aku hanya memancingmu dengan tidak menyebutkan namanya”

“onni…”, hyerim merengek.

“kau itu maunya bertemu donghae terus. Sebenarnya niatmu bekerja di sini untuk apa, sih?”, tanya minje pada hyerim. Hyerim nyengir.

“donghae oppa..”, jawabnya dengan nada imut sambil mengedip-ngedipkan matanya.

“mencariku?”, kata seseorang tiba-tiba. Donghae masuk ruangan rias diikuti dengan anggota Super Junior lain yang kami rias hari ini. Muka hyerim memerah karena malu.

“a-ani..”, kata hyerim menundukkan kepalanya.

“Cuma bertiga?”, tanya leeteuk oppa padaku.

“ne”, jawabku sambil membuka kotak rias, “karena acaranya santai jadi make-up kalian tipis saja dan tugas kami jadi tak banyak. Siapa yang mau duluan?”, tanyaku pada enam Super Junior.

“gunting batu kertas!”, kata leeteuk tiba-tiba. Kelima member Super Junior berkumpul membentuk sebuah lingkaran, kecuali kyuhyun.

“kyuhyun-ah?”, kata donghae. Semua yang ada di ruang rias melihatnya. Termasuk aku dan dua penata rias lainnya.

“hyung, aku nanti saja.”, kata kyuhyun, matanya sudah terpaku pada layar laptop-nya.

Aku melirik minje dan hyerim secara diam-diam kemudian kami tersenyum.

Leeteuk oppa, eunhyuk dan donghae mendapatkan kesempatan duluan di rias.

“aku dengan hyerim saja”, kata donghae sambil duduk di kursi yang paling dekat dengan hyerim. Senyum khasnya membuat muka hyerim memerah lagi. Leeteuk oppa sudah biasa dirias olehku jadi dia langsung duduk di kursi di dekatku, dan minje yang merias eunhyuk.

“sudah dari tadi datang?”, tanyanya padaku. Dia mematut-matut diri di cermin saat aku menyiapkan alat-alat rias.

“belum terlalu lama”, jawabku. Aku melihatnya yang masih mematut-matut, “potong rambut lagi ya?”, tanyaku.

“ne..”, ujarnya ringan, “bagus?”

“bagus”, kataku. Sebenarnya aku lebih suka potongan rambutnya sebelum ini, tapi sebagian tugas dari penata rias adalah untuk membuat artisnya percaya diri. Mengatakan hal yang sejujurnya belum tentu berakibat baik bagi mereka.

Beberapa menit kemudian keadaan menjadi hening. Kami semua sibuk dengan tugas masing-masing. Tanganku bergerak cepat di wajah leeteuk oppa.

“hahahahaha!”, tiba-tiba kyuhyun berteriak, mengagetkan aku yang sedang memberi lipstik pada leeteuk oppa dan menyebabkan lipstick itu jadi tercoreng sedikit di wajahnya. Aku segera mengambil tissue dan memperbaiki riasanku.

“apa lagi sekarang?”, tanya jongwoon dari seberang ruangan.

“aku menang hyung, akhirnya…”, kyuhyun meregangkan tangannya. Aku yang barusan melihatnya berpaling lagi ke wajah leeteuk oppa untuk melanjutkan riasanku.

“anak itu..”, gumam leeteuk oppa. Aku tertawa pelan.

“yak, sudah”, kataku.

“gamsahamnida”, ujar leeteuk, dia melihat tampilan dirinya di cermin. Dia lalu beranjak dari kursi.

Aku berbalik membelakangi kursi untuk memperbaiki letak alat-alat riasku di atas meja. “siapa selanjutnya?”, ujarku agak keras.

“aku”

Aku langsung melihat ke arah cermin. Lewat pantulannya, dapat kulihat jongwoon sudah menggantikan posisi leeteuk oppa duduk di kursi yang tadi. Jantungku berdetak keras. Lewat pantulan, pandangan tajamnya menusukku. Aku tersenyum padanya dan membalikkan badanku untuk menghadapnya.

“kau ini selalu muncul tiba-tiba”, ujarku.

Dia mendongakkan kepalanya, masih menatapku.

“aku tak merasa seperti itu”, katanya dengan nada tak bersalah.

Aku mulai mengolesi alas bedak di wajahnya. Dia menutup matanya. Aku melihatnya dan tertawa pelan. “kau tak pernah berubah”, kataku.

“begitu juga denganmu”

Jawabannya menghentikan gerakanku. Aku menatapnya. Matanya masih tertutup.

“jangan bicara seperti itu”, ujarku pelan, mulai mengoleskan alas bedak itu lagi. Dia tersenyum.

Dari awal aku mulai bekerja dengan mereka, tak pernah sekalipun aku merias jongwoon. Kemunculannya barusan benar-benar membuatku terkejut dan sedikit canggung. Baru kali ini aku menyentuh wajahnya untuk dirias. Kulitnya baru bagiku sehingga aku harus menyesuaikan riasan apa yang cocok untuknya.

Pembicaraan tidak dilanjutkan sampai aku selesai meriasnya. Selama dirias olehku, jongwoon menutup matanya. Aku memperhatikannya sebentar.

“sudah. Buka matamu”, kataku akhirnya setelah beberapa detik memandang wajahnya. Dia segera beranjak dari kursi dan pergi.

~flash back~

“kita putus saja”, kataku.

Angin menerbangkan rambutku dengan lembut. Aku menatap kekasihku yang sedang berdiri di depanku, pandanganku sedikit kabur karena bendungan airmata yang belum turun di mataku. Aku menangis karena keputusanku sendiri.

“kita putus?”, tanyanya. Air mukanya tak bisa ditebak.

“mianhae”, kataku.

Kami terdiam lama, hanya saling menatap.

“baiklah. Selamat tinggal”

Dia lalu berjalan menjauhiku. Suara burung terdengar dari atas pohon di mana aku berdiri di bawahnya. Angin terus berhembus. Aku menatap punggungnya yang makin menjauh.

“jongwoon…”

~flashback end~

“onni!”

Tangan hyerim yang bergerak-gerak di depan mataku membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya kesal.

“mwora?”

Hyerim saling berpandangan dengan  minje. Lalu mereka memandangku lagi.

“jadi dari tadi kau tak mendengarkan?”, kata minje.

Aku mengangkat alisku, “kalian tahu sendiri ‘kan kalau tadi aku termenung”, kataku enteng. Minje menggeleng-gelengkan kepalanya. “memangnya kalian tadi bicara apa?”, kataku, mengaduk-aduk isi tasku untuk mencari lipstick.

“tadi kami membicarakanmu..”, kata minje.

“..dan yesung oppa”, sambung hyerim.

Aku menolehkan pandanganku pada mereka dan berhenti mengaduk-aduk tas. Aku memandang mereka bergantian, jantungku berdebar. Tak mungkin mereka tahu, ‘kan?

“memang kenapa dengan yesung dan AKU?”, tanyaku, mencoba menenangkan diriku dengan berpura-pura mencari lipstick di dalam tas lagi. “lipstick-ku mana, sih?”, kataku mengalihkan pembicaraan. Tanganku masuk makin dalam ke dalam tas dan jantungku berdetak makin cepat. Jangan sampai mereka tahu.

“ini lipstick-mu”, kata minje, menyerahkan cerminku yang tergeletak di atas meja. Aku mengambilnya.

“onni, jangan mengubah topik”, kata hyerim.

Aduuh…

“maksudmu?”, kataku, masih pura-pura tak mengerti, berharap mereka mempercayaiku.

Minje berdehem dan memelankan suaranya, “kau dulu ‘ada apa-apa’ ‘kan dengan yesung?”

Aku menelan ludah dan memperbaiki posisi dudukku.

“info dari mana itu?”, tanyaku skeptis.

“jongmi onni”, kata minje dengan nada seperti berujar ‘nah! Tertangkap kau sekarang!’.

Jongmi onni. Yah, tentu saja dia. Dia dulu kakak kelasku dan sekarang dia juga bekerja di perusahaan yang sama denganku, tak mungkin dia tak tahu. Aiissh… mau bagaimana lagi?

Aku menghembuskan napas panjang dan memandang mereka bergantian.

“itu dulu”, kataku akhirnya.

Minje dan hyerim langsung memindahkan posisi duduk mereka menjadi lebih dekat denganku. Hyerim malah terlalu bersemangat sampai lututnya menabrak meja rias.

“bagaimana ceritanya, onni?”, tanya hyerim sambil menggosok-gosok lututnya yang terbentur.

Aku tersenyum melihatnya yang kesakitan. Minje membesarkan matanya, dan telinganya (?), bersiap mendengarkan ceritaku.

“aku tak mau cerita di sini. Nanti mereka datang”, kataku.

“jangan mengelak, Byora. Kau tahu sendiri mereka baru sepuluh menit yang lalu keluar, tak mungkin kembali secepat itu”, kata minje. Hyerim mengangguk-angguk mengiyakan. Aku melihat jam.

“baiklah”, kataku. “kami berasal dari sekolah yang sama. Lalu..”, aku mulai bicara dan mereka berdua duduk semakin dekat. “kami berpacaran selama satu setengah tahun. Saat itu dia belum debut dan sibuk sekali dengan latihannya”, aku berhenti sebentar untuk melihat reaksi mereka lalu melanjutkan lagi, “aku tak tahan karena karena dia selalu sibuk dan tak memperhatikan aku, akhirnya aku minta putus”.

Terdiam lama. Mereka tampaknya masih menunggu perkataanku selanjutnya. Aku memandang mereka.

“kenapa kalian diam?”, tanyaku sedikit kesal.

“lalu?”, kata hyerim.

“ya sudah begitu saja. Memangnya mau cerita apa lagi?”, kataku heran.

Mereka berdua mendengus.

“kau ini benar-benar”, kata minje.

“yak! Aku masih punya privasi. Kenangan manisnya cukup aku yang menyimpan”, kataku, tersenyum lebar melihat perubahan muka mereka.

“susah mendapatkan cerita bagus darimu!”, minje merias mukanya sendiri.

Aku nyengir dan mulai mematut diri di cermin. Suasana hening karena kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“pantas” kata minje tiba-tiba. Aku menoleh padanya. Dia masih mengoleskan lipstick-ke bibirnya.

“apanya yang ‘pantas’?” tanyaku. Minje menatapku.

“pantas selama ini yesung tak pernah dirias olehmu. Ada sesuatu yang mengganjal rupanya” katanya. Aku melihatnya sebentar dan mengalihkan pandanganku lagi ke cermin.

“tidak seperti itu juga..” kataku. Tapi bisa jadi sih, sambung otakku. Hening lagi.

“onni” panggil hyerim tiba-tiba, “kalian tahu kalau shindong oppa membuat account twitter?”

“makanan apa itu?” tanya minje. Aku menoleh padanya lalu memandang hyerim. Mulut hyerim ternganga.

“onni tak tahu twitter itu apa?” tanyanya tak percaya. Aku dan minje menggeleng. Hyerim memindahkan pandangan ke majalah yang dibacanya, mukanya berubah merah, “sebenarnya aku juga tak tahu itu apa. Tapi sepertinya heboh sekali”. Hyerim membalik majalah itu agar kami melihat isinya. Sebuah artikel dengan judul besar ‘SUPER JUNIOR SHINDONG MEMBUAT ACCOUNT TWITTER’.

“apa itu?”, tanya minje lagi, menyipitkan matanya. Aku mengangkat bahuku, memasukkan lipstick ke tas dan beranjak dari kursi.

“siapkan pembersih. Aku mau ke kamar kecil sebentar. Mungkin beberapa dari mereka akan datang sebentar lagi” kataku pada mereka berdua, berjalan cepat ke pintu keluar.

“kamar ‘kecil’ atau ‘besar’?”, celetuk minje. Hyerim menatapku, tersenyum. Aku nyengir sambil menutup pintu.

***

Aku melirik jonghwan, salah satu karyawan baru di perusahaan ini. Dari tadi entah sudah berapa kali dia melihat jam. Dia sedang membantuku menyusun daftar alat-alat rias apa saja yang harus dibeli.

“kau sudah ada janji?”, tanyaku padanya. Dia meringis.

“aku sudah janji dengan pacarku, dan handphone-ku bergetar dari tadi”, katanya, “tapi aku akan membantu sampai selesai”, dia membaca lembaran daftar lagi. Aku menatapnya.

“kau ini apa-apaan?”, kataku sambil merampas lembaran itu dari tangannya, “pergi sana, tak baik membiarkan pacarmu menunggu. Apalagi ini malam minggu. Aku bisa mengerjakan ini sendiri”

Dia menatapku, “nuna, aku tak menyangka kau bisa baik juga”, dia langsung membereskan peralatannya. Anak ini memang tak ada basa-basinya, pikirku.

“maksudmu?”, kataku pura-pura marah padanya.

“ani, nuna. Gamsahae. Semoga malammu menyenangkan”, katanya sambil beranjak pergi. Aku melihat ujung tangannya menghilang di balik pintu.

“menyenangkan?”, gumamku sendiri sambil melihat onggokan kertas yang masih berserakan di atas mejaku.

Entah sudah berapa jam aku duduk di ruangan ini. Mataku sudah capek melihat daftar alat-alat kosmetik. Suara dentuman musik terdengar sayup-sayup. Masih ada orang yang latihan. Aku melihat jam. Sudah hampir tengah malam. Tak hanya karyawan biasa, artis juga berusaha keras dalam pekerjaannya, karena itulah aku menghargai mereka.

Setengah jam kemudian pekerjaanku selesai. Aku menyusun lembaran-lembaran daftar itu dan membereskan perlengkapanku. Suara musik masih berdentum-dentum dari atas. Aku jadi penasaran siapa yang latihan. Tapi rasa kantukku lebih kuat.

Aku berjalan keluar ruangan, menuju ke arah lift. Mataku tertuju pada mesin pembeli minuman otomatis di depan lift. Aku melihat-lihat minuman yang ada di dalam mesin itu dan akhirnya memutuskan untuk membeli kopi. Kaleng kopi keluar dan aku segera membukanya. Setelah menghabiskan setengahnya, kantukku hilang. Aku jadi tergoda untuk ke lantai atas. Aku meminum sisa kopi tadi dan membuangnya di tong sampah.

“kau di sini?”

KLONTANG!

Kaleng kopi jatuh ke samping tong besi itu alih-alih masuk ke dalamnya. Aku memungut kaleng itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah, kemudian aku membalikkan badan untuk melihat siapa yang berbicara. Jongwoon berdiri di depanku. Jantungku mulai berdebar lagi.

“tugasku baru selesai” kataku sambil menggosok tanganku, “belum pulang?”.

Dia melangkah ke depan mesin itu dan menekan salah satu tombol. Saat kulihat apa yang dibelinya, ternyata kopi yang sama dengan yang aku beli tadi.

“aku latihan”, katanya sambil membuka kaleng kopinya dan meminumnya. Aku memperhatikannya.

“bukankah kopi tak bagus untuk suaramu?”, tanyaku, tak tahu harus berkata apa selain itu.

Dia menghabiskan isi kaleng itu dengan cepat lalu menyeka mulutnya dengan tangannya dan menatapku tajam. “suaraKU?”, katanya. Dia kemudian berjalan melewatiku untuk membuang kaleng kosong itu. Aku masih memperhatikannya.

“tubuhmu berubah”, kataku. Dia menyandar di dinding, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Dia menatapku lama sekali.

“aku latihan”, kata yang sama diulangnya. Entah kenapa jantungku makin berdetak keras saat dia mengatakan itu, entah mungkin karena tatapan tajamnya, aku tak tahu. “sudah malam. Kau tak pulang?”

“ah? Ne”, ujarku sedikit terbata. Sebagian hatiku ingin dia berkata ‘mau kuantar pulang?’ padaku. Dasar pabo. Tak mungkin dia berkata seperti itu. Apa aku masih mengharapkannya? “annyeong..”, ujarku sedikit membungkuk.

Aku menunggu pintu lift terbuka dan segera masuk ke dalamnya. Sebelum pintu lift menutup, aku sempat melihatnya yang masih memandangku.

Lift mulai bergerak turun. Tadi kalau tak salah dia berkata ‘kau di sini?’, apa dia mencariku?, pikirku. Tapi saat pintu lift terbuka, aku sudah tak memikirkan hal itu lagi.

***

“Byora-ssi!”, sebuah suara memanggilku. Aku membalikkan badan.

“ne” kataku sambil tersenyum, “ada apa sunbaenim?”

Dia lee seori, sunbae ku. Umurnya sudah kepala tiga. Dia yang mengawasiku saat aku baru bekerja di sini.

“byora-ssi, begini. Hari ini aku disuruh untuk merias yesung untuk penampilan solo pertamanya. Tapi aku tiba-tiba dapat telpon dari keluargaku bahwa ada urusan keluarga yang penting. Kau mau menggantikanku? Apa kau sibuk?”, jelas Seori sunbae.

“aniyo, sunbae. Tapi..”

“tolong gantikan aku ya?”, seori sunbae menggenggam tanganku. Tampangnya memelas. Aku jadi tak bisa menolak.

“baiklah. Dimana tempatnya?”, kataku akhirnya.

Seori sunbae memberikanku alamat tempat di mana jongwoon akan show.

“acaranya dimulai empat jam lagi. Kuharap kau bersiap-siap sekarang atau kau akan terlambat” kata seori sunbae, “jeongmal gamsahamnida, byora-ssi. Aku harus segera pergi sekarang. Annyeonghasimnikka”

“annyeonghasimnikka”, kataku sambil membungkuk.

Aku melihat alamat yang diberikan seori sunbae dan segera menuju ke parkiran. Waktunya tinggal sedikit, aku harus buru-buru.

***

Aku mencari ruangan rias jongwoon. Ternyata letaknya di sebelah selatan gedung. Banyak orang di sini dan semuanya tak aku kenal. Aku hanya tersenyum tipis pada mereka.

Akhirnya kutemukan ruangan itu. Aku mengetuk pintu dan membukanya. Aku melihat jongwoon yang sedang duduk di dalam, dia sedang memainkan handphone-nya. Dia duduk membelakangiku, menghadap ke cermin.

“mian, aku terlambat”, kataku. Dia mengangkat kepalanya dan memandang cermin. Mungkin melihat pantulan diriku di sana, dia segera membalikkan kepalanya.

“wae..?”, katanya sambil bangkit berdiri.

“seori sunbae tiba-tiba ada urusan mendadak. Aku diminta untuk menggantikannya” ujarku tanpa menatapnya. Aku meletakkan kotak riasku di atas meja rias di depannya dan mulai mengambil alat-alat yang aku perlukan. Aku meliriknya dari pantulan cermin dan jantungku berdegup kencang begitu tahu dia menatapku lewat pantulan itu. “bisa dimulai sekarang?”, tanyaku memecah keheningan. Tanganku sudah penuh dengan alat-alat make-up. Dia menutup matanya.

Tanganku mulai memolesi wajahnya. Ada getaran-getaran aneh saat tanganku menyentuh wajahnya. Untung dia menutup mata. Aku sudah mendengar lagu yang akan dibawakannya. Aku memberikan lebih banyak sentuhan gelap di matanya agar matanya terlihat lebih awas dan lebih cocok dengan lagu itu. Saat sentuhan terakhir, aku cukup puas dengan pekerjaanku.

“sudah”, kataku sambil menatap wajahnya. Dia membuka mata. Aku tersenyum melihatnya dan mulai membereskan perlengkapanku lagi. Dia diam.

“siapa penggantiKU?”, tanyanya tiba-tiba. Aku melihatnya. Lagi-lagi cermin menjadi perantara kami. Jantungku berdetak keras lagi. Kenapa di saat seperti ini..?

“tak ada”, kataku.

“sekarang?”, tanyanya lagi.

Aku menggeleng. Dia diam lagi. Tiba-tiba pintu terbuka.

“yesung-ssi? Giliranmu sebentar lagi”, kata seorang pemuda yang menggunakan headset di kepalanya. Jongwoon segera beranjak dari kursinya.

“aku juga”, bisiknya saat berjalan melewatiku. Seketika aku membeku.

Apa maksudnya itu??

=TBC=

Advertisements