FF/S/Nuna’s Diary (page 3-9)

= Nuna’s Diary =

Page: 3-9

Cast:

* NUNA
* TAEMIN

Genre: Family, Incest

= = =

“nuna, aku pulang~”

Aku mengalihkan pandanganku dari layar televisi. Taemin menyeret langkahnya menghampiriku, kemudian dia duduk di sampingku. Direbahkannya kepalanya pada sandaran sofa. Wajahnya tampak pucat.

“gwaenchanhayo?” tanyaku khawatir.

“kepalaku pusing, nuna,” jawabnya lemah.

“sejak kapan?” tanyaku lagi sambil meletakkan telapak tanganku di keningnya, kemudian pipinya dan lehernya, mencoba mengukur suhunya. Agak panas.

“tadi pagi” katanya. Lemah sekali suaranya.

“istirahatlah kalau begitu, kau agak panas,” kataku kemudian.

Dia mengangguk dan beranjak dari sofa. Aku segera berjalan ke dapur untuk mencari persediaan obat. Bakal panjang urusannya kalau dia sakit.

Aku membuka pintu kamarnya. Taemin sudah bergelung di bawah selimutnya. Aku menghampirinya.

“taeminie,” panggilku.

Dia tak bangun.

Aku letakkan gelas dan obat di meja belajarnya kemudian menghampirinya lagi. Dia sedikit mengigau. Aku sentuh lagi keningnya dengan tanganku, suhu tubuhnya makin panas. Aku usap rambutnya, matanya terbuka sedikit karena sentuhanku.

“taeminie~ minum obat dulu, bangunlah,” ujarku pelan padanya.

Dia tersenyum dan kemudian duduk. Aku mengambil gelas dan obat itu lagi dari atas meja dan menyerahkan padanya.

Dia menelan obat itu dan meminum air sampai habis. Wajahnya parah sekali, pucat. Dia menyerahkan gelas kepadaku dan membaringkan tubuhnya lagi. Aku meletakkan gelas di meja dan duduk di sebelahnya. Dia memegang tanganku. Panas sekali tangannya.

“dingin, nuna~” erangnya.

“dingin bagaimana? Kau panas sekali,” ujarku sambil mengurut-urut pelan tangannya, “aku kompres ya?” tawarku.

Dia menggeleng. “dingin, nuna~ aku tak mau~” erangnya.

“harus. Aku ambil sekarang ya?” kataku sambil beranjak. Tapi dia menahan tanganku.

“ani, nuna~ aku mohon~ nuna di sini saja, menemaniku~”

Perasaanku luluh mendengarnya. Aku duduk lagi.

“jadi mau bagaimana? Kau akan terus sakit kalau tak mau dikompres!” ujarku. Aku kesal tak bisa memaksanya, dia terlalu imut. Entah beruntung atau malah tidak aku punya adik seimut dia.

“aku akan sembuh, nuna. Ini hanya sebentar. Aku yakin” katanya, mukanya serius.

Aku menatapnya, lalu menjitaknya.

“jangan sok yakin,” kataku sambil tersenyum. Senyumnya mengembang.

“nuna di sini saja~” rengeknya.

“egi!” ujarku kesal. Dia malah nyengir. Aku mengurut-urut pelan tangannya lagi.

“nuna, bacakan dongeng~” katanya tiba-tiba.

“mwo?? Sudah berapa umurmu?!” kataku kasar.

“nuna~ aku mau dongeng~~”, taemin mulai merengek lagi.

“aniyo! Aku tak mau!” ujarku kasar. Aku hempaskan tangannya yang sedang kuurut.

“nuna~~” matanya mulai berair.

Dia selalu begini, menjadi cengeng kalau sakit.

“dongeng~~” rengeknya. Airmatanya sudah mengalir dari sudut matanya.

Aku menatapnya garang.

“hapus airmatamu,” kataku dingin.

Dia menghapus airmatanya. Bibirnya memberengut. “dongeng~” ujarnya lemah.

“katakan sekali lagi dan aku akan pergi dari sini,”

Airmatanya membanjir lagi.

“nuna~~~ jangan pergi~~ huwee~~”, tangisnya pecah.

Aduh, imutnya. Aku jadi tak bisa marah. Kenapa wajah adikku bisa imut begini, sih?

“aigoo~ uljima~” kataku, mengusap airmatanya, “uljima uljima, mianhae nuna kasar padamu~ uljimarayo~”

Taemin memegang tanganku erat. “nuna jangan pergi~ temani aku~”

“ani, nuna tak akan pergi. Sudah, jangan menangis lagi,” kataku.

“nuna jahat padaku~ kepalaku sakit~”, taemin memegang kepalanya.

“mianhaeyo,” kataku sambil mengurut-urut kepalanya, “sudah jangan menangis lagi, nanti kepalamu tambah sakit”, aku menatapnya prihatin.

Airmatanya masih mengalir dari sudut matanya.

“nuna jangan pergi~” katanya.

“ani. Aku akan di sini, bersamamu”

Dia masih terisak. Kami terdiam sementara aku terus mengurutnya.

“kepalaku sakit, nuna~” katanya.

“sudah, tidurlah. Aku akan menemanimu di sini,” kataku padanya.

Dia menatapku.

“nuna juga tidur, di sebelahku”, dia menggeser badannya sedikit, menyisakan tempat tidurnya untukku.

“tidak usah,” tolakku halus.

“gwaenchanha~ nan gwaenchanhayo~ aku senang tidur dengan nuna,” katanya polos.

“nanti aku ikut tertular”

“tidak mungkin, nuna kan kuat”, dia tersenyum mengatakan itu.

“jangan mengada-ada. Aku tak mau sakit sepertimu. Sudah, tidurlah” kataku.

Dia kemudian menutup matanya. Aku bersenandung sedikit dan dia tersenyum lagi.

“nuna jangan tinggalkan aku,” katanya, matanya terkantuk-kantuk. Suaranya sedikit tak jelas.

“aku akan di sini,” ujarku sambil mengusap tangannya.

“gomawoyo, nuna. Kau terbaik. Johahae”

Sebentar kemudian dengkurnya terdengar. Cepat sekali dia tertidur, mungkin karena efek obat yang diminumnya. Aku menghentikan senandungku dan mengelus kepalanya lagi.

“gomawo, dongsaeng. Aku bahagia memilikimu,” bisikku.

Aku kemudian mematikan lampu dan keluar dari kamar yang nyaman itu.

~~~

“taeminie~ bangun~”

Dia membuka sedikit matanya dan sinar matahari pagi yang memang lebih terik dari biasa ini menyerang retinanya. Dia langsung duduk tegak.

“nuna kenapa tak membangunkanku? Aigo~”, taemin memegang kepalanya. Pasti kepalanya jadi sakit karena dia bangun tiba-tiba, “aissh~”, matanya dipejamkannya untuk menahan rasa sakit.

“berapa kali aku bilang, jangan bangun tiba-tiba,” kataku sambil duduk di sampingnya. Sebuah mangkuk berisi bubur hangat tersedia di tanganku.

“tapi, nuna, sekolahku?” katanya, matanya masih setengah terpejam dan tangannya mengurut-urut kepalanya yang sakit.

“aku sudah menelpon gurumu untuk memberi izin sakit. Sudah, tak apa. Ini, ayo makan”, aku menyodorkan bubur itu kepadanya. Dia mengambilnya dan menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya. Mukanya langsung mengernyit.

“panas~” katanya, dijauhkannya mangkuk itu.

“tiup dulu,” kataku sambil mengambil mangkuk itu, mengambil sesuap bubur dan meniupnya, lalu menyuapkan padanya. Dia tersenyum.

“hehe, nuna saja yang suapkan aku ya?” pintanya setelah menelan bubur itu.

Aku mengerutkan alis, “memangnya kau tak bisa suap sendiri?” tanyaku. Dia menggeleng.

“lidahku terbakar~”, dikeluarkannya lidahnya sedikit, “yang tadi panas sekali,” keluhnya kemudian.

“apa hubungannya?” tanyaku kasar, tapi aku suapi juga dia. Seperti yang aku bilang sebelumnya, keimutannya tak bisa ditolak.

“lama sekali menggigitnya!” kataku tak sabar setelah beberapa suap bubur dimakannya.

“buburnya tak enak~” katanya pelan.

Aku mendengus kesal.

“kalau mau yang enak, ya jangan sakit!” kataku tajam. Aku kemudian mengukur suhunya lagi dengan telapak tanganku, “masih panas. Pokoknya hari ini kau harus dikompres!”

Dia mengangguk pelan.

“ayo, ini tinggal sedikit lagi,” kataku lagi sambil mengangkat satu sendok penuh bubur. Dia menggeleng.

“aniyo, nuna. Aku sudah kenyang~” katanya, dipegangnya perutnya.

“jangan alasan! Tinggal sedikit lagi. Ayo, habiskan. Kau mau sembuh kan?” paksaku. Taemin menggeleng lagi.

“ani, nuna. Jinjja, aku sudah kenyang. Sudah tidak muat lagi, jeongmalyo. Nanti saja aku makan lagi, ya?” pintanya. Perutnya ditepuk-tepuknya sedikit dan lagi-lagi dia memasang tampang imutnya itu. Aku menghembuskan napas panjang dan meletakkan mangkuk itu di meja di samping tempat tidurnya.

“aku mau ke mini market, kau mau titip apa?” tanyaku padanya.

“pizza,” katanya singkat.

Aku menatapnya.

“baiklah” kataku sambil beranjak pergi, “itu saja kan?” tanyaku lagi. Dia tampak terkejut.

“ani, nuna! Aku bercanda. Tak usah beli pizza. Ramyeon saja cukup” katanya cepat-cepat.

“gwaenchanha~ nuna akan membelikannya untukmu. Istirahatlah, taeminie. Nanti saat kau bangun, pizza-mu sudah siap untuk disantap” kataku padanya.

“tapi, nuna, penjual pizza jauh sekali dari sini. belikan aku ramyeon saja di mini market,” katanya lagi.

“gwaenchanhayo~ nuna pergi dulu. Tidurlah,” aku menutup pintu kamarnya.

Kapan lagi aku sedikit berkorban untuk adikku? Aku menyayanginya, hanya membeli pizza saja tidak masalah bagiku.

~~~

Hari sudah larut malam saat aku mematikan lampu ruang tengah, hendak beranjak tidur, dan saat itulah sayup-sayup kudengar sebuah suara memanggil-manggil namaku. Bulu kudukku tiba-tiba meremang. Sedetik kemudian baru aku sadar kalau sumber suara itu berasal dari kamar taemin. Aku langsung menghampiri kamarnya dan membuka pintunya.

Kulihat dia masih berbaring di atas kasurnya, selimutnya menutupi lehernya, wajahnya ditolehkannya padaku. Kamarnya gelap, tapi dari cahaya yang masuk karena pintu kamarnya yang kubuka lebar aku bisa melihat wajahnya yang sudah bersimbah airmata.

“nuna~” isaknya.

Aku mendekatinya dan segera berlutut di samping tempat tidurnya.

“waeyo?” ujarku sambil memegang tangannya.

“aku mimpi buruk~” ujarnya lemah, “nuna di sini saja, temani aku~”

Aku tersenyum mendengarnya dan mengelus kepalanya.

“kau ini seperti egida saja”, aku raba keningnya. Masih panas. “masih pusing?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk.

“sudah, uljima” kataku sambil menghapus airmatanya. Dia mengangguk lagi.

Dia tampak lemah sekali kalau sedang sakit dan kadar manjanya meningkat dua ratus persen.

“nuna~ gosok punggungku~?” pintanya.

Aku terdiam. Omma dulu selalu menggosok punggung kami kalau kami mau tidur. Sekarang beliau sudah tak ada. Taemin pasti rindu padanya, atau mungkin mimpinya barusan itu mimpi tentang omma.

“berbaliklah,” kataku.

Taemin membalikkan badannya, dia telungkup sekarang. Wajahnya menghadapku.

Aku menyusupkan tanganku ke balik kaosnya. Punggungnya panas sekali. Aku lalu menggosok-gosok punggungnya. Taemin tersenyum.

“aku kompres, ya? Punggungmu panas sekali,” ujarku padanya.

Dia menggeleng.

“tak mau, nuna. Tadi siang kan sudah dikompres~ kalau malam-malam aku tak tahan dinginnya~ jangan ya?” katanya.

Aku tak menjawab, hanya terus menggosok punggungnya.

“tidurlah,” kataku setelah beberapa lama. Dari tadi matanya belum juga terpejam padahal mataku sudah mengantuk.

“aku mau tidur dengan nuna~” pintanya, “aku takut~”

“takut bagaimana? Kau ini sudah besar taemin, masa masih takut tidur sendiri?” protesku.

Dia menggeleng kuat-kuat.

“mimpi tadi membuatku takut, nuna~ malam ini saja~”, rengekannya terdengar lagi.

“kalau aku tertular bagaimana?” ujarku sedikit kesal.

“nanti biar aku yang mengurus nuna,” katanya polos.

Aku menghembuskan napas berat. Aku sudah terlalu mengantuk untuk berdebat dengannya malam ini.

“ya sudah. Di kamarku tapi, tempat tidurmu terlalu kecil untuk kita berdua,” kataku akhirnya.

Senyumnya mengembang. Dia lalu bangkit dan membawa selimutnya. Aku pun ikut bangkit.

“nuna, tolong bawakan bantalku. Tanganku tak cukup” katanya kemudian. Dia sudah berdiri di depan pintu, mendahuluiku.

“ne, ne!” kataku kesal, “duluan saja. aku mau mematikan lampu dapur,” kataku.

Saat aku masuk kamar, dia sudah berbaring di kasurku. Aku lemparkan bantal ke arahnya. Dia nyengir dan memposisikan bantal di kepalanya. Aku naik ke tempat tidur. Dia berbaring menyamping menghadapku.

“kasur nuna nyaman sekali,” katanya sambil tersenyum. Bibir bawahnya digigitnya sedikit, mukanya jadi tambah imut.

“tidurlah, aku sudah mengantuk,” kataku padanya.

“aku peluk nuna, ya?” katanya manja.

“tidak boleh!” ujarku ketus. Enak saja dia.

“kalau begitu, nuna yang peluk aku?” katanya lagi.

“aniyo!” tolakku tegas, “tidurlah, taemin. Aku sudah benar-benar mengantuk! Kalau kau mimpi buruk lagi, bangunkan saja aku,” kataku kemudian.

Dia diam dan membalikkan badannya, membelakangiku. Aku melihat punggungnya yang tertutup selimut. Terbayang lagi saat aku baru masuk kamarnya tadi, wajahnya yang bersimbah airmata. Rasa ibaku muncul. Aku sampirkan tanganku ke atas badannya. Dia langsung menoleh dan tersenyum.

“jaljayo,” bisikku.

Dia mengalihkan pandangannya lagi. Senyumnya masih terlihat sekilas sebelum aku menutup mata.

~~~

Aku menghampiri taemin yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Dia sedang makan snack kesukaannya. Aku menghenyakkan tubuhku di sebelahnya.

“kenapa nuna seperti itu?” katanya tiba-tiba.

Aku menoleh.

“kenapa aku memangnya?” tanyaku bingung.

“kenapa nuna senyum-senyum seperti itu?”, katanya, “aneh sekali. Aku jadi takut”

Aku menatapnya penuh arti, “hehe”, kataku kemudian. Senyumku mengembang. “beratku turun” kataku sambil tersenyum lebar padanya.

“nuna kau diet??” tanyanya.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“TIDAK BOLEH!!!”

Taemin berteriak dan berdiri. Bungkus snack-nya jatuh ke lantai. Aku kaget dan sedikit terlonjak dari sofa. Kupegang dadaku, di bagian jantungku lebih tepatnya.

“kau ini kenapa??!!” bentakku padanya.

“nuna tidak boleh diet! Nuna tidak boleh kurus!!”, taemin kalap. Dia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

“kau ini sudah gila?? Kenapa aku tak boleh kurus? Paboya~!”

“aku tak mau nuna kurus! Pokoknya TIDAK BOLEH!!”, taemin berteriak padaku.

Emosiku mulai bangkit. Kenapa dia ini? Memangnya dia rugi kalau aku kurus?

Aku berdiri menghadapnya.

“kenapa memangnya kalau aku kurus?!! Kenapa KAU melarangku kurus?? TERSERAHKU!! Ini bukan urusanmu!!”

Aku tak bisa mengontrol emosiku. Dia sudah diluar batas.

Dia memandangku tajam.

“nuna tidak boleh diet!!” katanya.

“aku mau—“

“TIDAK BOLEH!!”, taemin mendorongku. Aku terjatuh ke sofa.

Aku memegang pundakku. Pundakku sakit karena dorongannya, tapi hatiku lebih sakit. Kenapa adikku sendiri mendorongku? Apa salahku?

“nu-nuna~” katanya takut-takut.

Aku pandang dia. Aku yakin airmataku sudah mengalir sekarang.

“nuna gwaenchan—“

Aku menepis tangannya yang mencoba menyentuhku dan berlari menuju kamarku.

BLAMM!!

Pintu kamar kubanting dan aku menghempaskan tubuhku ke kasur.

Kenapa taemin berani mendorongku? Apa aku ada salah padanya? Kenapa dia marah begitu? Apa aku tak bisa menjadi nuna yang baik? Kenapa dia seperti itu padaku? Apa dia benci padaku?

Pikiranku berkecamuk dan airmataku terus mengalir.

Mungkin memang aku bukan nuna yang baik untuknya. Padahal aku sudah berusaha untuk menjadi nuna yang baik, aku berusaha memberikan yang terbaik untuknya, tapi ternyata perjuanganku tak berarti.

Pintu kamarku berderit terbuka. Aku yakin taemin yang masuk.

“nuna~” panggilnya pelan.

Aku langsung duduk untuk melihatnya. Aku hapus airmataku dan kutatap dia. Dia mendekat.

“apa kau benci padaku?” ujarku. Matanya mulai berkaca-kaca. “katakan taemin, APA KAU BENCI PADAKU??!!”. Aku meraung dan airmataku membanjir lagi.

Taemin langsung memelukku.

“nuna~ mianhaeyo~ mianhamnida~~ aku tak bermaksud seperti itu~ aku tak benci padamu nuna, aniya~ aku sayang nuna~ jeongmal johahaeyo~~”, isaknya terdengar, bercampur dengan isakku.

“kenapa adikku sendiri mendorongku? Aku bukan nuna yang baik~” erangku.

Taemin mengeratkan pelukannya.

“aniya, nuna~ mianhamnida~ nuna terbaik~ mianhae nuna, mianhaeyo~ aku salah~”

Taemin terus menangis. Aku akhirnya membalas pelukannya.

Kami terdiam lama, hanya isak tangis yang terdengar di ruangan itu.

“mianhaeyo~” kata taemin akhirnya, kami melepaskan pelukan dan saling bertatapan. “aku jahat sekali mendorong nuna. Aku berdosa. Maafkan aku nuna~” katanya lagi. Airmatanya mengalir.

Aku menghapus air matanya dengan bajuku.

“gwaenchanha~ mungkin aku memang salah. Aku—“

Taemin menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “andwae~ nuna tak salah~ aa~ nuna~~~” taemin memelukku dan dia menangis lagi, “mianhaeyo nuna~ mianhae~~”

Tangisnya terdengar sedih sekali. Aku hanya bisa diam dan membalas pelukannya. Aku tak bisa berkata apa-apa, aku pun mencoba menenangkan diri.

Lama kami berpelukan, sampai airmataku sudah tak mengalir lagi. Isak taemin masih terdengar. Aku menggosok-gosok punggungnya.

“johahae taeminnie~ maaf kalau nuna salah. Nuna sayang padamu” kataku pelan.

“nado, nuna. Johahaeyo, saranghae! Nan jeongmal saranghae~” tangisnya pecah lagi di pelukanku.

“gomapta, taeminnie. Nuna akan berusaha lebih baik lagi untukmu. Mianhae” ujarku.

“nuna jangan bilang maaf lagi~ aku yang salah~”

Aku mengelus rambutnya.

“gwaenchanha~ kita saling memaafkan kalau begitu” kataku sambil mendorong tubuhnya sedikit agar kami bisa berhadapan. Aku lap airmatanya lagi. Matanya sudah bengkak. Mungkin mataku juga.

“uljima” bisikku sambil tersenyum.

Dia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“johahae nuna” katanya sambil tersenyum.

“nado” ujarku.

Kami berpelukan lagi. Dengan berpelukan seperti ini rasanya rasa sayang kami tersalurkan satu dengan yang lain.

“nuna empuk sekali kalau aku peluk begini,” katanya tiba-tiba, “makanya nuna jangan kurus. Nanti tak empuk lagi”

Aku langsung melepas pelukannya.

“oh, jadi itu maksudmu?” ujarku garang.

“nuna jangan marah padaku~” rengeknya sambil memelukku lagi.

Aku meletakkan daguku di bahunya dan tersenyum.

“kau suka sekali dipeluk ya?” tanyaku.

Dia menganggukkan kepalanya.

Kami terdiam lama.

“nuna aku mengantuk~” katanya.

“ya, sudah. Pergilah tidur” kataku sambil melepas pelukannya. Tapi taemin tak mau beranjak, dia malah mempererat pelukannya padaku.

“aku mau begini saja, nuna empuk sekali” katanya pelan.

“ya!! Kau itu cukup berat, tahu! Pergi sana!”, aku mencoba mendorongnya.

“tak mau! Tak mau!”, taemin memelukku erat-erat. Badanku jadi terdorong ke belakang.

“ya!! Taeminnie! Aiissh~!”

Benar saja. badanku terhempas ke kasur karena tak kuat menahan tubuhnya. Dia menimpaku. Dasar anak ini.

“aissh~ kenapa jadi jatuh, sih, nuna? Apa aku seberat itu?” kata taemin sambil beranjak.

Aku terkurung oleh tangannya, dan kami saling bertatapan.

-TBC-

Advertisements

4 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 3-9)

  1. omo! omo! omo!
    Kenapa TBC itu ? Aish, lagi penasaran2nya juga .. hahaha 😀

    Ooh, jadi umma nya Taemin udah meninggal ya .. aigoo .. T.T

  2. klanjutana mna kah? Aq jg mo bca ff yang N’s D another side of us, gmna crana? Mkch untuk ff na……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s