Archive | 2011/04/24

FF – THE ONE (1/?)-(stuck)

= FF =

Title: THE ONE

Episode: 1 of ?

Status: Stuck

Cast:

  • Choi minho (SHINee Minho)
  • Kim Sunhi (someone)
  • Cho hyunhee (someone)
  • Park jungsoo (Super Junior Leeteuk)
  • Lee jinki (SHINee Onew)
  • Kim kibum (SHINee Key)
  • Kotani Yoshikazu

Genre: Family, Romance

= = =

Author PoV–

“sydney!!”

Key merentangkan tangannya lebar-lebar seolah dia ingin memeluk udara dingin disekitarnya. Napasnya beruap saat tertawa melihat pemandangan di depannya. Diletakkannya kedua tangannya di pagar pembatas. Hatinya puas melihat gedung opera itu. Sudah bertahun-tahun key ingin ke sydney, kota yang baru-baru ini diketahuinya sebagai kota kelahirannya. Panjang ceritanya sebelum key tahu bahwa kota megah ini adalah tempat dimana dia lahir.

Kotani berjalan mendekati key, berdiri di sebelahnya, ikut menikmati pemandangan indah yang disuguhkan di depan mata mereka.

“setelah berjuang keras, eh?” kata kotani pada key.

“haha, hyung,” kata key, kepalanya menunduk, airmatanya menetes, “setelah perjuangan keras. Ya, akhirnya aku di sini” katanya membenarkan kata-kata temannya itu. Senyumnya mengembang.

Kotani melirik key.

“kau menangis? Aissh~ jinjja,” katanya sambil mendengus. Samar-samar didengarnya perkataan beberapa wanita yang lewat di belakang mereka.

“what happen to him?” bisik wanita yang satu pada temannya. Kotani mendelik sebentar ke arah wanita-wanita itu.

“hapus airmatamu. Kau membuatku malu,” kata kotani pada key.

Key menghapus airmatanya dengan tangannya.

Kotani membalikkan badannya, bersandar pada pagar pembatas sementara key tetap menikmati indahnya gedung opera yang berdiri megah di depannya.

“mau sampai kapan kita di sini?” tanya kotani akhirnya. Dia sudah bosan berada di tempat itu.

Key tak menjawabnya. Matanya menerawang.

“aku akan menemukannya di sini, hyung,” ujar key yakin, “pasti”

Kotani menaikkan kancing tarik jaketnya.

“tidak sekarang, tapi. Kau akan mati kedinginan dengan baju itu jika tak kembali ke penginapan sekarang. Jujur saja, aku tak mau mengurus orang sakit di sini.” kotani beranjak dari posisinya dan mulai berjalan menjauhi key.

Key memandang gedung itu untuk terakhir kalinya. Dia tak akan datang ke sini lagi. Waktunya di negara ini hanya sebentar dan dia harus mencari seseorang sebelum dia kembali ke korea. Kim sunhi, kembarannya yang belum pernah ditemuinya.

“aku akan menemukanmu, sunhi,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Key lalu berjalan mengikuti kotani, meninggalkan jejak tangannya yang hangat di pagar pembatas.

~~~

Ting tong!

Minho beranjak dari kursinya. Tak ada seorang pun di rumah, dia harus membuka pintu.

Ting tong!

“tunggu sebentar!” ujar minho sedikit keras agar seseorang di balik pintu dapat mendengarnya. Dia menggaruk hudungnya yang gatal sebelum membuka pintu. Seseorang yang dilihatnya di balik pintu membuatnya terkejut.

“sunhi-ssi?” katanya sambil melihat gadis itu, alisnya berkerut.

Mata gadis itu melebar. Dia juga terkejut dengan orang yang ditemuinya.

“choi minho?” tanyanya, “ini rumahmu?”

“ne,” jawab minho singkat, “ada apa?”

“aku mengantarkan ini,” kata sunhi sambil mengangkat bungkusan berukuran sedang. Di depan bungkusan itu tertulis ‘cheong-gyeolhan loundry’. Minho menerima bungkusan itu.

“oh, kau bekerja di sini?” tanya minho. Dia sedikit takjub. Tak disangkanya teman sekelasnya ini sekolah sambil bekerja.

“ne,” jawab sunhi, “ada masalah?”

“ani,” ujar minho sambil menggeleng, “jangan salah paham dulu, aku bukan mengejekmu”

Sunhi mengangguk tanda mengerti.

“baiklah, aku permisi dulu” kata sunhi sambil membalikkan badannya.

Minho menutup pintu. Dia meletakkan bungkusan itu di atas meja kecil di ruang keluarga. Bayangannya melayang lagi saat dia melihat sunhi saat membuka pintu tadi.

Kim sunhi. Teman sekelasnya yang mendapat beasiswa selama tiga tahun di sekolahnya. Murid terpintar di kelas, nilai-nilainya selalu sempurna. Minho hanya sekali berinteraksi dengannya waktu itu, saat mereka mendapat tugas kelompok dan kebetulan berada dalam grup yang sama. Minho susah mendekati gadis pendiam seperti sunhi, makanya dia tak banyak omong dengannya.

“siapa yang datang?” tanya seseorang. Minho langsung menoleh.

“omma ada di rumah? Bukannya sedang pergi?” tanya minho kemudian kepada wanita itu.

“aniya,” jawab wanita bernama hyunhee itu sambil mengikat rambutnya. Dia membuka kulkas, mengeluarkan sayur untuk dimasak. “siapa yang datang?” tanyanya lagi pada minho.

Hyunhee, ibu minho, seorang wanita yang usianya sudah pertengahan kepala tiga tapi tetap tampak cantik. Hyunhee sering dikira kakak minho bila mereka jalan berdua.

“temanku,” jawab minho, “dia mengantarkan laundry”

“temanmu?” ulang hyunhee, “dia bekerja?”

“hm,” minho mengangguk. Dia memperhatikan pakaian ibunya. “mau kemana?” tanyanya curiga.

“tak kemana-mana,” jawab ibunya sambil tersenyum, “hanya saja jinki sebentar lagi akan ke sini”

Rahang minho mengeras. Pria itu lagi, pikirnya.

“aku akan pergi kalau begitu,” katanya tajam.

“waeyo?! Dia kemari karena ingin lebih dekat denganmu. Dua bulan lagi dia akan jadi ayahmu, minho!”. Intonasi hyunhee meninggi. Semenjak dia bercerai dengan ayah minho—jungsoo, anaknya itu jadi lebih jauh dengannya.

“aku ada urusan,” kata minho sambil memasang jaket hitam kesayangannya. Pintu depan sedikit dibantingnya saat dia keluar.

Udara dingin menyapu wajahnya saat minho mempercepat jalannya di jalanan yang sepi. Hatinya panas. Hidupnya terasa berantakan sejak lima bulan yang lalu, saat ayah dan ibunya bercerai. Sekarang semuanya terasa suram bagi minho. Tak ada yang menyayanginya. Dia anak tunggal, tak ada tempat baginya untuk berbagi kesedihan. Dan sekarang ibunya sudah menemukan pengganti ayahnya, seorang guru sekolah dasar bernama lee jinki. Entah apa yang ada dipikiran ibunya sampai bisa jatuh cinta pada pria yang jauh lebih muda dari usianya itu. Sementara itu, ayahnya sudah hidup dengan wanita lain, wanita yang dihamilinya bahkan sebelum dia bercerai dengan hyunhee.

BUGH!

Minho meninju batang pohon terdekat.

Bugh! Bugh! Bugh!

Minho meninju pohon itu berkali-kali. Melampiaskan kekesalannya. Hatinya pedih dan airmatanya terus mengalir.

“ugh~” erang minho.

Dari buku jarinya mengalir darah segar. Dia tak peduli pada darah itu. Dia tak peduli pada seseorang yang datang mendekat, yang melihatnya menangis—seorang remaja laki-laki berbadan tinggi menangis. Dia tak peduli. Dia tak mau peduli.

“choi minho?”

Sebuah suara memanggil namanya. Minho mengangkat kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya.

~~~

Minho menghirup kopi yang ada di tangannya. Sunhi yang membelikan kopi itu. Selama dua jam mereka duduk di bangku taman, dan selama itu juga minho tak berkata apapun pada sunhi.

Hari sudah gelap sekarang. Mereka hanya diterangi lampu taman yang temaram.

“gomapta,” kata minho akhirnya. Dia menoleh pada sunhi.

Sunhi yang sedang memperhatikan minho terkejut karena tiba-tiba minho berbicara padanya.

“a-ani, gwaenchanha” kata sunhi sedikit tergagap, dia mengalihkan pandangannya ke ayunan taman.

Mereka terdiam lagi. Sesekali sunhi melirik minho yang lagi-lagi berdiam diri.

Minho menghembuskan napas berat. Dipegangnya tangan kanannya yang terbungkus kain. Sunhi yang memanggilnya dan membantu mengobati lukanya tadi. Entah kenapa sunhi masih berkeliaran di sekitar rumahnya, minho tahu laundry tempat sunhi bekerja lumayan jauh dari rumahnya.

“kau tadi sedang apa, di sana?” tanya minho pada sunhi.

Sunhi melirik minho dan tersenyum terpaksa.

“aku tersesat” ujar sunhi malu.

Minho mengerutkan alisnya.

“tersesat? Yang benar saja?”

Minho hampir tak percaya masih ada orang yang tersesat di zaman sekarang.

“untuk apa aku berbohong?” ujar sunhi sedikit kesal, “kalau aku bisa pulang dari tadi, aku pasti sudah berbaring di kamarku yang hangat sekarang,” sunhi menggosok-gosok tangannya dan membenamkan tangannya lagi ke dalam saku jaketnya. Dia meniup napasnya dan uap hangat keluar dari mulutnya. Sunhi meniup dan meniup lagi, dia bermain-main dengan uap itu.

Minho memandang tanah. Bagaimanapun dia harus berterimakasih pada sunhi.

“mau kuantar?” kata minho tiba-tiba.

Sunhi mendelik pada minho dan tersenyum.

“kalau kau mau mengantarkanku sampai keluar dari komplek ini saja aku akan berterimakasih sekali. Setelah itu aku akan pulang sendiri,” jelasnya.

“baiklah,” ujar minho sambil beranjak dari bangku taman. Dia lalu berjalan keluar dari taman, sunhi mengikutinya.

Sepanjang perjalanan, mereka tak berbicara apapun. Sunhi lagi-lagi bermain-main dengan uap yang keluar dari mulutnya. Minho meliriknya.

“kau suka musim dingin?” tanya minho memulai pembicaraan.

Sunhi mengangguk dan tersenyum.

“sangat,” jawabnya.

“wae?” tanya minho lagi.

“tak ada alasannya. Aku hanya suka musim dingin,” sunhi melipat tangannya, “kau suka musim apa?”

Minho tak segera menjawab. Dia menghembuskan napas lagi.

“musim gugur, mungkin,” katanya sambil menoleh pada sunhi.

“wae?” ulang sunhi.

Minho tersenyum.

“tak ada alasannya. Hanya suka saja”

“ya!! Kau mengulang jawabanku!” ujar sunhi.

Minho tertawa pelan mendengarnya.

“sejak kapan kau bekerja begini?” tanya minho lagi.

“di laundry maksudmu? Baru seminggu,” jawab sunhi, “sebelumnya aku bekerja di restoran cina selama  sebelas bulan, tapi begitu mereka tahu kalau aku masih bersekolah aku langsung dikeluarkan,” jelas sunhi sambil mengibaskan tangannya, seolah-olah dia dibuang begitu saja.

Minho mengerutkan alisnya.

“lalu di tempat laundry ini? Apa mereka juga tak tahu kalau kau masih bersekolah?”

“tahu,” jawab sunhi enteng, “tapi sepertinya mereka membutuhkanku, karena itu aku diterima. Atau mereka punya alasan lain. Entahlah,” ujar sunhi lagi sambil menaikkan bahunya.

Minho mengangguk-angguk.

“eh? Ini sudah di luar komplek ‘kan? “, kata sunhi sambil melihat ke sekeliling. Mereka sudah sampai di jalan besar. “aku sampai di sini saja. gomawo sudah mengantarkan,” ujar sunhi lagi sambil sedikit membungkukkan badan.

“aku juga berterima kasih, tadi ini..”, minho mengangkat tangannya yang terbungkus kain.

“gwaenchanha~,” kata sunhi sambil tersenyum, “senang bisa membantumu. Annyeongi gyeseyo,” sunhi membalikkan badannya dan berjalan menjauh.

Minho tersenyum dan berjalan pulang ke rumahnya. Kain yang membalut tangannya terasa hangat.

~~~

“WHAT???!!” key berteriak kepada seorang pria, “apa yang anda maksud dengan ‘pindah’??”

Pria itu menulan ludah, tak disangkanya lelaki berdarah oriental yang terlihat cantik ini bisa berteriak seperti itu. Kotani melirik key, takut temannya itu lepas kontrol dan melakukan hal yang tidak-tidak.

“saya sudah bilang pada anda, nona kim sunhi sudah pindah,” ujar pria itu.

Key menghembuskan napasnya dengan hati-hati. Dia tak mau meledak lagi, dia ke sini untuk mencari adiknya, bukan untuk melampiaskan kekesalannya pada orang asing tak dikenal.

“baiklah,” kata key akhirnya, “kemana dia pindah?”

Pria itu menaikkan kacamatanya yang melorot dan melihat sebuah buku yang ada di tangannya.

“menurut keterangan di sini,” kata pria itu, “nona kim sunhi sudah pindah ke korea selatan”

Key menatap pria itu tak percaya.

“korea sela—“key tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Pencarian dan perjuangannya selama ini tak membuahkan hasil. Orang yang dicarinya malah berada di negaranya sendiri, korea selatan.

Key tak bisa membendung airmatanya. Dia segera pergi dari ruangan itu.

Kotani mencoba menahannya, tapi tak bisa. Kotani jadi merasa tak enak pada pria berkulit putih itu.

“maafkan kami,” kata kotani dengan bahasa inggris yang fasih, “Sudah tiga tahun dia mencari adiknya. Saya harap anda bisa mengerti atas perlakuannya tadi”

“oh, it’s okay, no problem. Saya rasa saya bisa mengerti,” kata pria itu sambil menoleh ke pintu tempat key keluar tadi.

“maaf, tapi apakah anda punya alamat nona kim sunhi sekarang? Di korea selatan, maksud saya,” kata kotani lagi.

Pria itu menghembuskan napas berat sambil melepas kacamatanya.

“we’re very sorry, kami tak punya alamat nona sunhi,” katanya, “tapi kami punya nomor telpon panti asuhan tempat nona sunhi pindah. Ini dia,” pria itu memberikan selembar kertas yang berisi nomor telpon panti asuhan yang dimaksud. Kotani meraih kertas itu dengan wajah berbinar.

“arigatou go—I mean, thank you very much, sir. I’m sure this is very useful for us”, kotani berdiri dan mengulurkan tangannya.

Pria itu menyambut tangan kotani.

“you are welcome,” ujarnya sambil tersenyum.

Kotani membungkukkan badannya sedikit saat dia pergi. Budaya timur yang satu itu tak pernah bisa hilang dimanapun dia berada.

Kotani keluar dari panti asuhan itu dan berjalan menuju mobil yang mereka sewa selama berada di australia. Key tak ada di dalam mobil itu. Kotani melihat ke sekeliling dan menemukan key yang sedang berjongkok di bawah pohon rindang, kepalanya tenggelam di balik tangannya. Kotani menghampiri temannya itu dan memegang bahunya. Dia tahu key sedang menangis.

“key-ah, sudahlah~” ujar kotani.

Key mengangkat kepalanya. Wajahnya bersimbah airmata.

“aku mencarinya kemana-mana, hyung. Banyak yang aku perjuangkan—yang aku lakukan—untuk bertemu dengannya. Sudah kemana-mana aku mencarinya. Tapi ternyata? Dia di korea dan aku tak tahu itu. Hyung, andai kau tahu perasaanku bagaimana”

Kotani menatap key prihatin.

“ini,” katanya sambil menyerahkan kertas yang berisi nomor telpon itu pada key, “ini nomor telpon panti asuhan tempat dia pindah, barangkali bermanfaat untukmu”

Key langsung merampas kertas itu dan membacanya.

“tinggal satu langkah lagi untuk bertemu adikmu. Semoga berhasil,” kata kotani pada key.

Advertisements

FF/Nuna’s Diary : Taemin’s unpredictable moments (part I)

annyeong~:)

ini ff lain dr ff NUNA’S DIARY, bisa d blg ini jga nuna’s diary tapi ditulis ny d hlm2 blkg d diary-ny.

cma ada dialog2 gaje antara nuna-taemin d sni. autor sgaja ga bikin keterangannya, jd cuma dialog ny aja. tiap dialog waktu ny bda2, selanjutnya dserahkan ke para rider ngabayangin situasi ny kira2 kea apa.

hhe, 잘 읽어보세요

= Nuna’s Diary : Taemin’s unpredictable moments =

Part: 1

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“nuna~”

“hm?”

“aku sakit perut”

“pergi ke toilet cepat”

“mm…”

“…”

“mm…”

“ya! Kau tunggu apa lagi??”

“aduuh nuna~ sakit sekali~ bagaimana ini?”

“ya ampun taemin!”

“nuna, aku ke toilet dulu, ya! Aigooo~~~”

“???”

~~~

“nuna kenapa sih?!”

“kenapa memangnya aku??”

“kenapa memukulku seperti itu?!”

“he?? Kapan aku memukulmu? Kau saja baru bangun tidur!”

“bukannya tadi nuna pukul aku?”

“kau bermimpi?”

“…”

“?”

“mungkin benar aku bermimpi, nuna”

~~~

“nuna”

“apa”

“nuna”

“…”

“nuna~”

“ck! Apa!”

“nuna!”

“ya ampun! Apa taemin?! Apa! Apa!!”

“tidak ada, aku cuma panggil saja”

~~~

“nuna~”

“apa lagi!”

“kenapa marah-marah begitu? Aku ‘kan cuma panggil!”

“setiap hari kau panggil ‘nuna-nuna-nuna’! aku bosan, tahu!”

“…”

“kenapa??”

“yeobo~”

“?!”

~~~

“nuna”

“hm?”

“nuna~ lihat aku dulu~”

“ck! Ada apa sih?”

“…”

“ya!”

“…”

“baiklah. Ada apa taeminie~?”

“aku lebih bagus pakai baju warna biru atau putih?”

“ Memang kau mau ke mana?”

“kencan”

“ooh~ putih saja kalau begitu”

“baiklah~”

“…”

“nuna tidak ganti baju?”

“aku? Buat apa?”

“bukannya kita mau kencan?”

~~~

“nuna”

“sst! Diamlah, taeminie.”

“nuna”

“sst!”

“nuna!”

“ya!! kau tak bisa diam sebentar ya?!”

“ya ampun, nuna! Aku cuma mau bilang kalau kancing tarik celana nuna terbuka!”

~~~

“nuna habis mandi, ya?”

“hm..”

“…”

“kenapa memperhatikan aku seperti itu?”

“nuna tidak tanya dari mana aku tahu?”

“he? Aneh sekali. Buat apa aku bertanya seperti itu?”

“benar tidak ingin tahu dari mana aku tahu?”

“ck! Baiklah, dari mana kau tahu?”

“dalaman nuna masih tertinggal di dalam kamar mandi”

~~~

“nuna, ppoppo~”

Ccuk!

“nuna, lagi~”

“tidak. sekali sudah cukup”

“nuna~ ppoppo lagi~”

“lakukan saja sendiri”

“he? Bagaimana bisa?”

“gunakan otakmu!”

“aku tidak bisa ppoppo dengan otakku, nuna!”

~~~

“nuna sayang aku, tidak?”

“tentu saja aku sayang”

“kalau begitu, kiseu aku dong”

~~~

“nuna, aku boleh tanya?”

“tanya saja”

“nuna pernah kiseu sebelumnya?”

“kenapa kau bertanya seperti itu?”

“aku cuma ingin tahu saja~”

“…”

“kenapa diam?”

“eh, taemin kita jalan-jalan, yuk”

“ayo!^^”

“nah, cepat ganti bajumu”

“…”

“kenapa masih di sini?”

“pernah tidak, nuna~?”

“apa?!”

“kiseu~ ccuk! Ccuk!”

“apa sih! Sana cepat ganti baju!”

“aa~~ nuna belum pernah kiseu ya~??”

“ck! Sudah sana~!”

“ahaha~ belum pernah ‘kan nuna~?”

“kenapa kau menjengkelkan sekali, sih!”

“sudahlah, nuna~ akui saja~”

“baiklah, aku belum pernah kiseu! Kau puas?!”

“ehehehehe~~”

“taemin, kalau kau tak ganti baju juga, aku akan pergi sendiri”

“a~ nuna~ aku ikuuut~~”

“makanya cepat ganti baju!”

“hehe~”

“apa?!

“kiseu dulu”

###

FF – SHINee/Scholarship Boy (stuck)

annyeong~~

ini ff SHINee (total 5 buah ff dgn masing2 main cast ny para member shinee. ff dgn main cast Onew berjudul Missing Onew uda di-pablis. sementara 3 yang laen masi belum di-pablis), yang tokoh utama nya Minho *ngangkat mino*. ff yang ini ber-genre yaoi dan ga ada (atau belum ada) unsur NC. huohooo~ *snyumSetan*

naah, bagi rider yang ga hobi baca cerita yaoi, saya sarankan mundur perlahan, drpd ntar nya malah jiji sndiri trus lbh buruk lagi malah ng-bash saya lewat komen ato imel ato lewat manapun.  bagi yang suka yaoi~ silakan teruskan hwahaa:D

잘 읽어보세요~^ㅇ^

= FF =

Title: Scholarship Boy

Episode : 1 of ?

Status : Stuck

Cast:

  • SHINee Minho (Main Cast)
  • other members of SHINee
  • other casts are fake

Genre: Friendship, Yaoi

= = =

Author PoV—

Taemin melihat ke sekeliling. Gedung tiga lantai yang berdiri kokoh di depannya membuatnya sedikit terpana. Dia memperhatikan gedung itu dari sisi barat ke timur. Matanya meneliti relief-relief rumit yang dipahat rapi di dinding gedung. Dua tiang besar menyangga sisi depan beranda gedung.

“jinjjayo?” bisik taemin sembari melangkahkan kakinya ke tangga yang menuju beranda gedung.

Taemin masih tidak percaya dia mendapat beasiswa di sekolah megah ini. Dia tahu dia dapat beasiswa di salah satu sekolah swasta khusus laki-laki satu-satunya di kota kecil ini, tapi taemin tak pernah tahu kalau gedung sekolah ini benar-benar terlihat mewah.

Taemin berdecak kagum sekali lagi saat memasuki lobi gedung. Meski terlihat kuno dari luar, interior gedung ini benar-benar modern. Air terjun buatan yang dilapisi kaca berada di sisi dinding di sebelah kirinya. Di sebelah kanan, seorang wanita paruh baya berdiri di belakang meja tinggi serupa meja resepsionis. Papan kecil di atas meja itu bertuliskan ‘informasi’. Taemin menghampiri wanita itu.

“sillyehamnida” ujar taemin seraya membetulkan letak tali tas yang sedang disandangnya di bahu kanannya, kopernya diletakkan berdiri di sampingnya.

Wanita itu mengalihkan pandangannya dari kertas di depannya untuk melihat taemin, dibetulkannya letak kacamatanya. Wanita itu mengangkat sedikit kepalanya sambil menatap taemin dengan angkuh. Taemin tersenyum singkat sambil menganggukkan kepalanya pada wanita itu sebelum melanjutkan perkataannya.

“saya murid baru di sini dan sudah memesan satu kamar di asrama…”, taemin bingung harus berkata apa lagi, “mm.. jadi..”. belum sempat taemin menyelesaikan kalimatnya, wanita itu menyodorkan selembar formulir padanya.

“isi ini” ujar wanita itu singkat.

Taemin mengisi formulir itu dengan sedikit bingung. Beberapa pertanyaan aneh membuat alisnya sedikit berkerut.

“kamarmu nomor 415” ujar wanita itu singkat saat taemin menyerahkan formulir yang sudah diisinya. Sebuah kunci diletakkannya di atas meja. Taemin mengambil kunci itu dan memandang wanita itu bingung.

“gamsahamnida” ujarnya pelan sambil sedikit membungkukkan badan.

Minho pov—

Aku benci musim panas. Tubuhku jadi cepat berkeringat dan terasa lengket.

Kubuka t-shirt abu-abuku. Di kamar hanya ada aku, jadi tak perlu malu. Sebuah tempat tidur lain di ruangan ini masih kosong, masih belum ada yang menempati.

Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan menyambar notebook-ku. Tampilan desktop-nya tampak kabur, aku lupa memakai kacamata. Dengan malas aku berdiri dan mengambil kacamataku yang berada di atas meja. Dan saat itulah pintu kamarku terbuka. Aku langsung menoleh dan segera menyambar t-shirt-ku lagi begitu tahu siapa yang membuka pintu kamarku.

Seorang yeoja! Seorang yeoja berada di salah satu asrama di sekolah khusus putra ini. Seorang yeoja berdiri di depan pintu kamarku!

“annyeonghaseyo,” katanya ramah sambil tersenyum. Dia membungkukkan badannya.

Aku buru-buru memasang t-shirt-ku.

“ada yang bisa saya bantu?” tanyaku kaku.

Dia tersenyum lagi padaku.

“lee taemin imnida~ mulai hari ini aku akan tinggal di kamar ini.” katanya padaku sambil tersenyum.

Seorang namja?? Yang benar?

Aku membatin. Kucoba lihat dadanya untuk memastikan apakah benar dia seorang namja.

Rata. Berarti benar dia seorang namja.

Aku jadi kikuk. Kamarku berantakan. Oke, kamar kami karena mulai sekarang aku harus berbagi kamar dengannya. Tapi paling tidak semua barang-barang yang bertebaran ini semuanya barangku.

“ah ye. Silakan. Tempat tidurmu yang itu.” ujarku sambil menunjuk ke kasur yang berada di sebelah kiri ruangan. Sedikit rasa canggung menderaku.

“apa kau kelas satu juga?” tanyanya padaku saat dia masuk. Dilemparkannya ranselnya ke kasur itu dan dia mulai membongkar kopernya.

“ani, aku kelas dua.” jawabku sekenanya.

Mata taemin membesar dengan seketika.

“oh sunbae, mianhamnida.” katanya sambil membungkukkan badan.

“namaku minho. Choi minho.” kataku memperkenalkan diri.

“mannaseo bangapseumnida.” ujarnya sambil membungkuk lagi.

Aku tertawa melihatnya.

“haha, santai saja.” kataku padanya sambil memukul pundaknya pelan.

Dia mengangguk pelan dan tampak sedikit bersalah.

Aku duduk di tempat tidurku sementara dia membereskan barang-barangnya.

Kkotminam namja. Dia bahkan tampak cantik dengan setetes keringat di pelipisnya.

Choi minho! Dia namja! Kendalikan otakmu!

Aku bertengkar dengan otakku sendiri.

“kau masuk divisi apa?” tanyaku padanya untuk mengenyahkan pikiran-pikiran gilaku.

“piano klasik,” jawabnya singkat, “hyung apa?” tanyanya balik sambil menoleh ke arahku. Tangannya masih sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari pakaiannya.

“cello,” ujarku, “beasiswa?” tanyaku lagi padanya.

“ne,” jawabnya sambil mengangguk pelan, “dari mana hyung tahu?”

“murid beasiswa selalu datang lebih cepat dari pada murid reguler,” kataku.

Taemin mengangguk tanda mengerti. Dia kemudian meneruskan pekerjaannya yang tadi terhenti.

Kami terdiam lagi.

“apakah semua kamar di sini ditempati murid yang berbeda kelas dan divisi?” tanyanya kemudian memecah keheningan. Tertangkap oleh mataku lemarinya yang sudah penuh dengan pakaiannya.

“ani,” jawabku, “bisa dari divisi yang sama, seperti dua orang temanku—“

“choi minho~~~,”

Perkataanku terpotong oleh suara key. Pintu kamar ku—maaf, aku selalu lupa—pintu kamar kami menjeblak terbuka saat dia masuk. Jonghyun mengikuti di belakangnya. Mata key membesar saat melihat taemin.

“omona~~ gwiyeowo~~,” key langsung menghambur ke arah taemin dan menciumnya.

Ya, menciumnya. Tepat di bibir.

Aku—dan tentunya jonghyun—dapat melihat mata taemin yang membesar dari balik wajah key. Dia tampak terkejut dan berusaha keras melepaskan dirinya dari key. Anak malang.

Decakan keras terdengar saat key melepas bibirnya dari bibir taemin.

“lembut juga bibirmu, baby~,” kata key sambil menepuk pelan pipi taemin. Key kemudian berjalan ke ujung ruangan, tempat di mana cermin berada dan mulai mematut diri.

“aissh~ bajuku kusut,” gumamnya. Aku mengacuhkannya.

“anak baru?” tanya jonghyun padaku. Taemin masih terlihat syok, karena itu jonghyun bertanya padaku.

“hm,” aku mengangguk, “namanya lee taemin.”

Kulihat taemin yang masih memandang kosong ke dinding di depannya. Aku merasa sedikit iba padanya. Jonghyun mengikuti arah pandanganku. Sementara itu, taemin mulai menggeleng-geleng pelan seperti orang tak sadar.

“kasihan,” ujar jonghyun lagi. Dikeluarkannya lollipop yang dari tadi bersarang di mulutnya. Jonghyun lalu mengintip ke bawah kasurku. Dia mengambil majalah-majalah dewasa yang kuletakkan tepat di bawah kasurku. Sengaja aku buat laci kayu kecil yang menggantung di bawah kasurku untuk meletakkan barang-barang seperti itu.

“tak ada koleksi baru?” ujarnya sambil memeriksa majalah-majalah itu satu-persatu.

“menurutmu?” ujarku sinis.

Jonghyun balas memandangku dengan matanya yang besar. Sedetik kemudian dia mengangkat bahu. Tak lama kemudian, dia mulai menarik napas dalam-dalam. Halaman majalah-majalah itu masih terus dibukanya.

“sepertinya aku butuh waktu sendiri,” kata jonghyun tiba-tiba. Dia segera beranjak dari kasur dan berjalan ke arah pintu.

“ya! Lakukan bersama!” ujar key sambil menyusul jonghyun.

Blam!

Pintu menutup. Meninggalkan aku dan taemin dalam keheningan.

Aku melirik taemin. Dia masih termenung. Mungkin sedang memikirkan nasibnya pada hari pertama di sini.

“itu tadi temanku yang aku mau ceritakan. Mereka dari divisi vokal dan tinggal satu kamar. Yang memakai baju dan vest namanya key dan yang memakai atasan tanpa lengan berwarna hitam namanya jonghyun. Mereka—“

“mianhae, hyung,” potong taemin tiba-tiba, “tapi apakah aku terlihat seperti yeoja separah itu?”

Lama aku baru bisa mencerna pertanyaan taemin. Tapi setelah beberapa detik, baru aku mengerti maksudnya.

“haha,” aku tertawa pelan, “Key adalah kisser terhebat di asrama ini. Dia akan mencium siapa saja yang dianggapnya menarik dan kurasa kau adalah salah satunya”

“apakah dia gay?” tanya taemin cepat.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya.

“aniyo! Jangan salah paham dulu!” ujarku cepat, “begini, dia melakukannya hanya untuk kesenangan semata. Kisser dipilih oleh semua penghuni asrama dan tahun lalu key terpilih sebagai kisser di asrama ini. Di sini kisser, prince dan princess dipilih tiap tahun. Key hampir menduduki dua jabatan sekaligus tahun lalu. Hasil suara untuk princess dan kisser nya tertinggi di antara kandidat lainnya,” jelasku.

“princess??” tanya taemin.

Aku tersenyum mendengar nada suaranya yang terdengar heran.

“kau akan mengerti setelah berada cukup lama di sini,” kataku.

Dan kurasa kau yang akan jadi princess untuk tahun ini, taemin, lanjutku dalam hati sambil meliriknya. Wajah kusutnya terlihat sangat menarik.

“sepertinya aku butuh istirahat, hyung,” katanya sambil berjalan ke kasurnya.

“hm,” gumamku meng-iyakan. Kupandangi dia saat berjalan dan kemudian naik ke atas tempat tidurnya. Aku merasa geli sendiri. Mungkin dunia seperti ini dunia yang baru baginya, seperti apa yang kurasakan dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di sini.

-Flashback, Author PoV-

“ya! Choi minho!”

Minho berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Jonghyun setengah berlari mendekatinya.

“kupingmu itu tolong dibersihkan! Aku memanggilmu dari tadi, kau tak dengar juga!” ujar jonghyun kesal saat dia sudah sampai di depan minho.

“ada apa?” tanya minho tak peduli.
“kepala asrama menunggumu di ruang baca, sebaiknya kau segera ke sana.” jelas jonghyun.

Alis minho berkerut.

“kepala asrama?” ujarnya, “ada apa memangnya?”

=TBC=

FF – SHINee: HarPot version (stuck)

annyeong~^^

rider-deul ada yg suka harpot gaaa~~~???

nh ff terinspirasi dr kuis ttg ‘apakah patronus anda?’ (kira2 gtu jdul kuis ny -.-‘), trus sy ga sgaja (?) masukin nama2 anak syaini, trus muncul dh patronus masing2 ny^^ *lmpar kmbang k anak syaini* kalo mw srius si sbnr ny musti ijin dulu nh ama j.k. rowling berhub istilah2 dlm buku bliau dpake, tpi krna cma maen2 yah,, ijin ny kpn2 aja dh.. berhub sy jga fans ny harpot, anggap aja sy cover story gt, yaah, kalo dr korea kn ada cover dance, cover song, nah kalo ini cover story wkwkwk *nyengir kuda*

hhe, mian lg nh kalo nh ff gantung, ngambang, gaje, ga nyambung, dkk. soal ny sy emg cma iseng si bkin ny, trus jga ga ada niatan mw nyambung kkk *dtimpuk sndal ma rider*

trus jga kalo mw sxan dbayangin drpd nanggung, dsini tmin ny tlg d bygin yg rmbut almond jaman hello y rider, trus jga mino ny rmbut ny skrg yg uda mulai pnjang, kalo key trserah dh mw bayangin rmbut yg mana. trus jga berhub onyu ma jjong blum (ato nggak) muncul, tserah mo dbayangin sxan ato ga~ =~=b

=FF=

Title: SHINee HarPot version

Cast: SHINee

Genre: Friendship, Family

= = =

Minho PoV—

Lagi-lagi dia di sana sendirian, hanya ditemani dengan patronus-nya.

Kupu-kupu.

Begitu lemah. Tampak sangat rapuh untuk melindunginya.

Kepalanya bergoyang ke kanan-ke kiri, mengikuti arah terbang kupu-kupu yang mengeluarkan cahaya putih itu. Tampak kupu-kupu itu terbang pelan di depan wajahnya dan mulai mendekatinya, seperti ingin mencium bibirnya. Dia tampak terkejut namun kemudian tersenyum. Sorot matanya tak kelihatan dari sini, tapi entah kenapa aura kasih sayang yang keluar darinya amat berlimpah kepada kupu-kupu itu. Membuat orang yang melihatnya merasa mual karena besarnya rasa kasih sayang yang diberikannya pada penjaga kecilnya itu. Aku menelan ludah untuk mencegah rasa mual yang muncul tiba-tiba.

“Kau melihat siapa?”

Aku menoleh ke belakang. Key sedang berdiri sambil menatapku. Dia tampak penasaran dengan apa yang sedang kulihat di luar jendela. Aku mengalihkan pandanganku lagi ke arah sosok dengan patronusnya itu. Key mengikuti arah pandanganku.

“Siapa dia?” tanyanya.

Aku menggeleng sambil menggigit bibir.

Ya. Siapa dia? Sejak aku pertama kali melihatnya seminggu yang lalu, tak pernah sekalipun aku ingin mengetahui tentangnya lebih lanjut. Yang kutahu hanyalah, dia selalu duduk sendirian di atas bebatuan di pinggir danau dengan ditemani patronus kecilnya. Selalu sendirian.

Teng! Teng!

“pelajaran sudah akan dimulai, sebaiknya kau bergegas.” Kata key lagi. Aku menoleh padanya dan mengangguk tanda mengerti. Saat aku lihat lagi pemuda itu, dia sudah mulai berjalan ke arah kastil.

Aku meninggalkan tempatku dan berjalan cepat menyusul key.

(abis ini ceritanya pura2nya bbrapa mgu kmudian gtu.. jd mino ny uda kebelet pnasaran ny ama tmin, trus dia datangin tmin wkt tmin lagi2 duduk sndirian d pinggir danau. oke? sy uda ngasi latar dekorasi ny loh yaa~~~ =.=)

ZZZZUIIIINGG~~~~ *ngabur*

 

Taemin Pov—

“kenapa kupu-kupu?”

Bentuk bercahaya yang menemaniku langsung hilang begitu lamunanku dipecahkan oleh sebuah suara asing. Aku menoleh ke asal suara dari sebelah kiriku itu.

Seseorang berdiri sambil menatapku. Bukan orang yang kukenal. Mungkin aku pernah sesekali melihatnya di kastil, tapi lebih dari itu aku tak tahu siapa dia.

“maaf. Tapi, siapa—”

“choi minho imnida. aku orang yang selalu melihatmu, kalau kau tidak tahu,” potongnya, dia tampak sedikit salah tingkah, “maaf, tapi aku hanya selalu penasaran—kenapa kupu-kupu?”

Dia benar-benar tampak ingin tahu, terlihat dari sorot matanya.

Kenapa kupu-kupu?

Aku tersenyum kecil membayangkan cerita dibalik pertanyaan yang diajukannya itu.

“dia nuna-ku.” jawabku singkat.

“nuna-mu?” dia tampak bingung, “maaf, tapi aku masih belum mengerti.”

Sedikit nada tak sabaran bisa aku tangkap dari suaranya. Aku tertawa pelan.

“kura-kura,” kataku. Pikiranku sudah melayang jauh, tidak berada di tempat ini lagi.

“maaf—apa?” dia tampak makin bingung.

Aku tersenyum lagi, baru menyadari bahwa dia tak akan mengerti kalau aku tak menjelaskannya dari awal.

“patronus asliku kura-kura. Kupu-kupu, itu patronus nuna-ku.” Jelasku padanya.

Dia memiringkan kepalanya beberapa derajat dan menatapku dengan alis berkerut.

“a-aku tak pernah tahu kalau patronus bisa berubah.” Ujarnya ragu. Aku mengangguk setuju.

“tadinya aku pikir juga begitu. Tapi entahlah, mungkin aku terlalu merindukannya.” Pikiranku melayang lagi. Sebuah wajah familiar terbayang di depan mataku. Dalam sesaat, aku merasa bukan berada di tepi danau, tapi di rumah, bersama dengannya yang tersenyum ramah sementara memasak makanan untukku.

“expecto patronum” bisikku lagi dan cahaya putih samar kembali keluar dari ujung tongkatku, membentuk bentuk yang sudah sangat akrab di mataku. Aku terus tersenyum mengikuti arah terbangnya.

“patronus-mu indah.” Pujinya.

“kalau kau lihat yang aslinya mungkin kau akan lebih terpesona.”

“maaf?” tanyanya lagi.

Aku langsung menoleh padanya, wajahnya lagi-lagi tampak bingung.

Ah, aku bergumam lagi. Bayangan nuna selalu tampak lebih jelas kalau kupu-kupu ini bersamaku.

“maksudku nuna-ku.” kataku, “dia jauh lebih indah.”

Keningnya berkerut lagi, namun kali ini sebuah senyum menghiasi wajahnya.

“benarkah?” tanyanya memastikan, “di mana nuna-mu sekarang?”

Aku memandang rerumputan di bawah kakiku setelah dia bertanya seperti itu. Rasa rinduku makin membesar.

“kalau kau tanya sekarang mungkin dia sedang memetik berry di kebun kami. Biasanya jam-jam segini itu yang dia lakukan.” Aku bisa membayangkan nuna yang berdiri di antara pohon-pohon berry setinggi pinggang dengan keranjang rotan kecil di tangannya. Dia akan bersenandung pelan sementara tangan lembutnya terus memetik berry yang cukup matang.

“kau benar-benar tahu tentang dia, ya?” ujarnya lagi. Nadanya lebih kepada memastikan dirinya sendiri dari pada bertanya padaku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Aku kembali memperhatikan bentuk bercahaya yang terbang kesana kemari itu. Makhluk indah itu terus terbang di sekitarku, bermain-main dengan angin kecil yang berhembus. Terkadang terbang sedikit lebih jauh, tapi dia selalu kembali untuk mengelus pipiku atau sekadar menyentuh rambutku dan kemudian terbang lagi.

Bayangan nuna yang membelai rambutku langsung terlintas dipikiranku. Hangat tangannya bisa aku rasakan lewat sentuhan patronus kecil itu. Aku tersenyum dan terkekeh pelan. Mungkin aku dikira gila bagi orang yang melihatku saat ini, tapi ini benar-benar membuatku nyaman. Jika kupu-kupu itu ada di sebelahku, aku ikut merasakan nuna juga ada di sampingku, menemaniku selama berada di sini.

“kau dari ravenclaw?”

Suaranya lagi-lagi menghancurkan lamunanku. Antara kesal dan berterimakasih, aku menoleh padanya.

“ne. Biru, ‘kan?” aku menunjuk jubah hitam yang sedang kupakai. Vest berwarna biru menyembul dari baliknya.

“aku tak pernah melihatmu sebelumnya…” dia menggantung kata-katanya, sepertinya tak bisa menyambung kalimat apa yang sebaiknya dikatakannya.

“tentu saja. Aku baru masuk tahun ini.” Jelasku singkat.

“tahun ini??” ujarnya tak percaya dengan mata sedikit membesar, “tapi kau sudah membuat patronus!”

Dia tampak sedikit protes saat menunjuk kupu-kupuku. Sedikitnya aku bisa menangkap nada iri di dalamnya. Dan lagi-lagi bayangan nuna terbentuk jelas.

“nuna yang mengajarkan padaku. Hal-hal indah mudah sekali dibayangkan kalau itu mengenai nuna. Dan tiba-tiba saja dia muncul saat aku merasa benar-benar merindukannya.” kataku sambil melihat bentuk perak yang masih terus beterbangan di sekeliling kami, “dia seperti pengganti nuna bagiku.”

Aku mencoba mengingat saat pertama kali nuna memperkenalkan patronus kupu-kupunya padaku. Waktu itu dia sudah sangat menunggu umur tujuhbelasnya agar bisa memamerkan patronus-nya padaku di rumah. Aku ingat sekali waktu itu dia mematikan seluruh lampu rumah pada malam ulangtahunnya kemudian mendatangi kamarku dengan patronus kupu-kupu yang menerangi wajahnya, memberikan kehangatan di malam dingin waktu itu.

-flash back- (still Taemin PoV)

Tiba-tiba lampu padam. Semuanya menjadi gelap. Hanya cahaya bulan samar-samar yang menembus jendela kamarku. Aku terkejut dan melihat ke sekeliling, mencoba membiasakan mataku dengan kegelapan yang tiba-tiba. Kututup buku yang tadinya sedang kubaca dan mencoba menajamkan pendengaranku. Semuanya hening.

“nuna~?” panggilku sedikit takut.

Sesuatu bercahaya samar menembus celah pintu kamarku. Tapi pintu yang masih menutup tak memberikan aku petunjuk cahaya apa itu.

“nuna? Itu kau?” tanyaku lagi.

Seharusnya aku makin takut, tapi entah kenapa kehangatan yang muncul tiba-tiba membuang rasa takutku itu jauh-jauh.

Cklek!

Pintu kamarku terbuka dan nuna berjalan masuk, sebuah bentuk bercahaya terbang mengelilinginya. Dengan senyumnya, dia menghampiriku. Dia tampak bercahaya, nuna-ku.

“ya! Ucapkan selamat ulangtahun padaku!” ujarnya sedikit kesal. Aku langsung tersadar.

“Saengil chukhahaeyo, nuna~” ujarku pelan. Aku masih terpana dengan bentuk yang beterbangan itu. Mataku sedikit silau, tapi aku terus mengikuti kemana arah terbangnya. Saat aku teliti lagi ternyata bentuknya kupu-kupu.

“nuna, apa ini?” aku mencoba menyentuhnya dengan menyodorkan jari telunjukku. Kupu-kupu itu terbang mendekat dan hinggap di ujung jariku. Bibirku tertarik membentuk senyum saat kurasakan hangat yang dilepaskannya.

“kau curang! Aku saja tak pernah dihinggapi seperti itu.” Kata nuna tiba-tiba, dia mendudukkan badannya di sebelahku. Aku langsung nyengir sambil menatapnya.

“benarkah?” kataku, “hehehehe~” aku jadi tertawa kecil. Entah kenapa kebahagiaanku bertambah duakali lipat sehingga apapun yang kulihat sekarang, meski tidak lucu sekalipun mungkin bisa membuatku tertawa.

“itu patronusku. Kau suka?” tanya nuna. Aku mengangguk sebagai jawaban. Mataku masih terpaku pada kupu-kupu bercahaya itu.

“kalau kau sudah mendapatkan tongkatmu, kau bisa membuatnya.” Kata nuna lagi.

“benarkah?” aku bertanya bersemangat. Nuna mengangguk sambil tersenyum.

“tapi mungkin bukan kupu-kupu—bisa apapun asal bentuknya berupa hewan.” jelas nuna. Aku mengangguk-angguk sambil mendengarkannya.

“tapi, bagaimana cara membuatnya?” tanyaku. Meski terdengar mudah, aku tak yakin aku bisa membuatnya semudah keterangan nuna.

“kau tinggal ucapkan mantranya; expecto patronum. Tapi sebelumnya kau harus menyiapkan kenangan bahagia dalam benakmu. Kalau kau tak membayangkan sesuatu yang bahagia, jangan bermimpi kau bisa membuatnya.” Nuna mencubit pelan hidungku, membuatku tersenyum kecil.

Rasa tak sabaran ingin segera memiliki patronus menyerangku.

“aku tak sabar ingin memiliki satu..” gumamku sambil menatap nuna.

“aku tahu,” ujar nuna, “makanya itu aku memamerkannya padamu.”

Aku langsung mengerucutkan bibir setelah nuna berkata seperti itu. Ternyata nuna mau mempermainkan aku saja malam ini.

“baiklah, nuna. Aku iri.” gerutuku.

Nuna tertawa kecil dan mencubit pipiku kananku.

“gwiyeowo~” ujar nuna, “kau imut sekali, taemin~” kali ini nuna mencubit kedua belah pipiku. Aku hanya tersenyum malu. Nuna selalu memperlakukan aku seperti anak kecil, tapi anehnya aku menikmati itu.

“nanti…”, kataku, “aku akan memamerkan patronus-ku pada nuna.” janjiku.

“baiklah. Akan kutunggu.” Ujar nuna remeh, tapi kemudian dia tertawa lagi dan lagi-lagi mencubit pipiku. Aku membalas tawanya.

Kupu-kupu perak itu tak lagi berada di ujung jariku. Kini dia berputar-putar di samping nuna.

“tidurlah, taemin.” ujar nuna. Aku mengangguk dan merebahkan tubuhku di kasur. Nuna merapikan selimutku dan membungkusku dengan rapat. Setelah itu dia tersenyum dan berjalan ke pintu kamarku. Aku melihat punggungnya yang diterangi oleh cahaya samar yang berasal dari kupu-kupu itu.

“nuna” panggilku. Nuna langsung membalikkan badan dan menatapku. “jangan lupa nyalakan kembali lampunya, ya~” pintaku.

Nuna terkekeh pelan mendengar permintaanku.

“baiklah, taeminie~ selamat tidur.”

Saat nuna menutup pintu, kamarku kembali terang oleh lampu yang tiba-tiba hidup.

-flash back end-

=TBC=

FF/Nuna’s Diary : Taemin’s unpredictable moments (part II)

= Nuna’s Diary : Taemin’s unpredictable moments =

Part: 2

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

Rating: PG

= = =

“nuna, ppoppo”

Ccuk~

“nuna, kiseu~”

Plak!

~~~

“nuna”

“hm?”

“aku boleh menginap di rumah temanku?”

“…”

“nuna? Boleh tidak?”

“kapan?”

“em.. malam ini?”

“kenapa terdengar tidak yakin begitu? Ya sudah, terserahmu saja”

“…”

“ya! Kenapa kau menangis??”

“kenapa nuna mengizinkanku~?”

“?? Itu ‘kan terserahmu. Silakan saja kalau menginap di rumah temanmu, aku tak bisa melarang”

“nuna tidak sayang padaku~ huwaaa~~”

“???”

~~~

“nuna, aku sudah besar~^^”

“oh ya?”

“ne! nuna mau lihat??”

“YA!! APA YANG KAU LAKUKAN?!! PAKAI LAGI CELANAMU!!!”

~~~

“nuna~”

“apa?”

“aku ingin membelah-belah nuna~”

“he?? Apa maksudmu??”

“…”

“ya!!”

“apa?”

“apa maksudmu bicara seperti itu?”

“memang tadi aku bicara apa?”

~~~

“nuna mau kemana?? Jangan tinggalkan aku~~!!”

“ya! Apa yang kau lakukan??  lepaskan aku!!”

“nuna tidak boleh meninggalkanku~!!”

“taeminie! Aku mau ke toilet!!”

“aku ikut~”

“?!”

~~~

“nunaa~~ aku takuut~”

“pergi tidur di kamarmu!”

“tidak mau~~ aku kedinginan~”

“selimutmu ‘kan ada?”

“tapi tidak sehangat nuna~ juga tidak bisa dipeluk~”

“kau bisa peluk gulingmu!”

“tidak seempuk nuna~ aku takut tidur sendiri, nuna~~”

“bonekamu yang kuberi tahun lalu ‘kan bisa jadi temanmu?”

“tidak sekenyal nuna~”

“Apa maksudmu??”

“kalau nuna tidur ‘kan aku bisa pegang-pegang~”

“MWOOO???!!!”

~~~

“nuna, aku mau bilang sesuatu”

“bilang saja”

“…”

“kau mau bilang apa, taeminie~? Jangan buat aku penasaran”

“ mianhae~ tadi malam saat nuna tidur, aku tak sengaja terpegang…”

“terpegang apa?!”

“terpegang dada nuna…”

“mwo—??”

“mianhae, nunaa~~”

“baiklah, tapi kau memang tak sengaja kan??”

“ne~”

“ya sudah, aku maafkan”

“…”

“apa lagi? Kau masih mau ngomong sesuatu?”

“tapi setelah itu keterusan nuna~”

“maksudmu??!”

“aku memegangnya lebih lama”

~~~

“taeminie~ jangan bertampang seperti itu~ aku jadi ingin mengisengimu~”

“gwaenchanha~ aku diisengi nuna tak apa-apa”

“ah, yang benaar~?”

“ne! digauli juga tak apa-apa”

“Mworagoyo??”

~~~

“taeminie~ bibirmu kering. sana ambil minum!”

“tidak mau ah, nuna. aku malas”

“aish~! Basahi dengan lidahmu kalau begitu! Aku tak suka melihatnya. Nah~ benar seperti itu~”

“makanya, nuna harus sering-sering ppoppo aku supaya bibirku tak kering~”

~~~

“nuna~ aku imut tidak?”

“hmm~ ne, imut^^”

“gomawo, nuna~” *ccuk!

“ya! Kenapa kau ppoppo aku??”

“kenapa? Nuna tidak suka? Atau mau aku kiseu saja?”

###