FF – SHINee: HarPot version (stuck)

annyeong~^^

rider-deul ada yg suka harpot gaaa~~~???

nh ff terinspirasi dr kuis ttg ‘apakah patronus anda?’ (kira2 gtu jdul kuis ny -.-‘), trus sy ga sgaja (?) masukin nama2 anak syaini, trus muncul dh patronus masing2 ny^^ *lmpar kmbang k anak syaini* kalo mw srius si sbnr ny musti ijin dulu nh ama j.k. rowling berhub istilah2 dlm buku bliau dpake, tpi krna cma maen2 yah,, ijin ny kpn2 aja dh.. berhub sy jga fans ny harpot, anggap aja sy cover story gt, yaah, kalo dr korea kn ada cover dance, cover song, nah kalo ini cover story wkwkwk *nyengir kuda*

hhe, mian lg nh kalo nh ff gantung, ngambang, gaje, ga nyambung, dkk. soal ny sy emg cma iseng si bkin ny, trus jga ga ada niatan mw nyambung kkk *dtimpuk sndal ma rider*

trus jga kalo mw sxan dbayangin drpd nanggung, dsini tmin ny tlg d bygin yg rmbut almond jaman hello y rider, trus jga mino ny rmbut ny skrg yg uda mulai pnjang, kalo key trserah dh mw bayangin rmbut yg mana. trus jga berhub onyu ma jjong blum (ato nggak) muncul, tserah mo dbayangin sxan ato ga~ =~=b

=FF=

Title: SHINee HarPot version

Cast: SHINee

Genre: Friendship, Family

= = =

Minho PoV—

Lagi-lagi dia di sana sendirian, hanya ditemani dengan patronus-nya.

Kupu-kupu.

Begitu lemah. Tampak sangat rapuh untuk melindunginya.

Kepalanya bergoyang ke kanan-ke kiri, mengikuti arah terbang kupu-kupu yang mengeluarkan cahaya putih itu. Tampak kupu-kupu itu terbang pelan di depan wajahnya dan mulai mendekatinya, seperti ingin mencium bibirnya. Dia tampak terkejut namun kemudian tersenyum. Sorot matanya tak kelihatan dari sini, tapi entah kenapa aura kasih sayang yang keluar darinya amat berlimpah kepada kupu-kupu itu. Membuat orang yang melihatnya merasa mual karena besarnya rasa kasih sayang yang diberikannya pada penjaga kecilnya itu. Aku menelan ludah untuk mencegah rasa mual yang muncul tiba-tiba.

“Kau melihat siapa?”

Aku menoleh ke belakang. Key sedang berdiri sambil menatapku. Dia tampak penasaran dengan apa yang sedang kulihat di luar jendela. Aku mengalihkan pandanganku lagi ke arah sosok dengan patronusnya itu. Key mengikuti arah pandanganku.

“Siapa dia?” tanyanya.

Aku menggeleng sambil menggigit bibir.

Ya. Siapa dia? Sejak aku pertama kali melihatnya seminggu yang lalu, tak pernah sekalipun aku ingin mengetahui tentangnya lebih lanjut. Yang kutahu hanyalah, dia selalu duduk sendirian di atas bebatuan di pinggir danau dengan ditemani patronus kecilnya. Selalu sendirian.

Teng! Teng!

“pelajaran sudah akan dimulai, sebaiknya kau bergegas.” Kata key lagi. Aku menoleh padanya dan mengangguk tanda mengerti. Saat aku lihat lagi pemuda itu, dia sudah mulai berjalan ke arah kastil.

Aku meninggalkan tempatku dan berjalan cepat menyusul key.

(abis ini ceritanya pura2nya bbrapa mgu kmudian gtu.. jd mino ny uda kebelet pnasaran ny ama tmin, trus dia datangin tmin wkt tmin lagi2 duduk sndirian d pinggir danau. oke? sy uda ngasi latar dekorasi ny loh yaa~~~ =.=)

ZZZZUIIIINGG~~~~ *ngabur*

 

Taemin Pov—

“kenapa kupu-kupu?”

Bentuk bercahaya yang menemaniku langsung hilang begitu lamunanku dipecahkan oleh sebuah suara asing. Aku menoleh ke asal suara dari sebelah kiriku itu.

Seseorang berdiri sambil menatapku. Bukan orang yang kukenal. Mungkin aku pernah sesekali melihatnya di kastil, tapi lebih dari itu aku tak tahu siapa dia.

“maaf. Tapi, siapa—”

“choi minho imnida. aku orang yang selalu melihatmu, kalau kau tidak tahu,” potongnya, dia tampak sedikit salah tingkah, “maaf, tapi aku hanya selalu penasaran—kenapa kupu-kupu?”

Dia benar-benar tampak ingin tahu, terlihat dari sorot matanya.

Kenapa kupu-kupu?

Aku tersenyum kecil membayangkan cerita dibalik pertanyaan yang diajukannya itu.

“dia nuna-ku.” jawabku singkat.

“nuna-mu?” dia tampak bingung, “maaf, tapi aku masih belum mengerti.”

Sedikit nada tak sabaran bisa aku tangkap dari suaranya. Aku tertawa pelan.

“kura-kura,” kataku. Pikiranku sudah melayang jauh, tidak berada di tempat ini lagi.

“maaf—apa?” dia tampak makin bingung.

Aku tersenyum lagi, baru menyadari bahwa dia tak akan mengerti kalau aku tak menjelaskannya dari awal.

“patronus asliku kura-kura. Kupu-kupu, itu patronus nuna-ku.” Jelasku padanya.

Dia memiringkan kepalanya beberapa derajat dan menatapku dengan alis berkerut.

“a-aku tak pernah tahu kalau patronus bisa berubah.” Ujarnya ragu. Aku mengangguk setuju.

“tadinya aku pikir juga begitu. Tapi entahlah, mungkin aku terlalu merindukannya.” Pikiranku melayang lagi. Sebuah wajah familiar terbayang di depan mataku. Dalam sesaat, aku merasa bukan berada di tepi danau, tapi di rumah, bersama dengannya yang tersenyum ramah sementara memasak makanan untukku.

“expecto patronum” bisikku lagi dan cahaya putih samar kembali keluar dari ujung tongkatku, membentuk bentuk yang sudah sangat akrab di mataku. Aku terus tersenyum mengikuti arah terbangnya.

“patronus-mu indah.” Pujinya.

“kalau kau lihat yang aslinya mungkin kau akan lebih terpesona.”

“maaf?” tanyanya lagi.

Aku langsung menoleh padanya, wajahnya lagi-lagi tampak bingung.

Ah, aku bergumam lagi. Bayangan nuna selalu tampak lebih jelas kalau kupu-kupu ini bersamaku.

“maksudku nuna-ku.” kataku, “dia jauh lebih indah.”

Keningnya berkerut lagi, namun kali ini sebuah senyum menghiasi wajahnya.

“benarkah?” tanyanya memastikan, “di mana nuna-mu sekarang?”

Aku memandang rerumputan di bawah kakiku setelah dia bertanya seperti itu. Rasa rinduku makin membesar.

“kalau kau tanya sekarang mungkin dia sedang memetik berry di kebun kami. Biasanya jam-jam segini itu yang dia lakukan.” Aku bisa membayangkan nuna yang berdiri di antara pohon-pohon berry setinggi pinggang dengan keranjang rotan kecil di tangannya. Dia akan bersenandung pelan sementara tangan lembutnya terus memetik berry yang cukup matang.

“kau benar-benar tahu tentang dia, ya?” ujarnya lagi. Nadanya lebih kepada memastikan dirinya sendiri dari pada bertanya padaku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Aku kembali memperhatikan bentuk bercahaya yang terbang kesana kemari itu. Makhluk indah itu terus terbang di sekitarku, bermain-main dengan angin kecil yang berhembus. Terkadang terbang sedikit lebih jauh, tapi dia selalu kembali untuk mengelus pipiku atau sekadar menyentuh rambutku dan kemudian terbang lagi.

Bayangan nuna yang membelai rambutku langsung terlintas dipikiranku. Hangat tangannya bisa aku rasakan lewat sentuhan patronus kecil itu. Aku tersenyum dan terkekeh pelan. Mungkin aku dikira gila bagi orang yang melihatku saat ini, tapi ini benar-benar membuatku nyaman. Jika kupu-kupu itu ada di sebelahku, aku ikut merasakan nuna juga ada di sampingku, menemaniku selama berada di sini.

“kau dari ravenclaw?”

Suaranya lagi-lagi menghancurkan lamunanku. Antara kesal dan berterimakasih, aku menoleh padanya.

“ne. Biru, ‘kan?” aku menunjuk jubah hitam yang sedang kupakai. Vest berwarna biru menyembul dari baliknya.

“aku tak pernah melihatmu sebelumnya…” dia menggantung kata-katanya, sepertinya tak bisa menyambung kalimat apa yang sebaiknya dikatakannya.

“tentu saja. Aku baru masuk tahun ini.” Jelasku singkat.

“tahun ini??” ujarnya tak percaya dengan mata sedikit membesar, “tapi kau sudah membuat patronus!”

Dia tampak sedikit protes saat menunjuk kupu-kupuku. Sedikitnya aku bisa menangkap nada iri di dalamnya. Dan lagi-lagi bayangan nuna terbentuk jelas.

“nuna yang mengajarkan padaku. Hal-hal indah mudah sekali dibayangkan kalau itu mengenai nuna. Dan tiba-tiba saja dia muncul saat aku merasa benar-benar merindukannya.” kataku sambil melihat bentuk perak yang masih terus beterbangan di sekeliling kami, “dia seperti pengganti nuna bagiku.”

Aku mencoba mengingat saat pertama kali nuna memperkenalkan patronus kupu-kupunya padaku. Waktu itu dia sudah sangat menunggu umur tujuhbelasnya agar bisa memamerkan patronus-nya padaku di rumah. Aku ingat sekali waktu itu dia mematikan seluruh lampu rumah pada malam ulangtahunnya kemudian mendatangi kamarku dengan patronus kupu-kupu yang menerangi wajahnya, memberikan kehangatan di malam dingin waktu itu.

-flash back- (still Taemin PoV)

Tiba-tiba lampu padam. Semuanya menjadi gelap. Hanya cahaya bulan samar-samar yang menembus jendela kamarku. Aku terkejut dan melihat ke sekeliling, mencoba membiasakan mataku dengan kegelapan yang tiba-tiba. Kututup buku yang tadinya sedang kubaca dan mencoba menajamkan pendengaranku. Semuanya hening.

“nuna~?” panggilku sedikit takut.

Sesuatu bercahaya samar menembus celah pintu kamarku. Tapi pintu yang masih menutup tak memberikan aku petunjuk cahaya apa itu.

“nuna? Itu kau?” tanyaku lagi.

Seharusnya aku makin takut, tapi entah kenapa kehangatan yang muncul tiba-tiba membuang rasa takutku itu jauh-jauh.

Cklek!

Pintu kamarku terbuka dan nuna berjalan masuk, sebuah bentuk bercahaya terbang mengelilinginya. Dengan senyumnya, dia menghampiriku. Dia tampak bercahaya, nuna-ku.

“ya! Ucapkan selamat ulangtahun padaku!” ujarnya sedikit kesal. Aku langsung tersadar.

“Saengil chukhahaeyo, nuna~” ujarku pelan. Aku masih terpana dengan bentuk yang beterbangan itu. Mataku sedikit silau, tapi aku terus mengikuti kemana arah terbangnya. Saat aku teliti lagi ternyata bentuknya kupu-kupu.

“nuna, apa ini?” aku mencoba menyentuhnya dengan menyodorkan jari telunjukku. Kupu-kupu itu terbang mendekat dan hinggap di ujung jariku. Bibirku tertarik membentuk senyum saat kurasakan hangat yang dilepaskannya.

“kau curang! Aku saja tak pernah dihinggapi seperti itu.” Kata nuna tiba-tiba, dia mendudukkan badannya di sebelahku. Aku langsung nyengir sambil menatapnya.

“benarkah?” kataku, “hehehehe~” aku jadi tertawa kecil. Entah kenapa kebahagiaanku bertambah duakali lipat sehingga apapun yang kulihat sekarang, meski tidak lucu sekalipun mungkin bisa membuatku tertawa.

“itu patronusku. Kau suka?” tanya nuna. Aku mengangguk sebagai jawaban. Mataku masih terpaku pada kupu-kupu bercahaya itu.

“kalau kau sudah mendapatkan tongkatmu, kau bisa membuatnya.” Kata nuna lagi.

“benarkah?” aku bertanya bersemangat. Nuna mengangguk sambil tersenyum.

“tapi mungkin bukan kupu-kupu—bisa apapun asal bentuknya berupa hewan.” jelas nuna. Aku mengangguk-angguk sambil mendengarkannya.

“tapi, bagaimana cara membuatnya?” tanyaku. Meski terdengar mudah, aku tak yakin aku bisa membuatnya semudah keterangan nuna.

“kau tinggal ucapkan mantranya; expecto patronum. Tapi sebelumnya kau harus menyiapkan kenangan bahagia dalam benakmu. Kalau kau tak membayangkan sesuatu yang bahagia, jangan bermimpi kau bisa membuatnya.” Nuna mencubit pelan hidungku, membuatku tersenyum kecil.

Rasa tak sabaran ingin segera memiliki patronus menyerangku.

“aku tak sabar ingin memiliki satu..” gumamku sambil menatap nuna.

“aku tahu,” ujar nuna, “makanya itu aku memamerkannya padamu.”

Aku langsung mengerucutkan bibir setelah nuna berkata seperti itu. Ternyata nuna mau mempermainkan aku saja malam ini.

“baiklah, nuna. Aku iri.” gerutuku.

Nuna tertawa kecil dan mencubit pipiku kananku.

“gwiyeowo~” ujar nuna, “kau imut sekali, taemin~” kali ini nuna mencubit kedua belah pipiku. Aku hanya tersenyum malu. Nuna selalu memperlakukan aku seperti anak kecil, tapi anehnya aku menikmati itu.

“nanti…”, kataku, “aku akan memamerkan patronus-ku pada nuna.” janjiku.

“baiklah. Akan kutunggu.” Ujar nuna remeh, tapi kemudian dia tertawa lagi dan lagi-lagi mencubit pipiku. Aku membalas tawanya.

Kupu-kupu perak itu tak lagi berada di ujung jariku. Kini dia berputar-putar di samping nuna.

“tidurlah, taemin.” ujar nuna. Aku mengangguk dan merebahkan tubuhku di kasur. Nuna merapikan selimutku dan membungkusku dengan rapat. Setelah itu dia tersenyum dan berjalan ke pintu kamarku. Aku melihat punggungnya yang diterangi oleh cahaya samar yang berasal dari kupu-kupu itu.

“nuna” panggilku. Nuna langsung membalikkan badan dan menatapku. “jangan lupa nyalakan kembali lampunya, ya~” pintaku.

Nuna terkekeh pelan mendengar permintaanku.

“baiklah, taeminie~ selamat tidur.”

Saat nuna menutup pintu, kamarku kembali terang oleh lampu yang tiba-tiba hidup.

-flash back end-

=TBC=

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s