FF/S/Nuna’s Diary (page 16-18)

= Nuna’s Diary =

Page: 16-18

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“nuna nuna nuna nuna~~,”

Aku melihatnya yang datang sambil tersenyum.

“wae wae?” kujawab dengan nada datar.

Dia malah bergelayut di lenganku.

Mau apa lagi anak ini?

“nuna nuna nuna~~,” katanya manja. Kali ini dia mengelus-eluskan kepalanya ke lenganku.

“wae??” kataku mulai kesal.

“nuna nuna nuna nuna~~,” senyum taemin makin mengembang.

“ada apa, sih!” kataku sambil melepaskan lenganku darinya. Kesal juga melihatnya hanya berkata ‘nuna nuna’ seperti itu sambil tersenyum tak jelas.

“hehe~,” dia malah nyengir. Dasar anak aneh, batinku.

“waegeurae??” ujarku kasar.

“aku ingin ke myeongdong,” katanya sambil menggigit bibir bawahnya. Tampang imutnya itu lagi.

“ya sudah, pergi saja,” kataku.

“nuna juga~,” ujarnya manja lagi. Dia bergelayut lagi di tanganku.

“ya! Jangan begitu! Nanti tanganku jadi teriris!” kataku padanya. Kulit apel yang sedang kukupas jadi terputus karena taemin bergelayut di lenganku.

Taemin hanya menatapku.

“ya?” katanya lagi setelah beberapa saat.

“mwo?”

Taemin memajukan bibirnya.

“aa~ nuna~,” rengeknya.

Aku melihatnya sinis, namun kemudian tersenyum.

“kapan?” tanyaku.

Senyum taemin langsung mengembang.

“malam natal,” katanya sigap.

Aku mendelik melihatnya.

“buat apa?” kataku bingung, “yang datang ke myeongdong saat malam natal hanya pasangan kekasih. Kau tahu itu kan?”

Taemin mengangguk. Aku jadi makin bingung.

“ya sudah, ajak saja pacarmu,” kataku lagi.

“nuna pacarku~,” katanya sambil tersenyum lagi.

Kujitak kepalanya.

“jangan main-main,” ujarku pelan. Kuambil potongan apel dan kumasukkan ke dalam mulutku.

“aku mau juga,” kata taemin sambil membuka mulutnya. Kusuapkan dia satu potong besar apel. Dia menggigitnya dengan susah payah. “ayo nyuunyaa~~,” katanya lagi dengan mulut penuh.

“memangnya aku pacarmu?” ujarku iseng padanya.

Taemin mengangguk bersemangat. Mulutnya masih sibuk mengunyah apel.

“kata siapa?” kataku lagi padanya. Dia tak bisa menjawab karena mulutnya penuh. Taemin langsung mengunyah apelnya cepat-cepat dan menelannya. Wajahnya aneh, aku tertawa melihatnya.

“kataku,” katanya akhirnya.

Aku mengerutkan alisku sambil memandangnya.

“aku tak merasa begitu,” ujarku dengan wajah yang pura-pura bingung.

“nuna jangan begitu~~,” taemin merengek lagi, “ayo kita pergi ke sana nuna~~”

Taemin mulai menarik-narik ujung bajuku.

“ya! Apa-apaan ini?” kataku sambil memukul pelan tangannya yang masih menarik bajuku.

“ayo kita pergi~,” katanya lagi.

Aku melihatnya bingung, sepertinya dia serius.

“memangnya apa tujuanmu datang ke sana di malam natal? Bukankah malam-malam lainnya bisa?” tanyaku.

Taemin tersenyum penuh arti.

“aku ingin melihat pasangan-pasangan yang kisu tepat jam duabelas malam..” jawabnya pelan.

“mwoo??? Tidak boleh!” tolakku tegas.

“waeyoo~??” taemin merengek lagi.

“kau masih kecil jadi tidak boleh!” jawabku.

Taemin mengerutkan alisnya.

“aku sudah tujuhbelas!” ujar taemin keras.

“kau BARU tujuhbelas!” balasku.

“nuna! Kau juga tujuhbelas!” katanya berang.

Aku terdiam. Benar juga, pikirku.

Aku melipat tanganku dan menatapnya sinis. Ekspresinya melembut.

“nuna~ ayo kita pergi~,” rengeknya lagi.

Aku melihatnya. Wajahnya imut sekali, aku jadi tak bisa menolak.

“aku pikir-pikir dulu,” kataku singkat.

Taemin tersenyum senang.

“gomawo nuna~~,” katanya sambil memelukku.

“ya! Aku belum bilang ‘iya’!” ujarku.

“hehe~,” taemin tersenyum sambil menatapku penuh arti.

 

~~~

 

“terima kasih, ini kembaliannya~,” ujar gadis itu kepada kami. Aku mengambil uang kembalian yang diberikannya.

“mau kemana kita?” tanyaku pada taemin. Uap hangat keluar dari mulutku saat bicara. Malam ini dingin sekali.

Taemin melihat ke sekeliling.

“di sana nuna!” ujar taemin sambil menunjuk bangku panjang di pinggir jalan. Dia menarik tanganku.

“ya! Pelan-pelan!” ujarku padanya yang hampir berlari karena terlalu bersemangat.

“kalau tidak cepat nanti bangkunya di ambil orang!” katanya sambil menoleh.

Kami sampai di tempat duduk itu tepat sebelum sepasang kekasih mendudukinya. Dengan wajah kesal mereka meninggalkan bangku itu.

“benar ‘kan kataku?” ujar taemin bangga.

Aku hanya mengangkat bahu.

Taemin mulai membuka bungkus crepes yang kami pesan tadi, begitu juga denganku.

“aku lapar sekali,” katanya sambil memasukkan suapan crepes pertama ke dalam mulutnya.

Aku menikmati crepes-ku juga.

“waah~ nuna lihat! Belum tengah malam tapi pasangan yang di sana sudah mulai kisu!” ujar taemin keras. Beberapa pasangan melihat ke arah kami.

“ssstt!!! jangan keras-keras! Kau ini membuat aku malu saja!” ujarku padanya.

Taemin nyengir. Dia menyuap crepes-nya lagi.

Dalam waktu beberapa menit crepes taemin sudah habis. Dia langsung melihat crepes yang ditanganku.

“nuna, aku masih lapar~,” katanya pelan.

Aku tersenyum melihatnya. Aku sodorkan crepes-ku ke mulutnya.

“kau ini mungkin tak pernah kenyang kalau makan crepes,” kataku padanya.

Dia tersenyum sambil mengunyah.

“kalau sudah lewat tengah malam kita langsung pulang, ya? Aku sudah mengantuk,” jelasku padanya. Taemin hanya mengangguk. Aku melihat selai coklat yang menempel di pipinya.

“berapa lama lagi nuna?” tanyanya.

“molla. Mungkin sebentar lagi,” kataku sambil mengeluarkan selembar tissue dari dalam tas, “sini. ada selai yang menempel di pipimu” ujarku lagi sambil menarik dagunya. Taemin menurut. Aku mulai membersihkan selai yang menempel di pipinya itu.

TENG! TENG! TENG!

Dentang bel mulai berbunyi. Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling. Pasangan-pasangan yang berada di dekat kami mulai saling mendekatkan wajah. Aku merasa sedikit takjub. Berapa ratus orang yang berada di sini semuanya melakukan hal yang sama.

“taeminie, lihat—“

Saat aku mengalihkan pandanganku ke wajah taemin lagi, aku terdiam. Taemin sedang menatapku. Tatapannya tajam, tak seperti biasa. Aku mematung karena tatapannya. Wajah taemin terus mendekat dan dia mulai menutup matanya. Sebentar kemudian bibir hangatnya menyentuh bibirku. Dia mengecupnya pelan dan segera melepaskannya. Setelah itu taemin langsung memeluk tubuhku.

“nuna saranghae~,” katanya pelan. Nada yang sama saat dia berbicara dengan wajah imutnya.

Aku segera sadar dari lamunanku dan menjitak bagian belakang kepalanya pelan. Dia tertawa kecil.

“sampai kapan aku jadi korbanmu, taeminie?” ujarku, “carilah gadis baik-baik”

Aku mengelus-elus punggungnya.

“nanti saja,” jawabnya. Taemin mengeratkan pelukannya.

Setelah beberapa lama, aku melepas pelukannya. Saat bertatapan dengannya, kulihat matanya merah dan wajahnya penuh dengan airmata.

“wae? Kenapa menangis?” tanyaku bingung sambil menghapus airmatanya.

Dia menggeleng sambil tersenyum.

“aniyo,” katanya.

“kau ini aneh sekali,” ujarku sambil mengacak-acak rambutnya.

Taemin tersenyum sambil menatapku.

“ayo kita pulang,” ajakku.

Taemin mengangguk dan memegang tanganku.

###

this fanfiction can also be seen in here

Advertisements

2 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 16-18)

  1. ah, si Taem itu sebenarnya udah nyatain cinta ato belon sih ama nuna nya itu ? Aish.. Aisshhhh …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s