FF/S/Nuna’s Diary (page 22-25)

= Nuna’s Diary =

Page: 22-25

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“nuna,” panggil taemin sore itu. Dia segera mendudukkan tubuhnya di sampingku.

“hm?” gumamku sebagai jawaban.

“apa aku tampan?” tanya taemin tiba-tiba.

Aku langsung mendelik padanya.

“buhahahahaha~~!!”

Tawaku meledak. Aku terus tertawa, mungkin selama satu menit atau lebih.

“dan atas alasan apa tiba-tiba kau bertanya seperti itu padaku?” tanyaku kemudian setelah berhasil mengontrol mulutku untuk tidak terus mengembang. Sayangnya cengiranku masih belum bisa hilang.

“aku hanya ingin tahu saja,” jawab taemin sambil membaringkan kepalanya di pangkuanku. Dia menatapku dengan tatapan imutnya. “jadi aku tampan tidak, nuna?” tuntutnya lagi.

Aku tersenyum dan menatap wajahnya.

“hmm..” ujarku sambil mengarahkan tangan ke bagian wajahnya, “kau punya mata yang besar, hidung kecil yang mancung, dan kulitmu mulus..” aku sengaja menghentikan perkataanku sebentar sebelum melanjutkannya lagi, alisku kukerutkan seperti berpikir. Taemin tampak menunggu perkataanku selanjutnya dengan harap. Aku tersenyum padanya kemudian.

“baiklah, kau tampan,” kataku akhirnya.

“hehehehe~” taemin nyengir lebar. Matanya menyipit dan dia bersenandung pelan.

Aku tertawa kecil dan geleng-geleng kepala melihatnya.

Taemin meraih tanganku, lagi-lagi dia memainkan tanganku. Sering sekali dia seperti itu.

“apa nuna senang punya dongsaeng tampan sepertiku?” tanyanya polos.

“mwo?” kataku kaget, “kau senang aku bilang tampan? Perkataanmu seperti orang sombong,” ujarku sambil menjitak pelan kepalanya.

“aigo,” erangnya. Setelah itu dia nyengir.

Aku tersenyum lagi melihatnya

Taemin memainkan tanganku lagi.

“bagian mana di wajahku yang nuna tidak suka?” tanyanya lagi sambil memainkan jari-jariku.

Aku menatapnya dan memperhatikan wajahnya dengan teliti.

“ini,” kataku kemudian sambil menyentuh bibirnya dengan tanganku yang bebas.

Taemin langsung manyun. Aku tersenyum melihatnya.

“makanya aku mau bibir kecil seperti nuna” katanya lagi. Wajahnya terlihat sedih.

“aa gwaenchanha~ bibirmu merah, itu sudah bagus. Aku suka,” ujarku menghiburnya.

Taemin mendelik padaku.

“jinjja?” tanyanya.

Aku mengangguk meyakinkan.

“kalau begitu, nuna mau ppoppo bibirku?”

Aku langsung menjitaknya.

“ya! Jangan jadikan aku korbanmu lagi! Sudah kubilang cari pacar yang punya bibir kecil!”

Dia ini makin hari makin aneh saja, batinku.

“nuna pacarku,” ujarnya polos.

Sekali lagi aku menjitaknya, kali ini lebih keras.

“tak mau,” ujarku.

“kan bukan kisseu.. kan hanya ppoppo~” protesnya sambil menggosok-gosok bekas jitakanku barusan.

“di bibir?? Sama saja!” ujarku.

Taemin makin manyun.

“tadi kata nuna, nuna suka bibir merahku?” belanya, alisnya berkerut. Bibirnya masih manyun. Benar-benar imut.

Aku menghembuskan napas kuat.

“baiklah, ppoppo kan?”, aku menyerah melawan keimutannya. Lagipula aku tidak rugi ini.

“ani, kiseu~,” jawabnya.

“mwoo???!!” aku membesarkan mataku, “katamu tadi ppoppo!” Kutunjuk batang hidungnya untuk menegaskan kata-kataku.

“kiseu, nuna. Kiseuuu~ bukan ppoppo,” taemin menegakkan badannya, tak lagi berbaring di pangkuanku. Dia duduk di depanku, berlutut di lantai dan memandangku dengan senyum lebarnya. “ayo. Aku sudah siap,” katanya lagi. Dia menutup matanya. “kiseu ya nunaa, bukan ppoppo,” tambahnya.

“cerewet!” hardikku.

Taemin tersenyum sebentar.

Aku mulai mendekatkan wajahku. Dan entah kenapa jantungku berdetak keras. Bibirku sudah dekat dengan bibirnya saat dia membuka matanya dengan tiba-tiba. Aku langsung mundur.

“ya!! Jangan buka matamu!” kataku keras. Wajahku terasa panas, jangan bilang mukaku merah sekarang.

Taemin nyengir lebar.

“nuna~ aku saja yang kiseu. Nuna yang tutup mata, ya?” pintanya.

Perubahan rencana macam apa lagi ini?, batinku.

“wae?” tanyaku bingung.

“sudahlah, nuna~ ayo tutup mata~,” pintanya, lagi-lagi dengan wajah imutnya.

Aku memandangnya dengan alis berkerut.

“kenapa memangnya kalau aku yang kiseu?” tanyaku lagi.

Taemin tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya memegang kedua sisi wajahku dengan tangannya dan mulai mendekatkan wajahnya, dua jari jempolnya berada di daguku. Secara otomatis, mataku menutup saat taemin sudah memiringkan kepalanya ke kiri untuk mengecup bibirku. Kecupan ringan yang manis, dan cukup lama. Bibir taemin terus menekan bibirku. Aku menghitung di dalam hati. Setelah tujuh detik, barulah taemin melepas bibirnya. Aku menatapnya.

“sudah?” tanyaku remeh.

“eh hm,” taemin mengangguk sambil tersenyum. Dia kemudian duduk lagi di sampingku dan lagi-lagi membaringkan kepalanya di pangkuanku. Taemin memain-mainkan tangannya, pandangan matanya seolah terpaku pada kedua tangannya itu dan senyumnya terus mengembang.

Aku menatapnya dengan sayang. Entah aku yang bodoh atau apa, tapi aku mau saja diciumnya. Aku menyentuh dagunya. Taemin langsung memandangku.

“jangan diam saja. Kau sudah menciumku, setidaknya katakan sesuatu,” ujarku padanya.

Taemin tersenyum lebar, matanya menyipit.

“aku mau lagi,” katanya kemudian, senyumnya masih mengembang.

Pletakk!

Kujitak langsung kepalanya.

“aigo~! Sakit nuna!”

“rasakan!” ujarku tegas, tapi kugosok-gosok juga bekas jitakanku tadi di dahinya. Jitakan yang barusan memang cukup keras. Taemin memberengut. Benar-benar imut. Aku jadi tak tahan.

Aku membungkukkan badanku dan langsung menggigit hidungnya.

“aa~!! Nunaa~!! Nuna, sakit!!”

Aku mengangkat wajahku lagi. Kulihat hidungnya. Tidak merah.

“pembohong! Aku tidak keras-keras menggigitnya! Dasar!” ujarku kesal.

“hehehe~,” taemin malah nyengir.

Aku memencet hidungnya.

Kami diam lagi, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“ambilkan permen itu,” kataku setelah itu. Aku menunjuk sebungkus permen yang terletak di atas meja. Taemin memiringkan kepalanya ke arah meja dan menjulurkan tangannya untuk mengambil permen itu. Dia membukakannya untukku dan menyuapkan permen itu ke mulutku.

“gomawo,” ujarku padanya.

Taemin menatapku.

“nuna, aku mau permen~,” ujarnya manja.

Aku memandangnya.

“kenapa tidak bilang tadi? ini yang terakhir, tak ada lagi,” kataku.

Taemin menatapku lagi, seperti ada yang ingin disampaikannya.

“yang itu saja~,” ujarnya lagi. Ditatapnya aku dengan pandangan imut.

Aku memandangnya heran.

“kau mau bekasku?” tanyaku sambil mengangkat tangan untuk mengeluarkan permen dari mulut.

“ani!” taemin langsung menahan tanganku, “lewat kiseu saja” katanya lagi dengan senyum yang mengembang.

Ternyata ini maksudnya, ujarku dalam hati.

“kalau aku tak mau?” tesku.

“aku mau permeen~~,” rengek taemin.

“dasar menyusahkan!” kataku sambil memencet hidungnya. Taemin nyengir. “jangan macam-macam ya!” tambahku.

Aku lalu menunduk dan berhenti tepat di atas bibirnya. Aku posisikan permen itu di ujung bibir agar bisa aku letakkan di atas bibir taemin. Tapi kemudian taemin meraup permen itu lengkap dengan bibirku. Mulutnya dibuka sedikit lebar sehingga permen serta bibirku masuk ke dalam mulutnya.

Aku terkejut dan langsung melepaskan bibirku dari mulutnya.

“ya!!!” teriakku.

Permen memang sudah masuk ke mulutnya dengan sempurna, tapi bagaimana nasib bibirku?

Taemin tersenyum bahagia.

“shirheo!!” bentakku sambil membersihkan liurnya yang menempel di ujung bibirku, “kenapa kau lakukan itu??”

Taemin tak menjawab pertanyaanku. Dia malah nyengir lebar.

Aku melipat kedua tanganku dan tatapanku lurus ke depan.

Aku tahu taemin sedang menatapku. Sepertinya dia merasa bersalah karena aku bentak seperti itu.

“nuna,” ujarnya. Aku diam saja.

“nunaa~,” panggil taemin lagi. Aku tak menghiraukannya, dia sudah keterlaluan kali ini.

“nunaaa~~,” taemin memanggil lagi. Aku sendiri heran bagaimana bisa aku marah padanya sementara kepalanya masih berbaring di pangkuanku.

“nunaaa~~~~,” kali ini taemin memainkan bibirku dengan jarinya. Aku tak bergeming.

Sebentar kemudian taemin diam. Dia meletakkan tangannya di lenganku yang terlipat.

“nuna mianhae~,” katanya, “nuna jangan marah padaku, mianhaee~~,” taemin mulai merengek. Aku tak menggubrisnya. Biar saja kali ini dia jera.

“nuna jangan diam saja~ mianhae nuna~~ huwaa~~,” taemin mulai menangis. Si cengeng ini mulai menangis.

Biar saja dulu, aku menguatkan hatiku.

“nuna~~~~,” taemin menggoyangkan tanganku. Aku masih tetap tak mau menatapnya.

Taemin terus menangis. Lama sekali dia menangis. Selama dia menangis, ada-ada saja yang diperbuatnya. Memainkan daguku, mataku, lenganku, pipiku. Sebenarnya aku sudah ingin menyerah, tapi aku suka sekali suara isakannya saat menangis jadi kuurungan niatku.

“nuna aku benar-benar minta maaf~~ jeongmal mianhaeyo~~,” suara taemin sudah serak karena terlalu lama menangis. Dia memelukku menyamping, kepalanya tetap di pangkuanku dan wajahnya dihadapkan ke bagian perutku. Tangannya memeluk pinggangku, tangan yang satu lagi terhimpit oleh badannya.

Kepalanya dekat sekali dengan bagian sensitifku, apa-apaan dia ini??

“mianhae~~,” suara taemin makin melemah.

Taemin terus mengucapkan kata-kata maaf sampai suaranya tak terdengar lagi.

Kulirik dia. Mata taemin sudah menutup. Dia tertidur di pangkuanku.

Aku menatapnya sambil tersenyum. Aku tak tega melihatnya.

“mimpi indah,” ujarku pelan sambil meraba lembut pipinya.

Taemin tersenyum. Dia kemudian memelukku makin erat dan semakin mendekatkan wajahnya ke bagian perutku. Wajahnya memang seperti malaikat, tapi sungguh, ini bukan posisi yang menguntungkan bagiku.

Taemin~~ jangan mendekatkan wajahmu ke bagian itu~, erangku dalam hati.

###

Advertisements

2 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 22-25)

  1. Alasannya si Taem minta di kisseu ada2 aja.
    Cengeng-cengeng tapi mesum juga yah nih anak .. hahahaaha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s