FF/S/Nuna’s Diary (page 26-30)

= Nuna’s Diary =

Page: 26-30

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“nuna~” panggil taemin.

“hm,” jawabku sekenanya.

“aku bosan. Ayo kita main!” katanya dengan senyum sumringah.

“kau mau main apa?” tanyaku.

Taemin memandang ke langit-langit ruangan, wajahnya tampak berpikir keras. Tak lama kemudian, taemin menjentikkan jarinya.

“bagaimana kalau kita bermain ‘bagaimana kalau’, nuna?” ujarnya bersemangat. Aku langsung tertawa mendengarnya bicara seperti itu.

“haha! Kau ini bicara apa, taeminie? Aku tak mengerti ucapanmu.” ujarku sambil mencubit hidungnya. Perkataannya barusan sedikit berbelit-belit tapi sebenarnya aku mengerti apa maksudnya. Aku yakin yang dia maksud itu adalah permainan ‘what if’, permainan yang terdiri dari dua pemain atau lebih. Salah satu pemain akan bertanya tentang suatu pengandaian dan pemain lain harus menjawab dengan jujur mengenai pengandaian yang ditanyakan pemain itu.

Taemin langsung memberengut. Tangannya dilipatnya. Dia tampak berpikir lagi. Aku menunggunya sambil menahan senyumku. Cukup lama taemin seperti itu, mengerutkan alisnya dan terus berpikir.

“aish! Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan dengan benar pada nuna!” ujarnya kesal beberapa saat kemudian.

“hahahaha!” tawaku lepas, “aku mengerti maksudmu, taeminie. Aku sering memainkan permainan itu dengan beberapa temanku.” kataku lagi. Senyum taemin langsung mengembang. “siapa yang mulai duluan?” tanyaku.

“aku, aku!” ujar taemin bersemangat. Matanya melebar dan bibirnya membentuk senyum. Senyum yang sangat polos, senyum adikku. Aku jadi tersenyum juga karena senyumannya. Taemin memandangku lekat-lekat dengan mata besarnya.

“bagaimana kalau aku masuk ke kamar nuna diam-diam saat nuna tak ada dan tidur di sana?” tanyanya.

“silakan saja. Tak masalah bagiku.” jawabku enteng. Taemin mengangguk-angguk sambil tersenyum senang begitu mendengar jawabanku.

“bagaimana kalau aku kabur dari rumah dan tak kembali sampai seminggu?” tanya taemin lagi. Aku berpikir sebentar.

“mungkin selama itu juga aku tak makan dan akan terus mencarimu.” jawabku.

“jinjja?” tanya taemin kaget.

“jinjjayo~” kataku lagi sambil mengangguk.

“o!” ujar taemin tak percaya, “aku tak akan kabur sampai selama itu kalau begitu, nuna.” katanya dengan muka polosnya. Aku memandangnya tak senang.

“jangan pernah berpikir kau akan kabur dari rumah suatu saat nanti, taeminie. Jangan membuatku susah.” ancamku. Taemin tersenyum iseng sambil mengangkat bahunya.

“sekarang giliranku?” tanyaku memastikan.

“aniyo! Ini permainanku, nuna! Hanya aku yang boleh bertanya!” kata taemin tiba-tiba.

Aku mengerutkan alisku.

“permainan macam apa ini? Kenapa aku tak boleh bertanya?” tanyaku heran.

“pokoknya yang boleh bertanya cuma aku; taeminie!” taemin menunjuk dirinya sendiri dengan jempolnya dan dia memanggil dirinya dengan tambahan ‘i’ di belakang namanya. Itu membuatku tertawa.

“baiklah, taeminie, ini permainanmu,” ujarku menyindirnya, “pertanyaan apa lagi yang akan kau berikan padaku, kalau begitu?” kataku memancingnya.

“emm..” taemin memandang ke atas, tampak sedang berpikir, “bagaimana kalau aku amnesia?” tanya taemin kemudian.

Pertanyaan yang cukup susah untuk dijawab. Kali ini aku benar-benar memutar otakku untuk menjawabnya.

“aku akan sebisa mungkin mengembalikan ingatanmu. Atau kalau kau tidak bisa mengingat juga, aku akan berusaha untuk membuat hubungan kita paling tidak jadi sedekat sekarang.” jawabku akhirnya.

“bagaimana kalau saat aku amnesia itu, ternyata aku jatuh cinta pada nuna?” tanya taemin lagi.

“kenapa pertanyaannya jadi susah begini?!” ujarku kesal. Kutautkan lenganku.

“jawab saja, nuna~” ujar taemin manja.

“em..” gumamku, “aku akan menyadarkanmu untuk tidak jatuh cinta padaku karena aku NUNA-mu.” Ujarku, menekankan kata ‘nuna’ di dalamnya. Taemin mengangguk-angguk tanda mengerti, dikedip-kedipkannya matanya sesekali.

“bagaimana kalau aku terkena air raksa dan wajahku hancur?” tanya taemin lagi.

“ya!! Kenapa dari tadi pertanyaannya tentang hal buruk? Mulai dari kau kabur, kau amnesia, dan sekarang tersiram air raksa! Tak ada pertanyaan yang lebih menyenangkan? Aku tak suka kau bertanya hal-hal buruk seperti itu! Shirheo!” omelku panjang. Taemin malah nyengir.

“jawab dulu, nuna~ Aku akan mengganti pertanyaannya, tapi jawab dulu~” kata taemin, masih sambil nyengir. Aku memandangnya kesal.

“aku akan tetap menyayangimu meskipun wajahmu hancur, tanganmu buntung atau kau lumpuh sekalipun!” ujarku kesal, “sudah lengkap, ‘kan? Aku sudah menyebut tentang tangan buntung dan lumpuh. Sekarang ganti pertanyaannya!”

Taemin mengangguk-angguk. Raut mukanya berubah. Dia tersenyum, tapi seperti ada yang disembunyikannya di dalam senyum itu. Senyuman yang misterius.

“jangan tersenyum seperti itu! Aku jadi takut!” ujarku sambil menutup bibirnya dengan tanganku.

“hehe,” taemin nyengir. Kali ini senyumnya sudah kembali normal. Taemin menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Aku jadi sedikit khawatir. Sepertinya lagi-lagi aku masuk dalam perangkapnya.

“bagaimana kalau sekarang…” mulai taemin,  “..aku kiseu nuna?”

Aku menghembuskan napas berat. Benar dugaanku.

“shirheo.” ujarku datar.

“waeyo~?” rengek taemin.

“jangan merengek!” ujarku tegas. Taemin langsung manyun. Aku memandang taemin. “kau tahu tidak, taeminie, kalau kiseu sesama saudara itu sebenarnya aneh dan bukan sesuatu yang biasa dilakukan orang normal?” tanyaku serius.

Taemin menggeleng.

“nah, kalau begitu kau sudah tahu kan sekarang kalau itu bukanlah hal yang biasa dilakukan?” tambahku lagi. Taemin mengangguk lemah.

“tapi aku mau kiseu nuna~~” ujar taemin, “aku sering melihat anak kecil yang kiseu dengan orang tuanya, juga oppa atau hyung-nya. Kenapa aku tak boleh kiseu nuna-ku?” tanya taemin polos.

“itu ppoppo! Bukan kiseu!” ujarku keras.

Taemin tampak sedikit terkejut karena aku membentaknya. Wajahnya tampak sedih dan kemudian kepalanya ditundukkannya.

Aku memperhatikan taemin yang masih menunduk dan mulai memain-mainkan ujung bajunya. Benar-benar tampak menyedihkan, aku jadi merasa bersalah.

“taeminie,” panggilku. Taemin tak menggubrisku. Dia masih menunduk dan terus memainkan ujung bajunya. Lagi-lagi aku menghembuskan napas berat. “taeminie, lihat aku,” kataku lagi sambil memegang dagunya dan memaksanya untuk melihat wajahku. Mata taemin tampak berkaca-kaca. Dia memandangku dengan tatapan hampir-menangisnya

“taeminie,” ujarku pelan, tapi sebenarnya aku bingung mau memulai dari mana, ”kita sebaiknya tidak saling kiseu—atau ppoppo, itu bukan sesuatu yang normal. Taemin sudah besar, kau pasti bisa mengerti itu. Kau bisa mencari yeoja-chingu untuk berbagi kasih sayang. Aku tak selamanya bisa di sampingmu—”

“tapi aku suka nuna~ aku hanya mau nuna~” potong taemin, air matanya mengalir turun. “apa nuna tidak sayang padaku?” tanyanya. Dia menatapku dengan mata merahnya. Dia tidak merengek, hanya air matanya saja yang terus mengalir. Baru kali aku lihat taemin seperti ini, menangis dalam diam.

Aku tersenyum sedih.

“aku sayang padamu. Benar-benar sayang,” ujarku pelan sambil menghapus airmatanya, “tapi pengungkapan rasa sayang tidak hanya dengan skin-ship atau diungkapkan dengan kata-kata. Jika kau berbuat sesuatu pada nuna dari dalam hatimu, aku pasti tahu kalau itu adalah pengungkapan rasa sayangmu. Aku yakin kau pasti bisa mengerti, taemin.” Jelasku. Aku akui mataku juga mulai berkaca-kaca. Terkadang aku cepat terharu kalau berurusan dengan taemin.

Taemin memandang ke bawah, dia tak mau menatapku. Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku.

“bisa kau terima, ‘kan?” tanyaku. Taemin tak menjawab. Dia masih terus memandang ke bawah.

“taeminie?” panggilku lagi.

Tiba-tiba taemin menatapku, membuatku sedikit terkejut karena sebelumnya kudekatkan wajahku untuk melihat matanya.

“aku benar-benar suka bibir nuna. Jeongmalyo. Apa aku tidak boleh ppoppo saja?” pintanya.

Aku balas menatapnya. Dan untuk ketiga kalinya aku menghembuskan napasku.

“shirheoyo?—Nuna tidak suka, ya?” tanya taemin lagi. Genangan air matanya muncul lagi. Aku menatapnya sambil berpikir.

“aniyo. Shilhji anhayo. Gwaenchanha.—Tidak apa-apa, kok.” Ujarku akhirnya. Kuhapus lagi air matanya. Taemin tersenyum dan memelukku. Aku menutup mataku, merasakan hangat peluknya dan luapan kasih sayang yang bisa kurasakan darinya.

“nuna,” panggil taemin.

“ne.” jawabku.

“mianhada.” katanya lagi.

Aku mengerutkan alisku, kudorong badannya sedikit agar kami bisa berhadapan dan tidak lagi berpelukan.

“untuk apa?” tanyaku heran.

“aku bukan dongsaeng yang baik untuk nuna.” ujarnya pelan dan menundukkan kepalanya.

Aku tersenyum mendengar jawabannya.

“memangnya aku sudah cukup baik untuk menjadi nuna-mu?” tanyaku. Kucubit hidungnya pelan. Taemin langsung menatapku dan tersenyum.

“aku sayang nuna.” katanya, digenggamnya tanganku erat-erat dan diletakkannya di atas dadanya.

“nado.” ujarku dengan senyum mengembang.

Taemin mengangguk-angguk dan tersenyum.

“arasseoyo.—Aku sudah tahu,” ujarnya. Ditatapnya aku kemudian, “ppoppo?” pintanya.

Aku tersenyum kecil dan kemudian mengecup bibirnya sekilas.

“ireon gwaenchanhayo?—Begini tidak apa-apa?” tanyaku padanya.

Taemin tersenyum lebar, matanya jadi menyipit.

“johayo. Nan nunareul johahaeyo. Jeongmal johahae.—Aku suka nuna. Benar-benar suka.” Taemin lagi-lagi memelukku. Aku membalas pelukannya dan mengelus rambutnya.

“saranghaeyo, nuna.” bisiknya.

###

“nuna!”

Sayup-sayup sebuah suara memanggilku, suara taemin.

“nunaaa~~~!”

Kututup telingaku dengan bantal untuk meredam suaranya. Sayangnya taemin menarik bantalku dan berteriak di depan telingaku.

“NUNAA~!!!!”

“aissh!!” kugosok-gosok telingaku yang berdenging karena suaranya, kemudian kutarik selimutku menutupi kepala dan kubelakangi dia.

“nuna nuna nuna nuna~~” taemin menggoyang-goyangkan badanku. Dia berusaha sekuat tenaga menarik selimutku, begitu juga denganku yang mencoba bertahan. Dan dengan satu sentakan keras, taemin berhasil menarik seluruh selimutku. Kugulung badanku menahan hawa dingin.

“nuna!”

Diam sebentar setelah itu. Dalam hati aku bertanya-tanya kenapa dia diam, tapi sedetik kemudian aku tahu jawabannya.

“nuna kalau tidak bangun juga aku kiseu, lho.” Bisik taemin di telingaku. Satu tangannya memelukku.

Deg!

Dasar anak nakal! Sejak kapan dia berani mengancamku seperti ini?

Aku tak menggubrisnya. Kemana harga diriku sebagai kakak kalau aku terus mengikuti kemauannya?

“nuna aku benar-benar akan kiseu, aku tidak bohong.” ujar taemin kemudian.

Aku membuka mataku dan mengubah posisiku jadi menghadapnya. Mataku masih setengah terpejam.

Taemin duduk di atas tempat tidurku. Dia melipat tangannya sambil tersenyum.

“mworago?” tanyaku dengan suara serak.

“annyeong nuna~” ujar taemin kemudian. Dia merebahkan badannya di sebelahku dan menutup matanya. Selimut dipakainya sampai menutupi batas lehernya.

Aku benar-benar tak mengerti dengan anak ini.

“ya! Kau sebenarnya mau apa?! Membangunkanku di tengah malam begini! Aissh!!” aku merampas selimut yang sedang dipakainya, tak terima ditinggal tidur seperti itu setelah dia membangunkanku.

“nuna~ aku juga mau selimut~” rengek taemin. Dia menarik-narik lagi selimut yang sudah kurampas.

“kau mau apa?” tanyaku lagi. Taemin nyengir.

“aku tidak bisa tidur. Aku ingin tidur dengan nuna. “ jawabnya dengan wajah polos.

“ambil selimutmu sendiri!” ujarku ketus.

“aku mau berbagi selimut dengan nuna~~” taemin merengek lagi.

“aish! Menyusahkan saja!” kataku sambil membentangkan selimut lebih lebar agar bisa dipakai bersama. Aku sudah terlalu mengantuk untuk berdebat dan memaksanya mengambil selimutnya. Aku tidur membelakanginya lagi.

“nuna~” panggil taemin sambil menyolek-nyolek punggungku.

Aku memutarkan kepala menghadapnya.

“apa lagi sekarang?”

“aku mau dipeluk nuna~”

Aku berdecak dan memutar badanku menghadapnya lagi.

“taemin, aku sudah ngantuk! Jangan minta yang macam-macam!”

“jebal?” pinta taemin.

“taemin tolong mengerti aku!” bentakku.

Taemin terdiam menatapku. Sebentar kemudian dia membalikkan badannya membelakangiku.

Aku menghembuskan napas dan menutup mataku dan rasanya seperti dua detik kemudian saat aku membuka mataku lagi karena mendengar isakan taemin. Saat kubuka mata, kulihat punggungnya yang bergetar.

“aish!” gumamku, “kenapa kau secengeng ini, sih? Sini!” aku menyuruhnya membalikkan badannya agar bisa menghadapku. Taemin langsung membalikkan badannya. Dengan dibantu penerangan lampu tidur berwarna orange yang remang-remang, aku bisa melihat wajah taemin yang sudah basah karena air mata. Kuhapus air matanya dan kupeluk dia. Taemin masih sesenggukan.

“uljima. Nanti matamu bengkak.” ujarku mencoba menenangkannya.

“aku hanya punya nuna~ nuna jangan pergi~” gumamnya, kemudian taemin menangis lagi.

“ssh~” aku menggosok-gosok punggungnya, “kau mimpi buruk?” tanyaku. Taemin mengangguk dalam dekapanku.

“nuna pergi meninggalkanku” Gumamnya tak jelas, tapi aku masih bisa menangkap suaranya.

“hanya mimpi. Aku tak akan meninggalkanmu.” Ujarku pelan.

“nuna jangan pergi~”

“tak akan. Nuna di sini. Nuna bersamamu. Sekarang tidurlah.”

Taemin menutup matanya. Aku memperhatikan wajahnya. Napasnya sedikit tak teratur karena habis menangis. Tapi setetes air matanya yang mengalir sebentar kemudian membuatku sedikit terkejut. Kukira dia sudah tidur. Aku langsung menghapus air matanya.

“tidurlah. Jangan dipikirkan lagi. Nuna di sini. Pegang tanganku kalau kau takut aku pergi.”

Taemin mengangguk dengan masih menutup matanya. Dia tak memegang tanganku, dia membalas pelukanku. Aku merasa sedikit tidak nyaman sebenarnya, tapi demi dia, aku biarkan saja.

Sebentar kemudian dengkur taemin terdengar. Aku memindahkan tangannya yang memelukku dan meletakkannya di atas bantal guling yang memisahkan kami. Kutatap dia sebentar dan kuhapus air mataku sebelum melanjutkan tidurku.

###

Advertisements

One thought on “FF/S/Nuna’s Diary (page 26-30)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s