FF/S/Nuna’s Diary (page 34-38)

= Nuna’s Diary =

Page: 34-38

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Dari tadi jariku sibuk memencet remote TV, tapi tak satupun channel yang bertahan lebih dari lima detik di layar.

“haah~ bosan sekali hari ini” keluhku. Taemin yang duduk di sebelahku sambil membaca majalah langsung menoleh padaku. Wajahnya tersenyum misterius.

“apa?” tanyaku karena merasa tak nyaman dengan senyumannya.

“nuna mau aku gelitik, tidak?” ujar taemin dengan senyum sumringah. Aku langsung memandangnya dengan tatapan tak suka.

“pertanyaan macam apa itu?” tanyaku sedikit kesal.

“mau tidak, nunaa~?” goda taemin sambil mencolek pinggangku.

“yaa!! Jangan macam-macam!” bentakku, “jangan gelitiki aku!! Jang—taeminie~!!!”

Taemin tak peduli dengan teriakan-teriakanku setelahnya, dia terus menggelitikku. Aku kewalahan menahan tangannya yang terus mencolek-colek pinggangku atau leherku.

“hehe, hehe” taemin tertawa senang melihatku yang berusaha keras menghindar dari tangan jahilnya.

“ya! Taemin! Taeminie!! Singkirkan tanganmu!! Aissh~! Sana!!”

“hahahaha” cengiran taemin semakin lebar.

“jangan—taemin!! STOP!!!” akhirnya aku bisa menangkap kedua tangannya, tapi aku yakin ini tak akan bertahan lama. Tenaga taemin lebih besar dari tenagaku. Tanpa berpikir panjang aku langsung lari ke kamarku, sementara itu taemin mengejar di belakang.

“aaaa~~~ jangan ikuti aku!!!” teriakku sambil berlari.

“nunaa~~~ hahahahaha~~!”

Pintu kamarku terbuka lebar tapi sayangnya taemin terlalu dekat dan pasti aku tak akan sempat menutup pintu. Aku terus berlari ke arah kasur, berharap balutan selimut bisa membentengiku dari taemin. Tapi ternyata taemin terlalu cepat. Tepat sebelum aku menjulurkan tangan untuk mengambil selimut, taemin sudah menindihku duluan.

“nuna tertangkap! Hahaha!”

Taemin langsung menggelitikku, membuatku jadi tak bisa bernapas.

Aku berusaha melarikan diri dengan menggeliatkan tubuhku dan menendang-nendang.

“nuna! Jangan tendang!” taemin memperingatkanku, tapi aku tak peduli. Aku terus menendang agar bisa lepas darinya.

“nuna! Jang—“

DUGH!

“aaw~~~~~”

Tendanganku mengenai taemin dan dia tumbang di sebelahku sambil mengerang. Aku jadi bingung.

Apa tendanganku sekuat itu?, batinku.

“taeminie?” panggilku khawatir. Taemin tak menjawab, dia terus mengerang. Kedua tangannya menutupi sesuatu di bagian bawah tubuhnya. Aku terbelalak saat melihat bagian apa yang ditutupnya itu. Aku bertanya takut-takut.

“kena bagian ‘itu’, ya?”

Lagi-lagi taemin tak menjawab, tapi airmatanya sudah mengalir dari sudut matanya yang tertutup dari tadi. Taemin mengatur napasnya.

“’itu’ku sakit, nuna~”ujarnya pelan, setelah itu dia mengerang lagi.

“ya ampun! Mianhaeyo, taemin! Mianhae! Aduh, bagaimana ini?”

Aku benar-benar bingung, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Masalah ini sensitif sekali.

“sakit~~” erang taemin lagi.

“a-aku akan ambil kompresan untukmu, tunggu.” ujarku cepat dan segera berlari ke dapur. Pikiranku kacau saat menuangkan balok-balok es ke baskom kecil. Kuambil salah satu handuk kecil bersih dan kucelupkan ke dalam baskom penuh es itu. Aku kembali ke kamar secepat yang aku bisa. Saat aku kembali, taemin masih pada posisi yang sama saat aku tinggalkan. Lagi-lagi aku bingung harus melakukan apa.

“taeminie~ sebaiknya segera dikompres. Ini sudah aku bawakan.” Ujarku pelan.

Taemin tak bergeming, matanya masih menutup menahan sakit. Aku benar-benar merasa bersalah. Kuletakkan baskom itu di lantai dan aku duduk di sebelah taemin.

“apa kau mau dibawa ke rumah sakit saja?” tanyaku cemas.

Taemin menggeleng sebagai jawaban.

“kompres saja, nuna.” ujarnya lemah, “bisa tolong selimuti aku?” tambahnya. Dari bahasa sopan yang dipakai taemin, aku tahu kalau dia marah.

Aku mengangguk dan segera menyelimutinya. Setelah itu aku pura-pura jongkok untuk mengambil baskom yang tadi aku letakkan di lantai. Sebenarnya dengan membungkuk pun aku sudah bisa mengambil baskom itu, tapi untuk memberinya privasi untuk membuka celananya, atau apalah, makanya aku pura-pura jongkok.

Saat aku sudah duduk lagi di sebelah taemin sambil memegang baskom, taemin masih berkutat dengan  celananya, sesekali dia meringis. Aku jadi kasihan melihatnya, pasti sakit sekali soalnya tendanganku cukup kuat tadi.

“taemin~ mianhae~” ujarku pelan.

“bisa tolong handuknya, nuna?” taemin tak menggubrisku. Aku langsung menyerahkan handuk dingin itu setelah sebelumnya aku peras dulu.

Taemin terlihat berhati-hati saat memposisikan handuk itu di bagian—ah, sudahlah. Aku tak mau memikirkannya lebih lanjut. Yang pasti, aku mencoba melihat arah lain saat dia meletakkan handuk itu di dalam selimut.

“bagaimana rasanya sekarang?” tanyaku setelah beberapa lama.

“agak nyaman” jawab taemin singkat. Masih terdengar nada kesal dalam suaranya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, perasaan bersalah masih menyelimutiku.

Kami terdiam lagi setelah itu. Aku mengetuk-ngetukkan jariku di pinggiran baskom. Jujur, aku jadi merasa canggung dan sangat merasa tak enak pada taemin. Padahal tadinya dia hanya ingin menghilangkan kebosananku. Niatnya baik, tapi akhirnya malah jadi seperti ini.

“nuna,” panggil taemin tiba-tiba.

“ada apa?” tanyaku, mencoba terdengar antusias.

“bagaimana kalau gara-gara ini aku jadi tak bisa punya anak?” tanya taemin.

Aku menelan ludah. Apa gara-gara hal seperti ini seseorang bisa jadi mandul?

“aku tak tahu~” ujarku sambil menggeleng. Aku benar-benar bingung.

Taemin menghembuskan napas panjang.

“paling tidak, nuna,” kata taemin, “mungkin aku bisa menganggap anak nuna di masa depan nanti seperti anakku sendiri.” Terdengar nada sedih dari ucapan taemin.

Aku terdiam mendengar perkataan taemin. Kalau itu benar-benar terjadi, aku…

“maafkan aku,” kataku sambil menundukkan kepala, airmataku sudah mengalir, “semuanya gara-gara aku, maafkan aku.”

Taemin membiarkanku yang terus menangis. Dia tidak mencoba menghiburku atau meringankan perasaan bersalahku padanya, seperti yang biasanya dia lakukan. Ini membuatku sedih dan air mataku makin banyak keluar. Mungkin aku memang pantas diacuhkan seperti ini.

“nuna mau peluk aku, tidak?” ujar taemin tiba-tiba.

Aku menatapnya sebentar dan langsung memeluknya. Isakku makin keras.

“taemin, mianhae~~ Huwaa~”, aku memeluk taemin erat-erat. Aku ingin menyampaikan rasa bersalahku pada taemin melalui pelukan ini. “aku benar-benar minta maaf, taemin~ mianhaeyo~~”

Aku mendengar tawa kecil taemin.

“nuna seperti anak kecil,” ujarnya sambil menepuk pelan punggungku, “sudahlah, nuna. Aku baik-baik saja, kok”

“mianhae,” ujarku saat melepaskan pelukan, kuhapus air mataku setelah itu. Taemin mengangguk sambil tersenyum. Dia menggenggam tanganku.

“aku memaafkan nuna, kok” katanya. Aku tersenyum menatapnya. Di dalam hatiku, aku masih diliputi rasa bersalah.

“mianhae~” bisikku pelan, entah taemin mendengarnya atau tidak.

Kami terdiam lama setelah itu sambil terus berpegangan tangan.

“apa sekarang masih sakit?” tanyaku memecah keheningan.

Taemin mengangguk meng-iya-kan, mukanya benar-benar terlihat polos.

“kalau nuna ppoppo, sakitnya pasti akan berkurang,” ujarnya manja.

“baiklah~” kataku sambil mengecup bibirnya sekilas. Aku akan melakukan apapun agar dia merasa senang.

“sekarang bagaimana?” tanyaku lagi.

“masih sedikit sakit,” katanya, “mungkin kalau nuna ppoppo ‘itu’ku, kurasa—“

BLETAKK!

Aku menjitaknya keras.

“ya!! Jaga pikiranmu!!” bentakku. Emosiku langsung naik saat dia berkata seperti itu.

Aku ralat kata-kataku tadi; Aku akan melakukan apapun—yang masih dalam batas normal—agar dia merasa senang.

“Cuma bercanda, nuna~ Cuma bercanda~,” ujar taemin sambil nyengir. Dia mengusap-usap bekas jitakanku.

Aku melipat kedua tanganku dan memandangnya tak senang.

“model bercanda yang seperti itu benar-benar tidak lucu, taemin!” ujarku sedikit keras.

“aku cuma bercanda, nuna~ mianhae~ aku tak akan mengulanginya lagi. Aku janji.” Kata taemin sambil memasang tampang imutnya.

“jangan ulangi lagi!” ujarku memastikan.

“tidak akan~” ujar taemin sambil tersenyum.

Aku memandangnya tak suka. Kata-katanya tadi terngiang lagi di telingaku dan entah kenapa sebuah bayangan menjijikkan berjalan di pikiranku.

“Dari mana kau dapat pikiran seperti itu?” ujarku kesal. Taemin malah nyengir.

“aku ‘kan laki-laki, nuna~” jawabnya manja.

Aku menatapnya curiga. Pikiran negatif langsung melesat cepat dalam otakku.

“jangan menonton film yang aneh-aneh, taeminie!” ancamku. Tentu saja maksudku dengan ‘film aneh-aneh’ itu adalah film dewasa.

Taemin hanya menggerak-gerakkan matanya ke kiri dan ke kanan sambil bersenandung. Dia mencegah kontak mata denganku, aku tahu itu.

“jangan pura-pura tak mendengar!” ujarku kesal.

Taemin menatapku seusai aku berkata seperti itu. Tatapannya aneh, tak pernah sebelumnya dia menatapku seperti itu. Tatapan yang memancarkan rasa sayang sekaligus menyiratkan seolah-olah dia tahu segalanya. Aku tak suka tatapannya itu.

Tiba-tiba taemin menggenggam tanganku.

“aku tak seperti yang nuna pikirkan.” Ujarnya menenangkanku dan lagi-lagi tatapannya aneh. Aku jadi sedikit deg-degan, entah kenapa. Taemin meremas sedikit tanganku yang sedang digenggamnya. Jantungku berdetak makin cepat.

Dia ini adikku, ya ampun! Ada apa denganku?

Aku langsung melepas genggamannya. Aku melipat tanganku dan memandang ke arah lain, mencoba untuk pura-pura kesal tapi yang sebenarnya terjadi adalah aku tak bisa mengontrol laju detak jantungku, makanya aku lebih memilih tak menatapnya.

Sial~ kenapa aku ini?

Tiba-tiba taemin tertawa.

“kenapa kau tertawa?” tanyaku curiga sambil menatapnya sinis.

Taemin tersenyum sambil memandangku, matanya menyipit.

“eopseoyo~” ujar taemin sambil menggeleng, “aku sayang nuna.” Tambahnya. Wajahnya sudah kembali imut lagi. Untunglah.

Aku menghembuskan napas panjang secara diam-diam. Merasa lega karena akhirnya adikku yang imut sudah kembali lagi. Aku sedikit heran kenapa tiba-tiba tadi taemin seperti punya kepribadian ganda.

“aigo~” erang taemin saat dia mencoba merubah posisi tidurnya.

Aku hampir lupa kalau dia sedang sakit. Padahal sakitnya karena aku dan aku malah memarahinya. Ditambah lagi perasaan aneh yang menderaku tadi. Argh! Nuna macam apa aku ini?

“kau benar tidak apa-apa? Benar tidak mau ke rumah sakit?” tanyaku. Aku semakin merasa cemas saat kulihat wajahnya yang meringis menahan sakit. Taemin menggeleng pelan sambil tersenyum kecil padaku.

“nuna, dekatkan baskomnya. Aku mau mencelupkan handuk ini lagi, sudah tidak dingin.” Ujarnya kemudian, tangannya merogoh masuk ke dalam selimut.

“Biar aku saja. Kau berbaringlah yang benar, taeminie.” Suruhku.

“handuknya ‘kan jorok, nuna~ ‘kan bekas ‘itu’ku. Biar aku saja.” Kata taemin sambil mencoba meraih baskom, handuknya dipegangnya di tangan yang satu lagi. Dia benar-benar keras kepala.

“sudah, sini! Nanti aku bisa cuci tangan,” ujarku sambil merampas handuk itu dari tangannya. Kucelupkan handuk itu ke dalam air dingin dan kuperas. Setelah itu kuberikan pada taemin.

Taemin menatapku sambil tersenyum.

“nuna tidak mau pasangkan sekalian?” katanya iseng. Dia nyengir lebar sambil mengangkat sedikit selimutnya.

“kau mau aku tendang sekali lagi, taeminie?” ancamku. Cengiran taemin langsung hilang.

“tidak. baiklah nuna, berikan handuknya” ujarnya takut.

Aku beranjak dari kasur dan berjalan menuju pintu kamar.

“nuna mau ke mana?” tanya taemin.

“cuci tangan” jawabku singkat.

Saat aku kembali lagi ke kamar, taemin sudah menutup matanya, sepertinya tertidur. Kulihat baskom yang kuletakkan di meja di samping tempat tidur, sudah ada handuk putih di dalamnya. Aku duduk lagi di samping taemin sambil memandangi wajah polosnya.

“sudah tidur, ya?” tanyaku. Tentu saja dia tidak menjawab. Aku jadi tersenyum sendiri. Aku mengusap pelan rambutnya. “maafkan nuna, taeminie~” ujarku pelan.

Tiba-tiba taemin memajukan mulutnya. Alisku langsung berkerut.

“kau belum tidur, ya?!” ujarku sedikit terkejut.

Taemin menggeleng sambil terus memajukan mulutnya. Dia mengintip sebentar. Aku makin heran dengan kelakuannya.

“kenapa mulutmu itu?” tanyaku.

Taemin membuka matanya.

“kalau di drama ‘kan biasanya yang sakit itu ‘diserang’ waktu tidur, nuna. Mana tahu nuna mau ‘menyerang’-ku. Makanya aku siap-siap dulu.” Jelasnya.

“tak ada yang mau menyerangmu!!” ujarku kesal, merasa tertipu olehnya.

“’kan mana tahu, nuna~” belanya.

“jangan berharap!” bentakku. Taemin langsung manyun.

Makin hari makin aneh saja pikiran adikku ini.

Tiba-tiba taemin menguap. Aku jadi iba melihatnya.

“kau tadi sudah mau tidur, ya?” tanyaku.

Taemin mengangguk.

“apa aku mengganggumu?” tanyaku lagi. Aku jadi merasa tak enak.

“aniyo,” jawab taemin sambil menggeleng dan tersenyum, “aku senang nuna kembali lagi.” tambahnya dengan muka imutnya itu. Aku mencubit pipinya.

“kau tidak mau dikompres lagi?”

Taemin menggeleng.

“tidak nuna, sudah tidak sakit lagi.” Kata taemin singkat.

“yang benar~?” pancingku sambil memainkan hidungnya dengan telunjukku.

Taemin tertawa pelan.

“hahaha, benar nuna~~~” ujarnya manja. Aku tersenyum melihatnya. Sebentar kemudian taemin menguap lagi.

“kau sudah mengantuk. Tidurlah.” kataku sambil mengelus rambutnya lagi, “kalau butuh aku, panggil saja, arachi?”

Taemin mengangguk dan tersenyum padaku.

Aku sudah mau beranjak saat taemin menahan tanganku dan memandangku dengan pandangan imutnya itu.

“nuna, ppoppo?” pintanya.

“bukannya tadi sudah?” tanyaku sambil mengerutkan alis.

“aigo~ sakitnya~~” erang taemin kemudian. Dia pura-pura supaya aku merasa bersalah lagi, aku tahu itu.

“dasar!” ujarku kesal sambil menunduk agar bisa mengecupnya.

Tiba-tiba taemin menahan kepalaku saat aku menyentuh bibirnya. Kepalaku tak bisa kuangkat dan aku jadi mengecupnya lebih lama. Beberapa saat kemudian barulah taemin melepaskan tangannya dari kepalaku.

“ya!!” bentakku padanya.

“ini balasan buat nuna karena sudah menendangku. Sekarang impas!” taemin mengeluarkan lidahnya untuk mengejekku.

“awas kau, ya~” ujarku sambil mengacak-acak rambutnya. Taemin nyengir.

Aku mengambil baskom dari atas meja dan berjalan ke luar ruangan.

“jal jayo” ujarku sebelum menutup pintu.

“nuna, saranghae” ujarnya. Aku hanya tersenyum padanya dan menutup pintu.

###

Advertisements

3 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 34-38)

  1. Taemin…taemin….lagi sakit masih aja mikirin yg aneh-aneh…..ckkTaemin…taemin….lagi sakit masih aja mikirin yg aneh-aneh…..ckk

  2. Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa …
    Padahal baru aja di part sebelumnya aku menyinggung soal ke imutan Taemin yg gak berkurang dan ternyata di part ini , di part ini .. ke imutannya lumayan berkurang dan tergantikan dengan ke mesuman nya … ><
    Omo! Omo! Omo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s