FF/S/Nuna’s Diary (page 39-41)

= Nuna’s Diary =

Page: 39-41

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Taemin mengajakku bermain gunting-batu-kertas sore ini. Dia menantangku bermain sebanyak limapuluh kali dan aku hanya kurang tiga angka lagi untuk menang. Sebelum bermain, taemin membuat perjanjian bahwa siapa yang kalah, harus menuruti kehendak yang menang. Kali ini, dia memintaku untuk memujinya. Untunglah bukan kiseu lagi, seperti yang biasanya dia minta.

“kau tahu, taemin?” ujarku padanya sambil mencubit pipinya pelan, taemin menatapku dengan seksama, “kau adik tertampan yang pernah ada di dunia. Dan aku sangat beruntung bisa menjadi nuna-mu.” Tambahku lagi. Senyum taemin langsung mengembang setelah aku berkata seperti itu.

“aku tahu itu. Aku memang adik paling tampan, nuna~”

Taemin membuat tanda ‘V’ di bawah dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya. Matanya menyipit karena tarikan senyumnya yang terlalu panjang.

“lalu?” tanya taemin padaku, alisnya diturun-naikkannya. Bagiku, wajahnya paling menjengkelkan saat ini.

“selain tampan, kau juga baik hati, tak pernah membuat masalah, dan sangat penurut.” Ujarku setengah hati.

“ne, ne~ aku sudah tahu itu, nuna~” ucap taemin dengan sombong, “setelah itu?” katanya lagi.

Aku mengerutkan alisku.

“setelah itu apa lagi!? Memangnya pujiannya kurang? Baiklah, kau lucu, imut, cantik, mempesona, menggemaskan. Lalu apa lagi pujian yang kau inginkan?” ujarku kesal.

“bukan yang itu, nuna~ pujiannya sudah cukup~” kata taemin dengan manja.

“lalu apa lagi?”

Aku benar-benar bingung dengan anak ini.

“ajarkan aku kiseu.” jawab taemin dengan muka polosnya.

Ya ampun, baru saja tadi aku lega karena dia tak minta yang satu ini.

“shirheo~” tolakku setengah merengek. Ekspresi taemin langsung berubah.

“aa~ nuna ‘kan harus menuruti permintaanku~~” taemin malah balas merengek. Tentu saja rengekannya JAUH lebih menjengkelkan daripada rengekanku. Bibirnya manyun dan alisnya dikerutkannya. Baiklah, dia sedikit imut. Yah, sebenarnya taemin hampir tak pernah terlihat jelek di mataku.

Aku menghembuskan napas berat.

“kan kau sudah pernah aku ajari?” protesku.

“aku mau lagi~” taemin mengerucutkan bibirnya. Aku meliriknya sinis. Lama-lama aku tak tahan juga dengan sikapnya yang seperti ini.

“mungkin di otakmu ini hanya ada kiseu, kiseu dan kiseu.” Ujarku ketus sambil mendorong pelan kepalanya dengan jariku.

“memang. Aku selalu bermimpi kiseu dengan nuna setiap malam.” celetuknya. Dia tampak terkejut dengan ucapannya sendiri dan segera menutup bibir tebalnya dengan kedua tangannya.

“YA!! Jangan pernah berpikiran macam-macam tentangku!!” omelku, kupukul lengannya sedikit kuat.

“aigo! Sakit nuna!” protes taemin. Dia mengusap-usap lengannya yang aku pukul. Bibirnya manyun. “aku jauh lebih suka nuna yang dimimpiku.” gerutunya pelan, tapi cukup jelas untuk aku dengar.

“mworago??” tanyaku skeptis.

“aniyo.” jawab taemin cepat. Dia menjulurkan lidahnya kepadaku.

Si imut ini, bisa-bisanya dia bermimpi tentangku seperti itu. Sepertinya aku masih belum bisa mendidiknya dengan benar. Aku jadi curiga akan sesuatu.

“kenapa kau bisa bermimpi seperti itu? Kau nonton sesuatu ya?” pancingku, menambahkan sedikit nada kesal di dalamnya.

“tidak!” taemin menggeleng cepat, “aku tidak nonton film dewasa, kok!” bantah taemin. Aku menatapnya curiga.

“’tidak’ maksudmu ‘tidak salah lagi’?” pancingku lagi.

Taemin hanya diam, dia tak berani memandang wajahku. Lengkap sudah bukti yang aku kumpulkan. Aku hampir seratus persen yakin kalau taemin pernah menonton film dewasa.

“di mana kau nonton? Sama siapa?” tanyaku menginterogasinya.

Kalau tebakanku benar, kemungkinan besar taemin menonton di sekolahnya dengan teman-temannya. Soalnya tidak mungkin kalau dia nonton di rumah. Tidak mungkin.

“aku tak pernah nonton, nuna!” taemin masih bersikeras.

“jangan bohong! Kupingmu merah.” Terangku. Taemin langsung menyentuh kedua kupingnya. Kalau sedang bohong, kuping taemin selalu menjadi merah. Taemin memandangku tak suka dan lagi-lagi dia memberengut, sadar dia sudah terpojok.

“temanku mengajak nonton..” katanya akhirnya.

“dan kau mau saja nonton? Dasar babo!” aku berteriak padanya, “oh! Pantas saja akhir-akhir ini pikiranmu jadi jorok! Ternyata gara-gara ini sebabnya! Dasar nakal! Sejak kapan aku mengajarkanmu menyentuh hal-hal seperti itu, hah??”

Aku jadi emosi. Baiklah, mungkin aku memang berlebihan. Remaja seusia taemin mungkin memang mulai mencoba mengetahui hal-hal seperti itu, tapi tetap saja rasanya ada yang mengganjal  begitu tahu kalau taemin ternyata memang menonton film-film seperti itu.

Aku menatap taemin sambil melipat tanganku. Taemin hanya diam dan menunduk.

“sudah berapa kali kau nonton?” tanyaku lagi. Taemin menggeleng pelan.

“molla.” jawabnya singkat. Mataku langsung terbelalak.

“berarti sudah sering??” tanyaku memastikan. Taemin tak menjawab dan dia masih tak mau menatap mataku. “aigoo~~” kepalaku tiba-tiba terasa pusing. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran sofa. Kelakuan taemin benar-benar di luar batas pemikiranku. Tak pernah sebelumnya aku berpikiran taemin akan menyukai hal-hal seperti itu. Kukira dia akan tetap terus menjadi taemin yang polos dan imut seperti dulu. Aku lupa kalau dia juga berkembang.

“aku tidur dulu.” Kataku sambil beranjak dari sofa. Kuurut-urut kepalaku pelan untuk sedikit meredakan pusingnya. Pikiranku masih susah menerima semua ini.

“aku ikut nuna~” ujar taemin setengah merengek. Aku langsung menolehkan kepala ke arahnya dan memandangnya sinis.

“shirheo! Nanti kau berpikiran yang aneh-aneh lagi tentangku!” tolakku, masih dengan mengurut-urut pelan kepalaku.

“tidak, nuna~ aku janji tidak akan~~ aku ikuuuut~~” taemin merengek makin keras. Kepalaku makin pusing karena rengekannya. Aku tak menghiraukannya dan terus melangkahkan kaki ke kamar. Terserahlah dia mau ikut atau tidak.

Sampai di kamar, aku langsung merebahkan badan di kasur dan menutup mataku. Pusingku masih belum hilang.

“nuna mau aku pijit, tidak?” ujar taemin tiba-tiba. Dia mengikutiku rupanya. Dari goncangan kecil di kasur yang aku rasakan dan dari asal suaranya, aku tahu kalau taemin sudah merebahkan tubuhnya di sampingku.

“kau kira gara-gara siapa aku jadi pusing begini?” ujarku menyalahkannya. Aku melirik padanya. Mukanya sedikit terlihat bersalah dan dia sudah mulai mengurut lenganku.

“nuna, mianhae~” gumamnya pelan. aku tak menggubrisnya dan menutup mataku lagi.

Cukup lama taemin memijitku. Aku pasti sudah tertidur kalau taemin tidak sengaja bersin.

“sudah, tidurlah. Kau sudah capek. Gomawo.” kataku padanya, bisa kupastikan nada suaraku masih kesal saat mengatakan itu.

Taemin masih menatapku dengan pandangan bersalahnya. Aku menarik selimut dan menyelimuti tubuh kami berdua. Taemin masih terus melihatku.

“tiduuur~” ujarku sambil mencoba menutup matanya dengan tanganku.

Taemin tersenyum. Dia tiba-tiba merubah posisinya jadi terlentang, tadinya dia berbaring miring sambil menghadapku. Taemin menutup matanya. Aku memperhatikannya yang masih tersenyum.

“nuna, aku akan menjadi putri salju dan nuna pangerannya. Kalau nuna memaafkan aku, nuna akan ppoppo aku, lalu aku akan tidur. Tapi kalau nuna tidak memaafkan aku…” taemin menarik napas sebentar dan melanjutkan lagi, “…aku akan menangis.”

Hee?? Menangis? Apa lagi yang ada di pikiran anak ini? Memangnya salahku kalau dia menonton film seperti itu?

“aku akan hitung mundur dari tiga, nuna.” Ujar taemin.  “sam..”

Taemin mulai menghitung. Aku menimbang-nimbang sebentar sambil melihat wajahnya dari samping.

“i…”

Aku tersenyum melihat kelakuan taemin. Sepertinya lagi-lagi aku kalah dari anak ini.

“il—“

Ccuk! Ccuk!

Aku menciumnya dua kali, di pipi dan bibirnya, dengan cepat. Senyum taemin langsung mengembang dengan mata masih menutup.

“tidurlah, jelek!” ujarku dengan sayang sambil mengacak sedikit rambutnya. Aku langsung mengubah posisi menjadi berbaring menyamping membelakanginya. Dengan masih tersenyum, aku menutup mataku.

“nunaaa~~~!”

Tiba-tiba taemin memelukku dari belakang. Pelukannya erat sekali.

“ya!! Lepaskan tanganmu!!” bentakku sambil berusaha melepaskan tangannya dariku.

“aku sayang nuna~~ aaaaaju saranghae!!”  kata taemin, dia malah memelukku makin erat.

“aku tahu! Sekarang lepaskan tanganmu!”

Anak ini benar-benar susah ditebak. Baru sebentar dia benar-benar terlihat imut, sebentar kemudian sudah sangat menjengkelkan.

“hehehe. Gomawo, nuna~” kata taemin kemudian. Dia mengecup pipiku pelan. “jal ja!” tambahnya lagi.

Kasur berderit lagi dan saat aku menoleh, taemin sudah setengah berlari keluar dari kamar.

“mau kemana?” tanyaku padanya.

“mau nonton film dewasa, nuna! Hahahahaha~!!” taemin kabur meninggalkanku.

“TAEMINIEE~~~!!!!”

###

Advertisements

2 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 39-41)

  1. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~~~~~~~~~
    pantesan jadi mesum taunya sudah pernah nonton film dewasa toh … ckck ..
    Aku kecewa sama kamu bang .. hukk . T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s