FF/S/Nuna’s Diary (page 45-48)

 = Nuna’s Diary =

Page: 45-48

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Aku melirik taemin sekilas. Letak tangannya membuatku risih. Tangan kanannya berada di bagian selangkangannya. Mungkin dia tidak sadar, tapi tetap saja aku merasa tidak nyaman melihatnya.

“letak tanganmu di mana, sih?!” ujarku sedikit kesal sambil menepis pelan tangannya. Tangan taemin langsung terkulai lemas di sampingnya.

“nuna kenapa?” tanyanya bingung dengan tatapan polos.

“letak tanganmu tadi… itu…” aku kebingungan mencari kata-kata yang tepat.

Apa memang pikiranku saja yang kotor?

“kenapa memangnya?” tanyanya lagi. Taemin memiringkan sedikit kepalanya saat mengatakan itu, menambah kesan imut yang memang sudah ada di mukanya.

“ani.. hanya saja, jangan diletakkan di situ. Tidak enak dilihat.” ujarku salah tingkah.

“begini maksud nuna?” kata taemin tiba-tiba sambil meletakkan tangan kanannya lagi di selangkangannya.

“ya! Sudah dibilang jangan begitu!” aku menepis tangannya itu lagi. Taemin langsung nyengir.

“ehehe” taemin meletakkan tangannya di tempat yang sama. Seperti sedang mempermainkanku.

“aish! Taeminie! Jangan begitu!” lagi-lagi aku menepis tangannya.

“ehehehe~” taemin langsung menggerakkan tangannya ke tempat itu lagi dengan cepat. Sepertinya dia menganggap ini suatu permainan dan dia cukup menikmatinya.

“taeminie! Aku risih melihatnya!” aku langsung menangkap kedua tangan taemin dalam genggamanku. Tangannya lebih besar daripada tanganku, membuatku jadi kewalahan.

“kiseu dulu~” ujar taemin sambil memajukan mulutnya.

Aku langsung menarik pelan hidungnya. Aku lalu mengambil bantal sofa dan menutup bagian selangkangan taemin dengan bantal kecil itu. Kulipat tangannya dengan rapi di atas bantal itu.

“nah begini saja—sudah jangan bergerak lagi!” aku langsung berteriak keras saat dia mau mengangkat tangannya lagi.

“nuna memikirkan apa, sih?” tanya taemin tiba-tiba. Aku sedikit terperanjat dengan pertanyaannya.

“maksudmu?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“memangnya nyunya pikir apa sampai aku tidak boleh seperti tadi~~~?” taemin bertanya lagi dengan nada sedikit merengek. Dia bahkan memanggilku dengan sebutan ‘nyunya’, bukan ‘nuna’. Sangat imut, tapi tetap saja pertanyaannya membuatku jadi salah tingkah.

“aku tak memikirkan apa-apa.” jawabku dengan nada cuek.

“gojitmal~”  ledek taemin.

“aniyo!” ujarku sedikit kesal.

“ah, nuna bohong~~” taemin mulai lagi, “ayo, nuna, jujur padaku~” taemin mulai menarik-narik ujung bajuku.

“aish, kau ini! Aku hanya tak nyaman saja kalau kau meletakkan tanganmu di situ, oke?”

“kenapa begitu?” taemin tampak masih tak mengerti. Tapi menurutku, itu hanya pura-pura.

“aneh, tahu!”

“menurutku tidak~” taemin masih membela diri.

“pokoknya jangan diletakkan di sana, aku tak suka melihatnya, arasseo?” ujarku padanya setengah mengancam. Nadaku mulai meninggi tanda aku sudah tidak nyaman dengan pembicaraan ini lagi. Taemin memajukan mulutnya.

“aracchi~” ujarnya pelan sambil menundukkan kepalanya. Aku jadi sedikit merasa bersalah padanya. “mian..” kataku meminta maaf, “kau mau ppoppo?” tawarku.

Taemin langsung mengangkat lagi kepalanya dan mengangguk cepat. Matanya berbinar dan bibirnya mengembang membentuk senyuman.

Ccuk!

Aku mencium bibirnya cepat.

“hehe~” taemin nyengir lebar. “eh!” tiba-tiba taemin merubah ekspresi wajahnya. Dia seperti sedang terkejut akan sesuatu.

“wae?” tanyaku bingung.

Taemin menatapku dan ekspresinya benar-benar tidak bisa ditebak.

“berdiri” jawab taemin sekenanya.

Aku mengerutkan alisku, tak mengerti dengan ucapannya.

“berdiri? Maksudmu?” aku menggelengkan kepalaku sedikit.

Taemin mendekatkan wajahnya kemudian berbisik padaku, “berdiri, nuna”. Wajahnya tampak resah sekarang.

“ne, aku tahu berdiri! Tapi apa yang berdiri?!” aku sudah mulai tak nyaman. Taemin benar-benar tak memberikan petunjuk sedikitpun dengan mengulang kata ‘berdiri’ itu—meski dikatakan dengan mimik wajah yang berbeda.

Taemin menelan ludahnya. Kemudian dia melihat ke bawah. Aku mengikuti arah pandangannya dan bantal kecil yang ada di pangkuannyalah yang aku lihat.

Kenapa memangnya dengan bantal itu? Berdiri? Biasa-biasa saja..

Tiba-tiba taemin mengangkat bantal itu dengan perlahan. Dan ‘sesuatu’lah yang aku lihat.

Tonjolan apa itu di celanany—

“KYAAAAA~~~!!!!!”

PLAKK!!

“TAEMINIE!! KAU JOROK SEKALI!!!”

Aku menutup mukaku setelah sadar apa yang dimaksud taemin dengan ‘berdiri’ itu. Aku tak mau melihatnya. Aku jijik.

“taeminie!! Sana!! Ya ampun, sana!!!” aku mendorong-dorong badan taemin menjauh dariku.

“nuna ini kenapa!!” aku mendengar suara protes taemin di sampingku.

“iih~!! Kau membuatku mual!! Sana~~!!”

Aku masih tak mau menatapnya. Padahal mataku aku tutup tapi bayangan benda yang aku lihat tadi masih terus terlihat.

“sana kau, taemin!! sana!! SANA~!!” aku mengibas-ngibaskan tanganku ke sembarang tempat. Aku tak peduli mengenainya atau tidak.

Plakk!

“aigo!!”

Lho? Benar kena?

Sepertinya memang kena dan aku tak tahu pukulanku barusan mengenai apanya taemin.

Tak ada suara lagi setelah itu dan aku masih menutup wajahku. Aku menahan napas, menunggu apa yang terjadi setelah ini.

“nuna~ sudah tidak berdiri lagi, tapi pipiku berdarah~” ujar taemin memecah keheningan.

Aku mengintip dari sela-sela jariku. Taemin sedang menutup pipi sebelah kirinya dan saat dia mengangkat tangannya, sebuah goresan luka panjang menodai pipi putihnya itu.

Aku langsung menggigit bibir dan tidak lagi menutup wajahku.

“gwaenchanhayo?” tanyaku khawatir padanya. Aku coba raba sedikit pipinya yang luka itu.

“aigo!” taemin langsung menjauhkan wajahnya dari tanganku saat telunjukku menyentuh lukanya, “sakit, nuna!” bentaknya.

Aku menggigit bibirku lagi dan menatapnya. Taemin balas menatapku dengan alis yang berkerut.

Dia marah. Tentu saja dia marah.

Aku bergegas ke dapur untuk mengambil kotak obat dan kemudian kembali ke ruang keluarga secepat aku bisa. Aku duduk lagi di sebelah taemin yang masih menutup lukanya dengan tangannya.

“jangan ditutup seperti itu. Sini, aku obati.” kataku sambil menarik pelan tangannya yang digunakannya untuk menutup pipinya yang luka itu. Taemin menurut, tapi saat dilihatnya apa yang aku pegang di tanganku yang satu lagi, dia langsung memberontak dan mencoba lari dariku.

“aku tak mau obat merah! Shirheo! SHIRHEOO~~!!!!”

Yah, aku tahu akan seperti ini hasilnya. Taemin sangat benci obat merah.

“taeminie! Harus pakai ini! Lukamu harus diobati!” aku menahan taemin dengan menghimpitnya ke sandaran sofa. Hanya dengan begini aku bisa menahannya, kalau hanya dengan tanganku aku yakin aku tak akan kuat melawan kekuatannya.

“tak mau, nuna~ sakiit~!! ANDWAEE~~!!!” taemin menggila. Dia menutup lukanya itu dengan tangannya rapat-rapat.

“TAEMINIE!! DIAM DULU!!” aku berteriak di depan wajahnya. Taemin langsung terdiam dan menatapku dengan pandangan takut. Aku menghembuskan napasku perlahan dan menatapnya dalam.

“lukamu cukup dalam, tahu. Aku tak mau nantinya ini jadi infeksi.” ujarku perlahan. Taemin hanya menutup matanya rapat-rapat dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“jangan, nuna~ jebaal~~ aku tak mau obat merah~~” matanya sudah mulai berair dan dengan satu kedipan airmatanya jatuh. Hatiku miris melihat taemin yang seperti itu. Tapi bagaimanapun juga lukanya memang harus diobati.

“nuna, jangan~~ di ppoppo seribu kali juga aku tak mau, nuna~~” airmata taemin terus berjatuhan.

Ppoppo? Tunggu dulu, sepertinya aku ada ide!

Aku mencelupkan cottonbud ke dalam botol obat merah. Dengan begitu saja, tangisan taemin makin kuat.

“aku tak mau, nuna~~ huwaaa~~!!!” taemin makin berontak.

“sst, diam~”

Aku melirik sebentar luka taemin yang ada di pipi kirinya. Cottonbud yang sudah dicelupkan obat merah berada di tangan kananku. Aku tak tahu ide ini akan berhasil atau tidak. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya memang harus dicoba.

Aku menatap taemin lagi, dia balas menatapku dengan mata yang merah karena menangis. Aku tersenyum padanya untuk menenangkannya dan kemudian mulai mendekati wajahnya. Taemin tampak bingung saat aku mencium ujung hidungnya. Sesaat kemudian aku beralih ke bibirnya. Aku tempelkan bibirku ke bibirnya seperti ppoppo biasa, tapi mungkin ini sedikit lama karena ide-ku.

Aku menarik napas perlahan kemudian mulai mencoba membersihkan luka taemin dengan cottonbud yang berada di tangan kananku. Kepalaku sengaja aku miringkan ke sebelah kiri wajah taemin agar aku bisa melihat di mana kira-kira letak lukanya. Aku mengobatinya dengan sangat perlahan. Aku tahu taemin paling tak tahan dengan rasa sakit, makanya aku mencoba mengalihkan rasa sakitnya itu dengan menempelkan bibir kami.

Taemin selalu makin merapatkan bibirnya ke bibirku jika ujung cottonbud itu mengenai lukanya. Matanya terpejam rapat. Tapi di luar itu semua, dia tidak menolak ataupun memberontak. Ternyata ide-ku cukup berhasil.

“nah, sudah~” ujarku sambil tersenyum dan menjauhkan wajahku dari wajahnya.

“huwaaa~~~!!” taemin langsung memelukku dengan erat. Aku tertawa kecil sambil mengelus pelan kepalanya.

“sudah selesai~ sudah, tidak apa-apa” ujarku menenangkannya.

“sakit, nunaa~~” erang taemin dengan napas sesenggukan. Aku menepuk-nepuk punggungnya pelan.

“mana? Sini aku lihat?” aku mendorong pelan badan taemin agar bisa melihat lukanya. Taemin menatapku dengan bibir yang manyun.

“hehehe~” aku tertawa kecil melihat ekspresinya. Aku menghapus airmatanya dari pipinya dengan hati-hati.

“nuna curang sekali pakai cara kiseu~” ujar taemin pelan.

Kiseu? Jadi yang tadi dia kira kiseu? Ah, terserah dia saja.

Aku langsung mencubit hidungnya.

“yang penting lukamu sudah diobati” kataku. Kujulurkan lidahku sebentar untuk mengejeknya.

“sakiiiit~~” taemin memelukku lagi. Aku tahu dia ingin dimanja sekarang. Aku menjitak bagian belakang kepalanya dengan pelan.

“nunaaa~~~~” rengeknya.

“hehehe~”

Kuusap-usap bagian yang barusan aku jitak itu.

“nuna~” kata taemin tiba-tiba, “kapan-kapan kiseu lagi, ya?”

Aku tersenyum lebar mendengar kata-kata taemin.

“boleh saja. tapi kau yakin mau luka seperti ini lagi?” aku mencoba memancingnya.

“memangnya kalau tidak luka tidak boleh?” tanya taemin polos.

“tidak boleh.”

Taemin melepaskan pelukan kami dan menatapku dengan mata polosnya itu.

“tapi ppoppo masih boleh, ‘kan, nuna?” tanyanya lagi. Aku tersenyum melihatnya.

“ne, boleh” jawabku.

Ccuk!

Taemin langsung mencium bibirku singkat dan kembali memelukku.

“aku sayang nuna~” ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.

“nado”

Aku terus mengusap-usap punggungnya. Aku bahagia memiliki adik seperti dia. Meski cengeng dan terkadang membuatku tak nyaman, tapi aku tahu kalau dia sayang padaku. Tak perlu diucapkan juga aku sudah tahu.

“nuna” panggil taemin tiba-tiba, “bagaimana ini?”

Aku menghentikan usapanku di punggung taemin.

“waeyo?” tanyaku.

“berdiri lagi”

###

Advertisements

8 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 45-48)

  1. Wwwwkkkkk….
    PertamaNa sempat bingung ‘berdiri’ ‘berdiri’ apaNa sih….
    Wkt baca ke bwah lg…ternyata yg berdiri itu toh….hahahaha
    ya allah taemin ngegemesin banget…*karungin taemin*

    lanjutan Na d tunggu y unnie….^^

  2. aaaaah!! BOCAAAH!!
    mana pas aku lagi ngetik comment di bagian samping page ini ada mukanya taemin, lagi..
    kamu bisa banget bikin FFnya…
    ah! aku mau bobok abis ini! mau mimpiin taemin!
    hahahaha

  3. astagaGDragon o.O
    berdiri… ><
    aigooo…..
    makin seru aja nih…
    maap ye onn, baru baca ^^v

    backgroundny mukanya taemin bening amat yakkk #baru nyadar
    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s