FF/S/Nuna’s Diary (page 49-51)

= Nuna’s Diary =

Page: 49-51

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“nuna~” sayup-sayup kudengar suara taemin memanggilku. Dengan berat, kubuka mataku.

“ada apa, taeminie?” tanyaku dengan suara serak, mungkin aku sedikit bergumam.

Taemin sedang duduk di atas kasurku, tepatnya di sebelahku yang sedang berbaring di kasur. Wajah taemin tampak sedikit khawatir saat aku membuka mata.

“kenapa jam segini masih belum bangun?” tanyanya dengan muka polosnya, “nuna sakit?” tambahnya lagi.

“entahlah. Kepalaku sakit sekali dari kemarin.” Ujarku sekenanya. Bahkan saat kepalaku sakit begini, taemin masih terlihat sangat imut di mataku.

Tiba-tiba taemin menyentuhkan punggung tangannya ke keningku. Seketika air mukanya berubah.

“omo~ badan nuna panas sekali!” ujarnya sedikit keras. Aku tersenyum lemah.

“mungkin istirahat saja sudah cukup, taemin. Mianhae, aku belum menyiapkan sarapan untukmu pagi ini. Sudah jam berapa sekarang?” aku menolehkan kepalaku ke arah kiri untuk melihat jam weker yang kutaruh di atas meja di samping tempat tidurku, “jam sepuluh? Ya ampun~ apa kau sudah makan?” tanyaku lagi. Kepalaku berdenyut makin keras karena aku bergerak. Aku mencoba menahannya dengan menutup mataku sebentar.

“belum. Tadi aku menunggu nuna sambil main game. Tapi nuna tak keluar-keluar juga dari kamar makanya aku susul ke sini~” jelasnya, masih dengan muka imutnya itu.

Aku jadi merasa bersalah. Dari tadi dia menungguku, pasti dia sudah lapar sekali sekarang.

“kalau begitu, aku masak dulu.” Kataku sambil menegakkan badan. Denyutan di kepalaku makin menggila.

“tak usah, nuna! Nuna sedang sakit. Aku bisa buat ramyeon sendiri.” Ujar taemin sambil mendorong pelan badanku agar berbaring lagi, “nuna istirahat dulu. Aku akan buatkan bubur.”

Taemin langsung turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarku dengan setengah berlari. Bahkan guncangan kasur saat dia bergerak saja bisa membuat kepalaku semakin sakit. Aku mencoba menutup mataku lagi.

Entah berapa menit kemudian, aku mendengar suara taemin memanggilku lagi.

“nuna, ini buburnya,” kata taemin saat aku membuka mata. Aku tersenyum padanya dan mencoba duduk. “nuna aku suapkan ya? Minum dulu~” taemin memberikan segelas penuh airputih kepadaku.

“biar aku saja, taemin. Gomawo.” Kataku sambil mencoba mengambil mangkuk bubur yang sedang dipegangnya. Tapi taemin malah menjauhkan mangkuk bubur itu dari jangkauan tanganku.

“nuna sedang sakit. Sekali-sekali manja padaku tidak apa-apa, ‘kan?” ujar taemin. Nadanya pelan tapi setengah mengancam. Akhirnya dengan sedikit anggukan aku menurut padanya.

Taemin mulai menyendok bubur putih itu dan meniupnya dengan hati-hati. Disuapkannya sesendok penuh bubur ke dalam mulutku.

“kenapa nuna bisa sakit?” tanya taemin disela-sela suapannya.

“entahlah, mungkin sedikit kecapekan” jawabku singkat.

Taemin menatapku dengan pandangan bersalah.

“aku pasti sudah terlalu merepotkan. Mianhae, nuna~” ujarnya pelan sambil menundukkan kepalanya.

“bukan karena kau. sudahlah~” kataku lemah.

“semuanya gara-gara aku..” gumamnya pelan, tundukan kepalanya makin dalam.

“ya, taeminie~” panggilku. Dia yang seperti ini yang sering membuatku susah, sebetulnya. Taemin masih menunduk, dimain-mainkannya sendok di dalam mangkuk bubur.

“taeminie~” panggilku lagi, kugerakkan dagunya dengan tanganku agar dia melihatku lagi. Matanya sudah berkaca-kaca. Aku tersenyum.  “aa~?” kataku sambil melebarkan mulut, memintanya untuk menyuapkanku lagi. Taemin menyuapkanku dengan senyum tipis di wajahnya. Aku mengunyah bubur itu sambil melihatnya penuh arti. Bendungan air mata taemin sebentar lagi pasti jatuh.

“nuna maafkan aku, ya.” Ujar taemin sebentar kemudian, dibarengi dengan setetes airmata pertamanya yang mengalir.

“aku sakit karena kecapekan dan itu bukan karenamu. Tak usah merasa bersalah~” kataku sambil melap airmatanya dengan tanganku. Taemin tersenyum di antara kedua tanganku yang berada di dua sisi wajahnya. “ulji ma~” kataku lagi. Taemin mengangguk-angguk dan tersenyum.

“nuna makan yang banyak biar cepat sembuh, ya~” ujar taemin sambil menyuapkanku lagi.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah selesai makan juga sudah meminum obat yang diberikan taemin. Dan sekarang pengaruh obat mulai aku rasakan, aku mengantuk.

“aku tidur ya, taemin. Terima kasih bubur dan obatnya.” Ujarku sambil membaringkan badan. Taemin membantu menyelimutiku.

“nuna, aku ppoppo, ya?” katanya. Aku menggeleng pelan.

“tidak boleh. Nanti kau tertular.” tolakku.

Ccuk~

Tiba2 taemin menciumku.

“taeminie~~” erangku. Aku benar-benar tak mau dia tertular olehku.

“gwaenchanha, nuna. Yang bisa menular itu ‘kan dari kiseu, bukan ppoppo.” Jelas taemin sambil tersenyum lebar. “jal ja, nuna~ kalau ada apa-apa panggil aku saja ya~”

“ne, gomawo~” kataku sambil tersenyum.

Saat taemin menutup pintu kamarku, baru aku menutup mata.

~~~

Aku terbangun karena ingin ke kamar mandi. Jam menunjukkan pukul dua malam lebih sedikit saat aku melirik sekilas ke arah jam wekerku. Mataku terasa berat dan panas, kepalaku juga masih terasa berdenyut-denyut. Aku coba menegakkan badan dan mulai berjalan ke kamar mandi yang ada di ruang tv. Kepalaku berdenyut makin keras saat aku berjalan. Dengan meraba-raba dinding aku mencoba sampai di kamar mandi secepat yang aku bisa.

Rasanya seperti setengah jam kemudian baru aku keluar dari kamar mandi. Baju bagian depanku basah karena aku salah menyemprotkan air.

Gabruk!!

Tiba-tiba aku terjatuh karena tersandung sesuatu. Aku tak tahu itu apa, yang pasti badanku jadi bertambah sakit begitu juga denyutan di kepalaku. Aku sangat lemas, rasanya ingin berbaring saja di lantai ini. Aku mulai menutup mata.

“nuna!!”

Mataku sudah tertutup, tapi aku tahu itu suara taemin, hanya saja aku tak cukup kuat untuk menjawabnya.

Hal yang kurasakan kemudian, aku sepertinya diangkat dari lantai dan dibawa ke suatu tempat, mungkin ke kamarku. Aku dibaringkan di kasurku yang empuk, rasanya nyaman sekali. Aku mencoba membuka mata, kulihat taemin yang sedang membuka pintu lemari pakaianku.

“taemin~ gomawo~” ujarku lemah saat dia sudah kembali lagi di samping tempat tidurku.

“nuna, ganti baju dulu. Baju nuna basah. Biar aku bantu.” Katanya sambil duduk di sampingku.

“biar aku saja, “ tolakku.

“nuna lemas begini bagaimana bisa ganti baju sendiri!” bentak taemin, “aku tak akan berpikiran macam-macam, nuna. Percayalah.”

Taemin benar, aku memang lemas. Hal yang bisa aku lakukan dengan benar hanyalah mengedipkan mata. Aku hanya pasrah saat taemin membuka kancing piyamaku. Rasanya benar-benar malu.

“mianhae, nuna” kata taemin saat memasangkan piyamaku yang lain. Dia juga pasti merasa tak enak.

“emm,” jawabku disertai anggukan pelan. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah merepotkan dia.

Taemin menyelimutiku saat dia sudah selesai dengan urusan piyamaku.

“nuna, aku kompres, ya?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng.

“tidak usah, aku sudah banyak merepotkanmu. Tidurlah, besok kau sekolah, ‘kan?”

Kupandangi matanya yang merah. Pasti dia sudah capek sekali karena mengurusku.

“kalau begitu, aku akan tidur di sini untuk menemani nuna. Kalau ada apa-apa bangunkan saja aku.”

Aku menggeleng lagi.

“aniyo, taemin. Kau tidurlah di kamarmu. Aku—“

Tiba-tiba taemin menempelkan pipinya dengan pipiku.

“lihat, nuna panas begini. Aku tak mau meninggalkan nuna. Kalau perlu, aku besok izin masuk sekolah saja.“

“tidak boleh! Kau harus masuk! Tidak boleh bolos!” ujarku sedikit keras.

Ccuk~

Taemin mencium keningku.

“bagiku nuna lebih penting daripada sekolah.” katanya pelan, “tidurlah, nuna. Aku tak mau membuat nuna makin capek.”

Aku hanya menatapnya. Dengan kondisi begini dan setelah semua pertolongannya, aku tak mungkin membantah perkataannya. Aku pasti kalah.

“gomawo” ujarku pelan akhirnya. Aku menutup mataku dengan tangan taemin masih menggenggam tanganku.

###

Advertisements

2 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 49-51)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s