FF/S/Nuna’s Diary (special edition : Dream part.I)

= Nuna’s Diary Dream special edition =

Part: 1

Rating: PG

###

Aku terbangun tiba-tiba. Kupandangi langit-langit kamarku sebentar.

Aneh sekali mimpiku, ujarku dalam hati.

Kutegakkan badanku dan melihat ke sekeliling. Taemin masih ada di sampingku, tertidur lelap. Matanya tak sepenuhnya tertutup, kebiasaannya kalau sedang tidur. Kupandangi terus dia. Bibirnya yang tebal sedikit berminyak dan tampak merekah. Wajahnya terlihat damai.

Hihihi, lucu sekali.

Aku menyingkirkan selimutku dan beranjak menuju kamar mandi. Sudah kebiasaanku bangun tidur langsung menggosok gigi.

Di kamar mandi, aku menatap bayangan diriku di cermin. Tapi entah kenapa, bayangan mimpi itu terputar lagi di kepalaku.

Aku, seorang yeoja biasa yang tinggal di komplek perumahan sederhana. Memiliki oppa dan eonni dan bisa dibilang menjalani hidup secara teratur—cenderung terlalu biasa—dan cukup bahagia.

Taemin, seorang namja anggota boyband terkenal. Berusia hampir sama denganku, meski aku lebih tua beberapa bulan darinya. Postur tubuhnya tinggi. Sangat berbeda denganku yang sering dikira anak yang umurnya jauh lebih kecil bagi orang yang baru pertama melihatku.

Entah karena apa, kaki kanan Taemin cedera dan membuat dia susah berjalan. Akhirnya dia dibiarkan istirahat sementara anggota boyband-nya yang lain tetap meneruskan pekerjaan mereka.

Selama waktu beristirahatnya, Taemin memilih rumah kontrakan yang kebetulan berada di sebelah gang rumahku, alih-alih rumahnya sendiri. Selama beberapa hari, dia di sana hidup sendirian. Karena itu, meski kakinya sakit dia sering sekali berjalan-jalan di komplek perumahan, mungkin untuk menghilangkan rasa kesepiannya. Terkadang dia bermain dengan anak-anak kecil dan langsung pulang begitu dia sadar beberapa yeoja yang seumuran dengannya mulai memperhatikannya. Yeah, aku harus jujur bahwa aku termasuk beberapa yeoja itu.

Kebetulan tetanggaku memiliki balita dan Taemin sering sekali bermain dengan anak itu. Aku memang bersyukur karena tiap sore bisa melihat wajahnya yang tampan itu. Harus aku akui kalau aku memang fans-nya. Karena itu, semua terasa seperti mimpi saat mengetahui bahwa Taemin tinggal di rumah kontrakan di daerah perumahanku untuk sementara.

Pada suatu sore, Taemin sedang bermain dengan anak tetanggaku itu dan betapa beruntungnya aku, mereka bermain tepat di depan pagar rumahku. Aku mengintip dari balik jendela sambil sesekali menghembuskan napas panjang. Taemin benar-benar tampan. Dengan rambut merahnya dan kaos hitam sementara sebuah jaket tipis berwarna abu-abu dipegangnya, dia bercanda dengan anak tetanggaku itu.

Aku tak tahan, akhirnya aku keluar untuk menyapanya. Tapi seperti yang biasanya terjadi, begitu Taemin melihatku dia langsung berjalan menjauh.

Aku membuka pintu pagar dan berusaha menyusulnya. Mengejutkan Taemin bisa berjalan cukup cepat dengan sebelah kakinya yang cedera itu.

“oppa!” teriakku memanggilnya.

‘Oppa’? bukankah Taemin lebih muda dariku?, batinku dalam hati. Pasti karena tubuhnya yang tinggi jadi aku refleks memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.

“Taemin!” aku meneriaki namanya.

Tanpa kusangka, taemin memutarkan badannya untuk melihatku. Wajahnya terlihat sedikit kesal. Tentu saja, dia pasti menginginkan ketenangan karena itu memilih tinggal di sini. Tapi ternyata masih ada juga yang mengganggunya, aku sekarang contohnya.

“annyeonghaseyo” sapaku saat sudah berada cukup dekat dengannya, napasku sedikit terengah-engah. Taemin hanya menjawab dengan anggukan kecil. Setelah itu dia berjalan lagi menuju rumahnya.

“kakimu sakit? Biar aku bantu” kataku kemudian sembari memegang tangan kirinya.

Ya ampun, kulitnya halus sekali! Memang dasar artis, pasti pakai lotion tiap hari, batinku.

Taemin tak menolak bantuan dariku. Dia malah menurunkan laju jalannya dan mengimbangi langkah kakiku.

“kau tinggal sendiri, ‘kan?” tanyaku lagi. Taemin melihatku sebentar dan mengangguk kecil. Dia kembali fokus ke jalanan setelah itu. Di ujung jalan, kami berbelok ke kanan dan rumah kontrakan kecil Taemin langsung terlihat. Taemin membuka pintu pagarnya dan membiarkan aku ikut masuk.

“tidak ada yang menjagamu? Bukankah kau sakit?” tanyaku lagi. Aku benar-benar merasa seperti pengganggu sekarang, terus bertanya padanya padahal orangnya sendiri hanya merespon pertanyaanku seadanya.

“kemarin ada, tapi sudah kembali ke rumahnya tadi pagi” jawab Taemin akhirnya.

Aku sedikit senang karena dia menjawab pertanyaanku—tidak sekedar anggukan.

“boleh aku masuk?” tanyaku di depan pintu rumahnya. Bagaimanapun aku harus sopan kepada tuan rumah, aku tidak boleh masuk sembarangan.

Taemin melihat ke jalan di depan rumahnya dan kemudian melihat ke sekeliling.

“masuk saja” katanya akhirnya.

Aku baru sadar kalau ternyata Taemin memastikan apa ada yeoja komplek yang melihat aku masuk ke dalam rumahnya. Tentu saja, kalau ada yang melihat pasti aku jadi bulan-bulanan mereka.

Aku masuk ke dalam rumahnya dan benar-benar terkejut. Rumahnya berantakan sekali. Rumah itu cenderung kecil, hanya terbagi tiga ruangan. Ruangan di tengah adalah ruang tamu, sebuah sofa, kasur lumayan besar dan sebuah televisi juga ada di dalamnya. Di sebelah kiri ada dapur dan di sebelah kanan aku tak tahu itu ruangan apa.

Berantakan sekali, ujarku dalam hati.

Taemin berjalan mendahuluiku dan duduk di atas kasurnya. Dia hanya memperhatikan keadaan rumahnya yang berantakan, tapi dia tak berkata apa-apa.

“kau masih lama di sini?” tanyaku lagi.

“mungkin beberapa hari lagi” jawab Taemin singkat. Dia kemudian memperhatikan lagi keadaan rumahnya. Aku pun ikut memperhatikan keadaan rumahnya.

Benar-benar berantakan. Tumpukan baju di mana-mana, botol air mineral kosong, bungkus obat, kulit kacang dan botol kosong di atas meja tamu, dan masih banyak barang-barang lain yang tidak diletakkan pada tempatnya.

Apa dia bisa hidup dengan rumah yang seperti ini?, tanyaku dalam hati.

“kau kesepian, ‘kan? Mau menginap di rumah kami? Oppa-ku orang yang menyenangkan kok, istrinya juga. Mereka pasti menerimamu.” ujarku kemudian.

Aku terkejut dengan kata-kataku sendiri. Siapa aku yang mengajak Taemin menginap di rumahku? Pasti aku sudah gila.

Taemin menggeleng sebentar kemudian, respon yang sudah bisa dipastikan.

“aku tak mau merepotkan” katanya.

Aku sedikit kaget dengan pernyataannya.

Dia tak mau merepotkan? Hanya itu? Dan kenapa wajahnya terlihat ingin menjawab pertanyaanku dengan anggukan?

“tapi bagaimana dengan keadaan rumahmu sekarang? Kudengar kau juga demam. Apa kau bisa mengurus semuanya sendirian?” tanyaku bertubi-tubi. Taemin hanya menatapku dengan wajah yang tak bisa ditebak.

“aku akan mencoba” jawabnya kemudian. Sedikit nada ragu bisa aku tangkap dari suaranya.

Aku menghembuskan napas panjang. Taemin termasuk orang yang punya pendirian tetap, kalau begitu.

Aku tak menemukan alasan lain untuk tetap berada di sini, jadi aku pamit pulang.

“geureom, aku pulang dulu. Kalau kau butuh bantuan kau bisa menghubungi rumah kami. Annyeonghi gyeseyo” aku mengangguk sedikit padanya dan berbalik untuk membuka pintu rumahnya.

Sedikit rasa kecewa menderaku. Mungkin aku memang terlalu berlebihan, tapi pasti akan senang sekali kalau Taemin berada di rumahku selama waktu istirahatnya ini.

Aku membuka pintu pagar rumahnya yang sedikit berisik dan tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di otakku.

Dulu saat aku demam, aku merasa paling parah saat malam hari. Saat siang aku memang seperti orang sehat, bisa melakukan apapun. Tapi saat malam, aku benar-benar merasa tak berdaya. Itu karena aku memiliki gejala tifus. Lalu bagaimana dengan Taemin? Apa dia seperti itu juga? Sebaiknya aku harus memastikannya. Aku fans-nya dan tentu saja aku tak mau dia kenapa-kenapa.

Aku berjalan masuk lagi ke beranda rumahnya dan mengetuk pintunya sebelum masuk ke dalam rumahnya.

Taemin sedang mengumpulkan baju-baju kotornya yang berserakan di kasur saat aku masuk. Dia menatapku, lagi-lagi dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.

“maaf mengganggu lagi, tapi aku hanya ingin bertanya. Apa kau punya gejala tifus?” tanyaku sedikit tak enak padanya. Taemin mengalihkan pandangannya ke kasur lagi dan mengambil selembar baju yang tersisa.

“memang itu yang dikatakan dokter kemarin.” jawabnya sekenanya.

“berarti kau merasa paling sakit di waktu malam hari, ‘kan?” ujarku sedikit bersemangat. Mungkin ada harapan Taemin menginap di rumahku untuk beberapa hari ke depan.

“ne” jawabnya lagi dengan anggukan kecil. Dia malah meletakkan tumpukan baju kotornya itu di atas kasurnya.

“bagaimana kau bisa bertahan kalau begitu?” tanyaku, “ayolah, kau bisa menginap di tempat kami. Di rumahku ada tiga kamar kosong, kau bisa memilih kamar mana yang kau inginkan. Aku juga tak bisa membiarkanmu dengan sakit seperti itu sendirian. Kita sama-sama tahu sakit itu menyerang saat malam hari. Dulu aku juga pernah, soalnya.” terangku lagi.

Taemin menggigit bibirnya sambil menatapku. Dia tampak sedang berpikir dan menimbang-nimbang.

“paling tidak kau bisa langsung memanggilku saat malam hari kalau kau butuh bantuan. Itu lebih membantu daripada sendirian, ‘kan? Ayolah, aku tak bisa membiarkanmu sendiri, kau sedang sakit.” tawarku lagi setengah memaksa. Taemin menatapku lagi dengan alis yang saling bertautan. Dia sepertinya berpikir keras.

“bagaimana dengan orangtuamu?” tanyanya sedikit ragu.

“mereka sedang mengunjungi eonni-ku di kota lain. Dan kurasa tak akan menjadi masalah bagi mereka untuk mengizinkanmu tinggal di rumah kami.” ujarku lagi.

Ayo katakan ‘iya’~, aku berharap dalam hati.

Taemin menatapku lagi dan berpikir sebentar.

“baiklah” katanya kemudian.

“nah!” ujarku cepat, “mana barang-barangmu? Aku akan membantumu membereskannya” aku langsung melompat untuk ikut membereskan barang-barangnya. Taemin hanya melihatku.

Aku terus membereskan barang-barangnya, mengumpulkan bajunya, membuang sampah yang berserakan. Dan tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di otakku.

Kenapa semuanya terasa begitu mudah? Secara kebetulan Taemin cedera kakinya dan mengontrak rumah di dekat rumahku. Dia juga setuju untuk tinggal di rumahku dalam beberapa hari agar dia tak terlalu susah hidup sendirian. Kenapa semuanya berjalan lancar? Apa ini mimpi? Kehidupan nyata tak mungkin seperti ini.

Kupandangi Taemin yang duduk di kursi tamu. Matanya terpaku pada botol-botol minum kosong yang tergeletak di atas meja.

Aku hampir yakin ini mimpi. Tak mungkin semuanya berjalan selancar ini. Pasti ini mimpi.

Aku berjalan mendekati Taemin dengan perasaan yang hampa.

Kalau ini benar mimpi, dan kalau ini mimpiku, harusnya semuanya terjadi sesuai dengan apa yang aku inginkan. Di sini Taemin adalah seorang idola dan aku wanita biasa. Keadaan seperti ini tak akan terjadi dua kali. Jadi paling tidak aku harus bisa merebut sebuah kiseu darinya. Hey! Ini mimpiku, ‘kan?

Aku mendudukkan tubuhku di sebelah Taemin. Taemin menolehkan wajahnya ke arahku.

“hey, ini mimpi ‘kan?” tanyaku padanya dengan wajah serius. Taemin tak meresponku. Dia hanya diam dan terus menatapku.

“kalau begitu izinkan aku mencium bibirmu sekali saja.” ujarku lagi. Ini mimpiku, tentu saja aku berani. Aku tak mau mengambil resiko terlalu cepat terbangun dan tak mendapatkan apa-apa dari mimpiku yang terbilang cukup menarik ini.

Taemin hanya diam. Aku menatapnya lama kemudian mulai mendekati wajahnya. Hatiku was-was, takut terbangun sebelum aku sempat menyentuh bibirnya.

Saat bibirku merasakan bibirnya, aku bersorak gembira dalam hati. Ternyata mimpiku masih berpihak padaku, aku belum terbangun.

Aku menjauhkan wajahku lagi dan melihat Taemin, dia masih melihatku. Entah kenapa aku belum puas dan aku mengecup bibirnya lagi, kali ini sedikit dalam.

Kecupan ketiga kalinya, aku mencoba menerobos lipatan bibirnya dengan lidahku tapi Taemin tak mengizinkannya.

Kenapa dia tak meresponku? Bukankah ini mimpiku?

Aku mencoba menyentuh bibirnya untuk keempat kali dan Taemin akhirnya membuka sedikit mulutnya.

Lidah kami sedikit bersentuhan dan tiba-tiba semuanya gelap.

 

Aku menghembuskan napas panjang sambil menatap bayanganku di cermin. Di sini aku, dengan sikat gigi sudah di tangan, membayangkan kejadian yang ada di mimpiku.

Sambil menyikat gigiku, otakku terus berputar mengenai kejadian dalam mimpiku. Aku menghembuskan napas lagi.

Kenapa aku begitu menginginkan berciuman dengan Taemin sebesar ini?

Aku memukul pinggiran wastafel sedikit keras karena merasa tidak nyaman dengan perasaanku. Semuanya pasti karena mimpiku.

Aku menatap lagi bayanganku di cermin. Aku tampak kusut.

Kenapa aku ingin menciumnya sebesar ini??

Aku segera mencuci mulutku dan bergegas kembali ke kamar. Taemin masih di sana, tertidur dengan lelapnya.

Kudekati dia.

Ya ampun, dia adikku. Tapi kenapa aku begitu ingin menciumnya seperti ini??

Aku terus memandang Taemin yang terlelap. Aku menelan ludahku.

Haruskah aku lakukan? Dia sedang tidur, mungkin dia tak sadar.  

Dengan mengambil napas panjang, aku mendekati wajah Taemin.

-to be continued-

Advertisements

2 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (special edition : Dream part.I)

  1. aaaaa… demi apapun aku suka nuna’s diary!!!
    hai! aku kintan baru kemarin lihat ini blog dan langsung jatuh cintaaaa
    yaaa ampun bener bener dapet feelnya nih u,u

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s