FF/S/Nuna’s Diary (special edition : Dream part.II)

= Nuna’s Diary Dream special edition =

Part: 2

Rating: G

###

Wajah Taemin sudah sangat dekat sekarang. Bibirku sudah hampir menyentuh bibirnya yang tebal itu.

Haruskah aku melakukannya?

Aku berhenti sebentar. Kutatap lagi mata Taemin yang sedang tertutup itu. Sedikit tak tega sebenarnya. Dia adikku, dan aku adalah nuna yang bodoh yang ingin menyerang dongsaeng-nya saat dia sedang tertidur.

Dengan jarak lima senti dari wajah Taemin, aku menggigit bibirku.

Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar ingin menciumnya. Tapi aku sangat rendah kalau melakukannya. Apa salahnya menunggu Taemin terbangun dulu baru meminta kiseu darinya? Bukankah dia memang selalu meminta kiseu dariku?

Klip!

Mata Taemin tiba-tiba terbuka. Aku langsung melonjak kaget dan menjauhkan badanku dari Taemin. Kutatap Taemin yang matanya masih terbuka. Kuperhatikan terus matanya yang tiba-tiba menutup secara perlahan, dan kemudian dengkur kecil Taemin terdengar lagi.

Aku meraba letak jantungku.

Apa-apaan yang tadi itu?? Jantungku rasanya hampir copot.

Napasku sedikit terengah-engah karena kejadian barusan. Tak seharusnya aku melakukan ini pada Taemin.

“ck!”

Dengan berdecak pelan, aku meninggalkan Taemin yang terus terlelap. Beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.

~~~

Siangnya, aku dan Taemin duduk di ruang keluarga. Aku memperhatikan Taemin yang sedang membuat pr-nya. Wajahnya lucu sekali saat berpikir, terkadang dia bicara sendiri atau menggelengkan kepalanya.

“taeminie~” panggilku. Taemin langsung menolehkan kepalanya ke arahku.

“ne, nuna?” katanya.

“coba ke sini sebentar.” suruhku. Aku menepuk tempat kosong di sebelahku agar dia duduk di sana.

Taemin yang sedang duduk di lantai langsung berdiri dan kemudian duduk di sebelahku.

“ada apa, nuna?” tanyanya dengan muka polos.

Kutatap dia. Dia yang di mimpiku tadi berbeda sekali dengan yang sekarang. Kalau di mimpiku dia adalah Taemin yang susah digapai, tapi di sini dia adalah adik kesayanganku.

Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku dan mulai mendekatinya. Dengan satu gerakan cepat, aku menggigit pipinya.

“aigo—! Nuna! Sakit!!” taemin berteriak pelan.

“mianhae” kataku sambil tersenyum menatapnya, tanganku sibuk mengelus-elus bagian pipinya yang aku gigit barusan. Bagian itu sedikit memerah dan masih ada bekas gigitanku.

“nuna kenapa, sih?!” taemin tampak sedikit kesal, “kenapa menggigitku?!” taemin memajukan bibirnya. Dia tampak makin imut.

“mianhae, taeminie~ aku tidak tahan. Siapa suruh kau terlalu imut~” aku mencubit hidungnya dengan senyum masih mengembang lebar. Taemin makin manyun.

“sudah sana, selesaikan pr-mu” aku mendorong badannya pelan.

“shirheo!” katanya kasar. Aku langsung membelalakkan mataku.

“ya!! Selesaikan sekarang! Aku tak akan membantumu! Kau mau dihukum?! Cepat selesaikan!” aku mendorong Taemin makin kuat, tapi Taemin bertahan di tempat duduknya.

“ya! Taeminie~!!”

“nuna harus tanggung jawab!” kata Taemin tiba-tiba.

“tanggung jawab apa?” ujarku bingung dengan nada tinggi.

“nuna sudah menggigitku, jadi sekarang mood belajarku sudah hilang. Tanggung jawab!” taemin melipat kedua tangannya dengan bibir yang masih manyun.

“’mood’? sejak kapan kau sok pakai bahasa inggris seperti itu?” ledekku.

Kerutan di alis Taemin makin dalam setelah aku mengatakannya. Aku melihatnya sambil nyengir.

“ah, taeminie~ jangan begitu~” bujukku.

“pokoknya tanggung jawab!” taemin bersikeras, dia tak mau memandang wajahku.

Aku menghembuskan napas panjang. Padahal tadi ‘kan aku hanya tak tahan karena keimutannya.

“baiklah~ aku akan tanggung jawab. Apa yang harus aku lakukan?” kataku akhirnya.

Taemin melirikku sekilas.

“aku mau kiseu” jawabnya tegas.

“kiseu? Baiklah~” kataku dengan nada malas, tiap hari dia selalu minta itu sampai aku bosan.

Taemin tampak terkejut melihat respon-ku. Dia langsung memindahkan posisi duduknya menjadi menghadapku.

“jinjja? Nuna mau?” katanya dengan mata melebar.

“bukankah aku harus tanggung jawab?” tanyaku balik.

“hehe,” Taemin tersenyum misterius. Wajahnya terlihat menjengkelkan, tapi tetap saja imut, “pakai lidah ya, nuna~” katanya lagi.

Aku menelan ludahku dan menatap Taemin.

Lidah? Apa mimpiku tadi malam akan terwujud? Keinginan gilaku yang ingin mencium Taemin lebih dari sekedar ppoppo biasa darinya?

“yaa!!!” aku berteriak protes, berpura-pura sebenarnya.

“nuna harus tanggung jawab, ‘kan??” kata taemin remeh.

“tapi untuk apa pakai lidah—?” lagi-lagi aku menelan ludahku.

“pokoknya pakai lidah!” taemin bersikeras.

“baiklah pakai lidah!” ujarku kemudian, “dasar menyusahkan” tambahku dengan bisikan.

“nuna sudah sikat gigi, belum~?” tanyanya.

“tak usah macam-macam, taemin! kau mau sekarang atau tidak?!”

Jantungku sudah berdebar-debar sekarang. Tapi aku akan tetap berpura-pura jengkel dengannya sampai akhir.

“hehe~ baiklah, nuna~” kata Taemin kemudian.

Setelah Taemin berkata begitu, aku menghembuskan napas berat dan kemudian menutup mata.

Taemin mengangkat sedikit daguku dengan tangannya, sudah hampir saatnya.

Tapi kenapa lama sekali?

“nuna, lidah siapa yang masuk duluan? Aku atau nuna?” tanya taemin tiba-tiba.

“buhahahahaha~~” aku tak bisa menahan tawaku.

Ya ampun, hal seperti itu ditanyakannya.

Aku tertawa terus sampai perutku sakit dan mataku berair.

“hahaha~ ya ampun, taeminie~~” aku menghapus sedikit air mata yang ada di ujung mataku.

“kenapa nuna tertawa?” katanya bingung.

“aniyo. Kau polos sekali” ujarku sambil mencubit pipinya.

Aku sudah hampir menyerah, ini tak mungkin berhasil. Lebih baik aku mengerjainya sekalian, daripada tanggung.

“begini” kataku sambil menahan senyum, “aku akan mengajarimu bagaimana sebenarnya cara kiseu dengan lidah itu. Aku hanya akan memberitahukannya padamu sekali saja, jadi benar-benar perhatikan, arachi?” tambahku lagi pura-pura serius.

Taemin mengangguk bersemangat.

“keluarkan lidahmu” ujarku kemudian.

Taemin mengeluarkan lidahnya sesuai dengan perintahku.

“nah, perhatikan, ya” kataku lagi.

Aku mendekati Taemin sambil mengeluarkan lidahku. Setelah itu aku menyentuhkan lidahku ke lidah Taemin dan langsung menjauh darinya.

“begitu” kataku.

Taemin tampak bingung.

“eh? Masa cuma begitu, nuna?” tanyanya tak percaya, “bukannya..” Taemin tampak ragu untuk meneruskan perkataannya.

“wae?? Ada yang salah? Apa kau merasa lebih tahu daripada aku mengenai urusan kiseu ini??” ujarku malah menyudutkannya.

“bukan begitu, nuna~ tapi..” Taemin tampak bingung lagi. Dia menggembungkan pipinya dan melihat ke sekeliling.

“semua yang kau lihat di televisi itu salah, taeminie~ yang seperti tadi itu cara yang sebenarnya~” ujarku asal.

Taemin melihatku dengan tatapan sedikit kaget.

“begitu ya, nuna?” tanyanya polos. Aku mengangguk meyakinkannya. Taemin tersenyum padaku sebentar kemudian.

“gomawo, nuna~~~” ujarnya sambil memelukku erat.

Aku sedikit bingung sebenarnya dengan responnya. Apa Taemin benar-benar sepolos itu dan dengan mudahnya percaya padaku?

Aku menggeleng untuk meyakinkan diriku sendiri dan membalas memeluk Taemin.

Taemin tiba-tiba memelukku lebih erat. Badanku jadi seluruhnya menempel ke badannya.

“aigo, taeminie~! Jangan terlalu erat~!” ujarku protes sambil menggeliat kecil, berusaha melepaskan diri dari dekapannya.

“nuna..” kata Taemin kemudian, suaranya terdengar dalam.

Aku langsung berhenti menggeliat.

“aku tak cukup bodoh untuk nuna tipu kalau kiseu pakai lidah itu seperti yang nuna ajari tadi. Nuna sudah bohong padaku. Jadi, untuk kali ini hukuman untuk nuna pelukan ini saja ya, nuna~??”

Suara Taemin terdengar imut-imut tapi mengancam. Aku menelan ludah lagi. Merasa malu pada Taemin, sebenarnya.

“ne, taeminie~” ujarku pelan.

###

Advertisements

6 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (special edition : Dream part.II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s