FF/S/Nuna’s Diary (page 54-57/PG)

= Nuna’s Diary =

Page: 54-58

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

Rating: PG

= = =

“nunaaaaa~~~~~”

Tubuhku terdorong ke samping karena pelukan taemin yang tiba-tiba.

Ccuk!

Taemin mencium pipiku.

“kau sudah pulang? Ceria sekali~” godaku.

“ehehehe~” taemin cuma nyengir. Tangannya masih terus merangkul pundakku.

“bagaimana tadi di sekolah?” tanyaku sambil mencubit pipinya.

“semuanya baik-baik saja” katanya sambil tersenyum lebar.

“kau kenapa, sih? Sepertinya senang sekali” tanyaku lagi. Taemin mengangguk bersemangat.

“besok sudah akhir minggu ‘kan, nuna?” ujarnya.

“ne, benar. Kenapa memangnya?”

“nuna ‘kan janji mengajakku ke taman bermain~” taemin nyengir lagi.

“kapan aku berjanji seperti itu?” ujarku pura-pura tak tahu.

“aa~ nuna~” taemin merengek. Bibir bawahnya di majukannya.

“hehe~ aku tidak lupa kok, taeminie~” kataku sambil memainkan bibir bawahnya, “jangan cemberut begitu~”

Taemin langsung nyengir lagi.

“nuna ini~~”  protesnya pelan. Aku mencubit pipinya lagi, tak tahan dengan keimutannya.

“sana mandi. Kau bau~” ujarku lagi. Kukibas-kibaskan tanganku di depan wajahku.

“aku malas, ah” balas taemin sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Dia kemudian mengambil remote tv dan menukar channel-nya.

“ya! Mandi sana!” suruhku sambil mendorong badannya pelan. Tiba-tiba taemin langsung melihatku.

“nuna mandikan~” pintanya setengah merengek.

“mwo?! Berapa umurmu??” kataku kaget. Aneh-aneh saja permintaannya.

“tujuh belas. Masa nuna tak tahu?” ujarnya setengah bercanda. Aku nyengir mendengarnya. Kucubit pipinya lagi.

“mandi sana, taeminie~~” ujarku sedikit merengek padanya.

“nuna mandikan aku~~” taemin malah balas merengek.

Aku mulai kesal.  Dia ini tidak bisa dibilang secara baik-baik.

“ya! Kau sudah besar! Mandi sendiri!”

“siapa bilang aku sudah besar? Aku kan macih keciiil~~” taemin mengedip-ngedipkan matanya dan bertingkah seperti anak-anak.

“oh begitu~?” ujarku memancing. Aku jadi ingin iseng padanya, “memangnya kau belum mimpi basah, ya, taeminie~??” godaku.

Ekspresi taemin langsung berubah begitu mendengar pertanyaanku.

“nuna apa sih!” ujarnya sedikit kesal.

“kkk”, aku nyengir, “sudah atau beluum~?” godaku lagi. Aku colek sedikit pinggangnya.

“nuna ini kenapa?!” taemin makin kesal dan mukanya jadi merah karena malu. Aku tertawa melihatnya.

“ya! Kenapa kau malu-malu begitu? Padahal dua minggu yang lalu kau pinta ppoppo ‘itu’mu, reaksimu biasa-biasa saja.” ujarku sambil menekan pelan pipinya dengan telunjukku. Taemin makin memberengut dan wajahnya sudah benar-benar merah.

“nuna! Aku tidak suka pembicaraan ini!” protes taemin. keningnya berkerut saat melihatku.

“benarkah?” godaku lagi. Aku pura-pura cuek menanggapinya.

“nuna aku akan benar-benar marah!” kata taemin lagi.

Taemin menatapku dengan tajam. Keadaan jadi mulai tidak enak.

“tidak usah banyak bicara. Sana cepat mandi!” kataku mencoba mengganti topik. Aku merampas remote yang sedang dipegangnya dan mengganti channel lagi.

Taemin pergi dengan hentakan keras di kakinya. Aku hanya meliriknya sampai dia masuk ke kamar mandi.

~~~

Makan malam sudah aku siapkan, tapi sudah hampir setengah jam taemin tak juga keluar dari kamar. Tak pernah dia seperti ini sebelumnya. Biasanya saat aku memasak dia selalu mangganggu atau membantuku kalau dipinta. Akhirnya aku memutuskan menyusulnya.

Aku mengetuk pintu kamarnya pelan.

“taeminie~ makan malam sudah siap dari tadi. Ayo makan!” ujarku dari depan kamarnya.

Tak ada jawaban.

“taeminie~ aku masuk ya?” kataku lagi sebelum membuka pintu kamarnya.

Saat aku masuk dan melihat ke dalam, taemin ternyata sedang tidur. Dia berbaring menyamping menghadap ke dinding. Aku mendekatinya dengan langkah pelan.

“taeminie~ bangun dulu~ ayo makan” kataku lagi saat berdiri di samping tempat tidurnya. Taemin tak bergeming.

Aneh sekali. Kalau taemin sedang tidur dia pasti langsung terbangun begitu mendengar suara sekecil apapun.

Apa dia masih marah?, pikirku.

Aku duduk di pinggir tempat tidurnya.

“taeminie~” panggilku lagi sambil meraba pelan lengannya, “kau marah padaku?”

Taemin menepis tanganku tanpa mengucap sepatah kata pun. Aku hanya diam menatap punggungnya. Benar rupanya dia marah.

Sebentar kemudian, kulihat punggungnya sedikit bergetar. Dia menangis. Aku langsung mengubah posisi dudukku jadi makin dekat dengannya.

“taeminie~ bangun. Aku mau bicara”

Taemin menggeleng. Dia bahkan tak mau memutar posisinya jadi menghadapku. Dia terus membelakangiku.

Aku menghembuskan napas berat.

“mianhae~” ujarku pelan, “tadi aku berbicara keterlaluan padamu.”

Isakan taemin makin keras terdengar.

“taemin mau peluk aku?” pintaku.

Taemin akhirnya mau melihat wajahku. Saat kulihat, matanya sudah merah dan bengkak. Dia menegakkan badannya dan langsung memelukku.

“aku tidak suka nuna bicara seperti tadi~” katanya sambil sesenggukan saat kami berpelukan.

“ne. aku salah, mianhae” ujarku pelan.

“aku sebenarnya ingin menemani nuna memasak..” kata taemin, “tapi tadi nuna ja-jahat padaku~~”

Isakan taemin makin kencang. Dia sesenggukan dan jadi susah mengontrol napasnya.

Aku menggosok pungguknya pelan.

“mianhae, aku sudah jahat padamu. Mianhae, taeminie~ aku minta maaf”

Aku biarkan taemin terus menangis sambil memelukku sampai tangisannya sedikit reda.

“aku tidak suka aku marah pada nuna~” katanya lagi.

“ne”

“aku tidak suka jadi dongsaeng yang tidak penurut pada nuna dan menyusahkan nuna~”

“ne~” aku mengeratkan pelukan kami dan membelai rambutnya pelan, “kau tidak menyusahkanku, taeminie~” tambahku.

“nuna, mianhaee~~~” taemin menangis lagi, “mianhae sudah menepis tangan nunaa~ huwaa~~”. Dia balas memelukku dengan erat.

Aku tersenyum sementara airmataku mengalir.

“ne, gwaenchanha” ujarku pelan dengan suara serak.

“mianhae karena sore ini aku mengacuhkan nuna~~” kata taemin, “aku minta maaf, nuna~ mianhae~~”

“gwaenchanha, taeminie. Jeongmal.” Kataku sambil menghapus airmata dan melepaskan pelukannya, “sekarang kita makan, ya?” ajakku.

Taemin mengangguk dan menggenggam tanganku. Kami pergi ke ruang makan sambil terus berpegangan tangan.

Taemin duduk di kursinya sementara aku mengambil minum dari kulkas.

“kenapa masih belum makan?” tanyaku padanya saat duduk di kursiku. Taemin hanya menunduk.

“makanan yang nuna siapkan..” katanya, “semuanya makanan kesukaanku.”

Aku hanya diam menatapnya. Taemin menunduk makin dalam dan kemudian dia terisak lagi.

Aku langsung berdiri dan mendekatinya. Kupeluk dia lagi.

“pa-padahal aku sedang marah pada nuna, tapi nu-nuna malah menyiapkan semua makanan ini~~” isaknya.

“gwaenchanha, taemin~ ulji ma~” mataku sudah terasa panas lagi. Aku paling tak bisa tahan kalau taemin menangis, entah kenapa airmataku juga ingin keluar kalau melihat dia yang sedang menangis.

“nuna, mianhae~~”

Aku menepuk-nepuk punggungnya pelan.

“gwaenchanha. Sudah jangan menangis lagi. Matamu jadi bengkak begini.” Kataku sambil menghapus airmatanya.

Aku menatapnya lagi.

“kau mau aku suapkan?” tawarku. Taemin langsung melihatku dan mengangguk pelan.

Aku tersenyum padanya dan segera menggeser kursiku jadi lebih dekat dengan kursinya.

Taemin makan dengan pelan sekali saat aku menyuapkannya. Taemin hanya menunduk sambil memandang makanannya, matanya sudah merah dan bengkak.

“kau mau tambah?” tanyaku saat nasi di mangkuknya habis. Taemin menggeleng.

“aku akan membereskan semuanya kalau begitu” kataku kemudian.

Kali ini taemin mengangguk sebagai jawaban. Aku tersenyum padanya dan beranjak dari kursi. Saat aku ingin meletakkan semua piring kotor ke tempat cuci piring, taemin menahan tanganku. Aku melihatnya yang sedang menatapku.

“nuna~ peluk aku sekali lagi~” katanya lemah.

Aku tersenyum lembut padanya dan menaruh piring-piring kotor itu kembali di atas meja dan memeluknya. Aku berada sedikit lebih tinggi daripada taemin karena taemin masih duduk dan aku berdiri. Wajahnya tepat berada di samping leherku dan hembusan napasnya terasa di permukaan kulit leherku. Tangan taemin mendekap pinggangku erat, membuatku tak bisa bergerak untuk posisi yang lebih nyaman.

“nuna, saranghae~” bisik taemin. Hal yang aku rasakan selanjutnya adalah kecupan kecil di leherku. Bibir taemin yang dingin terasa di permukaan leherku, membuat aku sedikit bergidik. Pertamanya aku hanya membiarkannya saja. Tapi kecupan kedua di leherku membuat aku semakin merasa tak nyaman.

Aku langsung menjauhkan tubuhku dari taemin dan menatapnya sebentar. Pikiranku sedikit kacau. Entah cuma perasaanku saja, tapi sepertinya kecupan yang kedua tadi terasa lebih dalam. Ekspresi taemin tak bisa kutebak. Dia hanya menatapku saja dengan tatapannya itu. Aku menelan ludahku.

“taeminie, kau—“

“apa nuna akan menolakku untuk kedua kalinya?” potong taemin.

Aku terdiam mendengar perkataannya. Wajahnya benar-benar datar saat berkata seperti itu, tapi meninggalkan kesan mendalam.

“taeminie, kau—pergilah ke ruang keluarga dulu, nanti aku menyusul” kataku sedikit gelisah. Aku sudah mau mengambil tumpukan piring kotor yang tadi aku letakkan di atas meja ketika kedua tangan taemin menangkap wajahku. Dengan menelan ludah, aku menatap taemin lagi.

“nuna boleh menamparku lagi kalau masih menolakku”

Setelah berkata seperti itu, taemin mendekatkan wajahku ke wajahnya. Sebentar saja, bibir taemin yang dingin itu terasa lagi, kali ini di permukaan bibirku. Taemin terus menekan bibirnya. Aku tetap membuka mata, masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

Taemin melepas bibirnya dan membuka matanya. Dia kemudian tersenyum sambil menatapku.

“nuna tidak menolakku?” tanyanya bersemangat. Aku tak dapat menjawabnya.

“mulai malam ini, nuna sudah jadi pacarku kalau begitu” katanya lagi. Sekali lagi, taemin menempelkan bibirnya ke bibirku.

“aku senang nuna tidak menolakku lagi” ujarnya lagi, dan lagi-lagi dia mengecup bibirku sekilas.

“aku akan membereskan semuanya. Pergilah duluan” kataku tiba-tiba. Aku dorong tubuhnya pelan agar menjauh dariku. Taemin membalasnya dengan senyuman dan segera beranjak dari kursinya.

Kudengar suara langkah kaki taemin yang berjalan menjauh. Aku hanya bisa berdiri sambil memandangi tumpukan piring kotor. Kuraba bagian jantungku. Berdebar kencang.

Sebenarnya apa yang terjadi ini??

###

heheheh~~ *nyengir kuda*

apa yg bakal terjadi di nuna’s diary page selanjutnya??

tunggu pablis-an nuna’s diary page 59-?? ya rideerr~~^^ *ppoppo tmin*

 

Advertisements

2 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 54-57/PG)

  1. Ya…taemin jgan nangis…uljima, sini aku mandiin…..xixixi*poppo taemin, di geplak ama nuna.a*
    …lanjutannya aku tunggu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s