FF/1S/It Will Be The Last [sequel of Nuna’s Diary (page 58-62)]

= It Will Be The Last =

Cast:

  • Taemin
  • Nuna

Length: 1shot

Rating: Parental Guidance (PG)

Description: sequel of Nuna’s Diary <page 58-62>, Taemin Point of View (full)

= = =

Lagi-lagi nuna duduk di depan tv, menonton berita.

Hihi, nuna sudah jadi pacarku sekarang.

Aku mendekati nuna diam-diam dari belakang dan mengecup pipinya. Nuna tampak terkejut dengan kehadiranku yang tiba-tiba.

“taemin~?” panggilnya sambil memandang ke arahku.

Aku tersenyum pada nuna. Sambil merangkul pundak nuna, aku kecup bibir kecil nuna.

“annyeong, nuna~” ujarku.

“annyeong~” jawab nuna sekenanya. Nuna tampak sedikit bingung. “pergilah ke dapur, sarapan sudah aku siapkan. Tapi mian, tadi aku makan duluan.” Kata nuna lagi.

“gwaenchanha” ujarku, lagi-lagi mengecup bibir nuna. Aku tidak tahan pada bibir nuna yang kecil itu. Lagipula sekarang ‘kan aku sudah jadi pacar nuna.

Dengan hati senang, aku melangkah menuju dapur. Tapi sebelum aku masuk, aku menyempatkan diri untuk melihat nuna sekali lagi. Nuna masih menonton tv, tapi tatapannya kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu. Bibir bawahnya digigitnya.

Aku membalikkan badan lagi kemudian masuk ke dapur. Sedikit kekhawatiran menderaku.

Apa nuna benar-benar sudah jadi pacarku?

Aku menggeleng sendiri. Tentu saja nuna sudah jadi pacarku. Nuna tidak menolak ciuman dariku. Kalau nuna menolak, pasti nuna sudah menamparku tadi malam.

Aku makan dalam diam. Sengaja aku duduk di kursi yang mengarah ke ruang tv agar aku bisa terus melihat nuna yang sedang menonton tv di sana. Kadang-kadang aku tersenyum sendiri. Ternyata perjuanganku menjadi pacar nuna membuahkan hasil.

Selesai makan, aku berinisiatif untuk mencuci piring. Kasian juga nuna kalau selalu mencuci piring kotorku.

Di atas box cuci piring, aku melihat gelas kesayangan nuna. Gelas bening berleher tinggi yang selalu nuna pakai itu terlihat kotor. Tidak ada salahnya aku mencucinya sekalian.

Aku meletakkan mangkukku yang sudah kucuci dan mengambil gelas nuna itu.

Sreet~

PRANGGG!!

Gelas nuna pecah berkeping-keping di bawah kakiku. Aku terdiam, tak tahu harus berbuat apa.

“taemin?”

Nuna muncul dari pintu dapur dan tampak terkejut dengan apa yang terjadi.

“mianhae~ gelas kesayangan nuna—“

“kau ini~ jangan bergerak dari situ!” nuna tampak kesal. Sebentar saja, nuna sudah jongkok di dekat kakiku untuk mengumpulkan pecahan gelas yang berserakan.

“kau kena tidak?” tanya nuna kemudian. Aku menjawabnya dengan menggeleng.

Nuna kembali mengumpulkan pecahan gelas itu. Desahan napas panjang nuna terdengar. Sepertinya nuna benar-benar kesal, tapi tak mau memperlihatkannya di depanku. Aku jadi benar-benar merasa bersalah pada nuna.

“mianhae, nuna~ tadi aku hanya bermaksud mencuci gelas nuna~” jelasku tak enak hati.

“gwaenchanha. Yang penting kau tidak kena, ‘kan?” nuna bertanya padaku lagi, dan lagi-lagi aku menggeleng. Sebelah mataku melihat darah di tangan nuna yang barusan digunakannya untuk menghapus keringatnya dari pelipisnya.

“tangan nuna berdarah” ujarku sambil terus menatap tangan nuna. Darahnya banyak, sepertinya terkena pecahan gelas.

“hanya luka kecil” jawab nuna singkat, tapi aku masih bisa melihat nuna yang meringis pelan saat mencoba menekan luka itu.

Aku mengambil tangan nuna yang berdarah itu dan membasahi lukanya dengan lidahku. Aku pernah dengar dari orang kalau luka diberi ludah akan cepat sembuh.

“kalau diberi ludah akan cepat sembuh, nuna~” jelasku lagi sambil memandang nuna. Nuna tampak tak percaya dan wajah nuna memerah. “kenapa muka nuna merah?” tanyaku bingung. Aku meraba pipi nuna yang memerah itu.

“a-aku akan membersihkan sisa-sisa kacanya. Kau masuklah ke dalam.”

Nuna menghindariku. Dia mengalihkan wajahnya dariku dan menghadap ke box cuci piring. Dia membuka keran, lalu menutupnya lagi. Kemudian nuna mengambil lap piring hanya untuk meletakkannya lagi di tempat yang sama.

Aku menatap nuna dari belakang dengan tidak percaya.

Apa wajah nuna memerah karena aku? Apa itu berarti nuna benar-benar suka aku?

Aku tak tahan. Aku tak tahan dengan nuna yang tampak begitu menggemaskan. Nuna terlihat malu-malu dan salah tingkah karena aku. Aku benar-benar tak tahan.

Saat aku sadar, tanganku sudah mengarahkan badan nuna untuk menghadap ke arahku lagi. Aku terus menatap nuna. Wajah nuna sudah benar-benar merah dan nuna terus menunduk.

Nuna menaikkan wajahnya untuk menatapku dengan perlahan. Bibir nuna yang berwarna merah sedikit terbuka.

Aku mendekatkan wajahku ke wajah nuna dan mengecup bibirnya pelan.

“hhp—“ nuna menutup kedua bibirnya tepat saat bibirku menyentuh bibirnya. Bibir nuna terasa sangat lembut saat bersentuhan dengan bibirku. Sebentar kemudian aku melepasnya. Aku menatap nuna yang masih membuka matanya. Hidung kami bersentuhan saat aku memindahkan posisi kepalaku untuk mencium nuna sekali lagi.

Aku sudah ingin mengecup bibir nuna lebih dalam saat nuna melepasnya secara tiba-tiba.

“masuklah ke dalam, taemin. Aku masih harus membersihkan ini” ujar nuna dengan suara pelan.

Aku membuka mataku perlahan, masih merasakan bibir lembut nuna yang barusan menempel di bibirku.

“aku akan tunggu nuna di ruang tv” ujarku. Aku tak bisa menahan senyumku. Aku terlalu bahagia.

Langkahku sangat ringan saat berjalan ke sofa. Nuna tak menolakku lagi, dan kurasa tadi itu situasinya benar-benar tepat.

Aku menghempaskan tubuhku di sofa dan meletakkan kepalaku di sandarannya. Aku tersenyum lebar. Rasanya ingin tertawa, tapi nuna pasti bisa mendengarku kalau aku tertawa di sini sekarang. Aku tak mau nuna beranggapan aku sedang mempermainkan nuna.

Suara berisik dari arah dapur berhenti, digantikan dengan suara langkah nuna yang cepat-cepat. Aku langsung menatap tv sebagai kamuflase. Aku tak mau aku ditemukan nuna dalam keadaan tersenyum lebar seperti tadi.

“nuna, sini~” ajakku saat menoleh padanya. Nuna mendekatiku dengan perlahan.

“kau tidak nonton kartun, taemin?” tanya nuna tiba-tiba.

Kartun? Aku terlalu senang untuk mengubah channel ke kartun sekarang. Sebenarnya sih, aku tak terlalu peduli di tv sedang menayangkan apa. Tapi di balik itu semua, aku menangkap hal yang berbeda dari biasanya.

“kenapa nuna mengubah cara memanggilku?” tanyaku pada nuna. Aku baru sadar kalau dari tadi nuna terus memanggilku dengan ‘taemin’, bukan ‘taeminie’ seperti biasanya nuna memanggil namaku.

Nuna tampak bingung mendengar pertanyaanku. Mungkin nuna tidak mengerti maksudku apa.

“aku suka cara nuna menambahkan ‘i’ di belakang namaku, kenapa nuna mengubahnya?” kataku lagi.

Nuna tampak sedikit kaget.

“aku tak merasa sudah mengubahnya” ujar nuna. Wajahnya tampak tak peduli, padahal sudah jelas sekali dia juga baru menyadarinya.

Aku tersenyum melihatnya.

“nuna lucu~” kataku.

Nuna mengalihkan pandangannya ke tv tanpa menghiraukanku. Aku melihat wajahnya dari samping.

Kupegang tangan nuna setelah itu dan kutautkan jari-jari nuna dengan jari-jariku sendiri. Di film, aku banyak menemukan pasangan kekasih melakukan hal ini, dan aku ingin mencobanya juga. Sekarang ‘kan nuna sudah jadi pacarku, jadi tak ada salahnya aku ingin seperti ini juga dengan nuna.

“taeminie, sudahlah~” ujar nuna tiba-tiba.

Aku langsung menoleh ke arah nuna. Nuna memanggilku ‘taeminie’ setelah aku mengingatkannya tadi, sebutan itu jadi terdengar lucu sekarang.

“sudah kenapa, nuna?”

Aku baru sadar kalau nuna tampak gelisah, nuna tampak tak nyaman. Nuna melirik tangan kami yang saling bertautan dan menatapku lagi. Kekhawatiranku muncul.

“taeminie~” kata nuna setelah menghela napas berat, “hentikan ini semua. Aku merindukan taemin-ku yang imut-imut”

Aku menelan ludah mendengar perkataan nuna. Apa maksud nuna dengan ‘hentikan ini semua’? Apa maksudnya mengenai hubungan kami?

“memangnya apa yang terjadi denganku?” tanyaku mengulur waktu.

Nuna menghela napas lagi dan menggigit bibirnya.

“kau berbeda, taemin,” ujar nuna setengah berbisik, “kau—“

“nuna, hari ini nuna janji mengajakku ke taman bermain, ‘kan?”

Aku memotong perkataan nuna. Aku tak mau mendengar kelanjutannya. Kalau nuna ingin aku yang imut-imut, akan aku lakukan sekarang. Aku akan menjadi imut-imut. Aku akan menjadi apa yang nuna inginkan. Apapun.

Nuna tampak makin gelisah setelah aku memotong perkataannya.

“taeminie, kau tak seharusnya—“

“jam berapa kita akan pergi, nuna? Aku sudah tidak sabar~” aku sedikit merengek pada nuna.

Tidak. Kalau kata-kata nuna selanjutnya bahwa kami harus berpisah, aku belum siap.

Nuna tampak tidak sabar, rahangnya sedikit menegang. Ini menambah kekhawatiranku. Aku tak mau berpisah sekarang. Tak mau.

“taemin,” nuna mulai lagi, “aku tak mau meneruskannya, kita—“

Sudah cukup sampai di situ. Kata-kata itu sudah keluar. Aku terlambat menutup mulut nuna dengan bibirku. Hatiku sakit, tapi aku tetap mencium bibir nuna.

Bibir nuna yang menempel di bibirku terasa dingin. Dingin, baik secara fisik, maupun dingin secara perasaan. Aku tak merasakan kehangatan apapun dari bibir nuna. Ini semua sudah berakhir.

Aku menyerah. Aku melepaskan bibir kami berdua dan menunduk, tak berani menatap mata nuna.

“kalau nuna ingin menolakku, kumohon jangan sekarang nuna,” mataku sudah terasa panas, “aku mohon”

Nuna tak bergeming. Nuna membiarkan tanganku tetap berada di pundaknya. Nuna bahkan tak mengangkat wajahku dan mengatakan ini semua bercanda, bahwa dia bohong kalau ingin berpisah. Dan aku tahu, sekali saja nuna memutuskan sesuatu, dia tak akan goyah dengan keputusannya itu.

“kita akan pergi setelah makan siang. Aku akan menemanimu sampai malam,” kata nuna kemudian, “hanya sampai malam.”

Benar saja, sepertinya ini memang harus berakhir. Tak ada gunanya aku memaksakan pendapat. Aku akan kalah dari nuna.

Aku mengangguk dan kemudian beranjak dari sofa. Airmataku mengalir sementara aku terus melangkahkan kakiku yang berat ke kamar. Aku tak mau nuna melihatku menangis.

~~~

“selamat menikmati wahana kami” penjaga wahana berkata seperti itu sebelum menutup pintu.

Aku memperhatikan nuna yang terus memandang pintu itu sementara bianglala ini mulai bergerak.

Aku menghela napas panjang secara diam-diam untuk menyemangati diriku sendiri. Aku sudah merencanakan sesuatu, rencana yang aku pikirkan secara sungguh-sungguh selama berdiam diri di kamar tadi. Kalau cara ini berhasil, untuk ke depannya aku tak akan meminta kiseu lagi dari nuna. Hanya ppoppo saja.

“setelah ini, nuna tak jadi pacarku lagi, ‘kan?” mulaiku.

Nuna tampak sedikit kaget dan menunduk. Nuna kemudian menggeleng pelan.

Aku menggigit bibir. Aku hampir putus asa. Nuna tak memberi tanggapan positif, tapi aku tak mau rencana yang sudah kususun tadi hancur begitu saja. Aku butuh penyemangat. Dan karena hanya nuna yang ada di sini bersamaku sekarang, aku hanya bisa mendapatkan semangat dari nuna saja. Aku memegang tangan nuna lebih erat untuk menguatkan hatiku dan menghembuskan napas lagi sebelum mulai bicara.

“aku ingin satu permintaan, nuna”

Aku tahu nuna mendengar, tapi mengetahui bahwa nuna bahkan tak mau menatapku membuat hatiku makin sakit.

“nuna, lihat aku dulu” aku mengarahkan wajah nuna agar memandang ke arahku. Aku akan mencoba sampai akhir.

Nuna terlihat tegang dan sedikit pucat. Aku sedikit kaget sebenarnya.

Apa nuna memikirkan hal ini seserius ini?

Aku tak bisa menahan senyumku. Kalau benar begitu, aku sedikit merasa senang.

“hahaha~ nuna~ jangan tegang begitu~ santai saja~” ujarku sambil tertawa.

Nuna ikut tersenyum. Syukurlah, paling tidak suasananya jadi sedikit mencair.

“baiklah~ kau minta apa, taeminie~?”

Akhirnya nuna bicara juga. Aku menghembuskan napas sambil tersenyum pada nuna. Aku melihat ke luar. Lampu-lampu di bawah sedikit menenangkan perasaanku. Akan aku mulai sekarang.

“aku ingin bermain dengan nuna,” ujarku, “nuna tidak boleh menolak karena ini permintaan terakhirku sebagai pacar nuna”

Hatiku sakit saat mengucapkan kata-kata itu, tapi aku harus bertahan. Jika ini berhasil, paling tidak aku akan merasa puas.

“bagaimana permainannya?” tanya nuna. Nuna tampak sedikit tidak sabaran, seperti ingin segera mengakhiri semuanya. Itu membuat hatiku sedikit sakit, tapi aku akan tetap meneruskan rencana ini.

“aku hanya meminta nuna memandangku sampai bianglala ini berhenti di bawah. Nuna hanya boleh memandangku, tak boleh memandang yang lain. Dan kalau nuna sedetik saja memandang ke arah lain..” aku berhenti sebentar untuk menatap mata nuna lebih dalam lagi, “..aku akan kiseu nuna.”

Nuna tersenyum.

“kita mulai sekarang?” tantangnya

Kali ini aku yang tersenyum. Sepertinya nuna menganggap ini mudah. Nuna tidak tahu, tepat jam duabelas malam nanti akan ada kembang api dan aku yakin perhatian nuna akan teralih dengan kembang api itu.

“baiklah. Aku akan hitung dari tiga,” ujarku memulai, “sam.. i.. il..”

Sudah di mulai. Aku hanya tinggal menunggu waktu sampai kembang api – kembang api itu diluncurkan.

“apa aku boleh mengedip?” tanya nuna tiba-tiba.

“boleh” kataku. Tak mungkin aku biarkan mata nuna menjadi kering di malam dingin ini hanya untuk permainan kecil seperti ini. Bagaimanapun aku sayang nuna-ku. Aku tak mau nuna menjadi sakit.

“taeminie~ apa kau tak mau melihat pemandangan di bawah? Indah sekali, lho~” ujar nuna setelah kami terus bertatapan. Aku tersenyum lebar mendengarnya. Nuna sepertinya sudah hampir bosan.

“aku lebih bahagia memandang nuna daripada lampu-lampu itu” kataku sambil menaikkan sebelah alis.

“cih” nuna tersenyum mendengar kata-kataku.

Bianglala ini sudah bergerak turun lagi. Aku sedikit khawatir.

Kapan kembang apinya akan muncul~??

Syuuut~ Darr!

Nuna mengalihkan pandangannya dari mataku dan memandang sesuatu di belakang kepalaku. Aku bersorak girang dalam hati.

“taeminie, lihat! Kembang ap—mm“

Aku langsung menyerang bibir nuna. Aku tak peduli pada kembang api itu. Bibir nuna jauh lebih indah.

Nuna tidak memberontak, malah dia makin merapatkan bibirnya yang sudah menempel dengan bibirku.

Ini respon positif bagiku. Aku mengarahkan tangan nuna untuk memeluk leherku, di samping itu, tanganku sudah memeluk erat pinggang nuna.

Ini saatnya. Ini yang terakhir. Setelah ini aku tak akan meminta kiseu lagi.

Aku menggerakkan bibirku dengan perlahan, mencoba meraup bibir kecil nuna yang basah.

“umm” nuna mengerang pelan.

Seperti ada batu yang melonjak dari perutku saat aku mendengar itu. Aku semakin merapatkan tubuh kami berdua, terus mencoba meraup bibir nuna. Aku tak tahan, benar-benar tak tahan.

Nuna membalas ciumanku, nuna menggerakkan bibirnya juga di seberang bibirku.

Apa lagi yang kuinginkan agar lebih bahagia? Tak ada. Ini puncak kebahagiaanku. Nuna merespon ciumanku sementara kedua tangannya memeluk leherku, tak ada yang lebih membuatku bahagia daripada ini.

Aku mencoba menyelipkan lidahku ke dalam mulut nuna. Kalau ini yang terakhir, aku ingin merasakan semuanya. Dan aku cukup terkejut saat nuna membuka celah bibirnya. Tak kusangka nuna mengizinkanku. Lidahku sudah mulai bersentuhan dengan lidah nuna.

Greekk!!

“ehem! maaf, anda sudah sampai di bawah”

Nuna langsung menjauhkan tubuhnya dengan cepat. Wajah nuna memerah.

Aku menatap penjaga itu dengan garang.

Apa salahnya sih dia menunggu sebentar lagi saja??!

Aku langsung menarik tangan nuna dan segera menjauh dari penjaga sialan itu. Aku tak menghentikan langkahku sampai kami berada di halte bus. Untunglah bus datang tak lama saat kami mencapai halte bus yang kosong itu.

Dengan langkah cepat-cepat, aku tetap menarik tangan nuna sampai kami tiba di barisan paling belakang. Bus ini kosong, meski begitu aku lebih nyaman berada di bangku paling belakang. Aku mendudukkan tubuhku di kursi berwarna biru itu, dan nuna mengambil tempat duduk di sebelahku.

Napasku terengah-engah karena berjalan terlalu cepat. Nuna juga begitu. Aku mendengar desahan napasnya yang cukup keras.

Dengan masih memegang tangan nuna, aku menatap nuna yang memandang ke lantai bus. Wajah nuna masih merah. Bibirnya apalagi.

“nuna~” panggilku, berharap yang tadi masih bisa diteruskan. Tapi tangan nuna yang menutup bibirku yang kurasakan setelah itu.

“tidak, taemin. Sudah lewat tengah malam. Aku sudah bukan pacarmu lagi.” ujar nuna pelan.

Benar. Aku sudah bukan pacar nuna lagi.

“aku mengantuk, nuna. Bukankah masih ada ppoppo sebelum tidur?” elakku. Paling tidak aku masih bisa merasakan bibir nuna dengan ppoppo ringan.

Nuna menatapku, kemudian bibirku. Sebentar kemudian nuna mengangguk.

Ccuk!

Aku mengecup bibir nuna dengan cepat, tak mau berlama-lama menambah sakit di hatiku. Meski terpotong, aku cukup puas dengan ciuman yang tadi. Mulai saat ini aku tak akan meminta kiseu pada nuna lagi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri.

Aku merebahkan kepalaku di pundak nuna dan mulai menutup mata. Berharap kejadian di dalam bianglala tadi terulang lagi dalam mimpiku.

“jal jayo” bisik nuna kemudian.

Aku menghembuskan napas berat dan merubah posisi kepalaku agar lebih nyaman di pundak nuna.

Sudah untuk hari ini. Aku tidak akan menyusahkan nuna lagi dengan meminta kiseu. Untuk ke depannya hanya ppoppo saja. Hanya akan ada ppoppo saja.

Aku mencoba mengontrol napasku, membiarkan alam mimpi memasuki diriku.

###

Advertisements

6 thoughts on “FF/1S/It Will Be The Last [sequel of Nuna’s Diary (page 58-62)]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s