FF/S/Nuna’s Diary (page 58-62/PG)

= Nuna’s Diary =

Page: 58-62

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

Rating: PG

= = =

PRANGG!!!

Suara sesuatu yang pecah dari arah dapur. Aku langsung menegakkan tubuhku dari sofa dan berjalan cepat ke belakang.

“taemin?” panggilku.

Taemin berdiri di samping box cuci piring, di sekitar kakinya berserakan beling-beling kaca. Taemin menatapku dengan pandangan bersalah.

“mianhae~ gelas kesayangan nuna—“

“kau ini~ jangan bergerak dari situ” suruhku setengah kesal sambil mendekatinya. Dengan sigap aku membersihkan keping-keping kaca itu. Sepotong beling yang agak besar menggores ujung jariku, aku hanya menahannya saja.

“kau kena, tidak?” tanyaku pada taemin sambil mendongak ke atas. Taemin masih berdiri di tempat yang sama. Taemin menggeleng. Aku memfokus-kan lagi pandanganku ke beling-beling yang berserakan itu. Diam-diam, aku menghembuskan napas panjang. Gelas kesayanganku…

“mianhae, nuna. Tadi aku hanya bermaksud mencuci gelas nuna~” ujar taemin pelan. Mungkin helaan napasku terdengar olehnya.

Aku berdiri kemudian menatapnya.

“gwaenchanha. Yang penting kau tidak kena, ‘kan?” tanyaku lagi memastikan. Taemin menggeleng lagi. Sebentar kemudian dia melihat tanganku, “tangan nuna berdarah” katanya.

Aku mengangkat tanganku untuk melihatnya. Darah segar mengalir dari ujung telunjukku. Sepertinya agak dalam.

“hanya luka kecil” ujarku, berupaya tak terlihat kesakitan di depan taemin.

Tiba-tiba taemin menggenggam tanganku yang luka itu dan menghisap darah yang keluar dari telunjukku.

Jantungku langsung berdebar keras. Mata taemin tertutup sementara lidahnya yang basah bisa aku rasakan di ujung telunjukku. Aku menelan ludah.

“kalau diberi ludah akan cepat sembuh, nuna” kata taemin kemudian. Aku hanya menatapnya sedikit tak percaya. Taemin mengerutkan alisnya, “kenapa muka nuna merah?” tanyanya kemudian. Salah satu tangannya mencoba meraba pipiku. Aku tersentak kaget dan berusaha menjauh. Jantungku benar-benar sudah seperti mau meledak sekarang.

“a-aku akan membersihkan sisa-sisa kacanya. Kau masuklah ke dalam.” Ujarku menghindar darinya.

Aku balikkan tubuhku sehingga membelakanginya, pura-pura mencari kesibukan di box cuci piring, padahal entah apa yang aku lakukan.

Aku merasakan tangan taemin yang memegang lenganku setelah itu, dan dengan tangannya yang lain, dia membalikkan tubuhku hingga kembali menghadapnya. Aku tersudut, tak bisa beralih kemanapun. Di belakangku box cuci piring dan taemin menahan tubuhnya di depanku dengan menyandarkan kedua tangannya di box itu. Aku tak punya pilihan lain.

Aku menunduk sebentar sebelum dengan perlahan mencoba menatap wajahnya. Taemin sedang menatapku dengan pandangan lurus, tajam, dan entah kenapa aku membeku melihatnya. Wajah taemin terlihat tampan dengan rambutnya yang merah itu…

Ccuk~

Taemin mencium bibirku. Mataku masih terbuka sementara aku merasakan kecupan bibirnya di bibirku. Aku menelan ludah. Mata taemin tertutup. Harusnya saat ini aku juga menutup mata, tapi entah kenapa aku tak bisa.

Taemin melepas bibirnya dan membuka matanya. Dengan jarak kurang dari lima senti, taemin menatapku dalam. Sebentar kemudian, dia mengubah posisi kepalanya dan mengecup bibirku lagi.

Jantungku seakan-akan berhenti. Aku tahu ini salah, tapi entah kenapa aku menikmatinya.

“masuklah ke dalam, taemin. aku masih harus membersihkan ini” ujarku kemudian sambil menjauhkan wajahku dari wajahnya.

Mata taemin perlahan membuka dan dia menatapku dengan senyuman.

“aku akan tunggu nuna di ruang tv” ujarnya kemudian. Dia berjalan menjauhiku setelah itu.

Aku menghadap box cuci piring lagi setelah taemin benar-benar meninggalkan dapur. Kupegang letak jantungku.

Tidak. Ini salah. Tak seharusnya terjadi seperti ini.

Jantungku masih berdebar keras.

Apa yang tadi itu benar taemin adikku?? Sial! Sebenarnya apa yang terjadi denganku??

Hatiku benar-benar gelisah. Tak seharusnya hal seperti ini terjadi. Dia adikku. Ini tak bisa dibiarkan berlama-lama. Ini salah.

Aku membersihkan sisa beling yang berserakan dengan sapu dan segera menuju ruang tv secepat yang aku bisa. Semuanya harus diselesaikan sekarang, aku tak boleh menunda lebih lama lagi—aku tak boleh membiarkan diriku menikmati ini semua.

Taemin sedang duduk di sofa sambil menonton tv. Aku melihat layar tv dan sedikit tak percaya dengan channel yang dipilih taemin. Langkahku terhenti dan menatap taemin dengan heran.

Sejak kapan taemin suka berita dunia?? Dia selalu merengek dan menyuruhku mengganti channel kartun setiap harinya. Ada apa ini sebenarnya??

Tiba-tiba taemin menoleh ke arahku dan tersenyum.

“nuna, sini~” katanya sambil menepuk-nepuk bagian sofa kosong di sebelahnya. Aku berjalan mendekatinya dengan langkah ragu-ragu, dan dengan ragu-ragu pula aku duduk di sebelahnya.

“kau tidak nonton kartun, taemin?” tanyaku hati-hati.

Taemin tampak terkejut saat mendengar pertanyaanku. Aku jadi tidak enak hati.

Apa pertanyaanku salah?

“kenapa nuna mengubah cara memanggilku?” tanya taemin dengan alis berkerut.

Aku sedikit bingung.

Apa maksudnya?

“aku suka cara nuna menambahkan ‘i’ di belakang namaku, kenapa nuna mengubahnya?” tanya taemin lagi.

I? taemin-ie? Ooh, itu maksudnya. Benar juga, sejak kapan aku mengubahnya?

“aku tak merasa sudah mengubahnya” ujarku membela diri.

Taemin malah nyengir mendengar kata-kataku.

“nuna lucu~” katanya.

Digenggamnya tanganku setelah itu dan ditautkannya jari-jari tanganku dengan jarinya sendiri. Aku menatap tangan kami yang bertaut itu dan menelan ludah.

Tidak. Ini harus dihentikan.

“taeminie~ sudahlah~” ujarku setengah memelas.

Taemin langsung menoleh padaku.

“sudah kenapa, nuna?” tanyanya. Wajah polosnya hilang, digantikan dengan wajah seorang lelaki tampan berambut merah yang tampak ingin tahu.

Aku melihatnya dengan sedih, kemudian menghela napasku.

“taeminie~” mulaiku, “hentikan ini semua. Aku merindukan taemin-ku yang imut-imut” ujarku pelan. Kutatap kedua matanya.

“memangnya apa yang terjadi denganku?” taemin bertanya padaku. Wajahnya tak bisa kutebak. Antara tersinggung dan bingung—aku tak tahu yang mana.

Aku terus menatap dalam matanya.

“kau berbeda, taemin” ujarku pelan, hampir berbisik malah, “kau—“

“nuna, hari ini nuna janji mau mengajakku ke taman bermain, ‘kan?” potong taemin. Wajahnya terlihat polos, tapi itu hanya pura-pura, aku tahu itu.

“taeminie, kau tak seharusnya—“

“jam berapa kita akan pergi, nuna? Aku sudah tak sabar.” Kali ini taemin menambahkan dengan senyuman,  tapi bukan senyuman yang dari hati. Ini membuatku makin sakit. Aku menatap kedua matanya bergantian.

“taemin. Aku tak mau meneruskannya, kita—“

Perkataanku terhenti, kali ini bukan karena taemin memotongnya, tapi karena taemin membungkamnya dengan bibirnya sendiri. Taemin menciumku. Aku merasakan sentuhan bibir lembutnya di bibirku. Meski hanya bersentuhan, ini bukanlah ppoppo biasa. Taemin terlalu memberikan perasaannya di dalamnya.

Taemin melepas bibirnya sebentar kemudian dan menunduk. Kedua tangannya berada di pundakku. Dia tak berani menatap mataku.

“kalau nuna ingin menolakku, kumohon jangan sekarang, nuna,” erang taemin kemudian, “aku mohon”

Hatiku seperti teriris mendengar kata-katanya.

Apa yang harus aku lakukan?

Aku terus menatap taemin yang masih menunduk. Dia tampak rapuh.

“kita akan pergi setelah makan siang. Aku akan menemanimu sampai malam,” ujarku, masih menatap taemin yang terus menunduk, “hanya sampai malam.”

Taemin mengangguk tanpa melihatku. Dia kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.

Ini yang kedua kalinya dalam hari ini aku ditinggalkan taemin dengan hati tak tenang. Pikiranku kacau. Aku tak tahu mana yang salah dan mana yang benar saat ini. Aku hanya berharap semua akan berjalan dengan baik di taman bermain nanti.

~~~

“sudah hampir tengah malam, taeminie~ sebaiknya kita pulang” ujarku pada taemin. Rambutnya yang sedikit basah berkibar pelan saat menoleh ke arahku.

Sesorean ini kami sudah berada di taman bermain yang terletak di pinggiran kota. Dan sepanjang sore ini juga taemin tak mau melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.

Taemin balas menatapku. Entah hanya perasaanku saja, tapi wajahnya terlihat sedih.

“wahana terakhir, nuna. Jebaal~” pintanya.

Aku menghembuskan napas berat. Bajuku agak basah dan terasa lengket karena wahana yang menyemprotkan air yang kami naiki tadi.

“baiklah, terakhir. Kau mau naik apa?” kataku lagi.

Taemin tersenyum menatapku dan kemudian menunjuk sebuah wahana yang menjulang tinggi. Mungkin sengaja diletakkan di dataran yang lebih tinggi oleh pengelolanya agar seluruh bagian taman bermain ini terlihat dari atas puncaknya. Lampu kecil-kecil yang mengelilingi wahana itu menambah keindahannya.

“bianglala?” tanyaku memastikan. Taemin menjawabnya dengan senyuman dan anggukan.

“baiklah~” kataku lagi.

Taemin langsung menarik tanganku dan berjalan cepat menuju bianglala itu. Dia tampak sedikit tak sabar. Seharian ini, baru sekarang taemin terlihat sedikit imut. Melihat langkahnya yang besar-besar itu seperti seorang anak kecil yang mengejar permen kesukaannya. Meski aku agak susah mengimbangi langkahnya, aku senang melihatnya.

Penjaga bianglala tersenyum saat melihat kami datang. Aku tak tahu kenapa wahana ini agak sepi, padahal seharusnya ramai. Hanya ada beberapa pasangan lain yang mengantri di belakang kami. Mungkin karena sudah hampir tengah malam.

Taemin memegang tanganku dengan erat dan membantuku naik ke dalam ruangan bundar bianglala itu. Dia kemudian mengajakku duduk di sebelahnya.

“selamat menikmati wahana kami” ujar si penjaga dengan senyum lebar sebelum dia menutup pintu.

Grekk~

Kami mulai bergerak ke atas. Tanganku masih terus digenggam taemin dan aku merasa keadaan sangat canggung sekarang.

“setelah ini, nuna tak jadi pacarku lagi, ‘kan?” ujar taemin tiba-tiba.

Aku terperanjat mendengar kata-katanya. Aku menundukkan kepalaku dan menggeleng.

Tangan taemin makin menggenggam erat tanganku.

“aku ingin satu permintaan, nuna” kata taemin kemudian. Aku hanya mendengarkannya, tak berani menatap wajahnya.

“nuna, lihat aku dulu” kata taemin lagi. Dengan telunjukknya, dia memaksaku agar melihatnya. Aku menatap taemin dengan jantung yang berdebar keras. Tak dapat petunjuk kira-kira apa yang akan dipintanya.

Tiba-tiba taemin tertawa melihatku, membuatku sedikit bingung.

“hahaha~ nuna~ jangan tengang begitu~ santai saja~” kata taemin di selingan tawanya.

Aku tersenyum mendengarnya. Apa wajahku berubah jadi tegang seperti itu?

“baiklah~ kau minta apa, taeminie~?”

Kami sudah hampir sampai puncak, dan bianglala ini terus bergerak pelan.

Taemin membersihkan tenggorokannya, kemudian menatapku lagi.

“aku ingin bermain dengan nuna,” katanya, “nuna tidak boleh menolak karena ini permintaan terakhirku sebagai pacar nuna”

Aku mengangguk.

“Bagaimana permainannya?” tanyaku.

“aku hanya meminta nuna memandangku sampai bianglala ini berhenti di bawah. Nuna hanya boleh memandangku, tak boleh memandang yang lain. Dan kalau nuna sedetik saja memandang ke arah lain..”, kata taemin, “..aku akan kiseu nuna.”

Oke, permainan yang cukup mudah. Aku hanya perlu menatap matanya sampai kami tiba di bawah. Kalau hanya itu, kurasa aku bisa.

“kita mulai sekarang?” tanyaku menantangnya. Taemin tersenyum kecil mendengar kata-kataku.

“baiklah. Aku akan hitung dari tiga,” ujar taemin, “sam.. i.. il..”

Aku mulai menatap mata taemin. Dia juga balas menatapku. Taemin tersenyum, membuatku ingin tersenyum juga.

“apa aku boleh mengedip?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari matanya.

“boleh” jawab taemin seadanya. Dia tersenyum lagi.

Kami sudah berada di puncak bianglala sekarang. Dari sudut mataku, cahaya lampu yang tersebar di bawah terlihat. Kalau saja aku tak mengikuti permainan ini, aku pasti bisa menikmati keindahannya sekarang.

“taeminie~ apa kau tak mau melihat pemandangan di bawah? Indah sekali, lho~” ujarku.

Senyum taemin makin melebar.

“aku lebih bahagia memandang nuna daripada lampu-lampu itu” ucap taemin kemudian. Aku mendengus pelan mendengarnya.

Kami terus bertatapan. Aku mencoba mendalami mata taemin, menebak apa kira-kira yang dipikirkannya sekarang. Ini cukup menyenangkan sebenarnya, meski lama-lama membuatku bosan juga.

Tiba-tiba semburat cahaya kerlap-kerlip terlihat dari sudut mataku. Cahaya itu berada di belakang kepala taemin, jauh di luar sana. Beberapa cahaya lain menyusul cahaya yang pertama.

“taeminie, lihat! Kembang ap—“

Taemin membungkam mulutku dengan bibirnya. Salah besar aku mengalihkan pandanganku ke kembang api itu. Harusnya aku tak perlu melihatnya.

Bibir taemin mengunci rapat bibirku. Aku tak punya pilihan lain selain menutup mata. Permainan ini berakhir, aku sudah kalah.

Taemin memindahkan tanganku ke belakang lehernya, secara tidak langsung menyuruhku untuk memeluk lehernya. Sementara itu, taemin melingkarkan tangannya di pinggangku.

Bibir taemin bergerak pelan di seberang bibirku. Aku terkejut. Tak pernah sebelumnya dia seperti ini. Biasanya dia hanya menempelkan bibir kami saja. Tapi ini…

Sudah terlambat untuk mundur. Aku sudah menikmati ciuman taemin bahkan sebelum menyadari kalau semua yang terjadi ini salah. Tak seharusnya kami seperti ini. Dan yang paling membuatku kesal, aku tak mau menghentikannya sekarang.

Taemin menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku.

Oh, tidak.. ini tak boleh terjadi.

Greekk!

“ehem! Maaf, anda sudah sampai di bawah”

Kami berdua saling menjauhkan diri. Taemin langsung menyambar tanganku dan kami segera keluar dari ruangan sempit itu. Aku sangat malu pada penjaganya. Tapi aku lebih malu pada diriku sendiri yang tak bisa mengontrol akal sehatku atas apa yang terjadi tadi.

Taemin terus berjalan cepat menuju pintu keluar taman bermain. Sebentar saja, kami sudah sampai di halte bus, dan untunglah tak lama kemudian sebuah bus berhenti di depan kami.

Taemin masih menarik tanganku saat kami naik ke dalam bus. Dia memilih tempat duduk paling belakang di bus ini. Karena sudah lewat tengah malam, bus ini sepi. Hanya ada kami berdua dan seorang penumpang lagi di kursi bagian depan.

Aku mencoba mengontrol napasku. Semua terjadi sangat cepat mulai dari kami turun dari bianglala tadi hingga sekarang sudah berada di atas bus. Semua kejadian tadi berputar lagi di kepalaku. Wajahku terasa panas.

“nuna~” panggil taemin tiba-tiba. Aku langsung menoleh ke arahnya.

Taemin mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mulai menutup matanya.

“tidak, taemin. Sudah lewat tengah malam. Aku sudah bukan pacarmu lagi.” ujarku sambil menutup bibirnya dengan tanganku.

Taemin menatapku dengan tatapan yang lagi-lagi tak bisa ditebak.

“aku mengantuk, nuna. Bukankah masih ada ppoppo sebelum tidur?” kata taemin kemudian, ekspresinya terlihat datar.

Aku terdiam mendengar kata-katanya dan kemudian mengangguk pelan.

Ccuk!

Taemin mencium bibirku cepat lalu meletakkan kepalanya di atas pundakku.

“jal jayo” bisikku.

Aku membasahkan lidahku dan melihat keluar jendela. Kami hanya harus naik satu bus ini saja untuk sampai ke rumah, dan masih ada satu jam lagi sampai kami turun.

Aku melihat taemin lagi yang sudah mendengkur pelan di pundakku. Beban kepala taemin yang bersandar di pundakku tak seberat beban yang ada di hatiku sekarang.

Aku menghembuskan napas panjang.

“mianhae, taeminie~”

###

PS: nuna’s diary another side of us (nuna, i don’t care although we’re on bus) [password protected] berhubungan ama part yang ini^^

Advertisements

2 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 58-62/PG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s