FF/S/Nuna’s Diary (page 63-71) special Taemin’s birthday

= Nuna’s Diary =

Page: 63-71

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“hey, taeminie!”

Saat kubuka pintu kamarnya, taemin sedang duduk di atas kasurnya sambil membaca majalah. Taemin melihatku dan tersenyum. Dia menutup majalahnya dan melipat kakinya, memberi ruang untukku agar bisa duduk di depannya.

“nuna sudah pulang?” tanyanya dengan muka polosnya.

Aku mengangguk sebagai jawaban dan kemudian duduk di pinggir kasurnya.

“taeminie, aku ingin menanyakan sesuatu—apa kau sedang sibuk?” tanyaku.

Taemin menggeleng sebentar, senyumnya masih mengembang.

“aniyo,” jawabnya, “apa nuna ingin bertanya itu saja?”

Aku menjitak pelan kepalanya.

“tentu saja tidak, babo!”

Taemin langsung manyun.

“ya sudah. Aku tidak mau jawab.” Taemin mengalihkan wajahnya, pura-pura tak mau bicara denganku.

“ya! Ya! Baiklah~ dasar kau!” gerutuku. Sedetik kemudian aku merubah mimik mukaku, “Taeminie~ adikku yang pintar dan tampan~ jawab pertanyaanku, ya~?”

“hehehe~”, taemin langsung nyengir, “baiklah, nuna. Nuna mau tanya apa?”

Aku tersenyum sebentar padanya.

“aku ini orangnya seperti apa?”

Taemin langsung mengerutkan alisnya.

“kenapa pertanyaannya susah sekali?” protesnya.

“kenapa susah? Tinggal jawab saja.”

“itu susah tahu, nuna!”

“susah bagaimana?? Kau ‘kan tinggal jawab saja!” aku mulai kesal.

Masa pertanyaan seperti itu saja dia susah menjawabnya?

“nuna ini! itu jawabnya susah, nuna!” taemin malah bersikeras, “ya sudah, aku tak akan jawab!”

Aku terkejut dengan ancaman taemin. Aku langsung melunakkan mimikku.

“taeminie~ jangan begitu~” aku sedikit merengek pada taemin, “jawab pertanyaanku, ya~?” pintaku lagi. Kukedip-kedipkan mataku.

“hehehe~” taemin malah nyengir sambil melihatku, “nuna lucu~~” katanya. Yang membuatku terkejut, taemin mencubit pipiku.

“heh! Tidak sopan! Jangan cubit pipiku sembarangan. Aku ini lebih tua darimu!” ujarku sedikit keras.

“ah, nuna ini sok tua. Cuma lebih tua enam bulan saja. Lagipula hari ini kan umurku sudah sama dengan umur nuna~” taemin memberengut.

“jadi aku ini orang yang bagaimana, taeminie~~?” aku mengungkit topik tadi lagi, tak mau sampai lupa karena omongan taemin yang berbelit-belit.

“nuna itu…” taemin memulai perkataannya, ditatapnya aku dalam-dalam, “nuna itu…” ulang taemin lagi.

Aku mulai tak sabaran.

“ne, aku kenapa??” ujarku.

“nuna itu yaa…” kata taemin, dia menatapku lagi, “nuna itu nunaku.”

Aku menghembuskan napas berat.

“taeminie~ kalau yang itu aku tahu~,” ujarku lemas, “maksudku, aku ini orang yang seperti apa? Kalau misalnya kau bukan adikku, kau melihat aku sebagai orang yang bagaimana?”

Aku cubit pipi taemin karena geram. Anak satu ini susah diajak bicara serius.

“kalau aku bukan adik nuna dan nuna bukan nunaku, pasti aku menjadikan nuna sebagai pacarku.” Jelas taemin.

“taeminiee~~~~~~” aku benar-benar sudah tak sabaran, “aku bertanya serius tapi kau malah menjawab seperti itu~~~” kali ini aku yang merengek. Terserah taemin mau menganggapku seperti anak kecil atau apa.

“hehehehe~~”

Ccuk!

Taemin mencium bibirku cepat.

“taeminie~!!”

Ccuk! Ccuk!

“aa~ taeminiee~~”

Ccu~~uk!!

“nuna jangan bikin aku tak tahan~~” ujar taemin kemudian. Aku memandangnya sedikit kesal.

“baiklah, aku tak akan bertanya lagi padamu. Silakan lanjutkan membaca majalah, aku pergi.”

Aku sudah ingin beranjak ketika tiba-tiba taemin menarik tanganku. Tubuhku langsung terjerembab lagi ke kasur dan posisiku tepat berada di depan taemin, lebih tepatnya aku duduk di pangkuannya.

“taemi—“

“nuna di sini sajaa~~” ujar taemin kemudian. Dia memeluk tubuhku erat-erat. “uung~ aku sayang nuna~~” taemin mengeratkan pelukannya. Senyumku tak bisa ditahan. Aku tersenyum di dadanya dan membalas pelukan hangatnya.

“haha kalau seperti ini rasanya aku yang jadi adikmu.” kataku tiba-tiba. Bahkan aku terkejut dengan perkataanku sendiri.

“benar juga! Kita main adik-adikan saja, nuna!” kata taemin cepat. Wajahnya terlihat berbinar. “selama satu hari, aku yang jadi oppa-nya, lalu nuna yang jadi dongsaeng-nya. Permainannya seru ‘kan, nuna?”

Aku tertawa dan mencubit hidungnya.

“kau ini selalu suka permainan ya, taeminie~” ujarku menahan senyum. Lucu juga kami mengobrol seperti ini dengan aku yang masih duduk di pangkuannya.

“ne!” jawab taemin cepat seolah tak peduli, “bagaimana, nuna? Mau main tidaak~?” tawar taemin lagi.

“sepertinya tidak menarik.” Ujarku pura-pura tak setuju.

“aa~~ nuna~~ hanya sehari sajaa~~” rengek taemin kemudian. Aku tahu akhirnya dia akan merengek kepadaku.

“emm..” aku masih bertahan untuk pura-pura tak setuju.

“ayo kita main, nunaaa~~~~” rengek taemin lagi. Aku akhirnya tak tahan dan tersenyum kepadanya.

“baiklah” ujarku kemudian.

Sedetik kemudian taemin memelukku dengan erat.

“kalau begitu, mulai sekarang sampai nanti malam kalau nuna memanggilku, panggil aku ‘oppa’, arachi?” kata taemin kemudian setelah memelukku.

Haha, dia sudah memakai kata ‘arachi’ yang sering aku pakai sekarang. Terdengar lucu.

“arachi..” aku menganggukkan kepalaku, “..oppa” sambungku lagi. Taemin langsung tersenyum lebar.

“bagus. Anak pintar. Hahaha~!” kata taemin lagi setelah itu. Dia tertawa oleh kata-katanya sendiri. Tapi entah kenapa taemin yang seperti ini tampak makin imut.

“sudah, oppa? Sudah hampir waktu makan siang. Aku ingin menyiapkannya sekarang” ujarku memulai permainan.

“ne! tentu saja!” kata taemin sambil melepaskan pelukannya dari pinggangku. Aku langsung berdiri dan menuju ke luar kamarnya. “buat yang enak ya, yeongmi-ya!” sambung taemin tiba-tiba. Aku menutup pintu kamarnya dengan melotot pada taemin. Sebelum pintu benar-benar menutup, kudengar gelak tawa taemin dari dalam kamar.

***

Setelah makan siang taemin izin kepadaku untuk pergi ke rumah temannya. Untuk mengerjakan tugas libur musim panas, katanya. Janjinya dia akan sampai di rumah sebelum pukul empat. Tapi sekarang sudah pukul lima lewat taemin belum juga terlihat.

Handphone-ku tiba-tiba berbunyi.

Kulihat sebentar nama yang tertera di layar sebelum mengangkatnya.

Jonghyun oppa.

“yeoboseyo?” ujarku dengan sedikit menahan senyum.

“yeongmi-ya. Kau di mana?”

Terdengar suara yang sudah familiar di telingaku.

“aku di rumah, oppa. Ada apa?”

Hatiku bertanya-tanya mengapa kira-kira jonghyun oppa menelponku. Aku sedikit berharap dia akan mengajakku pergi keluar. 

“aku ingin mengajakmu makan malam di luar malam ini. Apa kau ada waktu?”

Hatiku langsung bersorak gembira. Benar ternyata dia ingin mengajakku keluar. Tapi sayang sekali, aku harus menolaknya.

“mianhae, oppa. Aku sudah janji dengan taemin malam ini” ujarku pada telpon dengan penuh rasa penyesalan. Yah, aku benar-benar menyesal tidak pergi dengannya. Tapi bagaimanapun ulang tahun taemin lebih penting. 

“siapa taemin?”

Nada suaranya terdengar sedikit meninggi daripada yang biasa. Bukan respon yang aku inginkan sebenarnya, tapi aku tak bisa bohong kalau aku juga merasa gembira. Apakah dia cemburu? Hahaha.

“taemin itu adikku, oppa. Bukankah aku sudah cerita?”

Aku sengaja merubah nada suaraku agar terdengar sedikit kurang yakin kalau aku sudah cerita mengenai taemin dengannya. Padahal aku ingat sekali saat itu aku menceritakan mengenai taemin kepadanya di salah satu kafe yang kami datangi.

“oh, ya. Aku lupa kau punya adik.” Kata jonghyun oppa dari seberang telpon, nada suaranya sedikit melunak, “jadi kau tak bisa bertemu denganku malam ini?” tanya jonghyun oppa lagi. Aku tak bisa membohongi diriku kalau dari suaranya, jonghyun oppa benar-benar menginginkan aku ikut makan di luar dengannya malam ini.

“aku benar-benar minta maaf, oppa. Aku sudah berjanji dengan taemin dari tadi pagi kalau kami akan makan malam bersama. Dia ulang tahun hari ini, aku tak mau mengecewakannya di hari ulang tahunnya.” Jelasku pada jonghyun oppa. Aku tak suka membuatnya merasa kecewa karena aku tak bisa menerima ajakannya, tapi aku lebih tak ingin lagi taemin kecewa karena aku membatalkan janji di hari ulang tahunnya. 

“aku kurang beruntung hari ini. kalau begitu, nanti aku akan menghubungimu lagi. Annyeong~”

“annyeong, oppa~”

Klik!

Aku menekan tombol merah di handphone-ku.

“oppa siapa?”

Sebuah suara dari belakangku sedikit mengagetkanku. Aku langsung menoleh ke asal suara dan menemukan taemin yang berdiri di samping sofa dengan tas ransel di salah satu pundaknya.

“taeminie, kau sudah pulang~?” ujarku menyambutnya dan kemudian aku terkejut dengan perubahan yang terjadi dengannya, “kau mengecat rambutmu jadi kuning? Kenapa tadi sebelum pergi tak bilang padaku?”

“oppa siapa, nuna?” tuntut taemin.

“hanya teman,” ujarku sepele, “kau ingin aku buatkan apa malam ini, taeminie~?”

Tiba-tiba taemin berjalan cepat mendekatiku dan berdiri tepat di depanku. Pandangan matanya kepadaku entah kenapa membuatku merasa bersalah.

“ada apa?” tanyaku sedikit takut padanya. Tatapannya benar-benar membuat perasaan jadi tidak enak.

“panggil aku ‘oppa’. Tadi nuna sudah janji.”

“oh, mian. Aku lupa, oppa” ujarku remeh.

Ekspresi wajah taemin tak berubah. Masih tampak sedikit menakutkan. Padahal harusnya dia terlihat makin imut dengan rambut blonde-nya itu. Tambah lagi dia sedikit memotongnya, mengingatkan aku dengan taemin tiga tahun yang lalu.

“kiseu oppa-mu ini” ujar taemin lagi.

Aku terdiam dan hanya bisa memandangnya dengan tatapan tak percaya.

Kata-kata taemin barusan itu suruhan, terlihat dari nada suaranya yang tegas.

“a-aku—“

Grepp!

Tiba-tiba taemin memelukku erat. Aku hanya bisa terkejut sambil memandang dinding di seberangku.

“aku ingin hanya ada satu oppa hari ini, nuna.” Ujar taemin kemudian, “tolong katakan ‘oppa’ hanya padaku saja. Hanya hari ini saja.”

Nada suara taemin mengiris hatiku. Dia memohon padaku, nada suaranya terdengar seperti itu.

“mianhae” bisikku pelan. Tak ada lagi yang bisa kukatakan, hanya itu.

Tiba-tiba dengan gerakan cepat, taemin melepas pelukannya dariku dan memandangku dengan tatapan berbinar lagi.

“bagaimana potongan rambut baru oppa ini?” tanyanya.

Aku tersenyum dengan sedikit bingung.

Barusan dia terlihat seperti memohon padaku dan dua detik kemudian dia sudah kembali ceria seperti ini. Apa aku dibohongi?

“kau makin imut” ujarku jujur.

“nuna suka?” tanyanya lagi.

“ya aku suka, oppa”

Taemin tersenyum lebar.

“aku juga suka nuna terus memanggilku dengan sebutan ‘oppa’.” Kata taemin kemudian.

“hehe” aku tersenyum sebentar, “mau membantuku memasak?” tawarku.

Taemin mengangguk cepat-cepat.

***

“jal meoggesseumnida~~” ujar taemin, setelah itu dia langsung menyambar sumpitnya.

Ding dong!

Tanganku yang hendak mengambil sumpit berhenti di udara. Aku menoleh ke arah pintu depan.

Siapa yang datang jam segini?, aku bertanya-tanya dalam hati.

“aku akan buka pintunya. Kau makan saja duluan” ujarku dan segera beranjak dari kursi.

Dengan langkah cepat-cepat aku meraih pintu depan dan membukanya.

Dan aku disambut dengan senyuman jonghyun oppa.

“oppa!” ujarku sedikit keras. Sedetik kemudian aku sadar dan merasa bodoh dengan suaraku yang tak bisa dikontrol. Orang di depanku malah tersenyum makin lebar melihat responku.

“annyeong,” ujarnya dengan senyumnya, “aku kebetulan lewat di depan sini dan ingin mampir sebentar.”

“masuk dulu, oppa. Kami baru saja ingin makan malam.” Ajakku,  berusaha sesopan mungkin di depannya.

“ah, ani, ani. Aku hanya ingin melihatmu saja, aku tak mau menghancurkan acara kalian” pandangan jonghyun oppa yang mengarah ke sebelah kiriku menyadarkan aku ternyata taemin sudah berdiri di sebelahku. “ini adikmu?” tanya jonghyun oppa kemudian dengan wajah ingin tahu.

“aku oppa-nya—“

“adikku. Ne, oppa benar, dia adikku” aku langsung memotong kata-kata taemin. aku tak mau semuanya menjadi kacau. Taemin bisa menghancurkan suasana hanya dalam waktu sedetik saja jika dia ingin.

“oh?” pandangan jonghyun oppa sedikit terlihat bertanya-tanya padaku, “saengil chukhahae, kalau begitu.” Ujarnya pada taemin, lagi-lagi wajahnya tampak tak bisa ditebak.

“gomapta” ujar taemin singkat.

Tiba-tiba taemin melingkarkan tangan kanannya di pinggangku. Ini membuatku sedikit terkejut.

“aku sudah lapar, ayo kita makan” taemin mendekatkan wajahnya kepadaku dan mengecup pipiku.

“taemin!” protesku.

Apa-apaan anak ini?! Apa dia harus melakukannya di depan jonghyun oppa?

“ani, ani. Aku memang sudah akan pulang. Sebaiknya kalian melanjutkan acara kalian.” Kata jonghyun oppa.

Aku benar-benar merasa tak enak. Dengan mencoba menjauh dari dekapan taemin, aku mencoba mengajak jonghyun oppa lagi. Aku tak mau terlihat buruk di depannya.

“apa tidak mau masuk sebentar, oppa? Kita bisa makan bersama—“

“terima kasih sudah datang. Kami akan segera makan.” Taemin memotong perkataanku dan segera mencium bibirku.

Aku langsung mendorongnya keras dan menatap jonghyun oppa yang terlihat lebih terkejut daripada aku.

“a-aku akan pulang kalau begitu. Annyeonghaseyo” ujar jonghyun oppa kemudian dengan terbata-bata.

Jonghyun oppa segera menghampiri mobilnya dan sebentar kemudian sudah hilang dari pandanganku.

Aku menghempaskan tangan taemin yang masih dilingkarkannya di pinggangku.

“APA MAKSUDMU??”

Aku meledak. Terserah hari ini ulang tahunnya atau apa. Aku tak peduli. Taemin benar-benar sudah keterlaluan.

“KENAPA KAU HARUS LAKUKAN ITU??!!”

Taemin tak menggubrisku. Dia hanya menatapku dengan pandangan tajamnya.

Blamm!!

Aku membanting pintu depan yang masih terbuka.

“TERSERAH KAU SAJA, TAEMIN!!”

Aku langsung berjalan cepat menuju kamarku. Air mata sudah mengalir di pipiku.

“nuna janji akan memanggil ‘oppa’ hanya padaku saja hari ini”

Aku mendengar suara taemin yang sedikit keras sebelum aku mencapai kamarku. Aku langsung menoleh cepat padanya.

“tidak lagi sekarang!!”

BLAMM!!

Aku membanting pintu kamarku dan segera menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Air mataku sudah mengalir deras tanpa bisa ditahan.

Taemin benar-benar keterlaluan. Dia tak seharusnya melakukannya di depan jonghyun oppa. Seharusnya dia mengerti keadaan. Seharusnya dia mengerti posisiku.

Aku tak dapat petunjuk kenapa taemin harus mencium bibirku di depan jonghyun oppa. Taemin terlalu egois. Apa salahnya aku memanggil ‘oppa’ kepada pria yang kenyataannya memang lebih tua dariku?? Aku tak mungkin memanggilnya dengan ‘jonghyun’ saja secara tiba-tiba. Betapa tidak sopannya itu. Taemin seharusnya mengerti.

Aku terus menangis. Aku tak peduli isakanku terdengar sampai keluar kamar. Taemin harus tahu bahwa aku benar-benar kecewa dengannya.

***

Saat aku terbangun, jam di kamarku menunjukkan sudah hampir pukul dua. Dari jendela yang tak memperlihatkan cahaya sedikitpun aku langsung sadar kalau sekarang jam dua pagi.

Dengan kepala yang masih sedikit pusing, aku melihat ke sekeliling kamar dan mataku terpaku pada bungkusan berwarna kuning di atas mejaku. Itu hadiah untuk taemin yang belum sempat aku berikan kepadanya. Aku menatap hadiah itu dengan pandangan menerawang.

Tiba-tiba suara teriakan wanita yang sedikit keras memecahkan lamunanku. Datangnya teriakan itu dari ruang keluarga. Aku segera berjalan cepat keluar kamarku.

Taemin yang ada di sana, duduk di atas sofa dengan lutut dipeluk dan sedang menonton film horor. Aku tahu dia tidak suka film horor, bahkan dia membencinya.

Aku berjalan mendekatinya.

“kenapa kau belum tidur?” ujarku. Sedikit menyesal setelah itu karena tak bisa menyembunyikan nada kesalku.

Taemin tak menjawab. Matanya terus terpaku pada layar televisi.

Aku juga tak suka film horor, sama sepertinya. Tapi entah kenapa hatiku menyuruhku menemaninya menonton film ini malam ini. Jadi aku duduk di sebelahnya.

Kami terus menonton dalam diam. Keadaan benar-benar canggung. Aku masih marah padanya, dan kalau tebakanku benar, taemin juga marah padaku.

Saat iklan, aku melihat ke arah jam yang ada di ruang keluarga. Waktu masih tak terlalu berubah dari saat aku melihat jam di kamarku tadi. Satu hal yang aku sadari kalau hari ulang tahun taemin sudah berakhir dua jam yang lalu.

“nuna” panggil taemin tiba-tiba.

Aku menoleh padanya dengan gerakan perlahan.

“mianhae” kata taemin lagi.

Aku hanya menatap wajahnya dari samping. Saat itu baru aku sadar kalau matanya sudah bengkak. Sepertinya dia juga menangis dari tadi.

“gwaenchanha” ujarku pelan, “aku juga minta maaf”

Ternyata tidur beberapa jam sedikit mencerahkan otakku. Lagipula rasanya memang aneh bermusuhan dengan adik sendiri. Di tambah lagi kami bermusuhan di hari ulang tahunnya.

“ini benar-benar ulang tahun terburuk yang pernah aku alami, nuna” ujar taemin kemudian.

Aku terdiam mendengarnya. Bingung antara merasa bersalah atau marah dan menyalahkannya bahwa semua yang terjadi tadi berawal darinya. Pada akhirnya aku hanya diam mendengarkannya.

“aku sudah egois pada nuna. Harusnya dengan bertambahnya umurku aku harus lebih dewasa. Mianhae, nuna” taemin sudah mulai terisak. Aku hanya memperhatikannya dari samping. Taemin menundukkan kepalanya dan terlihat kesusahan menahan tangisannya. Aku tak tega melihatnya.

“kemari, peluk aku” ujarku kemudian sambil merentangkan tanganku.

Dengan gerakan pelan taemin memelukku. Dia mulai susah mengontrol napasnya karena dia terus mencoba menahan tangisannya.

“sudah, menangis saja” ujarku pelan sambil membelai rambutnya dengan lembut.

Taemin mempererat pelukannya.

“nuna~ ulang tahunku hancur berantakan~ ini tak terasa seperti hari ulang tahunku~” taemin mulai menangis dengan keras setelah berkata seperti itu.

Aku tahu dia hancur. Siapa yang menginginkan bermusuhan dengan saudara sendiri saat hari ulang tahunnya?

Aku menghembuskan napas berat. Aku tak bisa berkata apapun. Sedikit rasa kesal masih tertinggal di dalam hatiku, meski begitu aku benar-benar iba melihat taemin.

Taemin kemudian mencoba menghentikan isakannya. Aku menggosok punggungnya pelan untuk menghilangkan bebannya.

Tiba-tiba taemin melepaskan pelukan dan menatapku dengan mata merahnya itu.

“nuna, mianhae” ujarnya lagi. Aku hanya tersenyum padanya dan mengangguk. Mataku sudah berair. Tinggal tunggu sebentar lagi sampai airmataku jatuh.

“tunggu sebentar di sini” ujarku kemudian.

Dengan setengah berlari aku mencapai kamar dan segera menyambar bungkusan hadiah untuk taemin. Dan dengan cepat juga aku kembali ke depan taemin.

“hadiahmu,” aku menyerahkan hadiah itu kepada taemin, “mian aku terlambat menyerahkannya”

Taemin hanya menatap hadiah itu dengan tatapan tak percaya. Kemudian dia menerimanya dan segera membuka bungkusan berwarna kuning itu.

Taemin terdiam melihat isi bungkusan itu. Aku membelikannya sepasang sepatu. Tak terlalu mahal dibandingkan hadiah yang aku berikan padanya tahun lalu.

“mianhae, aku hanya bisa membelikan itu. Pengeluaran kita bulan ini banyak, jadi aku—“

“aku senang nuna membelikan aku sepatu baru. Aku senang nuna membelikan aku hadiah. Aku suka sepatu ini” Taemin memotong ucapanku. Senyumnya mengembang lebar. Matanya sedikit berair karena habis menangis tapi malah itu membuatnya terlihat semakin manis.

“aku senang kau suka.”

Aku tersenyum kepadanya. Tapi sedetik kemudian senyumku menghilang. Aku baru sadar kalau dari tadi taemin melihatku dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Tatapan yang sama dengan saat kami berada di bianglala saat berada di taman bermain sebulan yang lalu.

“apa kau.. mau mengatakan sesuatu, taeminie?” ujarku perlahan.

Taemin tetap menatapku.

“sebenarnya… aku ingin meminta hadiah pada nuna, tapi aku…” taemin memulainya dengan ragu, sedetik kemudian dia tampak berpikir keras. Selama itu dia tetap terus menatapku dan tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya.

“kau mau minta apa?” tanyaku sedikit cemas.

Tebakanku ada dua. Yang pertama, dia sebenarnya ingin hadiahnya berupa barang elektronik yang jauh lebih mahal. Atau tebakan yang kedua…

“aku—ani, ulang tahunku sudah lewat nuna. Aku sudah tidak bisa minta hadiah lagi” ujar taemin kemudian. Wajahnya tampak sedikit kecewa dan terlihat sedih. Aku tak tahan melihatnya seperti itu.

Bayangan saat aku membanting pintu tadi terlintas di benakku. Mungkin saat itu aku tidak sadar, tapi sekarang baru aku bisa mengingat betapa sakitnya wajah taemin saat aku memarahinya tadi.

“katakan saja taeminie, anggap saja ini hadiah bonus karena tadi aku marah padamu”

Taemin tampak gelisah saat aku berkata seperti itu.

“emm” taemin mulai bicara, “nuna, aku—aku sudah sembilanbelas—”

“delapanbelas” ralatku.

“baiklah, delapanbelas. Jadi aku…”

Jantungku berdebar keras di dalam, tapi sebisa mungkin aku tak memperlihatkan bahwa aku merasa tegang di depan taemin. Jangan bilang tebakan kedua-ku ternyata benar.

“aku ingin…” taemin mulai bicara lagi.

Tapi setelah itu dia tak melanjutkan kata-katanya. Dia hanya memandangiku penuh arti. Mungkin lebih tepatnya dia memandangi bibirku. Sorot matanya terpaku di daerah mulutku, dan sadar atau tidak, aku sudah tahu kalau yang diinginkannya itu…

“…kiseu, nuna” bisiknya pelan sambil mengalihkan pandangannya dari bibirku ke mataku.

Aku mengedipkan mataku sekali.

Dia ingin kiseu. Bukan kiseu yang biasa. Bukan kiseu yang selama ini disebut taeminie-yang-polos dengan kiseu. Dan aku yakin kiseu yang diinginkannya ini mungkin lebih daripada kiseu saat kami berada di bianglala. Aku yakin.

“tidak usah saja, nuna. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan meminta kiseu dari nuna lagi. Maafkan aku sudah meminta kiseu. Mianhae.” Taemin mengalihkan pandangannya dan kemudian dia menunduk.

Aku terus memperhatikannya yang terlihat gelisah.

“kau mau kiseu, ‘kan?”

Taemin menatapku lagi.

“tidak usah, nuna, tidak apa-apa. Aku sudah tidak ingin merepotkan nuna lagi dengan terus meminta kiseu—“

“kalau aku yang ingin memberinya, bagaimana?”

Entah setan apa yang menyuruhku berkata seperti itu. Kalimat itu melompat begitu saja dari mulutku.

Taemin sama terkejutnya denganku. Dia menelan ludahnya.

“nuna, aku—mm“

Mungkin aku sudah gila. Aku menarik baju kaos taemin dan menciumnya.

-skip-

Teriakan dari televisi mengejutkan aku dan taemin. Aku lupa televisi masih menayangkan film horor. Taemin mengangkat sedikit wajahnya. Hidung kami bersentuhan.

“nuna, kepalaku panas” bisiknya pelan.

“tidurlah kalau begitu” ujarku.

Wajah taemin dekat sekali.

“aku tak mau beranjak, nuna” kata taemin lagi.

“kau harus, taeminie. Kita tak mungkin tidur dalam keadaan seperti ini. Kembalilah ke kamarmu.”

Sudah saatnya ini dihentikan. Jika ini hanya hadiah bonus untuknya, kurasa sudah cukup. Ini sudah cukup banyak.

“nuna harus tidur denganku juga. Di kamarku.”

Aku terdiam mendengar kata-katanya. Tak bisa dipungkiri kalau aku gelisah. Kalimat itu memiliki banyak arti.

“kita hanya tidur, nuna. Temankan aku. Aku janji kita akan tidur saja” jelas taemin kemudian. Aku sedikit lega, tapi…

“kasurmu kecil, taeminie~” tolakku. Taemin tak membalas perkataanku. Dia hanya menatapku dengan penuh arti. Dari jarak sedekat ini, tak mungkin aku tak mengerti apa maksudnya. Aku tak bisa menolak lagi.

“baiklah,” ujarku akhirnya, “sekarang berdirilah”

Taemin tetap tak beranjak.

“nuna, gomawo” ujar taemin sambil menatapku, “setelah ini aku janji pada nuna tidak akan meminta kiseu lagi. Gomawo, nuna”

“ne, aku akan pegang janjimu”

Ccuk!

Taemin tiba-tiba mencium pipiku dan menegakkan badannya. Begitu taemin menyingkir dariku, aku juga menegakkan badanku.

“aku baru sadar kalau film ini seram sekali” kata taemin tiba-tiba.

“jangan ditonton kalau begitu.” Ujarku sambil mematikan televisi, “ayo tidur. Sudah malam”

Aku meraih tangannya dan menariknya menuju kamarnya.

Tiba-tiba taemin melingkarkan tangannya di pundakku.

“hehe~ nuna-ku terbaik. Saranghae, nuna~~”

Dia sudah kembali imut lagi. Itu bagus. Sulit bagiku kalau taemin terus menjadi serius, tak baik untuk jantungku.

“ne, gomawo. Nado saranghae” balasku.

“hehehe” taemin nyengir sambil terus melingkarkan tangannya di pundakku. Aku agak susah berjalan dengan dia yang terus menempel padaku.

Pintu kamar taemin menutup saat kami sudah masuk ke dalamnya.

“aku baru sadar, kau belum makan malam, ‘kan?” tanyaku padanya. Taemin menggeleng sebagai jawaban.

“aku tidak lapar, kok” ujarnya pelan.

“bohong sekali kau tidak lapar” kataku sambil membereskan kasur taemin. Taemin cuma nyengir.

Kami naik ke atas tempat tidur. Sedikit sempit karena kasur taemin kecil dan kami tidur berdua. Aku merasa sedikit tidak nyaman karena berada terlalu dekat dengan taemin. Kalau di kasurku biasanya kami dipisahkan oleh bantal guling, tapi di sini tak ada pemisah sama sekali.

“nuna” panggil taemin saat aku mulai menutup mata.

“hm?”

“yang datang tadi itu siapa?”

Aku mencoba mencerna pertanyaan taemin. Baru lima detik kemudian aku sadar kalau yang dia maksud itu adalah jonghyun oppa.

“sunbae-ku. Kenapa memangnya?” aku balas bertanya pada taemin.

“eopsoyo,” jawab taemin, “aku hanya tidak suka dengannya”

Aku mengerutkan alisku.

“wae?” tanyaku bingung.

Taemin mengeratkan pelukannya padaku.

“dia mencuri nuna-ku dariku. Aku tak suka.” Jawab taemin, “apa nuna dekat dengannya?” tanyanya lagi.

Aku menghembuskan napas berat. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk marah dan mengungkit persoalan tadi. Lain kali aku akan membahasnya, tapi tidak sekarang.

“mungkin gara-gara kau seperti tadi, mulai besok dia sudah tidak akan dekat lagi denganku” ujarku sedikit kesal.

“hehehe” taemin tertawa renyah, “baguslah kalau begitu, nuna”

Aku menghembuskan napas berat lagi.

“untunglah sekarang aku sudah mengantuk taeminie, kalau tidak aku akan marah besar padamu”

“hahahaha” tawa taemin makin keras, “nuna di pelukanku sekarang. Dia tak bisa memiliki nuna-ku.” Taemin mulai berbicara sendiri.

Aku sebenarnya suka caranya menyebut ‘nuna-ku’, tapi kalau mengingat alasan mengapa dia mengatakan ‘nuna-ku’ membuatku merasa kesal lagi. Tapi aku sudah terlalu mengantuk untuk itu. Terserahlah dia mau berkata apa.

“aku sudah mengantuk, taeminie. Kau juga sebaiknya tidur.” Ujarku sedikit tak jelas. Aku sudah benar-benar mengantuk. Aku baru tahu tidur di dalam pelukan taemin senyaman ini.

“jal jayo, nuna. Aku nanti pasti mimpi indah. Gomawo~”

Suara taemin terdengar samar-samar. Alam mimpiku sudah merasukiku sebelum aku bisa membalas perkataannya.

= = =

Advertisements

4 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 63-71) special Taemin’s birthday

  1. Kok ada bagian yg di skip? Mw di buatin nc yah…..??
    Ehm…terserah chingu deh….
    Geunde….ff.a seru critanya agak sdikit beda mnurut ku dibanding part sbelumnya, lebih klimaks(?)..
    Walaupun ditengah2 ada penganggu*nunjuk jonghyun* tapi, berakhir dgan bahagia….lucu pas ngebayangin taemin nyium nuna.a di dpan jonghyun, pasti shock banget tuh jonghyun….*oppa, sma aku aja…keke*
    ok deh chingu, sekian komentar sya yg abstrak(?) ini….lanjutannya di tunggu…..saengil chukae taemin…

  2. Hem… Jonghyun itu req aku bukan eon ?
    Kalo iya bikin sequelnya (?)
    kayak jjong datang lagi gitu.. Gemes liat taemin c-e-m-b-u-r-u
    oh iya.. Aku mau nanya.. (sebenarnya udah mau di tanya dari dulu)
    taemin ama yeongmi sodara kandung atau tiri ?

    • iya, itu req-nya pupuh, kan kmrn minta ny ada mmber syaini yg dimasukin juga kkk.
      tapi kalo sering2 dimasukin entar tmin ngambek lagi :p
      kekekeke kalo soal yg sodara2an itu, onn juga kaga ngarti. pkok nya jadi nya gitu aja deh. tmin-nuna sodara, tinggal serumah, hubungan nya incest. mau kandung, tiri, ketemu gede, silakan kreatifitas masing2^^ /guplakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s