FF/S/Nuna’s Diary (page 75-77) ‘3 types of taemin’

= Nuna’s Diary =

Page: 75-77

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Taemin memandang bukunya dengan teliti, dia bahkan tak menggubris suara keras yang datang dari luar. Biasanya dia selalu segera mencari tahu datang dari mana suara itu.

“taeminie~” panggilku sambil terus menatapnya. Taemin mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum.

“ada apa, nuna?” tanyanya. Pensilnya masih mengacung berdiri di tangannya, siap untuk dipakai kembali.

“coba kau duduk di sini dulu” ujarku sambil menepuk tempat kosong di sebelahku.

Taemin langsung berdiri dan duduk di tempat yang aku tunjukkan.

“ada apa, nuna?” tanyanya lagi.

Dari jarak sedekat ini, lingkaran hitam di bawah matanya makin jelas terlihat. Mata taemin juga sedikit bengkak.

Aku meraba pipinya.

“kau sudah berusaha terlalu keras, taeminie~ istirahatlah sebentar”

Aku menatapnya prihatin.

“ani, nuna. Aku tak bisa berhenti sekarang. Aku sudah banyak ketinggalan pelajaran.” Katanya kemudian, masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

“tapi aku tak bisa melihatmu seperti ini. Lihat, kau terlihat capek.”

“gwaenchanha, nuna. Aku masih kuat—“

“taeminie~” aku memotong kata-katanya dan melihatnya dengan khawatir, “aku tak mau kau jadi sakit dan merasa tertekan karena kegiatanmu. Aku tahu kau menyukainya, tapi aku tak mau kau terlalu jatuh di dalamnya dan jadi tidak mempedulikan kesehatanmu. Istirahatlah sebentar saja” ujarku setengah mengerang. Bisa dibilang aku sedikit memohon padanya.

Taemin mendekatkan dirinya padaku dan meletakkan kepalanya di atas pundakku.

“energiku akan pulih kembali kalau aku dekat dengan nuna. Dengan begini saja aku sudah merasa kuat lagi” ujarnya kemudian.

Aku tak bisa mengatakan kalau kata-katanya omong kosong. Tidak dalam saat seperti ini. Aku tahu dia capek, tapi dia terus memaksakan dirinya. Aku tak mau menambah bebannya dengan menyalahkan semua kata-katanya. Aku ada di sini untuk mendukungnya, bukan malah menambah bebannya.

Tiba-tiba taemin memutar sedikit badannya dan memelukku dengan erat. Aku segera memindahkan posisi dudukku menjadi menghadapnya agar dia merasa lebih nyaman.

“nuna, boleh aku menangis?” tanyanya. Bahkan suaranya sudah terdengar serak saat mengatakan itu.

Aku membelai bagian belakang kepalanya untuk menenangkannya.

“menangislah”

Taemin langsung memelukku lebih erat dan isakan pertamanya mulai terdengar. Aku menggosok-gosok pelan punggungnya, berharap dengan begitu dia bisa semakin mengeluarkan bebannya.

Taemin tidak meraung seperti biasa, hanya isakan kecilnya saja yang terdengar sekarang.

“keluarkan saja semuanya, taeminie~” ujarku pelan. Dan setelah aku berkata seperti itu, dia menangis lebih keras. Kadang-kadang dia memanggilku dan kemudian menangis lagi. Hatiku teriris mendengar tangisannya, tapi aku hanya bisa memeluknya, tak bisa yang lain.

Lama kemudian, isakan taemin mereda. Selama itu dia hanya menangis saja, tidak bercerita sama sekali mengenai apa yang ditangisinya kepadaku.

“nuna, aku akan istirahat sebentar” ujarnya kemudian, “setengah jam lagi bangunkan aku, ya, nuna?” pintanya lagi.

“ne, tidurlah” aku melepas pelukannya dan membiarkan dia berbaring di sofa.

~~~

 

“kau sudah tidur?” tanyaku pada taemin sembari menutup pintu kamar. Malam ini juga taemin tidur di kamarku.

Taemin mengintip dari balik bantal, dia sedang menelungkup.

“belum, nuna. Aku tidak bisa tidur.” Jawabnya.

Aku naik ke atas tempat tidur dan mengambil tempat di sebelahnya. Guling yang biasanya memisahkan kami sudah disiapkan taemin. Aku ambil selimut dan aku tutupi sebagian badanku sampai ke pinggang. Sambil duduk, aku pandangi taemin yang dari tadi melihatku dari balik bantalnya.

“kau sudah sikat gigi, ‘kan?” tanyaku lagi sebelum merebahkan tubuhku.

“sudah~” jawab taemin malas.

“bagus” kataku sambil menepuk pelan pantatnya. Aku lalu berbaring.

“nuna~~” panggil taemin tiba-tiba.

“apa?” ujarku sambil menoleh ke arahnya.

“tepuk pantatku lagi dong~” pinta taemin. Aku sedikit kaget dengan permintaannya. Tapi sebentar kemudian aku tersenyum dan memindahkan posisi tubuhku menjadi menghadapnya.

“hehe, kau lucu sekali.” kataku. Meski begitu, aku mulai menepuk pelan pantatnya lagi seperti yang dimintanya.

Taemin hanya tersenyum sebagai respon. Dia mulai menutup matanya.

“hehe~” taemin nyengir sebentar padaku sebelum menutup matanya lagi.

Puk! Puk! Puk!

“kalau sudah mau tidur, bilang aku ya, taeminie~” ujarku kemudian. Taemin menggumam pelan sebagai jawaban.

Cukup lama aku menepuk pantat taemin. Aku baru berhenti saat taemin mulai mendengkur.

“kau tak bilang padaku kalau kau sudah tertidur” ujarku sendiri sambil mencolek hidungnya. Tentu saja tak ada respon darinya, dia sudah terlelap.

Aku hanya tersenyum sambil memandangi wajah malaikatnya itu sebelum mengubah posisiku menjadi membelakanginya dan mulai menutup mataku.

~~~

 

Dari tadi taemin memainkan rambutku. Dia mengibaskan rambutku kesana-kemari. Lama-lama aku jadi risih juga.

“taeminie! Kau ngapain, sih?!” ujarku agak keras.

“aku memainkan rambut nuna. Memangnya tidak boleh?” nada taemin seperti menuntutku. Aku jadi salah tingkah.

“bukan begitu..” sanggahku, “kau seperti punya dendam pada rambutku—mengibaskannya terus, hampir seperti menampar malah. Aku ‘kan jadi risih, taeminie~” jelasku sedikit menurunkan nada suaraku.

Taemin seperti tak menggubrisku. Tapi dia sudah tidak mengibas-ngibaskan rambutku lagi. Kali ini dia hanya memegang ujung rambutku saja.

“nanti kalau aku sudah lulus sekolah, aku juga mau punya rambut panjang.” kata taemin tiba-tiba.

“tidak boleh” jawabku cepat.

Taemin langsung mengubah posisinya jadi duduk di depanku.

“kenapa tidak boleh?” tanyanya protes.

“karena kau laki-laki.”

“kenapa kalau laki-laki tidak boleh rambut panjang?” tanyanya lagi.

“karena..” aku kehabisan kata-kata.

Aduh, kenapa pertanyaan anak ini aneh-aneh, sih?

“karena sudah hukum alamnya kalau laki-laki itu tidak boleh rambut panjang. Yang boleh rambut panjang hanya perempuan.” jawabku asal.

“itu alasan yang tidak bisa diterima, nuna!” ujar taemin. Aku langsung mengerutkan dahiku.

“he? Sejak kapan gaya bicaramu jadi seperti itu? Seperti dalam rapat penting saja.” alihku.

“ehehe~” taemin malah nyengir, “tapi artis yang laki-laki rambutnya sering panjang kok, nuna!” taemin langsung kembali lagi ke topik pembicaraan kami. Dan sayangnya aku tak punya alasan lagi untuk menyanggahnya.

“pokoknya aku tak mengizinkanmu rambut panjang, arasseo?” aku menajamkan nada suaraku.

“kenapa nuna tidak mengizinkanku rambut panjang~?” tanyanya lagi, nadanya benar-benar polos.

Ya, ampun.. imutnya adikku ini..

“karena kau adikku~”

Aku cubit hidung taemin pelan. Taemin langsung manyun.

“mengerti, taeminie?” tanyaku lagi. Taemin mengangguk lemah.

“tapi kenapa nuna tidak mengizinkanku punya rambut panjang? Pasti ada alasannya~” ujar taemin. Bibirnya masih manyun.

“karena aku tidak suka lihat laki-laki berambut panjang. Taeminie mau dibenci olehku?”

Taemin menggeleng pelan.

“nah, kalau begitu jangan panjangkan rambutmu, arachi?”

Taemin mengangguk lagi. Sebentar kemudian dia kembali memainkan rambutku.

“kalau begitu, karena aku tak boleh rambut panjang, kalau aku memainkan rambut nuna boleh ya, nuna~?” tanyanya tiba-tiba.

“ne, boleh saja. asal jangan kau tampar-tampar rambutku seperti tadi.” ujarku sedikit ketus.

“ne, ne~” jawab taemin singkat.

= = =

Advertisements

4 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 75-77) ‘3 types of taemin’

  1. Ini story dgan krakter taemin yg beda2 yah…..
    Di cerita 1, taemin jdi cengeng…
    Cerita 2, taemin jdi manja…
    Cerita 3, taemin jadi anak yg polos…
    Ehm…skali2 jadiin taemin bad boy yah chingu….kyakx keren tuh…..hehe(evil laugh)….

    • hehe, begitukah?? entar dcoba deh.. 😉 tapi sampe skrg masi blum bisa bayangin tmin badboy gmn.. kan tmin imut imuuutt~ >.< *cubit pipi tmin*

  2. Itu yang cerita pertama Taemin nangis gara2 apa ya ?
    Aigo… Udah 18 masih aja mau di tepuk pantatnya..
    Cerita ke 3 , rambu panjang ? Ckckck….
    Rambut blonde yang sekarang udah bagus kok….
    Nextnya di tunggu eon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s