FF – SHINee/Honestly, I Love You (stuck)

annyeong~~~

ff yang ini ff shinee menyusul dua ff sebelumnya, yang onew ama minho. kali ini main cast nya jonghyun~^^ *lempar pita ke abang jjong*

yang ga suka yaoi, tenang aja, ini ff straight kok 🙂 cerita nya tentang jonghyun yang jatuh cinta ama temen masa kecil nya, tapi si temen yg emg ga peka, ga nyadar sama sekali kalo si jonghyun suka ama dia. sasil, cerita ini uda pernah di pablis d fb saya dengan main cast donghae, tapi saya rombak dikit jadi jonghyun karena saya pikir lbh cocok kalo abang jjong yg jd main cast nya. *bow k donghae*

saya minta maaf karena ini ff juga masi stuck, sama kaya 2 ff sebelumnya hehe *djitak reader* dan juga ini ff yang paling pendek dibanding 2 ff yang saya sebutin tadi.. mianhaee~~ *bow bareng tmin*

okeh 잘 일고보세요 aja deh 😉

= FF =

Title : Honestly, I Love You

Episode :  1 of ?

Status : Stuck

Cast:

  • SHINee Jonghyun (main cast)
  • SHINee Key
  • other casts are fake
= = =

Jonghyun PoV—

“kau lihat? Betapa mencoloknya dia di antara mereka”

Aku menoleh ke tempat yang ditunjuk seohan.

“hm,” gumamku pelan. Mataku terpaku lagi ke tanah.

Terdengar desahan pelan dari mulutnya.

“hh.. aku beruntung bisa hidup dan melihat orang sepertinya. Benar-benar sempurna..”

Aku menoleh padanya. Matanya menerawang, melihat jauh di depannya, melihat sebuah sosok yang setiap hari dikaguminya.

“kenapa kau tak mau mencoba berbicara padanya? Setiap hari kau hanya mengaguminya dari jauh saja. Aku bosan denganmu.” kataku sambil meregangkan otot-ototku.

Sudah lebih dua jam kami berada di sini. Duduk di bawah pohon yang rindang dan terlindungi dari pandangan siapapun. Mungkin lebih tepatnya kami duduk di antara semak-semak.

Dia menatapku dan menghembuskan napas panjang.

“baiklah, kita pulang. Aku tahu kau sudah lapar” ujarnya enteng sambil bersiap-siap berdiri.

“aku tak lapar” ujarku protes, tapi aku berdiri lebih dulu daripadanya. Dia mengulurkan tangannya agar aku membantunya berdiri.

“perutmu bunyi” katanya sambil menepuk-nepuk pantatnya yang kotor karena duduk di antara dedaunan tadi.

Aku memegang perutku karena ucapannya. Masa sih?

“masa? Kok aku tak mendengarnya?” kataku.

Dia tertawa, yang membuatku ikut tersenyum juga.

“aku bercanda” katanya sambil memegang tanganku, “gaja!”

Aku tersenyum padanya.

“seohanie, apa perempuan selalu seperti itu?” tanyaku padanya dalam perjalanan pulang kami.

“seperti apa maksudmu?” tanyanya heran dan menoleh padaku. Seohan melihat puncak kepalaku “JONGHYUN-AH!!”

Aku terlonjak.

“mwora?! Kau mengejutkanku”, aku mengelus dadaku.

“kau sudah tambah tinggi sekarang. Kau curang”

“hehe”, aku tertawa.

“kenapa sih, anak laki-laki cepat sekali tinggi?”

“nunaaaaa~~~~!!!”

Belum sempat aku menjawab, sebuah suara melengking yang datang dari arah belakang kami memekakkan telingaku.  Detik berikutnya, aku merasakan badanku terdorong ke depan. Pegangan tanganku pada seohan jadi terlepas. Aku tersungkur. Untung tanganku cepat menahan tubuhku. Aku menoleh ke belakang, melihat siapa yang mendorongku.

“kibum-ah!!” teriakku pada orang itu. Dia adiknya seohan. Dan dia selalu jengkel kalau kami berdekatan. Dia menjulurkan lidahnya padaku dan menggenggam tangan seohan.

“jonghyun tak boleh mengambil nunaku!” katanya.

“key-ya, yang sopan kalau bicara! Jonghyun ‘hyung’. Kau harus memanggil seperti itu!” kata seohan.

Kibum tersenyum manis pada seohan. Dasar lintah.

Aku bangkit berdiri, membersihkan pasir yang menempel di tanganku karena tersungkur tadi.

“nuna, ayo kita pulang. Aku ingin belajar masak lagi..” rengeknya.

“ya! Kibum! Kau laki-laki atau perempuan? Untuk apa kau belajar masak? Babo!” ujarku padanya sambil menjitaknya.

“nuna~~”, dia merengek, mengadu pada seohan.

“Gaja, Gaja! Sudah sore ini! Eomma bisa marah padaku kalau kau belum pulang”, seohan tak menggubris rengekan nya. Aku tersenyum senang.

“rasakan!” bisikku di telinga kibum saat berdiri di sebelahnya.

“nuna~~ jonghyun mengancamku~,” kibum malah merengek pada seohan.

“ya!! Siapa yang mengancam? Ani, ani! Aku tak mengancamnya!” ujarku saat seohan menatapku berang.

“kalian berdua ini tak pernah bisa akur!” kata seohan. Dia menjitak kami berdua.

Kami bertiga berjalan dalam diam setelah itu. Kibum manyun. Aku jadi ingin menjahili dia.

“key-ya~ kemarin kau jalan dengan seorang gadis, siapa dia?” tanyaku iseng.

Kibum langsung memandangku tak percaya. Matanya membesar.

“mwo?? Eopseo! Aku tak pernah berjalan dengan gadis manapun!” bantahnya, “dan kau tak boleh memanggilku ‘key’! hanya nuna yang boleh memanggil seperti itu~,” katanya lagi sambil bergelayut di lengan seohan, senyumnya mengembang saat melihat seohan.

“hissh~!” dengusku, merasa jengkel pada kibum yang selalu pura-pura baik di depan seohan.

“kau belum boleh punya pacar, key-ya! Nuna melarangmu!” ujar seohan tiba-tiba, nadanya sedikit tinggi.

Aku langsung mendelik ke arah seohan. Alisnya berkerut dan dia terus mengomel pada kibum.

Ternyata seohan menanggapi perkataanku tadi. Padahal aku cuma berbohong, biar saja si kibum sekali-sekali diberi pelajaran.

“nuna, aku tak pernah berpacaran! Jeongmalyo! Dia ini berbohong, nuna!” kibum membela dirinya sambil menunjukku dengan telunjuknya.

“jangan tunjuk jonghyun seperti itu, dia lebih tua darimu! Yang sopan pada yang lebih tua!” bentak seohan, “lagipula meski kau pacaran ataupun tidak, nuna sekarang memperingatkanmu untuk tidak melanjutkan hubunganmu dengan pacarmu itu—“

“nuna aku tidak pacaran~ Aku tidak berbohong nuna~” kibum mulai merengek dan mengeluarkan airmatanya.

“pokoknya nuna melarangmu!” ujar seohan lagi, nadanya mulai merendah. Mungkin karena kibum sudah mulai menangis. Kibum terus merengek sambil memeluk seohan. Perjalanan kami jadi terhenti karena dia. Seohan balas memeluknya dan membelai rambutnya.

“nuna tak pernah mem-membentakku seperti tadi~” kibum terisak di dalam dekapan seohan. Aku memutar bola mataku mendengar kata-katanya.

“uljimara~ nuna minta maaf.” Ujar seohan. Aku melihat kibum yang mengangguk-anggukkan kepalanya. “tapi kau juga harus sopan pada jonghyun. Tadi kau sudah berbuat kasar, sekarang ayo minta maaf.” Tambah seohan lagi.

Kibum melepas pelukannya dari seohan dan berbalik menghadapku.

“aku minta maaf, mianhaeyo,” ujar kibum sambil sedikit membungkuk.

“hm..” jawabku singkat.

Kami melanjutkan perjalanan lagi. Aku senyum-senyum sendiri sambil melirik kibum. Baru kali ini dia minta maaf padaku. Semuanya karena seohan, coba kalau seohan tadi lebih percaya omongan si kecil ini, mungkin aku—

DUG!

“AYA!!” erangku. Aku memegang tulang keringku.

“aigo!” suara lain terdengar. Kibum terjerembab di depan kami. Tapi aku hampir yakin itu hanya kamuflase agar dia punya alasan tidak sengaja menendang kakiku. Seohan tampak bingung melihat kami.

“kenapa kalian berdua tiba-tiba dapat kecelakaan begini?” ujarnya heran sambil membantu berdiri kibum. Sementara itu, aku menggosok-gosok kakiku bekas tendangan kibum tadi. Sakit sekali.

“ya!! Lain kali hati-hati kalau jalan!” bentakku pada kibum.

“aku juga jatuh! Memangnya kau tak lihat? Buta, ya??” tantang kibum. Aku hanya menatapnya jijik sambil meringis. Sakit sekali tulang keringku, besok pasti jadi memar.

“sudah!! Kalau kalian terus bertengkar, kita akan sampai di rumah malam hari! Ayo cepat!” seohan menengahi kami. Dia berjalan duluan sambil menggandeng kibum, aku mengikuti mereka sedikit tertinggal di belakang dengan agak terpincang-pincang.

= TBC =

*comments are loved :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s