FF/S/Nuna’s Diary (page 78-82)

= Nuna’s Diary =

Page: 78-82

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Blamm!

Aku mengintip dari balik sandaran sofa dan hanya gantungan kecil di depan pintu kamar mandi yang sedikit bergoyang yang aku lihat. Taemin baru saja masuk ke kamar mandi. Ini sudah yang ketiga kalinya malam ini.

Aku menolehkan pandangan ke layar televisi lagi. Sebenarnya aku sedikit bertanya-tanya apa yang terjadi pada taemin. Apa dia diare?

Klek!

Suara pintu lagi yang terdengar beberapa lama kemudian. Aku menoleh lagi ke belakang. Wajah taemin tampak kusut.

“kau diare?” tanyaku penasaran. Taemin menggeleng pelan. Setelah itu dia menyeret langkahnya untuk ikut duduk di sebelahku. Taemin menundukkan kepalanya sementara jari-jarinya saling bertautan di atas pangkuannya.

“lalu apa? Kenapa kau dari tadi bolak-balik ke kamar mandi terus?” tanyaku lagi. Sebelah tanganku mengecilkan volume suara televisi dengan menggunakan remote.

Taemin menatapku dengan pandangan miris.

“nuna, bagaimana ini~?” rengeknya. Dia terlihat seperti mau menangis.

“waeyo?” tanyaku.

“tidak mau keluar~~” taemin merengek lagi.

Aku berpikir sebentar, dan tiga detik kemudian baru aku menangkap maksud taemin apa.

“sudah berapa hari?” tanyaku lagi.

“empat~~”

“EMPAT??” aku membelalakkan mataku.
Empat hari?? Aku saja kalau tidak buang dua hari rasanya sakit sekali. Anak ini, empat??

“kenapa tidak kau buang?!” tuntutku.

Taemin tak menjawabnya. Airmatanya sudah keluar duluan.

“huwaa~~ nunaa~~~ tidak enak rasanyaa~~” taemin memelukku.

Aku menepuk-nepuk pelan punggungnya. Tentu saja rasanya tidak enak. Empat hari tidak dibuang, aku sulit membayangkan bagaimana terasa penuh perutnya sekarang.
“kenapa tidak kau buang?” tanyaku lagi, kali ini dengan nada prihatin.

“huwee~ waktu itu aku tahan, nuna. Setelah itu dia tak mau keluar lagi~~ huwee~” taemin menjelaskannya sambil terus menangis.

“itu salahmu sendiri, siapa suruh kau tahan. Makanya kalau sudah sakit langsung ke belakang! Ck, kau ini~” aku masih terus menggosok-gosok pelan punggungnya.

“huwee~~ sakit, nunaa~~”

Aku melepaskan pelukannya.

“kau mau ke rumah sakit?” tanyaku. Taemin langsung menggeleng cepat.

“tidak mau~ aku tak mau disuntik~”

Yang bilang disuntik juga siapa, batinku.

Aku menghapus airmata taemin.

“tapi kalau begini terus nantinya malah tambah parah.”

Taemin menggeleng lagi.

“tidak mau, nunaa~ huwee~~ sakiitt~~” taemin menangis lagi sambil memegangi perutnya, “penuhh~ tidak enaak~~ huwee~~”

Aku menatapnya iba. Kasihan juga.

Tiba-tiba aku teringat punya kenalan seorang dokter. Cepat-cepat aku hubungi dia, mana tahu dia tahu obat apa yang bisa dipakai untuk masalah seperti ini.

Untunglah kenalanku itu mengangkat telponku dan memberitahu obat apa yang bisa digunakan untuk taemin.

“aku akan ke apotek sebentar untuk membeli obat untukmu. Kau berbaring saja dulu. Minum air banyak-banyak.” kataku pada taemin sebelum keluar dari rumah.

Kurang dari setengah jam kemudian, aku sudah sampai lagi di rumah dengan membawa obat yang disarankan kenalanku tadi.

Taemin sedang berbaring menelungkup di kasurnya saat aku masuk kamarnya.

“sudah minum air banyak-banyak?” tanyaku sambil membuka syal. Taemin mengangguk.

“apa itu, nuna?” tanyanya melihat bungkusan yang aku pegang.

“obat” kataku singkat.

“kenapa besar sekali bungkusannya?” taemin terlihat sedikit khawatir melihat bungkusan yang aku pegang itu. Ukurannya memang lebih besar dari ukuran obat biasa. Tentu saja, obat yang aku beli ini bukan obat makan.

“kalau besar begitu dihancurkan dulu, nuna. Aku tak bisa menelan obat sebesar itu.” Sambung taemin lagi.

Aku menggeleng.

“ini bukan untuk dimakan, kok” aku berkata sedikit gelisah.

Taemin tampak bingung dengan penjelasanku.

“kalau bukan untuk dimakan jadi untuk apa?” tanya taemin bingung.

Glek! Bagaimana aku menjelaskannya?

Aku menelan ludah sekali lagi sebelum mulai bicara.

“ini dimasukkan ke ‘itu’mu” ujarku pelan.

Taemin langsung terbelalak.

“ke sini?” ujarnya kaget. Kedua tangannya menutup bagian tubuh di bawah perutnya.

“bukan!!” sanggahku cepat, kaget juga melihat reaksinya yang tiba-tiba itu, “bukan yang itu, tapi yang di belakang.” tambahku.

“eh?” taemin tampak tak percaya, “bagaimana caranya?”

Ah, pasti wajahku sudah merah lagi sekarang. Aku tak suka ini.

“ya dimasukkan saja.” ujarku acuh tak-acuh. Mulut taemin makin ternganga mendengar responku. Sedetik kemudian sepertinya dia kembali sadar.

“tidak mau ah, nuna~ iih~~” taemin terlihat jijik.

“kalau pakai ini akan membantu melunakkannya sedikit, paling tidak jadi tidak terlalu keras saat keluar,” jelasku, “atau kau mau ke dokter saja?”

“tidak mau ke dokter, shirheo~” taemin mulai merengek.

“ya sudah, pakai ini! Masukkan sendiri.” Suruhku.

Taemin tampak kaget lagi.

“bagaimana bisa? Aku tak bisa meraba begitu, nuna. Dari depan juga tak kelihatan.” Kata taemin polos.

Nah, ini dia masalahnya. Tadi apoteker-nya juga bilang kalau pemasangan obat ini harus dilakukan orang lain, tidak akan bisa sendiri. Padahal aku sudah mencoba menghindarinya. Kalau begini, tak ada cara lain.

“ya sudah, aku yang pasangkan. Buka celanamu!” ujarku. Sedetik kemudian aku baru sadar kalau kata-kataku tidak sopan.

“iih~ nuna mesuumm~~” taemin menatapku dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Di pipinya sudah ada semburat merah samar.

“taeminie~! Tak ada cara lain. Aku tak akan lihat. Aku janji” aku membuat tanda ‘v’ dengan jari telunjuk dan jari tengahku.

Semburat merah di pipi taemin makin pekat.
“tapi aku malu, nuna~~” katanya. Tak perlu dibilang juga sudah terlihat kalau dia malu.

“aku juga malu! Tapi tak ada cara lain. Sudah! Berbaring di kasur dan tinggikan bokongmu agar aku mudah memasangnya.”

Taemin melakukan apa yang aku suruh dengan gerakan pelan. Sangat pelan. Aku tahu dia malu, dan aku tahu aku juga malu. Kami berdua sama-sama malu, tapi kalau tidak dilakukan sekarang aku yakin sakit taemin akan makin parah. Demi adikku, hal seperti ini harus dilakukan. Aku tak mau dia tambah sakit.

Taemin sudah meninggikan bokongnya dan obat juga sudah siap di tanganku. Tangan taemin sudah bersiap-siap menurunkan celananya.

“nuna, aku maluu~” kata taemin pelan.

“sudah turunkan saja!” ujarku tak sabar.

Dengan perlahan, taemin menurunkan celananya sampai ke batas bawah bokongnya. Aku memperhatikan bokongnya yang putih.

Mulus juga bokong adikku, hehehe.

“nuna, jangan lihat~~” pintanya.

Aku sedang berusaha memasukkan obat itu.

“jangan lihat bagaimana? Kalau tidak aku lihat bagaimana obatnya bisa masuk? Nah, sudah selesai!” aku membantu taemin menarik kembali celananya. Aku sedikit tidak tahan. Aku tepuk bokongnya.

“nuna!!” taemin langsung protes.

“hehehe~” aku hanya nyengir.

“nuna ini~~” taemin protes lagi. Dia kemudian duduk di sebelahku.

“sakit tidak saat aku masukkan?” tanyaku penasaran. Aku baru sekali berhadapan dengan masalah seperti ini.

Taemin menggeleng.

“aniya. Tapi rasanya seperti ada yang mengganjal, nuna” kata taemin menjelaskan. Digoyang-goyangkannya sedikit bokongnya, taemin tampak tak nyaman, “terus sekarang apa lagi?” tanyanya lagi.

“minum obat ini,” aku mengambil bungkusan obat yang jauh lebih kecil yang tadi aku letakkan di atas meja, “ini akan membantunya mendorong ke bawah”

Taemin menurut padaku dan dengan segera menghabiskan obat itu.

“setelah ini apa lagi?” tanya taemin lagi.

“setelah ini kau bisa istirahat sambil menunggu reaksi obatnya. Aku mau nonton tv, kau ikut?” ajakku.

Taemin mengangguk dan mengikutiku keluar kamarnya.

~~~

Sudah lewat tengah malam tapi taemin belum juga keluar dari kamar mandi. Sudah hampir satu jam dia di dalam.

Aku menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.

“taeminie?” panggilku.

“ne!” terdengar suara taemin yang sedikit bergaung dari dalam kamar mandi.

“sudah belum?” tanyaku.

“belum, nuna—hkk”

“jangan dipaksa! Biarkan dia keluar sendiri!”

“ne, nuna—hkk”

“taeminie, jangan dipaksa! Nanti bokongmu yang luka”

“perutku sakit, nuna~ Aku capek di sini terus~”

“biar saja capek, salahmu sendiri kenapa kau tahan waktu itu. Yang penting jangan dipaksa! Arachi?”

“neee~~~”

Aku menguap dan berjalan lagi ke sofa. Aku sudah sangat mengantuk tapi kasihan juga kalau taemin ditinggalkan sendiri.

Limabelas menit kemudian, terdengar bunyi flush toilet dari dalam kamar mandi. Tak lama setelah itu, taemin keluar dari kamar mandi.

“aigoo~~” erangnya.

Aku langsung menoleh ke arahnya.

“sudah?” tanyaku sedikit bersemangat. Taemin mengangguk sebagai jawaban, wajahnya masih memancarkan rasa sakit.

Aku langsung mematikan televisi dan bangkit dari sofa.

“baguslah. ayo tidur” ujarku setelah menguap sekali lagi. Aku mendekati taemin. Dia berkeringat dan tampak lelah.

“bokongku sakit, nuna~~” erangnya. Tangannya masih terus berada di belakang tubuhnya.

“besok sakitnya akan hilang. Jaja! Aku sudah mengantuk” aku menguap lagi.

“nuna~ aku tidur di kamar nuna, ya~?” pinta taemin.

“ne, ne. Ambil selimutmu. Palli~” aku benar-benar tidak tahan. Mengantuk sekali.

Taemin berjalan mendahuluiku. Sempat aku tepuk pelan bokongnya sebelum dia berjalan terlalu jauh.

“nuna~” rengeknya. Aku hanya tertawa pelan.

“palli~~ atau aku tidur duluan~” ujarku sedikit keras ke arah kamar taemin.

“ne~” jawab taemin.

Sampai di kamar, aku mengatur letak bantal untukku dan taemin, tak lupa bantal guling di tengah untuk memisahkan kami. Taemin masuk ke kamar dan menutup pintu tepat saat aku ingin merebahkan badanku.

“ayo tidur. Aku sudah ngantuk sekali-hoahm~” kataku sambil berbaring.

Taemin naik ke atas tempat tidur dengan derit pelan. Dia menelungkup lagi. Mungkin bokongnya masih sakit.

“bokongmu masih sakit?” tanyaku.

“ne~” jawab taemin lemah dari balik bantal. Wajahnya menghadap ke arahku.

Aku menghembuskan napas panjang. Aku tak tega melihatnya.

Aku memindahkan guling yang memisahkan kami dan meletakkannya di sampingku. Gulingnya tidak memisahkan kami lagi sekarang. Aku menepuk pelan bokong taemin untuk meringankan sakitnya.

“ireohke gwaenchanha?” tanyaku.

“ne~” jawab taemin sambil tersenyum lemah. Dia pasti sudah capek dan mengantuk. Satu jam berada di kamar mandi saat tengah malam bukan suatu kegiatan yang bisa dinikmati.

“jangan macam-macam, ya” tambahku, mengingat kami tidur tidak dipisahkan guling malam ini. Taemin menanggapinya dengan tersenyum. Matanya sudah tertutup.

“gomawoyo, nuna” bisiknya pelan, tapi masih bisa aku dengar.

“ne, gwaenchanha~,” ujarku, “baby, taeminie~”

Mata taemin langsung terbuka.

“apa tadi, nuna?” katanya sedikit bersemangat.

“aniya, tak ada apa-apa. Tidurlah. Jal jayo~” ujarku mengalihkan.

Taemin tersenyum misterius, tapi dia tampak setengah tidak sadar. Mungkin sudah mengantuk sekali.

“jal jayo, nuna~”, katanya setelah menutup matanya lagi, “ppoppo sebelum tidurnya diganti besok saja, ya. Jadi ppoppo selamat pagi” suara taemin makin lama makin tidak jelas.

“ne” ujarku sama-tak-jelasnya. Kami berdua sama-sama tertidur.

= = =

Advertisements

5 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 78-82)

  1. Jiah……knapa taemin bisa kena kyak gitu????
    Ckck…..hehehe…..critanya lucu….

  2. kerennnnnn…..

    Daeba, authorrr……
    Nuna,,,aku iri karena kau dicntai taemin..
    Aku penggemar nuna’s dairy…

    Ohh’y kapan nich cerita yg ada orang ketiga’y…???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s