FF/S/Nuna’s Diary (page 83-86)

= Nuna’s Diary =

Page: 83-86

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“nuna..”

Aku menoleh pada taemin.

“apa?”

Taemin menunduk dan ekspresinya susah ditebak. Karena malas terus memperhatikannya, aku menonton tv lagi.

“nuna!”

Kali ini taemin memanggil lebih keras.

“apa, taeminie?” ujarku sedikit kesal. Taemin memajukan mulutnya.

“nuna, aku mau ceritaa~~” ujarnya sedikit merengek.

“ya sudah, cerita saja”

Taemin melihatku dan sebentar kemudian menunduk lagi. Aku hanya memperhatikannya.

“tapi aku malu, nuna”

Hh.. anak ini..

“kalau malu tidak usah cerita” ujarku ketus. Aku melihat ke tv lagi.

Tidak ada jawaban dari taemin setelah itu.

Aku melirik padanya. 

“ya sudah, aku tidak jadi cerita saja.” kata taemin lagi dengan kepala masih tertunduk.

Aku hanya menaikkan bahu dan kembali menancapkan pandangan ke layar televisi.

Kira-kira apa yang mau diceritakannya, ya? Apa hal yang benar-benar membuatnya malu?

Aku jadi penasaran. Tak biasanya taemin seperti ini. Kalau dia mau cerita, pasti dia akan cerita meski pertamanya aku pura-pura jual mahal. Tapi ini, dia malah memutuskan tidak jadi cerita. Ini aneh.

“taeminie, kalau mau cerita, ya cerita saja” desakku.

“tapi aku malu menceritakannya, nuna~” ujar taemin tanpa menoleh ke arahku. Tangannya memain-mainkan ujung bajunya dan tatapannya terpaku ke sana.

“tidak perlu malu, ‘kan aku nuna-mu~” desakku lagi. Mungkin benar kata taemin aku termasuk orang yang tidak suka setengah-setengah.

Taemin akhirnya mengangkat wajahnya. Dia menatapku dengan pandangan imutnya.

Tiba-tiba taemin mendekatkan dirinya denganku, menggenggam tanganku dan merebahkan kepalanya di atas pundakku.

“nuna, aku ini adik kecil nuna, ‘kan?” tanyanya pelan.

Aku hanya bisa menjawab ‘ne’ sambil terus bertanya-tanya dalam hati kemana arah pembicaraan ini berakhir.

“aku kepunyaan nuna, ‘kan?” taemin bertanya lagi.

Agak lama aku menjawab ‘ne’ lagi untuk pertanyaannya yang itu.

Taemin menghembuskan napas panjang.

“bagaimana ya, nuna. Aku bingung memulainya dari mana,” kata taemin setelah itu, “tapi nuna janji jangan bilang siapa-siapa, ya?”

Taemin mengangkat tangannya dan mengacungkan jari kelingkingnya.

“yaksok” balasku sambil menautkan jadi kelingking kami berdua.

“tapi aku yakin setelah ini pasti nuna menulis di diari nuna~” kata taemin lagi. Kepalanya masih bersandar di pundakku.

“hehehe, bagaimana kau tahu?” aku nyengir dengan perasaan sedikit bersalah.

“nuna ‘kan nuna-ku. Kenapa aku harus tak tahu?”

Pertanyaan taemin membingungkan, jadi aku mengangguk saja dan bergumam pura-pura mengerti.

“jadi apa yang ingin kau ceritakan, taeminie?” tanyaku langsung menyerang poin utama.

Taemin menghembuskan napas panjang lagi.

“begini, nuna. Aku punya teman, namanya yeonha—“

“yeoja?” potongku.

Taemin melihatku sebentar dan mengangguk.

“oke, lanjutkan.” suruhku. Sepertinya cerita utamanya mulai terlihat.

Taemin merebahkan kepalanya lagi sebelum melanjutkan ceritanya.

“si yeonha ini, sebenarnya mungkin dia sudah lama berbuat seperti itu padaku, tapi mungkin aku yang tidak peka—“

“jamkkanman,” potongku lagi, “’berbuat seperti itu’ seperti apa maksudmu?”

Taemin melihat ke arahku lagi dan memajukan bibirnya.

“nuna ini, memotongku terus,” ujarnya sedikit kesal, “ppoppo dulu, baru aku mau lanjutkan”

Aku langsung mencium bibirnya cepat. Itu semata-mata hanya karena aku ingin mendengar lanjutan ceritanya, bukan karena aku merasa memiliki taemin dibanding si yeonha ini atau apa.

“berbuat seperti memperhatikan aku begitu, nuna~ mungkin dia sudah lama seperti itu, tapi aku baru akhir-akhir ini sadar kalau dia selalu melihatku. Kalau aku tak sengaja melihatnya dan dia ketahuan sedang melihatku, pasti dia langsung buang muka. Begitu~” jelas taemin.

Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

“lalu kemarin, waktu aku jatuh saat main basket—“

“kau jatuh?? Kapan??”

Taemin langsung melotot padaku. Aku baru sadar kalau aku memotong ceritanya lagi.

“mian,” sesalku, “tapi kapan kau jatuh??”

“kemarin~! Kan sudah aku bilang tadi, nuna ini!” taemin benar-benar kesal. Aku susah menahan diri untuk tidak tertawa.

“hehe, iya aku tahu kemarin. Tapi kenapa kau tak bilang padaku?” tuntutku lagi.

“aku terlalu sibuk memikirkan kejadian setelahnya, nuna, makanya aku lupa bilang pada nuna.” Jelas taemin lagi masih setengah kesal.

Sebesar itukah pengaruh si yeonha ini pada taemin sampai dia lupa bilang kalau dia jatuh padaku?

“mau tahu kejadian setelahnya tidak, nuna~?” tanya taemin setengah tak sabar.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

“jadi aku terjatuh karena temanku melempar bola dan meleset kena kepalaku, lalu—“

“MWO?? Kena kepalamu?? Siapa yang lempar?? Yang mana orangnya, tunjukkan padaku!”

“nuna! Kalau nuna potong sekali lagi aku benar-benar tidak akan cerita!”

“tapi taemin, bola itu kena kepalamu sampai kau terjatuh dan—“

“ya ampun, nuna! Sampai sekarang aku tak apa-apa, ‘kan?? Aku masih baik-baik saja, masih sehat! Lihat!”

Taemin mencubit-cubit sendiri pipinya, lengannya, kakinya.

“baiklah, baiklah..” ujarku mengalah, “tapi lain kali kalau ada apa-apa terjadi padamu, kau janji langsung kasih tahu aku, arachi? Aku tak mau menjadi orang terakhir yang tahu saat kau jatuh atau kena apapun seperti itu, taeminie~” aku sedikit mengerang. Sedikit sedih rasanya mengetahui bahwa taemin tak cerita padaku tentang hal seperti itu.

“arachi~” ujar taemin lemah sambil menundukkan kepalanya. Mungkin ekspresi-ku benar-benar memperlihatkan kalau aku khawatir padanya.

“baiklah, lanjutkan ceritamu.” kataku akhirnya.

“sampai mana tadi, nuna? Aku lupa”

“sampai kepalamu kena bola.” jawabku. Aku tak mungkin lupa itu.

“nah, jadi kepalaku pusing sekali saat itu lalu aku di bawa ke ruang kesehatan.”

Aku mengangguk sebagai respon.

“setelah itu aku tak ingat,” lanjut taemin lagi, “tapi saat aku terbangun lagi, aku terkejut karena yeonha yang menjagaku di ruangan itu.”

“kalian hanya berdua?” tanyaku, yang dibalas taemin dengan anggukan.

“lalu?”

“saat itu aku bingung, nuna. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku tahu selama ini aku diperhatikan olehnya, tapi saat aku berhadapan dengannya, berdua saja, entah kenapa aku malu.”

Dari jarak sedekat ini, aku memperhatikan wajah taemin mulai memerah. Imut sekali sebenarnya, tapi entah kenapa seperti ada yang mendesak di daerah kerongkonganku.

“lalu, apa yang kalian lakukan?” tanyaku cepat.

“yang kami lakukan? maksud nuna?” taemin tampak bingung.

“yah..” aku berpikir sebentar mencari kalimat yang tepat, “apa yang kalian lakukan setelah itu.. mengobrol, atau apa..”

Atau kalian langsung kiseu berdua di ruangan sepi itu, lanjutku dalam hati.

Mungkin pikiranku terlalu jauh.

“saat itu aku merasa canggung, nuna,” taemin menyambung ceritanya, “cukup lama aku terdiam sampai akhirnya ‘apa kau sedang tugas piket’ keluar juga dari mulutku.”

“lalu, apa katanya?” desakku.

Semburat merah di wajah taemin makin pekat.

“dia menjawab, ‘ya, kebetulan aku sedang piket hari ini’, lalu setelah itu aku mendengar dia berbisik ‘untunglah’. Begitu, nuna~

“Nuna tahu? Di kelas, yeonha termasuk murid terpintar dan dia pendiam. Dia cantik, tapi karena pendiam itu jarang namja di kelasku mau mendekatinya. Aku bahkan belum pernah mengobrol dengannya sejak kami satu kelas, tapi ya itu tadi, aku sering memergoki dia sedang memperhatikan aku.”

Wow, sepertinya si yeonha ini cukup menarik, pikirku.

“lalu? Wah, sepertinya ceritamu seru.” ujarku, “setelah itu?”

Taemin terdiam sebentar.

“setelah itu aku bertanya padanya apa dia suka padaku.”

Aku langsung ternganga mendengar kata-kata taemin. Termasuk berani juga adikku, langsung ke poin utama seperti itu. Aku benar-benar penasaran apa yang dikatakan si yeonha itu.

“lalu apa katanya?” aku mendekatkan diri pada taemin, benar-benar penasaran apa kelanjutan ceritanya.

Taemin menunduk sebentar dan menghembuskan napas panjang lagi.

“dia malah balik bertanya, katanya ‘menurutmu bagaimana’” jelas taemin pelan.

Aku berpikir sebentar.

Si yeonha ini benar-benar pintar kalau begitu.

“lalu katamu?” tanyaku lagi.

Taemin melihatku lagi dengan tatapan setengah-kosong.

“saat itu aku tak tahu harus menjawab apa, jadi aku langsung keluar dari ruangan itu.” Katanya.

Lagi-lagi aku ternganga dan sedetik kemudian aku sadar.

“babooooo~~~~~” ujarku sambil menjitak kepala taemin.

“aigo, nuna! Itu tempat di mana aku kena bola! Aigoo~~” taemin mengerang. Tapi aku tak peduli.

“dan kau meninggalkannya sendirian di ruangan itu setelah dia menungguimu sampai terbangun?? Ya ampun, taeminie~ Aku tahu kau babo, tapi aku benar-benar tak menyangka kau se-babo ini!” aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

“jadi aku harus menjawab apa? ‘kau suka padaku’, begitu? Atau ‘kau tidak suka padaku’? Aku benar-benar bingung, nuna~~” kata taemin sambil menggosok-gosok bekas jitakanku tadi.

“menurutmu memangnya bagaimana?” tanyaku tak sabar.

“menurutku… aku tak tahu, nuna~” taemin sedikit merengek.

“kalau dia selalu memperhatikanmu tentu saja dia suka padamu!” ujarku lagi.

Aku juga begitu soalnya, tambahku dalam hati.

“lalu kalau ternyata dia benar suka padaku, bagaimana?” tanya taemin lagi, nada suaranya sedikit mengeras.

“ya sudah, kalian pacaran saja!”

“aku tidak bisa! Aku ‘kan kepunyaan nuna-ku!”

Untuk ketiga kalinya aku ternganga.

Apa yang sebenarnya anak ini pikirkan??

“ya ampun, taeminie~ aku tak melarangmu pacaran dengan siapapun. Kalau kau suka seseorang, silakan pacaran dengannya~ ya ampun~~”

Aku susah menerima ini. Taemin tak mau pacaran dengan orang lain hanya karena aku. Tak masuk akal.

“cuma nuna yang aku sukai, aku tak mau yang lain.” Mata taemin mulai berkaca-kaca.

“taeminie~ kau bukan suka aku, tapi kau hanya sudah terbiasa denganku. Itu bukan suka—“

“aku sudah ditolak dua kali oleh nuna dan aku tidak akan menyerah.” Air mata pertama taemin sudah mengalir ke pipinya, “itu artinya aku suka nuna. Saranghae”

Aku terdiam sambil menatapnya. Aku bingung. Aku tak tahu cara menerangkannya. Atau lebih tepatnya aku masih belum bisa mengikuti jalan pikiran taemin. Aku nuna-nya, dan aku tak mungkin menjadi apa yang dia inginkan.

Dengan gerakan pelan, aku memeluk taemin. Aku belai pelan rambutnya sebelum mulai bicara.

“dengar, kau boleh memelukku kapan saja, kau boleh ppoppo aku. Tapi tolong taeminie, jangan persempit pemikiranmu mengenai siapa yang kau suka. Kau tak boleh terus menyukaiku, kau—“

Perkataanku terpotong karena taemin yang tiba-tiba melepaskan pelukan kami. Wajah dan matanya sudah memerah.

“kalau begitu tak usah peluk aku, aku juga tak akan minta ppoppo. Tapi jangan larang aku menyukai nuna, “ ujar taemin lemah di sela isakannya, “aku cuma mau nuna. Eotteohke~?” air mata taemin mengalir lebih deras setelah berkata seperti itu.

Aku hanya bisa menelan ludah. Taemin menahan tanganku untuk tidak memeluknya. Dan dia terisak dan kesusahan menahan tangisnya tepat di depanku.

Aku tak tahu harus menjawab apa. Tak mungkin kalau taemin tak memeluk aku, tak mungkin karena aku juga memerlukan pelukannya. Tapi dia juga tak akan berhenti menyukaiku kalau aku mengizinkannya memelukku.

Eotteohke??

 

-TBC-

Advertisements