FF ㅡ Minho/Don’t push me any far (stuck)

annyeong~

ini ff ke 2 yang tadi saya bicarain di sini

ga mau banyak ngmg lagi, ini ff stuck dan sialnya saya terlanjur suka ama ceritanya tapi ga tau mau lanjutin gmna~ T^T saya kebiasaan mulai bikin ff dari adegan apa yg saya penginin ada d ff itu sih, bukan bikin alur ama plot nya dulu =_=~ ini ff ceritanya kepotong gitu di tgh2, jadi rada gaje. mudah2an rider ngerti yee maksut nya ini cerita apa

sekali lagi, ini ff stuck, dan saya ga tau bakal bisa lanjutin ato nggak. dimohon kritik dan sarannya. kalo uda baca harap komen mengenai ini ff yang ga seberapa. gomawo~~ *bow*

oh beneran deh saya suka ceritanya

-Taemznuna-

= FF =

Title: Don’t push me any far

Status: stuck

Rating: PG

Main Cast: (someone) & SHINee Minho

= = =

-Someone PoV-

Minho menatapku lekat.

“aku pulang, ya” ujarnya. Aku mengangguk meng-iya-kan.

Minho tak bergeming. Dia masih terus menatapku.

Minho pov—

Apa aku tak bisa mengecupnya sekali saja sebagai salam perpisahan untuk hari ini?

Aku ingin sekali. Rasanya benar-benar ingin turun dari motor ini dan melangkah ke arahnya. Ciuman singkat di pipi pasti sudah akan membuatku puas. Sayang, pasti dia tak akan mau. Tapi kenapa bibirku ini rasanya seperti ingin mencium sesuatu? Baiklah, udara kosong mungkin sudah cukup.

 -Someone PoV-

“muah”

Minho memajukan bibirnya seolah-olah mengecup udara. Setelah itu dipasangnya helm-nya dan pergi.

Aku menghembuskan napas berat.

Sebenarnya hatiku tergerak untuk memberinya sedikit kecupan, benar-benar ingin. Tapi itu tak boleh.

 -Someone PoV-

“kau tahu ‘kan, kalau wanita itu memiliki nafsu Sembilan kali lebih banyak dari pria?” tanyaku padanya.

“yeah, aku tahu.”

“jangan pancing kalau begitu” ujarku singkat.

“apa kau juga merasakannya?”

“merasakan apa?” tanyaku meyakinkan.

Minho memperbaiki posisi duduknya. Dia membersihkan tenggorokannya.

“kau tahu,” katanya, dia tampak sedikit tidak nyaman dengan pembicaraan ini, “saat kita bersama—kita sedang berdua, maksudku, entah kenapa rasa ingin menyentuhmu begitu besar.” Minho membersihkan tenggorokannya lagi, “yah, rasa seperti itu maksudku.” tambahnya dengan sedikit canggung.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“tentu saja ada. Nafsuku Sembilan kali lebih besar dari nafsumu, ingat?”

Minho mendelik padaku.

“itu berarti kau Sembilan kali lebih ingin menyentuhku?”

“emm..” aku berpikir sebentar, mencari kata yang cocok, “mungkin tidak sembilan, tapi ya, sepertinya yang aku rasakan lebih besar daripada yang kaurasakan.”

Minho memperbaiki posisinya lagi dengan canggung.

“kenapa tak kita coba saja, kalau begitu?” tanyanya sedikit ragu.

“coba apa?”

Minho tampak sedang merangkai kata untuk dikatakan selanjutnya.

“mencoba melakukan hal yang lebih dalam, ciuman misalnya?” tanyanya sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.

Aku tertawa ringan.

“apa kau yakin kau bisa menahannya agar tak terseret ke tahap selanjutnya?” tanyaku.

Minho mengangkat bahunya.

“kalau tidak dicoba, bagaimana kita bisa tahu—“

“kalau kau tanya pertanyaan itu padaku, jawabanku adalah: aku tak bisa,” potongku, minho tampak sedikit terkejut dengan perkataanku. “mengerti? Aku tak bisa melawannya. Jadi, daripada aku terlanjur meneruskannya, lebih baik kita tak memulainya sama sekali. Setuju?”

Minho menggeleng tidak yakin.

“dengar, kalau kita membatasi diri mungkin kita bisa—“

“ya ampun, minho! Nafsuku Sembilan!” aku memotong kalimatnya lagi. Nadaku meninggi, aku tahu itu, “aku bisa saja sekarang menerjangmu dan melumat habis bibirmu itu, kalau aku mau. Kau tak pernah tahu bahwa bibirmu benar-benar menggoda di mataku! Aku selalu mengira-ngira bagaimana rasa bibirmu, apakah kenyal, sedikit basah atau apa! Kau tak pernah tahu betapa aku susah menahan perasaan itu. Dan rahangmu—ya ampun!” aku berhenti sebentar untuk menunduk. Susah payah aku menahan emosiku, menahan mulutku untuk tidak mengatakan semua yang aku pikirkan tentangnya. Aku menghembuskan napas panjang dan menatapnya lagi.  Saat bicara, nada suaraku yang tinggi sudah jauh berkurang, “kalau aku teruskan, kau akan terkejut karena mengetahui bahwa otakku ternyata sedemikian kotor. Dan aku tak mau itu terjadi.”

Minho tersenyum sambil menatapku.

“aku senang kau jujur,” katanya, “sedikit terkejut sebenarnya, mengenai pikiranmu terhadapku—kau benar ingin melumat habis bibirku?” minho tampak kehabisan kata-kata dan jelas kali terlihat di wajahnya kalau dia sedikit tak percaya dengan yang aku katakan. Minho mencoba menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan cepat, sebentar kemudian dia menggeleng kecil sambil tersenyum, seperti sedang menertawakan sesuatu yang lucu dalam kepalanya. “kau tahu? Sedikitnya, aku juga berpikiran sama tentangmu. Apa kau mau mendengarnya?” tambahnya lagi.

“tidak,” ujarku tegas sambil mengangkat sebelah tanganku, “beberapa pikiran kotor sudah lumayan mengisi otakku, aku tak mau menambahnya lagi. Terima kasih”

Minho tertawa makin keras begitu mendengar jawabanku.

“bisa kita lanjutkan belajarnya?” tanyaku setengah memaksa.

Minho mengangkat bahu. Sambil tersenyum dia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap meja lagi.

“aku tak bisa mengalahkanmu untuk urusan seperti ini,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Aku hanya mendengus pelan. Menit-menit berikutnya, kami terlalu sibuk untuk bicara.

(stuck)

= = =

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s