FF/S/Nuna’s Diary (page 87-90)

= Nuna’s Diary =

Page: 87-90

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Aku masuk ke kamar taemin dan seperti dugaanku, taemin masih tertidur lelap.

Aku memperhatikan wajahnya lebih dekat.

Aduuh, hidungnya lucu sekali…

Aku tak tahan. Dengan gerakan cepat, aku mencium hidungnya.

“taeminie~~ ireona~~ iroena~~” aku goyang-goyangkan sedikit wajahnya setelah itu. Kemudian aku nyengir sebentar. Entah kenapa. Mungkin karena barusan aku mencium hidung taemin yang lucu itu.

Taemin bergumam pelan dengan mata masih tertutup dan memindahkan posisinya ke samping kanan. Dia hampir terjatuh karena tidur terlalu ke pinggir, jadi aku langsung menahannya tubuhnya supaya tak jatuh. Selimutnya terbuka karena dia pindah posisi secara tiba-tiba dan saat kulihat, baju kaos di dalamnya juga tersingkap. Kebiasaan taemin kalau tidur, pasti ada saja bagian bajunya yang terbuka.

Aku tersenyum kecil melihat adikku itu. Meski tidur tapi dia imut sekali. Bibirnya berminyak, hihihi.

“taeminie~ ireonaa~~”

Kali ini aku mendorong pelan badannya sehingga dia terlentang lagi. Taemin tak bergeming.

“taeminie~~” aku mencoba menggoyang-goyangkan badannya.

Taemin mengintip sedikit. Dia tampak benar-benar mengantuk.

“ireona~~” suruhku lagi. Aku duduk di pinggir kasurnya karena capek berdiri.

Taemin menutup matanya lagi.

Anak ini benar-benar…

“ya! Ireona~~ aku sudah buatkan bokkembab! Ayo makan!”

Nadaku sudah meninggi. Dan kemudian taemin mengintip lagi.

“ngg~”

Kali ini taemin mengambil lenganku dan memeluknya seperti bantal guling.

“yaa!!” seruku.

Taemin tak bergerak sedikitpun.

Aduuh, mukanya imut sekali~

“kau masih ngantuk sekali, ya?” tanyaku. Tentu saja tak ada jawaban, taemin sudah tertidur lagi.

Aku terus menatap si kecil itu dan menghembuskan napas berat. Pada akhirnya aku juga yang kalah.

Dengan perlahan, aku tarik lenganku dari pelukannya dan menyelimuti taemin dengan rapi. Biar saja dia tidur sebentar lagi.

***

Cklek!

“nunaa~~ lapaaar~~~”

Aku memutar balik badanku dari layar televisi dan menemukan taemin yang baru bangun. Dia mengucek-ucek matanya dan mendekatiku dengan langkah sempoyongan. Aku hanya tersenyum dan membiarkan dia duduk di sebelahku.

“tadi aku dengar ada bokkembab~” ujar taemin lagi.

Aku hanya menatapnya dan menunjuk dapur dengan bibirku. Maksudku mengatakan padanya kalau bokkembab-nya ada di dapur dan silakan dia ambil sendiri, begitu.

“nuna marah padaku, yaa?” tanya taemin tiba-tiba.

Aku menggeleng.

“nuna sudah makan?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng lagi.

“kenapa belum makan??”

Anak ini…

“aku menunggumu tahu! Tidak enak makan sendirian~” jawabku.

“kenapa nuna tidak bilang tadi??” taemin bersikeras.

Aku langsung menjitak kepalanya.

“aku malas membuang waktu membangunkanmu. Sekarang makan sana!” ujarku ketus.

Taemin memajukan bibirnya.

“nuna makan jugaa~~~” pintanya sambil menggoyang-goyangkan badanku.

“aku malas”

Diam sebentar setelah aku bicara seperti itu.

“aku suapkan, ya??” kata taemin tiba-tiba.

“mwo??” aku terbelalak mendengar kata-katanya.

“ya? Ya? Tunggu sebentar ya, nunaa~~”

Taemin berlari-lari kecil menuju dapur.

Disuapkan? Yang benar saja??

Aku berpikir sebentar.

Ah, biarlah. Sekali-sekali manja padanya. Hehe~

Taemin kembali beberapa menit kemudian dengan piring penuh nasi di tangan kirinya dan gelas besar di tangan kanannya.

“kenapa banyak sekali??” ujarku protes ketika melihat gunung nasi di piring itu.

“biar nuna cepat besar, hehehe” jawab taemin sambil nyengir.

“besar apanya?? Kita makan berdua dengan nasi itu! Aku tak bisa menghabiskannya sendiri!”

Taemin tak menggubrisku. Dia malah mengambilkan satu sendok penuh nasi untukku.

“nuna, aa~~” katanya kemudian sambil menyodorkan sendok penuh nasi itu padaku.

“issh kau ini!” setelah berkata seperti itu, aku membuka mulutku lebar-lebar agar seluruh nasi itu masuk.

“waah~ mulut nuna ternyata lebar juga ya~ segini saja masuk~” ujar taemin takjub. Aku langsung melotot padanya.

Setelah beberapa gigitan, aku menunjuk piring yang sedang dipegang taemin.

“kau juga makan!” kataku dengan mulut sedikit penuh.

“nuna suapkan aku jugaa~~” rengek taemin.

Dasar anak ini…

Aku mengambil sendok dan mengambil satu sendok nasi untuk kemudian aku sodorkan pada taemin.  Sengaja aku isi penuh-penuh untuk balas dendam.

“nuna mau membalasku yaa~” kata taemin sambil tersenyum misterius, tapi kemudian dia juga membuka mulutnya lebar-lebar sama sepertiku tadi.

Taemin mengunyah dengan mulut tertutup. Bibirnya lucu sekali bergerak-gerak seperti itu.

Setelah itu, kami saling menyuap. Taemin makan dengan lahap kali ini. Aku memasukkan porsi nasinya lebih banyak dan bisa dibilang lebih dari setengah nasi di piring itu dia yang makan. Setelah beberapa lama, bokkembab itu habis juga.

“nuna kenapa sih dari tadi perhatikan bibirku terus?” tanya taemin setelah dia minum sebentar.

Hah? Masa?, ujarku dalam hati.

“benarkah?” aku malah bertanya balik. Taemin menjawabnya dengan anggukan cepat. Aku tertawa melihatnya. “bibirmu lucu saat mengunyah” tambahku pelan.

“ne?” taemin tampak terkejut, tapi kemudian dia tersenyum malu-malu.

“kenapa kau senyum-senyum begitu??” tanyaku sedikit curiga.

“aniyoung” kata taemin sok imut, kemudian dia tersenyum misterius padaku “bibir yang ini pernah kiseu bibir nuna loh, nunaa~~” tambahnya.

Aku terkesiap dan tak tahu mau bicara apa. Darahku rasanya naik ke kepala. Kejadian waktu itu teringat lagi. Di sofa ini juga terjadinya. Wajahku pasti merah sekarang.

“hihi, wajah nuna merah” taemin nyengir sambil menunjukku.

“sudah diamlah.” Ujarku dingin. Taemin langsung diam.

Setelah itu, salah satu dari kami tak ada yang bicara. Keadaan jadi canggung.

“taeminie—“

“nuna—“

Kami memanggil pada saat bersamaan.

“nuna duluan” ujar taemin kemudian.

“tidak, kau duluan” ujarku keras kepala.

“nuna duluan. ‘kan ladies first~~” kata taemin setelah itu dengan tampang imutnya.

“sok inggris kau” kataku sedikit sinis sambil tersenyum. Taemin cuma nyengir. “mm..” aku berpikir harus mulai dari mana, “yang waktu itu, anggap saja tak pernah terjadi, oke?” ujarku ragu-ragu.

“yang waktu itu yang mana maksud nuna?” tanya taemin polos.

Aduh, bagaimana aku menjelaskannya…

“yang malam kau ulang tahun itu~~” tambahku lagi.

“oh, yang itu..” taemin mengangguk-angguk pelan, “kenapa aku harus menganggap tak pernah terjadi?? Padahal ‘kan itu kenangan terbaikku~~” taemin memberengut padaku. Tatapannya terlihat tak senang.

“itu..” aku makin bingung harus bicara apa, “tak ada. Aku.. kau..” aku menatap taemin dengan sedikit takut-takut dan taemin terus menatapku dengan pandangan ingin tahu. Aku jadi merasa tersudut. “baiklah. Tak jadi. Oke, kau boleh terus ingat.” Kataku sambil mengangguk untuk meyakinkan diri sendiri. “baik, sekarang giliranmu. Kau mau bicara apa, taeminie?” tanyaku memaksakan senyum.

Taemin masih memberengut sambil menatapku. Bibirnya dimain-mainkannya.

“tadi aku mau minta kiseu seperti yang waktu itu..” kata taemin sambil terus menatapku.

“shireo” ujarku cepat.

“waeyo~? Aku kan mau~” taemin menggeser posisi duduknya semakin dekat denganku.

“shirheo” aku menggeser dudukku untuk menjauhinya.

“waeyo~?” taemin mendekatiku lagi, dia semakin mendesakku. Wajahnya imut, tapi dalam keadaan seperti ini, dia tampak menakutkan.

“kau tak boleh taeminie~” ujarku memperingatkan. Aku menggeser badanku menjauhi taemin lagi sampai punggungku menyentuh pegangan sofa. Aku sudah tersudut.

“aku mau~~” kata taemin. Dia menggeser duduknya semakin dekat. Senyumnya misterius sekali. Dia mulai mencondongkan tubuhnya ke arahku.

“kau sudah janji tak mau minta kiseu padaku lagi, ingat?” kedua tanganku mengarah ke depan untuk menahan tubuhnya agar tak bisa mendekatiku. Taemin seperti tersadar saat aku bicara seperti itu.

“oh iya!” ujarnya cepat, wajah polosnya sudah kembali lagi, “kalau begitu ppoppo saja deh!”

Ccuk!

Taemin langsung mencium bibirku cepat dan kemudian dia menggeser duduknya menjauhiku lagi. Dia tersenyum senang.

Aku menghembuskan napas panjang secara diam-diam dan mencoba untuk merileks-kan badanku dan duduk dengan nyaman.

“kau itu kadang-kadang menakutkan, taeminie” ujarku padanya.

“benarkah?” tanya taemin bersemangat, “aku suka kadang-kadang menjadi orang yang menakutkan” ujar taemin lagi sambil mencondongkan badannya sedikit ke arahku tapi kemudian kembali ke posisinya semula. Aku sedikit menjauhinya lagi saat dia mencondongkan badannya tadi.

“kita ini cuma berdua, tahu!” ujarku sedikit kesal.

“karena kita cuma berdua itulah, nuna~~” jawab taemin sambil nyengir lebar. Matanya menyipit dan dia terlihat senang sekali.

Aku hanya menatapnya tak percaya. Kalau dilanjutkan, ini bisa sampai hal yang lebih lagi. Harus dihentikan sekarang.

“baiklah. Sampai di sini saja. Bantu aku cuci piring, ayo!” aku beranjak dari sofa dan menarik tangannya.

“nee~~~” ujar taemin riang sambil mengikutiku. Dia berjalan sambil melompat-lompat. Terlihat senang sekali.

Dasar anak kecil…

= = =
Advertisements

4 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 87-90)

  1. Waaaaahhhhh…….critanya kluar jga…. Taemin mkin imut aja nih….tpi kbiasan poppo kyaknya gak bkalan ilang deh…*mau dong…*….lanjutannya smoga cpat di publish…..fighting chingu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s