FF/S/Nuna’s Diary (page …-…) [LOST PAGES “Finally We Realize”]/PG

(from author: untuk keterangan lebih lanjut mengenai ‘lost pages’ klik di sini)

 

= Nuna’s Diary =

Page: …-… (lost pages)

SubTitle: Finally We Realize

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

Rated: PG

= = =

Aku tersentak oleh bunyi bel rumah. Saat kulihat jam dinding, sudah hampir tengah malam. Akhirnya dia pulang.

Dengan perasaan marah bercampur gelisah, aku berjalan cepat menuju pintu depan. Dengan satu sentakan pintu itu terbuka, memperlihatkan taemin yang berdiri di belakangnya. Hanya satu detik yang aku perlukan untuk menyadari apa yang kira-kira telah terjadi padanya.

“APA YANG KAU LAKUKAN??” ujarku berang. Aku berteriak, tak hanya karena dia sudah pulang lewat jam malam yang telah aku berikan, tapi juga karena keadaannya sekarang. Jelas sekali dia mabuk, dengan masih mengenakan seragam sekolahnya dibalik jaket tipis abu-abunya.

Mata taemin terlihat merah dan dia tersenyum tipis padaku.

Sedetik kemudian dia ambruk. Untung tanganku cepat menahannya sebelum dia menyentuh lantai. Taemin benar-benar tampak lemah. Kepalanya terjatuh tepat di pundak kananku.

“nuna~” bisiknya lirih.

Aku cepat-cepat memperbaiki posisinya dan menutup pintu depan. Dengan susah payah aku membawa taemin ke ruang keluarga, tempat terdekat di mana aku bisa membaringkannya. Tak ada gunanya juga marah dengannya dalam keadaaan seperti ini.

Taemin hanya bisa pasrah dan berbaring lemah di sofa kecil itu. Kuraba rambut dan pipinya sembari meletakkan lututku di lantai. Sebenarnya apa yang terjadi dengan adikku? Kenapa dia seperti ini?

“nuna~” taemin berbisik lagi, setengah mengigau.

“aku di sini” jawabku seadanya. Beberapa tetes airmataku sudah mengalir. Aku tak tahan melihatnya seperti ini.

Taemin membuka matanya perlahan dan menatapku. Dia benar-benar tampak tak bertenaga.

“mianhae” bisiknya lagi.

“kau kenapa?” tanyaku lagi, nada suaraku bergetar.

Taemin hanya menggeleng dan tersenyum. Bibirnya bergerak, membentuk sebuah kata yang terlihat seperti ‘gwaenchanha, tidak apa-apa’. Aku benar-benar tak tahan melihatnya seperti itu. Aku merasa gagal, gagal sebagai kakak yang seharusnya bisa menjaga adiknya, adik satu-satunya. Di saat itu juga aku meraung di atas tubuhnya yang lemas.

“nuna, mianhae~” bisik taemin lagi, “gwaenchanha, nuna. Ulji ma~”

Aku menurutinya. Aku hapus airmataku dan mulai membuka bajunya.

“nuna, wae—“

“kau muntah, taemin. Bajumu basah.” tebakku, dan aku yakin benar itu memang terjadi, taemin juga tak membantahnya. Dia tak bisa bohong padaku.

Taemin membiarkanku yang terus membuka bajunya. Setelah itu, aku mengumpulkan bajunya dan meletakkannya di ember baju kotor, dan dengan terburu-buru aku mengambil baju rumah taemin di dalam kamarnya dan kembali ke ruang keluarga secepat aku bisa.

“nuna, mianhae~” ujar taemin ketiga kalinya saat aku memasangkan baju kaosnya.

Aku tak ingin menanggapinya. Paling tidak sebelum aku tahu apa sebenarnya yang membuatnya mabuk seperti ini.

“kau tunggu di sini. Aku akan buatkan susu”

“perutku tak enak, nuna—“

“kau HARUS minum susu” ujarku memotongnya. Dia tidak dalam keadaan bisa membela diri sekarang ini.

Taemin hanya diam, dan membiarkanku berjalan ke dapur.

Saat aku kembali, taemin masih berbaring.

“minum ini” ujarku saat sampai di depannya. Aku membantunya duduk.

Taemin mulai minum sementara aku duduk di sebelahnya sambil memperhatikannya. Setelah dia menghabiskan susu itu, dia berbaring lagi.

“kau harus tidur di kamar” aku menatapnya tajam. Asing rasanya melihat taemin yang seperti ini.

“di sini saja” ujarnya keras kepala.

Aku tak mau membantahnya sekarang. Percuma.

Sebentar kemudian dengkur taemin terdengar, dan aku melanjutkan tangisku lagi. Terlalu banyak hal dalam pikiranku akhir-akhir ini dan taemin menambahnya dengan ini. Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang.

***

Saat aku terbangun, aku menemukan selimut yang diselimutkan padaku. Taemin juga sudah tak ada lagi di sofa. Dengan mata masih berat, aku mencoba mencarinya.

“taemin?” panggilku dengan suara serak.

Taemin keluar dari kamar mandi dan menatapku sebentar kemudian. Dia lalu berjalan memutari sofa dan duduk di sebelahku. Wajahnya masih terlihat kusut, tapi aku harus mengetahui semua yang terjadi padanya kemarin. Matanya yang masih merah mengobarkan lagi kemarahanku yang belum dilepaskan tadi malam.

“sekarang jelaskan padaku” ujarku dingin.

Taemin tak langsung melihatku. Dia menunduk memandangi sesuatu di bawah kakinya.

“aku ingin dipeluk” ujarnya pelan.

“kau tak akan mendapatkannya sebelum kau jelaskan semua.” suaraku benar-benar sedingin es sekarang.

Taemin menarik napas panjang sebelum menghembuskannya kembali.

“yeonha mengajakku”

DEG!

Yeonha mengajaknya?? Bagaimana bisa—?? Padahal aku percaya dengan anak itu, bagaimana bisa??

“mianhae, nuna”

Aku masih belum bisa menyatukan semua ini. Maksudnya, si yeonha ini yang menjerumuskan adikku, begitu??

“dia mengajakmu minum??” tanyaku dengan nada tinggi.

Akhirnya taemin berani melihatku. Tatapannya tampak benar-benar bersalah.

“bukan, dia tidak mengajakku minum,” Jawab taemin gelisah. 

Sebentar, tidak mengajak minum jadi apa?? Kenapa taemin sampai mabuk begini??

Mungkin taemin melihat tampangku yang masih kebingungan, dia melanjutkan ceritanya.

“dia mengajakku melakukan ‘itu’, nuna”

DEG!!

Kali ini detakannya lebih keras. Aku tak tahu kenapa.

Aku mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, menyiapkan diri untuk menerima cerita lanjutannya.

“lalu?” tanyaku pelan, “kenapa kau bisa mabuk?”

Taemin menunduk lagi.

“aku pergi minum sendiri karena aku hampir melakukannya”

Aku mulai tak mengerti lagi sampai di sini.

“kau hampir? Jadi kau belum—?”

Taemin memotongku dengan sebuah gelengan. Setelah itu dia menatapku lagi. Tatapannya terasa dalam.

“aku hanya memikirkan nuna. Mianhae, nuna. Aku tak bisa melanjutkannya”

Aku tak memberikan respon apapun. Otakku masih belum bisa menerima semuanya.

“meski nuna yang menyuruhku berpacaran, memohon pada yeonha agar kami pacaran,” taemin melanjutkan, “mianhae, nuna. Aku sudah mencoba, tapi aku tak bisa” suara taemin terdengar makin pelan hingga kata terakhir.

“aku sudah mencoba, nuna. Aku sudah pegangan tangan, makan bersama, kiseu, tapi aku selalu memikirkan nuna. Aku tak bisa,” kali ini taemin menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan dia mulai terisak, “mianhae~” ujarnya lagi.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain memeluknya. Itu tadi yang dipintanya dan itu yang benar-benar ingin aku lakukan sekarang; memeluknya. Aku benar-benar memeluknya erat. Aku kira dia akan bahagia menemukan wanita lain selain aku di hidupnya, tapi ternyata ini hasilnya. Aku sudah menghancurkan adik kecilku. Aku gagal.

“mianhae, taemin” ujarku pelan sambil memeluknya makin erat, “mianhae~”

Kemarahanku sudah berubah menjadi kesedihan dan penyesalan sekarang. Aku biarkan saja airmataku terus jatuh.

Taemin membalas pelukanku dan kami sama-sama menangis.

“aku sayang nuna~” kata taemin disela isakannya, “saranghae~ aku tak bisa tanpa nuna. Mianhae, nuna~”

“jangan begini lagi, taeminie~ jangan pernah begini lagi~” bayangan taemin yang kutemukan mabuk tadi malam membayang lagi di depan mataku. Semuanya gara-gara aku.

“tidak akan, nuna~ aku minta maaf~ mianhae~~”

Taemin menjauhkan tubuhnya dariku dan menatapku. Aku melihat wajahnya yang sudah basah oleh airmata dan aku mencoba menghapusnya.

“aku mau nuna, aku tak mau yang lain” ucap taemin dengan pelan. Setetes airmata jatuh lagi ke pipinya yang memerah.

Aku memejamkan mata dan mengangguk. Tak ada gunanya lagi menyembunyikannya sekarang. Aku tak bisa bohong lagi kalau aku juga menginginkannya.

Dengan duduk berhadapan dan dengan wajah yang masih basah dengan airmata, kami berciuman. Ciuman terlarang antara dua saudara, tapi kami tak peduli, aku tak peduli. Kenyataannya memang ini yang terjadi. Dia menginginkanku, dan aku menginginkannya. Apa lagi yang harus disembunyikan? Kejadian yang terjadi akhir-akhir ini menyadarkanku, kalau aku juga tak bisa tanpanya. Tak mungkin juga aku membohongi diriku sendiri selamanya.

“apa aku harus mabuk dulu agar bisa menyadarkan nuna?” tanya taemin tiba-tiba.

Aku membuka mata dan mata taemin yang berjarak sangat dekat yang langsung kulihat.

“mianhae~ aku selama ini tak tahu~ aku—“

Perkataanku terpotong oleh ciuman taemin lagi. Airmataku mengalir turun lagi. Meski aku akhirnya sadar kalau ini yang aku inginkan tapi kenapa airmata ini terus jatuh? Apa tubuhku masih menolak hubungan ini dan memberontak di luar kesadaranku?

“nuna tak pernah salah. Nuna hanya butuh waktu. Dan aku benar-benar bahagia sekarang mengetahui kalau nuna sudah menyadarinya. Saranghae, nuna” kata taemin sebentar kemudian.

Aku hanya bisa mengangguk dengan airmata yang terus mengalir.

“sudah, nuna. Ulji ma~”

Taemin menarikku ke dalam pelukannya dan menggosok-gosok punggungku, mencoba menenangkanku.

= = =

Advertisements

3 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page …-…) [LOST PAGES “Finally We Realize”]/PG

  1. Kyaaaaa…….daebak…..
    Gak kebayang deh, klo taemin mabuk beneran…..jgan prnah….
    Taem: yang aku ingin kan hanya nuna….
    Kyaaa…mau dong, taemin ngomong kyak gitu ke aku….#plaaakkkk digmpar nunanya taemin…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s