FF/S/Nuna’s Diary (page 91-93)

= Nuna’s Diary =

Page: 91-93

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“nunaaaaa~~~~~~”

Ccuk!

Taemin mencium pipiku.

“sudah pulang?” tanyaku cuek.

“nee~~” jawab taemin.

Ccu~k!!

Taemin mencium pipiku lagi.

“apaan sih?? Kau bau! Mandi sana!” suruhku, sedikit risih dengan taemin yang terus mencium pipiku.

“neee~~!!” ujar taemin gembira. Dengan langkah riang, dia masuk ke kamar mandi.

Hah, tumben sekali langsung mau mandi, pikirku.

Suara shower yang terdengar selama lima belas menit kemudian.

“nunaa~~!!” suara taemin bergaung di dalam kamar mandi.

Apa lagi anak ini panggil-panggil aku?

“nee??” jawabku sedikit keras. Diam sebentar kemudian.

“nunaaaa~~!!!” gaung suara taemin terdengar lagi, kali ini lebih panjang dari sebelumnya.

“ck!” dengan malas, aku menegakkan badanku dari sofa dan berjalan ke depan pintu kamar mandi. Aku menggedor-gedor pintu coklat itu dengan keras, sengaja supaya taemin terkejut.

“apaa~???” ujarku. Aku nyengir kemudian. Seru juga menjahili taemin seperti ini.

“nuna membuatku terkejut—nuna, aku mau keluar~ jangan lihat yaa~ aku lupa bawa handuk~” ujar taemin kemudian.

“aku sudah di depan pintu. Sebentar, biar aku saja yang ambil.” Tanpa menunggu persetujuan taemin, aku langsung ke kamar taemin untuk mengambil handuknya dan cepat-cepat kembali ke depan pintu kamar mandi lagi.

“taeminiee~~ ini handuknyaa~~” ujarku kemudian.

“nee~” jawab taemin dari dalam, “nuna sudah di depan pintuu~?” tanyanya lagi. Gaung suaranya yang panjang terdengar imut.

“sudaah~ ini cepat ambil~”

Jglek!

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka lebar, memperlihatkan taemin tanpa balutan apapun.

“gomawo, nuna” Taemin nyengir, langsung menyambar handuknya yang sedang aku pegang dan segera menutup pintu itu lagi.

Blamm!

Apa yang aku lihat tadi?

Sedetik kemudian aku sadar.

“TAEMINIIIEEEE~~~!!!!!”

“hahahhahahahahaha~~~” gelak taemin terdengar dari dalam.

Aku kembali ke sofa dengan sedikit menghentakkan kaki. Apa-apaan tadi dia itu?? Sengaja membuka pintu lebar-lebar biar aku melihatnya, begitu?? Untung aku hanya melihat sekilas. Dasar anak nakal!

Blamm!

Aku langsung menoleh asal suara. Taemin berdiri di sana, masih sambil memegang kenop pintu dan mematung karena melihatku. Dia melingkarkan handuk putih di sekeliling pinggangnya, tak memakai atasan apapun. Aku melihatnya dengan berang.

“taeminie, kau tadi kenapa buka pintu leb—“

“kabuuurrr~~~” taemin langsung berlari ke pintu kamarnya. Tanpa disangka, handuknya melorot tiba-tiba saat dia mulai berlari.

“wah! Copot!” ujar taemin terkejut. Aku langsung menutup mataku.

“TAEMINIIEEE~~!!!!!”

“hahahahaha~!!”

BLAMM!!

Suara tawa taemin teredam oleh pintu kamarnya yang tertutup.

Aku menghembuskan napas panjang sambil geleng-geleng kepala. Dasar anak kecil!

Tadi bokongnya terlihat. Tapi kan aku memang sudah pernah melihatnya dulu saat taemin susah buang air besar. Bangga juga aku punya adik yang bokongnya mulus, hihihi.

Lima menit kemudian, taemin keluar dari kamarnya sambil membawa selimut tebalnya.

“brr~ dingiin~~” ujarnya sambil duduk di sebelahku. Rambutnya basah.

“kau keramas?” tanyaku. Taemin menjawabnya dengan anggukan. Setengah tubuhnya sudah tertutup selimut, hanya kepalanya saja yang kelihatan.

“kemana saja kau tadi?” aku mulai bertanya tentang harinya.

“main” jawab taemin singkat. Dia merebut remote yang sedang aku pegang dan langsung mengganti channel tv ke channel kartun, “wah, koala kid!” ujarnya kemudian dengan bersemangat.

Rambut taemin yang basah menambah keimutannya, belum lagi bibirnya yang makin merah karena kedinginan. Barusan malah dia memberengut lucu begitu.

Aduuh, imuutnyaa~

“main dengan siapa? Ke mana saja?” tanyaku bertubi-tubi, ingin mengobrol dengan taemin lebih banyak karena seharian ini dia tak pulang.

“dengan nuna-ku, di love hotel,” taemin melihatku sambil tersenyum. Belum sempat aku protes, taemin mulai bicara lagi, “aku bercanda, nuna~ Nuna! Ulanganku dapat empat!” wajah taemin terlihat gembira.

“cih” desisku, “dasar babo”

Tiba-tiba taemin mencubitku lenganku.

“nuna ini bisanya cuma mengejekku saja!” ujarnya protes. Bibir merahnya memberengut lagi. Tebal sekali bibirnya. “kenapa nuna lihat-lihat??” tanya taemin lagi.

Aku tak sadar memperhatikan bibirnya terlalu lama, aku tersenyum padanya.

“taeminie! Ppoppo sini!” suruhku.

Taemin langsung nyengir dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat denganku lalu dimajukannya bibirnya.

Ccuk!

Aku mengecup bibirnya cepat.

“heheee~~” taemin nyengir lebar setelah itu. “nuna, lagi~~” pintanya. Aku tak menjawabnya, hanya memandangi bibirnya yang merah itu lagi sambil tersenyum.

Ya ampun, bahkan hanya bibir adikku saja bisa membuatku tidak tahan seperti ini..

Ccuk!

Taemin menyambar bibirku saat aku lengah.

“hehehee~” dia nyengir lagi. “lagi, nuna!”

Aku langsung menahan taemin yang mencondongkan badannya ke arahku lagi.

“sudah cukup, kecil!” ujarku sambil mencubit pelan hidungnya. Taemin langsung manyun. “dua yang tadi itu sebagai ganti ppoppo sebelum tidur, jadi nanti kau tak dapat lagi.” Tambahku.

“nuna~!!” protes taemin. Aku menjulurkan lidah padanya.

Diam sebentar kemudian.

“dinginnya~~” ujar taemin, dia kemudian memandangku dengan tatapan berbinar, “nuna masuk sini juga biar hangat!” suruhnya sambil melebarkan selimut tebalnya itu. Aku menurut dan ikut masuk ke dalam selimutnya. Kaki kami beradu. Taemin mengenakan celana pendek, begitu juga aku. Jadi kulit kami saling bersentuhan. Tapi benar juga kata taemin, jadi hangat.

“hangat ‘kan, nuna?” tanyanya bersemangat. Aku mengangguk pelan.

Diam lagi kemudian, kami berdua terpaku pada televisi. Lama setelah itu, kartun favorit taemin itu habis.

“yaah~ habis~” taemin mengeluh sambil memberengut. Aku tak menggubrisnya. Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba taemin memelukku.

“ya! Kau apa-apaan??” ujarku protes sambil mencoba menjauhi taemin.

“aku ngantuk, nuna~ mau tidur~~” kata taemin sambil merebahkan kepalanya ke kepalaku kemudian ditutupnya matanya. Karena aku lebih pendek dari taemin, saat kami duduk begini kepala taemin lebih tinggi daripada kepalaku.

“kalau mau tidur di kamar, taeminie~!!” kataku lagi. Tapi sepertinya taemin tak peduli. Dia malah mempererat pelukannya.

“emm.. hangatnya~” gumamnya pelan.

Aku terdiam setelah itu. Hangat. Taemin memelukku, ini mengingatkanku saat taemin memelukku di kasurnya di malam ulang tahunnya. Hangatnya sama. Suhu tubuh adikku.

Dengkur taemin terdengar kemudian. Dengkur halus berirama. Ujung rambut taemin mengenai pipiku, rasanya geli. Dekapan taemin masih belum lepas, dia benar-benar memelukku dengan erat. Dan entah kenapa, mataku jadi berat.

Aku menutup mataku, mencoba bernapas sesuai dengan irama dengkur taemin dan jatuh tertidur.

= = =

Leave Comment ! Thank You 🙂

Advertisements

7 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 91-93)

  1. kyaaaa……entah kenapa setiap baca nuna’s diary, rasanya pengen gigitin taemin…. imut banget sih….. *ngebayangin handuk taemin melorot…*_*…..* bikin ngakak…..ckckck…*taemin:reader sarap…*….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s