FF/2S/NUNA’S DAY [sequel of Nuna’s Diary (page 100-105) special Nuna’s birthday] (part 1)

= Nuna’s Day =

Cast:

  • Taemin
  • Nuna

Part: 1 of 2

Description: sequel of NUNA’S DIARY (page 100-105), Taemin Point of View (full)

###

Cklek!

Aku mengintip ke dalam.

Nuna masih tidur. Aku mendekati nuna sambil mengintip sedikit. Hanya bagian atas wajah nuna saja yang terlihat dari balik selimut yang dipakainya menutupi sampai ke kepalanya.

Benar-benar masih tidur.

Aku menggigit bibirku. Bingung antara akan membangunkannya atau tidak.

Aku melihat ke jam dinding nuna. Sudah hampir jam sembilan. Kalau tidak dibangunkan sekarang, nanti waktunya tidak cukup.

Aku naik ke kasur nuna, berhati-hati agar nuna tidak terbangun.

Sambil bertumpu pada kedua lututku, aku mencoba mengintip nuna lagi. Masih belum terbangun.

Aku menghembuskan napas berat sebelum mulai membangunkan nuna.

“nuna~ ireona~”

Tak ada pergerakan sama sekali. Apa suaraku kurang keras?

“nunaa~~ ireonaa~~”

“ng”

Nuna bergumam sedikit, tapi masih belum membuka matanya.

“nuna, nuna~ ireona~~” kali ini aku mencoba sedikit menepuk-nepuk bahu nuna.

“ng~”

Nuna akhirnya membuka sedikit matanya. Alisnya berkerut saat melihatku.

“nuna, ireona~” kataku. Senyumku sedikit berkembang karena akhirnya nuna bangun juga.

“taemnie knapa ko berpekean sperti itu. Msuk sini, dingin”

Bukannya bangun, nuna malah melebarkan selimutnya dan menarikku masuk ke dalam. Kasur sedikit berderit saat aku terhempas tepat di samping nuna. Sebelum aku sadar sepenuhnya, nuna sudah membungkus kami berdua dengan selimut tebalnya.

Aku menelan ludah. Nuna sudah menutup matanya lagi. Jarak wajah nuna hanya beberapa senti, dekat sekali.

Nuna ini, kalau keadaannya begini aku kan jadi…

Tanpa sadar, sebelah tanganku sudah ada di pipi nuna. Aku menelan ludah sekali lagi.

Ini bukan salahku, nuna yang mulai duluan…

Ccu~k

Aku mengecup bibir nuna dengan lembut. Hanya sebentar saja, hanya mengecup saja. Kecupan ringan saja.

Saat aku menjauhkan bibirku, nuna masih belum bangun. Bibirnya sedikit terbuka, wajahnya terlihat pasrah sekali. Aku menelan ludah lagi. Bibir nuna…

Tidak! Aku harus membangunkan nuna!

Aku menggeleng sendiri dan segera bangun. Selimut nuna tersibak, memperlihatkan nuna yang bergelung.

“nuna, ireona~~ ayo kita pergi~~” aku mulai tak sabar. Aku menggoyang-goyangkan badan nuna sedikit keras.

“ngh, taeminie~ tidur dulu~ dingin sekali~”

Brugh!

Nuna menarikku lagi. Sekali lagi aku terbaring di sebelah nuna. Nuna masih menutup matanya.

“nuna, kalau tak bangun juga aku akan kiseu, lho” ancamku.

Tak ada respon dari nuna.

Nuna ini benar-benar…

“taeminie kau belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku” ujar nuna tiba-tiba dengan setengah bergumam. Matanya masih tertutup. Nuna jadi terlihat seperti orang mengigau. Tapi tidak, nuna memang biasa seperti itu. Kadang-kadang mengangkat telpon dengan mata tertutup kalau dia belum bangun sepenuhnya.

Aku melipat kedua tanganku.

“nuna ini nakal sekali. Kalau sudah bangun, buka mata doong” ujarku, sengaja tak mau melihat nuna dan mengalihkan pandanganku ke langit-langit kamar.

Ccuk!

Kecupan di pipi yang kuterima dua detik kemudian.

“baiklah aku sudah bangun, adik kecil. Sekarang kasih selamat untukku.”

Sambil menggembungkan pipi, aku melihat ke kiri, ke arah nuna. Nuna sudah membuka mata dan sedang melihatku dengan tersenyum. Tanpa mengatakan apa-apa, aku memajukan bibirku, maksudnya minta ppoppo.

Nuna memindahkan kedua tangannya menjadi di bawah kepalanya.

“kau dong yang ppoppo, kan aku yang ulang tahun” kata nuna kemudian.

Ccuk!

“saengil chukhahaeyo, nuna” ujarku segera setelah aku mencium cepat bibir kecil nuna.

Senyum nuna terkembang.

“senangnya, pagi-pagi sudah dapat hadiah ppoppo dari adikku~” nuna mencubit hidungku dan menggoyang-goyangkannya.

“a, nuna!” protesku.

“hehe” nuna nyengir. Kami bertatapan sebentar.

Hehe, nuna tidak tahu kalau tadi aku kiseu.

Aku mengeluarkan lidahku.

“ya! Kenapa kau merong padaku??”

“hehe” kali ini aku yang nyengir. “nuna, jadi pergi tidaak~?” tanyaku setengah merengek. Menyenangkan sekali pura-pura manja di depan nuna.

“jam berapa sekarang?” tanya nuna. Tanpa menunggu jawabanku, nuna memutar kepalanya untuk melihat jam dinding di sebelah pintu kamar, “wah baru jam sembilan~ ayo tidur lagi~”

Nuna menutup kami berdua dengan selimut sampai ke ujung kepala.

“nunaaa~~~~” suaraku teredam di dalam selimut.

“hehehehehe~~”

“nuna, jangan gelitiki akuu~~ hahahaha~~” aku menggeliat-geliat di dalam selimut saat dua tangan nuna meraba-raba pinggangku.

Beberapa saat kemudian, tangan nuna berhenti menggelitiki aku. Napas kami berpacu. Panas sekali di dalam sini.

“bhuaahh!”

Tiba-tiba nuna menyibak selimut.

“pemanasan pagi,” kata nuna sambil nyengir padaku. Tiba-tiba nuna mendorong badanku sampai aku tertelungkup. “gaja, gaja!” nuna menepuk bokongku sebelum turun dari kasur.

“nunaa~~!!!” teriakku.

“hahahaha~~” suara nuna menjauh.

***

Saat aku kembali, nuna tidak ada di tempat duduk yang ditunjuknya tadi. Aku melihat ke sekeliling. Ternyata nuna ada di sudut ruangan, di dekat permainan basket.

Aku mendekati nuna sambil setengah berlari.

“nuna!”

Nuna langsung membalikkan badannya begitu mendengar suaraku. Bibir kecilnya membentuk senyuman. Haduuh, nuna-ku~~

“ini kembaliannya,” aku menyerahkan dua lembar uang yang kupegang pada nuna, “nuna mau main basket duluan,ya?”  sambil menunggu nuna mengambil dompet, aku memperhatikan orang yang sedang main basket. Tunggu, sepertinya aku tahu orang ini, “KAI???”

Benar, kai! Dia langsung membalikkan badannya begitu melihatku.

“oh, kau!” katanya. Senyumnya mengembang, “kau ke sini juga??” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

“perkenalkan, ini nuna-ku.” Ujarku kemudian.

“annyeonghaseyo. Kai imnida.”

Nuna tak langsung menjawab. Nuna hanya melihat kai dengan senyum mengembang lebar. Matanya seperti penuh cahaya. Aku tak suka melihat nuna seperti itu.

“nuna!” aku menyenggol lengan nuna. Nuna sedikit terkejut dan tampak salah tingkah.

“ah, cheoum mannayo, taemini-eui nuna yeongmi imnida.”

“aku sering mendengar tentang nuna dari taemin,” kai langsung memulai pembicaraan. Terkadang aku iri pada kai yang selalu bisa mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya, tidak sepertiku.

“oh, geuraeyo? Taemin baru menceritakan tentangmu saat kami menginjak gedung ini,” Nuna melirikku sinis.

Apa-apaan itu mata nuna?? Aku tak suka. Saat nuna melihat kai lagi, mata nuna penuh cahaya lagi. Aku tak suka!

Mereka terus bercakap-cakap. Sepertinya menyenangkan sekali, aku merasa dianggap tak ada. Kenapa sih, harus bertemu kai di sini?

“ah, taeminie! Kau mau main basket? Barangkali kalian berdua bisa lomba? Aku tak pernah lihat kau main basket sebelumnya” nuna tampak bersemangat sekali. Kedua tangannya sampai terkepal begitu.

“geurae” kataku sambil langsung mengambil tempat di sebelah kai.

“kenapa wajahmu seperti itu?” bisik kai pelan saat aku mulai mengambil bola.

Aku tak menggubrisnya. Aku tak mau. Aku harus menang dalam permainan ini.

Permainan berlangsung cepat, dan aku yang menang. Yes! Tapi jadi panas sekali karena aku sungguh-sungguh bermainnya.

Nuna dan kai sudah bercakap-cakap lagi dan aku ditinggalkan kepanasan sendiri. Tiba-tiba nuna merogoh isi tasnya dan memberikan tisu pada kai.

Apa-apaan itu nuna?? Yang lebih berkeringat kan aku! Kenapa kai yang dikasih tisu duluan??

“nuna! Aku juga berkeringat!” protesku.

“aku tahu, aku tahu, nih!” nuna melempar kotak tisu kecil itu padaku dan kembali berbicara dengan kai.

Apa-apaan itu???? Aku benar-benar tak diperhatikan. Padahal aku yang menyusun rencana hari ini. Ingin menangis rasanya. Kenapa nuna begini padaku??

“kau sudah siap, taeminie? Ayo kita ke bawah.”

Nuna menarik lenganku dan memeluknya. Tapi aku sangat terkejut saat melihat ke kanan. Nuna juga melakukan hal yang sama dengan kai!

Aku sudah hampir ingin melepaskan diri dari nuna, kalau saja aku tak ingat ini ulang tahunnya. Kai juga tampak bingung. Dia hanya melihatku sambil mengangkat alisnya.

Nuna tetap menggandeng kami berdua sampai lantai bawah. Dia tampak bersemangat sekali. Selama seksi foto, dia yang paling banyak tertawa. Kalau diurutkan dari tertawa yang paling lebar itu nuna, kai, lalu aku. Nuna tertawa begitu lebarnya sampai matanya jadi menyipit, kai tertawa dan memperlihatkan gigi-giginya, aku hanya tersenyum tipis, begitu yang terlihat di foto yang sudah jadi.

Nuna bercakap-cakap lagi pada kai. Dari tadi nuna tak pernah melihat mataku. Aku kesal sekali. Kai dari tadi melirik-lirik padaku, wajahnya terlihat sedikit gelisah. Tapi nuna sama sekali tidak memperhatikanku.

“aku sudah benar-benar harus pergi sekarang. Terima kasih atas semuanya. Annyeonghi gyeseyo”

Kai pamit. Dia sempat memukul lenganku sedikit dan tersenyum sambil menaikkan alisnya. Kemudian dia pergi sambil membawa salah satu foto yang dikasih nuna barusan.

“haah~” nuna menghela napas panjang. Pandangannya tak putus melihat kai yang makin menjauh. Aku kesal melihatnya.

Nuna! Aku di sini! Di samping nuna!

“nah, kemana selanjutnya? Bioskop?” wajah nuna masih tersenyum saat bertanya itu padaku. Aku merapatkan gigiku, tak ingin marah atau menangis di depan nuna. Tanpa berkata apapun aku langsung pergi.

“taeminie?” nuna mencoba memanggilku, tapi aku tak mau menoleh ke belakang. Air mataku sudah jatuh dan aku tak mau nuna melihat ini.

“taeminie? Taeminie!”

Nuna berhasil menangkap tanganku. Aku menghentikan langkahku dan mencoba mengatur napas. Aku benar-benar tak mau nuna melihatku menangis, bagaimana ini?

“taeminie, kau kenapa?” nuna mencoba melihat wajahku. Aku langsung memalingkannya. Kemudian nuna mencoba meraih wajahku dan dihadapkannya ke arahnya.

“taeminie, kau menangis—?”

Grepp!

Aku langsung memeluk nuna. Aku tak mau nuna melihat air mata ini. Ini satu-satunya cara.

Detak jantung nuna terasa di depan dadaku. Aku memeluk nuna erat sekali.

“kau menangis, taeminie?” tanya nuna lagi. Salah satu tangannya mengelus rambutku. Aku menggeleng. Sementara itu tetesan air mataku sudah jatuh ke coat abu-abu nuna.

“waeyo~~?” tanya nuna. Nadanya dua kali lebih lembut dari nada-nada yang tadi. Nuna-ku sudah kembali.

“aku kehilangan nuna-ku dari satu jam yang tadi” jawabku lemah. Aku terus mencoba menahan agar napasku teratur. Susah sekali. Apalagi kami sedang berpelukan seperti ini.

Tak ada respon dari nuna setelah itu. Nuna hanya diam saja. Nuna terus diam sampai aku tenang. Tak perlu disembunyikan sebenarnya, nuna pasti sudah tahu kalau aku menangis dari tadi.

Nuna melepas pelukanku dan menangkap wajahku ke dalam kedua tangannya.

“kau cemburu pada kai, ya?” tanya nuna kemudian.

Aku hanya melihat nuna, kemudian mengangguk pelan.

Nuna menghapus air mataku yang barusan jatuh dengan ibu jarinya.

“uljima. Mianhae aku mengacuhkanmu, taeminie~”

Aku mengangguk lagi.

“sini, ppoppo!” ujar nuna sambil memajukan bibirnya.

Ccuk!

Aku mencium bibir nuna sekilas. Aku senang nuna mau melakukannya di depan umum.

“jangan menangis lagi. Ayo kita ke bioskop! Tonton film yang lucu supaya kau tertawa lagi, oke?”

Aku mengangguk dan tersenyum. Mataku pasti masih merah.

Nuna menarik tanganku sedikit bersemangat.

-TBC-

Advertisements

2 thoughts on “FF/2S/NUNA’S DAY [sequel of Nuna’s Diary (page 100-105) special Nuna’s birthday] (part 1)

  1. Gimana ya kalau kai tau taeminitu super duper manja Sama nunanya ?
    Hahahah… Pasti taemin di ledekin abis2an.
    Entah kenapa saya suka jika taemin terlihat dewasa jika berkumpul dengan temannya di depan nunanya… Ahahahaha…
    Taemin malu iih.. Masa depan umum nagis ˘°˘…

  2. taemin, so cute…….gak rela banget nunanya deket-deket ama orang lain, walaupun ama shabatnya sendiri….ckckck…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s