FF/S/Nuna’s Diary (page 100-105) special Nuna’s birthday (part 1)

= Nuna’s Diary =

Page: 100-105

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Aku terus berjalan mengikuti jalan setapak itu. Banyak pohon-pohon tapi aku ragu ini di dalam hutan. Aku terus mengikuti cahaya yang terbang bebas itu, menuju suatu lembah yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Setelah aku hampir sampai di bawah, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Taemin. Dia menggunakan pakaian serba putih. Sebelah tangannya disodorkan ke depan untuk menyambut tanganku. Tiba-tiba seribu kupu-kupu warna-warni mengitari kami. Aneh sekali aku tidak takut, padahal aku takut sekali dengan serangga berwujud indah itu. Sebuah cahaya menyilaukan menyinari kami. Sosok taemin yang hanya berjarak semeter dariku terlihat memudar.

“na~ ireona~”

Aku mengerutkan alisku. Itu suara taemin.

“na, nuna~ ireona~”

Benar, suara taemin. Dan dia menyuruhku untuk bangun. Hh~ masih ngantuk. Dingin sekali. Aku membuka mataku.

Taemin duduk di depanku, senyumnya mengembang lebar. Dia mengenakan kaos abu-abu playboy-nya. Tipis sekali dengan cuaca dingin begini.

“taeminie, kenapa kau berpakaian seperti itu? Masuk sini, dingin.”

Kasur berderit kemudian. Sunyi sesaat dan aku melanjutkan mimpiku yang terpotong tadi.

Taemin masih tersenyum padaku. Wajahnya benar-benar polos, hampir seperti malaikat. Aku meneliti taemin lebih dalam lagi dan sedetik kemudian aku baru sadar kalau warna rambut taemin hitam. Ah, aku rindu warna rambut itu.

Taemin mendekatkan wajahnya kepadaku. Kami sepasang kekasih yang akan melangsungkan pernikahan berdua. Menggunakan baju putih-putih khas pengantin. Dan sekarang tiba saatnya taemin mencium pengantinnya: aku. Taemin mengecup bibirku dengan lembut. Beberapa detik kemudian, dia melepas bibirnya dan melihatku dengan dalam.

“and they live happily ever after” katanya.

Tiba-tiba semua menjadi dingin.

“nuna~ ireona~~ ayo kita pergi~~” taemin menggoyang-goyangkan badanku.

Dasar taemin! tak tahu kalau aku benar-benar ngantuk apa?

“taeminie~ tidur dulu~ dingin sekali~” aku kembali menarik selimut yang sebentar ini disibakkan taemin dariku. Dasar anak kecil! Mengganggu saja!

“nuna, kalau tak bangun juga aku akan kiseu, lho”

Oh, sudah berani mengancam rupanya.

Aku tak menggubrisnya, berusaha untuk tidur lagi. Tapi sudah tidak bisa. Sepertinya ‘live happily ever after’ tadi klimaks mimpiku. Sudah tidak bisa tidur lagi.

“taeminie, kau belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku” ujarku kemudian. Aku ingat hari ini ulang tahunku, aku sudah menunggu-nunggunya sejak lama.

“nuna ini nakal sekali. Kalau sudah bangun, buka mata doong~”

Hehehe, ‘nakal’ katanya. Kosa kata imut baru dari mana lagi itu?

Aku langsung membuka mata. Bibirku langsung membentuk senyuman begitu kulihat taemin yang menggembungkan pipinya dan melipat tangannya, sama sekali tak mau melihatku.

Ccuk~

Aku mencium pipi taemin. Aku tak tahan. Pipi berisinya terlihat imut sekali pagi ini.

“baiklah, aku sudah bangun, adik kecil. Sekarang kasih selamat untukku.”

Taemin tak langsung mengatakannya. Dia hanya melihatku dan memajukan bibirnya. Hahaha, dia minta di ppoppo. Dikiranya aku merasa bersalah lalu ppoppo itu sebagai permintaan maaf dariku, begitu? Tidak bisa, ini hariku.

“kau dong yang ppoppo, kan aku yang ulang tahun” kataku iseng. Taemin langsung tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya padaku.

Ccuk~

“saengil chukhahaeyo, nuna~~”

Lihat itu bibirnya, dan matanya yang membentuk senyuman. Benar-benar khas taemin. Wajah malaikatnya itu hadiah ulang tahun yang pertama hari ini untukku.

“senangnya, pagi-pagi sudah dapat hadiah ppoppo dari adikku~” aku mencubit hidung taemin dan memainkannya. Selalu tidak tahan dengan anak imut satu ini.

“aa, nuna!” dia tampak marah. Bahkan dengan wajah marahnya itu dia terlihat imut. Haha, sepertinya hariku akan bahagia.

Tiba-tiba taemin mengeluarkan lidahnya.

“ya! Kenapa kau merong padaku??” ujarku kesal. Baru saja aku berpikir hari ini akan sempurna, tiba-tiba anak kecil ini mengeluarkan lidahnya. Jelek sekali.

“hehe” taemin cuma nyengir, “nuna, jadi pergi tidaak~~” taemin langsung mengganti topik.

Aku ingat dia kemarin ingin jalan keluar denganku untuk hari ini. Aku langsung melihat jam.

“jam berapa sekarang? Wah, baru jam sembilan~ ayo tidur lagi~”

Aku melebarkan selimut dan menutup kami berdua di dalamnya.

Taemin tersenyum senang sambil melihatku. Karena selimut ini berwarna terang dan membiaskan cahaya ke dalam, aku masih bisa melihat wajah taemin dengan jelas. Dia tersenyum malu-malu sambil melihatku.

Kyaaa~~ imutnyaa~~~

Aku langsung menggelitiknya. Padahal aku ingin sekali mencubit karena geram, tapi nanti dia jadi sakit. Jadi aku gelitik saja.

“nunaa, jangan gelitiki aku~ hahahaha” taemin berusaha sekuat tenaga menahan serangan-serangan tanganku. Aku tak mudah menyerah begitu saja. Sambil tertawa, aku terus mencoba menggelitiki pinggang taemin.

Setelah beberapa lama, aku kehabisan tenaga. Di dalam selimut menjadi panas karena kami terus bergerak. Jantungku berdetak cepat, apalagi setelah melihat taemin yang menatap lurus ke arahku. Aku baru sadar ini bahaya. Kami berdua di dalam selimut dan karena bergerak barusan, napas kami berpacu, menambah rasa panas di dalam selimut.

“bhuahh!!” ujarku sembari membuka selimut lebar-lebar. Udara dingin tiba-tiba menyerang. Terkadang aku sedikit kecewa ulang tahunku selalu di musim dingin.

Saat aku lihat taemin, dia masih menatap ke arahku, tak bergerak sedikit pun.

“pemanasan pagi, hehe” ujarku mengalihkan. Aku segera menyibakkan selimut dan bangun.

Taemin masih terbaring di situ, masih melihatku. Pikiran isengku muncul lagi.

Aku menggulingkan badan taemin hingga dia tertelungkup dan memukul bokongnya yang berisi.

“gaja, gaja!” Aku langsung kabur sebelum taemin sempat protes.

“nunaaa~~~!!” teriaknya.

***

“jadi mau kemana kita hari ini?” tanyaku saat kami berjalan di pinggir jalan. Sudah satu jam kami meninggalkan rumah. Setelah berkendara dengan bis kota, kami turun di tempat yang diinginkan taemin. Rencana pergi keluar hari ini rencananya, jadi dia yang menyusun semua.

Taemin membuka handphone-nya dan melihat sesuatu di sana.

“pertama kita akan beli es krim, lalu ke game center, lalu photobox, lalu nonton,” ujarnya, matanya masih terpaku pada layar handphone-nya. Ternyata dia mencatatnya di sana.

“geurae,” ujarku singkat. Aku makin memasukkan tanganku lebih dalam ke kantong coat-ku. Dingin sekali hari ini. “jadi, di mana toko es krimnya?” tanyaku lagi. Aku sudah tak sabar masuk ke dalam toko yang hangat, meski hanya sebentar.

“sebentar lagi sampai, nuna. Itu diujung jalan yang ada papan nama warna hijau.” Jawabnya. Aku melirik taemin. Dia memakai jaket warna-warni dan selembar baju kaos di dalamnya. Dari dulu taemin selalu tahan dingin, aku juga tak tahu kenapa kami sangat berbeda.

“kau tak kedinginan taeminie?” tanyaku, “kau cuma pakai jaket kan? Tak mau pakai syal-ku?” tawarku lagi. Meski aku tahu dia tahan dingin, tapi tak tega juga membiarkannya seperti itu sementara aku terbungkus kain-kain tebal seperti ini.

“tidak kok, nuna. Aku pakai dua lapis baju di dalam.” Jawabnya singkat.

Oh, berarti aku salah tebak.

“oke, sudah sampai!” ujar taemin tiba-tiba. Dia menjejakkan kakinya di depan etalase kaca setinggi pinggang. Seorang ajumma berdiri di belakang etalase itu.

Aku sedikit kecewa sebenarnya. Kukira taemin memilih toko es krim yang memiliki meja-meja kecil dan berudara hangat di dalamnya. Ternyata hanya toko es krim kecil pinggir jalan.

“nuna mau rasa apa?” tanya taemin padaku.

“terserah,” jawabku tak bersemangat. Aku masih melihat bagian bawah etalase kaca itu, mencoba membaca tulisan-tulisan kecil di sana.

“tolong rasa ‘terserah’nya dua” ujar taemin tiba-tiba. Aku langsung mengangkat wajahku dan memandang taemin tak percaya.

“ya! Kau babo! Tolong vanilla dengan choco-chip dua” ujarku kemudian, yang disambut dengan senyuman ramah ajumma pemilik toko.

“silakan tunggu sebentar” ujarnya sambil berlalu pergi.

Taemin nyengir lebar saat aku memandangnya sinis.

“apa-apaan itu rasa ‘terserah’?? Kau ini bikin malu saja!”

“hehe” cengiran taemin makin lebar.

“ini, vanilla dengan chocochip dua, semuanya 4000 won.” Ajumma tadi ternyata sudah berdiri di depan kami dengan dua buah eskrim di kedua tangannya. Taemin langsung menyambar salah satunya dan langsung menjilatnya.

“nuna yang bayar” katanya tak peduli.

Aku sudah membuka dompetku saat dia bilang seperti itu.

“memangnya siapa lagi yang mau bayar? Ambilkan punyaku sekalian”

Aku menyerahkan selembar lima ribu won pada ajumma itu. Tak lama kemudian, dia datang dengan kembaliannya.

“gomapseumnida.”

“ne, manhi phaseyo” ujarku sambil membungkuk sedikit. Aku dan taemin kembali menyusuri jalan.

“yang mana punyaku?” tanyaku pada taemin. Taemin diam sebentar.

“mollayo, nuna. Dari tadi aku jilat dua-duanya.” Ujarnya polos.

“ih, kau ini!” aku mengambil acak salah satu es krim itu dan menjilatnya. Lidahku jadi makin dingin.

“di mana game centernya?” tanyaku tak sabar. Aku harus segera masuk ke ruangan hangat. Bisa mati kedinginan kalau begini.

“tak jauh dari sini, kok” jawab taemin enteng.

Lima menit kemudian, kami masuk ke dalam sebuah gedung yang memiliki papan nama meriah di luarnya.

“kalau pulang sekolah aku biasanya kesini, nuna~” ujar taemin begitu kami naik eskalator menuju lantai dua.

“oh, ya? Sama siapa?” tanyaku sambil menjilat es krimku. Aku melihat ke sekeliling. Tak banyak orang di sini. Mungkin yang rela keluar di hari dingin seperti ini untuk bermain di game center hanya kami.

“temanku. Namanya kai.”

Lantai dua gedung ini penuh permainan dan jauh lebih hangat. Aku jadi sedikit bersemangat. Es krimku sudah habis dan aku langsung membuang sisanya di tong sampah terdekat.

“kau yang beli kartunya, ini uangnya. Aku mau duduk di sana dulu.” Aku menyodorkan selembar uang sepuluh ribu won pada taemin dan menunjuk salah satu kursi tunggu di ruangan itu. Taemin menurut.

Benar-benar sepi di atas sini. Setiap permainan memang mengeluarkan suara, tapi sejauh yang aku lihat, selain kami hanya ada seorang anak laki-laki yang bermain basket di sudut ruangan. Permainannya cukup bagus. Tak ada satu bola pun yang tak masuk ring. Aku jadi ingin menguji taemin, apa dia bisa seperti anak itu juga?

Aku mendekati anak itu, permainannya benar-benar menarik. Sepertinya anak ini pemain basket, gerak tubuhnya juga teratur.

“nuna!” terdengar teriakan taemin dari belakang. Aku langsung membalikkan badanku. Taemin mendekatiku sambil setengah berlari.

“ini kembaliannya,” ujarnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang padaku. Aku merogoh dompet untuk meletakkan uang itu kembali pada tempatnya, “nuna mau main basket dulu, ya—KAI???”

Aku langsung mengangkat wajahku untuk melihat taemin. Aku mengikuti arah pandangannya, dan yang kulihat selanjutnya adalah anak laki-laki yang ada di belakangku. Anak laki-laki yang dari tadi aku perhatikan permainannya.

Tangan anak itu berhenti di udara setelah dia melempar sebuah bola. Wajahnya dipalingkannya ke belakang. Waktu seakan berhenti saat dia seperti itu.

“oh, kau!” ujarnya kemudian sedikit bersemangat. Anak ini meninggalkan permainannya dan malah berbalik untuk melihat kami, “kau kesini juga??” tanyanya pada taemin.

Taemin mengangguk sambil tersenyum. Senyumnya aneh, bukan senyum taemin yang kukenal. Dia lebih terlihat dewasa dengan senyum seperti itu. Apa dia berkepribadian yang beda kalau di depan teman-temannya?

“ah, perkenalkan. Ini nuna-ku” ujar taemin kemudian, mengenalkan aku pada anak yang bernama kai ini.

“oh, annyeonghaseyo. Kai imnida” ujarnya sambil membungkuk sedikit. Dia terlihat sedikit canggung.

Saat aku melihat keseluruhan wajahnya, aku terkejut. Anak ini mirip taemin. Kalau dilihat sekilas benar-benar mirip! Bibirnya sama-sama tebal, tapi bibir taeminie-ku lebih berisi. Matanya mirip, hidungnya juga. Tapi hidung taeminie sedikit lebih mancung. Bentuk wajahnya juga mirip. Hanya saja pipi taeminie lebih berisi, anak ini punya pipi yang tirus. Tapi secara keseluruhan, anak ini mirip taemin!

“nuna!” taemin menyenggol tanganku.

“ah, cheoum mannayo, taemini-eui nuna yeongmi imnida.” Ujarku cepat.

Aku benar-benar tak percaya mataku. Hadiah ulang tahun macam apa ini?? Taemin ada dua!

“aku sering mendengar tentang nuna dari taemin,” ujar kai lagi. Dia tersenyum kecil. Senyumnya beda dengan taemin. Senyum kai jauh lebih dewasa.

“geuraeyo? Taemin baru menceritakan tentangmu saat kami menginjak gedung ini,” aku melirik sedikit kesal pada taemin. Wajah taemin tak bisa ditebak. Dia hanya diam.

game over”

Sebuah suara memecahkan keheningan kami.

“ah, permainanmu—“

“gwaenchanhayo, nuna. Aku senang bertemu kalian di sini. Itu hanya permainan kecil.” ujar kai sopan.

“oh, geuraeyo?” aku menjawab sedikit salah tingkah. Kalau mataku tak salah lihat tadi nilainya sudah enam ratus lebih di angka digital di permainan itu. Aku mencoba melirik lagi dan benar ternyata nilainya sudah enam ratusan.

“ah, taeminie! Kau mau main basket? Barangkali kalian berdua bisa lomba? Aku tak pernah lihat kau main basket sebelumnya” ujarku bersemangat. Sepertinya akan menarik.

“geurae” ujar taemin tanpa ekspresi. Dia langsung mengambil tempat di salah satu permainan basket itu, “ayo kita mulai!” ujarnya lagi.

Dari belakang, aku melihat kai meringis ke arah taemin.

“kenapa wajahmu seperti itu?” tanyanya sebelum kedua anak itu mulai melempar bola.

***

“selanjutnya! Photobox!” ujarku bersemangat. Aku melihat taemin yang membuka setengah jaketnya sampai ke sikunya. Lehernya berkeringat. Dia benar-benar konsentrasi pada permainannya. Tadi taemin yang menang. Hanya beda tipis dengan angka yang diraih kai.

“aku juga boleh ikut?” tanya kai sambil menunjuk dirinya sendiri, tampak sedikit tak percaya setelah tadi aku bilang padanya untuk foto bertiga. Anak ini juga tampak kepanasan, tapi sepertinya tak separah taemin.

“tentu saja. Kita akan foto bertiga. Sebentar, kau berkeringat.” Aku merogoh ke dalam tasku dan mengeluarkan tisu kecil dari sana. Aku menyerahkannya pada kai.

“gomawoyo, nuna” ujarnya sambil tersenyum.

“nuna, aku juga berkeringat!” ujar taemin tiba-tiba. Alisnya membentuk kerutan.

“aku tahu, aku tahu, nih!” aku menyerahkan bungkus tisu itu kepada taemin setelah kai mengembalikannya.

“jadi, di mana photobox-nya?” tanyaku lagi. Aku benar-benar tak sabar. Bayangan foto dengan dua taemin terus berkelibat di kepalaku. Betapa bahagianya! Aku punya dua adik laki-laki!

“ada di lantai bawah.” Jawab kai cepat, “benar kita akan foto bertiga?” tanyanya masih tak percaya.

Aku tersenyum melihatnya.

“ne, kita akan foto bertiga. Kau sudah siap, taeminie? Ayo kita ke bawah.” Aku langsung menarik kedua lengan anak itu. Ya ampun, rasanya seperti punya adik kembar.

***

Sesi foto berjalan cepat. Dan aku sangat senang sekali. Empat foto yang sudah jadi. Aku berada di tengah, berada di antara taemin dan kai. Senyumku tak bisa hilang dari tadi.

“maaf, aku harus segera pergi” ujar kai tiba-tiba.

“ah? Waeyo~?? Kami baru akan nonton dan aku sudah ingin mengajakmu~” ujarku sedikit kecewa.

“aniyo, nuna. Aku harus pergi, aku sudah ada janji. Menyenangkan sekali bisa bermain dengan nuna hari ini.” anak satu ini selalu sopan. Ah, coba taemin sesopan ini padaku.

“aku juga menghabiskan waktu yang menyenangkan denganmu. Terima kasih sudah menemani~” aku berkata padanya sambil tersenyum. “ah, jamkkanman! Ini, satu untukmu.” Aku menyerahkan salah satu foto hasil jepretan tadi pada kai. Dia menerimanya dengan senyuman.

“jeongmal gomawoyo, nuna. Akan aku simpan baik-baik.” Ujarnya, sebentar kemudian dia melihat jam tangannya, “aku sudah benar-benar harus pergi sekarang. Terima kasih atas semuanya. Annyeonghi gyeseyo”

Kai sempat memukul lengan taemin sedikit sebelum dia benar-benar pergi.

“haah~” aku tak sadar menghela napas panjang. Aku terus mengikuti kai sampai dia tak terlihat lagi. “nah, kemana selanjutnya? Bioskop?” tanyaku pada taemin.

Taemin tak segera menjawab. Dia menatapku dingin. Sedetik kemudian dia berjalan mendahuluiku.

“taeminie?” aku berusaha mengejarnya.

= = =

Advertisements

3 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 100-105) special Nuna’s birthday (part 1)

  1. Huaaa… Taemin Kau kenapa ??? Kayaknya dia cemburu dengan Kai
    Nunanya juga sih… Kan taemin juga keringetan…
    Itu nunya mimpi masa nikah AMA taemin ˘°˘
    Kirain taemin yg bermimpi-mimpi nikah AMA nunanya.. Wkwkwkwk

  2. lama banget rasanya gak ngunjungin page ini, yah kegiatan di kampus emang bener2 nyesekin*curcol* first….saengil chukkae buat nunanya taemin, moga makin sayang taemin n ff makin keren…..
    ehm…..setiap aku baca ff ini, aku selalu bayangin karakter taemin pas masih jaman RDD, gak tau jga kenapa….
    taemin, keliatan banget jelesnya ama kai……kekeke…sini biar aku aja yg ngelapin keringatnya taemin*plaakkkkkk…ditaboknunanya*….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s