FF/S/Nuna’s Diary (page 106-113) special Nuna’s birthday (part 2)

= Nuna’s Diary =

Page: 106-113

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Aku dan taemin sedang berjalan menuju halte bis. Tadi kami menonton film komedi. Aku tak tahu apa yang terjadi tapi sepertinya taemin masih marah. Hanya aku saja yang tertawa selama film berlangsung, tidak dengan taemin. Sambil terus berjalan, aku melirik taemin sesekali. Dia masih tampak murung. Aku sangat tak suka keadaan seperti ini.

Aku masih terus berpikir bagaimana cara mencairkan suasana ketika taemin tiba-tiba menghentikan langkahnya. Aku otomatis berhenti juga meski sudah dua langkah di depannya. Kulihat taemin yang terus menunduk. Wajahnya benar-benar terlihat kusut.

“nuna” panggilnya sambil mengangkat wajahnya untuk melihatku.

Aku mendekatinya dengan canggung. Wajah taemin berubah serius.

“apa?”

Uap berwarna putih keluar dari mulutku saat aku mulai bicara. Sekarang sudah hampir gelap dan suhu semakin rendah.

Taemin melihatku lebih dalam. Matanya beralih ke sepatunya sebentar, lalu menatap mataku lagi.

“aku ingin photobox berdua dengan nuna” ujarnya.

Aku sedikit bingung.

“bukannya tadi sudah—“

berdua dengan nuna”

Aku menelan ludah. Wajah taemin benar-benar serius. Sifat dewasanya muncul lagi.

Aku mengangguk kemudian menunduk, aku tak bisa menolaknya. Tidak sekarang saat taemin sedang begini.

Kami kembali berjalan ke arah dari mana kami datang tadi. Aku terus menunduk, tak tahu apa yang terjadi nanti. Sebisa mungkin aku lenyapkan pikiran-pikiran burukku.

Taemin hanya ingin berfoto berdua denganku. Taemin hanya ingin berfoto berdua denganku.

Aku terus mengulang-ulang kalimat itu dalam kepalaku.

Lima belas menit kemudian, kami sampai di gedung yang sama dengan game center tadi. Aku melirik taemin saat kami sudah berdiri di depan mesin photobox. Aku menggigit bibirku. Jantungku makin berdegup keras saat taemin meraih tanganku dan kami masuk ke dalam.

Aku hanya diam saat taemin sibuk dengan mesin itu. Aku meliriknya jika ada kesempatan. Wajahnya masih serius. Itu bukan wajah taemin adikku.

“nuna sudah siap?” tanyanya sambil melihatku. Aku mengangguk untuk meyakinkannya.

Aku merapikan rambutku sebentar sambil menghadap ke depan, bersiap memasang poseku yang biasa; tersenyum lebar.

Tiba-tiba tangan taemin meraba pundakku. Aku langsung menoleh padanya dengan heran. Taemin tak berkata apa-apa, dia hanya diam dan menatapku tajam. Dituntunnya aku agar badanku menyamping menghadapnya.

DEG!!

Jantungku berdebar hebat saat taemin menyentuhkan bibirnya di bibirku. Bibirnya terasa dingin. Dan sedetik kemudian, bibirnya mulai bergerak.

Aku memejamkan mataku rapat-rapat, tak berani bergerak sementara kedua tangan taemin mencengkeram pundakku. Aku terus menelan ludah, takut membalas gerakan bibirnya.

Entah berapa detik kemudian barulah taemin melepas bibirnya dari bibirku. Alisnya berkerut dan dia tampak sakit. Bukan sakit secara fisik, tapi wajahnya benar-benar mencerminkan kalau sekarang perasaannya sedang sakit.

Aku hanya terdiam melihatnya. Bahkan di hari pertama bertambahnya usiaku pun aku tak bisa membuat adikku tersenyum.

Empat buah foto sudah diambil, dan terlihat sekali di sana aku benar-benar merasa tak nyaman saat taemin menyatukan bibirnya dengan bibirku. Taemin kembali berkutat dengan mesin itu. Dia hanya diam.

“mianhae,” ujar taemin tiba-tiba, “kita akan ambil satu sesi lagi. Aku tak akan memaksa nuna lagi. Mianhae, nuna.” Taemin tak berani memandang wajahku saat berkata seperti itu. Dia kemudian bersiap untuk difoto. “nuna, aku akan tekan sekarang.” Katanya memberi aba-aba.

Tak ada waktu lagi. Aku langsung menyambar wajah taemin dan menciumnya dalam-dalam.

Kami terus menyatukan bibir dan saling mendekatkan diri beberapa detik setelahnya.

Aku melepas bibir taemin setelah mengecupnya lebih dalam. Taemin mulai membuka matanya dan tersenyum. Senyumnya sampai ke matanya.

Aku hanya menunduk saat taemin kembali berkutat dengan mesin itu.

“nuna mau yang mana?” tanya taemin kemudian. Dua sesi hasil pemotretan terpampang di depan kami. Sesi pertama dan kedua sangat berbeda. Empat foto di sesi pertama aku memejamkan mata rapat-rapat dan tangan taemin tampak mencengkeram kuat bahuku.

Wajahku memanas saat kulihat hasil pemotretan sesi kedua. Foto pertama, aku sedang menyatukan bibirku dengan taemin dan memegang wajahnya, sementara taemin masih membuka matanya, tampak terkejut. Sepertinya foto yang itu diambil saat aku tiba-tiba mencium taemin tadi. Foto kedua, aku masih mencium taemin, tanganku masih berada di wajahnya, taemin sudah menutup matanya dan bibirnya membentuk senyuman. Foto ketiga, tanganku sudah berada di depan dada taemin, kami berdua berciuman dan sama-sama menutup mata. Foto keempat, ciuman kami terlihat makin panas karena lidah kami ikut terpotret.

“terserahmu saja” ujarku sambil menunduk.

Taemin mendengus sebentar.

“aku tak akan segan-segan loh, nuna~” ujarnya iseng, “baik, cetak sesi kedua. OK!” bahkan dari nadanya saja terlihat sekali taemin gembira.

Foto selesai dicetak tak lama kemudian. Kami berdua melihat hasilnya. Wajahku benar-benar terlihat mesum di sana.

“foto paling bagus sepanjang sejarah,” kata taemin tiba-tiba. Aku langsung menjitaknya.

“sudah, simpan itu. Ayo pulang!”

“hehee~” taemin nyengir lebar saat aku tarik tangannya menuju ke luar gedung.

***

Saat kami sudah sampai di rumah, aku langsung menuju dapur untuk membuat kopi, sedangkan taemin langsung ke kamarnya.

“nuna~ aku mau susu~”

Aku menoleh ke belakang. Dari sekat dapur, aku melihat taemin yang baru keluar dari kamarnya. Dia sudah ganti baju rumah.

“ne, sebentar~” balasku. Aku segera mengambil susu kotak rasa pisang punya taemin di kulkas dan kembali ke depan kompor. Air yang kupanaskan sudah masak, sekarang aku sedang menuangkan air mendidih itu di cup-ku.

Saat aku sedang mengaduk, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangku.

“nuna, aku mau susu” bisik taemin di telingaku.

DEG!

Jantungku berdetak keras. Aku tak tahu sejak kapan anak ini sudah berada di belakangku.

“t-tunggu, aku buat kopi-ku dulu.” 

Sial, kenapa suaraku bergetar begini?

“aku mau susu, nuna” taemin membisik lagi.

Aku bergidik. Bahkan uap panas dari mulut taemin pun terasa di depan telingaku.

“mau susu~” bisiknya lagi. Pelukan tangannya mulai bergerak ke atas, menyentuh apa yang sebenarnya tak boleh dia sentuh.

Aku mulai tak nyaman.

“taem—“

“nuna-ku, nuna-ku, nuna-ku, nuna-ku~” ujar taemin tiba-tiba, suaranya sudah berubah imut lagi. Dia menggoyang-goyangkan tangannya yang sedang memelukku dan otomatis badanku juga ikut bergoyang. “hehehe~” taemin tertawa setelah itu.

Aku mencoba menarik napas diam-diam. Entah apa maksud anak ini.

“nuna, nanti aku tidur di kamar nuna saja ya~” kata taemin. Dia meletakkan dagunya di atas bahu kananku.

“hm” jawabku sekenanya.

“lalu, nuna,” sambung taemin lagi, “nanti mau mengkeramasi rambutku tidak?“

“di musim dingin begini kau mau keramas malam-malam?” tanyaku meyakinkannya, “nanti kau masuk angin.” Ujarku lagi.

“aa~ kan bisa pakai air hangat~ rambutku gatal-gatal, nuna~~” taemin merengek padaku.

Aku menatap dinding dapur di depanku. Aku teringat taemin tadi berkeringat setelah main basket.

“memangnya kau tak bisa keramas sendiri?” tanyaku.

“kan aku mau dikeramasi nuna-ku~” jawab taemin dengan nada imutnya. Pelukannya di perutku semakin erat, begitu juga dengan wajahnya yang makin ditempelkannya ke leherku.

“ya sudah” ujarku singkat.

Setelah itu, entah hanya perasaanku saja, tapi sepertinya taemin mencium leherku. Sangat pelan, sampai aku ragu apa benar dia mencium leherku atau tidak. Tapi dengan begitu saja sudah membuatku sangat tak nyaman.

“nih, susumu” ujarku sambil membalikkan badan. Sengaja aku begitu supaya menghindar darinya.

Mata taemin terpaku di bagian dadaku saat aku melihatnya, lalu dua detik kemudian pandangannya beralih ke mataku dan dia tersenyum.

“gomawo, nuna~” ujarnya sambil mengambil gelasnya dari tangan kiriku. Taemin kemudian berjalan mendahuluiku ke sofa.

Apa-apaan anak ini??? Matanya melihat kemana tadi??

Aku makin resah. Taemin aneh sejak setelah kami photobox berdua tadi. Di bis pun dia aneh. Aku masih ingat saat taemin memeluk tanganku dan diletakkannya di bagian bawah perutnya, dekat dengan bagian selangkangannya saat di bis tadi. Saat itu aku segera sadar dan langsung menarik tanganku untuk menggenggam tangannya.

Ya ampun, membayangkannya saja mukaku sudah panas lagi.

Tapi sungguh, sebenarnya kenapa anak ini??

“nuna~~!” panggil taemin dari ruang keluarga, “sini nonton~ temani aku~” katanya lagi.

“ne~!” aku mencoba terdengar biasa saja dan langsung menuju ruang keluarga.

Kami menonton dalam diam. Di kepalaku masih berkecamuk kenapa taemin bertingkah berbeda dari biasanya. Tiba-tiba aku teringat senyumnya kemarin. Senyum misterius yang tak bisa aku mengerti artinya.

Mungkin karena aku terlalu banyak berpikir dan tak memperhatikan sekelilingku, tahu-tahu kopiku sudah habis. Aku melirik isi gelas taemin, susunya masih ada setengah.

“palli, palli. Aku sudah ngantuk.” Ujarku padanya, menyuruhnya agar segera menghabiskan susunya.

Taemin melirik padaku dan langsung menghabiskan susu-nya dalam satu kali teguk.

“panas~~” ujarnya kemudian sambil mengeluarkan lidahnya.

“hahaha! Siapa yang suruh kau langsung menghabiskan semua begitu!” aku tertawa padanya. Taemin langsung manyun.

“jadi keramas?” tanyaku lagi setelah puas tertawa. Taemin langsung mengangguk cepat. “ya sudah. Kau duluan ke kamar mandi, aku akan mengambil handuk. Siapkan shampo dan conditioner-nya. Jangan lupa isi ember dengan air panas. Aku tak mau nanti kau masuk angin.”

“ne~~” taemin langsung bergegas ke kamar mandi sementara aku ke kamarnya untuk mengambil handuknya.

Saat aku sampai di kamar mandi, taemin sudah siap di depan wastafel.

“nuna, cepat~ aku kedinginan~~” ujarnya.

“ya! Siapa yang suruh kau buka baju begitu??” tanyaku. Aku langsung melingkarkan handuk di badannya sampai menutupi lehernya.

“kalau bajunya basah nanti kan masuk angin~” ujar taemin lagi.

Ember sudah siap di meja batu kamar mandi kami. Aku raba air di dalam ember itu. Cukup panas.

“sini, siram dulu kepalamu” ujarku pada taemin. Taemin langsung menundukkan kepalanya di atas wastafel agar aku bisa menyiram rambutnya agar sedikit basah.

Saat musim dingin, kami tidak bisa keramas sembarangan begitu saja. Karena cuaca dingin dan kulit kepala jadi kering, rambut jadi mudah rontok. Kalau rambut yang rontok menyumbat jalur pembuangan air, bisa repot jadinya. Karena itu, kalau keramas kami menggunakan ember supaya rambut yang rontok tertampung di situ.

Taemin tak rewel saat aku menggosok rambutnya yang sudah berbusa. Setelah mencuci rambutnya, aku memberinya conditioner. Saat itu barulah taemin berteriak.

“nuna! Sakit! Perih! Masuk ke mataku!”

Aku langsung panik dan cepat-cepat menyiram kepalanya dengan air.

“kenapa kau buka mata? Aish!!”

“perih, nuna~ aigooo~~~”

Sedikit kacau setelah itu. Karena aku panik, air jadi berserakan kemana-mana, taemin juga terus berteriak.

“sudah, nuna~~ sudah~~!” jerit taemin.

“ne, ne! sudah, sudah! Ayo, langsung ke kamar!” aku membimbing taemin yang masih menutup matanya ke kamarku. Lalu kududukkan dia di kasur.

“pasang bajumu” ujarku sambil memasangkan bajunya cepat-cepat.

“perih~~” kata taemin . Bajunya sudah terpasang sekarang.

“mana sini, aku lihat” ujarku, memegang wajahnya dengan kedua tanganku.

Taemin membuka matanya perlahan.

“aduh, perih~” ujarnya lagi, kali ini dia mengedip-kedipkan matanya. Tangannya mulai bergerak untuk menggosok matanya tapi aku segera menahannya.

“jangan digosok! Nanti jadi merah. Sini, biar aku tiup.”

Taemin sekali lagi mencoba membuka matanya. Saat aku tiup, taemin mengedip-kedipkan matanya lagi. Aku terus meniup matanya dengan perlahan.

“sudah?” tanyaku padanya sambil menjauhkan wajahku. Taemin mengangguk, tapi dia masih mengedip-kedipkan matanya.

“aduh, nuna~ Masuk air~”

Rambut taemin masih basah dan meneteskan air ke wajahnya. Aku tersenyum sebentar dan mengambil handuknya.

“kau ini, sudah sebesar ini masih tidak bisa mengurus diri sendiri.” Sindirku, tapi aku tak bermaksud buruk, hanya ingin mengisenginya saja.

Tubuhku lebih pendek dari taemin jadi aku harus bertumpu pada lututku agar bisa mengeringkan rambutnya tanpa membuat kram tanganku. Taemin tak mengatakan apapun, dia hanya diam dan menurut padaku.

“aku ada cerita, nuna” ujar taemin tiba-tiba selagi aku mengeringkan rambutnya. Taemin melingkarkan tangannya di pinggangku, mencoba mendekatkan tubuhku dengan tubuhnya. Tanganku berhenti menggosok rambutnya. Kulihat dia sebentar. Taemin mendongakkan kepalanya untuk melihatku.

“cerita apa?” tanyaku sambil melanjutkan mengeringkan rambutnya lagi, mencoba untuk tidak terlalu memperhatikan pelukan taemin di pinggangku.

“ada seorang nuna, dia punya adik laki-laki yang sayaaaang sekali padanya. Hari itu adalah hari ulang tahun nuna itu.” Taemin mulai bicara. Aku tersenyum mendengarnya, sepertinya aku tahu siapa yang dia maksud.

“lalu?” ujarku pura-pura antusias.

“jadi hari itu, nuna itu nakal sekali. Dia mengacuhkan adiknya yang berkeringat dan malah memberikan tisu kepada teman adiknya. Lalu, nuna itu tidak bertanya pada adiknya kenapa adiknya tidak tertawa saat mereka nonton film komedi, nuna itu tidak mempedulikan adiknya yang masih kesal. Lalu, saat di rumah, nuna itu membuat mata adiknya perih saat mencucikan rambut adiknya, lalu nuna itu menyindir adiknya kalau adiknya itu tak bisa mengurus diri sendiri,” taemin bercerita panjang, “padahal tahu tidak, nuna?” tanya taemin kemudian.

“apa?” tanyaku, senyumku sudah mengembang lebar dan tanganku masih terus sibuk mengeringkan rambutnya. Lucu sekali keadaannya sekarang. Taemin bercerita tentang aku saat aku mengeringkan rambutnya seperti ini.

“padahal ya, nuna, adiknya itu sudah menyiapkan hadiah ulang tahun yang besaar sekali untuk nuna-nya itu.” Ujar taemin lagi.

Gerakan tanganku langsung berhenti.

Hadiah besar? Apa?

“oh ya?” tanyaku pada taemin. Aku memperbaiki posisiku duduk di depannya agar level mata kami sama, “hadiah besar apa yang mau diberikan adiknya itu?” tanyaku penasaran.

Taemin tersenyum padaku. Matanya mengedip dua kali sebelum mulai bicara.

“adiknya” jawabnya.

Aku mengerutkan alisku, masih tak mengerti.

“apa?” tanyaku ulang.

adiknya” jawab taemin lagi.

Aku mencoba berpikir keras sementara taemin masih menatapku. Senyumnya tak hilang, dia seperti menunggu sampai aku mengerti. Tapi dicoba pikir berapa kali pun, aku masih tak bisa menangkap maksud taemin.

“aku masih belum mengerti maksud adiknya it—“

Ccu~~uk!

Taemin menciumku setelah sebelumnya meletakkan kedua tangannya di kedua sisi wajahku. Aku masih terkejut karena sikap taemin yang tiba-tiba ini.

Taemin melepas bibirnya beberapa detik kemudian. Aku masih memandangnya tak percaya, masih belum bisa menyatukan kenyataan. Ini seperti mimpi.

Taemin tersenyum padaku. Dia mengelus bibir bawahku dengan ibu jarinya, matanya terpaku di sana. Kemudian matanya bergerak ke atas untuk menatap mataku.

“hadiahnya aku, nuna” ujarnya.

Taemin menatap bibirku lagi dan sekali lagi mendekatkan wajahnya. Bibirnya yang menyentuh bibirku terasa dingin. Mataku masih terbuka selagi pikiranku terus berpikir.

Hadiahnya dia? Taemin?

Bibir taemin mulai bergerak di seberang bibirku. Lembut sekali.

Kalau ini hadiahnya, aku akan menerimanya.

Aku mulai menutup mataku dan mencoba membalas bibir taemin. Terdengar dengusan tawa taemin setelah itu, lalu dia meraup bibirku lebih dalam.

Taemin memindahkan posisi kepalanya dan mencoba memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.

Mungkin aku sudah gila, membiarkan adikku menciumku seperti ini. Yang lebih gila lagi, aku malah membalas semua ciuman lembutnya, gerakan lidahnya dan gigitan kecil darinya. Aku sudah gila.

Aku sudah terbaring di atas kasur, taemin masih di atasku dan kami masih berciuman. Aku bahkan tak yakin sepenuhnya kalau air liur yang aku telan barusan seluruhnya adalah air liurku. Lidah kami masih bertarung, tidak sedetik pun mencoba berhenti.

Aku hampir kehabisan napas. Taemin mengimpitku dari atas dan ciuman ini membuat napasku tersengal.

Aku melepas ciuman itu, mengalihkan wajahku ke samping agar aku bisa bernapas. Aku menutup mataku, masih tak berani melihat taemin.

Sesuatu yang basah dan dingin di leherku yang kurasakan kemudian. Taemin mulai mencium leherku, menjilatnya dan menyesapnya.

Tidak! Tidak boleh lebih dari ini! Kami tak boleh lebih dari ini!

Aku mengalihkan wajahku lagi untuk menatap taemin. Wajahnya memerah, napasnya sama sepertiku; tersengal. Aku meraih wajahnya dengan kedua tanganku dan menarik wajahnya untuk kucium lagi.

Baru beberapa detik bibir kami mulai bertarung lagi, tiba-tiba taemin melepas ciuman itu. Dia menatapku dengan ketakutan. Sedetik kemudian dia bangkit dan berlari keluar kamarku.

Aku menatap langit-langit kamarku dengan masih tak percaya. Berhentinya secepat mulainya. Kami barusan berciuman, bahkan hampir lebih dari itu. Tadi sebelum saat taemin menghentikan ciuman, aku merasakan sesuatu di bawah. Aku sedikit ragu, tapi sepertinya perkiraanku benar. Taemin langsung lari dariku setelah itu, itu yang membuatku yakin.

Aku mencoba mengatur napasku. Bibirku masih basah dan sedikit kebas.

Aku masih terus termenung bermenit-menit kemudian. Suara televisi terdengar dari ruang keluarga.

Taemin tak mau kembali dan dia tak langsung tidur di kamarnya. Sepertinya aku harus menyusulnya, mungkin dia merasa tak enak padaku setelah apa yang terjadi tadi.

Setelah membuang napas panjang, aku bangkit dari kasur dan menyusul taemin ke ruang keluarga. Saat dilihatnya aku, taemin langsung menunduk. Wajahnya masih merah.

Aku berdiri di depannya yang masih terus menunduk. Sebentar kemudian, aku duduk di sebelahnya.

“kau tak ngantuk?” tanyaku.

Taemin mengangguk, dia masih belum berani melihatku. Dia terlihat benar-benar merasa bersalah.

Diam lagi setelah itu. Tak ada respon dari taemin, dia masih terus menunduk. Kalau tidak diselesaikan, kami akan canggung terus seperti ini.

“ayo tidur” ujarku sambil menarik tangannya, taemin menurut dan mengikutiku. Aku terus menggenggam tangan taemin sampai kami kembali ke tempat tidur. Aku baru sadar sprei kasur sedikit kusut, pasti karena kami tadi. Aku merapikannya sebentar dan mulai naik ke tempat tidur. Taemin masih belum bergerak, dia masih berdiri di sana dan menunduk.

“taeminie~ sini tidur. Kau sudah capek main seharian.” Ujarku dengan lembut. Aku tak mau membuat perasaan adikku lebih berat dari ini lagi.

Lagi-lagi taemin menurut. Dia naik ke tempat tidur dalam diam. Aku menyelimutinya dengan selimutku, lalu aku ikut berbaring di sebelahnya. Aku tidur menyamping menghadapnya. Taemin masih melihat ke atas, selimutnya menutupi sampai bibirnya. Benar-benar terlihat imut. Aku hanya terus melihatnya, menunggu sampai dia mengatakan sesuatu padaku.

“mianhae, nuna” ujarnya tak lama kemudian, seperti perkiraanku.

“gwaenchanha” ujarku cepat, “hari ini aku sudah menerima hadiah darimu, gomawo” kataku lagi.

Taemin menoleh padaku. Dia terlihat sedikit bingung, tapi sebentar kemudian pandangannya beralih ke leherku.

“tapi aku jadi meninggalkan itu” katanya lagi.

Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk sadar kalau yang dimaksud taemin adalah kiss mark yang ditinggalkannya tadi.

Ah, ternyata meninggalkan bekas, pikirku.

“gwaenchanha, “ ujarku lagi, kali ini dengan senyuman, “ini kenang-kenangan dari adikku yang sayaaaang sekali padaku di hari ulang tahunku”. Aku mencoba meniru taemin saat dia bercerita tentangku tadi. Taemin langsung tersenyum lebar.

“nuna benar tidak marah tadi aku seperti itu?” tanya taemin sebentar kemudian, wajahnya terlihat sedikit khawatir, tapi imutnya tidak hilang.

“aniyo,” jawabku, “aku malah menemukan sesuatu yang baru”

“apa, nuna?” tanya taemin, dia terlihat penasaran.

Aku tersenyum lebar sebelum mengatakan hal selanjutnya.

“adikku sudah mahir kiseu” kataku. Wajah taemin langsung memerah begitu mendengarnya.

“nuna ini~~” rengeknya. Tapi dibalik itu semua, dia tersenyum malu-malu. Lucu sekali.

“tidurlah, taeminie~” ujarku setelah mencubit pipinya.

“ng!” taemin mengangguk sekali, “ppoppo, nuna?” pintanya.

“kau yang ppoppo, ini kan masih hari ulang tahunku” ujarku enteng.

Taemin langsung mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku sekilas.

Ccuk!

Taemin tersenyum melihatku.

Ccuk!

Dia menciumku lagi.

Ccuk! Ccu~uk!

Ppoppo yang keempat, taemin menempelkan bibirnya lebih lama.

“sudah ah, nanti seperti tadi lagi.” Taemin berbicara pada dirinya sendiri. Aku tersenyum melihatnya. Taemin mulai menutup matanya. Bibirnya masih membentuk sebuah senyuman.

Aku terus memperhatikan taemin. Hari ini panjang, paling tidak untuk kami berdua. Dan aku tak akan melupakan ulang tahunku kali ini.

“nuna, boleh ppoppo sekali lagi, tidak~?”

Taemin tiba-tiba membuka matanya. Wajahnya lucu sekali, bibirnya dimajukannya, terlihat menggemaskan.

Aku menutup kedua matanya dengan satu tanganku dan mendekatinya.

Ccu~uk

Ppoppo yang agak panjang, khusus untuk adikku yang sudah memberikanku hadiah istimewa hari ini.

“jal jayo” ujarku kemudian. Taemin tersenyum dan menutup matanya sekali lagi. Aku juga ikut menutup mata. Satu hari lagi aku lewati dengan taemin.

Ah, aku sayang adikku.

= = =

Advertisements

4 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 106-113) special Nuna’s birthday (part 2)

  1. Astaga…
    Yakin seyakin-yakinnya bakal ada adegan NC
    pas taemin bilang “adiknya”
    Saya mikirnya bukan ke taemin , tapi ke “itu” nya.. Wkwkwkwk

    Eonni… Versi Taemin mana ?? Mau baca versi yg taemin….

  2. OMO……Taeminniiiieeeee…….huftttt…..
    hampir ajaa…..kyaknya taemin, pengen ngulangin kejadian waktu ulang tahunnya deh*yg pas di sofa itu lohhh*…tapi yg ini lebiihhhhh…..
    walaupun taemin kliatan jadi LIAR banget disini, tapi aku suka kok…jadi deg-degan bacanya….hehehehe*taemin: dasar reader sarap…!!!!*
    lanjutannya, aku tunggu…anneyong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s