FF/S/Nuna’s Diary (page 114-118)

= Nuna’s Diary =

Page: 114-118

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“taeminie, kau ada di rumah~?”

Aku berteriak begitu menutup pintu depan. Taemin tak terlihat, mungkin dia di kamarnya.

“di kamar, nuna~” terdengar balasan teriakan taemin.

Setelah bersih-bersih sebentar, aku segera ke kamar taemin.

“nih, apel untukmu” ujarku sambil melemparkan apel pada taemin yang sedang duduk di kursi depan meja belajarnya.

“tebak tadi aku ketemu siapa?” ujarku bersemangat sambil menghempaskan bokongku di kasur taemin.

“hyapa?” tanya taemin tak jelas, dia sudah menikmati gigitan pertama apelnya.

“kai, temanmu! Hahaha anak itu lucu sekali” jawabku dengan tertawa.

“kai??” suara taemin terdengar dua oktaf lebih tinggi, “ketemu di mana?” tanyanya lagi, kali ini dia melap air apel yang mengalir dari ujung bibirnya dengan tangannya.

“di jalan, saat mau pulang,” jelasku, “aku ingin mengajaknya tadi tapi katanya dia ada urusan,” bayangan wajah kai yang terlihat sedikit merasa bersalah tadi terbayang lagi di otakku, “kau kapan-kapan ajak dia kesini, ya?” pintaku pada taemin.

“shirheo,” jawab taemin cepat, “nanti nuna mengacuhkan aku lagi.”

“tidak, kook~” ujarku sambil melebarkan senyum, “ajak dia main ke sini, ya? ya? Jebaal~~” aku menyatukan telapak tanganku sambil merengut pada taemin.

“nuna kan tahu sendiri aku cemburu pada dia!” taemin tampak kesal. Taemin menggigit apelnya lagi seperti punya dendam dengan apel itu.

“ah, taeminie jangan begitu~” aku mengambil salah satu tangan taemin dan menggoyang-goyangkannya, “ajak kai main kesini~”

“tapi kenapa harus kai? Aku kan masih punya teman lain!” taemin masih bersikeras.

“tapi kan yang mirip kau itu kai, bukan yang lain. Memangnya masih ada temanmu yang mirip kau lagi?” tanyaku.

Taemin diam sebentar.

“jadi nuna suka kai gara-gara kai mirip aku?” tanya taemin kemudian. Aku mengangguk sebagai jawaban.

“hehe,” taemin langsung nyengir lebar, “tapi nanti nuna salah ppoppo gara-gara kai mirip aku. Nanti ‘eh! Ternyata kai, aku kira taeminie~ Mianhae~’ begitu dengan muka senang. Huh!” taemin memperagakan aku yang seolah-olah salah ppoppo kai padahal seharusnya taemin. Tawaku lepas saat itu juga. Taemin memperagakannya dengan lucu sekali.

“aniyo~ tentu saja tak mungkin, taeminie~ kau kan lebih imut~” ujarku. Taemin langsung nyengir begitu aku bilang seperti itu. “dan kai lebih tampan~” tambahku lagi.

Senyum taemin hilang seketika.

“tuh kaaan~~~!! huwaaa~~ nunaa~~!!! Pokoknya aku tidak mau kai ke sini! Shirheo! Shirheo! Shirheo! Shirheo! Shirheo!”

Taemin terus berteriak begitu sambil menutup matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“aku ppoppo deh~” ujarku mencoba tawar-menawar dengannya.

“shirheo shirheo shirheo shirheo” taemin masih menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi nada suaranya menurun sedikit.

“ppoppo dua kali? Yang panjang?” cobaku lagi.

“shirheo shirheo shirheo shirheo”

“lima kali?”

“shirheo shirheo shirheo!!”

“kiseu deh, kiseu~” akhirnya aku menyerah. Taemin langsung diam.

“pakai lidah?” tawar taemin.

“hah?? Shirheo!” kali ini aku yang tak mau.

“ya sudah, tidak jadi.” Jawab taemin cepat sambil memalingkan wajahnya dariku.

“oke, pakai lidah!” kataku akhirnya. Sudah beberapa kali pakai lidah, sekali lagi juga tidak masalah.

“hehe~” taemin langsung nyengir, matanya menyipit karena senyumnya terlalu lebar, “sekarang?” tanya taemin lagi.

“ani! Setelah kai main ke sini!” ujarku sedikit kesal.

“ooh, nuna mau kita kiseu di depan kai? Oke!” taemin terlihat bersemangat.

“ya! Siapa yang bilang begitu??” protesku, “maksudku kalau kai sudah main ke sini dan dia pulang, baru kiseu!”

“pakai lidah ‘kan?” tanya taemin memastikan.

“ne!!” kataku tak sabar.

Taemin mengangguk-angguk tanda mengerti, di majukannya bibirnya. Dasar kecil.

“jadi, kapan kau mau undang kai ke sini?” tanyaku lagi. Bosan juga melihat dia terus mengangguk-angguk begitu.

“mm…” taemin tampak berpikir sebentar, “nuna coba ambilkan handphone-ku” taemin menunjuk handphone-nya yang diletakkan di atas bantal tidurnya. Aku mengambil handphone itu dan menyerahkannya pada taemin.

Taemin sibuk menekan-nekan layar handphone-nya dan setelah itu meletakkan handphone itu di depan telinganya. Dari tempatku terdengar nada sambung ‘tuut tuut’ dan tak lama kemudian terdengar sebuah suara dari seberang telpon.

“eo?”

Itu suara kai. Taemin melihatku sambil tersenyum.

“야. 너 어디냐? Ya. Neo eodinya? (hoi. Kau di mana?)”

Aku terus melihat taemin sambil tersenyum. Kai akan datang. Memang adikku yang satu ini bisa dipercaya.

Bayangan dua taemin yang sedang duduk di sofa sementara aku sibuk di dapur berkelana di otakku. Pasti sangat menyenangkan. Punya adik laki-laki satu saja sudah bahagia, apalagi dua. Mirip pula, yang satu imut, yang satu tampan. Haah~

“sudah, nuna! Dia akan datang malam ini.” suara taemin memecah lamunanku. Butuh dua detik untukku mencerna kata-kata taemin.

“malam ini???” ujarku histeris.

“ne, malam ini” jawab taemin enteng, “nuna mau dia main ke sini kan? Dia bisa malam ini.”

“tapi kan aku belum siap-siap taeminie~~” ujarku panik. Wajah taemin langsung berubah.

“siap-siap buat apa?? memangnya nuna mau pakai gaun pengantin begitu kai datang?” taemin tampak jengkel. Kadang-kadang aku heran dengan pikiran anak ini. Cemburunya tinggi sekali.

“paling tidak makanan, babo” aku jitak kepala taemin.

Kerutan di alis taemin makin dalam.

“nuna tak pernah sebelumnya bilang aku babo. Pasti gara-gara kai. Ya sudah aku suruh saja dia tidak jadi ke sini.” Taemin langsung menyambar handphone-nya yang tadi diletakkannya di meja dan mulai memencet-mencet lagi.

“eh, jangan! Biar dia ke sini! Kau tidak babo kok, taeminie~ kau imut~” aku langsung mengelus-elus pipi taemin. Rengutannya masih belum hilang.

“lihat. Kai belum datang saja nuna sudah begini, apalagi nanti kalau sudah datang. Huwaa~~ aku tidak mau dibilang babo lagi~~” taemin mulai merengek.

“mian mian mian~”

Ccuk! ccuk! ccuk!

Aku mencium pipi taemin tiga kali. Taemin langsung berhenti merengek.

“peluk dulu~” kata taemin sambil merentangkan tangannya. Aku langsung memeluknya.

“mianhae, taeminie~~” kataku sambil menggoyang-goyangkan badannya.

“nuna nanti jangan mengacuhkan aku seperti kemarin, ya~” kata taemin begitu pelukan kami lepas.

“tidak akan, yaksok” aku mengeluarkan jari kelingkingku.

“yaksok” balas taemin, dia mengaitkan jari kelingkingnya dengan punyaku.

“baiklah, aku beli bahan masakan dulu. Kau jaga rumah ya, kecil~”

Aku mencium pipi taemin sekali lagi dan bergegas keluar kamar. Sudah aku pikirkan akan masak apa malam ini.

***

Sekarang sudah sejam sebelum makan malam dan aku masih di luar. Jalanan macet, jadi perkiraan waktuku meleset. Dengan berjalan cepat sambil menenteng barang-barang, aku sibuk memikirkan apa aku bisa menyelesaikan semua masakan dalam waktu sejam.

Saat aku sampai di depan pintu rumah, sayup-sayup suara televisi terdengar dari dalam. Dengan sekali sentakan, aku membuka pintu kayu itu.

Dua taemin sedang menonton tv di sofa saat aku melihat ke dalam.

“eo? Wasseo? (oh, sudah datang?)”

Dua taemin juga yang melihat ke arahku saat aku berujar seperti itu. Aku tak bisa menahan senyumku.

“annyeonghaseyo” taemin yang maskulin langsung berdiri dan menunduk begitu melihatku.

“ah, santai saja. Silakan terus menonton, kai-ssi” ujarku sambil melepas sandal dan segera bergegas ke dapur.

“nuna lama sekali~” taemin yang feminim menggerutu pelan, tapi masih bisa kudengar. Hahaha, taemin pasti marah besar kalau dia tahu aku menamai dia ‘taemin yang feminim’.

Dari sekat dapur, aku melihat dua taemin yang sedang menonton siaran olah raga dengan serius. Saat mereka tersenyum lebar, baru jelas perbedaannya. Taemin adikku memang lebih imut. Tapi yang satu lagi tampan sekali dengan senyum seperti itu. Anak itu punya kharisma.

Sudah hampir sejam aku berada di dapur sambil mengintip dua anak itu menonton. Memasak kali ini adalah memasak paling membahagiakan di hidupku. Kalau kai sudah sering datang ke sini mungkin rasanya sudah tak terlalu wah seperti ini lagi. Karena ini yang pertama, bahagianya jadi berkali-kali lipat.

“nuna, apa masih lama?” tiba-tiba taemin menghampiriku. Taemin yang asli, bukan kai. Suaranya beda sekali dengan yang biasa. Kalau tak ada kai pasti yang dibilang, ‘nuna~ aku sudah lapaar~ kenapa lama sekali~?’ sambil merengek dan memegang perutnya.

“sebentar, sedikit lagi masak. Apa kai sudah lapar?”

Taemin menutup matanya saat aku bilang seperti itu, kemudian dia menghirup napas panjang dan membuangnya.

“aku yang lapar, nuna~ aku~~” taemin berbisik, tampangnya seperti mau menangis. Aku menutup mulut untuk menahan tawa. Saat aku melirik ke arah kai sebentar, anak itu ternyata juga sedang melihat kami. Saat pandangan kami bertemu, dia langsung pura-pura menonton tv lagi. Terdengar suara berdehem-nya dari sini. Hehe, dua anak ini sama-sama lucu. Sepertinya mereka sudah kelaparan sekarang.

“mianhae, masaknya benar-benar sebentar lagi. Aku janji lima menit lagi aku panggil kalian. Sekarang kau nonton dulu, oke?” aku membalikkan badan taemin dan menepuk pantatnya. Taemin langsung merengut melihatku, tapi langsung mengubah wajahnya lagi saat mendekati kai. Dasar anak aneh.

Dan lima menit kemudian, aku memanggil mereka.

“아들아~ 먹자~ adeura~ meokja~ (anak-anak~ ayo makan~)” panggilku.

Taemin dan kai segera ke dapur sambil bercanda dan tertawa-tawa. Melihat itu, laparku langsung hilang seketika.

“nuna seperti ajumma-ajumma bilang ‘adeul’ begitu.” Kata taemin saat dia sudah duduk di kursinya.

“berisik, cepat makan.” Ujarku menjitaknya sambil lalu.

“jal meokgesseumnida~” ujar dua taemin bersamaan.

Mereka makan dengan lahap. Ternyata memang benar sudah kelaparan.

“mianhae, aku lama memasak” kataku saat duduk di seberang mereka.

Kai langsung menggigit makanannya cepat-cepat dan menelannya dengan paksa.

“gwaenchanhayo, nuna” katanya kemudian. Lucu sekali. Dia sengaja menelan makanannya dulu baru berbicara sopan seperti itu. Aku tertawa lagi.

“kai-ssi. Tadi kau ada urusan apa? Apa tidak jadi?” tanyaku di sela-sela makan.

Kai diam sebentar. Saat kulihat taemin, dia sedang melirik-lirik kai.

“nuna, ini. Dia ini kan pemalu, mana mau kalau bukan aku yang mengajak.” Jelas taemin. Kai langsung menyenggol lengan taemin saat taemin berkata seperti itu. Taemin mengangkat bahunya dan meneruskan makan lagi.

“jwesonghaeyo, nuna” ujar kai tak enak.

“ah, gwaenchanha,” ujarku menenangkan, “tapi lain kali tak perlu malu main ke sini. Meski tak ada taemin, kau boleh main ke sini kok.”

“kai akan main lagi kesini bersamaku” ujar taemin tiba-tiba. Dia menatap lurus padaku. Aku hanya bisa nyengir melihatnya. Dan entah perasaanku saja atau memang benar, sepertinya kai juga mendengus menahan tawa.

Selesai makan, kami berbincang-bincang di meja makan dan tak lama kemudian, kai pamit pulang.

“terima kasih sudah diundang datang ke sini, nuna” ujar kai saat dia sudah berada di pintu depan.

“gwaenchanha. Mainlah sering-sering.” Balasku. Taemin hanya mengangguk-angguk di sampingku.

“geureom. Annyeonghi gyeseyo” kai membungkuk lagi. Dia menaikkan alisnya pada taemin sebagai salam terakhir kemudian dia pergi.

“haah~ nuna sudah senang sekarang?” tanya taemin saat aku menutup pintu depan.

Aku mengangguk-angguk dengan senyum mengembang.

“gomawo, taeminie~” ujarku sambil mencubit pipi berisinya.

“nah, kiseu~ kiseu~” taemin memajukan bibirnya, seperti sedang mencium udara.

“dasar!” ujarku.

Kiseu-nya hanya sebentar. Bahkan taemin yang menghentikannya duluan.

“kalau sering-sering rasanya tidak wah lagi ya, nuna. Seperti sudah biasa” ujar taemin tiba-tiba saat kami sudah duduk lagi di sofa untuk menonton.

“memang. Makanya jarang-jarang saja” ujarku.

Taemin langsung mengangguk.

“kapan ya, kai main ke sini lagi?” tanyaku dengan pandangan menerawang.

“kapan-kapan” jawab taemin cepat.

Aku langsung memukul lengannya.

“tapi, nuna,” ujar taemin lagi, “aku senang lihat nuna tersenyum bahagia seperti tadi. Apa sesenang itu bisa melihat dua-aku di rumah?”

Aku nyengir mendengarnya dan tersenyum lebar. Taemin hanya mengangguk-angguk.

“kalau ada tiga-aku, mungkin nuna mimisan. Kalau ada empat-aku, mungkin nuna pingsan. Kalau ada lima-aku—“

“kau imut sekali, taeminie~~” ujarku sambil mencubit pipinya. Tak tahan melihat dia berandai-andai seperti itu dengan jari-jarinya menghitung sendiri.

“hehe” taemin nyengir lebar dan dia menonton tv lagi. Aku juga mengikutinya menonton, tapi pikiranku masih melayang-layang.

Kalau ada lima-taeminie di rumah, aku tak tahu aku akan bagaimana.

= = =

Advertisements

6 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 114-118)

  1. Taemin ama kai mmg agak mrip sih… Kai itu kyak sosok maskulinnya Taemin….*aku ska mrka b-2…hihi*..sring-sring aja kai main ke rmah, lucu ngeliat taemin cmburu….*taemin: gak kok, kan aku bisa dpat kisseu trus dri nuna…aku:ckck….bocah mesum#ditabok taemin*
    klo ada 5-taemin, mungkin nuna-nya bisa struk, gra senengnya mlebhi amabang btas kewjaran….*bhasanya gak banget*…..

  2. 야. . . .너. . 진짜~~ ㅋㅋ
    dasar omesh lovers ;p hahha
    akhirnya mengakui jugakan kalo mereka mirip :DD
    sarannya : lebih hot lagi kalo adegan kisu dilidahnya diperjelas, apaan kyk gitu doang, ndak sero doh hahahah :DD

  3. 안녀하세요 언니~
    레스티 입니다
    semalem iseng browsing nemu blognya,
    haha ngakak bacanya,
    salam kenal ya, kayanya aku jadi reader baru deh …

    • hehehe gomawo uda mampir^^;;
      salam kenal juga, nurul imnida^^;;
      di obrakabrik aja itu nuna’s diary nya, taeminie rela kok… 😀
      >tmin: ha?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s