FF ㅡ 나 어떡해? (What should I do?)

= FF =

Title: What should I do?

Rating: PG

Main Cast: Nuna & Kai & Taemin

Support Cast: Seora (someone) as Nuna’s friend

Author’s note:

salahkan kai yang tampan sangat di MV History (argh)

tapi saya ga selingkuh dari taemin, taemin tetap yg nomer satu kok^^;; *peluk+ppoppo+kisu tmin*

>tmin: nunaa~~!! huweee~~~ *cambuk kai pake benang*

ini saya bikinnya sebenernya sambil ngebayangin nuna+tmin di nuna’s diary, jadi ceritanya ff ini rada nyambung gitu, tapi saya ngarep nya rider sekalian pada ga bayangin hal yang sama, soalnya saya ga mau tmin ngambek beneran kalo saya terusin ceritanya nuna pacaran ama kai. jadi yah, 여기까지만 ff nyaa hehe^^;; *peluk+ppoppo+kisu tmin lagi*
oke dah,
happy reading 🙂

= = =

-Nuna’s PoV-

“nuna, cepat pulang~ aku bosan sendirian di rumah~”

Hatiku terenyuh mendengar rengekannya, jadi rindu adikku.

“ne, sebentar lagi aku pulang.” Jawabku dengan senyuman. Padahal aku tahu dia tak akan bisa lihat karena kami berbicara melalui telepon, tapi tetap saja aku tersenyum.

“sebentar itu berapa lama, nuna~?”

Dia merengek lagi.

Haah~ tak tega juga.

“ini aku sudah mau pulang. Seora sedang keluar kamarnya, kalau dia sudah masuk nanti aku langsung pamit—nah, itu dia sudah masuk. Aku akan segera pulang. Tunggu saja. Aku matikan, ya“

Klik!

Seora melihatku dengan sebelah alis terangkat.

“adikmu?” tanyanya sembari duduk di atas tempat tidurnya.

“ng” jawabku singkat. Aku meraih jaket-ku dan mulai memasangnya.

“sudah mau pulang?” tanyanya lagi.

“ne, dia menyuruhku pulang.” Jawabku lagi. Tasku sudah aku lingkarkan di badanku. “aku pamit. Gomawo tehnya” ujarku sambil melirik ke gelas di atas meja kecil di tengah ruangan. Seora menjawabnya dengan anggukan kecil.

“kapan kau mau main lagi?” tanyanya.

“molla.” Aku sudah memegang kenop pintu kamar seora, “nanti aku hubungi lagi”

“oke” seora mengikutiku keluar ruangan.

Setelah aku berpamitan dengan orangtua seora, seora mengantarku sampai pintu depan.

“kau tahu jalannya kan?” tanya seora saat aku memasang sepatu.

“mm,” aku berpikir sebentar, “mudah-mudahan aku ingat.” Cengiran lebar melengkapi jawabanku.

“ah, aku yakin kau bisa pulang dengan selamat.”

“baiklah. Aku pulang dulu. Daah”

Seora melambaikan tangannya saat aku membuka pintu depan rumahnya.

Udara di lorong apartemen terasa dingin. Di lorong ini tidak diberi penghangat.

Aku terus berjalan sendirian. Kompleks sekitar apartemen tempat tinggal seora masih terasa asing bagiku. Daerah ini cukup jauh dari rumahku.

Sambil merapatkan lenganku ke badan, aku menapaki jalan turunan dengan langkah yang dipercepat. Seram juga rasanya jalan sendirian di jalanan sepi begini. Kalau ada orang mesum bagaimana?

Tiba-tiba dari rumah di sebelah kiri, aku mendengar suara berisik. Rumah itu tak terlalu besar tapi tak bisa dibilang kecil juga dan masih sepuluh meter di depanku, tapi aku bisa mendengar suara teriakan perempuan dari dalamnya saat pintu depannya terbuka. Sedetik kemudian, pintu itu menutup dengan suara ‘blamm’ keras dan saat itu juga suara teriakan perempuan itu teredam dan kemudian disusul oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa.

Jantungku langsung berdetak cepat, mengira-ngira apa yang terjadi.

Sebuah sosok cepat-cepat membelok ke kiri, menjauhi dari mana arah aku datang dan tempat sekarang di mana aku berdiri mematung. Sosok itu baru saja keluar dari halaman rumah yang aku sebutkan tadi. Sosok itu seperti sosok yang kukenal. Aku tak mungkin lupa sepatu itu. Sepatu itu selalu bisa aku tandai karena modelnya sama dengan model sepatu kesukaan adikku, hanya saja beda warna. Postur tubuhnya juga aku sangat mengenalnya.

Aku coba menyusul orang itu dengan mempercepat langkahku. Saat sudah cukup dekat, baru aku berani memanggil.

“kai?”

Sosok itu berhenti dan membalikkan badannya. Ternyata benar dia kai.

Kai melihatku dengan pandangan nanar. Meski gelap, aku masih bisa melihat airmata di wajahnya.

Saat kai melihatku, ekspresinya perlahan melunak. Dia kemudian menunduk dan pundaknya bergetar makin kencang. Isakannya mulai terdengar. Dia hanya berdiri diam di sana, dengan tangan dan kaki rapat. Meski aku baru beberapa kali bertemu dengannya, tapi aku tahu kalau saat ini anak ini butuh pelukan.

Aku mendekatinya dan memeluknya. Terkadang aku muak kenapa aku terlalu pendek dibandingkan orang-orang. Tapi paling tidak aku tahu kalau pelukanku meringankan bebannya dari isakannya yang makin keras.

Aku mencoba menepuk punggungnya dan membelai kepalanya.

Kai hanya menangis sebentar. Dia kemudian melepaskan pelukannya dariku.

“mianhae, nuna” ujarnya. Suaranya masih bergetar dan dia menunduk, tak berani melihatku.

Aku tak tega membiarkan anak ini sendiri. Dia sahabat adikku.

“kau mau cerita?” tanyaku.

~~~

Aku dan kai sedang berada di taman kecil tak jauh dari tempat aku bertemu dengan kai tadi. Kami duduk di salah satu bangku. Kai masih terus menunduk, dengan kedua siku di atas lututnya.

Tiba-tiba aku teringat pada adikku yang menyuruhku pulang cepat. Dia harus dikabari kalau aku mungkin sedikit terlambat.

 

Taemin, aku ada urusan mendadak. Mungkin aku pulang sedikit lebih lama

 

Setelah pesan itu terkirim, aku memasukkan handphone-ku ke tas dan memandang kai lagi.

“jadi, kau mau cerita dari mana?” tanyaku padanya.

Kai menceritakan semua keluh kesahnya padaku. Masalahnya cukup kompleks. Aku terus membiarkannya bercerita. Anak itu terlihat lemah. Saat dia tak tahan dan kemudian terisak keras lagi, aku kembali memeluknya. Aku percaya pelukan bisa meringankan beban batin seseorang. Pelukan selalu bekerja untuk taemin saat dia sedang sedih.

Kali ini kai menangis lebih lama. Mungkin setelah dia bercerita panjang lebar, dia merasa sedikit lebih dekat denganku.

Gara-gara hal ini aku jadi teringat taemin. Dua anak ini sama, pantas saja mereka bersahabat. Sok terlihat kuat, tapi sebenarnya lemah di dalam.

Aku terus menenangkan kai dengan menggosok punggungnya dengan perlahan. Isak kai sudah hilang, tapi sepertinya dia masih ingin seperti ini. Aku sudah bilang, pelukan itu ampuh.

Tak lama kemudian, kai melepas pelukannya. Paling tidak tadinya aku kira dia akan melepas pelukannya. Tapi kemudian, ternyata kai menciumku. Aku terkejut dan tak bisa berbuat apapun.

Ini begitu tiba-tiba. Bibir kai terasa dingin.

Apa yang harus aku lakukan? Membalasnya?

Kai menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mataku dan sedetik kemudian menatap bibirku, lalu kemudian kembali menciumku setelah memindahkan posisi kepalanya.

Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Getarannya sangat keras sampai bunyi getarannya terdengar.

Aku langsung menjauhkan diri dari kai dan meraih tasku.

Baru saja aku baru membuka tas untuk menjawab telpon, kai menggenggam kedua tanganku dan kemudian diletakkannya melingkar di pinggangnya.

Aku seperti terhipnotis saat kai sekali lagi menempelkan bibirnya di bibirku.

Getaran handphone-ku akhirnya berhenti. Digantikan oleh bibir kai yang mulai bergerak di seberang bibirku.

Terlalu hangat, aku tak bisa menolaknya.

Setelah beberapa lama, kai menjauhkan bibirnya dan dia memelukku lagi.

Aku membuka mata dan menatap jauh ke depanku. Pikiranku masih penuh dengan tanda tanya.

“nuna, kumohon jadi pacarku” bisik kai kemudian. Pelukannya di tubuhku semakin erat saat dia bicara seperti itu.

~~~

Aku baru ingat kalau tadi handphone-ku bergetar saat aku berada di atas kereta. Aku merogoh handphone-ku dan melihatnya.

Satu panggilan tak terjawab dari taemin. Lalu enam buah sms, juga darinya.

 

Nuna pulang jam berapa?? Jangan lama-lama~

 

Itu dikirim sebelum dia menelpon, sms-sms selanjutnya dikirim setelah dia menelponku tadi.

 

Nuna, kenapa tidak diangkat? Huwee~~

 

Nuna, kenapa tidak balas sms-ku? Urusannya penting sekali, ya?

 

Nuna, kalau urusannya sudah selesai dan sudah mau pulang, bilang aku yaa. Jangan lupa.

 

Nuna, ini sudah malam sekali. Urusan apa, sih?

 

Nuna, kenapa belum pulang juga?

 

Setelah membaca semua, aku segera membalas sms taemin.

 

Aku sudah di kereta. Sudah tidur?

 

Terkirim.

Aku menghembuskan napas berat. Pandanganku terlempar keluar jendela kereta. Hanya bayangan gelap yang ada karena ini kereta bawah tanah. Tapi di depan mataku sepertinya kejadian saat aku dan kai berdua di taman tadi terulang lagi.

Saat kai mengajakku berpacaran, aku menjawabnya dengan anggukan. Entah apa yang aku pikirkan tadi. Tapi anak itu sepertinya benar-benar butuh topangan. Aku tak bisa menolaknya pada saat seperti tadi. Tidak bisa.

Handphone yang ada di tanganku bergetar pelan. Taemin sudah membalas lagi.

 

Belum tidur, aku menunggu nuna. Nuna benar-benar membuat aku khawatir. Cepat pulang.

 

Aku membalas sms itu dengan ‘ne’ singkat. Kemudian aku memandangi lantai kereta.

Mungkin aku nuna terburuk yang pernah ada. Selama ini taemin berusaha berpacaran denganku. Dia sampai sakit entah berapa kali. Apa yang akan dia katakan kalau tahu aku berpacaran dengan kai?

Aku benar-benar bodoh.

= = =

Advertisements

2 thoughts on “FF ㅡ 나 어떡해? (What should I do?)

  1. enak bgt baca ceritanya, haha secara saya juga fans berat si imin 😀
    btw ngakak baca ini “Terkadang aku muak kenapa aku terlalu pendek dibandingkan orang-orang” wkwkwkwk . yang di protect mau passwordnya dong mba’e 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s