FF/S/Nuna’s Diary (page 122-124)

= Nuna’s Diary =

Page: 122-124

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

Subtitle: [Period]

= = =

Dari tadi malam perutku sakit. Untung hari ini hari libur, paling tidak aku bisa istirahat lebih lama dan bangun lebih siang.

Aku terbangun oleh suara keras dari arah pintu kamarku. Perutku makin terasa sakit di detik yang sama, itu gara-gara aku terbangun. Aku makin menggelungkan badanku di dalam selimut.

“nuna, bangun~~ sudah siang, nuna~~”

Suara lembut yang biasanya terdengar imut itu sekarang benar-benar terdengar mengesalkan. Ternyata begini taemin terdengar kalau aku tak melihatnya sebagai adik yang imut-imut.

Aku mencoba menutup mataku lebih rapat lagi. Ingin rasanya aku menutup telinga dengan kedua tanganku, tapi sepertinya perutku akan terasa lebih sakit lagi kalau aku tidak menahannya dengan kedua tanganku, jadi aku urungkan niat tadi.

“nuna, banguun~~”

Kali ini taemin menarik-narik selimutku.

Kenapa anak ini?? Tidak biasanya dia seperti ini.

Nyut nyut nyut.

Arh, perutku sakit sekali.

“nuna, banguuuuun~~” dengan sekali sentakan selimutku terbuka seluruhnya. Kekesalanku tak bisa ditahan lagi.

“BERISIK!!!”

Denyutan di perutku makin menggila sesaat setelah aku berteriak seperti itu. Aku mencoba duduk dengan segenap kemarahan. Kulontarkan pandangan paling sinis-ku pada taemin dan menarik selimutku lagi. Aku mencoba berbaring seperti tadi, tapi rasa nyamannya sudah beda dan perutku makin sakit karena aku bergerak barusan.

Aku tahu aku keterlaluan, tak pernah sebelumnya aku meneriaki taemin seperti itu. Terbayang di benakku ekspresinya saat aku teriaki barusan. Dia terdiam, aku tak pernah melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu sebelumnya. Perutku makin berdenyut begitu menyadari kesalahanku ini.

Kasur berderit tak lama kemudian. Aku mencoba membuka mata. Taemin naik ke kasur dan berbaring di sampingku setelah sebelumnya menyibakkan selimut yang sedang kupakai dan ikut masuk ke dalamnya. Dia mendekatkan posisinya denganku dan menatapku.

Emosiku sudah jauh lebih reda setelah melihat wajah adikku. Tega sekali aku meneriaki wajah tak bersalah itu.

“mianhaeyo, nuna” bisik taemin kemudian.

Aku hanya menatapnya. Aku yang harusnya minta maaf, bukan si kecil ini.

Nyut nyut nyut.

Aku mencoba menutup mataku menahan sakitnya. Kedua tanganku menekan perutku lebih dalam, berharap sakitnya sedikit berkurang kalau aku melakukan itu.

“nuna sedang sakit?” suara kecil itu bertanya lagi. Aku membuka mataku dan mengangguk padanya.

Wajah taemin dekat sekali.

Nyut nyut.

“ugh” eranganku keluar juga. Denyutan yang barusan terasa lebih keras dari yang tadi-tadi. Aku menutup mataku lagi.

“sakit perut ya, nuna? Yang seperti biasa, ya?” taemin terus bertanya. Rasa kesalku mulai muncul lagi. Kenapa anak ini tidak bisa sebentar saja mencoba diam dan tidak terus bertanya padaku?

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

“tapi kenapa hari ini sepertinya sakit sekali?” taemin terus bertanya.

Aku menggeleng tak tahu. Terlalu sakit untuk bicara sekarang.

“mianhae, nuna. Aku tadi lupa tanggalnya.”

Kali ini aku tak meresponnya. Aku menghela napas panjang, mencoba untuk menenangkan diriku dan kalau bisa mencoba tidur.

“yang mana yang sakit, nuna?”

Tangan taemin meraba bagian atas tanganku yang aku gunakan untuk menahan perutku. Tangannya terasa dingin. Pasti sangat nyaman kalau di letakkan di atas perutku. Tapi..

Aku membuka mataku dan mata taemin yang langsung terlihat.

“yang mana, nuna?” tangan dingin taemin masih mencari di atas perutku.

Aku menyingkirkan tanganku dari atas bagian perutku yang sakit dan menggantinya dengan tangan taemin. Ternyata benar, tangan dingin taemin terasa nyaman di kulit perutku. Aku tutup tangan taemin dengan kedua tanganku lagi. Makin banyak tekanannya sepertinya membuat sakitnya makin berkurang.

Denyutan di perutku jauh lebih berkurang bermenit-menit kemudian. Tapi aku masih belum bisa tidur. Tidak dalam keadaan seperti ini.

“taeminie, mianhae”

Akhirnya kata maaf keluar juga dari mulutku. Taemin tersenyum dan mengangguk.

“gwaenchanhayo, nuna” jawabnya polos.

Benar-benar tega aku meneriakinya tadi. Nanti sore kalau perutku tak sakit lagi, aku akan mengajaknya membeli es kri—tunggu! Aku lupa sesuatu!

“taeminie, bagaimana ini?” tanyaku resah.

“waeyo, nuna?” tanya taemin bingung.

“aku lupa hari ini aku janji mengajakmu makan es krim! Ya ampun!” aku menyalahkan diriku sendiri. Kenapa aku bisa lupa?? Padahal kemarin taemin terlihat sangat bersemangat saat aku beritahu dia kalau kami akan makan es krim hari ini. Mungkin karena itu juga dia membangunkan aku tadi. Ya ampun, aku lupa semuanya!

“gwaenchanhayo, nuna. Nuna sedang sakit. Tidak jadi juga tidak apa-apa.” suara taemin sangat lembut, begitu juga raut wajahnya.

Adikku benar-benar terbaik. Padahal wajahnya terlihat sangat bahagia kemarin dan sekarang dengan wajah polos begitu dia…

Aku ingin mengucapkan terima kasih.

“taeminie, sini” suruhku.

Taemin tampak sedikit bingung, kami sudah berbaring cukup dekat tapi aku masih menyuruhnya mendekat. Meski begitu, dia tetap mendekatkan wajahnya padaku.

“kenapa, nuna?” tanyanya.

Jaraknya masih belum cukup dekat. Aku terlalu lemas menggerakkan badanku untuk mendekatinya.

“kesini, lebih dekat” suruhku lagi.

Kali ini taemin tak banyak bicara, dia makin mendekatkan wajahnya dengan wajahku.

Lima senti. Baiklah, ini cukup.

Ccuk~

Aku mengecup bibir taemin. Taemin sudah mulai menutup bibirnya saat aku mulai menempelkan bibir kami tadi. Hanya kecupan ringan yang sedikit lebih lama dari biasa, aku hanya ingin berterima kasih.

Aku tersadar untuk menyudahinya saat aku merasakan tangan taemin sedikit berkedut di atas perutku.

Aku menatap taemin yang lebih dulu membuka matanya. Dia tak tersenyum. Wajahnya sudah berubah dewasa lagi, hanya sedikit kesan imut yang bisa aku tangkap.

“aku hanya ingin bilang gomawo..” aku menatap taemin sedikit takut-takut, “…dari yang barusan.” Sambungku.

Akhirnya taemin tersenyum, senyum adikku yang imut.

“gomawo, nuna” ujarnya, “nuna sebaiknya istirahat. Aku ambilkan kompres air hangat, ya?”

Taemin beranjak dari kasur. Bekas tangannya di atas perutku barusan terasa hangat saat dia menarik tangannya.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

Siapa yang tidak sayang dengan adik yang seperti ini?

= = =

Advertisements

6 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 122-124)

  1. sayangnya aku cemburu eonni >.<
    #sirik ga tinggal bareng taemin T.T

    ntar aku maen ya, aku mau bawa pulang taemin nya XD

  2. Aigoo…taem unyu deh…
    eonn…kasih pass yg shocking force donk…aku udah message ke fb eon..thx before

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s