FF/S/Nuna’s Diary (page 125-127)

= Nuna’s Diary =

Page: 125-127

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Taemin mendekatiku yang sedang membaca majalah di atas tempat tidur. Dia ikut masuk ke dalam selimut dan menutupi kakinya dengan selimut itu, sama seperti yang aku lakukan sekarang. Aku hanya memperhatikan dia. Bibirnya dimajukannya sambil melihatku, lalu dia mengedip-kedipkan matanya. Aku mendengus melihatnya dan kemudian melanjutkan membaca majalahku lagi.

Sudah tiga hari ini taemin terus-terusan berlagak sok imut di depanku. Sebenarnya itu semua ada penyebabnya. Tiga hari yang lalu sebelum kami tidur, taemin tak sengaja membaca sms dari temanku. Di dalam sms itu ada nama chen, kenalan baruku. Namanya jongdae, tapi dia sering dipanggil chen. Aku masih ingat bagaimana wajah taemin saat dia bertanya padaku tentang chen malam itu.

Taemin menatapku dengan ekspresi-susah-ditebak-nya. Aku hanya diam dan entah kenapa merasa sedikit bersalah.

“siapa chen, nuna?” tanyanya waktu itu. Wajahnya benar-benar polos. Aku bingung mau menjawab apa.

“eh, temanku.” Jawabku asal, tapi taemin terlihat masih belum percaya.

“teman yang mana? Kok aku belum tahu?” tanyanya lagi. Aku mulai gelisah.

“teman baru.” Jawabku lagi.

“namja, ya?” tebak taemin. Aku mengangguk sebagai jawaban. Jujur saja aku mulai tak nyaman dengan pembicaraan itu.

“sudah malam, ayo kita tidur.” Ajakku waktu itu, sengaja mengalihkan pembicaraan. Aku memeluk taemin lebih erat.

“sejak kapan kenalnya, nuna?” taemin masih belum puas dengan jawabanku dan terus bertanya. Aku menghembuskan napas berat. Sebaiknya aku menjawab semua penasarannya itu agar bisa tidur lebih cepat.

“minggu lalu.” Jawabku pelan.

“nuna dekat dengan dia?” tanya taemin lagi.

“belum, aku kan baru kenal dia seminggu.” Lama-lama aku kesal juga dengan pembicaraan begini. Jangan bilang taemin cemburu lagi. Setelah kai lalu chen. Lalu nanti siapa lagi? Anak ini posesif sekali.

“kalau ‘belum’ berarti ‘akan’ ‘kan, nuna?” desak taemin. Wajahnya terlihat sedikit menjengkelkan, mungkin karena pengaruh aku sudah mengantuk dan diserang pertanyaan bertubi-tubi seperti ini.

“ne. Tapi tak akan bisa menyamai kedekatan aku dengan kau, taeminie~” ujarku sambil mencubit hidungnya geram. Taemin tak merespon. Dia diam saja sambil mengedipkan matanya beberapa kali, terlihat seperti sedang berpikir, entah apa yang dipikirkannya. Aku masih terus menunggu taemin sampai dia melihat ke arahku lagi.

Ccuk~

Taemin menciumku agak lama. Bibir tebalnya menekan bibirku dengan kuat.

“yuk tidur, nuna.” ajak taemin setelah dia melepas bibirnya. Dia memelukku dengan menyampirkan tangannya ke atas badanku.

Sejak saat itu, taemin selalu bermanja-manja padaku. Dia hampir tak pernah membuatku kesal. Bagus juga sebenarnya keadaan seperti ini, tapi ini membuatku sedikit curiga. Agak aneh rasanya memiliki taemin yang penurut dan tak membuat ulah seperti ini.

Sementara aku terus membalik halaman majalah, dari sudut mataku aku bisa melihat taemin sedang melihat ke arahku. Bohong kalau aku tak bisa menebaknya. Jarak taemin dekat, jadi pasti aku tahu. Aku menatap taemin setelah itu. Baru melihat ekspresinya saja aku sudah tertawa.

“kenapa bibirmu manyun begitu?” tanyaku. Imut sekali tampangnya.

“biar nuna ppoppo aku” jawabnya singkat, kemudian dia memajukan bibirnya lagi.

Ya ampun, imutnya~

“kau mau di ppoppo?” tanyaku lagi. Taemin mengangguk cepat.

Aku mencium keningnya, lalu sekilas mencium bibirnya. Taemin tersenyum kecil.

“nuna masih berhubungan dengan chen?” tanyanya tiba-tiba. Aku sedikit terkejut sebenarnya.

“tentu saja masih. Kenapa memangnya?” aku balas bertanya. Taemin memperbaiki posisi duduknya menjadi sedikit lebih nyaman.

“chen itu orangnya seperti apa sih, nuna?”

Alisku sedikit berkerut mendengar pertanyaan taemin. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena aku bingung harus menjawab apa.

“mm, dia itu sangat berbeda denganmu.” Ujarku sambil menutup majalah. Entah kenapa pembicaraan ini sedikit menarik bagiku.

“berbeda yang bagaimana, nuna?” tanya taemin lagi. Aku menyipitkan mataku, mencoba mengingat chen.

“dia punya bibir yang tipis, rambutnya juga tipis. Bentuk rahangnya keras. Orangnya pemalu, tapi selalu bisa menempatkan diri dalam suatu keadaan. Tipe lelaki dewasa. Suaranya juga bagus.” Terangku panjang. Taemin masih terus memperhatikanku.

“memangnya aku tidak pemalu ya, nuna?” taemin bertanya lagi. Aku langsung tertawa mendengarnya.

“kau itu bukan pemalu, taeminie~” kataku, “tapi memalukan!” aku mencubit pipi berisinya. Adikku yang satu ini selalu imut.

Taemin memberengut mendengar jawabanku. Ekspresi wajahnya berubah sedih.

“nuna suka chen, ya?”

DEG!

Kenapa anak ini tiba-tiba bertanya seperti ini?

“bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?” tanyaku heran. Taemin mengangkat bahunya.

“nuna mengatakan yang baik-baik saja tentang dia.” ujar taemin.

Ccuk!

Taemin mencium bibirku sekilas. Hal ini juga berlangsung sejak malam dia tahu chen itu, semenjak itu dia selalu ppoppo bibirku tanpa bilang sebelumnya.

“memangnya kalau aku mengatakan hal yang baik tentang seseorang berarti aku suka orang itu?” tanyaku pada taemin. Wajah sedih taemin masih belum hilang.

“ekspresi nuna berubah kalau bicara tentang dia.” jawab taemin singkat. Kurasakan wajahku memanas.

“berubah bagaimana?” tanyaku sambil memegangi kedua belah pipiku. Pipiku terasa panas. Taemin melihatku dengan pandangan bosan.

“itu.. Seperti sekarang itu.” Tunjuknya dengan bibir. Mukaku jadi makin panas.

“jinjja?” aku sendiri bingung. Apa benar aku suka chen?

Ccuk~~!

Taemin menciumku lagi.

“kalau nuna suka chen nanti aku bagaimana, ya?” tanya taemin lebih kepada dirinya sendiri.

“di sini saja, memangnya kau mau kemana?” tanyaku bingung.

“nuna ‘kan nanti pasti lebih fokus pada chen dan meninggalkan aku~” mata taemin mulai berair. Dengan wajah begitu aku tega meninggalkannya? Tentu saja tidak.

“tak mungkin, kecil~” aku menghapus air mata taemin dan memeluknya, “kenapa kau berpikiran seperti itu?” tanyaku. Sedih rasanya mendengar adikku bicara seperti itu.

“aku hanya takut kalau nuna meninggalkanku. Aku pasti akan bingung.” Taemin berbicara dengan suara seraknya. Aku mengelus rambutnya lebih lembut.

“kalau aku suka chen sekalipun, aku tak akan meninggalkan taeminie.” Ujarku tegas. Taemin tak menjawab, dia hanya mengangguk dalam pelukanku. “tunggu!” aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Aku melepas pelukan kami dan menatap mata taemin, “kalau begitu kau memperbolehkan kalau aku suka chen?” tanyaku antusias. Taemin menghapus sisa air matanya dengan punggung tangannya.

“kalau nuna suka seseorang kenapa aku mesti melarangnya?” tanya taemin balik.

Itu adalah kalimat yang paling bagus yang pernah dikatakan taemin padaku. Adikku memang yang terbaik.

Aku mencium kening taemin, matanya, pipinya, hidungnya dan bibirnya. Aku merasa sangat berterima kasih.

“gomawo, taeminie~” ujarku pada taemin setelah memeluknya sekali lagi. Perkataanku dibalas taemin dengan pelukan yang makin erat.

= = =

Advertisements

4 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 125-127)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s