FF/S/Nuna’s Diary (page 132-136)

= Nuna’s Diary =

Page: 132-136

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“nuna~~ sudah belum~~?”

Suara ketukan di pintu disertai suara taemin sedikit mengejutkanku. Aku memutar keran shower ke posisi mati dan menyambar handuk yang kugantungkan di gantungan handuk.

“hampir selesai~ kenapa?” sahutku sedikit keras.

“aku sakit perut, nuna~ palli jom~~”

Hehe, si kecil itu sakit perut rupanya.

Aku segera mengeringkan badan dengan handuk putih punyaku.

“cepat, nuna~ sudah tidak tahan~ aigoo~~”

“sebentar, taeminie~ aku pasang baju dulu~” ujarku lagi. Dengan sigap aku menyambar pakaianku dan secepat mungkin memakainya.

“di kamar saja, nuna~~ aku tak tahan lagi~~ huwaa~~ palli~”

Gedoran di pintu semakin cepat.

Aku masih belum pakai baju, hanya dalaman.

“nunaa~~~”

Ah, ya sudahlah.

Aku melingkarkan handuk ke sekeliling badanku dan segera membuka pintu.

Wajah taemin sudah tidak keruan saat aku lihat. Tapi kemudian mulutnya terbuka lebar dan tiba-tiba semburat merah terlihat di pipi berisinya.

“huwa, nunaa~ aku maluu~” suaranya teredam karena dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Wajahku terasa panas saat menyadari yang terjadi. Wajah taemin memerah karena melihat keadaanku yang hanya dibalut handuk. Dan gara-gara dia malu, aku juga jadi ikut malu.

“apa-apaan itu? Sudah cepat masuk!” ujarku sambil sedikit mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.

“oh iya, aku lupa.” Kata taemin sambil nyengir, “aigooo~” erangnya sambil memegang perutnya dan menutup pintu.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala saat pintu tertutup. Setelah itu aku segera menuju kamar untuk memakai baju di sana.

Saat aku lihat jam dinding di kamarku, ternyata aku sudah terlambat lima belas menit dari waktu perkiraanku. Aku terlalu banyak memakai waktu untuk mandi ternyata. Ada bagusnya juga taemin menyuruhku untuk cepat keluar tadi, kalau tidak mungkin aku akan lebih lama lagi berada di dalam.

Dengan cepat aku memakai pakaian yang sudah aku siapkan, tak lupa mengeringkan rambutku dan sedikit memakai kosmetik. Hari ini aku ada janji dengan seseorang. Seseorang yang mungkin menjadi orang yang penting bagiku.

Wajahku memanas lagi saat aku membayangkan wajahnya. Dan aku sedikit bingung melihat pantulan diriku yang tersenyum malu-malu di cermin. Ah, kenapa hanya satu orang saja bisa membuatku seperti ini?

Aku melirik jam lagi dan aku langsung terlonjak. Aku tak sadar kalau waktu janjian sudah hampir tiba. Butuh dua puluh menit untuk sampai ke tempat yang sudah dijanjikan, dan sekarang kurang dari sepuluh menit dari waktu janjian. Aku terlambat.

Aku langsung menyambar tas, tak mau datang lebih terlambat lagi dari pada ini.

Taemin baru saja keluar dari kamar mandi saat aku lewat ruang keluarga dengan bergegas.

“nuna mau kemana?” tanyanya.

“ada janji. Mungkin aku pulang malam. Kau makan malam sendirian, ya. Aku terlambat. Daah~” ujarku cepat selagi membuka pintu depan.

Blamm!

Pintu depan tertutup di belakangku dan aku segera berlari menuju halte bis terdekat.

Untunglah saat aku datang, ada bis yang baru saja tiba. Aku bisa langsung naik dan tidak perlu menunggu lagi.

Aku duduk di barisan kursi ketiga dari belakang. Sambil mencoba menenangkan napasku, aku meraih tas untuk mengambil handphone. Aku harus mengabarkan Chen kalau aku akan terlambat.

Sudah kucari handphone-ku di setiap bagian tasku tapi aku tak menemukannya. Aku menghela napas berat saat menyadari kalau handphone-ku ketinggalan. Ya ampun, mudah-mudahan ini berakhir baik.

Tidak ada hambatan di jalan, untunglah. Kalau perkiraanku benar, aku paling tidak terlambat sepuluh menit dari waktu janjian.

Rasanya supir bus ini lama sekali menekan rem saat waktunya aku harus turun. Aku langsung menginjakkan kaki ke tanah begitu pintu bus terbuka. Untuk sampai ke tempat yang dijanjikan, aku harus berjalan sedikit lagi. Aku mempercepat langkahku.

Dari jauh sudah terlihat Chen. Dia memakai kemeja hijau lumut dan kaos putih di dalamnya. Aku sedikit merasa bersalah saat melihat ekspresi wajahnya yang berkerut sambil melihat handphone-nya.

“maaf aku terlambat.” Sapaku saat sampai di dekatnya. Dia tampak sedikit terkejut saat melihatku.

“oh, kukira kau tak bisa datang?” tanyanya sambil memperlihatkan layar handphone-nya padaku.

Mataku menyipit melihat isi sms di sana. Jelas sekali sms itu dari nomor-ku. Ada tulisan ‘yeongmi’ di sana.

 

Aku tak bisa datang. Kau pergi sendiri saja.

 

Begitu yang tertulis di sana.

Bagaimana bisa? Aku tak pernah mengirim sms seperti itu. Lagipula handphone-ku keting—

“ah! Taeminie! Anak itu benar-benar!” omelku sendiri. Aku melirik Chen yang masih tampak bingung.

“ah, mianhaeyo. Handphone-ku ketinggalan. Itu pasti adikku yang kirim. Mianhaeyo” ujarku merasa bersalah padanya.

“oh~” Chen mengangguk dengan mulut sedikit terbuka. Dia kemudian memasukkan handphone-nya ke dalam kantong celananya.

“gwaenchanha. Ayo pergi.” Chen tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dan mengikutinya berjalan di sampingnya.

“jadi kau punya adik?” tanyanya saat kami berjalan bersama.

“ne, adik laki-laki. Umurnya hanya beda tipis denganku.” Jawabku.

Aku jadi membayangkan taemin lagi. Berani sekali dia mengirim sms seperti itu kepada Chen. Kalau aku sudah sampai rumah awas saja.

“apa kalian akur?” tanya Chen lagi.

“ne, begitulah. Meski kadang-kadang dia buat ulah. Anak itu cengeng sekali. Dan aku harus selalu mengurusnya. Terkadang aku sedikit kesal, tapi itu sudah tugasku sebagai nuna.” Aku bercerita panjang lebar. Chen mengangguk sebagai respon

“sepertinya adikmu lucu.” Sahut Chen, “tapi aku bingung, kenapa dia mengirim sms seperti tadi itu?”

“si taeminie itu terkadang sedikit protektif terhadap nuna-nya. Kami besar bersama, jadi dia seperti ada rasa memiliki terhadapku. Anak itu masih belum dewasa. Jadi harap maklum, dan maaf.” Aku nyengir sedikit bersalah pada Chen.

Chen menggeleng pelan.

“tidak ada masalah tentang itu.” Ujarnya sambil tersenyum lagi. “kalau kita nonton, bagaimana?” ajak Chen.

“joha” ujarku sambil mengangguk.

“geurae. Ayo pergi ke bioskop~” ujar Chen lagi sambil menyambar tanganku dan menggenggamnya erat.

Jantungku langsung berdegup kencang. Diam-diam aku tersenyum kecil. Sepertinya hari ini akan menyenangkan.

***

“apa benar tidak apa? kau jadi memutar terlalu jauh.” Tanyaku sedikit tidak enak. Chen tadi memaksa untuk mengantarkanku pulang. Padahal rumahnya berlainan arah dengan rumahku.

“gwaenchanha. Aku sekalian ingin tahu di mana rumahmu. Barangkali lain waktu aku ingin menjemputmu langsung kalau kita janjian lagi.” Jawabnya tenang, lampu jalan yang remang menyinari wajahnya. Aku hanya tersenyum sebagai respon. Wajahku panas lagi.

Dari tadi sore, Chen selalu menggenggam tanganku kalau kami berjalan berdua. Kami terus menyusuri komplek perumahan dekat rumahku dengan bergandengan tangan. Kalau malam komplek ini selalu jadi sepi, aku pun tak tahu kenapa. Kami tak pernah berpapasan dengan orang lain setelah turun dari bus tadi.

“rumahku yang itu.” Ujarku sambil menunjuk rumah tak jauh dari tempat kami berada beberapa lama kemudian.

“ah, yang itu.” Chen mengangguk, “baiklah, aku sudah tahu sekarang.” Bibirnya membentuk senyuman khas. Sepertinya hanya Chen yang punya senyuman seperti itu.

Kami berhenti di depan rumahku. Dan entah kenapa genggaman tangan Chen menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

“aku senang bersamamu hari ini.” ujar Chen kemudian, dia sudah berdiri menghadapku. Lagi-lagi dengan senyum itu.

“aku juga senang hari ini. Semua tempat tadi menyenangkan…” kata-kataku berhenti saat kulihat Chen yang menatap mataku dalam. Cukup lama kami bertatapan, sampai Chen tersenyum dan mengedipkan matanya sekali, kemudian mengecup bibirku.

Aku menelan ludahku saat bibir kami bersentuhan. Namun kemudian aku menutup mataku.

Hanya kecupan ringan yang manis. Saat Chen menjauhkan wajahnya, wajahku langsung memanas. Chen menatapku dengan senyuman yang itu lagi.

“gomawo.” katanya kemudian. Aku menunduk dan kemudian mengangguk. Aku masih terlalu malu memperlihatkan wajah merahku padanya. “aku akan menghubungimu lagi. Dah~” Aku melambaikan tangan saat Chen berjalan menjauh. Dia berjalan mundur sambil melambaikan tangannya padaku.

“masuklah.” aku masih bisa membaca gerakan mulutnya dari jarak segini, gerakan tangannya yang menunjuk pintu rumahku menambah keyakinanku bahwa dia berkata demikian.

Aku mengangguk dan tersenyum, lalu sekali lagi melambai padanya.

Aku menghembuskan napas panjang sebelum berjalan menuju pintu. Jantungku masih berdegup keras. Tadi kami berciuman, aku dan Chen. Bibirnya dingin.

Jglek!

Tiba-tiba pintu rumah di depanku terbuka, memperlihatkan taemin dengan muka masamnya. Dia melihatku dengan tatapan tak suka, lalu dia melemparkan pandangannya jauh ke arah Chen.

“jadi itu yang namanya chen?” ujar taemin.

Aku mengikuti tatapannya. Chen sudah berjalan cukup jauh dan tidak melihat ke sini lagi.

Tiba-tiba tanganku ditarik ke dalam dan kemudian pintu tertutup dengan keras. Taemin menyudutkanku. Aku membelakangi pintu sementara taemin berdiri dekat sekali di depanku.

Tak ada waktu untuk bicara. Taemin sudah lebih dulu menangkap wajahku dengan kedua tangannya dan menciumku dalam. Bibirnya menekan bibirku dengan kuat. Dia mengecupnya berkali-kali. Aku hanya pasrah, tak berani melawan.

Taemin menjauhkan wajahnya beberapa lama kemudian. Dia masih menatapku dengan tak suka.

“bibir nuna punyaku!” ujarnya dengan ketus kemudian. Alisnya berkerut dan bibirnya memberengut. Matanya sudah mulai berair. “punyaku! Kenapa nuna membiarkan chen mencium nuna~~? Huweee~~~”

Tangis taemin pecah seketika. Air matanya mengalir di pipinya. Aku paling tak tahan kalau taemin sudah menangis seperti ini. Aku menghapus air matanya.

“huwee~~ nuna jahat~~~ nuna jahat padaku! huweee~~” taemin memelukku dengan sisa tenaganya. Terlihat sekali kalau dia lemas. Aku membelai rambutnya. Aku tak bisa marah kalau seperti ini.

“ayo ke kamar.” Ajakku.

Taemin menyeret langkahnya untuk mengimbangiku. Dia tak mau melepaskan tangannya dariku.

Aku mendudukkan taemin di kasurku, sementara itu aku berdiri di depannya sambil terus memperhatikannya. Taemin masih menangis dengan keras.

“nuna jahat~~ aku mengizinkan nuna suka sama chen, tapi aku tak bilang kalau nuna dan chen boleh cium-cium~ aku tak mau bibir nuna dicium orang lain selain aku~~ huwee~ nuna jahat~~” taemin terus merengek. Aku menghela napas panjang dan memeluknya lagi. Posisi begini lebih membuatku nyaman dari pada berdiri di depan pintu tadi.

Taemin memeluk pinggangku. Bahuku mulai terasa basah karena air mata hangatnya. Taemin masih terus menangis.

“nuna tidak boleh dicium orang lain lagi~ aku tak suka~~ bibir nuna punyaku~~ punyaku~!!”

Taemin melepas pelukan kami dan menyambar wajahku lagi. Kali ini ciumannya lebih liar daripada yang tadi. Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah. Air mata taemin ikut membuat basah pipiku.

Taemin memelukku lagi setelah itu. Tangisannya lama-lama berhenti sementara aku terus membelai bagian belakang kepalanya.

“nuna, aku ngantuk. Aku tidur di sini saja.” ujar taemin kemudian sambil melepaskan pelukan kami lagi. Taemin kemudian berbaring. Aku membantunya menarik selimut dan kemudian menyelimutinya. Mata taemin bengkak dan memerah.

“nuna tidur juga~” suruhnya.

“aku ganti baju dulu.” Ujarku. Saat aku mau beranjak, taemin menahan tanganku.

“nuna. cium aku” ujar taemin kemudian.

Aku melihatnya sebentar, kemudian mulai mendekatinya dan mengecup bibir tebalnya.

Saat aku mengangkat wajahku, taemin sudah menutup matanya. Aku menyambar baju rumahku dan berjalan ke kamar mandi untuk ganti baju di sana.

Pikiranku penuh. Saat aku melihat taemin yang menangis, juga saat taemin menciumku, pikiranku tentang Chen hilang sama sekali. Yang aku pikirkan hanya taemin. Padahal sepanjang sore tadi aku bersama Chen, tak pernah sekalipun aku memikirkan taemin. Namun, saat taemin muncul lagi di depanku, pikiran tentang Chen hilang begitu saja, bahkan kecupan manis dari dia tadi tak terasa lagi. Aku juga tak bisa mengatakan apapun saat taemin protes padaku tadi. Aku hanya diam dan melihatnya menangis saja. Harusnya aku marah, tapi tak sedikit pun perasaan marah muncul.

Aku masuk ke kamar lagi dengan perasaan campur aduk. Kepalaku sedikit pusing. Aku merebahkan badanku di samping taemin yang sudah tertidur. Kusambar handphone-ku yang terletak di atas meja samping kasur. Ada sebuah panggilan dari Chen dan sebuah sms juga darinya.

 

Hai, aku sudah sampai rumah. Sepertinya kau sudah tertidur. Semoga mimpi indah.

PS: mimpikan aku ya ^x^

 

Aku menaruh handphone-ku ke tempatnya semula. Sambil menatap langit-langit kamar, aku menghembuskan napas panjang lagi. Kulirik taemin yang tidur di sebelahku. Wajahnya tenang, seperti malaikat yang sedang tidur. Aku menatap langit-langit lagi, masih tak tahu bagaimana perasaanku sebenarnya. Aku ingin bersama Chen, tapi taemin…

Aku melirik lagi ke anak kecil itu. Alisnya sedikit berkerut, mungkin dia mimpi buruk. Aku mencium pipinya singkat dan membelai rambutnya.

Aku juga tak mau kehilangan taeminie. Bagaimana ini?

= = =

Advertisements

3 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 132-136)

  1. aaaaa si chen benar-benar jadi pengganggu….. huhu… ga rela itu si nuna cium che.. #tendang chen…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s