FF/S/Nuna’s Diary (page 137-140)

= Nuna’s Diary =

Page: 137-140

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“taeminie, sudah siap?” tanyaku pada taemin yang baru saja keluar dari kamarnya.

“ne! gaja, nuna~” jawab taemin dengan senyum lebar.

Kemarin aku dan taemin membuat janji kalau hari ini kami akan belanja bulanan sama-sama. Karena barang yang harus kami beli banyak, jadi kami memilih super-mart yang jauh dari rumah. Itu karena harga barang di super-mart itu jauh lebih murah daripada mini-mart yang ada di dekat rumah kami. Dari rumah sampai ke super-mart itu memakan waktu lebih kurang 45 menit dengan bis.

“sudah matikan lampu kamarmu?” tanyaku pada taemin selagi memasang sepatu.

“sudah! Eh, sudah belum, ya?” taemin meletakkan telunjuknya di depan bibirnya selagi berpikir.

“ish, kau ini! Sana lihat dulu!” suruhku.

“yaah~ aku kan sudah pasang sepatu, nuna~” rengek taemin malas.

“sana lihat dulu~!” aku bersikeras.

Taemin memajukan bibirnya karena kesal, tapi dia melepas sepatunya dan setengah berlari menuju ke kamarnya. Sebentar kemudian, dia kembali lagi ke pintu depan dengan senyum sumringah.

“ternyata sudah nuna, hehe” katanya sambil nyengir. Aku mengangguk sebagai respon.

“taeminie, zipper-mu belum dinaikkan.” Ujarku sambil menunjuk zipper celananya.

“eh? Oh iya..” taemin langsung melihat ke bawah dan menaikkan zipper-nya. Setelah itu ekspresi-nya berubah, seperti baru menyadari sesuatu, “iih, nuna ngapain lihat-lihat ke celanaku~? Nuna mesum~ kyaa~” taemin menutup matanya sambil senyum-senyum. Perutku geli melihat ekspresi-nya.

“sudah, cepat pasang sepatumu!” suruhku lagi.

Tanpa kata, taemin segera duduk untuk memasang sepatunya. Aku memperhatikan taemin yang masih berkutat dengan sepatu setengah-boots-nya itu. Sepatu hitam kesukaannya, dibeli hampir dua tahun yang lalu tapi sampai sekarang masih terlihat baru.

Hari ini taemin memakai kemeja merah kotak-kotak yang aku belikan saat hari natal tahun kemarin. Sudah lama dia tak memakai kemeja itu, padahal dulu hampir setiap hari dipakainya. Lalu taemin memakai celana jeans hitam ketat. Kadang-kadang aku heran kenapa anak ini suka sekali pakai celana sempit-sempit begitu.

“aku siap nuna, gaja!” taemin berdiri sambil tersenyum. Tubuh taemin yang lebih tinggi dariku terlihat menjulang karena dia berdiri dengan tiba-tiba.

Aku keluar lebih dulu daripada taemin. Taemin mengikutiku setelah sebelumnya menaikkan sedikit celananya ke atas.

“kenapa sih, kau suka celana sempit-sempit begitu?” tanyaku saat menutup pintu depan dan menguncinya.

“suka saja, kenapa memangnya nuna?” taemin malah balik bertanya. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.

“katanya laki-laki tidak boleh terlalu sering pakai celana ketat loh, taeminie~” ujarku lagi saat kami mulai menyusuri jalanan kompleks.

“aku juga pernah sih dengar yang seperti itu. Tapi kan aku suka, nuna, mau bagaimana lagi?” ujar taemin cuek.

“terserahmu kalau begitu.” Sahutku malas.

Selama berada di bis, taemin bercerita macam-macam. Tentang mimpinya tadi malam, tentang lelucon baru yang didapatnya dari kai, tentang acara televisi yang disukainya akhir-akhir ini. Sempat juga dia bertanya padaku mengenai chen, tapi aku tak terlalu menggubrisnya. Hari ini aku ingin kepalaku dipenuhi oleh adikku, bukan oleh orang lain. Bukan karena aku jadi tidak suka chen, hanya saja aku ingin menempatkan diriku di tempat dan saat yang tepat.

Setelah setengah jam lebih kami berada di dalam bis, taemin mulai bosan. Dia tidak lagi berceloteh tentang macam-macam hal. Sekarang dia diam sambil membuat pola-pola aneh di kaca jendela bis dengan jarinya. Sebentar kemudian, taemin tiba-tiba menggenggam tanganku dan merebahkan kepalanya di pundakku.

“jangan tidur, kita sudah hampir sampai.” Kataku mengingatkan.

“tidak tidur kok, cuma ingin merebahkan kepalaku saja,” sahut taemin dengan suara pelan, “nuna pendek sekali sih, leherku jadi sakit~” Tambahnya lagi sambil menggerutu.

Hah?? Apa maksudnya??, omelku dalam hati.

“ya sudah, tidak usah direbahkan saja!” balasku ketus.

“hehe, nuna jangan marah dong~”

Ccuk!

Taemin langsung mencium pipiku sekilas setelah berkata seperti itu. Setelah itu dia merebahkan kepalanya lagi ke pundakku.

“ya!!” aku mencoba membentaknya sambil berbisik.

“hihi.” taemin hanya tertawa kecil. Genggamannya di tanganku dieratkannya setelah itu. Rasanya seperti diremas sebentar. Tidak sakit, tapi entah kenapa aku bisa merasakan rasa sayangnya dari remasan kecil itu.

Dasar kecil, gerutuku dalam hati. Meski begitu aku tahu kalau bibirku membentuk senyuman.

Mesin bis yang berderum pelan membuat mataku menjadi berat. Kulihat kepala taemin yang masih ditaruhnya di pundakku. Dengan perlahan, aku menyandarkan kepalaku di kepalanya. Posisinya pas sekali.

“nuna jangan tidur. Kita sudah hampir sampai.” Terdengar suara taemin sedetik kemudian.

Hatiku jadi panas. Dia menyalin kata-kataku. Anak ini benar-benar…

“iya, cerewet!” bisikku ketus. Akhirnya aku tidak jadi menyandarkan kepala di kepala taemin dan ganti melihat lurus ke jalanan di depan. Taemin juga langsung menegakkan kepalanya.

“wah, nuna, kita sampai! Itu di depan!” taemin menunjuk keluar jendela.

Benar kami sudah hampir sampai. Halte turun juga sudah kelihatan.

“ayo turun!” ajakku. Genggaman tangan taemin langsung kulepas. Rasanya tidak enak saja bergandengan di tempat umum seperti ini. Apalagi yang kugandeng itu adikku.

Taemin terus mengikuti di sampingku sampai kami berada di dalam gedung. Puluhan keranjang dorong mart berjejer rapi di depan pintu masuk.

“taeminie, ambil satu.” Suruhku pada taemin. Dengan setengah berlari taemin mengambil salah satu keranjang dorong terdekat dan mendorongnya mendekatiku.

“daftar belanjaannya, nuna?” tanyanya mengingatkan.

“oh iya.” Aku segera merogoh tas dan mengambil buku agenda kecil tempat aku menulis apa-apa saja yang harus kami beli hari ini.

Keadaan di mart cukup ramai. Aku dan taemin masuk beriringan dengan dua keluarga saat kami berjalan melewati pintu masuk.

Begitu masuk, aku dan taemin langsung berbelok ke kanan, menuju rak paling ujung mart ini. Meski aku sudah mencatat barang-barang apa saja yang harus dibeli, tapi seperti ada yang kurang kalau tidak menelusuri tiap lorong yang ada di mart ini.

Sesuai perkiraanku, rak paling ujung kanan berisi perabotan berat seperti lemari, meja, kursi dan lain-lain. Meski kami tidak memerlukan itu semua, tapi tetap saja aku dan taemin selalu berhenti di depan beberapa perabot hanya untuk melihat atau mengagumi beberapa disain perabot yang unik.

“taeminie, lemari yang itu sepertinya cocok kalau diletakkan di kamarmu.” Ujarku sambil menunjuk salah satu lemari kecil berbentuk rumah jamur.

“tidak lucu, nuna!” gerutu taemin, bibirnya sudah maju lagi. Aku nyengir melihat ekspresi-nya seperti itu. Empat tahun yang lalu, taemin pernah salah potong rambut dan akhirnya rambutnya berbentuk seperti jamur. Sejak saat itu, kalau aku mengingat hal itu, aku selalu meledek taemin dan dia selalu tampak tak suka.

Setelah melihat-lihat perabot di lorong pertama, kami melanjutkan ke lorong kedua sambil mendorong keranjang yang masih kosong. Mungkin lebih tepatnya taemin yang mendorong, soalnya tadi sebelum masuk dia bersikeras untuk mendorong keranjang itu.

Di lorong kedua, kami memasukkan beberapa peralatan dapur ke dalam keranjang, taemin membantuku mengambil peralatan yang letaknya lebih tinggi. Ada bagusnya juga membawa taemin belanja bulanan seperti ini.

Taemin berhenti lumayan lama di suatu bagian peralatan dapur yang didisain khusus untuk anak-anak. Dia melihat peralatan-peralatan kecil itu dengan senyum sumringah. Taemin mengambil salah satu sendok panjang yang dihiasi bentuk pororo di ujungnya dan menggerakkannya sedemikian rupa seakan-akan sendok itu tongkat sihir.

“wingardium leviosa!” ujarnya sambil mengarahkan sendok itu ke arahku. Setelah itu dia tersenyum-senyum sendiri dan kembali melihat peralatan unik lainnya.

Aku mengambil alih keranjang dorong dan mulai mendorongnya menjauhi taemin. Kalau si kecil itu terus ditunggu, mungkin kami tak akan selesai belanja sampai malam.

Sambil memperhatikan daftar belanjaan, aku melihat kedua sisi rak. Taemin sudah aku tinggalkan di belakang. Aku sedang mengambil mangkuk kaca kecil di rak sebelah kiri saat aku tidak sengaja mendengar percakapan dua orang cewek yang lewat di sampingku.

“itu dia! kau sudah siapkan kamera? Ayo cepat foto sebelum orangnya pergi!” Begitu kata-kata yang dapat kudengar dari salah satu cewek itu.

Dengan sedikit curiga, aku mengikuti arah pandangan kedua cewek itu. Mereka berdua ternyata sedang melihat ke arah dari mana aku datang tadi, lebih tepatnya di tempat taemin berada. Taemin tak berpindah jauh dari tempat aku meninggalkannya tadi, dia masih berkutat dengan peralatan kecil-kecil itu.

“taemnie?” panggilku sedikit keras agar taemin bisa mendengarku. Taemin langsung menoleh padaku dan tersenyum. Kemudian dengan berlari kecil, dia menyusulku. Sebelum kami berpidah ke lorong sebelah, aku sempat melirik sekilas ke arah dua orang cewek tadi.

Enak saja mau foto-foto adikku!, gerutuku dalam hati.

Aku selalu bilang kalau adikku imut, adik terimut yang pernah ada. Tapi aku jarang sekali bilang, atau bahkan tak pernah bilang, kalau taemin cukup tampan. Secara keseluruhan memang bukan tipe-ku, tapi dia tampan. Matanya berkelopak, hidungnya mancung, bibirnya tebal dan berwarna pink, kalau dia sedang haus bibirnya akan berubah sedikit kemerahan. Dan dengan sekali lihat sekalipun, orang-orang pasti mengatakan kalau rambut taemin halus. Dan benar, rambutnya memang sangat halus. Bagiku taemin itu seperti malaikat, ditambah lagi dengan senyum polosnya. Bukan sekali-dua kali aku mencuri dengar perkataan orang-orang di sekeliling kami yang mengatakan kalau taemin tampan. Tapi taemin sangat tidak peka dengan masalah ini. Terhadap orang yang tak dikenal, dia termasuk orang yang cuek. Karena itu aku cukup merasa bangga dengan keadaan adikku yang seperti itu.

Kami terus berkeliling mart, sementara keranjang dorong sudah setengahnya terisi. Saatnya menuju lantai dua, tempat di mana makanan di jual.

Di bagian ini, taemin sangat bersemangat. Sering kali aku kembali mengeluarkan makanan-makanan yang dimasukkan taemin ke dalam keranjang karena makanan itu tidak ada di daftar belanja. Kalau sudah begitu, bibir taemin makin maju, tapi dia sudah bersemangat kembali di lorong berikutnya.

Semangat taemin mulai menurun saat kami hampir sampai di lorong paling ujung. Sepertinya dia kecapekan. Taemin menurut saja perkataanku kalau aku suruh dia mengambil sesuatu, tak banyak omong seperti biasanya.

“nuna, aku capek~” gerutu taemin setelah kami selesai dan membayar semua barang belanjaan di kasir.

“nado. Kita makan dulu di atas, baru pulang. Eottae?” tawarku. Taemin hanya mengangguk setuju.

Kami menitipkan tiga buah kantong plastik besar di tempat penitipan dan kemudian naik ke lantai atas. Di lantai paling atas gedung ini ada banyak restoran. Memang sedikit mahal dibandingkan restoran yang ada di pinggir jalan, tapi tidak ada salahnya sekali-sekali mengajak adikku ke tempat yang sedikit mewah.

Kami selesai makan kira-kira dua jam kemudian, dan saat kami keluar gedung, malam sudah tiba. Karena belanjaan kami cukup banyak, aku memilih menggunakan taksi untuk pulang. Setelah menghentikan salah satu taksi, meletakkan barang-barang di bagasi belakang, aku dan taemin masuk ke dalam taksi.

Taksi mulai melaju di jalanan. Lampu kota berlari berlawanan arah dengan kami. Sementara itu, GPS berbunyi hampir tiap lima menit sekali.

“nuna, aku kenyang~ aku ngantu—hooahm~” kata-kata taemin terpotong karena dia menguap lebar. Taemin kemudian tersenyum padaku dengan mata setengah tertutup.

Aku membalas senyumannya dan menepuk pundak kiriku.

“tidur sini.” Suruhku.

Tanpa tunggu lagi, taemin langsung merebahkan kepalanya di pundakku. Kedua tangannya meraih tangan kiriku dan memeluknya.

“hmm~ nyamannya~” ujar taemin sambil memperbaiki posisinya. Dia mencoba meluruskan kakinya yang panjang ke bawah kursi supir. “nuna, aku tidur, ya~” ujarnya lagi.

“jal ja~” jawabku pelan, mataku kembali memperhatikan lampu-lampu di luar.

“ppoppo.” bisik taemin kemudian.

Aku menoleh pada taemin, kepalanya yang disandarkannya ke pundakku didongakkannya ke atas, bibirnya juga sudah maju. Senyumku tak bisa kutahan saat melihat ekspresinya yang lucu itu.

Ccuk!

Aku mengecup bibir tebal itu sekilas dan kembali melihat keluar jendela. Namun tiba-tiba dua jari taemin menarik daguku dan memaksa kembali wajahku untuk menoleh ke arahnya.

Ccuk~~

Sebuah ppoppo yang cukup panjang. Aku sampai menutup mataku karena ppoppo yang ini cukup lama.

“kalau sudah sampai bangunkan aku ya, nuna.” pinta taemin setelah ppoppo panjang itu. Dia kembali merebahkan kepalanya di pundakku, sementara tangan kiriku masih dipeluknya dengan erat.

“hm,” gumamku pelan. Aku melihat keluar jendela taksi lagi sambil merapatkan bibir setelah ppoppo panjang yang hangat barusan.

Advertisements

8 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 137-140)

  1. Eheeeeeeem……
    Baru baca…
    Itu si taemin jadi ceritanya salah potong ya??
    Wkwkwk..
    Tapi percaya deh… Nunanya pasti paling suka taemin rambut itu.. Apalgi rambut taemin amigo *abaikan

    *bisik bisik ke taemin*
    Nuna mu itu pacaran sama Chen~, sudahlah mending Kau lepaskan saja nunamu. Kau sama aku saja. ♡(>̯┌┐<)♡

    • ohyeah rambut amigo.. ya ampuun.. kapan taeminie pake rambut model itu lagii.. Y^Y

      >tmin: chen bukan pacar nuna-ku! mereka baru pedekate–EH?? *baru nyadar* huweee nunaaaa~~~ *mewek*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s