FF/S/Nuna’s Diary (page 141-145)

= Nuna’s Diary =

Page: 141-145

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Cklek!

“Nunaa~”

Pandanganku ke televisi teralihkan karena suara serak Taemin. Aku memutar kepalaku dari balik sofa agar bisa melihatnya yang baru keluar dari kamar.

“Sudah bangun?” tanyaku basa-basi. Sekilas aku lirik jam dinding di sebelah pintu kamar mandi. Sudah jam sembilan lewat sepuluh.

“Eung,” jawab Taemin seadanya, matanya masih setengah tertutup. Sepertinya kesadarannya belum kembali sepenuhnya, “Aku lapar~ Mau masak ramyeon~” katanya lagi. Taemin mulai menyeret langkahnya ke arah dapur.

“Jangan pakai susu, Taeminie” ujarku mengingatkan. Kembali aku menatap layar televisi yang berjarak kurang lebih dua setengah meter di depanku. Terakhir kali Taemin mencoba membuat ramyeon, dia menambahkan susu ke dalamnya. Rasanya tak terkatakan.

DUGH!

“Aigoo~~~”

Aku langsung menoleh ke samping kiri begitu kudengar erangan Taemin. Saat kulihat, dia sedang mengelus-elus keningnya dengan tangan kanannya.

“Aigo~ Sakit, Nuna~ Huwee~~” rengeknya.

“Kau kenapa?” tanyaku. Sedikit geli juga melihat dia memukul kusen pintu dapur setelah itu.

“Kusen pintunya nakal padaku!” ujarnya masih sambil memukul kusen pintu itu.

“Hahaha! Kau yang tidak lihat jalan. Sini!” aku menyuruh Taemin agar mendekat kepadaku supaya aku bisa melihat keningnya.

“Sakit, Nuna~~” Taemin berjalan mendekat dengan masih mengelus keningnya.

“Cuma merah kok. Siapa suruh tidak lihat jalan, hehe”

“Ppoppo dong, Nuna, biar tidak sakit lagi~” pinta taemin setelah itu.

Ccuk!

Aku mencium kening Taemin sekilas. Taemin senyum-senyum setelah itu. Dan tanpa mengucapkan apapun lagi, dia kembali berjalan ke dapur.

Tak terlalu lama sampai suara Taemin terdengar lagi.

“Nuna~~ Ramyeon-nya Nuna taruh dimana~?” tanyanya dari arah dapur.

“Coba lihat di lemari di atas kompor” jawabku dengan suara sedikit keras.

“Tidak ada~” sahut Taemin.

“Lihat dulu~” kataku lagi sedikit acuh. Film yang sedang kutonton sedang seru-serunya.

“Tidak ada, Nuna~ Ini pintu lemarinya sudah terbuka lebar tapi ramyeon-nya tidak ada~~” seru Taemin lagi.

Aku tak menggubrisnya. Sebentar lagi bomnya akan meledak kalau pemeran utamanya tak segera memutus salah satu kabel.

DHUAARR!!!

Bomnya sudah meledak dan pemeran utamanya mati. Hehe, lucu juga film ini.

“NUNAAA~~~” kali ini Taemin berteriak.

Sekarang kalau aku tak ke dapur, Taemin yang akan meledak. Rengekannya, maksudku.

“Neee!!” aku segera beranjak dari sofa untuk menyusul taemin ke dapur. Taemin sedang mencari sesuatu di kulkas saat aku tiba di sana.

“Tidak ada, nuna~ Di kulkas juga tidak ada~” ujar taemin saat melihatku. Di tangannya sudah ada sebotol susu pisang yang sedotannya sudah ditancapkan.

Orang babo mana yang meletakkan ramyeon di kulkas?, batinku.

Aku melihat ke dalam lemari gantung di atas kompor. Taemin benar, ramyeon-nya tidak ada.

“Wah, berarti ramyeon-nya sudah habis.” Ujarku pada taemin. Dia hanya mengangguk-angguk dengan bibir di pangkal sedotan susunya. “Beli yuk?” ajakku.

“Ayo! Persediaan susuku juga sudah habis.” Taemin langsung bersemangat.

Sruuut~

Sisa susunya diselesaikannya dalam satu tegukan.

“Beli di mana?” tanyanya kemudian.

“Mini market di dekat sini saja. Aku malas pergi jauh-jauh.” Jawabku.

“Aku pasang jaket dulu ya, Nuna~” dengan berlari kecil, Taemin menuju kamarnya. Aku juga mengikutinya keluar dari dapur untuk mengambil jaket di kamarku.

“Nuna, ayo~~!” Taemin muncul dari balik pintu kamarku saat aku sedang mematut diri di cermin. Aku meliriknya lewat pantulan cermin. Taemin datang mendekatiku.

“Lipbalm ya, Nuna?” tanyanya polos sambil melihat aku yang sedang mengoles lipbalm di bibirku.

“Eung” jawabku singkat, “Kau tak pakai?” aku balik bertanya.

“Ani. Punyaku habis~” jawab taemin. entah kenapa aku bisa menangkap sedikit nada sedih dalam suaranya.

“Ya sudah, nanti kita beli yang baru. Sini, mana bibirmu.” Ujarku. Tangan kiriku sudah menyentuh dagunya sementara tangan kananku sudah siap dengan lipbalm.

Mata taemin langsung menyipit karena senyumnya yang tiba-tiba mengembang lebar.

“Mau kiseu aku ya, Nuna?” tanyanya.

Cengiranku tak bisa ditahan begitu mendengarnya.

“Kalau tak dioles lipbalm, nanti bibirmu kering. Cuaca sudah mulai dingin, aku tak mau melihat bibirmu pecah-pecah dan terlihat jelek.” Ujarku panjang lebar sambil mengoleskan lipbalm milikku di bibir tebal taemin. Mataku fokus pada bibirnya saja sampai akhirnya aku sadar Taemin sedang menatapku. Sesaat aku menelan ludahku. Taemin terlalu dekat.

“Apa?” ujarku memecah keheningan.

Taemin tersenyum kecil, ujung bibirnya hanya naik sedikit.

“Aku kangen nuna.” bisiknya pelan.

Wajahku entah kenapa memanas. Taemin yang makin hari makin dewasa akhir-akhir ini sering membuatku salah tingkah. Apalagi sekarang dengan jarak sedekat ini.

“Kau ini ada-ada saja.” ujarku mengalihkan, “Ayo pergi”

Tiba-tiba Taemin menarikku dalam pelukannya. Aku masih kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Tanganku berhenti di udara, tak tahu apa harus membalas pelukannya atau tidak. Dan satu yang aku khawatirkan, aku takut Taemin mendengar detak jantungku sekarang. Menyebalkan sekali rasanya kalau aku dibuat berdebar-debar oleh adik sendiri seperti ini.

Cukup lama Taemin memelukku. Pelukannya erat, tapi nyaman. Sampai akhirnya aku merasakan pelukan Taemin makin erat dan dia meletakkan kepalanya di pundakku, baru aku sadar ada yang tidak beres.

Akhirnya aku membalas pelukannya dan menepuk sedikit punggungnya.

“Kau kenapa?” tanyaku. Kali ini tanganku mengelus punggungnya dari balik jaket tebalnya.

“Aku mimpi buruk.” Jawab taemin pelan, “Buruk sekali. Sampai membuat aku sangat rindu pada Nuna seperti ini.”

Ternyata mimpi lagi…, ujarku dalam hati.

“Memangnya bagaimana mimpinya?” tanyaku sekedar basa-basi.

Taemin tiba-tiba melepaskan pelukannya dan wajahnya berubah imut.

“Ceritanya nanti saja ya, Nuna~ Aku sudah lapar sekali~ Ayo beli ramyeon~” alis taemin berkerut saat berkata seperti itu.

Aku mencubit pipinya pelan sambil tersenyum.

“Baiklah~ Ayo!”

***

Saat aku sibuk berkeliling mini market, aku kehilangan Taemin. Meski memakai kata ‘mini’, tapi mini market di dekat rumah kami ini cukup besar. Tapi tidak cukup besar juga untuk disebut super market. Hampir seperti super market tapi bukan super market. Ah, pokoknya begitu. Aku jadi susah menjelaskannya.

Aku mencari Taemin sampai rak paling ujung. Ternyata dia di sana, berdiri di depan pendingin besar. Salah satu tangannya menimang-nimang sebuah sosis yang ukurannya lumayan besar.

Aku mendekati Taemin.

“Di sini kau rupanya.” Kataku. Mataku melihat isi dalam pendingin di depan kami. Ada banyak sosis dan nugget berbagai macam bentuk di dalam sana.

“Se-aku” gumam Taemin pelan, tapi masih bisa kudengar.

“Apanya?” tanyaku tanpa menoleh. Mataku fokus pada sebungkus nugget, bingung mau membelinya atau tidak.

“Ini” jawab Taemin. Dia mengangkat sosis besar itu hingga sejajar dengan mataku. Aku bingung, tak mengerti maksudnya.

“Kau mau sosis?” tebakku.

Taemin tak langsung menjawab. Dia malah meletakkan sosis itu kembali ke pendingin.

“Tidak. Sudah punya.” Jawabnya sambil ngeloyor pergi.

“Masa?” tanyaku sembari sibuk memeriksa keranjang belanjaan. Sepertinya aku belum melihat Taemin memasukkan sosis ke dalam situ. Dan setelah kuperiksa memang tidak ada. Aku melihat punggung Taemin yang semakin menjauh, dia berjalan ke pendingin berisi es krim sekarang. Mungkin dia lupa kalau belum memasukkan sosisnya.

“Nuna, aku mau ini!” katanya kemudian sambil mengangkat seember es krim ukuran sedang.

Terkadang aku heran sekali dengan Taemin. Kalau sedang musim dingin, pasti dia ingin makan es krim. Tahun lalu saat aku ulang tahun juga begitu.

“Rasa apa?” kataku akhirnya. Mau tak mau aku harus maklum dengan keanehan adikku. Aku menghampirinya setelah mengambil sosis yang Taemin pegang tadi dan memasukkannya ke dalam keranjang.

“Aku bingung vanila atau cokelat. Nuna mau yang mana?” Taemin bertanya balik.

“Vanila saja.”

“Kenapa tidak cokelat saja?”

Anak ini benar-benar…

“Terus kenapa kau tanya aku mau rasa apa?? Ya sudah, cokelat!” ujarku sedikit ketus.

Taemin tampak berpikir sebentar.

“Vanila saja deh,” ujar taemin sambil memasukkan sekotak es krim vanila ke dalam keranjang. “Nuna beli ini??” suara Taemin sedikit meninggi saat dilihatnya sosis yang tadi aku ambil.

“Ne. Barangkali kau mau.” Jawabku enteng.

“Sudah dibilang aku sudah punya.” Sanggah Taemin.

“belum, kau belum memasukkannya ke keranjang. Lihat saja.” Aku mengangkat keranjang belanjaan sedikit  lebih tinggi.

Taemin tak merespon. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dan meninggalkanku lagi.

“Beli buah yuk, nuna” ajaknya sambil lalu. Aku mengikutinya dari belakang.

***

Jalanan komplek sepi saat aku dan Taemin menyusuri jalan pulang.

“Jadi bagaimana cerita mimpimu?” tanyaku mengingatkan Taemin. Dari samping, aku bisa melihat Taemin yang menghembuskan napas berat. Taemin menunduk, sementara tangannya semakin menggenggam erat tanganku.

“Aku mimpi nuna pergi.” Taemin memulai ceritanya, “Lamaaa sekali, sampai aku terbiasa dengan ketidak-adaan nuna. Nuna sibuk, aku tak tahu Nuna pergi ke mana. Tapi yang pasti, Nuna terlalu sibuk sampai-sampai nuna lupa hari ulang tahunku. Baru kali itu Nuna tak mengucapkan selamat ulang tahun padaku.”

Aku tak menyangka dengan bercerita seperti itu saja, airmata Taemin mengalir turun. Aku menghentikan langkah kakiku. Taemin masih menunduk, dia tak berani menatap wajahku. Tapi untunglah tinggiku jauh lebih pendek darinya. Jadi meskipun Taemin menunduk, aku masih bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Kenapa kau menangis?” aku mencoba menggoyangkan tangannya yang masih menggenggam tanganku. Taemin tak menggubrisku. “Taeminie?” panggilku lagi.

Akhirnya Taemin menatap mataku. Genangan airmata sudah membasahi pipi berisinya. Adikku menangis cuma gara-gara mimpi konyol. Baiklah, saat ini dia imut, imut sekali malah dengan potongan rambut barunya yang seperti itu. Tapi alasan menangisnya benar-benar tidak masuk akal.

“Aku tak mau kehilangan nuna. nuna pergi lama sekali. Aku tak suka sendirian.” Taemin menjawab dengan suara serak. Napasnya masih bisa dikontrolnya, tapi airmatanya tak bisa. Aku tak suka melihat airmata itu. Aku mencoba menghapus airmata itu dari wajah Taemin.

“Ya ampun, Taeminie. Cuma gara-gara mimpi kau jadi menangis seperti ini.”

Kejadian selanjutnya terjadi sangat cepat sampai aku tak sempat berkedip. Taemin menyambar tubuhku dan memelukku dengan erat. Erat sekali, sampai-sampai belanjaan yang aku pegang terjatuh ke jalan.

“Jangan bilang ‘cuma’. Aku tersiksa sekali di dalam mimpi itu, Nuna.” Taemin berujar di samping telingaku. Suaranya serak karena dia menangis.

Aku jadi merasa bersalah. Dengan gerakan pelan, aku membalas pelukannya.

“Mian.” Ujarku pelan.

Taemin masih memelukku. Entah berapa lama kami berpelukan. Aku menggigit bibir bawahku.

“Taeminie? Bagaimana kalau kita pulang? Aku kedinginan.” Aku menepuk punggungnya pelan dua kali saat berujar seperti itu.

Taemin tak membalas kata-kataku. Tapi dari gerakan dadanya di depanku aku bisa tahu dia mengambil napas panjang.

“Kiseu dulu.” Pintanya kemudian dengan masih memelukku.

Aku menelan ludah.

Jalanan memang sepi, tapi rada aneh kalau melakukannya di luar rumah seperti ini.

“Tidak ada orang kok, Nuna.” ujar Taemin lagi, seperti bisa membaca pikiranku.

Aku melepaskan pelukan Taemin dan melihat ke sekeliling. Ke samping kiri dan kanan, ke belakangku dan ke belakang taemin. Benar tidak ada orang.

Aku mendongak ke atas untuk melihat wajah Taemin. bibirnya sedikit cemberut sambil menungguku. Bagian bawah matanya masih basah karena airmata.

Aku menggigit bibir lagi sambil berpikir.

“Sini, sedikit menunduk.” Kataku akhirnya.

Taemin langsung tersenyum senang dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Bibir taemin dingin dan kering, sama seperti bibirku. Tapi setidaknya aku jadi merasa sedikit hangat melakukannya saat udara dingin begini.

Saat aku menarik kepalaku ke belakang untuk menyudahi ciuman, Taemin tak mau melepasnya. Dia malah mengikuti arah kepalaku.

Aduh, anak ini…

Plak!

Aku memukul pelan pipinya.

Taemin langsung melepas bibirnya dan terlihat sangat terkejut.

Aku memandangnya dengan sedikit marah.

“jangan macam-macam. Ayo pulang!”

Dengan gerakan cepat aku menyambar belanjaanku yang jatuh tadi dan dengan tangan satunya aku menyambar tangan taemin lalu aku berjalan cepat menuju rumah.

= = =

Advertisements

6 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 141-145)

  1. rasanya udah lama banget gadak postingan nuna’s diary lagi… eonni ke mana aj, siiih?? lama nunggunya, nih…

    oh, y, kl eonni bingung siapa aku, aku salsabila firdausyah, yg sering komen d note fb eonni… muali sekarang aku komen d sini aja, y… minta pw-pwny juga, y, eonn! keep writing!!

  2. woah…..akhirnya nuna’s diary is back back back back yowh#goyangAlaSherlock…..Daebakk,,hehehe rada ”gimana” gitu pas baca yg bagian ”sossis” huahahaha#yadong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s