FF/S/Nuna’s Diary (page 146-153) Special Nuna’s 20th Birthday

= Nuna’s Diary =

Page: 146-153

Cast:
– Nuna
– Taemin
Genre: Family, Incest

= = =
“nuna”
Taemin memanggilku malam itu. Kami baru saja selesai makan malam. Aku sedang mencuci piring saat taemin memanggilku dengan suara dalam seperti itu. Karena aku bisa menduga ada yang aneh dari suaranya, jadi aku menjadi sedikit antusias.
“wae?” tanyaku sambil menolehkan kepala ke belakang. Taemin masih duduk di tempatnya yang tadi. Dia tampak gelisah, memandangku dan kemudian menunduk seperti itu.
Aku mematikan keran, menaruh piring terakhir yang kucuci di rak piring, dan mengeringkan tanganku.
“ada apa?” tanyaku lembut sambil duduk di sebelahnya.
Sambil menunduk, taemin melirikku.
“mm.. nuna besok ulang tahun, ‘kan?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Apa lagi yang akan dimintanya tahun ini?, batinku.
“mm..” taemin bergumam lagi, sepertinya dia benar-benar bingung. “tadinya aku mau menemani nuna seharian, tapi…” taemin menggantung kata-katanya.
Aku tak mau memotongnya dan terus menunggunya sampai dia menyelesaikan kalimatnya sendiri.
Taemin melirikku sekali lagi.
“mianhae, nuna. Besok aku ada urusan. Mianhae aku tidak bisa main dengan nuna..” taemin akhirnya menyelesaikan kalimatnya dengan suara yang benar-benar pelan.
“oh…”
Suaraku pelan sekali. Aku merasa bodoh tidak bisa menyembunyikan rasa kecewaku.
“mianhae…” suara taemin bahkan lebih kecil dari suaraku dan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“gwaenchanha.” Aku berusaha kembali ceria, “urusannya jam berapa?” tanyaku pura-pura antusias.
“jam sembilan pagi,” jawab taemin masih dengan lesu, “mungkin aku baru bisa pulangnya malam, nuna” tambahnya.
“oh, geurae.” Kataku, “mau aku buatkan bekal?” tawarku.
Taemin mengangguk, tapi wajahnya masih belum ceria. Sepertinya dia benar-benar merasa bersalah.
“nuna jinjja gwaenchanha?” taemin bertanya lagi.
Aku mengangguk berkali-kali sambil tersenyum. Berusaha meyakinkan dia bahwa aku memang tidak apa-apa.
“tentu saja tidak apa-apa.” aku menarik senyumku agar lebih lebar, “mau tidur di kamarku malam ini?” tawarku.
Taemin langsung tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya cepat. Akhirnya wajahnya kembali ceria.
“baiklah. Ayo nonton dulu!”
Taemin mengikutiku berjalan ke ruang keluarga.
***
Aku terbangun dan hal yang kulihat pertama kali adalah wajah taemin. Dia tidur di kamarku malam ini.
Saat aku lihat jam dinding di kamarku, waktu sudah menunjukkan pukul 1.10 pagi. Sudah masuk hari ulang tahunku.
Dengan hati-hati aku turun dari tempat tidur dan menyeret langkahku ke kamar mandi.
Saat aku kembali, taemin masih tidur pada posisi yang sama. Aku naik kasur pelan-pelan, takut taemin terbangun gara-gara gerakanku.
Aku menarik selimut sampai bawah leherku dan menoleh ke kanan, melihat taemin yang tertidur nyenyak. Bibirnya sedikit berkedut.
Hihi, lucu.
Aku tersenyum sendiri. Karena terus melihat taemin yang sedang tidur begitu aku jadi ingin menciumnya.
Aku bergerak maju mendekati taemin dan menciumnya sekilas.
Ccuk!
“selamat ulang tahun, diriku. Hehe” aku nyengir lebar. Nuna macam apa aku ini yang mencium adiknya saat dia sedang tidur.
Tiba-tiba taemin memajukan bibirnya dan menggerak-gerakkannya. Hampir tawaku lepas, untung aku bisa menahannya. Sepertinya anak ini mimpi sedang kiseu. Hahaha. Ya ampun lucunya adikku ini.
Ccuk!
Aku menciumnya sekali lagi dan kembali tidur.
***
Paginya, aku menyiapkan sarapan dan bekal untuk taemin. Tadi dia masih tidur di sebelahku saat aku bangun.
Saat sedang asyik memotong sandwich untuk sarapan kami, tiba-tiba suara taemin terdengar dari belakangku.
“nuna”
Aku menoleh ke belakang dan melihat taemin yang sudah berdiri di belakangku. Aku memutar badanku agar berhadapan dengan taemin dan bersandar pada meja di belakangku. Aku tersenyum lebar padanya, menunggu ucapan selamat ulang tahun darinya.
“nuna, aku sudah gosok gigi.”
Aku tak sempat memikirkan kenapa dia mengatakan kalau dia sudah gosok gigi padaku. Taemin langsung merangkul pinggangku dan menciumku dalam-dalam.
Ccuuuuuuukkk~~~~~!!!
Oh, jadi ini maksudnya kenapa dia bilang sudah gosok gigi. Kalau belum, pasti aku marah dia kiseu aku seperti itu.
“selamat ulang tahun, nuna” katanya akhirnya dengan senyum lebar. Taemin menyodorkan sebuah kalung padaku. Masih dengan senyum yang mengembang, dia memasangkan kalung itu di leherku.
Aku tertegun. Baru kali ini taemin memberikan hadiah ulang tahun berupa perhiasan untukku. Aku memandang kalung yang kini sudah terpasang di leherku dengan takjub.
“gomawo~” aku memeluknya erat-erat.
“uung~~” taemin membalas pelukanku dan menggoyang-goyangkan badanku yang ada di dalam dekapannya.
“hahaha” aku melepas pelukannya dengan masih tersenyum lebar padanya. Taemin menggembungkan pipinya. Lucu sekali. Aku mencubit pipi berisinya.
“ayo makan!” ajakku.
Taemin ikut duduk di sebelahku. Sebelah tangannya mengambil sandwich yang sudah aku siapkan.
“nuna mau kemana hari ini?” tanya taemin setelah memasukkan satu suap sandwich ke dalam mulutnya.
“main dengan kai” jawabku asal.
“UHUK! UHUK!!” taemin tersedak. Aku langsung mengambil segelas air untuknya dan menepuk-nepuk punggungnya pelan selagi dia meminum air itu.
“hahahaha! Ya ampun, taeminie!” aku tak bisa menahan tawaku sementara taemin memandang sinis padaku, “aku cuma bercanda! Hahaha!”
Taemin memajukan mulutnya lagi dan menggigit suapan kedua dengan kesal. Matanya masih memandang sinis padaku.
“aku hari ini tidak main dengan kai, tapi dengan chen” ujarku iseng.
“OHOKK!!”
Kali ini tersedaknya lebih hebat dari yang tadi. Aku memberinya minum lagi. Tapi meski dia sudah minum, batuknya masih tidak hilang. Sementara mata taemin sudah berair karena batuk-batuk terus, aku malah tertawa terbahak-bahak. Jahat sekali aku ini.
“NUNAA!!” teriak taemin setelah bisa mengontrol batuknya.
“hahaha! Aku bercanda, aku bercanda.” Mataku ikut berair karena tertawa terlalu keras.
Taemin meletakkan sandwich-nya di piring dan memelukku erat.
“jangan kemana-mana~ di rumah saja~ nuna tidak boleh kemana-mana~ tunggu aku pulang~” pinta taemin dengan setengah merengek.
“ne, ne. arasseo” ujarku masih dengan tersenyum lebar. Lucunya taeminie merengek begitu.
“sebagai gantinya hari ini, besok aku akan menemani nuna seharian.” Ujar taemin sambil lalu. Dia mengambil sandwich-nya dan mulai makan lagi.
Aku terdiam.
Besok tidak bisa. Besok aku akan pergi sampai sebulan ke depan. Karena itulah aku merasa kecewa saat tahu taemin tak bisa bersamaku hari ini. Padahal aku kira aku bisa bermain dengannya seharian sebelum aku pergi. Taemin masih belum tahu ini. Dia tak boleh tahu sampai urusannya hari ini selesai. Aku tak mau mengganggu konsentrasinya.
“hmm” aku hanya bergumam pelan sebagai respon.
Taemin menoleh padaku dengan senyum mengembang. Aku membalas senyumnya.
Tiba-tiba taemin menyodorkan sandwich-nya padaku.
“nuna, aa~” taemin menyuruhku membuka mulutku.
Senyumku mengembang dua kali lebih lebar, kemudian aku menggigit sandwich itu
***
Aku berada di sebuah ruangan yang tak aku kenal. Ruangan ini terkesan sudah lama ditinggalkan, dindingnya berwarna abu-abu semen karena belum dicat. Ruangan ini berbau apek. Tidak ada perabotan apapun dalam ruangan ini, kecuali sebuah kursi kayu biasa yang berada di tengah ruangan. Taemin duduk di atas kursi kayu itu, matanya tertutup dan kedua tangannya terikat di belakang kursi. Dia memakai kemeja putih yang dua kancing paling atasnya terbuka, celana berbahan kain warna hitam, dan tidak beralas kaki. Kepalanya menunduk, terlihat sedang tidur. Aku hanya melihatnya dari tempat aku berdiri sekarang. Di belakangku adalah satu-satunya pintu yang ada di kamar ini. Sebuah jendela petak kecil berada sedikit jauh di depanku. Dari jendela, terlihat cahaya matahari yang mulai condong ke barat.Taemin duduk membelakangi jendela itu sehingga dia terlihat hampir seperti siluet.
Aku yang mengikat taemin, menutup matanya dan mendudukkannya di kursi itu. Akulah yang dengan sengaja membiusnya, dan meletakkannya di dalam ruangan kosong ini.
Suara langkahku bergema saat aku berjalan mendekati taemin yang berada di tengah ruangan. Saat aku hanya tinggal beberapa langkah lagi darinya, taemin terbangun. Aku berhenti untuk melihat bagaimana reaksinya.
Taemin menggeliat sebentar dan sedetik kemudian sadar dengan apa yang terjadi. Dia menggerakkan kepalanya ke kiri-kanan, atas-bawah, kemudian tangannya mulai bergerak-gerak, mencoba melepaskan diri. Cukup lama dia bergelut dengan dirinya sendiri sampai akhirnya dia menyerah. Napasnya tersengal-sengal dan aku bisa melihat tetesan keringatnya mengalir dari bawah dagunya dari tempat aku berdiri sekarang.
“apa-apaan ini?” taemin bertanya pada dirinya sendiri. Sekali lagi dia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi kemudian dia menyerah lagi.
Aku berjalan mendekati taemin. Suara langkahku memberitahunya bahwa dia tidak sendirian di ruangan ini.
“siapa itu?” tanya taemin.
Aku berhenti lagi, tepat satu langkah di depannya. Aku tak mau menjawabnya. Kalau taemin mendengar suaraku, pasti dia langsung tahu itu aku.
“siapa itu?? Aku di mana? Kau siapa??” taemin bertanya bertubi-tubi. Lagi-lagi dia menggerakkan tangannya. Seberapa kuatnya pun dia mencoba melepaskan diri, dia tak berhasil.
Aku membungkuk agar wajahku sejajar dengan wajahnya. Aku pandangi wajahnya dari dekat. Keringatnya mengalir di bagian samping wajahnya. Aku mengambil tisue dari dalam kantongku dan mencoba untuk menghapus keringat taemin. Saat sentuhan pertama mengenai wajahnya, taemin menghindar. Tentu saja, dengan mata tertutup semua orang pasti akan lebih waspada. Aku memegang dagunya agar dia tidak menghindar lagi dan mulai menghapus keringatnya dengan tisue-ku. Kali ini taemin tidak berontak, dia membiarkanku melakukan itu.
“kau siapa?” tanya taemin untuk ketiga kalinya. Suaranya tidak terlalu keras dibanding yang tadi.
Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya. Sebaliknya, aku malah berjalan menjauhinya.
“jawab aku!! Kau siapa?? Apa yang kau lakukan kepadaku??” taemin berteriak. Aku tetap tak menggubrisnya dan terus berjalan lurus ke arah pintu.

Cahaya di luar sudah mulai gelap saat aku kembali ke ruangan itu. Taemin masih berada di tengah ruangan, duduk di atas kursinya dengan tangan terikat dan mata tertutup. Hanya saja kursinya bergeser sedikit ke kanan dibandingkan dengan saat aku tinggal tadi. Mungkin saat aku pergi taemin mencoba melepaskan diri lagi.
“lepaskan aku” pinta taemin saat didengarnya aku masuk ke dalam ruangan.
Tidak, sampai besok pagi tidak akan aku lepaskan, batinku.
Aku berjalan mendekati taemin dengan nampan yang berisi makanan dan minuman di tanganku. Aku letakkan nampan itu dekat dengan kursinya, mengambil cola dengan sedotan dan menempelkan ujung sedotan itu di bibir taemin agar dia bisa meminumnya.
Taemin mengerti maksudku dan langsung meminum cola itu. Aku sedikit kecewa sebenarnya. Bagaimana kalau yang membius dia bukan aku dan orang itu malah memberikannya racun, bukan cola?
Taemin baru minum beberapa teguk saat aku mencabut sedotan itu dari bibirnya.
“aku haus!” protes taemin.
Aku tak menggubrisnya. Tentu saja dia haus, tapi dia juga pasti lapar. Dan makanan cepat saji yang aku beli ini akan dingin kalau tidak segera di makan.
Aku tersenyum kecil saat taemin mencium daging ayam yang aku sodorkan di depan bibirnya. Sesudah taemin mencium aroma daging itu, mulutnya terbuka lebar, minta disuapkan.
Aku mendengus karena menahan tawa. Kurasa penculik paling sangar manapun tak akan tahan dengan keimutan adikku ini.
Taemin makan dengan lahap. Sampai sekarang, aku berharap taemin masih belum bisa menebakku. Tadi taemin terlihat penasaran saat mendengar dengusanku. Mudah-mudahan dia tidak tahu.
Saat aku memberinya cola lagi, sebagian cola itu tumpah dan mengalir dari mulutnya sampai lehernya.
Aku kesal sendiri. Adikku ini minum dari sedotan saja tidak bisa.
“ck!”
Aku mengutuki diriku sendiri karena tidak bisa menahan decakanku barusan. Aku melirik taemin dan entah kenapa barusan sepertinya aku melihat dia tersenyum sekilas.
Lagi, aku mengambil tisue dan membersihkan tumpahan cola dari leher taemin. Saat aku membersihkan cola dari bagian kiri lehernya, taemin menelan ludahnya. Adam’s apple-nya naik kemudian turun lagi. Aku mencoba mengacuhkannya dan terus membersihkan aliran cola sampai dagunya. Taemin menelan ludahnya lagi.
“cium aku” bisiknya.
Kali ini aku yang menelan ludah. Gerakan tanganku berhenti. Aku langsung berdiri tegak, tidak lagi menunduk agar wajahku sejajar dengan wajahnya. Taemin menyadari pergerakanku dan mencondongkan badannya ke depan.
“cium aku!” suruhnya lagi. Dia memajukan bibirnya, mencari-cari di udara.
Aku menelan ludahku lagi. Mataku terpaku padanya.
“kumohon! Cium aku!” pinta taemin lagi.
Aku seperti tak punya pilihan lain selain mengangkat dagu taemin dengan tangan kiriku dan menciumnya. Aku hanya menempelkan bibirku ke bibirnya tapi ternyata taemin meminta lebih.
Saat ciuman itu selesai, aku menjauhi wajahnya dengan napas sedikit terengah-engah. Kami berciuman cukup lama. Kemeja putih taemin terlihat kusut dan aku mencoba merapikannya.
“nuna”
Jantungku memompa darah lebih cepat saat kudengar suara itu.
Dia tahu aku! Bagaimana ini? Dia tahu aku!
“aku tahu itu nuna. Nuna tak bisa bohong padaku. Aku tak mungkin salah merasakan bibir nuna.” taemin berkata seperti itu sambil tersenyum. Dia kemudian membasahkan bibirnya.
Aku mundur beberapa langkah.
Aku ketahuan!
Aku membalikkan badan dan berjalan cepat menuju pintu.
“nuna mau kemana??” taemin berseru lebih keras.
Cklek! BLAMM!
Pintu terbanting keras. Tapi tidak, aku tidak keluar. Aku hanya berpura-pura keluar. Aku melirik taemin yang terdiam di kursinya.
“nuna?” panggilnya lagi.
Aku tak menjawabnya, hanya melihatnya dari jauh.
Kepala taemin terkulai lemas di depannya. Dia menghembuskan napas panjang.

Sudah larut malam saat aku terbangun karena suara seretan kursi dari tengah ruangan. Aku mencoba duduk dan menyesuaikan mataku dengan kegelapan yang remang-remang. Cahaya hanya ada dari jendela kecil yang membiaskan sinar bulan. Hanya itu.
Taemin bergoyang-goyang di kursinya. Kedua kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan gerakan cepat. Aku bisa mendengar desisannya yang seperti ‘ssh’ dari sini.
Aku langsung berdiri, takut terjadi apa-apa dengan adikku. Aku kemudian berjalan mendekati taemin, lupa bahwa aku tadi berpura-pura sudah keluar.
Taemin tampak sedikit kaget karena mendengar suara sepatuku.
“nuna? nuna masih di sini??” tanya taemin tiba-tiba. Aku tidak menjawabnya, tapi sepertinya taemin juga tidak menunggu jawabanku, dia langsung berujar cepat setelahnya, “nuna, aku mau pipis, sudah tidak tahan lagi~”
Pipis! Ya ampun, aku lupa soal yang satu itu!
Aku mengutuk dalam hati karena melupakan hal penting begitu. Aku jadi panik sendiri.
“ti—tidak ada tempat—“ tanpa sadar aku mengeluarkan suaraku. Aku langsung menutup mulutku rapat-rapat.
“tempat cola tadi, nuna! palli!”
Masih dengan panik, aku mengambil gelas kertas cola kosong tadi. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa, mau memberikannya kepada taemin pun, tangannya terikat di belakang.
“i—ini.. bagaimana—“, aku bergumam bingung.
“buka saja celanaku, nuna! aku tidak peduli!”, bentak taemin.
Tanganku gemetar saat mencoba membuka tali pinggang taemin. Aku tak percaya aku melakukan ini. Salahku sendiri mengikatnya seperti ini.
Tanganku masih bergetar saat aku memasang tali pinggang taemin lagi. Jantungku berdegup kencang karena aku sudah benar-benar ketahuan. Aku tak punya pilihan lain selain membuka penutup matanya.
Taemin mengedip-ngedipkan matanya saat penutup matanya aku buka, mencoba menyesuaikan matanya dengan kegelapan ruangan.
Wajahnya mengadah ke atas, melihatku yang berdiri di depannya.
“APA-APAAN INI, NUNA??!” bentaknya keras. Aku menelan ludahku. Belum pernah aku melihatnya semarah ini.
Taemin masih melihatku dengan tajam sementara aku hanya bisa berdiri diam sambil melihatnya.
“cium aku!” suruh taemin lama setelah itu.
Lagi-lagi aku menurutinya. Aku mendekatinya dan mengecup bibir tebalnya. Taemin menyambutnya dengan gerakan di bibirnya.

Taemin berada di atasku. Dia sedang menciumku.
Sedetik kemudian aku baru sadar kalau yang tadi itu adalah mimpi. Dan kali ini taemin yang nyata menciumku selagi aku tidur.
Dan apa ini?? Jadi sekarang aku yang diserang??
Aku langsung melepas ciuman taemin dengan menolehkan kepalaku ke samping. Saat itulah taemin sadar kalau aku sudah bangun.
“kau ngapain?” tanyaku sambil duduk dan bersandar di kepala kasurku. Suaraku masih serak.
“mencium nuna” jawab taemin polos.
Aku masih mencoba mengumpulkan kesadaranku. Dari luar jendela tidak ada lagi cahaya matahari. Sepertinya aku ketiduran dari tadi sore.
Aku melihat taemin lagi. Dia duduk di pinggir kasur. Kakiku yang kuselonjorkan ke depan berada di antara dua tangannya. Penampilannya sedikit berubah.
“potong rambut?” tanyaku dengan mata masih menyipit.
“hm” taemin menjawab singkat. Dia sudah menutup matanya dan mencondongkan badannya ke depan untuk menciumku lagi. Bibirnya bergerak-gerak di seberang bibirku.
Ini tidak benar. Taemin terlihat makin dewasa dengan potongan rambutnya yang sekarang. Ditambah lagi dengan mimpiku barusan.
Aku mencoba melepaskannya, tapi taemin meraih wajahku lagi dengan lembut dan menciumku lagi.
“kenapa menciumku terus?” tanyaku setelah taemin melepas bibirnya.
“Cuma ingin saja.” jawab taemin singkat.
Kau kira aku apa??, rutukku dalam hari.
“sudah makan malam?” tanyaku lagi. Aku malas marah-marah hari ini.
Taemin mengangguk sebagai jawaban.
“aku membawa makanan untuk nuna.” Mata taemin terpaku di leherku. Dia meraba kalung hadiah darinya dan kemudian menciumku lagi.
“besok kita mau kemana?” tanya taemin setelah itu.
Aku mengambil napas panjang. Sepertinya aku harus memberitahu taemin sekarang.
“besok tidak bisa, aku mau pergi.” Aku memulai dengan perasaan khawatir. Apa taemin akan marah karena aku akan pergi?
“oh,” taemin terlihat sedikit kecewa, “kalau begitu besoknya lagi saja.” tawarnya.
Aku menggeleng.
“besoknya lagi aku masih belum pulang.” Ujarku dengan suara lemah.
Alis taemin langsung berkerut. Sepertinya dia mulai sadar kalau aku serius.
“nuna mau pergi berapa lama?” alisnya masih berkerut saat bertanya seperti itu. Taemin terlihat marah.
Aku menghembuskan napas panjang, ragu-ragu untuk menjawabnya.
“aku pergi sebulan” kataku akhirnya.
“ANDWAE!” suara taemin meninggi.
“aku harus pergi. Ada kewajiban yang harus aku jalankan.” Terangku. Aku tahu akan begini akhirnya. Pasti dia marah. Tapi aku memang harus pergi.
“masa nuna mau meninggalkanku sendirian??” protes taemin, “tidak boleh!!”
Aku meletakkan kedua tanganku di kedua belah pipi taemin. Matanya sudah berair. Sebentar lagi pasti airmatanya jatuh.
“kau harus mengerti. Aku benar-benar harus pergi.” Ujarku pelan. Aku tatap matanya dalam.
Taemin menutup matanya dan dua butir airmata jatuh dari masing-masing matanya.
Aku memeluknya dan membiarkannya menangis di pundakku.
“kenapa tidak bilang dari dulu kalau nuna mau pergi?” tanya taemin masih sambil menangis.
“aku tak mau mengganggu konsentrasimu” jawabku. Aku mengelus pelan rambutnya.
“nuna jahat padaku.” ujar taemin kemudian setelah membersitkan hidungnya.
“mian” aku hanya bisa berujar pelan.
Taemin melepas pelukannya.
“telpon aku tiap hari.” Suruh taemin sambil melihatku. Matanya merah karena menangis.
“tidak bisa tiap hari, aku akan sibuk selama sebulan itu,” ujarku, “tapi aku akan langsung menelponmu kalau aku ada waktu kosong.”
Airmata taemin jatuh lagi.
“kalau begitu sms aku tiap hari, nunaa~ huweee~” tangisnya pecah lagi. Aku memeluknya lagi. Aku tersenyum lebar meskipun airmataku juga sudah keluar.
Selama sebulan aku tak akan bisa melihat wajah imut ini. Mendengar suaranya pun pasti juga tidak akan sesering biasanya. Aku pasti sangat merindukannya.
“aku mau tidur dengan nuna malam ini, aku mau peluk nuna” kata taemin setelah tangisnya berhenti.
Aku mengangguk. Aku juga ingin peluk dia malam ini. Aku menghapus airmataku dan setelah itu menghapus airmata taemin dari pipinya.
“temani aku makan, yuk!” ajakku setelah itu. Taemin mengangguk. Dia menggenggam tanganku dan kami sama-sama berjalan keluar dari kamarku.
= = =

Advertisements

3 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 146-153) Special Nuna’s 20th Birthday

  1. huwaaaa…..

    gimanaaaa gitu rasanya waktu baca ini. pasti ini karna model rambut Tae yg baru itu kn?
    waktu baca kursi n penutup mata pikiranku lgsg jd perv gitu.*eonni meracuni pikiranku*

    lanjuuuut, eonn!!! pengen edisi yg lbh spesial lg, nih~~
    *maunya, hehe* ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s