FF/S/Nuna’s Diary (…-…) [Forgotten Pages]

= Nuna’s Diary =

Page: …-… (Forgotten Pages)

Cast:
– Nuna
– Taemin
– Chen
Genre: Family, Incest

= = =
Aku mengintip lewat pintu kamar.
Taemin tak ada di ruang keluarga. Bagus. Aku bisa keluar sekarang.
Dengan mengendap-endap aku keluar dari kamar. Namun, baru saja aku mencapai sofa, pintu kamar taemin yang berada di sisi kiri terbuka lebar.
“nuna mau kemana?” mata taemin menyipit menatapku. Satu tangannya masih memegang kenop pintu. Taemin memakai baju kaos merah dan kemeja kotak-kotak biru di luarnya.
Aku memperbaiki letak tali tas sampingku.
“mau keluar” jawabku sekenanya.
“kemana?” taemin bertanya lagi, wajahnya masih berkesan menginterogasiku.
“pergi.” Jawabku lagi.
“dengan siapa?”
Aduh…
“err.. teman?” aku menjawab ragu-ragu. Tak tahu harus menjawab apa kalau taemin bertanya siapa orangnya.
“teman yang mana?” tanya taemin lagi.
Nah, benar kan..
“memangnya kenapa sih, taeminie?” aku mencoba balik bertanya padanya.
Mata taemin makin menyipit melihatku. Bibirnya ikut mengerucut.
“chen, ya?” tebaknya
Glek!
Aku menghembuskan napas panjang, mulai menyerah dengan percakapan ini. Sekali lagi aku merapatkan tas sampingku ke tubuhku.
“memangnya kenapa kalau Chen?” tantangku. Wajahku sedikit kudongakkan untuk menambah kesan sombong. Benar-benar tak nyaman kalau punya adik yang jauh lebih tinggi dari diri sendiri begini.
Taemin tak menjawab, hanya saja bibirnya makin tipis gara-gara dikerucutkannya. Dia terlihat marah, anak kecil ini.
“aku ikut” ujarnya tiba-tiba setelah keheningan yang cukup lama. Mataku langsung terbelalak lebar mendengarnya.
“andwae!!” ujarku cepat.
“pokoknya ikut!” taemin bersikeras.
“tidak!” balasku.
“aku ikut.” Taemin langsung menutup pintu kamarnya dari luar.
“tidaak~~” aku segera berlari keluar secepat mungkin.
Jangan macam-macam anak ini. Masa dia mau ikut aku kencan??
BLAMM!!
Pintu depan menutup keras di belakangku. Aku langsung berlari menyusuri jalan. Awas saja kalau taemin mengikutiku.
Aku sudah hampir mencapai belokan gang saat aku dengar teriakan di belakangku.
“tunggu, nunaaa~~~!!!”
Aduh, dia benar-benar mengejarku…
Aku segera berbelok dan makin mempercepat laju lariku.
“nuna, tungg—AA!!”
Brugh!!
Aku langsung berhenti berlari. Suara apa itu barusan?? Taemin jatuh? Masa?
Tak mungkin aku tak memeriksanya, kalau benar taemin jatuh bagaimana?
Aku mengintip dari tembok tinggi yang berada di sudut jalan. Saat aku lihat, taemin sedang menepuk-nepuk bagian lutut celananya yang kotor, sementara sebelah tangannya menyentuh bibirnya. Taemin kemudian menjauhkan tangannya dari bibirnya. Dari jarak segini aku bisa melihat sesuatu berwarna merah terang di bibirnya. Sepertinya itu darah.
“taeminie?” aku berlari mendekatinya.
Saat aku mendekat, taemin menatapku dengan pandangan nanar. Benar ternyata bibirnya berdarah.
“nuna, sakiit~~ huwee~~~” taeminie mulai menangis. Airmatanya bercucuran ke pipinya.
“kenapa kau bisa jatuh? Aduh~~” aku segera mengambil tissue yang selalu ada di dalam tasku.
“sini menunduk sedikit, biar aku lihat.” Ujarku lagi.
Bibir sebelah dalam taemin mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“kenapa bisa begini, sih?” tanyaku gusar sambil terus menekankan tissue ke bagian bibirnya yang luka.
“tadi tergigit saat aku jatuh~” erangnya.
Jawabannya membuatku tersenyum. Dasar anak kecil.
“terus, kenapa kau bisa jatuh?” tanyaku lagi. Aku singkirkan sedikit pasir yang menempel di pipinya.
Tanpa menjawab, taemin melihat ke bawah. Aku mengikuti pandangannya. Ternyata tali sepatunya masih belum terikat.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan kemudian menunduk untuk mengikat tali sepatunya.
“kenapa tadi tak kau ikat?” tanyaku saat mengikat tali sepatunya.
“kalau aku ikat nanti nuna keburu meninggalkanku~” jawabnya pelan.
Aku menghembuskan napas panjang. Ternyata gara-gara aku dia jadi jatuh begini.
“kau benar mau ikut?” tanyaku lagi. Aku berdiri dan menatap dalam matanya. Taemin mengangguk dengan bibir memberengut. “tapi jangan bikin masalah, arachi?” tegasku. Taemin mengangguk lagi. “jangan manja padaku, jangan merengek, jangan melakukan hal yang tidak-tidak seperti yang kau lakukan saat jonghyun oppa datang ke rumah waktu itu.” Tambahku lagi.
Taemin menatap ke langit, terlihat sedang mengingat pada saat kapan jonghyun datang ke rumah. Tak lama kemudian dia menatapku lagi dan mengangguk.
“yaksok?” aku mengangkatjari kelingkingku.
“yaksok” taemin mengaitkan jari kelingking kami berdua.
“geurae, gaja” aku berjalan duluan. Namun, baru dua langkah aku berjalan, suara rengekan yang familiar terdengar dari belakang.
“nuna, pegang tanganku~”
Aku menoleh kebelakang. Taemin sedang menjulurkan tangannya ke depan. Wajahnya imut sekali dengan bekas air mata seperti itu.
Aku meraih tangannya dengan senyuman.
“nanti kalau sudah sama Chen lepas, ya~” ujarku lembut. Taemin tak merespon, dia hanya makin mendekatkan diri padaku.
***
Wajah Chen tampak bingung saat aku dan taemin berjalan mendekatinya. Aku nyengir padanya dengan perasaan bersalah. Chen masih tersenyum bingung padaku saat kami sudah berada di depannya.
“ini adikku taemin, taemin ini chen.” Tanpa basa-basi, aku langsung memperkenalkan mereka. Mereka berdua saling memberi salam.
“ceritanya panjang, tapi apa adikku boleh ikut kita hari ini?” ujarku memelas pada chen. Dalam hati, aku mulai gelisah, takut kalau chen marah padaku gara-gara hal ini.
Chen tertegun sebentar, namun sedetik kemudian dia sadar kembali.
“oh, geurae. Tentu saja boleh. Ya. Boleh.”
Aku tersenyum menatapnya, sepertinya kesadarannya belum kembali sepenuhnya.
“benar, tidak apa-apa? kalau tidak, biar dia aku suruh pulang.” Aku melirik taemin saat berkata seperti itu. Taemin langsung melihatku dengan pandangan tak suka, mulutnya memberengut. “hehe” aku nyengir melihatnya.
“tidak apa-apa, kok.” Ujar chen, dia melirik taemin yang memang sedikit lebih tinggi dari dirinya. “maaf, tapi kalian tidak mirip.” Tambah chen sambil tersenyum melihat kami berdua.
“banyak yang bilang begitu.” Jawabku cepat. Aku dan taemin berpandang-pandangan setelah itu. Kami sama-sama tidak suka jika ditanyai hal seperti ini sebenarnya, seperti membuka luka lama yang sudah sembuh.
“mau pergi sekarang?” ajak chen setelah hening sebentar.
“o—oh, baiklah” aku menarik bibirku agar bisa tersenyum.
***
Taemin menepati janjinya. Dia benar-benar tidak macam-macam saat kami pergi bertiga tadi. Taemin bahkan menawarkan dirinya untuk mengambil foto kami berdua di depan patung Raja Sejong tadi. Tapi aku tahu senyumnya tidak tulus selama sepanjang hari ini. Kadang-kadang dia tertangkap olehku sedang menatap chen lama-lama. Entah apa maksudnya. Sekali-dua kali chen juga sepertinya merasa dirinya sedang diperhatikan taemin, tapi setelah itu dia hanya tersenyum padaku seperti tidak terjadi apapun.
Kami sudah berada di depan rumah sekarang. Meski aku bersama taemin, tapi chen bersikeras ingin mengantar kami sampai depan rumah. Katanya dia mau menginap di rumah sepupunya yang kebetulan dekat dengan rumah kami.
“terima kasih sudah mengantar kami.” ujarku sopan, aku melihat taemin sebentar kemudian melihat chen lagi sambil tersenyum, “hari ini menyenangkan.”
“aku juga merasa begitu.” Bibir chen makin menipis karena senyumnya, “sampai jumpa.”
“jal ga.” Aku membalasnya.
Chen terlihat ragu saat membalikkan badannya. Dia sudah setengah berbalik, tetapi wajahnya masih dihadapkan padaku. Senyum tipis terukir di bibirnya. Tapi kemudian dia melihat taemin, mengangguk sedikit dan melambaikan tangannya padaku.
Aku melirik taemin. Matanya masih terpaku pada punggung chen yang semakin menjauh.
“chen!” sengaja aku keraskan suaraku agar dia mendengarnya. Chen berhenti di tempatnya dan membalikkan badannya.
“ne?” katanya sambil menaikkan alis dan sedikit tersenyum.
Aku berlari kecil mendekatinya dan mengecup pipinya sekilas.
“terima kasih hari ini.” bisikku.
Chen tampak terkejut, tapi sedetik kemudian senyumnya mengembang lebar.
“gomawo” katanya kemudian. Dia lalu membalikkan badan lagi dan kembali berjalan menjauh.
Aku menghembuskan napas panjang. Kini saatnya berhadapan dengan taemin. entah apa yang akan dilakukannya padaku setelah kejadian barusan.
Pelan-pelan aku membalikkan badanku. Taemin masih berdiri di tempatnya tadi, tapi tangannya terlipat dan matanya lurus menatapku.
Aku sedikit takut-takut saat mendekatinya. Sengaja aku tundukkan kepalaku dalam-dalam. Pandangan taemin sangat menusuk. Aku tak mau melihat matanya sekarang.
Aku berhenti satu langkah di depan kakinya, masih tak berani menatap wajahnya.
“chen sudah pergi ‘kan, nuna?” tanya taemin dengan berbisik.
Aku menelan ludah dan mengangguk singkat.
Terdengar dengusan napas panjang setelah itu.
“aku mau menggigit bibir nuna” ujar taemin tegas.
DEG.
Aku menutup mata dan menelan ludah lagi, masih menunduk.
Tiba-tiba taemin menarik pinggangku mendekat ke arahnya. Secara refleks aku melihat ke atas, ke wajahnya. Pandangan taemin masih menusuk. Dia menatapku lama sebelum akhirnya jari tangannya meraba bibirku.
“bibir nakal ini…”
Tidak ada kata-kata lagi setelah itu karena taemin sudah mendekatkan bibirnya ke bibirku. Dia benar-benar menggigit bibir bawahku. Dia menggigitnya dengan kuat, sampai aku mengeluarkan erangan karena sakitnya.
Aku memukul lengan taemin saat dia melepas gigitannya di bibirku.
“sakit! Aigoo~~” erangku sambil menutup mulutku. Bibir bawahku berasa kebas. Aku menutup mataku rapat-rapat sambil menunduk. Sepertinya aku akan menangis.
“siapa suruh nakal!” bela taemin terhadap dirinya sendiri, “kalau lain kali nuna begitu lagi, aku akan langsung mencium nuna di depan chen, membuka baju nuna dan—“
PLAKK!!
Kali ini aku memukul kepala taemin.
“apa yang ada di dalam kepalamu itu!!” bentakku.
Taemin hanya tertegun sebentar melihatku. Mulutnya sedikit terbuka karena kaget.
“nu-nuna menangis? Apa benar-benar sakit?” taemin bertanya takut-takut. Mungkin dia melihat genangan air mataku.
“kau kira aku bohong! Sini bibirmu biar aku gigit juga!” ujarku setengah berteriak pada taemin.
“eomo!” sebuah suara terdengar dari sebelah kiri kami. Aku langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata tetangga kami, seorang anak perempuan berumur belasan tahun. Kedua tangannya menutup mulutnya dan dia tampak benar-benar terkejut. Saat ketahuan sedang mendengar pembicaraan kami, dia cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya sambil menunduk.
Aku mengutuk dalam hati. Pasti dia mendengar kata-kataku barusan. Entah apa yang dia pikirkan tentang kami setelah ini. ‘sini bibirmu biar aku gigit juga’? ya ampun, aku bodoh sekali.
Taemin nyengir saat aku menoleh lagi padanya. Melihat senyumnya itu membuat bibir bawahku kebas kembali.
“ck!” aku mendecak keras dan menarik tangan taemin untuk masuk ke dalam rumah.
Taemin tergelak saat pintu rumah sudah tertutup.
“mau gigit bibir bawahku, nuna? nih!” taemin menggodaku, kemudian dia tergelak lagi.
“sudah, diam!” kataku sambil lalu. Aku segera berjalan cepat ke kulkas di dapur untuk mengambil es supaya aku bisa mengompreskannya ke bibirku. Masih dengan sedikit kesal, aku kembali berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sofa. Satu kantong plastik kecil es batu menempel erat di bibir bawahku. Rasanya bibirku tambah kebas.
“sini, nuna, biar aku bantu.” Taemin ikut duduk di sebelahku dan menyambar kantong es yang sedang aku pegang itu. Aku membiarkannya saja. Aku hitung perilakunya ini sebagai bentuk tanggung jawab.
“mianhae. Bibir nuna benar-benar jadi merah” ujar taemin pelan setelah beberapa lama menempelkan es-es itu di bibirku.
“eung.” Aku hanya bergumam pelan. Aku mencoba menggerak-gerakkan bibirku. Masih terasa sedikit kebas, tapi sepertinya sudah tidak apa-apa.
“benar-benar merah…”
Sebelum aku sadar apa yang sedang terjadi, taemin sudah lebih dulu menempelkan bibirnya lagi di bibirku. Kali ini dia tidak menggigit, tetapi menciumku.
Saat aku merasakan jemari taemin di kulit pinggangku, aku langsung mendorongnya kuat.
“whoaa—apa yang kau lakukan??” tanyaku dengan suara keras dan sedikit menjauhkan diri dari taemin.
Aku kaget taemin menyelipkan tangannya di balik bajuku seperti itu. Apalagi dia tadi sedikit meremas pinggangku. Kaget setengah mati.
Taemin hanya melihatku dengan mulut sedikit terbuka dan bibir basah seperti itu.
“aku tidak mau keduluan chen.” Ujarnya pelan.
Aku masih belum mengerti maksudnya apa.
“a-ap—maksudmu apa???” tanyaku.
“aku tidak mau keduluan chen!”
Sebelum taemin kembali menyerangku, aku sudah berlari menuju kamarku.
“aaaaa~~~~!!” ujarku sambil berlari.
“nuna, jangan lari~!!” taemin mengejarku.
“andwaaeee~~ jangan ikuti akuu~~!!”
BLAMM!! Cklek!
Saat aku masuk, aku langsung membanting pintu kamarku dan menguncinya. Dadaku berdegup kencang.
Tidak ada suara lain dari balik pintu. Aku menghembuskan napas lega dan menghempaskan tubuhku di kasur.
Apa maksudnya dengan ‘aku tidak mau keduluan chen’?? Anak itu benar-benar…
Selagi berpikir begitu, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Sms masuk.

Aku cuma bercanda, nuna hehe^^;;
Jangan takut begitu

Dari taemin.
Aku menatap isi sms itu lama-lama. Kemudian jariku menari-nari di atas layar.

Kau mengerikan.

Terkirim.
Tak sampai semenit kemudian handphone-ku bunyi lagi.

Mianhae, tadi juga aku gigit bibir nuna mianhae
Apa aku boleh masuk?

Dia meminta masuk ke kamarku setelah kejadian tadi. Enak saja. Entah apa yang akan dilakukannya nanti kalau aku mengizinkan.

Tidak.

Balasan taemin lebih cepat dari sms sebelumnya

Tapi kan belum ppoppo sebelum tidur 😦

Oh iya, aku lupa yang satu itu. Sambil tersenyum aku membalas sms taemin.

Ccuk!

Setelah terkirim pun aku masih tersenyum.
Balasan taemin sedikit lebih lama dari perkiraanku.

Ccuk!
Hehehehe ^////^
Aku sayang nuna. saranghae saranghae saranghae!
Jal ja! Ccuk!
Coba kalau nuna tadi membiarkan tanganku sedikit lebih ke atas… :p

Mataku melebar saat membaca bagian akhir sms.
“TAEMINIIIIEEEE!!!!!!!” aku berteriak keras. Suara gelak taemin terdengar dari luar.
= = =
Posted by Taemznuna

Advertisements

5 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (…-…) [Forgotten Pages]

  1. hahaha… sempet deg2an bacany. agak gimanaaaaa2 gt. kok kayaknya Taeminie makin nakal, y? mana sampai kelihatan tetangga lagi… waduuuh…. terus, tanganny! ah, adik eonni makin nakal aja, iiih……

  2. taemin,kamu nakal amat..sakit tau digigit! wkwk

    pas bagian akhir,nakal2 yadong tapi suka (?) ahahah :p
    bgus ff nya ^^

  3. “Aku tidak mau keduluan chen ”
    Ngakak waktu baca bagian ini.. si mimin ada2 aja. Eonni keep writing ya….

  4. “Aku tidak mau keduluan Chen”
    aigoo… si taemin ini ada2 aja yah….
    bisa2nya dia blg kaya gitu padahal kan emang di terus yang dapet duluan…
    chen kan cuma cipika cipiki eh dia sih dah dapet lebih… **ketewa setan sambil ngelirik Taemineui nuna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s