FF/S/Nuna’s Diary (page 154-160)

= Nuna’s Diary =

Page: 154-160

Cast:
– Nuna
– Taemin

Genre: Family, Incest

= = =
Jalanan di sekitar area rumahku sepi saat aku berjalan pulang sendirian sambil menarik koperku dengan tangan kiri sementara sebelah tanganku yang lain menjinjing tas tanganku. Aku merapatkan coat panjangku untuk melawan hawa dingin. Musim dingin masih belum berakhir.
Saat sampai di stasiun tadi, aku sengaja tidak memilih naik taksi untuk pulang ke rumah. Memakan waktu tak sampai sepuluh menit jika berjalan dari halte bis terdekat ke rumahku, makanya itu aku lebih memilih naik bis. Lagipula kalau naik taksi, suara mesinnya akan membuatku ketahuan kalau sudah pulang oleh taemin. Aku ‘kan mau mengejutkannya, hihi.
Omong-omong taemin, aku jadi ingat pembicaraan kami di telpon kemarin.
“nuna kapan pulang? Besok sudah sebulan~” kata taemin kemarin saat aku menelponnya. Nada sedih bisa aku tangkap dari suaranya. Aku tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaannya.
“besok aku pulang” kataku.
“JINCA?????” suara taemin yang naik tiga oktaf memekakkan telingaku. Spontan aku menjauhkan handphone dari telinga kiriku.
“jangan berteriak begitu! Telingaku jadi sakit!” gerutuku.
“jinca nuna besok pulang?? Jinca??? Hahaha!” taemin sepertinya tak memedulikan telingaku yang sakit. Dia malah tertawa bahagia begitu. Tapi meski telingaku sakit, mendengar tawa riangnya itu memaksa diriku untuk tersenyum. “besok nuna pulang naik apa? kereta lagi? aku jemput, ya?” kata taemin kemudian menawarkan diri dengan antusias.
“andwae! Kau tak boleh menjemputku!” tolakku tegas.
“Waeyo~~” nada taemin berubah sedih lagi. Aku menghembuskan napas berat.
“pokoknya tidak boleh. Kau tunggu saja aku di rumah, arachi?” ujarku lagi.
Tak ada respon dari taemin. Dia diam saja.
“taeminie~?” aku memanggilnya lagi, setengah memaksa agar dia mendengar kata-kataku.
“tapi kenapa tidak boleh~?” tanya taemin lagi dengan suara pelan.
“aku cuma ingin pulang sendiri saja. Besok kau jangan kemana-mana ya, tunggu aku di rumah. Kau mengerti, taeminie?” ujarku lagi memastikan.
“eung,” suara taemin masih lemah, “ppoppo dulu” tambahnya.
“ccuk!” aku mengabulkan permintaannya.
“hehehe~” tawa kecilnya terdengar dari ujung telpon. Aku bisa membayangkan dia nyengir lebar di sana.
“kau tak mau ppoppo aku juga?” pancingku iseng.
“mm..” taemin bergumam sebentar, “aku mau ppoppo tapi nuna ppoppo juga. Di hitungan ketiga ya, nuna. Hana.. Dul.. Set!”
“ccu~uk”
“ccu~~~~uk!!”
Kami ppoppo dalam waktu yang bersamaan, tapi ppoppo taemin lebih panjang dari punyaku. Aku langsung tergelak. Begitu juga taemin di ujung sana.
“wah, nuna! Kita kiseu di telpon! Hahaha!” ujarnya sambil tertawa. Perutku juga jadi geli. Kadang-kadang taemin memang aneh. Aku juga sih.
“hahaha! Sampai jumpa besok, taeminie~” ujarku memutus pembicaraan.
“eung! Sampai jumpa besok, nuna! ccuk!”
“ccuk!”
“ccu~~uk! Ccuk ccuk ccuk ccuk ccuk!!”
Taemin ppoppo bertubi-tubi di telpon begitu terdengar lucu sekali.
“sudah ah, taeminie. Hahahaha!”
“ccuk! tunggu saja besok, nuna. Aku akan melanjutkan ppoppo yang ini. ccu~uk!” ancam taemin.
“haha. aku matikan, ya” ujarku akhirnya. Kalau dibiarkan, kami akan begini terus sampai dua jam ke depan.
“ne! ccuk~!”
“ccuk!”
Aku tersenyum lagi mengingat kata-kata taemin kemarin. Sekarang aku sudah berdiri di depan pintu rumah. Kurang dari lima menit lagi aku sudah bisa melihat wajahnya.
Aku merogoh handphone yang ada di tas tanganku dan menghubungi taemin. Hanya sekali terdengar nada sambung sebelum taemin mengangkat telponnya. Aku membayangkan dia seharian menunggu telpon dariku. Bayangan ini membuatku tersenyum sendiri.
“yeoboseyo? Nuna?” ujarnya dari ujung telpon.
“taeminie, kau di rumah?” tanyaku.
“ne. nuna di mana?” tanya taemin tak sabar.
Aku tersenyum kecil.
“aku di depan.” Jawabku singkat.
Telpon langsung terputus setelah itu, digantikan oleh suara derap kaki yang semakin terdengar jelas dari balik pintu di depanku. Sambil tersenyum aku masukkan lagi handphone-ku ke dalam tas.
Dua detik kemudian pintu depan terbuka lebar dan memperlihatkan taemin yang berdiri di baliknya.
“annyeong” sapaku sambil tersenyum padanya.
“nuna!!”
Taemin langsung menghambur memelukku. Satu yang aku sadari, dia tidak main-main saat bilang akan langsung menciumku saat kami pertama kali bertemu. Dia benar-benar langsung menyambar bibirku. Taemin benar-benar memelukku dengan erat sampai badanku terangkat ke atas. Maklum, aku jauh lebih pendek darinya. Aku hanya berharap tidak ada tetangga yang melihat kami saat keadaan kami seperti ini.
“nuna, aku rindu, aku rindu, aku rindu!” kata taemin setelah dia melepas bibirnya dari bibirku. Kedua tangannya berada di kedua belah pipiku dan wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Setelah dia berkata seperti itu, dia menciumku lagi. Tapi tidak lama seperti yang tadi.
“ne, ne, aku tahu. Sekarang biarkan aku masuk.” Kataku akhirnya setelah mencoba melepaskan diri dari taemin.
“hehe. Deureogaja, nuna! Nuna pasti kedinginan.” Kata taemin sambil menyambar tanganku dan menarik koperku dengan tangannya yang lain.
Kedinginan apanya. Sudah panas gara-gara bibirmu, gerutuku dalam hati.
Kami masuk ke dalam rumah yang jauh lebih hangat daripada di luar. Taemin membantu melepas coat-ku.
“nuna capek?” tanya taemin kemudian.
“eung,” gumamku pelan. Leher dan pinggangku memang sedikit sakit. Beberapa jam di perjalanan cukup menguras tenagaku.
“mau istirahat di kamar?” tanya taemin lagi.
“eung” aku tersenyum padanya.
“biar aku antar”
Aku setengah sadar saat taemin tiba-tiba menggendongku dengan bridal style.
“taeminie! Ya ampun—taeminie! Turunkan aku!” aku meronta-ronta di dalam pelukannya. Aku tahu taemin laki-laki dan dia kuat, tapi tidak begini juga caranya.
“tenang saja, nuna. sudah lama aku ingin melakukan ini.”
Taemin tak menggubris penolakanku dan berjalan santai menuju kamarku. Aku tak bisa berbuat apapun kecuali memeluk lehernya. Namun sebenarnya aku benar-benar merasa tak nyaman.
Aku tak sempat mengontrol napasku saat taemin menaruhku dengan lembut di kasurku karena taemin lagi-lagi menyambar bibirku.
“nuna, aku benar-benar rindu~ jeongmal bogoshipta~” kata taemin setelah kecupan lembut itu. Dia memelukku lagi saat kami dalam keadaan duduk.
“mianhae sudah meninggalkanmu.” Ujarku meminta maaf.
Taemin mengangguk dalam pelukanku.
“jangan pergi-pergi lagi, nuna~” erangnya.
Aku hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya yang sudah mulai panjang dibanding saat aku tinggalkan sebulan lalu.
“kau benar-benar kesepian, ya?” tanyaku sambi melepas pelukannya. Aku ingin melihat wajahnya puas-puas sekarang.
Taemin mengangguk dengan bibir memberengut. Imut sekali.
“ppoppo~” pintanya.
Sudah berapa kali ppoppo coba dari tadi, pikirku dalam hati.
Ccuk!
Aku mengecup bibirnya sekilas.
“uung~ lagi~~” rengek taemin.
“memangnya mau berapa kali?” tanyaku padanya.
“hitung saja sudah berapa malam nuna tidak ppoppo aku sebelum tidur. Hutang nuna padaku sudah banyak.” Jelas taemin masih dengan bibir memberengut. Ternyata meski sudah berapa lama pun aku tinggal dengannya, pemikiran taemin masih belum bisa aku tebak. Tapi pemikirannya juga ada benarnya.
Aku melihat bibir taemin yang tebalnya masih sama dengan saat aku meninggalkannya. Tentu saja sama, memangnya aku berharap bibirnya berubah seperti apa?
Aku tersenyum sendiri. Kalau aku ikut arus pemikiran taeminie, memang benar hutangku padanya sudah banyak.
“sini lidahmu” ujarku setengah sadar. Dan aku memang bodoh sekali berujar seperti itu. Tak perlu aku jelaskan bagaimana, yang pasti taemin menciumku lama sekali. Bibirku sampai kebas. Beberapa kali aku harus menahan tangannya agar tidak kemana-mana.
“sudah?” tanyaku setelah kami selesai. Taemin nyengir. Kedua tangannya masih aku pegangi.
“hihi, sudah. Bibirku kebas, nuna” kata taemin jujur masih dengan senyum terkembang.
“nado,” balasku, “sekarang aku boleh istirahat?” tanyaku lagi.
“tentu saja! nuna istirahat yang cukup siang ini, nanti malam kita jalan-jalan, ya!” kata taemin kemudian.
“hah? Kau mau kemana?” tanyaku heran.
“aku ketemu tempat bagus. Kai yang memberi tahu. Nanti nuna aku ajak kesitu. Sekarang nuna tidur dulu~” taemin membaringkan badanku dan menyelimutiku sampai ke leher.
“mau pergi dengan kai juga?” tanyaku bingung.
“ani!! Tentu saja tidak!” jawab taemin cepat, “kita berdua saja, nuna~”
“oh, oke” kataku setengah paham.
“jal ja, nuna! ccuk!” taemin mencium keningku.
“kau mau kemana?” tanyaku saat taemin beranjak. Rasanya aku masih rindu padanya.
“molla. Nuna mau aku berada di mana?” taemin malah bertanya balik.
“kalau kau bilang nanti malam kita pergi, berarti kau juga harus istirahat. Sini, tidur di sebelahku.” Ajakku.
“tapi aku peluk nuna, ya?” tawar taemin dengan muka isengnya.
“terserah” ujarku tak peduli.
“yey~!” taemin langsung menghempaskan tubuhnya di sebelahku, menarik selimut dan langsung memelukku. Kami tidur berhadapan, tapi tak terlalu dekat. “ppoppo sebelum tidur?” pinta taemin kemudian.
“tidak. Ini bukan malam hari.” Tolakku.
Ccuk!
Tiba-tiba taemin menciumku.
“aku tak peduli. Jal ja, nuna!”
Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali tersenyum dan mencoba menutup mataku.
***
Malamnya, taemin ternyata mengajakku ke salah satu café kopi di tengah kota. Taemin bilang selama aku pergi, dia sering pergi ke café kopi itu bersama kai. kadang-kadang dia juga pergi sendirian, katanya. Makanya dia sangat ingin mengajakku ke sana.
“biar nuna tahu di mana aku selalu menghabiskan waktu saat nuna pergi.” Jelasnya lagi saat aku tanya lebih lanjut.
Tidak kurang selama empat jam kami berada di café itu. Kami banyak bercerita mengenai apa yang dilakukan masing-masing selama sebulan. Sudah hampir jam sebelas saat taemin mengajakku ke tempat yang lain.
“memangnya mau kemana lagi?” tanyaku heran. Aku merapatkan jaketku ke badanku. Malam dingin begini si kecil ini malah mengajakku pergi entah kemana.
“ke tepi sungai Han.” Jelas taemin singkat. Dia menarik capuchon jaket bulu-ku ke atas kepalaku sehingga kepalaku tertutup.
“mau apa kau kesana malam-malam??” tanyaku lagi setengah protes, “di sana kan dingin sekali kalau malam, taeminie~” kali ini aku setengah merengek.
Taemin malah tersenyum mendengar kata-kataku. Tulus sekali senyumnya. Tampan.
“akan hangat kalau bersamaku,” ujarnya lembut padaku, “lagipula selama nuna tak ada aku juga selalu kesitu kok habis minum kopi. Nanti kalau nuna kedinginan, aku yang akan menghangatkan nuna. Gaja!”
Taemin langsung menarik tangan kiriku setelah berbicara seperti itu. Aku tak bisa melakukan hal lain selain mengikutinya.
“untuk apa kau ke sana malam-malam sendirian, taeminie? Kenapa tidak langsung pulang?” tanyaku bermenit-menit kemudian. Aku sedikit khawatir membayangkan taemin duduk sendirian di tepi sungai Han. Untung sampai sekarang dia tidak kenapa-kenapa.
“aku malas pulang. Habis minum kopi kantukku hilang. Lagipula kalau aku pulang juga tidak ada nuna di rumah. jadi aku pergi saja kesana sambil membayangkan nuna duduk di sebelahku.” Jelas taemin panjang. Langkahnya kemudian berhenti untuk berdiri berhadapan denganku, “dan hari ini bayanganku itu bisa terwujud, nuna. Hihi”
Bibirku otomatis tertarik ke belakang mendengarnya. Aku luluh dengan kata-katanya. Tulus, polos dan jujur. Ternyata adikku memang tidak berubah. Meski sekarang dia terlihat jauh lebih dewasa, tapi ternyata di dalam dia tidak berubah.
“panggil aku ‘nyunya’ dong, taeminie?” pintaku. Entah kenapa tiba-tiba aku merindukan taemin yang sering melakukan aegyo padaku.
Selama dua detik taemin terlihat bingung.
“nuna” katanya kemudian.
“bukan ‘nuna’, tapi ‘nyunya’. Ayo coba panggil!” ulangku lagi.
“nu~na” taemin malah mempermainkanku. Dia memajukan mulutnya pada suku kata ‘nu’ dan membuka mulutnya lebar-lebar pada suku kata ‘na’.
“taeminie~!” ujarku manja. Ahaha. Jarang-jarang aku manja padanya. Tapi ternyata seru juga.
“kalau aku lakukan, nuna mau kasih aku apa?” pancingnya.
“kau mau apa?” aku malah memancing balik.
Sepertinya kebiasaanku memancingnya di telpon belum hilang. Dan kebiasaan ini malah merugikanku sekarang.
Taemin langsung mengetuk-ketukkan jari telunjuknya di bibirnya. Matanya disipitkannya, tampak sedang berpikir. Tapi wajahnya terlihat nakal sekali.
“kalau kiseu sudah biasa…” gumam taemin lebih kepada dirinya sendiri. Ekspresi nakalnya masih belum hilang.
Aku jadi ngeri sendiri. Ternyata benar kebiasaanku selama di telpon itu sekarang harus dihilangkan.
“aku akan memberimu ppoppo” tawarku cepat.
Aduh! Ppoppo juga pasti sudah biasa…, sesalku dalam hati.
“ppoppo-nya di mana? Kalau di bibir sudah biasa~” taemin terlihat meremehkanku.
Alisku berkerut bingung.
“jadi mau ppoppo di mana?” tanyaku.
Ekspresi taemin berubah nakal lagi.
“di……..” taemin memutus kata-katanya, “ehehehehehehehehe~~~” kemudian dia senyum lebar. Matanya menyipit dan tiba-tiba pipinya memerah, “aa~ malu~!!” taemin kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Demi apapun, adikku imuuuuuuttt~~~!!!!!!
Setengah malu, setengah geli, aku memukul lengan taemin dengan pelan.
“apa sih kau, taeminie!” ujarku pura-pura marah. Tapi tetap saja aku tak bisa menahan senyumku.
“hihihihi~” taemin masih melanjutkan cengirannya, “ya sudah, kiseu saja. nanti di sungai Han dekat orang-orang ramai. Ya, nyunya~?”
Taemin mengabulkan permintaanku dengan menambahkan ‘nyunya’ di akhir kalimatnya.
“sekali lagi” suruhku.
“apanya? Kiseu-nya?” taemin terlihat bingung.
Benar-benar pikiran adikku ini…
“ani! Bilang ‘nyunya’-nya”
“nyunya”
“lagi”
“nyu~nya”
“lagi, hihi”
“dengan yang ini empat kali loh kiseu-nya, nyunyaa~~” taemin menutup matanya pada kata ‘nyunya’.
Ccuk! Ccuk! Ccuk!
Tiga kali aku mengecup bibir taemin dengan cepat.
“yang keempat nanti di dekat orang ramai” ujarku.
Taemin langsung memberengut.
“nuna curaaaang~!!” katanya.
“hehe, gaja!” tanpa mempedulikan rengekannya, aku menarik tangannya.
***
Aku benar. Udara benar-benar dingin saat kami sampai di tepi sungai Han. Bahkan napas dari hidung yang aku hembuskan pun beruap sekarang.
“Taeminie~ dingin~ ayo pulang~” aku mencoba menahan dingin dengan menyilangkan tanganku di depan dada, tapi sepertinya tak ada bedanya. Malam-malam berada di sungai Han pada musim dingin memang bukan ide bagus. Aku tak bisa membayangkan taemin sendirian berada di sini malam-malam sebelum ini.
Taemin tersenyum iba padaku. Namun tiba-tiba dia melepas pegangan tangannya padaku dan menyelipkan tanganku di balik punggung jaketnya, tepat di belakang pinggangnya.
“Nuna peluk aku saja ya, biar hangat. Nanti kalau kita sudah duduk, aku akan lebih menghangatkan nuna lagi” kata taemin.
Duduk?? Berarti kami akan lama di sini? Ya ampun, aku benar-benar kedinginan~, erangku dalam hati.
Aku menahan gigiku sekuat tenaga agar tidak bergemeletukan sambil mengimbangi langkah taemin. Aku memang ingin pulang, tapi aku juga tak mau memupuskan harapan taemin untuk berada di sungai Han bersamaku malam ini. Mungkin aku akan demam, tapi sudahlah. Derita besok akan aku hadapi besok, yang penting aku bisa melihat senyum adikku malam ini.
“Di sini, nuna” kata taemin di depan sebuah bangku tanpa sandaran yang berada di dekat jembatan. “Ayo duduk” kata taemin lagi.
Aku menurutinya dengan sebelumnya melepas plukanku di pinggangnya. Taemin ikut duduk di sebelahku. Tangan kirinya memeluk pundakku, memaksaku untuk duduk lebih dekat dengannya.
Aku menyandarkan kepalaku di pundak taemin. Meski dingin tapi ternyata cukup nyaman duduk di sini bersamanya.
Mataku menerawang melihat pantulan lampu jembatan di permukaan sungai, dan entah mengapa aku jadi mengantuk. Tapi kepalaku yang mulai berdenyut keras tak membiarkanku tertidur.
“Terrnyata benar, duduk berdua dengan nuna lebih hangat.” Celetuk taemin tiba-tiba. dia kemudian melingkarkan tangannya di depanku dan memelukku lebih erat lagi, “Uung~ nuna~”
Aku tersenyum lemah. Kepalaku jadi makin berat. Sepertinya benar aku akan sakit.
“Aku susah membayangkan bagaimana kau bertahan berada sendirian di sini,” ujarku setengah sadar, “biasanya berapa lama kau berada di sini, taeminie?”
“Mm.. paling lama waktu itu hampir dua jam” jawab taemin jujur.
Mwoooo??? , teriakku dalam hati. Hanya dalam hati, kepalaku makin sakit dan badanku lemas. akhirnya, aku hanya bisa mencubit pipi kiri taemin.
“Kau nakal, taeminie~” ujarku sambil mencubit pipinya. Sepertinya suaraku kecil sekali.
Taemin kemudian menatap mataku dengan senyum di bibirnya.
“Tangan nuna dingin sekali,” katanya sambil menggamit tanganku yang mencubitnya, “aku hangatkan, ya?”
Aku hanya pasrah saat taemin mendekatkan wajahnya. Dibandingkan suhu malam ini, bibir taemin terasa hangat. Dia tidak bohong tadi saat mengatakan akan menghangatkanku.
Mataku terbuka perlahan setelah taemin menyudahi ciuman hangatnya. Taemin hanya diam melihatku. Bibirnya terlihat kering. Aku ingin membasahi bibir tebal itu. Aku mendekat padanya sekali lagi.
Ccuk!
Taemin tak mengizinkan aku menciumnya. Dia hanya mengecupku singkat.
“Badan nuna hangat. Ayo pulang.” Katanya tiba-tiba. Lagi, dipasangkannya tudung jaketku menutupi kepalaku.
Aku tak mau beranjak saat taemin sudah berdiri sambil memegangi tanganku. Mataku masih terpaku pada bibirnya.
“Sekali saja,” pintaku, “sekali lagi saja”
Bibirnya hangat. Aku hanya menginginkan itu.
Taemin tak menunggu waktu lama. Dengan sedikit membungkuk, dia menciumku lagi.
“Sudah, nuna. Ayo pulang.” Ujar taemin setelah itu.
Aku berdiri dan mulai berjalan di sebelahnya. Aku kesusahan mengimbangi langkahnya yang besar-besar.
“Taeminie, jangan cepat-cepat..” erangku lemah. Kakiku sudah lemas sekali. Sepertinya aku terkena demam parah.
Taemin berhenti. Dia melihatku sebentar dan kemudian membungkukkan badannya di depanku.
“Naik, nuna” suruhnya sambil menyodorkan punggungnya.
Aku tak bisa berbuat apapun selain menurutinya. Kalau aku paksakan terus berjalan, mungkin aku akan pingsan.
“Hari ini mau berapa kali kau menggendongku?” Tanyaku mencoba bercanda saat taemin membenarkan posisiku di punggungnya dan mulai berjalan.
“Tidurlah, nuna. saat nuna bangun kita sudah akan ada di rumah.” Kata taemin. Saat berada di punggungnya begini aku baru sadar dari tadi nada suara taemin serius. Aku tak meresponnya. Kesadaranku perlahan menghilang. Yang aku ingat hanya taemin yang berulang-ulang berujar “mianhae” sebelum aku jatuh tertidur.
= = =
Posted by Taemznuna
Made by Taemznuna

Advertisements

4 thoughts on “FF/S/Nuna’s Diary (page 154-160)

  1. omoo… eonni akhirnya aku bisa komen juga…
    setelah beberapa hari cuma bisa baca lewat hp akhirnya punya kesempatan juga
    buat ol pake pc….
    eon,, ff ini bener2 bikin aku gila!!! yah emang sih aku baru nemu sekarang… tapi cukup satu cerita aja udah bikin aku keranjingan. aigo…. eonni kok taemin tambah yadong aja nih??? hahaha…. itu kemauannya taemin apa nunanya?? (kedipkedipgeje) pokoknya eon, keep writing aja dah… selese tes tes PT yang melelahkan itu kerasa refreshing ke surga gara2 baca nih ff

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s