FF/S/Nuna’s Diary (page 163-168) Special Taemin’s 20th birthday

= Nuna’s Diary =

page: 161-162 (special Taemin’s 20th birthday)
Cast:
– Nuna
– Taemin

Genre: Family, Incest

= = =
Pintu depan tertutup di belakangku.
“aku pulang~” ujarku lemah sambil melepaskan sepatu. Taemin sedang duduk di atas sofa, sedang melakukan sesuatu dengan handphone-nya—entah sedang apa. Dia tidak menoleh sedikitpun padaku. Aku sedikit kecewa. Padahal aku berharap mendapat senyumannya begitu aku masuk ke dalam rumah.
“taeminie, aku pulang~” ujarku lagi. Taemin langsung menoleh.
“eo! Wasseo? Nuna sudah pulang?”
Sedetik saja rasa kecewaku langsung hilang karena melihat senyumnya. Lucu sekali.
“ne~ capek sekali~” keluhku sambil duduk di sebelahnya. Aku lepas tas pundakku dan kuletakkan begitu saja di lantai. Aku lalu menyelonjorkan kakiku dan kurebahkan kepalaku pada sandaran sofa di sebelah kiriku. Dengan sudut mata, aku melirik jam dinding di atas televisi. Ulang tahun taemin kurang dari satu jam lagi.
“di sini saja, nuna~” tiba-tiba taemin menarikku dan merebahkan kepalaku di atas pangkuannya. Suaranya barusan terdengar dewasa. Aku jadi was-was. Posisi kepalaku dekat sekali dengan…
“tidak, di sini saja” aku kembali memindahkan kepalaku ke kiri, kembali berbantalkan sandaran sofa. Bahaya sekali rasanya tadi. Jantungku masih berdebar.
“di sini saja~!” kali ini taemin menarikku dengan sedikit merengek. Kepalaku sekarang kembali berada di atas pangkuannya, “bogo shipheo~” ujarnya lagi. Aku tersenyum mendengarnya. Kalau dia aegyo begini aku sama sekali tak khawatir, tapi kalau suaranya dewasa seperti yang tadi beda lagi ceritanya.
“kan aku sudah di sini sekarang” ujarku.
“tapi tetap saja aku masih rindu~~” bantah taemin. Tangannya yang berada di lenganku terasa canggung. Mungkin dia mau memelukku, tapi bingung karena keadaanku sekarang sedang berada di atas pangkuannya.
“taeminie, aku haus. Bisa ambilkan minum?” pintaku sambil menegakkan badan. Taemin langsung tersenyum dan mengangguk.
Aku melihat jam lagi. Waktu ulang tahun taemin makin dekat.
Taemin datang dengan membawa sebotol kecil banana uyu di tangannya. Dia kemudian duduk lagi di sebelahku, menancapkan sedotan di bagian atas botol susu dan kemudian meminumnya. Aku kaget sekaligus bingung. Kukira susu itu diambilkannya untukku.
“ini, nuna” tiba-tiba taemin menyerahkan botol susu tersebut padaku. Aku mengambil botol itu. Taemin hanya minum sedikit, botol susu itu masih terasa berat di tanganku. Dan satu lagi, susunya dingin seperti baru diambil dari kulkas. Padahal tenggorokanku sedang sakit dan aku sedang tidak ingin minum yang dingin-dingin sekarang. Tapi tidak enak rasanya kalau menolak susu yang sudah diambilkannya untukku itu.
“kalau kau haus juga kenapa tak ambil satu lagi?” tanyaku sebelum mulai menyeruput susu pisang itu. Saat airnya mengaliri tenggorokanku terasa segar, tapi setelah itu sakit di tenggorokanku sepertinya tidak semakin membaik. Aku berdehem untuk menghilangkan kesan tidak enak itu.
“aku sedang tidak haus, kok” jawab taemin sambil memperhatikanku.
“terus, kenapa kau minum punyaku?” tanyaku. Aku berdehem lagi.
Taemin tidak menjawabnya, hanya tersenyum polos sambil terus menatapku. Aku membiarkannya saja seperti itu dan terus menghabiskan susu di tanganku. Aku haus sekali. Terserah nanti tenggorokanku mau bagaimana.
“sudah habis semua?” tanya taemin setelah aku menyeruput sisa terakhir banana uyu itu.
Aku mengangguk. Tenggorokanku terasa tidak enak.
“nuna, tanya lagi dong yang tadi~” pinta taemin kemudian.
“tanya apa?” aku mengerutkan kening dan berdehem lagi.
“tadi itu~ pertanyaan yang terakhir nuna tanyakan~” katanya lagi.
Aku berpikir sebentar.
“oh, kenapa kau minum banana uyu-ku kalau tidak haus?” akhirnya aku mengingatnya.
“hehe” taemin nyengir lebar, “supaya bisa kiseu-tidak-langsung dengan nuna”
Aku mengangkat sebelah alisku dan tersenyum. Lagi-lagi, aku tidak mengerti jalan pikiran taemin.
“tapi aku jadi ingin minum susu pisang sekarang.” Ujar taemin kemudian.
“ya sudah, ambil saja lagi.”
“itu tadi yang terakhir, di kulkas tidak ada lagi.” jelas taemin.
“kalau begitu kenapa yang tadi itu tidak untuk kau saja? kan kau bisa mengambilkanku minuman lain~” aku sengaja membuat suaraku sedikit aegyo. Aku sangat capek dan tenggorokanku sakit, tapi taemin malah bertele-tele begini. Tapi aku tak mau marah dengannya.
“bukan itu..” kata taemin tiba-tiba.
“jadi apa?” tanyaku. Sekali lagi aku melirik ke jam dinding. Sepuluh menit lagi.
Taemin tidak menjawabnya. Dia malah memajukan bibirnya, seperti ingin di-ppoppo. Aku langsung tertawa lepas.
“hahaha, jadi kau ingin di kiseu betulan setelah kiseu-tidak-langsung yang tadi?” tanyaku sambil tertawa. Taemin mengangguk, masih dengan mulut yang dimajukan.
“tapi ulang tahunmu masih sepuluh menit lagi.” ujarku iseng. Kali ini aku tidak sembunyi-sembunyi menunjuk jam.
“gwaenchanha, pemanasan~” jawab taemin sesukanya.
Pemanasan??, aku mengulang dalam hati.
“mana bibir nuna? aku tutup mata, ya~ nanti nuna yang kiseu aku, hehe” ujar taemin kemudian. Dia menutup matanya sementara bibirnya masih dimajukannya.
Aku nyengir sebentar sebelum kemudian mendekatinya.
Ccuk!
Aku hanya mengecupnya sekilas, tak lebih.
Taemin membuka matanya dan terlihat marah. Kedua alisnya membentuk kerutan dan kali ini bibirnya maju karena kesal, bukan karena minta ppoppo.
“kan aku bilang kiseu!” protes taemin.
Aku hanya nyengir saja.
“yah, bibirmu maju begitu, bagaimana bisa kiseu~” ujarku sambil lalu. Aku sambar remote tv yang ada di atas meja di depan kami dan menekan tombol power untuk menghidupkannya.
Tiba-tiba taemin menarikku lebih dekat. Diarahkannya wajahku menghadap ke wajahnya. Wajahnya sudah berubah dewasa lagi.
“jadi bagaimana? Dibuka sedikit?” bisiknya di depanku.
Aku menelan ludah. Taemin dekat sekali. Bibirnya hampir menyentuh bibirku.
“nuna juga buka dong” Dia kemudian menarik daguku sedikit ke bawah hingga mulutku sedikit terbuka. Aku mematung. Napas hangat yang keluar dari mulutnya terasa di bibirku. Taemin tak menempelkan bibirnya, dia hanya menyentuhkan bibirnya di bibirku sebentar, kemudian melepaskannya lagi. Begitu terus.
“begini?” bisiknya lagi.
Aku menelan ludahku. Aku tak bisa membiarkannya mempermainkanku seperti ini.
“taemin, sudah.” Ujarku lemah. Satu hal yang membuat diriku marah adalah bahwa aku menutup mata sambil berkata demikian. Sebagian diriku menginginkan lebih, tak hanya sentuhan-sentuhan bibirnya tadi.
“sudah? Baiklah”
Di luar dugaan, taemin benar-benar melepaskanku. Dan entah kenapa aku merasa menyesal kenapa taemin tak melanjutkannya. Aku benci diriku yang berpikir demikian.
“tapi aku bohong”
Setelah berkata seperti itu, taemin menarikku ke badannya lebih dekat. Tapi dia tidak menciumku secara dewasa, dia meraih wajahku dengan kedua tangannya dan menempelkan bibirku di bibirnya dalam-dalam. Tapi hanya itu. Tidak lebih.
Ccuuu~~uk!!
“hehe, nuna, ucapkan ulang tahun kepadaku. Aku sudah 21!” kata taemin bersemangat setelah ciuman ringan itu.
Aku melirik ke jam dinding. Benar. Sudah jam 12.
Ccuk!
Aku menciumnya sekilas.
“saengil chukhahae, nae dongsaeng~” bibirku tertarik ke belakang, aku tak bisa menahannya. “dan kau 20! Bukan 21!” tambahku lagi, tapi kemudian senyumanku menyusul.
“hehe”
Ccuuuk~
Taemin nyengir dan kemudian menciumku sekali lagi.
“nuna mau hadiah apa?” tanya taemin kemudian.
Alisku berkerut bingung.
“bukannya aku yang harus memberimu hadiah?” tanyaku heran. Taemin senyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“tapi pertama-tama aku mau memberi nuna hadiah dulu~ nah, nuna mau apa?” katanya lagi. imut sekali dia aegyo seperti itu.
“jinca?” tanyaku memastikan.
Taemin mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.
“mm~,” aku berpikir sebentar.
Hal yang aku inginkan? Tapi tidak ada! Tunggu. Badanku sakit-sakit. Minta pijit saja!
“kau mau memijitku, taeminie?” pintaku.
Mata taemin melebar.
“pijit??” ujarnya tak percaya. Aku sedikit bingung dengan responnya yang seperti itu.
“ne, pijit. Kenapa memangnya?” balasku.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat taemin menelan ludahnya.
“a-ani, gwaenchanha.” Ujar taemin ragu-ragu, dia kemudian menggaruk rambut belakangnya, “emm~ kalau dipijit itu lepas baju ‘kan, nuna?” tanyanya kemudian.
Mwo??? Oh, jadi itu yang dipikirkannya.. Dasar taemin!
“tentu saja” ujarku enteng. Sengaja aku mengisenginya. Tentu saja aku tidak akan buka baju, maksudnya.
Kali ini suara ludah yang ditelan lebih jelas terdengar daripada sebelumnya. Aku mencoba menahan senyumku.
Tiba-tiba taemin makin mendekatkan tubuhnya padaku dan sebelah tangannya kemudian membuka ujung bajuku.
“jadi, nuna mau di ma—“
“YAA!! APA YANG KAU LAKUKAN???” aku langsung histeris dan menjauhinya. Kedua tanganku aku gunakan untuk kembali menurunkan bajuku yang setengahnya telah diangkat oleh taemin.
Berani sekali dia berbuat seperti itu padaku??!!
“wae?? Bukannya pijit memang harus buka baju? Nuna juga bilang begitu ‘kan? Ya sudah, aku bantu buka.” Jawab taemin sedikit kesal. Jawaban yang tak dapat kupercaya sebenarnya. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada anak ini??
“aku bercanda. Aku tidak akan buka baju, oke??” jelasku kemudian. Respon taemin selanjutnya lagi-lagi di luar dugaanku. Dia malah memajukan bibir bawahnya dan terlihat murung, padahal sedetik sebelumnya wajahnya sangat dewasa sekali.
“nuna bohong padaku, padahal ini hari ulang tahunku~” katanya kemudian dengan lemah. Sedikitnya aku merasa bersalah dengan kata-katanya itu.
“mianhae~” ujarku kemudian.
“eung” gumam taemin pelan sebagai respon, “aku mau memaafkan nuna, tapi buka baju dulu~”
PLAKK!
“YA!” tanganku ternyata bergerak lebih cepat daripada kata-kataku. Aku tidak menamparnya, hanya memukul lengan atasnya.
“huweee~ aku dipukul~~” kali ini rengekan taemin lebih keras.
Meski sedang kesal tapi tetap saja aku tak tahan. Aku malah menariknya masuk ke dalam pelukanku.
“mianhae, hehe” kataku sambil tersenyum. Taemin mengangguk dalam pelukanku.
“makanya, buka baju~” pintanya lagi.
“shirheo.”
“buka~~~”
“ya sudah, pijitnya tidak usah saja.”
Taemin langsung melepas pelukannya dariku.
“geurae. Tidak usah buka baju. Ayo ke kamar.” Bibirnya masih membentuk rengutan saat berkata seperti itu.
Aku nyengir lebar.
“gaja!”
***
“nuna” taemin tiba-tiba memanggilku. Dia sudah memijit kaki dan tanganku dan sekarang dia baru saja mulai memijit punggungku.
“hm”
“bukan aku mesum atau apa, tapi aku tak bisa memijit dengan santai kalau nuna pakai baju seperti ini. Rasanya aneh.”
Aku berpikir sebentar. Taemin benar. Jangankan dia, aku juga merasa aneh dipijit dalam keadaan begini. Rasanya malah badanku makin sakit-sakit.
“kau benar” kataku akhirnya.
“hehe. Jadi?” ujar taemin sedikit bersemangat. Aku yang sedang telungkup dan tidak bisa melihat wajanya pun jadi ikut tersenyum.
“jadi kenapa?” pancingku.
“hehe,” taemin senyum lagi, “mau buka baju tidak~?” tawarnya.
Aku berpikir lagi.
“kau kecapekan tidak?” tanyaku.
“aku? Tidak.” taemin menjawab singkat.
“geurae.”
Tanpa mengucap apapun lagi, aku langsung mengangkat baju bagian belakangku ke atas. Sedikit aneh sebenarnya setengah telanjang di depan taemin seperti ini, tapi tak ada hal lain yang bisa aku lakukan. Badanku benar-benar sakit-sakit, aku tidak bohong. Dan pijatan adalah hal yang paling aku butuhkan sekarang, paling tidak agar aku bisa tidur dengan nyaman malam ini.
“wow” ujar taemin tiba-tiba setelah aku membuka bajuku ke atas.
“sudah, taeminie. Pijit saja.” ujarku menahan malu.
“ne”
Hal yang aku rasakan selanjutnya adalah tangan taemin yang mulai memijit punggungku. Benar ternyata, begini lebih nyaman.
“nuna suka warna hitam, ya?” tanya taemin tiba-tiba saat kami terdiam sebentar.
“hitam? Ani. Wae?” aku bingung dengan pertanyaannya.
“ini hitam” ujar taemin kemudian, aku bisa merasakan jari telunjuknya menyentuh tali bra-ku.
Aku tak tahu harus merespon apa, jadi aku diam saja. Sementara itu, taemin terus memijitku.
Aku sudah hampir tertidur saat taemin memanggil lagi.
“nuna”
“hm” gumamku.
“aku buka, ya? Susah yang bagian tengah~”
“hm”
Aku setengah tak sadar berujar demikian. Dan hal yang aku sadari selanjutnya adalah taemin melepas tali bra-ku. Aku panik, tapi aku tidak memperlihatkannya. Tapi mungkin taemin sadar dari punggungku yang tiba-tiba menegang, dia langsung protes.
“nuna! bagaimana aku bisa pijit kalau punggung nuna tegang seperti ini?!”
Aku tak menanggapinya, aku hanya menarik napas panjang dan mencoba rileks.
“nah, begini kan lebih baik” ujar taemin kemudian tanpa sedikitpun merasa tidak enak padaku. Kadang-kadang aku merasa adikku ini luar biasa.
Taemin terus melanjutkan memijitku. Aku sudah tidak bisa tidur lagi. Tidak dalam keadaan seperti ini. Taemin di atasku, sementara tali bra-ku terbuka dan dibuka olehnya. Tidak mungkin bisa tidur.
“nuna”
Taemin memanggil lagi.
“wae”
“hehe” taemin tak menjawab, hanya nyengir sebentar.
“nuna” dia kemudian memanggil lagi.
“mwo?”
“hehehe”
Aku tidak bisa mengerti taemin, apalagi kalau dia yang seperti ini.
“nuna”
Kali ini aku tidak mau menjawabnya. Aku biarkan saja dia terus memijitku.
“nuna nuna nuna”
“ne~” akhirnya menjawab dengan malas.
“nuna marah tidak, ya?” tanya taemin kemudian.
“marah kenapa?” tanyaku lagi, masih dengan nada yang sama.
Taemin tak menjawab, dia malah diam. Aku biarkan saja dia bertindak aneh begitu. Aku menutup mataku lagi.
“sebentar saja kok, nuna, sebentar saja” kata taemin lagi beberapa lama kemudian.
Lagi-lagi aku tak menggubrisnya.
“ya, nuna, ya?” tanya taemin setengah memaksa.
Aku tak menjawabnya. Aku tak mengerti maksudnya apa.
“nuna!” taemin memanggil lagi dengan nada keras.
“hm!”
“boleh ya, nuna? sebentar saja kok~”
Aku kembali diam.
“nuna~~”
“hm~”
“boleh, ya~?”
“hm”
Pijitan taemin tiba-tiba berhenti.
“boleh??”
“hm~”
Terserahlah maksudnya apa, aku tak peduli.
Tak ada gerakan lain dari taemin setelah itu. Dia diam, begitu juga tangannya di punggungku. Dan tiba-tiba punggungku terasa dingin.
“taem—“
“jeongmal nuna benar-benar tak akan marah?? Jinca~??”
Baru saja aku mau menoleh dan memanggil namanya, taemin tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berkata demikian.
Canggung, itu yang kurasakan saat itu, dengan tangan taemin yang berada di atas punggung telanjangku dan wajahnya yang dekat seperti ini, di atas tempat tidur pula, lengkap sudah. Aku menelan ludahku diam-diam.
“memang kau mau apa?” tanyaku pelan.
Taemin tak menjawab, hanya tersenyum dan mulai mendekatkan kepalanya ke kepalaku. aku tak bisa berbuat apapun selain menutup mata dan menunggu bibirnya.
Aku tahu ciuman ini tak seperti ciuman biasanya. Aku tahu ciuman ini pasti berakhir bukan hanya sekedar aku menahan tangannya agar tidak kemana-mana—seperti yang sering dia lakukan. aku tahu pasti akan lebih dari itu. Dan aku benar. Taemin memang melakukan lebih dari itu—lebih dari biasanya. Aku tak mau menyebutkan bagaimana, tapi dengan hal itu aku akhirnya mengerti bahwa taemin sudah benar-benar menjadi dewasa. Tapi tidak, kami tidak melakukannya. Aku ternyata masih cukup waras untuk menghentikannya. Dan untunglah taemin mengerti. Untunglah dia cukup dewasa untuk mengerti.
Setelah itu terjadi, taemin tidur di sebelahku. Tapi aku masih tidak bisa tidur sampai dua jam berikutnya. Aku ingin melupakan hal yang tadi itu. Benar-benar ingin melupakannya sampai-sampai aku tak mau menuliskannya.
= = =
Posted by Taemznuna

Advertisements

One thought on “FF/S/Nuna’s Diary (page 163-168) Special Taemin’s 20th birthday

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s