FF/비온그밤 (Taemin Ver. “That Man’s Coming”)

= 비온그밤 =

Title: 비온그밤 “The Rainy Night” (Taemin Ver.)
Subtitle: That Man’s Coming

Author: Taemznuna

Cast:

– Taemin (SHINee) (main point of view)
– Chen (EXO-M)
– Taemin’s noona, Yeong Mi (OC)

= = =
Nuna masih belum pulang. Kulihat jam sekali lagi untuk memastikan kalau aku memang tak salah lihat. Benar, sudah hampir jam 1 malam. Aku mulai gelisah.
Tadi nuna memang sudah bilang padaku kalau dia akan pulang larut. Tapi kami sama-sama tahu—meskipun tidak ada peraturan tertulis—kalau jam malam rumah ini adalah jam 11 malam. Ada konpensasi 15 menit jika dalam keadaan mendesak. Memang jam malam tersebut mungkin dianggap aneh dan terlalu ‘pagi’ bagi sebagian orang, tapi memang peraturan itu berlaku dari dulu. Aku dan nuna sudah tahu itu.
Dari luar suara guntur terus terdengar. Sudah jam segini nuna masih belum pulang, dan di luar sepertinya akan hujan. Aku makin gelisah.
Aku membuka inbox hp-ku lagi dan kembali membaca ulang 12 sms yang telah kukirim ke nuna selama 1 jam terakhir. Tak ada satu pun balasan. Aku menarik napas panjang, menutup mataku dan mencoba berpikir jernih. Tadi nuna bilang dia akan pergi ke noraebang bersama teman-temannya. Mungkin nuna keasyikan bernyanyi dan tidak sempat mengecek hp-nya. Ya, mungkin begitu.
DUARRR!!!
Suara guntur barusan menggetarkan jendela rumah. Kemudian, disusul oleh suara hujan yang tiba-tiba datang dengan derasnya.
Tidak, meski keasyikan tapi seharusnya nuna sudah pulang dari tadi. Ini sudah dini hari!
Aku memencet tombol 1, panggilan cepat ke hp nuna-ku. Sambil menempelkan hp di samping telinga, aku mulai berjalan mondar-mandir di depan sofa.
Suara hujan di luar semakin jelas, itu membuatku makin khawatir.
Kenapa nuna tidak mengangkat telponnya??
Aku sudah hampir memutus sambungan telpon dan berencana menelpon nuna lagi saat suara nuna dari ujung sana terdengar. Suara nuna kecil karena dikalahkan suara hujan yang juga terdengar dari tempat nuna berada.
[Yeoboseyo?]
“Nuna, eodiya?” tanpa basa-basi, aku langsung menyerang nuna. Nada suaraku sangat tidak santai sekali.
[Di mini market dekat rumah kita, sedang berteduh.]
“Sendiri?”
[Tidak, dengan teman.]
Teman? Siapa?, batinku. Aku mulai curiga.
“Siapa?”
Ada jeda sebentar sebelum nuna menjawabnya.
[Chen]
Deg!
Cowok itu lagi…
“Sepertinya hujannya akan lama. Langsung pulang saja. Sekarang! Aku tunggu.”
Aku tak menunggu jawaban nuna, aku langsung memutus telponnya. Kini aku semakin gelisah.
Chen. Nuna dengan chen. Cowok yang disukai nuna.
Aku berjengit. Bahkan mendengar hal itu dalam pikiranku pun aku tak suka. Aku mulai mondar-mandir lagi. Memikirkan ini dan itu. Rasanya sudah lama sekali nuna tidak menyebut-nyebut cowok itu, lalu tiba-tiba sekarang nuna akan pulang ke rumah dengannya. Aku tak menyukai itu.
Ting dong!
Itu pasti nuna. Aku segera berlari ke pintu depan untuk membukanya. Angin yang datang dari luar menghantamku ketika aku membuka pintu dengan lebar, begitu juga percikan-percikan hujan yang terbawa angin. Nuna langsung masuk, di belakangnya cowok itu mengikutinya. Tubuh mereka basah kuyup. Ternyata hujan di luar memang deras, bahkan lebih deras dari perkiraanku. Tega sekali aku menyuruh nuna segera pulang tadi.
“Taemin, ambilkan dua handuk bersih di lemariku. Di rak kanan atas,” ujar nuna kemudian. Aku langsung mengerjakannya. Dalam hati aku menyalahkan diriku sendiri. Harusnya aku tahu kalau mereka akan datang dalam keadaan basah dan seharusnya memang aku sudah menyiapkan handuk sebelum mereka sampai. Kasihan nuna-ku terlihat kedinginan seperti itu.
Aku kembali dengan membawa 2 buah handuk bersih dan memberikannya pada nuna. Nuna kemudian menyerahkan salah satu handuk itu pada cowok itu. Saat itu barulah aku perhatikan mereka berdua. Rambut cowok itu basah seluruhnya, begitu juga badan dan bajunya. Tapi tidak dengan nuna. Hanya bagian tubuh depan dan bawah nuna saja yang basah. Selain bagian itu hampir bisa dikatakan kering. Sepertinya tadi cowok itu melindungi nuna-ku dari hujan dengan jaketnya. Soalnya jaket yang sedang dipegang nuna—dan sudah pasti bukan punya nuna—memang terlihat basah.
“Sebaiknya kau membasuh badanmu, aku akan mengeringkan pakaianmu.” Kata nuna pada cowok itu. Kata-katanya sedikit kaku.
“Baiklah. Di mana kamar mandinya?” ujar cowok itu kemudian. Dia masih mencoba mengeringkan wajah dan rambutnya dengan handuk yang aku bawakan tadi.
Nuna masuk dan menunjukkan kamar mandi kami.
“Nanti akan aku bawakan pakaian ganti. Saat aku ketuk, tolong buka pintunya, ya.”
“Oke.” Dia menghubungkan jari telunjuk dan jempolnya dan kemudian menutup pintu kamar mandi.
Tanpa menoleh padaku, nuna bergegas ke kamarku dan mengaduk isi lemariku. Aku hanya mengikutinya.
“Taemin, pinjam bajumu,” izin nuna. Nuna tidak perlu jawabanku karena memang itu bukan masalah. Tak mungkin aku tak meminjamkan bajuku pada cowok itu. Aku tak sudi melihatnya telanjang di depan nuna-ku. Enak saja!
Nuna kembali lagi ke depan pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.
“Chen? Ini baju gantimu.”
Aku tak suka mendengar namanya selalu disebut-sebut nuna seperti itu. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka sedikit dan memperlihatkan cowok itu yang mengintip dari baliknya. Aku baru sadar kalau matanya cukup besar.
“Gomawo.” Katanya sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil bajuku.
“Pakai saja sabun dan shampoo yang ada di dalam. Jangan sungkan.” Tambah nuna lagi.
“Eung.” Dia menjawab singkat sambil menutup pintu kamar mandi.
“Jamkkanman!” nuna tiba-tiba menahan pintu itu dan cowok itu mengintip lagi. Kali ini dia mengangkat kedua alisnya, terlihat sedikit bingung. Kenapa sih dia sok terlihat imut seperti itu?? “Mana pakaian basahmu? Biar aku keringkan.” Ujar nuna kemudian.
Cowok itu hanya ber-‘oh’ pelan tanda mengerti dan kemudian mengulurkan pakaian yang dikenakannya tadi kepada nuna-ku. Baru setelah itu dia menutup pintu lagi.
Aku menghirup napas panjang dan menenangkan diri. Pemandangan macam apa ini yang ada di depan mataku?? Aku benci keadaan seperti ini.
Setelah mengikuti nuna ke mesin cuci di dekat dapur dan memperhatikan nuna mengeringkan baju basah milik cowok itu, aku mengikuti nuna yang mulai berjalan ke kamarnya. Kali ini nuna mengaduk lemarinya dan mengeluarkan bed cover besar dan alas kasur. Rasa curigaku kembali muncul. Baru saja aku hendak bertanya, tiba-tiba nuna berkata sesuatu.
“Taemin, bantu aku ambilkan salah satu bantal di kasurku. Setelah itu bawakan ke kamarmu”
“Untuk siapa?” tanyaku penuh curiga. Aku sudah punya bantal dan aku tak perlu bantal tambahan.
Nuna menoleh padaku dengan tatapan tak percaya. Akhirnya nuna melihat aku, akhirnya nuna sadar kalau aku juga ada, bukan hanya mereka berdua yang ada di rumah ini.
“Tentu saja untuk chen.”
Dia tidur di sini?” nadaku meninggi tanpa kusadari.
“Kita tak punya payung, aku meninggalkannya di rumah temanku dua hari yang lalu.” Kata nuna sambil menutup pintu lemarinya.
“Tunggu saja sampai reda.” Ujarku tak senang.
“Kau kira sudah jam berapa sekarang??” kali ini nada nuna yang meninggi. Aku mengerutkan keningku. Aku tak suka nuna marah padaku seperti itu hanya gara-gara cowok itu. “Dia akan tidur denganmu malam ini. Sekarang, bantu aku membawa bantalnya.” Nuna berkata seperti itu sambil kembali mendekap bed cover tebal dalam pelukannya.
“Aku tak mau tidur dengannya.” Ujarku egois.
Nuna yang sudah hendak berjalan tiba-tiba mematung sambil menatapku tajam. Nuna kemudian menaruh bed cover yang dipeluknya itu di atas tempat tidurnya.
“Kalau begitu dia tidur denganku.” Tantang nuna.
MWO???
“Andwae!!” aku langsung menentangnya dengan suara keras.
“Kalau begitu, bawakan bantalnya.” Nuna kembali berjalan ke kamarku tanpa menunggu responku.
Kenapa tidak aku saja yang tidur dengan nuna? Kenapa nuna memilih dia yang tidur dengan nuna??
Dengan mata sedikit berair, aku mengambil salah satu bantal di kasur nuna dan menyusul nuna. Ini bukan saat yang tepat bagiku untuk protes dan marah. Nuna terlihat capek dan sepertinya perasaannya bukan dalam keadaan baik sekarang.
Saat aku tiba di kamar, nuna sudah membentangkan alas kasur di atas karpetku dan memposisikan bed cover di atasnya. Aku menyerahkan bantal yang nuna suruh bawakan tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Aku harap kau nanti tak bersikap aneh-aneh, taemin.” ujar nuna kemudian setelah hening beberapa saat.
Hatiku sedikit sakit mendengarnya. Aku belum melakukan apa-apa saja nuna sudah berprasangka buruk seperti itu.
“Tak akan.” Ujarku singkat.
“Baiklah.” Nuna kemudian bangkit dan mulai berjalan keluar kamar. Aku mengikutinya lagi.
Saat aku keluar kamar, cowok itu juga keluar dari kamar mandi. Aku melihat dia tersenyum pada nuna. Aku juga melihat nuna membalas senyumannya.
“Giliranmu” katanya sambil menunjuk kamar mandi dengan jempolnya. Aku tak suka melihatnya. Sok keren.
“Sepertinya aku cukup membasuh wajah saja, aku tidak terlalu basah. Tempat tidurmu sudah aku siapkan di kamar Taemin. Mian, kau harus tidur di karpet.” Jelas nuna padanya.
“Gwaenchanha. Aku suka tidur di karpet.” Cowok itu membalasnya dengan cengiran.
“Kalau begitu duluan saja ke kamar, taemin akan menyusul setelah dia menggosok gigi. Taemin, ayo sini!” ujar nuna kemudian yang membuatku sedikit kaget. Aku kemudian mengikuti nuna masuk ke kamar mandi.
“Dari mana nuna tahu aku belum menggosok gigi?” tanyaku pada nuna dari pantulan cermin besar di dalam kamar mandi.
“Hanya tahu saja.” jawab nuna cuek. “Nih” nuna kemudian menyerahkan sikat gigiku yang sudah diberi pasta gigi. Nuna kemudian memberi pasta gigi di sikat giginya dan mulai menggosok giginya. Aku masih terus memperhatikan nuna dari pantulan cermin.
“nuna?” panggilku.
“eung?” nuna membalas tatapanku.
“namaku taeminie, bukan taemin.”
Nuna langsung tersenyum lebar begitu mendengar kata-kataku. Melihat itu, kesal yang kurasakan dari tadi langsung hilang dan aku juga jadi ikut tersenyum.
Kami selesai, dan nuna ikut mengantarkanku ke kamar. Cowok itu sudah berbaring di tempat yang sudah disediakan nuna tadi.
“Belum tidur?” tanya nuna padanya.
“Sedang mencoba.” Jawabnya singkat. Kemudian dia dan nuna berbincang sebentar.
Dalam beberapa menit aku merasa dianggap tidak ada lagi. Tapi begitu aku mengingat senyum lebar nuna di kamar mandi tadi, rasa kesalku padam. Aku merangkak ke atas kasur dan menarik selimut sampai leherku.
Setelah selesai mengobrol dengan cowok itu, nuna berdiri di ambang pintu kamarku sambil memperhatikan kami berdua.
“Besok pagi kalian akan aku bangunkan untuk sarapan,” kata nuna kemudian, “jal ja”
Pintu hampir tertutup saat aku panggil nuna lagi. Nuna kembali membuka lebar pintu kamarku.
“ada apa?” tanya nuna.
Nuna tadi sudah bilang agar aku tidak boleh macam-macam, tapi aku benar-benar ingin ini. Lagi pula ini memang agenda rutin kami tiap malam sebelum tidur.
“ppoppo?” ujarku jelas. Mata nuna langsung melotot mendengarnya. Aku melirik cowok itu, ternyata dia juga sedang melirikku. Keadaan jadi sedikit canggung.
“Aku akan menutup mataku,” ujar cowok itu tiba-tiba. Aku meliriknya sekali lagi. Dia benar-benar menutup matanya.
Nuna tak punya pilihan lain selain mendatangiku dan mengecup bibirku singkat. Aku merasa menang, tapi juga merasa kalah. Aku merasa belum dewasa karena apa yang aku lakukan, juga karena kata-katanya. Dan aku jadi kesal akan itu.
Nuna keluar dan menutup pintu. Baru dua detik nuna keluar, tiba-tiba cowok itu menyibakkan selimutnya dan menyusul nuna. Aku masih bisa mendengar kalimat yang dilontarkannya sebelum pintu kamarku tertutup.
“untukku tak ada?” tanyanya pada nuna di luar kamar.
Aku langsung duduk tegak. Jantungku berdegup kencang.
Apa dia juga minta ppoppo? Tidak! Dia pasti minta ppoppo!
Aku sudah ingin menyusul keluar saat cowok itu kembali masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum padaku sambil berbaring di karpet tempat dia tidur.
“mian, aku meminjam sebentar nuna-mu.” Katanya enteng. Dia tidak mencemoohku, kalimatnya tulus. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali kembali berbaring membelakanginya. Aku tak bisa marah. Aku tak boleh marah. Atau nuna akan lebih marah lagi padaku, bahkan lebih besar daripada kemarahanku.
Selama beberapa menit aku memikirkan apa yang terjadi di luar tadi saat cowok ini menyusul nuna-ku. Beberapa scene melintas di kepalaku. Ada yang baik, ada juga yang buruk. Sayangnya, lebih banyak scene buruknya.
Aku menarik dan menghembuskan napas panjang untuk menenangkan diri. Apapun yang terjadi tadi, tetap saja aku tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali satu.
“Sampai aku melihatmu menjaganya dan menyayanginya lebih besar daripada yang bisa aku berikan kepadanya, aku tak akan melepaskannya padamu.” Gumamku dengan jelas. Terserah dia sudah tidur atau belum. Aku hanya ingin menyampaikannya.
“Mworago?” tanyanya. Ternyata dia belum tidur.
Aku malas mengulangi kalimat tadi lagi. Kalau aku ulangi, aku hanya terdengar seperti anak-anak. Lagipula sepertinya dia sebenarnya mendengar kata-kataku tadi, aku mengatakannya dengan cukup jelas.
“Aku menyayanginya.” Ujarku akhirnya. Kurasa kalimat singkat itu bisa mewakili kalimat panjangku tadi. Cowok itu diam saja. Tapi beberapa saat kemudian, dia mulai bicara.
“Arasseo,” katanya, kemudian dia menambahkan lagi, “Aku juga menyayanginya.”
Aku mengepalkan kedua tanganku mendengar kalimat itu. Tapi sedetik kemudian, aku menenangkan diriku lagi dan menutup mataku sambil berkata dalam hati.
Nuna, semoga aku bisa tidur malam ini.
= = =

Advertisements

One thought on “FF/비온그밤 (Taemin Ver. “That Man’s Coming”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s