FF/Trainee (part1)

= Trainee =

Title: Trainee

Cast:
– Ha Yoonmi (OC, main cast)
– EXO Chen
tumblr_mtg0pfUlju1rm8ut3o1_500
– SM artists
614914_430782063631300_1070014065_o
– Other casts are OC

POV: Main cast (Yoonmi)

= = =
“Vokalmu rendah dan itu benar-benar dibutuhkan dalam grup. Kau bisa mencapai nada rendah, tapi suaramu terlalu sayang kalau hanya diberi posisi rap, karena itu kami tetap memilihmu menjadi salah satu lead vocal,” ujarnya, “ meski begitu, kami yakin kau masih bisa mencapai nada-nada tinggi, yah mungkin tak bisa setinggi Seul, tapi kami yakin kau bisa mendekati nadanya.” Direktur memperbaiki posisi duduknya di kursi bersandaran tinggi yang terlihat nyaman itu. Aku masih tak berani menggerakkan pantatku, hanya jari-jariku saja yang saling meremas di atas pangkuanku sementara keringat dingin mengalir di punggungku.
Aku sadar hal itu, mengenai suaraku yang rendah. Seul eonni memiliki suara seperti Luna sunbaenim, suaranya benar-benar tinggi, bahkan untuk ukuran wanita. Dia bahkan bisa mencapai dua nada lebih tinggi dari pada Luna sunbaenim, aku pernah melihatnya saat kami latihan vokal bersama. Sedangkan suaraku, sebagian orang mengatakan suaraku satu warna dengan suara Taeyeon sunbaenim. Tapi Yang seonsaengnim mengatakan bahwa aku bisa mencapai nada yang lebih rendah daripada Taeyeon sunbaenim, bahkan lebih rendah daripada yang BoA sunbaenim atau J-Min sunbaenim bisa raih. Jadi kalau begini, siapa kira-kira sunbae yang akan membimbing vokalku?
Direktur menghembuskan napas berat sebelum beliau memulai lagi. Kedua tangannya bertaut di atas meja sementara dia menumpukan berat badannya ke depan, mencondongkan badannya ke arahku.
“Guru Yang sudah memberitahumu ‘kan, kalau kau bisa meraih nada rendah dibanding penyanyi wanita manapun di agensi ini?” tanyanya. Aku mengangguk sebagai jawaban. “Apa tanggapanmu tentang itu?” tanyanya lagi, terlihat sekali dia sedang mengetesku. Bahkan dari pancaran matanya, aku sedikit menangkap bahwa dia ragu padaku.
Aku menelan ludah. Salah jawab, bisa-bisa aku tidak jadi debut. “Saya… saya…” tenggorokanku tercekat. Aku berpikir keras. Jika aku ingin melucu dan menjawab ‘saya ragu apa seharusnya saya dilahirkan sebagai laki-laki’, mungkin saja bisa mencairkan suasana. Tapi mungkin tidak sekarang. Aku berdehem sebentar sebelum melanjutkannya lagi, “Saya mungkin saja bangga karena bisa mencapai nada rendah, tapi dibandingkan orang lain dan sunbaenimdeul yang memiliki rentang oktaf yang lebih lebar, saya bukan apa-apa. Setidaknya saya ingin seperti mereka—”
“Kau harus lebih dari mereka karena kau memang bisa,” potong direktur. Aku tak tahu harus memberi respon apa, jadi aku hanya melihat ke pinggiran meja dan menggangguk kecil. “Apa kau bisa berjanji dan bertekad untuk lebih dari mereka?” Tanya direktur lagi. Aku melihat matanya dan mengangguk yakin.
“Ye, saya rasa saya bisa.”
“Bisa apa?” direktur menaikkan sebelah alisnya.
“Saya berjanji dan bertekad akan bisa melebihi orang-orang yang selama ini membuat saya iri karena lebarnya oktaf vokal mereka. Saya yakin saya bisa lebih dari mereka dengan apa yang saya miliki. Saya akan mengasah kemampuan saya,” terangku panjang.
Senyum lebar tersungging di wajah direktur. Beliau menyandarkan kembali punggungnya di sandaran kursinya, kali ini terlihat lebih rileks. “Kalau kau sudah yakin dengan kemampuan dirimu seperti ini, kami tak bisa ragu lagi.” Direktur kemudian mengeluarkan tiga buah foto dari laci meja kerjanya dan meletakkan foto-foto itu berdampingan di atas meja. Aku memperhatikan tiga buah foto itu. Foto tiga orang pria dan aku mengenali mereka bertiga. Aku memperhatikan direktur lagi saat dia mulai bicara.
“Kami tak yakin bisa melepaskanmu pada penyanyi wanita yang bahkan tidak bisa mencapai nada lebih rendah darimu, karena itu dengan segala pertimbangan yang ada, kami memutuskan untuk memberimu pada penyanyi pria yang memiliki rentang oktaf lebar. Kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi di agensi ini—penyanyi pria membimbing penyanyi wanita—, tapi kami tak punya pilihan lain.” Direktur melanjutkan perkataannya sembari menunjuk masing-masing foto yang terpampang di depan mataku, “TVXQ Changmin, Super Junior Ryeowook, EXO Chen. Hanya mereka bertiga penyanyi pria yang memiliki rentang oktaf lebar di agensi ini.” Direktur melipat tangannya sambil memandangku misterius, senyumnya melebar ke samping kiri wajahnya, “Di antara mereka bertiga, yang mana yang kau inginkan untuk membimbing vokalmu?”
Aku memperhatikan ketiga foto itu sambil berpikir keras. Dimulai dari foto yang paling kiri, TVXQ Changmin, Max Changmin, Shim Changmin, orang yang menjadi bias-ku dulu saat aku masih menjadi Cassiopeia junior. Sosoknya jarang aku lihat di kantor, tapi tak diragukan lagi dia adalah laki-laki yang memiliki oktaf tertinggi yang aku tahu. Pernah suatu kali aku mencoba mengambil bagian teriakannya di lagu ‘Rising Sun’ dan aku rasa aku hampir merobek pita suaraku. Suaraku alto, tak akan bisa meraih nada itu, aku tahu batas kemampuanku. Mungkin pita suaranya itu berkah dari Tuhan yang tak bisa dibagi padaku.
Aku berpaling ke foto selanjutnya, Super Junior Ryeowook. Termasuk salah satu pria dengan vokal tinggi, namun tentu saja dia juga bisa mengambil nada rendah. Aku pernah mencoba menyanyikan bagian terendahnya di salah satu lagu Super Junior yang aku lupa judulnya apa dan aku tak mendapatkan kesulitan apapun saat menyanyikannya. Nada tertingginya juga tidak terlalu susah, masih di dalam range oktaf-ku. Kalau mau jujur, sunbae yang satu ini adalah kandidat terlemah di antara tiga orang yang ditawarkan direktur.
Keningku berkerut, ada yang kurang dari foto-foto ini. Aku tahu penyanyi pria lain yang memiliki range oktaf lebar di agensi ini. Penyanyi boyband SM yang debut setelah Super Junior dan sebelum EXO.
“Kenapa SHINee Jonghyun—“
“Tidak. Warna suaranya beda denganmu.” Direktur langsung memotongku. Aku mengeluarkan ‘ah’ pelan sambil mengangguk. Tatapanku kembali tertuju ke atas meja. Tentu saja, agensi pasti paling tahu siapa yang terbaik untukku, batinku.
Pandanganku berpaling ke foto terakhir. EXO Chen. Lead vokal di boyband yang sampai sekarang adalah boyband terakhir diterbitkan agensi. Usianya setahun di atasku. Suaranya tinggi, mungkin hampir sama dengan Changmin meski aku tak pernah membandingkan mereka. Dia juga bisa mencapai nada rendah, aku pernah melihatnya di salah satu Reality Show mereka. Nada itu belum pernah aku coba, terlalu rendah untuk vokalku yang alto.
Aku mengambil napas panjang dan menghembuskannya. Kuperhatikan lagi ketiga foto itu. Pilihan berat. Changmin sunbae memiliki oktaf yang terlalu tinggi, dia juga sudah lama menjadi artis, sudah pasti profesional. Bahkan hingga kini agensi masih mengagungkan mereka, baik para direktur maupun para staff. Levelnya terlalu tinggi untukku tapi aku ingin belajar darinya.
Ryeowook sunbae. Hmm.. aku sering mendengar bahwa dia adalah orang yang ramah dan sabar. Kepribadiannya lembut. Dia pernah menjawab salamku saat aku berpapasan dengannya dan menyapanya di kantor. Sebelumnya tak pernah sunbae lain membalas salamku, dia adalah yang pertama. Tapi sekarang, di sini, aku tak boleh subjektif. Aku membutuhkan guru untuk vokalku. Aku tak bilang kalau Ryeowook sunbae memiliki vokal lemah, tapi dibandingkan dengan dua orang lain yang ditawarkan direktur, aku tak mau bohong bahwa aku menginginkan guru yang memiliki range oktaf lebih lebar agar bisa membimbingku.
Chen sunbae yang belum lama debut dan memiliki usia yang tak jauh dariku adalah kandidat yang paling kuat jika dilihat secara personal. Tapi aku sedikit ragu untuk memilihnya. Dia adalah yang paling muda dan kurasa dia belum memiliki pengalaman membimbing vokal orang lain. Aku dengar, dia juga dibimbing oleh Ryeowook sunbae, tapi aku tahu bahwa range oktafnya lebih lebar daripada gurunya sendiri.
Aku menggigit bibir bawahku. Masih banyak pertimbangan lain yang memenuhi kepalaku. Mataku terus beralih dari foto satu ke foto yang lain.
“Bagaimana, Yoonmi-ssi? Siapa yang kau inginkan menjadi gurumu?” Tanya direktur lagi.
Aku tak punya banyak waktu dan harus segera memutuskan. Aku menatap tiga foto itu lagi dan menguatkan hatiku. Aku menarik napas panjang lagi agar membantuku yakin akan pilihanku. Setelah menghembuskannya perlahan, aku menengadah kepada direktur. Dan dengan tatapan yakin, aku menjawab lantang, “Chen. Saya memilih EXO Chen sebagai guru pembimbing vokal saya.”
***
Direktur tersenyum setelah mendengar jawabanku. Beliau kemudian membereskan ketiga foto tersebut dan meletakkannya kembali ke dalam laci meja kerjanya.
“Kau akan mulai bimbingan besok sore. Kami akan memberitahu Chen. Waktu dan tempat bimbingan akan kami beritahu selanjutnya. Tugasmu hanyalah mempersiapkan diri dan mental. Jika member-mu mendengar tentang hal ini, bisa jadi mereka iri padamu. Seperti yang aku bilang sebelumnya, kau penyanyi wanita pertama yang dibimbing penyanyi pria di agensi ini. Karena itu, kau harus menjaga hubungan baik dengan para member-mu. Kami tak ingin mendengar ada perseteruan di antara kalian bahkan sebelum kalian debut. Kalau kau sudah mengerti semua, kau boleh kembali ke ruang latihan.”
Aku mengangguk tanda mengerti dan berdiri dari tempat dudukku. Dengan sedikit membungkuk, aku pamit dan keluar dari ruangan direktur. Aku menghembuskan napas berat saat pintu menutup pelan di belakangku. Sambil berjalan pelan menuju ruang latihan, aku berpikir mengenai member grupku. Seul eonni, dia suka Luhan sunbae dan mereka cukup dekat. Songyi si maknae pernah bilang padaku kalau dia cukup menyukai D.O dan sejauh yang aku ingat, Byul eonni dan Hyera eonni tak pernah membicarakan tentang EXO sebelumnya. Mereka lebih tertarik dengan idol dari agensi lain.
Sementara aku? Aku suka Chen. Aku sudah menyukainya bahkan jauh sebelum aku ikut audisi agensi ini dan terpilih masuk sebagai salah satu trainee. Saat aku memilihnya tadi, aku bohong bahwa aku memilih mereka berdasarkan pemilihan objektif, memilih hanya demi mengasah kemampuan vokalku dengan guru yang kurasa cocok. Changmin memang bias-ku, tapi itu lima tahun yang lalu. Saat EXO mengadakan showcase, mataku langsung terpaku pada Kim Jongdae. Aku sudah gila kalau tidak memilihnya.
Pintu ruang latihan sudah berada di depanku. Direktur benar, aku harus mempersiapkan mentalku. Bukan untuk mengatasi member grup-ku, hal kecil itu bisa aku atasi, tapi untuk menata jantungku besok. Membayangkan hanya berdua dengan Jongdae di ruangan tertutup, hanya ada aku dan dia. Senyumku tak bisa kutahan.
Aku berdeham, menghirup napas dalam dan menghembuskannya untuk menenangkan emosiku. Kubuka pintu ruang latihan perlahan dan melihat keempat member grupku sedang duduk sambil membentuk lingkaran. Aku tersenyum pada mereka seolah tak terjadi apa-apa. Aku tak bisa memberitahu mereka tentang hal ini sekarang. Belum saatnya.
= = =
(tbc)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s