FF/Trainee (part2)

= Trainee =

Title: Trainee
Part: 2

Cast:
– Ha Yoonmi (OC, main cast)
– EXO Chen
– SM artists
– Other casts are OC

POV: Main cast (Yoonmi)

= = =
Aku menengadah ke jam dinding. Pukul 14.32. Masih 28 menit lagi dari waktu bimbingan vokal pertamaku. Aku meletakkan kedua tanganku di pinggang, melemparkan pandangan dari meja ke kasurku. Kemudian aku mulai mondar-mandir lagi. Sudah lima belas menit aku gelisah seperti ini di kamarku. Aku keluarkan handphone-ku dari kantong celana untuk memeriksa kembali sms yang aku terima siang tadi.

Yoonmi-ssi, bimbingan vokal anda akan dimulai pukul 15.00 hari ini. Latihan akan berlangsung selama 45 menit. Silakan datang ke ruang latihan 407 sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Aku perhatikan kembali sms itu. Pukul 15.00. Aku menengadah ke jam dinding lagi. 14.34. aku melihat layar handphone-ku lagi. Ruang latihan 407, berarti lantai empat. Aku sering melewati ruang latihan itu meski aku belum pernah masuk ke dalamnya. Aku meletakkan handphone-ku di atas meja kemudian menyambar tasku dan melihat ke dalamnya. Buku musik, sudah. Buku catatan, sudah. Alat tulis, sudah. Apa lagi yang aku butuhkan? Aku berhenti sebentar sambil melihat dinding untuk mengingat apa yang aku lupakan. Ah, air! Tapi tunggu, memangnya di ruang latihan boleh membawa air?
Aku berjalan keluar kamar. Byul dan Hyera eonni sedang mengobrol di ruang tengah, mungkin aku bisa bertanya pada mereka.
“Eonni~ Di ruang latihan boleh bawa air, tidak?” tanyaku pada mereka.
“Bawa saja,” jawab Byul eonni acuh tak acuh.
“Oke”
Aku berjalan kembali ke dalam kamar. Saat aku menutup pintu kamar, aku lirik sekilas jam dinding. 14.44. Dari dorm kami ke kantor paling hanya butuh 4 menit. Kalau aku ke mini market sebentar, mungkin tambah 3 menit, waktu total 7 menit. Saat sampai di sana aku akan tiba tepat waktu. Tapi sebaiknya aku cepat-cepat.
Aku langsung menyambar tasku dan bergegas keluar.
“Aku pergi dulu” ujarku sekilas kepada Byul eonni dan Hyera eonni.
Palli gatta wa~ (cepat kembali)” kata Hyera eonni.
“Ne~,” jawabku sambil tersenyum.
Hatiku semakin gelisah seiring langkahku menuju kantor.
Nanti aku akan berdua dengan Chen selama 45 menit. Berdua dengan Chen. Dengan Chen. Kyaa~!!
Aku menunduk agar tidak ketahuan sedang senyum-senyum sendiri oleh para pejalan kaki yang berpapasan denganku. Kemudian aku menertawai diriku sendiri. Dasar babo! Batinku sambil menjitak kepalaku.
Aku masuk ke mini market di dekat dorm kami, langsung menuju lemari pendingin dan menyambar salah satu botol air mineral di sana. Hanya ada satu pengunjung yang sedang membayar belanjaannya di kasir saat aku ikut mengantri. Mataku membelalak melihat belanjaannya. Satu keranjang penuh! Aku mengeluh dalam hati. Kalau begini bisa-bisa aku terlambat. Dengan alis berkerut, aku merogoh kantong celanaku untuk melihat jam di handphone. Handphone-ku tidak ada di kantong kanan, aku mencoba merogoh yang kiri. Juga tidak ada.
Di mana handphone-ku?
Aku makin gelisah merogoh kantong jaketku, mengaduk-aduk tasku. Tidak ada.
Tunggu. Aku mencoba mengingat-ingat lagi. Tadi aku selama berjalan ke sini tidak mengeluarkan handphone, di lift turun tadi juga aku tidak mengeluarkan handphone. Saat keluar rumah dan pamit tadi juga tidak. Saat di kamar… Ah! Handphone-ku aku taruh di atas meja di kamar!
Aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku se-babo ini, sih? Aku mengeluh pelan dan semakin tak sabar menunggu orang dengan belanjaannya di depanku ini.
Saat aku selesai membayar air mineral-ku, aku langsung berlari kembali ke dorm. Lift rasanya lambat sekali naik ke atas. Aku mengetuk-ketukkan kakiku ke lantai tak sabar. Akhirnya pintu lift terbuka dan aku langsung berlari ke pintu dorm kami.
Dengan terburu-buru aku membuka pintu setelah menekan tombol password, masuk ke dalam, dan aku berteriak. Byul eonni dan Hyera eonni sedang berciuman ketika aku masuk.
“Mwoya??” teriakku kaget. Di depan mataku, mereka berdua sudah melepaskan pelukan.
“Ani—Yoonmi—ini tidak seperti yang kau pikirkan—“ Hyera eonni mulai bicara, tapi kemudian berhenti setelah aku mengangkat tanganku agar dia berhenti.
“Nanti saja penjelasannya. Anggap saja aku tak lihat, oke?” aku yang kembali sadar tujuanku awalku kembali ke dorm segera menghambur ke dalam kamar dan menyambar handphone-ku. Jarum panjang di dinding sudah menunjukkan angka 12, tanda sudah pukul 15.00. Sial aku terlambat!
Aku berlari lagi keluar dorm, sengaja tak mau melihat dua eonni yang sudah aku kenal selama 6 bulan itu. Selama menunggu lift sampai ke lantai bawah, aku mulai memutar kembali kejadian yang aku lihat tadi. Jadi mereka lesbian??
Ting!
Pintu lift terbuka dan aku langsung menghambur ke luar dan kembali mulai berlari. Nanti saja memikirkan mereka, keadaanku sekarang lebih penting!
***
Aku mengatur napasku. Sekarang nomor ruang 407 sudah tertera di depanku. Aku melihat layar handphone yang dari tadi tak aku lepas dari tanganku. 15.03. aku menempelkan telingaku ke pintu kayu itu. Tak terdengar apapun.
Tentu saja, babo, ruang latihan kan kedap suara!, batinku menyalahkan diri sendiri.
Baiklah, aku akan masuk sekarang. Sambil menatap karpet di bawahku, aku menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan dan mengetuk pintu di depanku tiga kali.
= = =
(tbc)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s