Archives

FF/Taemin’s Diary (Noona on Phone)

= Taemin’s Diary =

SubTitle: Noona on Phone

Author’s note: Sequel of Nuna’s Diary page 146-153 Special Nuna’s 20th Birthday. Taemin’s point of view. Enjoy! 🙂

= = =

Ctak!!
Bahkan suara gelas yang kutaruh kembali di atas meja bergema di dalam ruangan. Sepi sekali.
Aku menyeret langkahku menuju kamar.
Di kamar, aku menghempaskan tubuhku di kasur. Badanku terpantul dua kali sebelum akhirnya guncangan di kasur benar-benar berhenti. Sambil memberengutkan bibir, aku menatap langit-langit kamarku. Aku menghembuskan napas panjang dan menjadikan kedua tanganku sebagai bantal.
Nuna baru pergi seminggu tapi rasanya sudah lama sekali bagiku. Dan selama tujuh hari belakangan ini nuna juga belum pernah menelponku sekali pun. Apa nuna benar-benar sesibuk itu?
Aku mengambil handphone-ku yang berada di atas meja belajarku di samping kasur. Meja itu sudah jarang sekali aku pakai akhir-akhir ini.
Tanganku seperti tidak perlu disuruh lagi mencari nama nuna di kontakku. Sepertinya tanganku sudah terbiasa, tanpa aku sadari aku sudah melihat nama nuna di depan mataku.
Telpon tidak, ya?, tanyaku dalam hati.
Tapi mungkin saja telponku malah membuat nuna repot.
Ah, tidak usah saja.
Aku menekan tombol ‘back’ dan aku langsung bisa melihat nuna yang sedang tersenyum. Aku memasang foto nuna sebagai wallpaper handphone-ku segera setelah nuna pergi minggu lalu. Sengaja. Kalau aku rindu paling tidak aku tinggal lihat handphone.
Semakin melihat wajah nuna, rasa rinduku makin kuat.
Tapi aku rindu~~, erangku sendiri dalam hati.
Lagi-lagi nama nuna di kontak terpampang di depan mataku.
Tidak, tidak. Tidak boleh. Aku pasti mengganggu nuna.
Aku meletakkan kembali handphone-ku di atas meja. Kalau aku pegang lama-lama aku takut tanpa sadar aku jadi malah menelpon nuna.
Aku menghembuskan napas panjang lagi. Ternyata sesulit ini hidupku tanpa nuna. Sudah dua hari berturut-turut aku hanya makan ramyeon. Aku malas masak. Masak juga tidak enak, aku tidak pandai. Masakanku tak pernah seenak masakan nuna.
“haah~” aku mendesah sendiri. Ingin menangis rasanya. Tapi aku laki-laki, masa menangis sendirian hanya gara-gara ditinggal nuna.
Tidak boleh menangis, taeminie! Kau kuat! Seperti kata nuna!
Aku mencoba meyakinkan diri sendiri.
Percuma, taeminie. Airmatamu bahkan sudah mengalir. Babo.
Aku tersenyum miris.
Nuna salah. Aku tidak kuat, nuna. Nuna salah.
Dalam keadaan begini, aku jadi ingin membayangkan kira-kira apa kata nuna kalau nuna tahu aku sedang menangis.
Mungkin nuna akan menghapus air mataku sambil bilang, “jangan menangis…” Kemudian nuna akan memelukku. Lalu aku akan cium nuna, lalu buka baju nuna—
Stop, stop! Mungkin memang pikiranku kotor, seperti apa yang nuna bilang.
Nuna.
Aku ingin mengulangnya berkali-kali.
Nuna nuna nuna nuna nuna.
Ah, sial. Aku jadi tambah rindu.
Aku menampar pipiku sendiri sebelum akhirnya duduk, menyambar handphone-ku dan berjalan ke kamar nuna. Malam ini aku ingin tidur di sana saja. Nuna sengaja tidak mengunci pintu kamarnya.
“barangkali kau mau tidur di kamarku.” Kata nuna waktu itu.
Dengan hati-hati aku naik ke kasur nuna. Aku takut aroma nuna akan hilang kalau aku menghempaskan badanku. Padahal aku suka sekali menghempaskan badan ke kasur.
Aku menempelkan bantal yang biasanya nuna pakai ke hidungku.
Aroma nuna… Hmm…
Tanpa sadar aku tersenyum sendiri.
“nuna-ku~~” aku memeluk bantal itu erat-erat. Tapi kemudian nyengir lebar. Aku bisa membayangkan apa yang akan nuna katakan kalau melihatku seperti ini. Mungkin nuna akan bilang, “taeminie, kau gila,” atau, “taeminie, kau membuatku takut,” atau mungkin, “taeminie kau imut. Buka bajumu.”
Hehe. Ternyata pikiranku benar-benar kotor.
Aku akan tidur sambil memeluk bantal ini setiap malam sampai nuna pulang, pikirku.
Berbaring sambil menghirup aroma nuna begini membuat aku mengantuk. Aku sudah menutup mata ketika tiba-tiba handphone-ku bunyi.
Mataku langsung terbuka dan tiba-tiba jantungku berdetak cepat. Dengan sigap aku menyambar handphone-ku dan melihat layarnya.
Nuna!
“NUNA!!” aku langsung berteriak begitu menempelkan handphone-ku ke telingaku. Kantukku hilang sama sekali.
“ya ampun, taeminie, kau membuat telingaku sakit!” Ujar nuna dari ujung telpon.
Mataku langsung berair begitu mendengar suara itu. Suara nuna-ku. Suara yang sama seperti yang terakhir kudengar minggu lalu.
“nuna lama sekali tidak menelponku! Sudah seminggu!” aku langsung protes, tak mau meneruskan rasa sedihku. Bisa-bisa aku hanya menangis saja sambil menempelkan handphone di telinga nanti.
“aku kan sudah bilang akan sangat sibuk sekali..” bantah nuna.
Hanya mendengar suaranya saja bisa membuatku tersenyum begini.
“ne, arasseo. Aku ingat, kok.” Ujarku pelan.
“kau sehat?” tanya nuna.
“eung! Nuna sehat?” tanyaku antusias. Sepertinya apapun tentang nuna akan membuatku antusias sekarang.
“eung,” jawab nuna seadanya, “tidak nangis, ‘kan?”
Aku terdiam sebentar.
“tidak kok!” jawabku sok tegar, “aku kan kuat!”
Taeminie, kau bohong, aku mengingatkan diriku sendiri dalam hati.
“bagus. Kau tidak makan ramyeon terus, ‘kan?” tanya nuna lagi.
Aku menelan ludahku.
Bagaimana nuna tahu??
“nuna tidak makan ramyeon terus, ‘kan?” aku mengulang pertanyaan nuna. Sengaja.
“taeminie~?” nuna memanggil namaku dengan nada curiga. Oh, aku rindu sekali nada itu. Mataku berair lagi.
“ne~?” aku mengulang nada yang sama. Senyumku tak bisa aku tahan. Nuna! Aku rindu nuna!
“taeminie, jangan mengalihkan pembicaraan. Kau tidak makan ramyeon terus, ‘kan?” suara nuna sudah berubah dalam, tanda kalau nuna serius.
Aku mengerucutkan bibir.
“aku tidak pandai masak seenak nuna~” ujarku pelan, sengaja tidak mengatakan poin utama kalau aku memang makan ramyeon terus. Tapi pasti nuna tak akan berhenti sampai di sini saja. Aku tak pernah menang dari nuna kalau untuk hal seperti ini.
“jadi kau makan ramyeon saja, begitu?” nada nuna berubah kesal.
Tuh kan, apa aku bilang…
“eung…” aku menjawab dengan suara pelan. Pelaaaaan sekali.
“taeminie~?” nuna memanggil namaku lagi. Nada curiga yang sama.
“ne, nuna, aku makan ramyeon terus dua hari ini, mianhae~” ujarku akhirnya.
“bukan ‘mianhae’! Kau harusnya bisa menjaga dirimu sendiri! Jangan makan ramyeon lagi!” nuna membentakku dari ujung sana. Ya ampun, lewat telpon nuna juga bisa marah-marah begini.
“ne, arasseong~” sengaja aku menambah ‘ng’ di belakang agar terdengar imut. Tapi aku benar-benar merasa bersalah. “nuna, aku rindu.” Ujarku akhirnya. Aku tak bisa tidak mengatakannya.
“aku juga” ujar nuna dari seberang.
“aku sedang tidur di kasur nuna, peluk bantal nuna, aroma nuna masih tertinggal. Hehe.” Ujarku jujur. Kupeluk bantal nuna lebih erat.
Ada jeda sebentar sebelum nuna kembali bicara.
“jangan menodai bantalku dengan air liurmu.” Kata nuna akhirnya.
“nuna! aku tak pernah begitu! Nuna nakal sekali!” aku protes. Aku mendorong bantal nuna menjauh, tapi sedetik kemudian memeluknya lagi.
“hahaha,” suara tawa nuna terdengar dari ujung sana. Aku juga ikut tersenyum.
“nuna tidak tidur? tidak capek?” tanyaku.
“mm.. aku belum ngantuk. Kau sudah mau tidur?” nuna malah bertanya balik.
“tadi aku hampir tidur saat telpon nuna datang. Lalu kantukku hilang begitu saja.” terangku.
“mian…” ujar nuna lemah.
“aku senang kok nuna menelpon. Pasti aku mimpi indah malam ini.” ujarku meyakinkan nuna.
“hehe.” Nuna tertawa pelan di ujung sana. “kau tahan berapa jam?” tanya nuna tiba-tiba.
“maksud nuna?” ujarku bingung.
Mungkin memang dasar pikiranku yang kotor, perkataan nuna tadi sedikit yadong, menurutku. Ah, mungkin memang pemikiranku saja.
“kau tahan berapa jam menelpon?” tanya nuna lagi, “sepertinya aku benar-benar rindu padamu.”
Suara nuna makin lama makin kecil dan entah kenapa terdengar malu-malu. Tapi aku hampir melonjak girang karena kata-kata nuna itu. Dari satu kalimat itu saja aku sudah bisa meyakinkan diriku kalau ternyata rasa rindu nuna sebesar rasa rinduku. Ya ampun, aku jadi ingin mencium nuna sekarang.
“sampai pagi juga boleh” jawabku jujur. Mataku sudah menyipit karena senyumku yang terlalu lebar.
“nanti kau jadi tak bisa mimpi indah kalau sampai pagi…” nuna mengingatkan.
Oh, iya ya.
”gwaenchanha,” ujarku, “tapi memangnya nuna tidak apa-apa kalau sampai pagi? Nuna kan juga harus istirahat..” Kali ini aku yang mengingatkan nuna. Entah kenapa aku merasa jadi adik yang baik. Hihi.
“aku tidak apa-apa. Sepertinya besok aku tidak terlalu sibuk,” balas nuna, “aku malah khawatir padamu. Memangnya kau bisa terus terjaga sampai pagi?”
Sepertinya nuna serius mau terus ngobrol denganku sampai pagi. Dan aku juga sebenarnya tidak yakin tidak tertidur tiba-tiba saat nuna masih bicara.
“mm.. kalau begitu, nuna, kalau suaraku sudah tidak terdengar lagi, tandanya aku sudah tertidur, oke?” tawarku. Yah, paling tidak suara yang aku dengar terakhir kali sebelum aku tidur malam ini adalah suara nuna-ku.
Tawa nuna terdengar lagi setelah itu.
“baiklah..” kata nuna kemudian, “jadi bagaimana hari-harimu selama aku tinggal?”
Kami terus mengobrol tentang banyak hal. Aku malah kaget sendiri. Di telpon, nuna membicarakan hal yang tidak pernah kami bicarakan saat bertemu muka.
“hah? Memangnya nuna ukuran berapa?” tanyaku antusias. Aku peluk bantal nuna lebih kuat di antara kedua kakiku.
Tahu apa yang kami bicarakan? Ukuran bra nuna!
“mm.. menurutmu?” nuna malah memancing.
Aku berpikir sebentar. Dulu pernah sih aku lihat bra nuna, tapi saat itu aku masih belum mengerti mengenai ukuran bra. Saat aku sudah mengerti, aku malah malu untuk melihat bra nuna yang sedang ada di tumpukan kain kotor.
“mm.. aku tidak tahu mengenai ukuran bra,” ujarku jujur, mataku beralih ke celana panjang yang kugantung di belakang pintu, “sama dengan ukuran celana, tidak, nuna?”
“hahaha, ya ampun, taeminie. Tidak! Tentu saja tidak sama! Hahaha! Ya sudah, nanti kalau aku beli bra, kau akan aku ajak.”
Mataku melebar. Aku membayangkan berdiri di antara lautan bra. Hahaha. Kai pasti iri padaku.
“jinjja?? Nuna mau ajak aku??” tanyaku memastikan.
“Tidak, aku hanya bercanda. Hahaha!” Jawab nuna cepat.
Senyumku langsung hilang.
Tak hanya tentang nuna, kami juga membicarakan mengenai diriku. Hal yang pribadi sekali malah.
“memangnya kapan saja itumu bisa berdiri?” tanya nuna, tak berapa lama berselang dari pembicaraan mengenai bra itu.
Lihat? Sudah tahu apa yang kira-kira kami bicarakan sekarang? Benar. ‘Adik’ku.
Nuna santai sekali membicarakan masalah itu. Aku jadi ngeri sendiri.
“yaa, bisa kapan saja” jawabku ragu.
Aduh, nuna~ dengan bicara begini saja hal itu bisa terjadi~, rengekku dalam hati.
“kalau sekarang?” pancing nuna.
GLEK.
Aku melihat ke bawah.
Tuh, kan… ya ampun nuna-ku…
“eung…” aku hanya bergumam pelan.
“HAHAHA!” tawa nuna lepas saat itu juga. Sepertinya nuna tahu. Ah, ya sudahlah.
“nuna nakal~!” aku akhirnya merengek juga.
Kami terus mengobrol sampai larut malam. Kadang-kadang kami berhenti sebentar, hanya memanggil nama masing-masing. Dan hanya dengan memanggil nama nuna saja bisa membuatku rindu setengah mati, apalagi kalau nuna memanggil namaku.
“taeminie?” nuna memanggilku lagi setelah aku lama terdiam.
“m?” aku hanya merespon seadanya.
“kau tidur?” tanya nuna. Nada nuna terdengar khawatir.
“ani. Tidak, tidak, nuna, aku tidak tidur.” jawabku cepat.
“oh, kukira kau tidur..” suara nuna melemah.
“tidak, nuna~” ujarku lembut.
Aku merasa senang. Padahal cuma suara, tapi aku seperti bisa menjaga nuna. Nuna terdengar lebih manja dan lebih kekanakan daripada aku di telpon. Tahu begini dari dulu saja aku sering-sering telpon nuna. Aku baru sadar, baru kali ini kami menelpon selama ini. Mungkin karena kami selalu tinggal serumah.
Hal-hal sepele juga nuna bicarakan seperti, “Kau sudah potong kuku belum, taeminie?”, atau “Di dekat sini ada yang punya bayi. Imutnya sama denganmu, hihi”, dan “Kemarin saat teman-temanku melihat foto-foto di handphone-ku, mereka melihat fotomu. Kata mereka kau tampan. Besok-besok aku akan memberi password handphone-ku agar mereka tak bisa lihat sembarangan. Haha!”
Aku menangkap sinyal kecemburuan dari kalimat yang terakhir. Hehe.
Aku senang. Mungkin ini rasanya jadi pacar nuna, mendengarkan celotehan nuna sementara aku berbaring di kasur seperti ini, membayangkan apa yang sedang dilakukan nuna sambil bercerita padaku dari sana.
Kami terus mengobrol. Dan semakin malam, aku semakin mengantuk.
“nuna” panggilku setelah beberapa detik kami sama-sama terdiam.
“hm?”
“kupingku panas.” ujarku jujur.
“kupingku juga.”
Aku melirik jam dinding di kamar nuna. Tentu saja kuping kami panas, kami sudah menelpon lebih dari empat jam dari tadi.
“sudahi saja, yuk. Mulutku kering lama-lama ngobrol begini.” Kata nuna lagi.
“mau aku basahi pakai liurku?” tanyaku iseng.
“mana sini?” respon nuna di luar perkiraanku.
“nuna curang! Kalau jauh baru mau aku cium. Huu~” protesku.
Tawa nuna terdengar lagi.
“pokoknya nanti kalau nuna pulang, jangan marah kalau aku langsung cium ya, nuna” ujarku lagi.
Nuna tidak menjawabnya. Yang kudengar hanya suara tawa kecil saja. Tapi aku anggap itu sebagai kata ‘iya’.
Aku menguap. Sepertinya aku benar-benar mengantuk.
“kapan nuna akan menelponku lagi?” tanyaku.
“molla. Mungkin besok?” ujar nuna tak yakin.
“jinjja??” mataku langsung melebar girang.
“ne, besok pagi aku akan menelpon untuk mengingatkanmu agar tidak sarapan dengan ramyeon lagi.” jelas nuna kemudian.
Aku langsung memberengut.
“ne, nunim~ algesseumnida.” Aku sengaja membuat-buat suaraku, “aku akan tunggu telpon nuna besok.”
Aku tersenyum lagi. Besok aku bisa mendengar suara nuna lagi!
“geurae. Sepertinya kau masih sempat mimpi indah.” Kata nuna lagi.
“eung! Nuna juga mimpikan aku ya~”
“ne, hahaha”
“nuna?”
“eung?”
Aku tersenyum lagi. Yang satu ini tak mungkin aku melewatkannya.
“ppoppo?” pintaku.
“ccuk!” nuna membalas cepat.
Aku tersenyum senang.
“yang panjang?” pintaku lagi.
“ccuuuu~~~~kk!!!”
Cengiranku makin lebar mendengarnya. Kalau nuna ada di depanku sekarang, aku akan mencium nuna dan tidak akan melepaskannya.
“ccuuk~!!” aku juga memberikan ppoppo pada nuna, “jal ja, nuna!”
“jal ja, taeminie~”
“ccuk!” aku memberi ppoppo di detik terakhir.
“haha, ccuk!”
Kemudian telpon terputus.
Aku masih terus memandang layar handphone-ku sendiri bermenit-menit setelahnya. Sedikitnya rasa rinduku sudah terhapus.
Aku memeluk bantal nuna lebih erat dan kembali mencoba memejamkan mataku seperti empat jam yang lalu.
Nuna, saranghae.

= = =

FF/Somewhere Somewhen with Taemin

= Somewhere Somewhen with Taemin =

Random Nuna & Taemin Story

= = =

“kau capek?” tanyaku pelan.

Taemin bergumam dan mengangguk pelan sebagai jawaban.

Entah apa yang merasukiku hingga membiarkannya meletakkan kepalanya di atas dadaku. Aku bersandar ke dinding dan dia duduk di depanku, saat dia menjatuhkan tubuhnya tadi, letak kepalanya tepat di atas dadaku. Entahlah, sepertinya dia menjadikan itu sebagai bantal.

“berat tidak, nuna?” tanyanya setengah tak sadar.

Aku menggeleng, tapi langsung menyadari kalau taemin sedang menutup mata dan tak mungkin bisa melihatku, “aniya” kataku kemudian.

Setelah itu kami diam. Taemin tetap pada posisinya sekarang, meletakkan kepalanya di atas dadaku. Dan aku hanya terpaku menatap langit-langit ruangan itu.

Setelah beberapa lama, kepala taemin terasa semakin berat. Aku jadi sedikit susah bernapas.

Tiba-tiba taemin mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata yang setengah terpejam. Lalu dia menciumku.

“ck!”

Ciuman itu berakhir dengan cepat.

“kenapa kau menciumku?” tanyaku.

“nuna jadi susah bernapas karena menahan kepalaku, jadi aku memberikan napas buatan” jawab taemin polos, masih dengan keadaan setengah sadar.

“buh” aku mendengus dan tersenyum melihatnya. Bahkan dalam keadaan seperti ini dia masih terlihat imut.

Aku menarik taemin lebih dekat dan meletakkan kepalanya di atas pundakku.

“tidurlah.” Suruhku dengan lembut.

Taemin tak menjawab. Dia hanya melingkarkan tangannya di pinggangku dan mulai mendengkur.

= = =

FF/Days with Taemin

= Days with Taemin =

Daily Nuna & Taemin Dialogues

= = =

“nuna”

“ne?”

“aku ada pertanyaan”

“tanya saja”

“kalau nuna bertemu dengan orang yang menghinaku, apa yang akan nuna lakukan?”

“di detik itu juga, di depan orang itu, aku akan mengatakan bahwa kau tak seburuk yang mereka pikirkan.”

“hehe~ satu lagi, nuna. Kalau nuna cemburu padaku, apa yang akan nuna lakukan?”

“aku akan kiseu kau”

“wow, senangnya. Memangnya nuna tak marah padaku kalau aku dekat dengan yeoja lain?”

“cemburu, bukan marah. Kau tanya kalau aku cemburu tadi kan?”

“ne. tapi kenapa nuna malah kiseu aku?”

“karena dengan begitu aku meyakinkan diriku sendiri kalau yang lebih dekat denganmu itu aku. Yeoja lain boleh saja mendapat senyummu, tapi aku bisa mendapatkan lebih dari senyummu karena yang memiliki kau itu aku.”

“nuna posesif sekali.”

“biar saja.”

“nuna tanya aku juga dong~”

“kalau kau cemburu padaku, apa yang akan kau lakukan?”

“aku akan marah pada nuna.”

“kalau kau bertemu orang yang menghinaku, apa yang akan kau lakukan?”

“aku akan peluk nuna”

“kau tidak marah pada orang itu?”

“tentu saja marah”

“lalu kenapa kau hanya peluk aku? Kau tidak mau menghajar orang itu?”

“tidak”

“kenapa?”

“karena nuna-ku tak pernah mengajarkanku menyakiti orang lain”

“taeminie”

“ne?”

“aku sayang padamu”

= = =