FF/S/Nuna’s Diary (page 163-168) Special Taemin’s 20th birthday

= Nuna’s Diary =

page: 161-162 (special Taemin’s 20th birthday)
Cast:
– Nuna
– Taemin

Genre: Family, Incest

= = =
Pintu depan tertutup di belakangku.
“aku pulang~” ujarku lemah sambil melepaskan sepatu. Taemin sedang duduk di atas sofa, sedang melakukan sesuatu dengan handphone-nya—entah sedang apa. Dia tidak menoleh sedikitpun padaku. Aku sedikit kecewa. Padahal aku berharap mendapat senyumannya begitu aku masuk ke dalam rumah.
“taeminie, aku pulang~” ujarku lagi. Taemin langsung menoleh.
“eo! Wasseo? Nuna sudah pulang?”
Sedetik saja rasa kecewaku langsung hilang karena melihat senyumnya. Lucu sekali.
“ne~ capek sekali~” keluhku sambil duduk di sebelahnya. Aku lepas tas pundakku dan kuletakkan begitu saja di lantai. Aku lalu menyelonjorkan kakiku dan kurebahkan kepalaku pada sandaran sofa di sebelah kiriku. Dengan sudut mata, aku melirik jam dinding di atas televisi. Ulang tahun taemin kurang dari satu jam lagi.
“di sini saja, nuna~” tiba-tiba taemin menarikku dan merebahkan kepalaku di atas pangkuannya. Suaranya barusan terdengar dewasa. Aku jadi was-was. Posisi kepalaku dekat sekali dengan…
“tidak, di sini saja” aku kembali memindahkan kepalaku ke kiri, kembali berbantalkan sandaran sofa. Bahaya sekali rasanya tadi. Jantungku masih berdebar.
“di sini saja~!” kali ini taemin menarikku dengan sedikit merengek. Kepalaku sekarang kembali berada di atas pangkuannya, “bogo shipheo~” ujarnya lagi. Aku tersenyum mendengarnya. Kalau dia aegyo begini aku sama sekali tak khawatir, tapi kalau suaranya dewasa seperti yang tadi beda lagi ceritanya.
“kan aku sudah di sini sekarang” ujarku.
“tapi tetap saja aku masih rindu~~” bantah taemin. Tangannya yang berada di lenganku terasa canggung. Mungkin dia mau memelukku, tapi bingung karena keadaanku sekarang sedang berada di atas pangkuannya.
“taeminie, aku haus. Bisa ambilkan minum?” pintaku sambil menegakkan badan. Taemin langsung tersenyum dan mengangguk.
Aku melihat jam lagi. Waktu ulang tahun taemin makin dekat.
Taemin datang dengan membawa sebotol kecil banana uyu di tangannya. Dia kemudian duduk lagi di sebelahku, menancapkan sedotan di bagian atas botol susu dan kemudian meminumnya. Aku kaget sekaligus bingung. Kukira susu itu diambilkannya untukku.
“ini, nuna” tiba-tiba taemin menyerahkan botol susu tersebut padaku. Aku mengambil botol itu. Taemin hanya minum sedikit, botol susu itu masih terasa berat di tanganku. Dan satu lagi, susunya dingin seperti baru diambil dari kulkas. Padahal tenggorokanku sedang sakit dan aku sedang tidak ingin minum yang dingin-dingin sekarang. Tapi tidak enak rasanya kalau menolak susu yang sudah diambilkannya untukku itu.
“kalau kau haus juga kenapa tak ambil satu lagi?” tanyaku sebelum mulai menyeruput susu pisang itu. Saat airnya mengaliri tenggorokanku terasa segar, tapi setelah itu sakit di tenggorokanku sepertinya tidak semakin membaik. Aku berdehem untuk menghilangkan kesan tidak enak itu.
“aku sedang tidak haus, kok” jawab taemin sambil memperhatikanku.
“terus, kenapa kau minum punyaku?” tanyaku. Aku berdehem lagi.
Taemin tidak menjawabnya, hanya tersenyum polos sambil terus menatapku. Aku membiarkannya saja seperti itu dan terus menghabiskan susu di tanganku. Aku haus sekali. Terserah nanti tenggorokanku mau bagaimana.
“sudah habis semua?” tanya taemin setelah aku menyeruput sisa terakhir banana uyu itu.
Aku mengangguk. Tenggorokanku terasa tidak enak.
“nuna, tanya lagi dong yang tadi~” pinta taemin kemudian.
“tanya apa?” aku mengerutkan kening dan berdehem lagi.
“tadi itu~ pertanyaan yang terakhir nuna tanyakan~” katanya lagi.
Aku berpikir sebentar.
“oh, kenapa kau minum banana uyu-ku kalau tidak haus?” akhirnya aku mengingatnya.
“hehe” taemin nyengir lebar, “supaya bisa kiseu-tidak-langsung dengan nuna”
Aku mengangkat sebelah alisku dan tersenyum. Lagi-lagi, aku tidak mengerti jalan pikiran taemin.
“tapi aku jadi ingin minum susu pisang sekarang.” Ujar taemin kemudian.
“ya sudah, ambil saja lagi.”
“itu tadi yang terakhir, di kulkas tidak ada lagi.” jelas taemin.
“kalau begitu kenapa yang tadi itu tidak untuk kau saja? kan kau bisa mengambilkanku minuman lain~” aku sengaja membuat suaraku sedikit aegyo. Aku sangat capek dan tenggorokanku sakit, tapi taemin malah bertele-tele begini. Tapi aku tak mau marah dengannya.
“bukan itu..” kata taemin tiba-tiba.
“jadi apa?” tanyaku. Sekali lagi aku melirik ke jam dinding. Sepuluh menit lagi.
Taemin tidak menjawabnya. Dia malah memajukan bibirnya, seperti ingin di-ppoppo. Aku langsung tertawa lepas.
“hahaha, jadi kau ingin di kiseu betulan setelah kiseu-tidak-langsung yang tadi?” tanyaku sambil tertawa. Taemin mengangguk, masih dengan mulut yang dimajukan.
“tapi ulang tahunmu masih sepuluh menit lagi.” ujarku iseng. Kali ini aku tidak sembunyi-sembunyi menunjuk jam.
“gwaenchanha, pemanasan~” jawab taemin sesukanya.
Pemanasan??, aku mengulang dalam hati.
“mana bibir nuna? aku tutup mata, ya~ nanti nuna yang kiseu aku, hehe” ujar taemin kemudian. Dia menutup matanya sementara bibirnya masih dimajukannya.
Aku nyengir sebentar sebelum kemudian mendekatinya.
Ccuk!
Aku hanya mengecupnya sekilas, tak lebih.
Taemin membuka matanya dan terlihat marah. Kedua alisnya membentuk kerutan dan kali ini bibirnya maju karena kesal, bukan karena minta ppoppo.
“kan aku bilang kiseu!” protes taemin.
Aku hanya nyengir saja.
“yah, bibirmu maju begitu, bagaimana bisa kiseu~” ujarku sambil lalu. Aku sambar remote tv yang ada di atas meja di depan kami dan menekan tombol power untuk menghidupkannya.
Tiba-tiba taemin menarikku lebih dekat. Diarahkannya wajahku menghadap ke wajahnya. Wajahnya sudah berubah dewasa lagi.
“jadi bagaimana? Dibuka sedikit?” bisiknya di depanku.
Aku menelan ludah. Taemin dekat sekali. Bibirnya hampir menyentuh bibirku.
“nuna juga buka dong” Dia kemudian menarik daguku sedikit ke bawah hingga mulutku sedikit terbuka. Aku mematung. Napas hangat yang keluar dari mulutnya terasa di bibirku. Taemin tak menempelkan bibirnya, dia hanya menyentuhkan bibirnya di bibirku sebentar, kemudian melepaskannya lagi. Begitu terus.
“begini?” bisiknya lagi.
Aku menelan ludahku. Aku tak bisa membiarkannya mempermainkanku seperti ini.
“taemin, sudah.” Ujarku lemah. Satu hal yang membuat diriku marah adalah bahwa aku menutup mata sambil berkata demikian. Sebagian diriku menginginkan lebih, tak hanya sentuhan-sentuhan bibirnya tadi.
“sudah? Baiklah”
Di luar dugaan, taemin benar-benar melepaskanku. Dan entah kenapa aku merasa menyesal kenapa taemin tak melanjutkannya. Aku benci diriku yang berpikir demikian.
“tapi aku bohong”
Setelah berkata seperti itu, taemin menarikku ke badannya lebih dekat. Tapi dia tidak menciumku secara dewasa, dia meraih wajahku dengan kedua tangannya dan menempelkan bibirku di bibirnya dalam-dalam. Tapi hanya itu. Tidak lebih.
Ccuuu~~uk!!
“hehe, nuna, ucapkan ulang tahun kepadaku. Aku sudah 21!” kata taemin bersemangat setelah ciuman ringan itu.
Aku melirik ke jam dinding. Benar. Sudah jam 12.
Ccuk!
Aku menciumnya sekilas.
“saengil chukhahae, nae dongsaeng~” bibirku tertarik ke belakang, aku tak bisa menahannya. “dan kau 20! Bukan 21!” tambahku lagi, tapi kemudian senyumanku menyusul.
“hehe”
Ccuuuk~
Taemin nyengir dan kemudian menciumku sekali lagi.
“nuna mau hadiah apa?” tanya taemin kemudian.
Alisku berkerut bingung.
“bukannya aku yang harus memberimu hadiah?” tanyaku heran. Taemin senyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“tapi pertama-tama aku mau memberi nuna hadiah dulu~ nah, nuna mau apa?” katanya lagi. imut sekali dia aegyo seperti itu.
“jinca?” tanyaku memastikan.
Taemin mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.
“mm~,” aku berpikir sebentar.
Hal yang aku inginkan? Tapi tidak ada! Tunggu. Badanku sakit-sakit. Minta pijit saja!
“kau mau memijitku, taeminie?” pintaku.
Mata taemin melebar.
“pijit??” ujarnya tak percaya. Aku sedikit bingung dengan responnya yang seperti itu.
“ne, pijit. Kenapa memangnya?” balasku.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat taemin menelan ludahnya.
“a-ani, gwaenchanha.” Ujar taemin ragu-ragu, dia kemudian menggaruk rambut belakangnya, “emm~ kalau dipijit itu lepas baju ‘kan, nuna?” tanyanya kemudian.
Mwo??? Oh, jadi itu yang dipikirkannya.. Dasar taemin!
“tentu saja” ujarku enteng. Sengaja aku mengisenginya. Tentu saja aku tidak akan buka baju, maksudnya.
Kali ini suara ludah yang ditelan lebih jelas terdengar daripada sebelumnya. Aku mencoba menahan senyumku.
Tiba-tiba taemin makin mendekatkan tubuhnya padaku dan sebelah tangannya kemudian membuka ujung bajuku.
“jadi, nuna mau di ma—“
“YAA!! APA YANG KAU LAKUKAN???” aku langsung histeris dan menjauhinya. Kedua tanganku aku gunakan untuk kembali menurunkan bajuku yang setengahnya telah diangkat oleh taemin.
Berani sekali dia berbuat seperti itu padaku??!!
“wae?? Bukannya pijit memang harus buka baju? Nuna juga bilang begitu ‘kan? Ya sudah, aku bantu buka.” Jawab taemin sedikit kesal. Jawaban yang tak dapat kupercaya sebenarnya. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada anak ini??
“aku bercanda. Aku tidak akan buka baju, oke??” jelasku kemudian. Respon taemin selanjutnya lagi-lagi di luar dugaanku. Dia malah memajukan bibir bawahnya dan terlihat murung, padahal sedetik sebelumnya wajahnya sangat dewasa sekali.
“nuna bohong padaku, padahal ini hari ulang tahunku~” katanya kemudian dengan lemah. Sedikitnya aku merasa bersalah dengan kata-katanya itu.
“mianhae~” ujarku kemudian.
“eung” gumam taemin pelan sebagai respon, “aku mau memaafkan nuna, tapi buka baju dulu~”
PLAKK!
“YA!” tanganku ternyata bergerak lebih cepat daripada kata-kataku. Aku tidak menamparnya, hanya memukul lengan atasnya.
“huweee~ aku dipukul~~” kali ini rengekan taemin lebih keras.
Meski sedang kesal tapi tetap saja aku tak tahan. Aku malah menariknya masuk ke dalam pelukanku.
“mianhae, hehe” kataku sambil tersenyum. Taemin mengangguk dalam pelukanku.
“makanya, buka baju~” pintanya lagi.
“shirheo.”
“buka~~~”
“ya sudah, pijitnya tidak usah saja.”
Taemin langsung melepas pelukannya dariku.
“geurae. Tidak usah buka baju. Ayo ke kamar.” Bibirnya masih membentuk rengutan saat berkata seperti itu.
Aku nyengir lebar.
“gaja!”
***
“nuna” taemin tiba-tiba memanggilku. Dia sudah memijit kaki dan tanganku dan sekarang dia baru saja mulai memijit punggungku.
“hm”
“bukan aku mesum atau apa, tapi aku tak bisa memijit dengan santai kalau nuna pakai baju seperti ini. Rasanya aneh.”
Aku berpikir sebentar. Taemin benar. Jangankan dia, aku juga merasa aneh dipijit dalam keadaan begini. Rasanya malah badanku makin sakit-sakit.
“kau benar” kataku akhirnya.
“hehe. Jadi?” ujar taemin sedikit bersemangat. Aku yang sedang telungkup dan tidak bisa melihat wajanya pun jadi ikut tersenyum.
“jadi kenapa?” pancingku.
“hehe,” taemin senyum lagi, “mau buka baju tidak~?” tawarnya.
Aku berpikir lagi.
“kau kecapekan tidak?” tanyaku.
“aku? Tidak.” taemin menjawab singkat.
“geurae.”
Tanpa mengucap apapun lagi, aku langsung mengangkat baju bagian belakangku ke atas. Sedikit aneh sebenarnya setengah telanjang di depan taemin seperti ini, tapi tak ada hal lain yang bisa aku lakukan. Badanku benar-benar sakit-sakit, aku tidak bohong. Dan pijatan adalah hal yang paling aku butuhkan sekarang, paling tidak agar aku bisa tidur dengan nyaman malam ini.
“wow” ujar taemin tiba-tiba setelah aku membuka bajuku ke atas.
“sudah, taeminie. Pijit saja.” ujarku menahan malu.
“ne”
Hal yang aku rasakan selanjutnya adalah tangan taemin yang mulai memijit punggungku. Benar ternyata, begini lebih nyaman.
“nuna suka warna hitam, ya?” tanya taemin tiba-tiba saat kami terdiam sebentar.
“hitam? Ani. Wae?” aku bingung dengan pertanyaannya.
“ini hitam” ujar taemin kemudian, aku bisa merasakan jari telunjuknya menyentuh tali bra-ku.
Aku tak tahu harus merespon apa, jadi aku diam saja. Sementara itu, taemin terus memijitku.
Aku sudah hampir tertidur saat taemin memanggil lagi.
“nuna”
“hm” gumamku.
“aku buka, ya? Susah yang bagian tengah~”
“hm”
Aku setengah tak sadar berujar demikian. Dan hal yang aku sadari selanjutnya adalah taemin melepas tali bra-ku. Aku panik, tapi aku tidak memperlihatkannya. Tapi mungkin taemin sadar dari punggungku yang tiba-tiba menegang, dia langsung protes.
“nuna! bagaimana aku bisa pijit kalau punggung nuna tegang seperti ini?!”
Aku tak menanggapinya, aku hanya menarik napas panjang dan mencoba rileks.
“nah, begini kan lebih baik” ujar taemin kemudian tanpa sedikitpun merasa tidak enak padaku. Kadang-kadang aku merasa adikku ini luar biasa.
Taemin terus melanjutkan memijitku. Aku sudah tidak bisa tidur lagi. Tidak dalam keadaan seperti ini. Taemin di atasku, sementara tali bra-ku terbuka dan dibuka olehnya. Tidak mungkin bisa tidur.
“nuna”
Taemin memanggil lagi.
“wae”
“hehe” taemin tak menjawab, hanya nyengir sebentar.
“nuna” dia kemudian memanggil lagi.
“mwo?”
“hehehe”
Aku tidak bisa mengerti taemin, apalagi kalau dia yang seperti ini.
“nuna”
Kali ini aku tidak mau menjawabnya. Aku biarkan saja dia terus memijitku.
“nuna nuna nuna”
“ne~” akhirnya menjawab dengan malas.
“nuna marah tidak, ya?” tanya taemin kemudian.
“marah kenapa?” tanyaku lagi, masih dengan nada yang sama.
Taemin tak menjawab, dia malah diam. Aku biarkan saja dia bertindak aneh begitu. Aku menutup mataku lagi.
“sebentar saja kok, nuna, sebentar saja” kata taemin lagi beberapa lama kemudian.
Lagi-lagi aku tak menggubrisnya.
“ya, nuna, ya?” tanya taemin setengah memaksa.
Aku tak menjawabnya. Aku tak mengerti maksudnya apa.
“nuna!” taemin memanggil lagi dengan nada keras.
“hm!”
“boleh ya, nuna? sebentar saja kok~”
Aku kembali diam.
“nuna~~”
“hm~”
“boleh, ya~?”
“hm”
Pijitan taemin tiba-tiba berhenti.
“boleh??”
“hm~”
Terserahlah maksudnya apa, aku tak peduli.
Tak ada gerakan lain dari taemin setelah itu. Dia diam, begitu juga tangannya di punggungku. Dan tiba-tiba punggungku terasa dingin.
“taem—“
“jeongmal nuna benar-benar tak akan marah?? Jinca~??”
Baru saja aku mau menoleh dan memanggil namanya, taemin tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berkata demikian.
Canggung, itu yang kurasakan saat itu, dengan tangan taemin yang berada di atas punggung telanjangku dan wajahnya yang dekat seperti ini, di atas tempat tidur pula, lengkap sudah. Aku menelan ludahku diam-diam.
“memang kau mau apa?” tanyaku pelan.
Taemin tak menjawab, hanya tersenyum dan mulai mendekatkan kepalanya ke kepalaku. aku tak bisa berbuat apapun selain menutup mata dan menunggu bibirnya.
Aku tahu ciuman ini tak seperti ciuman biasanya. Aku tahu ciuman ini pasti berakhir bukan hanya sekedar aku menahan tangannya agar tidak kemana-mana—seperti yang sering dia lakukan. aku tahu pasti akan lebih dari itu. Dan aku benar. Taemin memang melakukan lebih dari itu—lebih dari biasanya. Aku tak mau menyebutkan bagaimana, tapi dengan hal itu aku akhirnya mengerti bahwa taemin sudah benar-benar menjadi dewasa. Tapi tidak, kami tidak melakukannya. Aku ternyata masih cukup waras untuk menghentikannya. Dan untunglah taemin mengerti. Untunglah dia cukup dewasa untuk mengerti.
Setelah itu terjadi, taemin tidur di sebelahku. Tapi aku masih tidak bisa tidur sampai dua jam berikutnya. Aku ingin melupakan hal yang tadi itu. Benar-benar ingin melupakannya sampai-sampai aku tak mau menuliskannya.
= = =
Posted by Taemznuna

Advertisements

FF/S/Nuna’s Diary (page 161-162) (변태미니)

= Nuna’s Diary =

page: 161-162
Cast:
– Nuna
– Taemin

Genre: Family, Incest
Status: stuck
Author’s note:
ini ff special nuna’s diary. dari judulnya itu ‘변태미니’ sbnrnya diambil dari kata ‘변태’ sama ‘태미니’. artinya? silakan gugel translet 🙂 rada NC, tapi ga terlalu NC se-‘asou’ makanya ga saya masukin ke ‘asou’. tapi yah spt yang saya blg tadi: special, kalo dibayangin lumayan juga :p
hehe, enjoy 😉

= = =
Aku sedang sendirian di kamar, sedang membaca majalah yang kemarin aku beli tapi belum sempat kubaca habis saat kudengar suara taemin dari ruang keluarga. Dia tidak memanggilku seperti biasa, tetapi dari sini bisa aku dengar suaranya yang ber’wow-wow’ seperti itu. Selangnya hanya beberapa detik dari ‘wow’ pertama ke ‘wow’ selanjutnya, begitu terus. Aku jadi penasaran.
Saat aku membuka pintu kamar, aku melihat taemin sedang duduk di sofa di depan televisi. televisi sedang dalam keadaan mati dan dia masih ber’wow’ seperti itu sambil melihat ke bawah. Sepertinya dia belum sadar kalau aku sudah keluar kamar.
“taeminie, kau sedang apa?” tanyaku.
Taemin tampak terkejut dan cepat-cepat menggerakkan tangannya di bawah. Mencurigakan.
“nuna,” dia balas menyapaku, “tidak. tidak sedang apa-apa.” jawab taemin, tapi dia terlihat canggung.
Makin mencurigakan.
Aku mengerutkan alisku. Entah apa lagi yang dilakukan anak ini sebelum ini.
“sini, nuna, sini duduk dekatku.” Tambah taemin lagi sambil menepuk-nepuk ruang sofa yang kosong di sebelah kanannya.
“kenapa tv tak kau hidupkan?” tanyaku masih dengan alis berkerut sambil berjalan pelan mendekatinya. Sebelum duduk, aku ambil remote tv dan menekan tombol on-nya. Setelah itu, aku duduk di sebelah taemin.
Reality show yang langsung tersiar di layar televisi mengalihkan pikiranku. Taemin juga ikut tertawa di sebelahku saat mc siaran itu mulai melucu. Beberapa menit tetap seperti itu. Setelah iklan, baru kami sama-sama terdiam.
“nuna” panggil taemin tiba-tiba.
“hm?” aku menoleh ke kiri menghadapnya.
“coba tangkupkan tangan nuna” katanya lagi. Alisku berkerut bingung.
“buat apa?” tanyaku heran.
“coba saja dulu, nyunya~~” suruh taemin lagi dengan aegyo-nya.
Aku akhirnya menurutinya dan membuat tanganku menjadi seperti mangkuk.
“begini?” tanyaku pada taemin.
Taemin mengangguk dua kali sambil tersenyum.
“nah, pinjam.” Ujar taemin.
Taemin kemudian memegang tanganku dengan tangan kanannya, mengangkat bajunya dengan tangan kirinya, dan mengarahkan tanganku yang sudah berbentuk mangkuk itu ke bagian bawah perutnya. Tanganku yang berbentuk seperti mangkuk terisi penuh dengan sesuatu di bawah perutnya itu.
“wow” kata taemin lagi sambil melihatku dengan tatapan polosnya.
Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Sampai aku sadar bahwa tak seharusnya tanganku berada di daerah itu, barulah aku teriak.
“YAAA!!!! APA YANG KAU LAKUKAN????!!!” ujarku kalap. Taemin tak mau kalah.
“wow, kan nuna? wow! Wow, bisa penuh seperti itu. Lihat!” kali ini taemin mengangkat bajunya tinggi-tinggi dan menunjuk sesuatu di bawah perutnya. Ada gumpalan di situ. Gumpalan yang tadi aku pegang dengan tanganku. Dan bodohnya, sekarang aku malah mengikuti taemin melihat gumpalan itu.
“aarghh! Taeminiee!!!!” aku segera berlari ke kamar mandi dan menutup pintunya keras-keras. Aku merasa malu sekaligus bodoh. Di dalam kamar mandi, aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Wajahku panas sekali. Aku mencoba mendinginkannya dengan menyiram air ke wajahku.
Argh. Taemin. kenapa dia berbuat seperti itu??
Mukaku merah padam saat aku lihat pantulan diriku di cermin.
Taemin bodoh! Taemin bodoh! Taemin bodoh!
Aku menampar-nampar pipiku.
Tapi aku juga bodoh! Aku bodoh! Aku bodoh!
Aku menampar pipiku lebih keras.
“nuna? gwaenchanha?” ujar taemin dari luar kamar mandi. Dia mengetuk pintu kamar mandi lebih keras.
Sebelum membuka pintu lebar-lebar, aku mengintip dulu. Kalau taemin ternyata menungguku di depan pintu dengan keadaan telanjang, paling tidak aku bisa langsung menutup pintu itu lagi dan menguncinya.

= = =
Published by Taemznuna
PS: taemin maaf nuna byonte sama kamu abis kamu sih menggoda

FF/S/Nuna’s Diary (page 154-160)

= Nuna’s Diary =

Page: 154-160

Cast:
– Nuna
– Taemin

Genre: Family, Incest

= = =
Jalanan di sekitar area rumahku sepi saat aku berjalan pulang sendirian sambil menarik koperku dengan tangan kiri sementara sebelah tanganku yang lain menjinjing tas tanganku. Aku merapatkan coat panjangku untuk melawan hawa dingin. Musim dingin masih belum berakhir.
Saat sampai di stasiun tadi, aku sengaja tidak memilih naik taksi untuk pulang ke rumah. Memakan waktu tak sampai sepuluh menit jika berjalan dari halte bis terdekat ke rumahku, makanya itu aku lebih memilih naik bis. Lagipula kalau naik taksi, suara mesinnya akan membuatku ketahuan kalau sudah pulang oleh taemin. Aku ‘kan mau mengejutkannya, hihi.
Omong-omong taemin, aku jadi ingat pembicaraan kami di telpon kemarin.
“nuna kapan pulang? Besok sudah sebulan~” kata taemin kemarin saat aku menelponnya. Nada sedih bisa aku tangkap dari suaranya. Aku tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaannya.
“besok aku pulang” kataku.
“JINCA?????” suara taemin yang naik tiga oktaf memekakkan telingaku. Spontan aku menjauhkan handphone dari telinga kiriku.
“jangan berteriak begitu! Telingaku jadi sakit!” gerutuku.
“jinca nuna besok pulang?? Jinca??? Hahaha!” taemin sepertinya tak memedulikan telingaku yang sakit. Dia malah tertawa bahagia begitu. Tapi meski telingaku sakit, mendengar tawa riangnya itu memaksa diriku untuk tersenyum. “besok nuna pulang naik apa? kereta lagi? aku jemput, ya?” kata taemin kemudian menawarkan diri dengan antusias.
“andwae! Kau tak boleh menjemputku!” tolakku tegas.
“Waeyo~~” nada taemin berubah sedih lagi. Aku menghembuskan napas berat.
“pokoknya tidak boleh. Kau tunggu saja aku di rumah, arachi?” ujarku lagi.
Tak ada respon dari taemin. Dia diam saja.
“taeminie~?” aku memanggilnya lagi, setengah memaksa agar dia mendengar kata-kataku.
“tapi kenapa tidak boleh~?” tanya taemin lagi dengan suara pelan.
“aku cuma ingin pulang sendiri saja. Besok kau jangan kemana-mana ya, tunggu aku di rumah. Kau mengerti, taeminie?” ujarku lagi memastikan.
“eung,” suara taemin masih lemah, “ppoppo dulu” tambahnya.
“ccuk!” aku mengabulkan permintaannya.
“hehehe~” tawa kecilnya terdengar dari ujung telpon. Aku bisa membayangkan dia nyengir lebar di sana.
“kau tak mau ppoppo aku juga?” pancingku iseng.
“mm..” taemin bergumam sebentar, “aku mau ppoppo tapi nuna ppoppo juga. Di hitungan ketiga ya, nuna. Hana.. Dul.. Set!”
“ccu~uk”
“ccu~~~~uk!!”
Kami ppoppo dalam waktu yang bersamaan, tapi ppoppo taemin lebih panjang dari punyaku. Aku langsung tergelak. Begitu juga taemin di ujung sana.
“wah, nuna! Kita kiseu di telpon! Hahaha!” ujarnya sambil tertawa. Perutku juga jadi geli. Kadang-kadang taemin memang aneh. Aku juga sih.
“hahaha! Sampai jumpa besok, taeminie~” ujarku memutus pembicaraan.
“eung! Sampai jumpa besok, nuna! ccuk!”
“ccuk!”
“ccu~~uk! Ccuk ccuk ccuk ccuk ccuk!!”
Taemin ppoppo bertubi-tubi di telpon begitu terdengar lucu sekali.
“sudah ah, taeminie. Hahahaha!”
“ccuk! tunggu saja besok, nuna. Aku akan melanjutkan ppoppo yang ini. ccu~uk!” ancam taemin.
“haha. aku matikan, ya” ujarku akhirnya. Kalau dibiarkan, kami akan begini terus sampai dua jam ke depan.
“ne! ccuk~!”
“ccuk!”
Aku tersenyum lagi mengingat kata-kata taemin kemarin. Sekarang aku sudah berdiri di depan pintu rumah. Kurang dari lima menit lagi aku sudah bisa melihat wajahnya.
Aku merogoh handphone yang ada di tas tanganku dan menghubungi taemin. Hanya sekali terdengar nada sambung sebelum taemin mengangkat telponnya. Aku membayangkan dia seharian menunggu telpon dariku. Bayangan ini membuatku tersenyum sendiri.
“yeoboseyo? Nuna?” ujarnya dari ujung telpon.
“taeminie, kau di rumah?” tanyaku.
“ne. nuna di mana?” tanya taemin tak sabar.
Aku tersenyum kecil.
“aku di depan.” Jawabku singkat.
Telpon langsung terputus setelah itu, digantikan oleh suara derap kaki yang semakin terdengar jelas dari balik pintu di depanku. Sambil tersenyum aku masukkan lagi handphone-ku ke dalam tas.
Dua detik kemudian pintu depan terbuka lebar dan memperlihatkan taemin yang berdiri di baliknya.
“annyeong” sapaku sambil tersenyum padanya.
“nuna!!”
Taemin langsung menghambur memelukku. Satu yang aku sadari, dia tidak main-main saat bilang akan langsung menciumku saat kami pertama kali bertemu. Dia benar-benar langsung menyambar bibirku. Taemin benar-benar memelukku dengan erat sampai badanku terangkat ke atas. Maklum, aku jauh lebih pendek darinya. Aku hanya berharap tidak ada tetangga yang melihat kami saat keadaan kami seperti ini.
“nuna, aku rindu, aku rindu, aku rindu!” kata taemin setelah dia melepas bibirnya dari bibirku. Kedua tangannya berada di kedua belah pipiku dan wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Setelah dia berkata seperti itu, dia menciumku lagi. Tapi tidak lama seperti yang tadi.
“ne, ne, aku tahu. Sekarang biarkan aku masuk.” Kataku akhirnya setelah mencoba melepaskan diri dari taemin.
“hehe. Deureogaja, nuna! Nuna pasti kedinginan.” Kata taemin sambil menyambar tanganku dan menarik koperku dengan tangannya yang lain.
Kedinginan apanya. Sudah panas gara-gara bibirmu, gerutuku dalam hati.
Kami masuk ke dalam rumah yang jauh lebih hangat daripada di luar. Taemin membantu melepas coat-ku.
“nuna capek?” tanya taemin kemudian.
“eung,” gumamku pelan. Leher dan pinggangku memang sedikit sakit. Beberapa jam di perjalanan cukup menguras tenagaku.
“mau istirahat di kamar?” tanya taemin lagi.
“eung” aku tersenyum padanya.
“biar aku antar”
Aku setengah sadar saat taemin tiba-tiba menggendongku dengan bridal style.
“taeminie! Ya ampun—taeminie! Turunkan aku!” aku meronta-ronta di dalam pelukannya. Aku tahu taemin laki-laki dan dia kuat, tapi tidak begini juga caranya.
“tenang saja, nuna. sudah lama aku ingin melakukan ini.”
Taemin tak menggubris penolakanku dan berjalan santai menuju kamarku. Aku tak bisa berbuat apapun kecuali memeluk lehernya. Namun sebenarnya aku benar-benar merasa tak nyaman.
Aku tak sempat mengontrol napasku saat taemin menaruhku dengan lembut di kasurku karena taemin lagi-lagi menyambar bibirku.
“nuna, aku benar-benar rindu~ jeongmal bogoshipta~” kata taemin setelah kecupan lembut itu. Dia memelukku lagi saat kami dalam keadaan duduk.
“mianhae sudah meninggalkanmu.” Ujarku meminta maaf.
Taemin mengangguk dalam pelukanku.
“jangan pergi-pergi lagi, nuna~” erangnya.
Aku hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya yang sudah mulai panjang dibanding saat aku tinggalkan sebulan lalu.
“kau benar-benar kesepian, ya?” tanyaku sambi melepas pelukannya. Aku ingin melihat wajahnya puas-puas sekarang.
Taemin mengangguk dengan bibir memberengut. Imut sekali.
“ppoppo~” pintanya.
Sudah berapa kali ppoppo coba dari tadi, pikirku dalam hati.
Ccuk!
Aku mengecup bibirnya sekilas.
“uung~ lagi~~” rengek taemin.
“memangnya mau berapa kali?” tanyaku padanya.
“hitung saja sudah berapa malam nuna tidak ppoppo aku sebelum tidur. Hutang nuna padaku sudah banyak.” Jelas taemin masih dengan bibir memberengut. Ternyata meski sudah berapa lama pun aku tinggal dengannya, pemikiran taemin masih belum bisa aku tebak. Tapi pemikirannya juga ada benarnya.
Aku melihat bibir taemin yang tebalnya masih sama dengan saat aku meninggalkannya. Tentu saja sama, memangnya aku berharap bibirnya berubah seperti apa?
Aku tersenyum sendiri. Kalau aku ikut arus pemikiran taeminie, memang benar hutangku padanya sudah banyak.
“sini lidahmu” ujarku setengah sadar. Dan aku memang bodoh sekali berujar seperti itu. Tak perlu aku jelaskan bagaimana, yang pasti taemin menciumku lama sekali. Bibirku sampai kebas. Beberapa kali aku harus menahan tangannya agar tidak kemana-mana.
“sudah?” tanyaku setelah kami selesai. Taemin nyengir. Kedua tangannya masih aku pegangi.
“hihi, sudah. Bibirku kebas, nuna” kata taemin jujur masih dengan senyum terkembang.
“nado,” balasku, “sekarang aku boleh istirahat?” tanyaku lagi.
“tentu saja! nuna istirahat yang cukup siang ini, nanti malam kita jalan-jalan, ya!” kata taemin kemudian.
“hah? Kau mau kemana?” tanyaku heran.
“aku ketemu tempat bagus. Kai yang memberi tahu. Nanti nuna aku ajak kesitu. Sekarang nuna tidur dulu~” taemin membaringkan badanku dan menyelimutiku sampai ke leher.
“mau pergi dengan kai juga?” tanyaku bingung.
“ani!! Tentu saja tidak!” jawab taemin cepat, “kita berdua saja, nuna~”
“oh, oke” kataku setengah paham.
“jal ja, nuna! ccuk!” taemin mencium keningku.
“kau mau kemana?” tanyaku saat taemin beranjak. Rasanya aku masih rindu padanya.
“molla. Nuna mau aku berada di mana?” taemin malah bertanya balik.
“kalau kau bilang nanti malam kita pergi, berarti kau juga harus istirahat. Sini, tidur di sebelahku.” Ajakku.
“tapi aku peluk nuna, ya?” tawar taemin dengan muka isengnya.
“terserah” ujarku tak peduli.
“yey~!” taemin langsung menghempaskan tubuhnya di sebelahku, menarik selimut dan langsung memelukku. Kami tidur berhadapan, tapi tak terlalu dekat. “ppoppo sebelum tidur?” pinta taemin kemudian.
“tidak. Ini bukan malam hari.” Tolakku.
Ccuk!
Tiba-tiba taemin menciumku.
“aku tak peduli. Jal ja, nuna!”
Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali tersenyum dan mencoba menutup mataku.
***
Malamnya, taemin ternyata mengajakku ke salah satu café kopi di tengah kota. Taemin bilang selama aku pergi, dia sering pergi ke café kopi itu bersama kai. kadang-kadang dia juga pergi sendirian, katanya. Makanya dia sangat ingin mengajakku ke sana.
“biar nuna tahu di mana aku selalu menghabiskan waktu saat nuna pergi.” Jelasnya lagi saat aku tanya lebih lanjut.
Tidak kurang selama empat jam kami berada di café itu. Kami banyak bercerita mengenai apa yang dilakukan masing-masing selama sebulan. Sudah hampir jam sebelas saat taemin mengajakku ke tempat yang lain.
“memangnya mau kemana lagi?” tanyaku heran. Aku merapatkan jaketku ke badanku. Malam dingin begini si kecil ini malah mengajakku pergi entah kemana.
“ke tepi sungai Han.” Jelas taemin singkat. Dia menarik capuchon jaket bulu-ku ke atas kepalaku sehingga kepalaku tertutup.
“mau apa kau kesana malam-malam??” tanyaku lagi setengah protes, “di sana kan dingin sekali kalau malam, taeminie~” kali ini aku setengah merengek.
Taemin malah tersenyum mendengar kata-kataku. Tulus sekali senyumnya. Tampan.
“akan hangat kalau bersamaku,” ujarnya lembut padaku, “lagipula selama nuna tak ada aku juga selalu kesitu kok habis minum kopi. Nanti kalau nuna kedinginan, aku yang akan menghangatkan nuna. Gaja!”
Taemin langsung menarik tangan kiriku setelah berbicara seperti itu. Aku tak bisa melakukan hal lain selain mengikutinya.
“untuk apa kau ke sana malam-malam sendirian, taeminie? Kenapa tidak langsung pulang?” tanyaku bermenit-menit kemudian. Aku sedikit khawatir membayangkan taemin duduk sendirian di tepi sungai Han. Untung sampai sekarang dia tidak kenapa-kenapa.
“aku malas pulang. Habis minum kopi kantukku hilang. Lagipula kalau aku pulang juga tidak ada nuna di rumah. jadi aku pergi saja kesana sambil membayangkan nuna duduk di sebelahku.” Jelas taemin panjang. Langkahnya kemudian berhenti untuk berdiri berhadapan denganku, “dan hari ini bayanganku itu bisa terwujud, nuna. Hihi”
Bibirku otomatis tertarik ke belakang mendengarnya. Aku luluh dengan kata-katanya. Tulus, polos dan jujur. Ternyata adikku memang tidak berubah. Meski sekarang dia terlihat jauh lebih dewasa, tapi ternyata di dalam dia tidak berubah.
“panggil aku ‘nyunya’ dong, taeminie?” pintaku. Entah kenapa tiba-tiba aku merindukan taemin yang sering melakukan aegyo padaku.
Selama dua detik taemin terlihat bingung.
“nuna” katanya kemudian.
“bukan ‘nuna’, tapi ‘nyunya’. Ayo coba panggil!” ulangku lagi.
“nu~na” taemin malah mempermainkanku. Dia memajukan mulutnya pada suku kata ‘nu’ dan membuka mulutnya lebar-lebar pada suku kata ‘na’.
“taeminie~!” ujarku manja. Ahaha. Jarang-jarang aku manja padanya. Tapi ternyata seru juga.
“kalau aku lakukan, nuna mau kasih aku apa?” pancingnya.
“kau mau apa?” aku malah memancing balik.
Sepertinya kebiasaanku memancingnya di telpon belum hilang. Dan kebiasaan ini malah merugikanku sekarang.
Taemin langsung mengetuk-ketukkan jari telunjuknya di bibirnya. Matanya disipitkannya, tampak sedang berpikir. Tapi wajahnya terlihat nakal sekali.
“kalau kiseu sudah biasa…” gumam taemin lebih kepada dirinya sendiri. Ekspresi nakalnya masih belum hilang.
Aku jadi ngeri sendiri. Ternyata benar kebiasaanku selama di telpon itu sekarang harus dihilangkan.
“aku akan memberimu ppoppo” tawarku cepat.
Aduh! Ppoppo juga pasti sudah biasa…, sesalku dalam hati.
“ppoppo-nya di mana? Kalau di bibir sudah biasa~” taemin terlihat meremehkanku.
Alisku berkerut bingung.
“jadi mau ppoppo di mana?” tanyaku.
Ekspresi taemin berubah nakal lagi.
“di……..” taemin memutus kata-katanya, “ehehehehehehehehe~~~” kemudian dia senyum lebar. Matanya menyipit dan tiba-tiba pipinya memerah, “aa~ malu~!!” taemin kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Demi apapun, adikku imuuuuuuttt~~~!!!!!!
Setengah malu, setengah geli, aku memukul lengan taemin dengan pelan.
“apa sih kau, taeminie!” ujarku pura-pura marah. Tapi tetap saja aku tak bisa menahan senyumku.
“hihihihi~” taemin masih melanjutkan cengirannya, “ya sudah, kiseu saja. nanti di sungai Han dekat orang-orang ramai. Ya, nyunya~?”
Taemin mengabulkan permintaanku dengan menambahkan ‘nyunya’ di akhir kalimatnya.
“sekali lagi” suruhku.
“apanya? Kiseu-nya?” taemin terlihat bingung.
Benar-benar pikiran adikku ini…
“ani! Bilang ‘nyunya’-nya”
“nyunya”
“lagi”
“nyu~nya”
“lagi, hihi”
“dengan yang ini empat kali loh kiseu-nya, nyunyaa~~” taemin menutup matanya pada kata ‘nyunya’.
Ccuk! Ccuk! Ccuk!
Tiga kali aku mengecup bibir taemin dengan cepat.
“yang keempat nanti di dekat orang ramai” ujarku.
Taemin langsung memberengut.
“nuna curaaaang~!!” katanya.
“hehe, gaja!” tanpa mempedulikan rengekannya, aku menarik tangannya.
***
Aku benar. Udara benar-benar dingin saat kami sampai di tepi sungai Han. Bahkan napas dari hidung yang aku hembuskan pun beruap sekarang.
“Taeminie~ dingin~ ayo pulang~” aku mencoba menahan dingin dengan menyilangkan tanganku di depan dada, tapi sepertinya tak ada bedanya. Malam-malam berada di sungai Han pada musim dingin memang bukan ide bagus. Aku tak bisa membayangkan taemin sendirian berada di sini malam-malam sebelum ini.
Taemin tersenyum iba padaku. Namun tiba-tiba dia melepas pegangan tangannya padaku dan menyelipkan tanganku di balik punggung jaketnya, tepat di belakang pinggangnya.
“Nuna peluk aku saja ya, biar hangat. Nanti kalau kita sudah duduk, aku akan lebih menghangatkan nuna lagi” kata taemin.
Duduk?? Berarti kami akan lama di sini? Ya ampun, aku benar-benar kedinginan~, erangku dalam hati.
Aku menahan gigiku sekuat tenaga agar tidak bergemeletukan sambil mengimbangi langkah taemin. Aku memang ingin pulang, tapi aku juga tak mau memupuskan harapan taemin untuk berada di sungai Han bersamaku malam ini. Mungkin aku akan demam, tapi sudahlah. Derita besok akan aku hadapi besok, yang penting aku bisa melihat senyum adikku malam ini.
“Di sini, nuna” kata taemin di depan sebuah bangku tanpa sandaran yang berada di dekat jembatan. “Ayo duduk” kata taemin lagi.
Aku menurutinya dengan sebelumnya melepas plukanku di pinggangnya. Taemin ikut duduk di sebelahku. Tangan kirinya memeluk pundakku, memaksaku untuk duduk lebih dekat dengannya.
Aku menyandarkan kepalaku di pundak taemin. Meski dingin tapi ternyata cukup nyaman duduk di sini bersamanya.
Mataku menerawang melihat pantulan lampu jembatan di permukaan sungai, dan entah mengapa aku jadi mengantuk. Tapi kepalaku yang mulai berdenyut keras tak membiarkanku tertidur.
“Terrnyata benar, duduk berdua dengan nuna lebih hangat.” Celetuk taemin tiba-tiba. dia kemudian melingkarkan tangannya di depanku dan memelukku lebih erat lagi, “Uung~ nuna~”
Aku tersenyum lemah. Kepalaku jadi makin berat. Sepertinya benar aku akan sakit.
“Aku susah membayangkan bagaimana kau bertahan berada sendirian di sini,” ujarku setengah sadar, “biasanya berapa lama kau berada di sini, taeminie?”
“Mm.. paling lama waktu itu hampir dua jam” jawab taemin jujur.
Mwoooo??? , teriakku dalam hati. Hanya dalam hati, kepalaku makin sakit dan badanku lemas. akhirnya, aku hanya bisa mencubit pipi kiri taemin.
“Kau nakal, taeminie~” ujarku sambil mencubit pipinya. Sepertinya suaraku kecil sekali.
Taemin kemudian menatap mataku dengan senyum di bibirnya.
“Tangan nuna dingin sekali,” katanya sambil menggamit tanganku yang mencubitnya, “aku hangatkan, ya?”
Aku hanya pasrah saat taemin mendekatkan wajahnya. Dibandingkan suhu malam ini, bibir taemin terasa hangat. Dia tidak bohong tadi saat mengatakan akan menghangatkanku.
Mataku terbuka perlahan setelah taemin menyudahi ciuman hangatnya. Taemin hanya diam melihatku. Bibirnya terlihat kering. Aku ingin membasahi bibir tebal itu. Aku mendekat padanya sekali lagi.
Ccuk!
Taemin tak mengizinkan aku menciumnya. Dia hanya mengecupku singkat.
“Badan nuna hangat. Ayo pulang.” Katanya tiba-tiba. Lagi, dipasangkannya tudung jaketku menutupi kepalaku.
Aku tak mau beranjak saat taemin sudah berdiri sambil memegangi tanganku. Mataku masih terpaku pada bibirnya.
“Sekali saja,” pintaku, “sekali lagi saja”
Bibirnya hangat. Aku hanya menginginkan itu.
Taemin tak menunggu waktu lama. Dengan sedikit membungkuk, dia menciumku lagi.
“Sudah, nuna. Ayo pulang.” Ujar taemin setelah itu.
Aku berdiri dan mulai berjalan di sebelahnya. Aku kesusahan mengimbangi langkahnya yang besar-besar.
“Taeminie, jangan cepat-cepat..” erangku lemah. Kakiku sudah lemas sekali. Sepertinya aku terkena demam parah.
Taemin berhenti. Dia melihatku sebentar dan kemudian membungkukkan badannya di depanku.
“Naik, nuna” suruhnya sambil menyodorkan punggungnya.
Aku tak bisa berbuat apapun selain menurutinya. Kalau aku paksakan terus berjalan, mungkin aku akan pingsan.
“Hari ini mau berapa kali kau menggendongku?” Tanyaku mencoba bercanda saat taemin membenarkan posisiku di punggungnya dan mulai berjalan.
“Tidurlah, nuna. saat nuna bangun kita sudah akan ada di rumah.” Kata taemin. Saat berada di punggungnya begini aku baru sadar dari tadi nada suara taemin serius. Aku tak meresponnya. Kesadaranku perlahan menghilang. Yang aku ingat hanya taemin yang berulang-ulang berujar “mianhae” sebelum aku jatuh tertidur.
= = =
Posted by Taemznuna
Made by Taemznuna

FF/S/Nuna’s Diary (…-…) [Forgotten Pages]

= Nuna’s Diary =

Page: …-… (Forgotten Pages)

Cast:
– Nuna
– Taemin
– Chen
Genre: Family, Incest

= = =
Aku mengintip lewat pintu kamar.
Taemin tak ada di ruang keluarga. Bagus. Aku bisa keluar sekarang.
Dengan mengendap-endap aku keluar dari kamar. Namun, baru saja aku mencapai sofa, pintu kamar taemin yang berada di sisi kiri terbuka lebar.
“nuna mau kemana?” mata taemin menyipit menatapku. Satu tangannya masih memegang kenop pintu. Taemin memakai baju kaos merah dan kemeja kotak-kotak biru di luarnya.
Aku memperbaiki letak tali tas sampingku.
“mau keluar” jawabku sekenanya.
“kemana?” taemin bertanya lagi, wajahnya masih berkesan menginterogasiku.
“pergi.” Jawabku lagi.
“dengan siapa?”
Aduh…
“err.. teman?” aku menjawab ragu-ragu. Tak tahu harus menjawab apa kalau taemin bertanya siapa orangnya.
“teman yang mana?” tanya taemin lagi.
Nah, benar kan..
“memangnya kenapa sih, taeminie?” aku mencoba balik bertanya padanya.
Mata taemin makin menyipit melihatku. Bibirnya ikut mengerucut.
“chen, ya?” tebaknya
Glek!
Aku menghembuskan napas panjang, mulai menyerah dengan percakapan ini. Sekali lagi aku merapatkan tas sampingku ke tubuhku.
“memangnya kenapa kalau Chen?” tantangku. Wajahku sedikit kudongakkan untuk menambah kesan sombong. Benar-benar tak nyaman kalau punya adik yang jauh lebih tinggi dari diri sendiri begini.
Taemin tak menjawab, hanya saja bibirnya makin tipis gara-gara dikerucutkannya. Dia terlihat marah, anak kecil ini.
“aku ikut” ujarnya tiba-tiba setelah keheningan yang cukup lama. Mataku langsung terbelalak lebar mendengarnya.
“andwae!!” ujarku cepat.
“pokoknya ikut!” taemin bersikeras.
“tidak!” balasku.
“aku ikut.” Taemin langsung menutup pintu kamarnya dari luar.
“tidaak~~” aku segera berlari keluar secepat mungkin.
Jangan macam-macam anak ini. Masa dia mau ikut aku kencan??
BLAMM!!
Pintu depan menutup keras di belakangku. Aku langsung berlari menyusuri jalan. Awas saja kalau taemin mengikutiku.
Aku sudah hampir mencapai belokan gang saat aku dengar teriakan di belakangku.
“tunggu, nunaaa~~~!!!”
Aduh, dia benar-benar mengejarku…
Aku segera berbelok dan makin mempercepat laju lariku.
“nuna, tungg—AA!!”
Brugh!!
Aku langsung berhenti berlari. Suara apa itu barusan?? Taemin jatuh? Masa?
Tak mungkin aku tak memeriksanya, kalau benar taemin jatuh bagaimana?
Aku mengintip dari tembok tinggi yang berada di sudut jalan. Saat aku lihat, taemin sedang menepuk-nepuk bagian lutut celananya yang kotor, sementara sebelah tangannya menyentuh bibirnya. Taemin kemudian menjauhkan tangannya dari bibirnya. Dari jarak segini aku bisa melihat sesuatu berwarna merah terang di bibirnya. Sepertinya itu darah.
“taeminie?” aku berlari mendekatinya.
Saat aku mendekat, taemin menatapku dengan pandangan nanar. Benar ternyata bibirnya berdarah.
“nuna, sakiit~~ huwee~~~” taeminie mulai menangis. Airmatanya bercucuran ke pipinya.
“kenapa kau bisa jatuh? Aduh~~” aku segera mengambil tissue yang selalu ada di dalam tasku.
“sini menunduk sedikit, biar aku lihat.” Ujarku lagi.
Bibir sebelah dalam taemin mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“kenapa bisa begini, sih?” tanyaku gusar sambil terus menekankan tissue ke bagian bibirnya yang luka.
“tadi tergigit saat aku jatuh~” erangnya.
Jawabannya membuatku tersenyum. Dasar anak kecil.
“terus, kenapa kau bisa jatuh?” tanyaku lagi. Aku singkirkan sedikit pasir yang menempel di pipinya.
Tanpa menjawab, taemin melihat ke bawah. Aku mengikuti pandangannya. Ternyata tali sepatunya masih belum terikat.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan kemudian menunduk untuk mengikat tali sepatunya.
“kenapa tadi tak kau ikat?” tanyaku saat mengikat tali sepatunya.
“kalau aku ikat nanti nuna keburu meninggalkanku~” jawabnya pelan.
Aku menghembuskan napas panjang. Ternyata gara-gara aku dia jadi jatuh begini.
“kau benar mau ikut?” tanyaku lagi. Aku berdiri dan menatap dalam matanya. Taemin mengangguk dengan bibir memberengut. “tapi jangan bikin masalah, arachi?” tegasku. Taemin mengangguk lagi. “jangan manja padaku, jangan merengek, jangan melakukan hal yang tidak-tidak seperti yang kau lakukan saat jonghyun oppa datang ke rumah waktu itu.” Tambahku lagi.
Taemin menatap ke langit, terlihat sedang mengingat pada saat kapan jonghyun datang ke rumah. Tak lama kemudian dia menatapku lagi dan mengangguk.
“yaksok?” aku mengangkatjari kelingkingku.
“yaksok” taemin mengaitkan jari kelingking kami berdua.
“geurae, gaja” aku berjalan duluan. Namun, baru dua langkah aku berjalan, suara rengekan yang familiar terdengar dari belakang.
“nuna, pegang tanganku~”
Aku menoleh kebelakang. Taemin sedang menjulurkan tangannya ke depan. Wajahnya imut sekali dengan bekas air mata seperti itu.
Aku meraih tangannya dengan senyuman.
“nanti kalau sudah sama Chen lepas, ya~” ujarku lembut. Taemin tak merespon, dia hanya makin mendekatkan diri padaku.
***
Wajah Chen tampak bingung saat aku dan taemin berjalan mendekatinya. Aku nyengir padanya dengan perasaan bersalah. Chen masih tersenyum bingung padaku saat kami sudah berada di depannya.
“ini adikku taemin, taemin ini chen.” Tanpa basa-basi, aku langsung memperkenalkan mereka. Mereka berdua saling memberi salam.
“ceritanya panjang, tapi apa adikku boleh ikut kita hari ini?” ujarku memelas pada chen. Dalam hati, aku mulai gelisah, takut kalau chen marah padaku gara-gara hal ini.
Chen tertegun sebentar, namun sedetik kemudian dia sadar kembali.
“oh, geurae. Tentu saja boleh. Ya. Boleh.”
Aku tersenyum menatapnya, sepertinya kesadarannya belum kembali sepenuhnya.
“benar, tidak apa-apa? kalau tidak, biar dia aku suruh pulang.” Aku melirik taemin saat berkata seperti itu. Taemin langsung melihatku dengan pandangan tak suka, mulutnya memberengut. “hehe” aku nyengir melihatnya.
“tidak apa-apa, kok.” Ujar chen, dia melirik taemin yang memang sedikit lebih tinggi dari dirinya. “maaf, tapi kalian tidak mirip.” Tambah chen sambil tersenyum melihat kami berdua.
“banyak yang bilang begitu.” Jawabku cepat. Aku dan taemin berpandang-pandangan setelah itu. Kami sama-sama tidak suka jika ditanyai hal seperti ini sebenarnya, seperti membuka luka lama yang sudah sembuh.
“mau pergi sekarang?” ajak chen setelah hening sebentar.
“o—oh, baiklah” aku menarik bibirku agar bisa tersenyum.
***
Taemin menepati janjinya. Dia benar-benar tidak macam-macam saat kami pergi bertiga tadi. Taemin bahkan menawarkan dirinya untuk mengambil foto kami berdua di depan patung Raja Sejong tadi. Tapi aku tahu senyumnya tidak tulus selama sepanjang hari ini. Kadang-kadang dia tertangkap olehku sedang menatap chen lama-lama. Entah apa maksudnya. Sekali-dua kali chen juga sepertinya merasa dirinya sedang diperhatikan taemin, tapi setelah itu dia hanya tersenyum padaku seperti tidak terjadi apapun.
Kami sudah berada di depan rumah sekarang. Meski aku bersama taemin, tapi chen bersikeras ingin mengantar kami sampai depan rumah. Katanya dia mau menginap di rumah sepupunya yang kebetulan dekat dengan rumah kami.
“terima kasih sudah mengantar kami.” ujarku sopan, aku melihat taemin sebentar kemudian melihat chen lagi sambil tersenyum, “hari ini menyenangkan.”
“aku juga merasa begitu.” Bibir chen makin menipis karena senyumnya, “sampai jumpa.”
“jal ga.” Aku membalasnya.
Chen terlihat ragu saat membalikkan badannya. Dia sudah setengah berbalik, tetapi wajahnya masih dihadapkan padaku. Senyum tipis terukir di bibirnya. Tapi kemudian dia melihat taemin, mengangguk sedikit dan melambaikan tangannya padaku.
Aku melirik taemin. Matanya masih terpaku pada punggung chen yang semakin menjauh.
“chen!” sengaja aku keraskan suaraku agar dia mendengarnya. Chen berhenti di tempatnya dan membalikkan badannya.
“ne?” katanya sambil menaikkan alis dan sedikit tersenyum.
Aku berlari kecil mendekatinya dan mengecup pipinya sekilas.
“terima kasih hari ini.” bisikku.
Chen tampak terkejut, tapi sedetik kemudian senyumnya mengembang lebar.
“gomawo” katanya kemudian. Dia lalu membalikkan badan lagi dan kembali berjalan menjauh.
Aku menghembuskan napas panjang. Kini saatnya berhadapan dengan taemin. entah apa yang akan dilakukannya padaku setelah kejadian barusan.
Pelan-pelan aku membalikkan badanku. Taemin masih berdiri di tempatnya tadi, tapi tangannya terlipat dan matanya lurus menatapku.
Aku sedikit takut-takut saat mendekatinya. Sengaja aku tundukkan kepalaku dalam-dalam. Pandangan taemin sangat menusuk. Aku tak mau melihat matanya sekarang.
Aku berhenti satu langkah di depan kakinya, masih tak berani menatap wajahnya.
“chen sudah pergi ‘kan, nuna?” tanya taemin dengan berbisik.
Aku menelan ludah dan mengangguk singkat.
Terdengar dengusan napas panjang setelah itu.
“aku mau menggigit bibir nuna” ujar taemin tegas.
DEG.
Aku menutup mata dan menelan ludah lagi, masih menunduk.
Tiba-tiba taemin menarik pinggangku mendekat ke arahnya. Secara refleks aku melihat ke atas, ke wajahnya. Pandangan taemin masih menusuk. Dia menatapku lama sebelum akhirnya jari tangannya meraba bibirku.
“bibir nakal ini…”
Tidak ada kata-kata lagi setelah itu karena taemin sudah mendekatkan bibirnya ke bibirku. Dia benar-benar menggigit bibir bawahku. Dia menggigitnya dengan kuat, sampai aku mengeluarkan erangan karena sakitnya.
Aku memukul lengan taemin saat dia melepas gigitannya di bibirku.
“sakit! Aigoo~~” erangku sambil menutup mulutku. Bibir bawahku berasa kebas. Aku menutup mataku rapat-rapat sambil menunduk. Sepertinya aku akan menangis.
“siapa suruh nakal!” bela taemin terhadap dirinya sendiri, “kalau lain kali nuna begitu lagi, aku akan langsung mencium nuna di depan chen, membuka baju nuna dan—“
PLAKK!!
Kali ini aku memukul kepala taemin.
“apa yang ada di dalam kepalamu itu!!” bentakku.
Taemin hanya tertegun sebentar melihatku. Mulutnya sedikit terbuka karena kaget.
“nu-nuna menangis? Apa benar-benar sakit?” taemin bertanya takut-takut. Mungkin dia melihat genangan air mataku.
“kau kira aku bohong! Sini bibirmu biar aku gigit juga!” ujarku setengah berteriak pada taemin.
“eomo!” sebuah suara terdengar dari sebelah kiri kami. Aku langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata tetangga kami, seorang anak perempuan berumur belasan tahun. Kedua tangannya menutup mulutnya dan dia tampak benar-benar terkejut. Saat ketahuan sedang mendengar pembicaraan kami, dia cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya sambil menunduk.
Aku mengutuk dalam hati. Pasti dia mendengar kata-kataku barusan. Entah apa yang dia pikirkan tentang kami setelah ini. ‘sini bibirmu biar aku gigit juga’? ya ampun, aku bodoh sekali.
Taemin nyengir saat aku menoleh lagi padanya. Melihat senyumnya itu membuat bibir bawahku kebas kembali.
“ck!” aku mendecak keras dan menarik tangan taemin untuk masuk ke dalam rumah.
Taemin tergelak saat pintu rumah sudah tertutup.
“mau gigit bibir bawahku, nuna? nih!” taemin menggodaku, kemudian dia tergelak lagi.
“sudah, diam!” kataku sambil lalu. Aku segera berjalan cepat ke kulkas di dapur untuk mengambil es supaya aku bisa mengompreskannya ke bibirku. Masih dengan sedikit kesal, aku kembali berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sofa. Satu kantong plastik kecil es batu menempel erat di bibir bawahku. Rasanya bibirku tambah kebas.
“sini, nuna, biar aku bantu.” Taemin ikut duduk di sebelahku dan menyambar kantong es yang sedang aku pegang itu. Aku membiarkannya saja. Aku hitung perilakunya ini sebagai bentuk tanggung jawab.
“mianhae. Bibir nuna benar-benar jadi merah” ujar taemin pelan setelah beberapa lama menempelkan es-es itu di bibirku.
“eung.” Aku hanya bergumam pelan. Aku mencoba menggerak-gerakkan bibirku. Masih terasa sedikit kebas, tapi sepertinya sudah tidak apa-apa.
“benar-benar merah…”
Sebelum aku sadar apa yang sedang terjadi, taemin sudah lebih dulu menempelkan bibirnya lagi di bibirku. Kali ini dia tidak menggigit, tetapi menciumku.
Saat aku merasakan jemari taemin di kulit pinggangku, aku langsung mendorongnya kuat.
“whoaa—apa yang kau lakukan??” tanyaku dengan suara keras dan sedikit menjauhkan diri dari taemin.
Aku kaget taemin menyelipkan tangannya di balik bajuku seperti itu. Apalagi dia tadi sedikit meremas pinggangku. Kaget setengah mati.
Taemin hanya melihatku dengan mulut sedikit terbuka dan bibir basah seperti itu.
“aku tidak mau keduluan chen.” Ujarnya pelan.
Aku masih belum mengerti maksudnya apa.
“a-ap—maksudmu apa???” tanyaku.
“aku tidak mau keduluan chen!”
Sebelum taemin kembali menyerangku, aku sudah berlari menuju kamarku.
“aaaaa~~~~!!” ujarku sambil berlari.
“nuna, jangan lari~!!” taemin mengejarku.
“andwaaeee~~ jangan ikuti akuu~~!!”
BLAMM!! Cklek!
Saat aku masuk, aku langsung membanting pintu kamarku dan menguncinya. Dadaku berdegup kencang.
Tidak ada suara lain dari balik pintu. Aku menghembuskan napas lega dan menghempaskan tubuhku di kasur.
Apa maksudnya dengan ‘aku tidak mau keduluan chen’?? Anak itu benar-benar…
Selagi berpikir begitu, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Sms masuk.

Aku cuma bercanda, nuna hehe^^;;
Jangan takut begitu

Dari taemin.
Aku menatap isi sms itu lama-lama. Kemudian jariku menari-nari di atas layar.

Kau mengerikan.

Terkirim.
Tak sampai semenit kemudian handphone-ku bunyi lagi.

Mianhae, tadi juga aku gigit bibir nuna mianhae
Apa aku boleh masuk?

Dia meminta masuk ke kamarku setelah kejadian tadi. Enak saja. Entah apa yang akan dilakukannya nanti kalau aku mengizinkan.

Tidak.

Balasan taemin lebih cepat dari sms sebelumnya

Tapi kan belum ppoppo sebelum tidur 😦

Oh iya, aku lupa yang satu itu. Sambil tersenyum aku membalas sms taemin.

Ccuk!

Setelah terkirim pun aku masih tersenyum.
Balasan taemin sedikit lebih lama dari perkiraanku.

Ccuk!
Hehehehe ^////^
Aku sayang nuna. saranghae saranghae saranghae!
Jal ja! Ccuk!
Coba kalau nuna tadi membiarkan tanganku sedikit lebih ke atas… :p

Mataku melebar saat membaca bagian akhir sms.
“TAEMINIIIIEEEE!!!!!!!” aku berteriak keras. Suara gelak taemin terdengar dari luar.
= = =
Posted by Taemznuna