Tag Archive | Family

FF/비온그밤 (Taemin Ver. “That Man’s Coming”)

= 비온그밤 =

Title: 비온그밤 “The Rainy Night” (Taemin Ver.)
Subtitle: That Man’s Coming

Author: Taemznuna

Cast:

– Taemin (SHINee) (main point of view)
– Chen (EXO-M)
– Taemin’s noona, Yeong Mi (OC)

= = =
Nuna masih belum pulang. Kulihat jam sekali lagi untuk memastikan kalau aku memang tak salah lihat. Benar, sudah hampir jam 1 malam. Aku mulai gelisah.
Tadi nuna memang sudah bilang padaku kalau dia akan pulang larut. Tapi kami sama-sama tahu—meskipun tidak ada peraturan tertulis—kalau jam malam rumah ini adalah jam 11 malam. Ada konpensasi 15 menit jika dalam keadaan mendesak. Memang jam malam tersebut mungkin dianggap aneh dan terlalu ‘pagi’ bagi sebagian orang, tapi memang peraturan itu berlaku dari dulu. Aku dan nuna sudah tahu itu.
Dari luar suara guntur terus terdengar. Sudah jam segini nuna masih belum pulang, dan di luar sepertinya akan hujan. Aku makin gelisah.
Aku membuka inbox hp-ku lagi dan kembali membaca ulang 12 sms yang telah kukirim ke nuna selama 1 jam terakhir. Tak ada satu pun balasan. Aku menarik napas panjang, menutup mataku dan mencoba berpikir jernih. Tadi nuna bilang dia akan pergi ke noraebang bersama teman-temannya. Mungkin nuna keasyikan bernyanyi dan tidak sempat mengecek hp-nya. Ya, mungkin begitu.
DUARRR!!!
Suara guntur barusan menggetarkan jendela rumah. Kemudian, disusul oleh suara hujan yang tiba-tiba datang dengan derasnya.
Tidak, meski keasyikan tapi seharusnya nuna sudah pulang dari tadi. Ini sudah dini hari!
Aku memencet tombol 1, panggilan cepat ke hp nuna-ku. Sambil menempelkan hp di samping telinga, aku mulai berjalan mondar-mandir di depan sofa.
Suara hujan di luar semakin jelas, itu membuatku makin khawatir.
Kenapa nuna tidak mengangkat telponnya??
Aku sudah hampir memutus sambungan telpon dan berencana menelpon nuna lagi saat suara nuna dari ujung sana terdengar. Suara nuna kecil karena dikalahkan suara hujan yang juga terdengar dari tempat nuna berada.
[Yeoboseyo?]
“Nuna, eodiya?” tanpa basa-basi, aku langsung menyerang nuna. Nada suaraku sangat tidak santai sekali.
[Di mini market dekat rumah kita, sedang berteduh.]
“Sendiri?”
[Tidak, dengan teman.]
Teman? Siapa?, batinku. Aku mulai curiga.
“Siapa?”
Ada jeda sebentar sebelum nuna menjawabnya.
[Chen]
Deg!
Cowok itu lagi…
“Sepertinya hujannya akan lama. Langsung pulang saja. Sekarang! Aku tunggu.”
Aku tak menunggu jawaban nuna, aku langsung memutus telponnya. Kini aku semakin gelisah.
Chen. Nuna dengan chen. Cowok yang disukai nuna.
Aku berjengit. Bahkan mendengar hal itu dalam pikiranku pun aku tak suka. Aku mulai mondar-mandir lagi. Memikirkan ini dan itu. Rasanya sudah lama sekali nuna tidak menyebut-nyebut cowok itu, lalu tiba-tiba sekarang nuna akan pulang ke rumah dengannya. Aku tak menyukai itu.
Ting dong!
Itu pasti nuna. Aku segera berlari ke pintu depan untuk membukanya. Angin yang datang dari luar menghantamku ketika aku membuka pintu dengan lebar, begitu juga percikan-percikan hujan yang terbawa angin. Nuna langsung masuk, di belakangnya cowok itu mengikutinya. Tubuh mereka basah kuyup. Ternyata hujan di luar memang deras, bahkan lebih deras dari perkiraanku. Tega sekali aku menyuruh nuna segera pulang tadi.
“Taemin, ambilkan dua handuk bersih di lemariku. Di rak kanan atas,” ujar nuna kemudian. Aku langsung mengerjakannya. Dalam hati aku menyalahkan diriku sendiri. Harusnya aku tahu kalau mereka akan datang dalam keadaan basah dan seharusnya memang aku sudah menyiapkan handuk sebelum mereka sampai. Kasihan nuna-ku terlihat kedinginan seperti itu.
Aku kembali dengan membawa 2 buah handuk bersih dan memberikannya pada nuna. Nuna kemudian menyerahkan salah satu handuk itu pada cowok itu. Saat itu barulah aku perhatikan mereka berdua. Rambut cowok itu basah seluruhnya, begitu juga badan dan bajunya. Tapi tidak dengan nuna. Hanya bagian tubuh depan dan bawah nuna saja yang basah. Selain bagian itu hampir bisa dikatakan kering. Sepertinya tadi cowok itu melindungi nuna-ku dari hujan dengan jaketnya. Soalnya jaket yang sedang dipegang nuna—dan sudah pasti bukan punya nuna—memang terlihat basah.
“Sebaiknya kau membasuh badanmu, aku akan mengeringkan pakaianmu.” Kata nuna pada cowok itu. Kata-katanya sedikit kaku.
“Baiklah. Di mana kamar mandinya?” ujar cowok itu kemudian. Dia masih mencoba mengeringkan wajah dan rambutnya dengan handuk yang aku bawakan tadi.
Nuna masuk dan menunjukkan kamar mandi kami.
“Nanti akan aku bawakan pakaian ganti. Saat aku ketuk, tolong buka pintunya, ya.”
“Oke.” Dia menghubungkan jari telunjuk dan jempolnya dan kemudian menutup pintu kamar mandi.
Tanpa menoleh padaku, nuna bergegas ke kamarku dan mengaduk isi lemariku. Aku hanya mengikutinya.
“Taemin, pinjam bajumu,” izin nuna. Nuna tidak perlu jawabanku karena memang itu bukan masalah. Tak mungkin aku tak meminjamkan bajuku pada cowok itu. Aku tak sudi melihatnya telanjang di depan nuna-ku. Enak saja!
Nuna kembali lagi ke depan pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.
“Chen? Ini baju gantimu.”
Aku tak suka mendengar namanya selalu disebut-sebut nuna seperti itu. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka sedikit dan memperlihatkan cowok itu yang mengintip dari baliknya. Aku baru sadar kalau matanya cukup besar.
“Gomawo.” Katanya sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk mengambil bajuku.
“Pakai saja sabun dan shampoo yang ada di dalam. Jangan sungkan.” Tambah nuna lagi.
“Eung.” Dia menjawab singkat sambil menutup pintu kamar mandi.
“Jamkkanman!” nuna tiba-tiba menahan pintu itu dan cowok itu mengintip lagi. Kali ini dia mengangkat kedua alisnya, terlihat sedikit bingung. Kenapa sih dia sok terlihat imut seperti itu?? “Mana pakaian basahmu? Biar aku keringkan.” Ujar nuna kemudian.
Cowok itu hanya ber-‘oh’ pelan tanda mengerti dan kemudian mengulurkan pakaian yang dikenakannya tadi kepada nuna-ku. Baru setelah itu dia menutup pintu lagi.
Aku menghirup napas panjang dan menenangkan diri. Pemandangan macam apa ini yang ada di depan mataku?? Aku benci keadaan seperti ini.
Setelah mengikuti nuna ke mesin cuci di dekat dapur dan memperhatikan nuna mengeringkan baju basah milik cowok itu, aku mengikuti nuna yang mulai berjalan ke kamarnya. Kali ini nuna mengaduk lemarinya dan mengeluarkan bed cover besar dan alas kasur. Rasa curigaku kembali muncul. Baru saja aku hendak bertanya, tiba-tiba nuna berkata sesuatu.
“Taemin, bantu aku ambilkan salah satu bantal di kasurku. Setelah itu bawakan ke kamarmu”
“Untuk siapa?” tanyaku penuh curiga. Aku sudah punya bantal dan aku tak perlu bantal tambahan.
Nuna menoleh padaku dengan tatapan tak percaya. Akhirnya nuna melihat aku, akhirnya nuna sadar kalau aku juga ada, bukan hanya mereka berdua yang ada di rumah ini.
“Tentu saja untuk chen.”
Dia tidur di sini?” nadaku meninggi tanpa kusadari.
“Kita tak punya payung, aku meninggalkannya di rumah temanku dua hari yang lalu.” Kata nuna sambil menutup pintu lemarinya.
“Tunggu saja sampai reda.” Ujarku tak senang.
“Kau kira sudah jam berapa sekarang??” kali ini nada nuna yang meninggi. Aku mengerutkan keningku. Aku tak suka nuna marah padaku seperti itu hanya gara-gara cowok itu. “Dia akan tidur denganmu malam ini. Sekarang, bantu aku membawa bantalnya.” Nuna berkata seperti itu sambil kembali mendekap bed cover tebal dalam pelukannya.
“Aku tak mau tidur dengannya.” Ujarku egois.
Nuna yang sudah hendak berjalan tiba-tiba mematung sambil menatapku tajam. Nuna kemudian menaruh bed cover yang dipeluknya itu di atas tempat tidurnya.
“Kalau begitu dia tidur denganku.” Tantang nuna.
MWO???
“Andwae!!” aku langsung menentangnya dengan suara keras.
“Kalau begitu, bawakan bantalnya.” Nuna kembali berjalan ke kamarku tanpa menunggu responku.
Kenapa tidak aku saja yang tidur dengan nuna? Kenapa nuna memilih dia yang tidur dengan nuna??
Dengan mata sedikit berair, aku mengambil salah satu bantal di kasur nuna dan menyusul nuna. Ini bukan saat yang tepat bagiku untuk protes dan marah. Nuna terlihat capek dan sepertinya perasaannya bukan dalam keadaan baik sekarang.
Saat aku tiba di kamar, nuna sudah membentangkan alas kasur di atas karpetku dan memposisikan bed cover di atasnya. Aku menyerahkan bantal yang nuna suruh bawakan tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Aku harap kau nanti tak bersikap aneh-aneh, taemin.” ujar nuna kemudian setelah hening beberapa saat.
Hatiku sedikit sakit mendengarnya. Aku belum melakukan apa-apa saja nuna sudah berprasangka buruk seperti itu.
“Tak akan.” Ujarku singkat.
“Baiklah.” Nuna kemudian bangkit dan mulai berjalan keluar kamar. Aku mengikutinya lagi.
Saat aku keluar kamar, cowok itu juga keluar dari kamar mandi. Aku melihat dia tersenyum pada nuna. Aku juga melihat nuna membalas senyumannya.
“Giliranmu” katanya sambil menunjuk kamar mandi dengan jempolnya. Aku tak suka melihatnya. Sok keren.
“Sepertinya aku cukup membasuh wajah saja, aku tidak terlalu basah. Tempat tidurmu sudah aku siapkan di kamar Taemin. Mian, kau harus tidur di karpet.” Jelas nuna padanya.
“Gwaenchanha. Aku suka tidur di karpet.” Cowok itu membalasnya dengan cengiran.
“Kalau begitu duluan saja ke kamar, taemin akan menyusul setelah dia menggosok gigi. Taemin, ayo sini!” ujar nuna kemudian yang membuatku sedikit kaget. Aku kemudian mengikuti nuna masuk ke kamar mandi.
“Dari mana nuna tahu aku belum menggosok gigi?” tanyaku pada nuna dari pantulan cermin besar di dalam kamar mandi.
“Hanya tahu saja.” jawab nuna cuek. “Nih” nuna kemudian menyerahkan sikat gigiku yang sudah diberi pasta gigi. Nuna kemudian memberi pasta gigi di sikat giginya dan mulai menggosok giginya. Aku masih terus memperhatikan nuna dari pantulan cermin.
“nuna?” panggilku.
“eung?” nuna membalas tatapanku.
“namaku taeminie, bukan taemin.”
Nuna langsung tersenyum lebar begitu mendengar kata-kataku. Melihat itu, kesal yang kurasakan dari tadi langsung hilang dan aku juga jadi ikut tersenyum.
Kami selesai, dan nuna ikut mengantarkanku ke kamar. Cowok itu sudah berbaring di tempat yang sudah disediakan nuna tadi.
“Belum tidur?” tanya nuna padanya.
“Sedang mencoba.” Jawabnya singkat. Kemudian dia dan nuna berbincang sebentar.
Dalam beberapa menit aku merasa dianggap tidak ada lagi. Tapi begitu aku mengingat senyum lebar nuna di kamar mandi tadi, rasa kesalku padam. Aku merangkak ke atas kasur dan menarik selimut sampai leherku.
Setelah selesai mengobrol dengan cowok itu, nuna berdiri di ambang pintu kamarku sambil memperhatikan kami berdua.
“Besok pagi kalian akan aku bangunkan untuk sarapan,” kata nuna kemudian, “jal ja”
Pintu hampir tertutup saat aku panggil nuna lagi. Nuna kembali membuka lebar pintu kamarku.
“ada apa?” tanya nuna.
Nuna tadi sudah bilang agar aku tidak boleh macam-macam, tapi aku benar-benar ingin ini. Lagi pula ini memang agenda rutin kami tiap malam sebelum tidur.
“ppoppo?” ujarku jelas. Mata nuna langsung melotot mendengarnya. Aku melirik cowok itu, ternyata dia juga sedang melirikku. Keadaan jadi sedikit canggung.
“Aku akan menutup mataku,” ujar cowok itu tiba-tiba. Aku meliriknya sekali lagi. Dia benar-benar menutup matanya.
Nuna tak punya pilihan lain selain mendatangiku dan mengecup bibirku singkat. Aku merasa menang, tapi juga merasa kalah. Aku merasa belum dewasa karena apa yang aku lakukan, juga karena kata-katanya. Dan aku jadi kesal akan itu.
Nuna keluar dan menutup pintu. Baru dua detik nuna keluar, tiba-tiba cowok itu menyibakkan selimutnya dan menyusul nuna. Aku masih bisa mendengar kalimat yang dilontarkannya sebelum pintu kamarku tertutup.
“untukku tak ada?” tanyanya pada nuna di luar kamar.
Aku langsung duduk tegak. Jantungku berdegup kencang.
Apa dia juga minta ppoppo? Tidak! Dia pasti minta ppoppo!
Aku sudah ingin menyusul keluar saat cowok itu kembali masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum padaku sambil berbaring di karpet tempat dia tidur.
“mian, aku meminjam sebentar nuna-mu.” Katanya enteng. Dia tidak mencemoohku, kalimatnya tulus. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali kembali berbaring membelakanginya. Aku tak bisa marah. Aku tak boleh marah. Atau nuna akan lebih marah lagi padaku, bahkan lebih besar daripada kemarahanku.
Selama beberapa menit aku memikirkan apa yang terjadi di luar tadi saat cowok ini menyusul nuna-ku. Beberapa scene melintas di kepalaku. Ada yang baik, ada juga yang buruk. Sayangnya, lebih banyak scene buruknya.
Aku menarik dan menghembuskan napas panjang untuk menenangkan diri. Apapun yang terjadi tadi, tetap saja aku tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali satu.
“Sampai aku melihatmu menjaganya dan menyayanginya lebih besar daripada yang bisa aku berikan kepadanya, aku tak akan melepaskannya padamu.” Gumamku dengan jelas. Terserah dia sudah tidur atau belum. Aku hanya ingin menyampaikannya.
“Mworago?” tanyanya. Ternyata dia belum tidur.
Aku malas mengulangi kalimat tadi lagi. Kalau aku ulangi, aku hanya terdengar seperti anak-anak. Lagipula sepertinya dia sebenarnya mendengar kata-kataku tadi, aku mengatakannya dengan cukup jelas.
“Aku menyayanginya.” Ujarku akhirnya. Kurasa kalimat singkat itu bisa mewakili kalimat panjangku tadi. Cowok itu diam saja. Tapi beberapa saat kemudian, dia mulai bicara.
“Arasseo,” katanya, kemudian dia menambahkan lagi, “Aku juga menyayanginya.”
Aku mengepalkan kedua tanganku mendengar kalimat itu. Tapi sedetik kemudian, aku menenangkan diriku lagi dan menutup mataku sambil berkata dalam hati.
Nuna, semoga aku bisa tidur malam ini.
= = =

Advertisements

FF/S/Nuna’s Diary (page 163-168) Special Taemin’s 20th birthday

= Nuna’s Diary =

page: 161-162 (special Taemin’s 20th birthday)
Cast:
– Nuna
– Taemin

Genre: Family, Incest

= = =
Pintu depan tertutup di belakangku.
“aku pulang~” ujarku lemah sambil melepaskan sepatu. Taemin sedang duduk di atas sofa, sedang melakukan sesuatu dengan handphone-nya—entah sedang apa. Dia tidak menoleh sedikitpun padaku. Aku sedikit kecewa. Padahal aku berharap mendapat senyumannya begitu aku masuk ke dalam rumah.
“taeminie, aku pulang~” ujarku lagi. Taemin langsung menoleh.
“eo! Wasseo? Nuna sudah pulang?”
Sedetik saja rasa kecewaku langsung hilang karena melihat senyumnya. Lucu sekali.
“ne~ capek sekali~” keluhku sambil duduk di sebelahnya. Aku lepas tas pundakku dan kuletakkan begitu saja di lantai. Aku lalu menyelonjorkan kakiku dan kurebahkan kepalaku pada sandaran sofa di sebelah kiriku. Dengan sudut mata, aku melirik jam dinding di atas televisi. Ulang tahun taemin kurang dari satu jam lagi.
“di sini saja, nuna~” tiba-tiba taemin menarikku dan merebahkan kepalaku di atas pangkuannya. Suaranya barusan terdengar dewasa. Aku jadi was-was. Posisi kepalaku dekat sekali dengan…
“tidak, di sini saja” aku kembali memindahkan kepalaku ke kiri, kembali berbantalkan sandaran sofa. Bahaya sekali rasanya tadi. Jantungku masih berdebar.
“di sini saja~!” kali ini taemin menarikku dengan sedikit merengek. Kepalaku sekarang kembali berada di atas pangkuannya, “bogo shipheo~” ujarnya lagi. Aku tersenyum mendengarnya. Kalau dia aegyo begini aku sama sekali tak khawatir, tapi kalau suaranya dewasa seperti yang tadi beda lagi ceritanya.
“kan aku sudah di sini sekarang” ujarku.
“tapi tetap saja aku masih rindu~~” bantah taemin. Tangannya yang berada di lenganku terasa canggung. Mungkin dia mau memelukku, tapi bingung karena keadaanku sekarang sedang berada di atas pangkuannya.
“taeminie, aku haus. Bisa ambilkan minum?” pintaku sambil menegakkan badan. Taemin langsung tersenyum dan mengangguk.
Aku melihat jam lagi. Waktu ulang tahun taemin makin dekat.
Taemin datang dengan membawa sebotol kecil banana uyu di tangannya. Dia kemudian duduk lagi di sebelahku, menancapkan sedotan di bagian atas botol susu dan kemudian meminumnya. Aku kaget sekaligus bingung. Kukira susu itu diambilkannya untukku.
“ini, nuna” tiba-tiba taemin menyerahkan botol susu tersebut padaku. Aku mengambil botol itu. Taemin hanya minum sedikit, botol susu itu masih terasa berat di tanganku. Dan satu lagi, susunya dingin seperti baru diambil dari kulkas. Padahal tenggorokanku sedang sakit dan aku sedang tidak ingin minum yang dingin-dingin sekarang. Tapi tidak enak rasanya kalau menolak susu yang sudah diambilkannya untukku itu.
“kalau kau haus juga kenapa tak ambil satu lagi?” tanyaku sebelum mulai menyeruput susu pisang itu. Saat airnya mengaliri tenggorokanku terasa segar, tapi setelah itu sakit di tenggorokanku sepertinya tidak semakin membaik. Aku berdehem untuk menghilangkan kesan tidak enak itu.
“aku sedang tidak haus, kok” jawab taemin sambil memperhatikanku.
“terus, kenapa kau minum punyaku?” tanyaku. Aku berdehem lagi.
Taemin tidak menjawabnya, hanya tersenyum polos sambil terus menatapku. Aku membiarkannya saja seperti itu dan terus menghabiskan susu di tanganku. Aku haus sekali. Terserah nanti tenggorokanku mau bagaimana.
“sudah habis semua?” tanya taemin setelah aku menyeruput sisa terakhir banana uyu itu.
Aku mengangguk. Tenggorokanku terasa tidak enak.
“nuna, tanya lagi dong yang tadi~” pinta taemin kemudian.
“tanya apa?” aku mengerutkan kening dan berdehem lagi.
“tadi itu~ pertanyaan yang terakhir nuna tanyakan~” katanya lagi.
Aku berpikir sebentar.
“oh, kenapa kau minum banana uyu-ku kalau tidak haus?” akhirnya aku mengingatnya.
“hehe” taemin nyengir lebar, “supaya bisa kiseu-tidak-langsung dengan nuna”
Aku mengangkat sebelah alisku dan tersenyum. Lagi-lagi, aku tidak mengerti jalan pikiran taemin.
“tapi aku jadi ingin minum susu pisang sekarang.” Ujar taemin kemudian.
“ya sudah, ambil saja lagi.”
“itu tadi yang terakhir, di kulkas tidak ada lagi.” jelas taemin.
“kalau begitu kenapa yang tadi itu tidak untuk kau saja? kan kau bisa mengambilkanku minuman lain~” aku sengaja membuat suaraku sedikit aegyo. Aku sangat capek dan tenggorokanku sakit, tapi taemin malah bertele-tele begini. Tapi aku tak mau marah dengannya.
“bukan itu..” kata taemin tiba-tiba.
“jadi apa?” tanyaku. Sekali lagi aku melirik ke jam dinding. Sepuluh menit lagi.
Taemin tidak menjawabnya. Dia malah memajukan bibirnya, seperti ingin di-ppoppo. Aku langsung tertawa lepas.
“hahaha, jadi kau ingin di kiseu betulan setelah kiseu-tidak-langsung yang tadi?” tanyaku sambil tertawa. Taemin mengangguk, masih dengan mulut yang dimajukan.
“tapi ulang tahunmu masih sepuluh menit lagi.” ujarku iseng. Kali ini aku tidak sembunyi-sembunyi menunjuk jam.
“gwaenchanha, pemanasan~” jawab taemin sesukanya.
Pemanasan??, aku mengulang dalam hati.
“mana bibir nuna? aku tutup mata, ya~ nanti nuna yang kiseu aku, hehe” ujar taemin kemudian. Dia menutup matanya sementara bibirnya masih dimajukannya.
Aku nyengir sebentar sebelum kemudian mendekatinya.
Ccuk!
Aku hanya mengecupnya sekilas, tak lebih.
Taemin membuka matanya dan terlihat marah. Kedua alisnya membentuk kerutan dan kali ini bibirnya maju karena kesal, bukan karena minta ppoppo.
“kan aku bilang kiseu!” protes taemin.
Aku hanya nyengir saja.
“yah, bibirmu maju begitu, bagaimana bisa kiseu~” ujarku sambil lalu. Aku sambar remote tv yang ada di atas meja di depan kami dan menekan tombol power untuk menghidupkannya.
Tiba-tiba taemin menarikku lebih dekat. Diarahkannya wajahku menghadap ke wajahnya. Wajahnya sudah berubah dewasa lagi.
“jadi bagaimana? Dibuka sedikit?” bisiknya di depanku.
Aku menelan ludah. Taemin dekat sekali. Bibirnya hampir menyentuh bibirku.
“nuna juga buka dong” Dia kemudian menarik daguku sedikit ke bawah hingga mulutku sedikit terbuka. Aku mematung. Napas hangat yang keluar dari mulutnya terasa di bibirku. Taemin tak menempelkan bibirnya, dia hanya menyentuhkan bibirnya di bibirku sebentar, kemudian melepaskannya lagi. Begitu terus.
“begini?” bisiknya lagi.
Aku menelan ludahku. Aku tak bisa membiarkannya mempermainkanku seperti ini.
“taemin, sudah.” Ujarku lemah. Satu hal yang membuat diriku marah adalah bahwa aku menutup mata sambil berkata demikian. Sebagian diriku menginginkan lebih, tak hanya sentuhan-sentuhan bibirnya tadi.
“sudah? Baiklah”
Di luar dugaan, taemin benar-benar melepaskanku. Dan entah kenapa aku merasa menyesal kenapa taemin tak melanjutkannya. Aku benci diriku yang berpikir demikian.
“tapi aku bohong”
Setelah berkata seperti itu, taemin menarikku ke badannya lebih dekat. Tapi dia tidak menciumku secara dewasa, dia meraih wajahku dengan kedua tangannya dan menempelkan bibirku di bibirnya dalam-dalam. Tapi hanya itu. Tidak lebih.
Ccuuu~~uk!!
“hehe, nuna, ucapkan ulang tahun kepadaku. Aku sudah 21!” kata taemin bersemangat setelah ciuman ringan itu.
Aku melirik ke jam dinding. Benar. Sudah jam 12.
Ccuk!
Aku menciumnya sekilas.
“saengil chukhahae, nae dongsaeng~” bibirku tertarik ke belakang, aku tak bisa menahannya. “dan kau 20! Bukan 21!” tambahku lagi, tapi kemudian senyumanku menyusul.
“hehe”
Ccuuuk~
Taemin nyengir dan kemudian menciumku sekali lagi.
“nuna mau hadiah apa?” tanya taemin kemudian.
Alisku berkerut bingung.
“bukannya aku yang harus memberimu hadiah?” tanyaku heran. Taemin senyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“tapi pertama-tama aku mau memberi nuna hadiah dulu~ nah, nuna mau apa?” katanya lagi. imut sekali dia aegyo seperti itu.
“jinca?” tanyaku memastikan.
Taemin mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.
“mm~,” aku berpikir sebentar.
Hal yang aku inginkan? Tapi tidak ada! Tunggu. Badanku sakit-sakit. Minta pijit saja!
“kau mau memijitku, taeminie?” pintaku.
Mata taemin melebar.
“pijit??” ujarnya tak percaya. Aku sedikit bingung dengan responnya yang seperti itu.
“ne, pijit. Kenapa memangnya?” balasku.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat taemin menelan ludahnya.
“a-ani, gwaenchanha.” Ujar taemin ragu-ragu, dia kemudian menggaruk rambut belakangnya, “emm~ kalau dipijit itu lepas baju ‘kan, nuna?” tanyanya kemudian.
Mwo??? Oh, jadi itu yang dipikirkannya.. Dasar taemin!
“tentu saja” ujarku enteng. Sengaja aku mengisenginya. Tentu saja aku tidak akan buka baju, maksudnya.
Kali ini suara ludah yang ditelan lebih jelas terdengar daripada sebelumnya. Aku mencoba menahan senyumku.
Tiba-tiba taemin makin mendekatkan tubuhnya padaku dan sebelah tangannya kemudian membuka ujung bajuku.
“jadi, nuna mau di ma—“
“YAA!! APA YANG KAU LAKUKAN???” aku langsung histeris dan menjauhinya. Kedua tanganku aku gunakan untuk kembali menurunkan bajuku yang setengahnya telah diangkat oleh taemin.
Berani sekali dia berbuat seperti itu padaku??!!
“wae?? Bukannya pijit memang harus buka baju? Nuna juga bilang begitu ‘kan? Ya sudah, aku bantu buka.” Jawab taemin sedikit kesal. Jawaban yang tak dapat kupercaya sebenarnya. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada anak ini??
“aku bercanda. Aku tidak akan buka baju, oke??” jelasku kemudian. Respon taemin selanjutnya lagi-lagi di luar dugaanku. Dia malah memajukan bibir bawahnya dan terlihat murung, padahal sedetik sebelumnya wajahnya sangat dewasa sekali.
“nuna bohong padaku, padahal ini hari ulang tahunku~” katanya kemudian dengan lemah. Sedikitnya aku merasa bersalah dengan kata-katanya itu.
“mianhae~” ujarku kemudian.
“eung” gumam taemin pelan sebagai respon, “aku mau memaafkan nuna, tapi buka baju dulu~”
PLAKK!
“YA!” tanganku ternyata bergerak lebih cepat daripada kata-kataku. Aku tidak menamparnya, hanya memukul lengan atasnya.
“huweee~ aku dipukul~~” kali ini rengekan taemin lebih keras.
Meski sedang kesal tapi tetap saja aku tak tahan. Aku malah menariknya masuk ke dalam pelukanku.
“mianhae, hehe” kataku sambil tersenyum. Taemin mengangguk dalam pelukanku.
“makanya, buka baju~” pintanya lagi.
“shirheo.”
“buka~~~”
“ya sudah, pijitnya tidak usah saja.”
Taemin langsung melepas pelukannya dariku.
“geurae. Tidak usah buka baju. Ayo ke kamar.” Bibirnya masih membentuk rengutan saat berkata seperti itu.
Aku nyengir lebar.
“gaja!”
***
“nuna” taemin tiba-tiba memanggilku. Dia sudah memijit kaki dan tanganku dan sekarang dia baru saja mulai memijit punggungku.
“hm”
“bukan aku mesum atau apa, tapi aku tak bisa memijit dengan santai kalau nuna pakai baju seperti ini. Rasanya aneh.”
Aku berpikir sebentar. Taemin benar. Jangankan dia, aku juga merasa aneh dipijit dalam keadaan begini. Rasanya malah badanku makin sakit-sakit.
“kau benar” kataku akhirnya.
“hehe. Jadi?” ujar taemin sedikit bersemangat. Aku yang sedang telungkup dan tidak bisa melihat wajanya pun jadi ikut tersenyum.
“jadi kenapa?” pancingku.
“hehe,” taemin senyum lagi, “mau buka baju tidak~?” tawarnya.
Aku berpikir lagi.
“kau kecapekan tidak?” tanyaku.
“aku? Tidak.” taemin menjawab singkat.
“geurae.”
Tanpa mengucap apapun lagi, aku langsung mengangkat baju bagian belakangku ke atas. Sedikit aneh sebenarnya setengah telanjang di depan taemin seperti ini, tapi tak ada hal lain yang bisa aku lakukan. Badanku benar-benar sakit-sakit, aku tidak bohong. Dan pijatan adalah hal yang paling aku butuhkan sekarang, paling tidak agar aku bisa tidur dengan nyaman malam ini.
“wow” ujar taemin tiba-tiba setelah aku membuka bajuku ke atas.
“sudah, taeminie. Pijit saja.” ujarku menahan malu.
“ne”
Hal yang aku rasakan selanjutnya adalah tangan taemin yang mulai memijit punggungku. Benar ternyata, begini lebih nyaman.
“nuna suka warna hitam, ya?” tanya taemin tiba-tiba saat kami terdiam sebentar.
“hitam? Ani. Wae?” aku bingung dengan pertanyaannya.
“ini hitam” ujar taemin kemudian, aku bisa merasakan jari telunjuknya menyentuh tali bra-ku.
Aku tak tahu harus merespon apa, jadi aku diam saja. Sementara itu, taemin terus memijitku.
Aku sudah hampir tertidur saat taemin memanggil lagi.
“nuna”
“hm” gumamku.
“aku buka, ya? Susah yang bagian tengah~”
“hm”
Aku setengah tak sadar berujar demikian. Dan hal yang aku sadari selanjutnya adalah taemin melepas tali bra-ku. Aku panik, tapi aku tidak memperlihatkannya. Tapi mungkin taemin sadar dari punggungku yang tiba-tiba menegang, dia langsung protes.
“nuna! bagaimana aku bisa pijit kalau punggung nuna tegang seperti ini?!”
Aku tak menanggapinya, aku hanya menarik napas panjang dan mencoba rileks.
“nah, begini kan lebih baik” ujar taemin kemudian tanpa sedikitpun merasa tidak enak padaku. Kadang-kadang aku merasa adikku ini luar biasa.
Taemin terus melanjutkan memijitku. Aku sudah tidak bisa tidur lagi. Tidak dalam keadaan seperti ini. Taemin di atasku, sementara tali bra-ku terbuka dan dibuka olehnya. Tidak mungkin bisa tidur.
“nuna”
Taemin memanggil lagi.
“wae”
“hehe” taemin tak menjawab, hanya nyengir sebentar.
“nuna” dia kemudian memanggil lagi.
“mwo?”
“hehehe”
Aku tidak bisa mengerti taemin, apalagi kalau dia yang seperti ini.
“nuna”
Kali ini aku tidak mau menjawabnya. Aku biarkan saja dia terus memijitku.
“nuna nuna nuna”
“ne~” akhirnya menjawab dengan malas.
“nuna marah tidak, ya?” tanya taemin kemudian.
“marah kenapa?” tanyaku lagi, masih dengan nada yang sama.
Taemin tak menjawab, dia malah diam. Aku biarkan saja dia bertindak aneh begitu. Aku menutup mataku lagi.
“sebentar saja kok, nuna, sebentar saja” kata taemin lagi beberapa lama kemudian.
Lagi-lagi aku tak menggubrisnya.
“ya, nuna, ya?” tanya taemin setengah memaksa.
Aku tak menjawabnya. Aku tak mengerti maksudnya apa.
“nuna!” taemin memanggil lagi dengan nada keras.
“hm!”
“boleh ya, nuna? sebentar saja kok~”
Aku kembali diam.
“nuna~~”
“hm~”
“boleh, ya~?”
“hm”
Pijitan taemin tiba-tiba berhenti.
“boleh??”
“hm~”
Terserahlah maksudnya apa, aku tak peduli.
Tak ada gerakan lain dari taemin setelah itu. Dia diam, begitu juga tangannya di punggungku. Dan tiba-tiba punggungku terasa dingin.
“taem—“
“jeongmal nuna benar-benar tak akan marah?? Jinca~??”
Baru saja aku mau menoleh dan memanggil namanya, taemin tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berkata demikian.
Canggung, itu yang kurasakan saat itu, dengan tangan taemin yang berada di atas punggung telanjangku dan wajahnya yang dekat seperti ini, di atas tempat tidur pula, lengkap sudah. Aku menelan ludahku diam-diam.
“memang kau mau apa?” tanyaku pelan.
Taemin tak menjawab, hanya tersenyum dan mulai mendekatkan kepalanya ke kepalaku. aku tak bisa berbuat apapun selain menutup mata dan menunggu bibirnya.
Aku tahu ciuman ini tak seperti ciuman biasanya. Aku tahu ciuman ini pasti berakhir bukan hanya sekedar aku menahan tangannya agar tidak kemana-mana—seperti yang sering dia lakukan. aku tahu pasti akan lebih dari itu. Dan aku benar. Taemin memang melakukan lebih dari itu—lebih dari biasanya. Aku tak mau menyebutkan bagaimana, tapi dengan hal itu aku akhirnya mengerti bahwa taemin sudah benar-benar menjadi dewasa. Tapi tidak, kami tidak melakukannya. Aku ternyata masih cukup waras untuk menghentikannya. Dan untunglah taemin mengerti. Untunglah dia cukup dewasa untuk mengerti.
Setelah itu terjadi, taemin tidur di sebelahku. Tapi aku masih tidak bisa tidur sampai dua jam berikutnya. Aku ingin melupakan hal yang tadi itu. Benar-benar ingin melupakannya sampai-sampai aku tak mau menuliskannya.
= = =
Posted by Taemznuna

FF/S/Nuna’s Diary (page 154-160)

= Nuna’s Diary =

Page: 154-160

Cast:
– Nuna
– Taemin

Genre: Family, Incest

= = =
Jalanan di sekitar area rumahku sepi saat aku berjalan pulang sendirian sambil menarik koperku dengan tangan kiri sementara sebelah tanganku yang lain menjinjing tas tanganku. Aku merapatkan coat panjangku untuk melawan hawa dingin. Musim dingin masih belum berakhir.
Saat sampai di stasiun tadi, aku sengaja tidak memilih naik taksi untuk pulang ke rumah. Memakan waktu tak sampai sepuluh menit jika berjalan dari halte bis terdekat ke rumahku, makanya itu aku lebih memilih naik bis. Lagipula kalau naik taksi, suara mesinnya akan membuatku ketahuan kalau sudah pulang oleh taemin. Aku ‘kan mau mengejutkannya, hihi.
Omong-omong taemin, aku jadi ingat pembicaraan kami di telpon kemarin.
“nuna kapan pulang? Besok sudah sebulan~” kata taemin kemarin saat aku menelponnya. Nada sedih bisa aku tangkap dari suaranya. Aku tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaannya.
“besok aku pulang” kataku.
“JINCA?????” suara taemin yang naik tiga oktaf memekakkan telingaku. Spontan aku menjauhkan handphone dari telinga kiriku.
“jangan berteriak begitu! Telingaku jadi sakit!” gerutuku.
“jinca nuna besok pulang?? Jinca??? Hahaha!” taemin sepertinya tak memedulikan telingaku yang sakit. Dia malah tertawa bahagia begitu. Tapi meski telingaku sakit, mendengar tawa riangnya itu memaksa diriku untuk tersenyum. “besok nuna pulang naik apa? kereta lagi? aku jemput, ya?” kata taemin kemudian menawarkan diri dengan antusias.
“andwae! Kau tak boleh menjemputku!” tolakku tegas.
“Waeyo~~” nada taemin berubah sedih lagi. Aku menghembuskan napas berat.
“pokoknya tidak boleh. Kau tunggu saja aku di rumah, arachi?” ujarku lagi.
Tak ada respon dari taemin. Dia diam saja.
“taeminie~?” aku memanggilnya lagi, setengah memaksa agar dia mendengar kata-kataku.
“tapi kenapa tidak boleh~?” tanya taemin lagi dengan suara pelan.
“aku cuma ingin pulang sendiri saja. Besok kau jangan kemana-mana ya, tunggu aku di rumah. Kau mengerti, taeminie?” ujarku lagi memastikan.
“eung,” suara taemin masih lemah, “ppoppo dulu” tambahnya.
“ccuk!” aku mengabulkan permintaannya.
“hehehe~” tawa kecilnya terdengar dari ujung telpon. Aku bisa membayangkan dia nyengir lebar di sana.
“kau tak mau ppoppo aku juga?” pancingku iseng.
“mm..” taemin bergumam sebentar, “aku mau ppoppo tapi nuna ppoppo juga. Di hitungan ketiga ya, nuna. Hana.. Dul.. Set!”
“ccu~uk”
“ccu~~~~uk!!”
Kami ppoppo dalam waktu yang bersamaan, tapi ppoppo taemin lebih panjang dari punyaku. Aku langsung tergelak. Begitu juga taemin di ujung sana.
“wah, nuna! Kita kiseu di telpon! Hahaha!” ujarnya sambil tertawa. Perutku juga jadi geli. Kadang-kadang taemin memang aneh. Aku juga sih.
“hahaha! Sampai jumpa besok, taeminie~” ujarku memutus pembicaraan.
“eung! Sampai jumpa besok, nuna! ccuk!”
“ccuk!”
“ccu~~uk! Ccuk ccuk ccuk ccuk ccuk!!”
Taemin ppoppo bertubi-tubi di telpon begitu terdengar lucu sekali.
“sudah ah, taeminie. Hahahaha!”
“ccuk! tunggu saja besok, nuna. Aku akan melanjutkan ppoppo yang ini. ccu~uk!” ancam taemin.
“haha. aku matikan, ya” ujarku akhirnya. Kalau dibiarkan, kami akan begini terus sampai dua jam ke depan.
“ne! ccuk~!”
“ccuk!”
Aku tersenyum lagi mengingat kata-kata taemin kemarin. Sekarang aku sudah berdiri di depan pintu rumah. Kurang dari lima menit lagi aku sudah bisa melihat wajahnya.
Aku merogoh handphone yang ada di tas tanganku dan menghubungi taemin. Hanya sekali terdengar nada sambung sebelum taemin mengangkat telponnya. Aku membayangkan dia seharian menunggu telpon dariku. Bayangan ini membuatku tersenyum sendiri.
“yeoboseyo? Nuna?” ujarnya dari ujung telpon.
“taeminie, kau di rumah?” tanyaku.
“ne. nuna di mana?” tanya taemin tak sabar.
Aku tersenyum kecil.
“aku di depan.” Jawabku singkat.
Telpon langsung terputus setelah itu, digantikan oleh suara derap kaki yang semakin terdengar jelas dari balik pintu di depanku. Sambil tersenyum aku masukkan lagi handphone-ku ke dalam tas.
Dua detik kemudian pintu depan terbuka lebar dan memperlihatkan taemin yang berdiri di baliknya.
“annyeong” sapaku sambil tersenyum padanya.
“nuna!!”
Taemin langsung menghambur memelukku. Satu yang aku sadari, dia tidak main-main saat bilang akan langsung menciumku saat kami pertama kali bertemu. Dia benar-benar langsung menyambar bibirku. Taemin benar-benar memelukku dengan erat sampai badanku terangkat ke atas. Maklum, aku jauh lebih pendek darinya. Aku hanya berharap tidak ada tetangga yang melihat kami saat keadaan kami seperti ini.
“nuna, aku rindu, aku rindu, aku rindu!” kata taemin setelah dia melepas bibirnya dari bibirku. Kedua tangannya berada di kedua belah pipiku dan wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Setelah dia berkata seperti itu, dia menciumku lagi. Tapi tidak lama seperti yang tadi.
“ne, ne, aku tahu. Sekarang biarkan aku masuk.” Kataku akhirnya setelah mencoba melepaskan diri dari taemin.
“hehe. Deureogaja, nuna! Nuna pasti kedinginan.” Kata taemin sambil menyambar tanganku dan menarik koperku dengan tangannya yang lain.
Kedinginan apanya. Sudah panas gara-gara bibirmu, gerutuku dalam hati.
Kami masuk ke dalam rumah yang jauh lebih hangat daripada di luar. Taemin membantu melepas coat-ku.
“nuna capek?” tanya taemin kemudian.
“eung,” gumamku pelan. Leher dan pinggangku memang sedikit sakit. Beberapa jam di perjalanan cukup menguras tenagaku.
“mau istirahat di kamar?” tanya taemin lagi.
“eung” aku tersenyum padanya.
“biar aku antar”
Aku setengah sadar saat taemin tiba-tiba menggendongku dengan bridal style.
“taeminie! Ya ampun—taeminie! Turunkan aku!” aku meronta-ronta di dalam pelukannya. Aku tahu taemin laki-laki dan dia kuat, tapi tidak begini juga caranya.
“tenang saja, nuna. sudah lama aku ingin melakukan ini.”
Taemin tak menggubris penolakanku dan berjalan santai menuju kamarku. Aku tak bisa berbuat apapun kecuali memeluk lehernya. Namun sebenarnya aku benar-benar merasa tak nyaman.
Aku tak sempat mengontrol napasku saat taemin menaruhku dengan lembut di kasurku karena taemin lagi-lagi menyambar bibirku.
“nuna, aku benar-benar rindu~ jeongmal bogoshipta~” kata taemin setelah kecupan lembut itu. Dia memelukku lagi saat kami dalam keadaan duduk.
“mianhae sudah meninggalkanmu.” Ujarku meminta maaf.
Taemin mengangguk dalam pelukanku.
“jangan pergi-pergi lagi, nuna~” erangnya.
Aku hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya yang sudah mulai panjang dibanding saat aku tinggalkan sebulan lalu.
“kau benar-benar kesepian, ya?” tanyaku sambi melepas pelukannya. Aku ingin melihat wajahnya puas-puas sekarang.
Taemin mengangguk dengan bibir memberengut. Imut sekali.
“ppoppo~” pintanya.
Sudah berapa kali ppoppo coba dari tadi, pikirku dalam hati.
Ccuk!
Aku mengecup bibirnya sekilas.
“uung~ lagi~~” rengek taemin.
“memangnya mau berapa kali?” tanyaku padanya.
“hitung saja sudah berapa malam nuna tidak ppoppo aku sebelum tidur. Hutang nuna padaku sudah banyak.” Jelas taemin masih dengan bibir memberengut. Ternyata meski sudah berapa lama pun aku tinggal dengannya, pemikiran taemin masih belum bisa aku tebak. Tapi pemikirannya juga ada benarnya.
Aku melihat bibir taemin yang tebalnya masih sama dengan saat aku meninggalkannya. Tentu saja sama, memangnya aku berharap bibirnya berubah seperti apa?
Aku tersenyum sendiri. Kalau aku ikut arus pemikiran taeminie, memang benar hutangku padanya sudah banyak.
“sini lidahmu” ujarku setengah sadar. Dan aku memang bodoh sekali berujar seperti itu. Tak perlu aku jelaskan bagaimana, yang pasti taemin menciumku lama sekali. Bibirku sampai kebas. Beberapa kali aku harus menahan tangannya agar tidak kemana-mana.
“sudah?” tanyaku setelah kami selesai. Taemin nyengir. Kedua tangannya masih aku pegangi.
“hihi, sudah. Bibirku kebas, nuna” kata taemin jujur masih dengan senyum terkembang.
“nado,” balasku, “sekarang aku boleh istirahat?” tanyaku lagi.
“tentu saja! nuna istirahat yang cukup siang ini, nanti malam kita jalan-jalan, ya!” kata taemin kemudian.
“hah? Kau mau kemana?” tanyaku heran.
“aku ketemu tempat bagus. Kai yang memberi tahu. Nanti nuna aku ajak kesitu. Sekarang nuna tidur dulu~” taemin membaringkan badanku dan menyelimutiku sampai ke leher.
“mau pergi dengan kai juga?” tanyaku bingung.
“ani!! Tentu saja tidak!” jawab taemin cepat, “kita berdua saja, nuna~”
“oh, oke” kataku setengah paham.
“jal ja, nuna! ccuk!” taemin mencium keningku.
“kau mau kemana?” tanyaku saat taemin beranjak. Rasanya aku masih rindu padanya.
“molla. Nuna mau aku berada di mana?” taemin malah bertanya balik.
“kalau kau bilang nanti malam kita pergi, berarti kau juga harus istirahat. Sini, tidur di sebelahku.” Ajakku.
“tapi aku peluk nuna, ya?” tawar taemin dengan muka isengnya.
“terserah” ujarku tak peduli.
“yey~!” taemin langsung menghempaskan tubuhnya di sebelahku, menarik selimut dan langsung memelukku. Kami tidur berhadapan, tapi tak terlalu dekat. “ppoppo sebelum tidur?” pinta taemin kemudian.
“tidak. Ini bukan malam hari.” Tolakku.
Ccuk!
Tiba-tiba taemin menciumku.
“aku tak peduli. Jal ja, nuna!”
Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali tersenyum dan mencoba menutup mataku.
***
Malamnya, taemin ternyata mengajakku ke salah satu café kopi di tengah kota. Taemin bilang selama aku pergi, dia sering pergi ke café kopi itu bersama kai. kadang-kadang dia juga pergi sendirian, katanya. Makanya dia sangat ingin mengajakku ke sana.
“biar nuna tahu di mana aku selalu menghabiskan waktu saat nuna pergi.” Jelasnya lagi saat aku tanya lebih lanjut.
Tidak kurang selama empat jam kami berada di café itu. Kami banyak bercerita mengenai apa yang dilakukan masing-masing selama sebulan. Sudah hampir jam sebelas saat taemin mengajakku ke tempat yang lain.
“memangnya mau kemana lagi?” tanyaku heran. Aku merapatkan jaketku ke badanku. Malam dingin begini si kecil ini malah mengajakku pergi entah kemana.
“ke tepi sungai Han.” Jelas taemin singkat. Dia menarik capuchon jaket bulu-ku ke atas kepalaku sehingga kepalaku tertutup.
“mau apa kau kesana malam-malam??” tanyaku lagi setengah protes, “di sana kan dingin sekali kalau malam, taeminie~” kali ini aku setengah merengek.
Taemin malah tersenyum mendengar kata-kataku. Tulus sekali senyumnya. Tampan.
“akan hangat kalau bersamaku,” ujarnya lembut padaku, “lagipula selama nuna tak ada aku juga selalu kesitu kok habis minum kopi. Nanti kalau nuna kedinginan, aku yang akan menghangatkan nuna. Gaja!”
Taemin langsung menarik tangan kiriku setelah berbicara seperti itu. Aku tak bisa melakukan hal lain selain mengikutinya.
“untuk apa kau ke sana malam-malam sendirian, taeminie? Kenapa tidak langsung pulang?” tanyaku bermenit-menit kemudian. Aku sedikit khawatir membayangkan taemin duduk sendirian di tepi sungai Han. Untung sampai sekarang dia tidak kenapa-kenapa.
“aku malas pulang. Habis minum kopi kantukku hilang. Lagipula kalau aku pulang juga tidak ada nuna di rumah. jadi aku pergi saja kesana sambil membayangkan nuna duduk di sebelahku.” Jelas taemin panjang. Langkahnya kemudian berhenti untuk berdiri berhadapan denganku, “dan hari ini bayanganku itu bisa terwujud, nuna. Hihi”
Bibirku otomatis tertarik ke belakang mendengarnya. Aku luluh dengan kata-katanya. Tulus, polos dan jujur. Ternyata adikku memang tidak berubah. Meski sekarang dia terlihat jauh lebih dewasa, tapi ternyata di dalam dia tidak berubah.
“panggil aku ‘nyunya’ dong, taeminie?” pintaku. Entah kenapa tiba-tiba aku merindukan taemin yang sering melakukan aegyo padaku.
Selama dua detik taemin terlihat bingung.
“nuna” katanya kemudian.
“bukan ‘nuna’, tapi ‘nyunya’. Ayo coba panggil!” ulangku lagi.
“nu~na” taemin malah mempermainkanku. Dia memajukan mulutnya pada suku kata ‘nu’ dan membuka mulutnya lebar-lebar pada suku kata ‘na’.
“taeminie~!” ujarku manja. Ahaha. Jarang-jarang aku manja padanya. Tapi ternyata seru juga.
“kalau aku lakukan, nuna mau kasih aku apa?” pancingnya.
“kau mau apa?” aku malah memancing balik.
Sepertinya kebiasaanku memancingnya di telpon belum hilang. Dan kebiasaan ini malah merugikanku sekarang.
Taemin langsung mengetuk-ketukkan jari telunjuknya di bibirnya. Matanya disipitkannya, tampak sedang berpikir. Tapi wajahnya terlihat nakal sekali.
“kalau kiseu sudah biasa…” gumam taemin lebih kepada dirinya sendiri. Ekspresi nakalnya masih belum hilang.
Aku jadi ngeri sendiri. Ternyata benar kebiasaanku selama di telpon itu sekarang harus dihilangkan.
“aku akan memberimu ppoppo” tawarku cepat.
Aduh! Ppoppo juga pasti sudah biasa…, sesalku dalam hati.
“ppoppo-nya di mana? Kalau di bibir sudah biasa~” taemin terlihat meremehkanku.
Alisku berkerut bingung.
“jadi mau ppoppo di mana?” tanyaku.
Ekspresi taemin berubah nakal lagi.
“di……..” taemin memutus kata-katanya, “ehehehehehehehehe~~~” kemudian dia senyum lebar. Matanya menyipit dan tiba-tiba pipinya memerah, “aa~ malu~!!” taemin kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Demi apapun, adikku imuuuuuuttt~~~!!!!!!
Setengah malu, setengah geli, aku memukul lengan taemin dengan pelan.
“apa sih kau, taeminie!” ujarku pura-pura marah. Tapi tetap saja aku tak bisa menahan senyumku.
“hihihihi~” taemin masih melanjutkan cengirannya, “ya sudah, kiseu saja. nanti di sungai Han dekat orang-orang ramai. Ya, nyunya~?”
Taemin mengabulkan permintaanku dengan menambahkan ‘nyunya’ di akhir kalimatnya.
“sekali lagi” suruhku.
“apanya? Kiseu-nya?” taemin terlihat bingung.
Benar-benar pikiran adikku ini…
“ani! Bilang ‘nyunya’-nya”
“nyunya”
“lagi”
“nyu~nya”
“lagi, hihi”
“dengan yang ini empat kali loh kiseu-nya, nyunyaa~~” taemin menutup matanya pada kata ‘nyunya’.
Ccuk! Ccuk! Ccuk!
Tiga kali aku mengecup bibir taemin dengan cepat.
“yang keempat nanti di dekat orang ramai” ujarku.
Taemin langsung memberengut.
“nuna curaaaang~!!” katanya.
“hehe, gaja!” tanpa mempedulikan rengekannya, aku menarik tangannya.
***
Aku benar. Udara benar-benar dingin saat kami sampai di tepi sungai Han. Bahkan napas dari hidung yang aku hembuskan pun beruap sekarang.
“Taeminie~ dingin~ ayo pulang~” aku mencoba menahan dingin dengan menyilangkan tanganku di depan dada, tapi sepertinya tak ada bedanya. Malam-malam berada di sungai Han pada musim dingin memang bukan ide bagus. Aku tak bisa membayangkan taemin sendirian berada di sini malam-malam sebelum ini.
Taemin tersenyum iba padaku. Namun tiba-tiba dia melepas pegangan tangannya padaku dan menyelipkan tanganku di balik punggung jaketnya, tepat di belakang pinggangnya.
“Nuna peluk aku saja ya, biar hangat. Nanti kalau kita sudah duduk, aku akan lebih menghangatkan nuna lagi” kata taemin.
Duduk?? Berarti kami akan lama di sini? Ya ampun, aku benar-benar kedinginan~, erangku dalam hati.
Aku menahan gigiku sekuat tenaga agar tidak bergemeletukan sambil mengimbangi langkah taemin. Aku memang ingin pulang, tapi aku juga tak mau memupuskan harapan taemin untuk berada di sungai Han bersamaku malam ini. Mungkin aku akan demam, tapi sudahlah. Derita besok akan aku hadapi besok, yang penting aku bisa melihat senyum adikku malam ini.
“Di sini, nuna” kata taemin di depan sebuah bangku tanpa sandaran yang berada di dekat jembatan. “Ayo duduk” kata taemin lagi.
Aku menurutinya dengan sebelumnya melepas plukanku di pinggangnya. Taemin ikut duduk di sebelahku. Tangan kirinya memeluk pundakku, memaksaku untuk duduk lebih dekat dengannya.
Aku menyandarkan kepalaku di pundak taemin. Meski dingin tapi ternyata cukup nyaman duduk di sini bersamanya.
Mataku menerawang melihat pantulan lampu jembatan di permukaan sungai, dan entah mengapa aku jadi mengantuk. Tapi kepalaku yang mulai berdenyut keras tak membiarkanku tertidur.
“Terrnyata benar, duduk berdua dengan nuna lebih hangat.” Celetuk taemin tiba-tiba. dia kemudian melingkarkan tangannya di depanku dan memelukku lebih erat lagi, “Uung~ nuna~”
Aku tersenyum lemah. Kepalaku jadi makin berat. Sepertinya benar aku akan sakit.
“Aku susah membayangkan bagaimana kau bertahan berada sendirian di sini,” ujarku setengah sadar, “biasanya berapa lama kau berada di sini, taeminie?”
“Mm.. paling lama waktu itu hampir dua jam” jawab taemin jujur.
Mwoooo??? , teriakku dalam hati. Hanya dalam hati, kepalaku makin sakit dan badanku lemas. akhirnya, aku hanya bisa mencubit pipi kiri taemin.
“Kau nakal, taeminie~” ujarku sambil mencubit pipinya. Sepertinya suaraku kecil sekali.
Taemin kemudian menatap mataku dengan senyum di bibirnya.
“Tangan nuna dingin sekali,” katanya sambil menggamit tanganku yang mencubitnya, “aku hangatkan, ya?”
Aku hanya pasrah saat taemin mendekatkan wajahnya. Dibandingkan suhu malam ini, bibir taemin terasa hangat. Dia tidak bohong tadi saat mengatakan akan menghangatkanku.
Mataku terbuka perlahan setelah taemin menyudahi ciuman hangatnya. Taemin hanya diam melihatku. Bibirnya terlihat kering. Aku ingin membasahi bibir tebal itu. Aku mendekat padanya sekali lagi.
Ccuk!
Taemin tak mengizinkan aku menciumnya. Dia hanya mengecupku singkat.
“Badan nuna hangat. Ayo pulang.” Katanya tiba-tiba. Lagi, dipasangkannya tudung jaketku menutupi kepalaku.
Aku tak mau beranjak saat taemin sudah berdiri sambil memegangi tanganku. Mataku masih terpaku pada bibirnya.
“Sekali saja,” pintaku, “sekali lagi saja”
Bibirnya hangat. Aku hanya menginginkan itu.
Taemin tak menunggu waktu lama. Dengan sedikit membungkuk, dia menciumku lagi.
“Sudah, nuna. Ayo pulang.” Ujar taemin setelah itu.
Aku berdiri dan mulai berjalan di sebelahnya. Aku kesusahan mengimbangi langkahnya yang besar-besar.
“Taeminie, jangan cepat-cepat..” erangku lemah. Kakiku sudah lemas sekali. Sepertinya aku terkena demam parah.
Taemin berhenti. Dia melihatku sebentar dan kemudian membungkukkan badannya di depanku.
“Naik, nuna” suruhnya sambil menyodorkan punggungnya.
Aku tak bisa berbuat apapun selain menurutinya. Kalau aku paksakan terus berjalan, mungkin aku akan pingsan.
“Hari ini mau berapa kali kau menggendongku?” Tanyaku mencoba bercanda saat taemin membenarkan posisiku di punggungnya dan mulai berjalan.
“Tidurlah, nuna. saat nuna bangun kita sudah akan ada di rumah.” Kata taemin. Saat berada di punggungnya begini aku baru sadar dari tadi nada suara taemin serius. Aku tak meresponnya. Kesadaranku perlahan menghilang. Yang aku ingat hanya taemin yang berulang-ulang berujar “mianhae” sebelum aku jatuh tertidur.
= = =
Posted by Taemznuna
Made by Taemznuna

FF/S/Nuna’s Diary (…-…) [Forgotten Pages]

= Nuna’s Diary =

Page: …-… (Forgotten Pages)

Cast:
– Nuna
– Taemin
– Chen
Genre: Family, Incest

= = =
Aku mengintip lewat pintu kamar.
Taemin tak ada di ruang keluarga. Bagus. Aku bisa keluar sekarang.
Dengan mengendap-endap aku keluar dari kamar. Namun, baru saja aku mencapai sofa, pintu kamar taemin yang berada di sisi kiri terbuka lebar.
“nuna mau kemana?” mata taemin menyipit menatapku. Satu tangannya masih memegang kenop pintu. Taemin memakai baju kaos merah dan kemeja kotak-kotak biru di luarnya.
Aku memperbaiki letak tali tas sampingku.
“mau keluar” jawabku sekenanya.
“kemana?” taemin bertanya lagi, wajahnya masih berkesan menginterogasiku.
“pergi.” Jawabku lagi.
“dengan siapa?”
Aduh…
“err.. teman?” aku menjawab ragu-ragu. Tak tahu harus menjawab apa kalau taemin bertanya siapa orangnya.
“teman yang mana?” tanya taemin lagi.
Nah, benar kan..
“memangnya kenapa sih, taeminie?” aku mencoba balik bertanya padanya.
Mata taemin makin menyipit melihatku. Bibirnya ikut mengerucut.
“chen, ya?” tebaknya
Glek!
Aku menghembuskan napas panjang, mulai menyerah dengan percakapan ini. Sekali lagi aku merapatkan tas sampingku ke tubuhku.
“memangnya kenapa kalau Chen?” tantangku. Wajahku sedikit kudongakkan untuk menambah kesan sombong. Benar-benar tak nyaman kalau punya adik yang jauh lebih tinggi dari diri sendiri begini.
Taemin tak menjawab, hanya saja bibirnya makin tipis gara-gara dikerucutkannya. Dia terlihat marah, anak kecil ini.
“aku ikut” ujarnya tiba-tiba setelah keheningan yang cukup lama. Mataku langsung terbelalak lebar mendengarnya.
“andwae!!” ujarku cepat.
“pokoknya ikut!” taemin bersikeras.
“tidak!” balasku.
“aku ikut.” Taemin langsung menutup pintu kamarnya dari luar.
“tidaak~~” aku segera berlari keluar secepat mungkin.
Jangan macam-macam anak ini. Masa dia mau ikut aku kencan??
BLAMM!!
Pintu depan menutup keras di belakangku. Aku langsung berlari menyusuri jalan. Awas saja kalau taemin mengikutiku.
Aku sudah hampir mencapai belokan gang saat aku dengar teriakan di belakangku.
“tunggu, nunaaa~~~!!!”
Aduh, dia benar-benar mengejarku…
Aku segera berbelok dan makin mempercepat laju lariku.
“nuna, tungg—AA!!”
Brugh!!
Aku langsung berhenti berlari. Suara apa itu barusan?? Taemin jatuh? Masa?
Tak mungkin aku tak memeriksanya, kalau benar taemin jatuh bagaimana?
Aku mengintip dari tembok tinggi yang berada di sudut jalan. Saat aku lihat, taemin sedang menepuk-nepuk bagian lutut celananya yang kotor, sementara sebelah tangannya menyentuh bibirnya. Taemin kemudian menjauhkan tangannya dari bibirnya. Dari jarak segini aku bisa melihat sesuatu berwarna merah terang di bibirnya. Sepertinya itu darah.
“taeminie?” aku berlari mendekatinya.
Saat aku mendekat, taemin menatapku dengan pandangan nanar. Benar ternyata bibirnya berdarah.
“nuna, sakiit~~ huwee~~~” taeminie mulai menangis. Airmatanya bercucuran ke pipinya.
“kenapa kau bisa jatuh? Aduh~~” aku segera mengambil tissue yang selalu ada di dalam tasku.
“sini menunduk sedikit, biar aku lihat.” Ujarku lagi.
Bibir sebelah dalam taemin mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“kenapa bisa begini, sih?” tanyaku gusar sambil terus menekankan tissue ke bagian bibirnya yang luka.
“tadi tergigit saat aku jatuh~” erangnya.
Jawabannya membuatku tersenyum. Dasar anak kecil.
“terus, kenapa kau bisa jatuh?” tanyaku lagi. Aku singkirkan sedikit pasir yang menempel di pipinya.
Tanpa menjawab, taemin melihat ke bawah. Aku mengikuti pandangannya. Ternyata tali sepatunya masih belum terikat.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan kemudian menunduk untuk mengikat tali sepatunya.
“kenapa tadi tak kau ikat?” tanyaku saat mengikat tali sepatunya.
“kalau aku ikat nanti nuna keburu meninggalkanku~” jawabnya pelan.
Aku menghembuskan napas panjang. Ternyata gara-gara aku dia jadi jatuh begini.
“kau benar mau ikut?” tanyaku lagi. Aku berdiri dan menatap dalam matanya. Taemin mengangguk dengan bibir memberengut. “tapi jangan bikin masalah, arachi?” tegasku. Taemin mengangguk lagi. “jangan manja padaku, jangan merengek, jangan melakukan hal yang tidak-tidak seperti yang kau lakukan saat jonghyun oppa datang ke rumah waktu itu.” Tambahku lagi.
Taemin menatap ke langit, terlihat sedang mengingat pada saat kapan jonghyun datang ke rumah. Tak lama kemudian dia menatapku lagi dan mengangguk.
“yaksok?” aku mengangkatjari kelingkingku.
“yaksok” taemin mengaitkan jari kelingking kami berdua.
“geurae, gaja” aku berjalan duluan. Namun, baru dua langkah aku berjalan, suara rengekan yang familiar terdengar dari belakang.
“nuna, pegang tanganku~”
Aku menoleh kebelakang. Taemin sedang menjulurkan tangannya ke depan. Wajahnya imut sekali dengan bekas air mata seperti itu.
Aku meraih tangannya dengan senyuman.
“nanti kalau sudah sama Chen lepas, ya~” ujarku lembut. Taemin tak merespon, dia hanya makin mendekatkan diri padaku.
***
Wajah Chen tampak bingung saat aku dan taemin berjalan mendekatinya. Aku nyengir padanya dengan perasaan bersalah. Chen masih tersenyum bingung padaku saat kami sudah berada di depannya.
“ini adikku taemin, taemin ini chen.” Tanpa basa-basi, aku langsung memperkenalkan mereka. Mereka berdua saling memberi salam.
“ceritanya panjang, tapi apa adikku boleh ikut kita hari ini?” ujarku memelas pada chen. Dalam hati, aku mulai gelisah, takut kalau chen marah padaku gara-gara hal ini.
Chen tertegun sebentar, namun sedetik kemudian dia sadar kembali.
“oh, geurae. Tentu saja boleh. Ya. Boleh.”
Aku tersenyum menatapnya, sepertinya kesadarannya belum kembali sepenuhnya.
“benar, tidak apa-apa? kalau tidak, biar dia aku suruh pulang.” Aku melirik taemin saat berkata seperti itu. Taemin langsung melihatku dengan pandangan tak suka, mulutnya memberengut. “hehe” aku nyengir melihatnya.
“tidak apa-apa, kok.” Ujar chen, dia melirik taemin yang memang sedikit lebih tinggi dari dirinya. “maaf, tapi kalian tidak mirip.” Tambah chen sambil tersenyum melihat kami berdua.
“banyak yang bilang begitu.” Jawabku cepat. Aku dan taemin berpandang-pandangan setelah itu. Kami sama-sama tidak suka jika ditanyai hal seperti ini sebenarnya, seperti membuka luka lama yang sudah sembuh.
“mau pergi sekarang?” ajak chen setelah hening sebentar.
“o—oh, baiklah” aku menarik bibirku agar bisa tersenyum.
***
Taemin menepati janjinya. Dia benar-benar tidak macam-macam saat kami pergi bertiga tadi. Taemin bahkan menawarkan dirinya untuk mengambil foto kami berdua di depan patung Raja Sejong tadi. Tapi aku tahu senyumnya tidak tulus selama sepanjang hari ini. Kadang-kadang dia tertangkap olehku sedang menatap chen lama-lama. Entah apa maksudnya. Sekali-dua kali chen juga sepertinya merasa dirinya sedang diperhatikan taemin, tapi setelah itu dia hanya tersenyum padaku seperti tidak terjadi apapun.
Kami sudah berada di depan rumah sekarang. Meski aku bersama taemin, tapi chen bersikeras ingin mengantar kami sampai depan rumah. Katanya dia mau menginap di rumah sepupunya yang kebetulan dekat dengan rumah kami.
“terima kasih sudah mengantar kami.” ujarku sopan, aku melihat taemin sebentar kemudian melihat chen lagi sambil tersenyum, “hari ini menyenangkan.”
“aku juga merasa begitu.” Bibir chen makin menipis karena senyumnya, “sampai jumpa.”
“jal ga.” Aku membalasnya.
Chen terlihat ragu saat membalikkan badannya. Dia sudah setengah berbalik, tetapi wajahnya masih dihadapkan padaku. Senyum tipis terukir di bibirnya. Tapi kemudian dia melihat taemin, mengangguk sedikit dan melambaikan tangannya padaku.
Aku melirik taemin. Matanya masih terpaku pada punggung chen yang semakin menjauh.
“chen!” sengaja aku keraskan suaraku agar dia mendengarnya. Chen berhenti di tempatnya dan membalikkan badannya.
“ne?” katanya sambil menaikkan alis dan sedikit tersenyum.
Aku berlari kecil mendekatinya dan mengecup pipinya sekilas.
“terima kasih hari ini.” bisikku.
Chen tampak terkejut, tapi sedetik kemudian senyumnya mengembang lebar.
“gomawo” katanya kemudian. Dia lalu membalikkan badan lagi dan kembali berjalan menjauh.
Aku menghembuskan napas panjang. Kini saatnya berhadapan dengan taemin. entah apa yang akan dilakukannya padaku setelah kejadian barusan.
Pelan-pelan aku membalikkan badanku. Taemin masih berdiri di tempatnya tadi, tapi tangannya terlipat dan matanya lurus menatapku.
Aku sedikit takut-takut saat mendekatinya. Sengaja aku tundukkan kepalaku dalam-dalam. Pandangan taemin sangat menusuk. Aku tak mau melihat matanya sekarang.
Aku berhenti satu langkah di depan kakinya, masih tak berani menatap wajahnya.
“chen sudah pergi ‘kan, nuna?” tanya taemin dengan berbisik.
Aku menelan ludah dan mengangguk singkat.
Terdengar dengusan napas panjang setelah itu.
“aku mau menggigit bibir nuna” ujar taemin tegas.
DEG.
Aku menutup mata dan menelan ludah lagi, masih menunduk.
Tiba-tiba taemin menarik pinggangku mendekat ke arahnya. Secara refleks aku melihat ke atas, ke wajahnya. Pandangan taemin masih menusuk. Dia menatapku lama sebelum akhirnya jari tangannya meraba bibirku.
“bibir nakal ini…”
Tidak ada kata-kata lagi setelah itu karena taemin sudah mendekatkan bibirnya ke bibirku. Dia benar-benar menggigit bibir bawahku. Dia menggigitnya dengan kuat, sampai aku mengeluarkan erangan karena sakitnya.
Aku memukul lengan taemin saat dia melepas gigitannya di bibirku.
“sakit! Aigoo~~” erangku sambil menutup mulutku. Bibir bawahku berasa kebas. Aku menutup mataku rapat-rapat sambil menunduk. Sepertinya aku akan menangis.
“siapa suruh nakal!” bela taemin terhadap dirinya sendiri, “kalau lain kali nuna begitu lagi, aku akan langsung mencium nuna di depan chen, membuka baju nuna dan—“
PLAKK!!
Kali ini aku memukul kepala taemin.
“apa yang ada di dalam kepalamu itu!!” bentakku.
Taemin hanya tertegun sebentar melihatku. Mulutnya sedikit terbuka karena kaget.
“nu-nuna menangis? Apa benar-benar sakit?” taemin bertanya takut-takut. Mungkin dia melihat genangan air mataku.
“kau kira aku bohong! Sini bibirmu biar aku gigit juga!” ujarku setengah berteriak pada taemin.
“eomo!” sebuah suara terdengar dari sebelah kiri kami. Aku langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata tetangga kami, seorang anak perempuan berumur belasan tahun. Kedua tangannya menutup mulutnya dan dia tampak benar-benar terkejut. Saat ketahuan sedang mendengar pembicaraan kami, dia cepat-cepat masuk ke dalam rumahnya sambil menunduk.
Aku mengutuk dalam hati. Pasti dia mendengar kata-kataku barusan. Entah apa yang dia pikirkan tentang kami setelah ini. ‘sini bibirmu biar aku gigit juga’? ya ampun, aku bodoh sekali.
Taemin nyengir saat aku menoleh lagi padanya. Melihat senyumnya itu membuat bibir bawahku kebas kembali.
“ck!” aku mendecak keras dan menarik tangan taemin untuk masuk ke dalam rumah.
Taemin tergelak saat pintu rumah sudah tertutup.
“mau gigit bibir bawahku, nuna? nih!” taemin menggodaku, kemudian dia tergelak lagi.
“sudah, diam!” kataku sambil lalu. Aku segera berjalan cepat ke kulkas di dapur untuk mengambil es supaya aku bisa mengompreskannya ke bibirku. Masih dengan sedikit kesal, aku kembali berjalan ke ruang keluarga dan duduk di sofa. Satu kantong plastik kecil es batu menempel erat di bibir bawahku. Rasanya bibirku tambah kebas.
“sini, nuna, biar aku bantu.” Taemin ikut duduk di sebelahku dan menyambar kantong es yang sedang aku pegang itu. Aku membiarkannya saja. Aku hitung perilakunya ini sebagai bentuk tanggung jawab.
“mianhae. Bibir nuna benar-benar jadi merah” ujar taemin pelan setelah beberapa lama menempelkan es-es itu di bibirku.
“eung.” Aku hanya bergumam pelan. Aku mencoba menggerak-gerakkan bibirku. Masih terasa sedikit kebas, tapi sepertinya sudah tidak apa-apa.
“benar-benar merah…”
Sebelum aku sadar apa yang sedang terjadi, taemin sudah lebih dulu menempelkan bibirnya lagi di bibirku. Kali ini dia tidak menggigit, tetapi menciumku.
Saat aku merasakan jemari taemin di kulit pinggangku, aku langsung mendorongnya kuat.
“whoaa—apa yang kau lakukan??” tanyaku dengan suara keras dan sedikit menjauhkan diri dari taemin.
Aku kaget taemin menyelipkan tangannya di balik bajuku seperti itu. Apalagi dia tadi sedikit meremas pinggangku. Kaget setengah mati.
Taemin hanya melihatku dengan mulut sedikit terbuka dan bibir basah seperti itu.
“aku tidak mau keduluan chen.” Ujarnya pelan.
Aku masih belum mengerti maksudnya apa.
“a-ap—maksudmu apa???” tanyaku.
“aku tidak mau keduluan chen!”
Sebelum taemin kembali menyerangku, aku sudah berlari menuju kamarku.
“aaaaa~~~~!!” ujarku sambil berlari.
“nuna, jangan lari~!!” taemin mengejarku.
“andwaaeee~~ jangan ikuti akuu~~!!”
BLAMM!! Cklek!
Saat aku masuk, aku langsung membanting pintu kamarku dan menguncinya. Dadaku berdegup kencang.
Tidak ada suara lain dari balik pintu. Aku menghembuskan napas lega dan menghempaskan tubuhku di kasur.
Apa maksudnya dengan ‘aku tidak mau keduluan chen’?? Anak itu benar-benar…
Selagi berpikir begitu, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Sms masuk.

Aku cuma bercanda, nuna hehe^^;;
Jangan takut begitu

Dari taemin.
Aku menatap isi sms itu lama-lama. Kemudian jariku menari-nari di atas layar.

Kau mengerikan.

Terkirim.
Tak sampai semenit kemudian handphone-ku bunyi lagi.

Mianhae, tadi juga aku gigit bibir nuna mianhae
Apa aku boleh masuk?

Dia meminta masuk ke kamarku setelah kejadian tadi. Enak saja. Entah apa yang akan dilakukannya nanti kalau aku mengizinkan.

Tidak.

Balasan taemin lebih cepat dari sms sebelumnya

Tapi kan belum ppoppo sebelum tidur 😦

Oh iya, aku lupa yang satu itu. Sambil tersenyum aku membalas sms taemin.

Ccuk!

Setelah terkirim pun aku masih tersenyum.
Balasan taemin sedikit lebih lama dari perkiraanku.

Ccuk!
Hehehehe ^////^
Aku sayang nuna. saranghae saranghae saranghae!
Jal ja! Ccuk!
Coba kalau nuna tadi membiarkan tanganku sedikit lebih ke atas… :p

Mataku melebar saat membaca bagian akhir sms.
“TAEMINIIIIEEEE!!!!!!!” aku berteriak keras. Suara gelak taemin terdengar dari luar.
= = =
Posted by Taemznuna

FF/Taemin’s Diary (Noona on Phone)

= Taemin’s Diary =

SubTitle: Noona on Phone

Author’s note: Sequel of Nuna’s Diary page 146-153 Special Nuna’s 20th Birthday. Taemin’s point of view. Enjoy! 🙂

= = =

Ctak!!
Bahkan suara gelas yang kutaruh kembali di atas meja bergema di dalam ruangan. Sepi sekali.
Aku menyeret langkahku menuju kamar.
Di kamar, aku menghempaskan tubuhku di kasur. Badanku terpantul dua kali sebelum akhirnya guncangan di kasur benar-benar berhenti. Sambil memberengutkan bibir, aku menatap langit-langit kamarku. Aku menghembuskan napas panjang dan menjadikan kedua tanganku sebagai bantal.
Nuna baru pergi seminggu tapi rasanya sudah lama sekali bagiku. Dan selama tujuh hari belakangan ini nuna juga belum pernah menelponku sekali pun. Apa nuna benar-benar sesibuk itu?
Aku mengambil handphone-ku yang berada di atas meja belajarku di samping kasur. Meja itu sudah jarang sekali aku pakai akhir-akhir ini.
Tanganku seperti tidak perlu disuruh lagi mencari nama nuna di kontakku. Sepertinya tanganku sudah terbiasa, tanpa aku sadari aku sudah melihat nama nuna di depan mataku.
Telpon tidak, ya?, tanyaku dalam hati.
Tapi mungkin saja telponku malah membuat nuna repot.
Ah, tidak usah saja.
Aku menekan tombol ‘back’ dan aku langsung bisa melihat nuna yang sedang tersenyum. Aku memasang foto nuna sebagai wallpaper handphone-ku segera setelah nuna pergi minggu lalu. Sengaja. Kalau aku rindu paling tidak aku tinggal lihat handphone.
Semakin melihat wajah nuna, rasa rinduku makin kuat.
Tapi aku rindu~~, erangku sendiri dalam hati.
Lagi-lagi nama nuna di kontak terpampang di depan mataku.
Tidak, tidak. Tidak boleh. Aku pasti mengganggu nuna.
Aku meletakkan kembali handphone-ku di atas meja. Kalau aku pegang lama-lama aku takut tanpa sadar aku jadi malah menelpon nuna.
Aku menghembuskan napas panjang lagi. Ternyata sesulit ini hidupku tanpa nuna. Sudah dua hari berturut-turut aku hanya makan ramyeon. Aku malas masak. Masak juga tidak enak, aku tidak pandai. Masakanku tak pernah seenak masakan nuna.
“haah~” aku mendesah sendiri. Ingin menangis rasanya. Tapi aku laki-laki, masa menangis sendirian hanya gara-gara ditinggal nuna.
Tidak boleh menangis, taeminie! Kau kuat! Seperti kata nuna!
Aku mencoba meyakinkan diri sendiri.
Percuma, taeminie. Airmatamu bahkan sudah mengalir. Babo.
Aku tersenyum miris.
Nuna salah. Aku tidak kuat, nuna. Nuna salah.
Dalam keadaan begini, aku jadi ingin membayangkan kira-kira apa kata nuna kalau nuna tahu aku sedang menangis.
Mungkin nuna akan menghapus air mataku sambil bilang, “jangan menangis…” Kemudian nuna akan memelukku. Lalu aku akan cium nuna, lalu buka baju nuna—
Stop, stop! Mungkin memang pikiranku kotor, seperti apa yang nuna bilang.
Nuna.
Aku ingin mengulangnya berkali-kali.
Nuna nuna nuna nuna nuna.
Ah, sial. Aku jadi tambah rindu.
Aku menampar pipiku sendiri sebelum akhirnya duduk, menyambar handphone-ku dan berjalan ke kamar nuna. Malam ini aku ingin tidur di sana saja. Nuna sengaja tidak mengunci pintu kamarnya.
“barangkali kau mau tidur di kamarku.” Kata nuna waktu itu.
Dengan hati-hati aku naik ke kasur nuna. Aku takut aroma nuna akan hilang kalau aku menghempaskan badanku. Padahal aku suka sekali menghempaskan badan ke kasur.
Aku menempelkan bantal yang biasanya nuna pakai ke hidungku.
Aroma nuna… Hmm…
Tanpa sadar aku tersenyum sendiri.
“nuna-ku~~” aku memeluk bantal itu erat-erat. Tapi kemudian nyengir lebar. Aku bisa membayangkan apa yang akan nuna katakan kalau melihatku seperti ini. Mungkin nuna akan bilang, “taeminie, kau gila,” atau, “taeminie, kau membuatku takut,” atau mungkin, “taeminie kau imut. Buka bajumu.”
Hehe. Ternyata pikiranku benar-benar kotor.
Aku akan tidur sambil memeluk bantal ini setiap malam sampai nuna pulang, pikirku.
Berbaring sambil menghirup aroma nuna begini membuat aku mengantuk. Aku sudah menutup mata ketika tiba-tiba handphone-ku bunyi.
Mataku langsung terbuka dan tiba-tiba jantungku berdetak cepat. Dengan sigap aku menyambar handphone-ku dan melihat layarnya.
Nuna!
“NUNA!!” aku langsung berteriak begitu menempelkan handphone-ku ke telingaku. Kantukku hilang sama sekali.
“ya ampun, taeminie, kau membuat telingaku sakit!” Ujar nuna dari ujung telpon.
Mataku langsung berair begitu mendengar suara itu. Suara nuna-ku. Suara yang sama seperti yang terakhir kudengar minggu lalu.
“nuna lama sekali tidak menelponku! Sudah seminggu!” aku langsung protes, tak mau meneruskan rasa sedihku. Bisa-bisa aku hanya menangis saja sambil menempelkan handphone di telinga nanti.
“aku kan sudah bilang akan sangat sibuk sekali..” bantah nuna.
Hanya mendengar suaranya saja bisa membuatku tersenyum begini.
“ne, arasseo. Aku ingat, kok.” Ujarku pelan.
“kau sehat?” tanya nuna.
“eung! Nuna sehat?” tanyaku antusias. Sepertinya apapun tentang nuna akan membuatku antusias sekarang.
“eung,” jawab nuna seadanya, “tidak nangis, ‘kan?”
Aku terdiam sebentar.
“tidak kok!” jawabku sok tegar, “aku kan kuat!”
Taeminie, kau bohong, aku mengingatkan diriku sendiri dalam hati.
“bagus. Kau tidak makan ramyeon terus, ‘kan?” tanya nuna lagi.
Aku menelan ludahku.
Bagaimana nuna tahu??
“nuna tidak makan ramyeon terus, ‘kan?” aku mengulang pertanyaan nuna. Sengaja.
“taeminie~?” nuna memanggil namaku dengan nada curiga. Oh, aku rindu sekali nada itu. Mataku berair lagi.
“ne~?” aku mengulang nada yang sama. Senyumku tak bisa aku tahan. Nuna! Aku rindu nuna!
“taeminie, jangan mengalihkan pembicaraan. Kau tidak makan ramyeon terus, ‘kan?” suara nuna sudah berubah dalam, tanda kalau nuna serius.
Aku mengerucutkan bibir.
“aku tidak pandai masak seenak nuna~” ujarku pelan, sengaja tidak mengatakan poin utama kalau aku memang makan ramyeon terus. Tapi pasti nuna tak akan berhenti sampai di sini saja. Aku tak pernah menang dari nuna kalau untuk hal seperti ini.
“jadi kau makan ramyeon saja, begitu?” nada nuna berubah kesal.
Tuh kan, apa aku bilang…
“eung…” aku menjawab dengan suara pelan. Pelaaaaan sekali.
“taeminie~?” nuna memanggil namaku lagi. Nada curiga yang sama.
“ne, nuna, aku makan ramyeon terus dua hari ini, mianhae~” ujarku akhirnya.
“bukan ‘mianhae’! Kau harusnya bisa menjaga dirimu sendiri! Jangan makan ramyeon lagi!” nuna membentakku dari ujung sana. Ya ampun, lewat telpon nuna juga bisa marah-marah begini.
“ne, arasseong~” sengaja aku menambah ‘ng’ di belakang agar terdengar imut. Tapi aku benar-benar merasa bersalah. “nuna, aku rindu.” Ujarku akhirnya. Aku tak bisa tidak mengatakannya.
“aku juga” ujar nuna dari seberang.
“aku sedang tidur di kasur nuna, peluk bantal nuna, aroma nuna masih tertinggal. Hehe.” Ujarku jujur. Kupeluk bantal nuna lebih erat.
Ada jeda sebentar sebelum nuna kembali bicara.
“jangan menodai bantalku dengan air liurmu.” Kata nuna akhirnya.
“nuna! aku tak pernah begitu! Nuna nakal sekali!” aku protes. Aku mendorong bantal nuna menjauh, tapi sedetik kemudian memeluknya lagi.
“hahaha,” suara tawa nuna terdengar dari ujung sana. Aku juga ikut tersenyum.
“nuna tidak tidur? tidak capek?” tanyaku.
“mm.. aku belum ngantuk. Kau sudah mau tidur?” nuna malah bertanya balik.
“tadi aku hampir tidur saat telpon nuna datang. Lalu kantukku hilang begitu saja.” terangku.
“mian…” ujar nuna lemah.
“aku senang kok nuna menelpon. Pasti aku mimpi indah malam ini.” ujarku meyakinkan nuna.
“hehe.” Nuna tertawa pelan di ujung sana. “kau tahan berapa jam?” tanya nuna tiba-tiba.
“maksud nuna?” ujarku bingung.
Mungkin memang dasar pikiranku yang kotor, perkataan nuna tadi sedikit yadong, menurutku. Ah, mungkin memang pemikiranku saja.
“kau tahan berapa jam menelpon?” tanya nuna lagi, “sepertinya aku benar-benar rindu padamu.”
Suara nuna makin lama makin kecil dan entah kenapa terdengar malu-malu. Tapi aku hampir melonjak girang karena kata-kata nuna itu. Dari satu kalimat itu saja aku sudah bisa meyakinkan diriku kalau ternyata rasa rindu nuna sebesar rasa rinduku. Ya ampun, aku jadi ingin mencium nuna sekarang.
“sampai pagi juga boleh” jawabku jujur. Mataku sudah menyipit karena senyumku yang terlalu lebar.
“nanti kau jadi tak bisa mimpi indah kalau sampai pagi…” nuna mengingatkan.
Oh, iya ya.
”gwaenchanha,” ujarku, “tapi memangnya nuna tidak apa-apa kalau sampai pagi? Nuna kan juga harus istirahat..” Kali ini aku yang mengingatkan nuna. Entah kenapa aku merasa jadi adik yang baik. Hihi.
“aku tidak apa-apa. Sepertinya besok aku tidak terlalu sibuk,” balas nuna, “aku malah khawatir padamu. Memangnya kau bisa terus terjaga sampai pagi?”
Sepertinya nuna serius mau terus ngobrol denganku sampai pagi. Dan aku juga sebenarnya tidak yakin tidak tertidur tiba-tiba saat nuna masih bicara.
“mm.. kalau begitu, nuna, kalau suaraku sudah tidak terdengar lagi, tandanya aku sudah tertidur, oke?” tawarku. Yah, paling tidak suara yang aku dengar terakhir kali sebelum aku tidur malam ini adalah suara nuna-ku.
Tawa nuna terdengar lagi setelah itu.
“baiklah..” kata nuna kemudian, “jadi bagaimana hari-harimu selama aku tinggal?”
Kami terus mengobrol tentang banyak hal. Aku malah kaget sendiri. Di telpon, nuna membicarakan hal yang tidak pernah kami bicarakan saat bertemu muka.
“hah? Memangnya nuna ukuran berapa?” tanyaku antusias. Aku peluk bantal nuna lebih kuat di antara kedua kakiku.
Tahu apa yang kami bicarakan? Ukuran bra nuna!
“mm.. menurutmu?” nuna malah memancing.
Aku berpikir sebentar. Dulu pernah sih aku lihat bra nuna, tapi saat itu aku masih belum mengerti mengenai ukuran bra. Saat aku sudah mengerti, aku malah malu untuk melihat bra nuna yang sedang ada di tumpukan kain kotor.
“mm.. aku tidak tahu mengenai ukuran bra,” ujarku jujur, mataku beralih ke celana panjang yang kugantung di belakang pintu, “sama dengan ukuran celana, tidak, nuna?”
“hahaha, ya ampun, taeminie. Tidak! Tentu saja tidak sama! Hahaha! Ya sudah, nanti kalau aku beli bra, kau akan aku ajak.”
Mataku melebar. Aku membayangkan berdiri di antara lautan bra. Hahaha. Kai pasti iri padaku.
“jinjja?? Nuna mau ajak aku??” tanyaku memastikan.
“Tidak, aku hanya bercanda. Hahaha!” Jawab nuna cepat.
Senyumku langsung hilang.
Tak hanya tentang nuna, kami juga membicarakan mengenai diriku. Hal yang pribadi sekali malah.
“memangnya kapan saja itumu bisa berdiri?” tanya nuna, tak berapa lama berselang dari pembicaraan mengenai bra itu.
Lihat? Sudah tahu apa yang kira-kira kami bicarakan sekarang? Benar. ‘Adik’ku.
Nuna santai sekali membicarakan masalah itu. Aku jadi ngeri sendiri.
“yaa, bisa kapan saja” jawabku ragu.
Aduh, nuna~ dengan bicara begini saja hal itu bisa terjadi~, rengekku dalam hati.
“kalau sekarang?” pancing nuna.
GLEK.
Aku melihat ke bawah.
Tuh, kan… ya ampun nuna-ku…
“eung…” aku hanya bergumam pelan.
“HAHAHA!” tawa nuna lepas saat itu juga. Sepertinya nuna tahu. Ah, ya sudahlah.
“nuna nakal~!” aku akhirnya merengek juga.
Kami terus mengobrol sampai larut malam. Kadang-kadang kami berhenti sebentar, hanya memanggil nama masing-masing. Dan hanya dengan memanggil nama nuna saja bisa membuatku rindu setengah mati, apalagi kalau nuna memanggil namaku.
“taeminie?” nuna memanggilku lagi setelah aku lama terdiam.
“m?” aku hanya merespon seadanya.
“kau tidur?” tanya nuna. Nada nuna terdengar khawatir.
“ani. Tidak, tidak, nuna, aku tidak tidur.” jawabku cepat.
“oh, kukira kau tidur..” suara nuna melemah.
“tidak, nuna~” ujarku lembut.
Aku merasa senang. Padahal cuma suara, tapi aku seperti bisa menjaga nuna. Nuna terdengar lebih manja dan lebih kekanakan daripada aku di telpon. Tahu begini dari dulu saja aku sering-sering telpon nuna. Aku baru sadar, baru kali ini kami menelpon selama ini. Mungkin karena kami selalu tinggal serumah.
Hal-hal sepele juga nuna bicarakan seperti, “Kau sudah potong kuku belum, taeminie?”, atau “Di dekat sini ada yang punya bayi. Imutnya sama denganmu, hihi”, dan “Kemarin saat teman-temanku melihat foto-foto di handphone-ku, mereka melihat fotomu. Kata mereka kau tampan. Besok-besok aku akan memberi password handphone-ku agar mereka tak bisa lihat sembarangan. Haha!”
Aku menangkap sinyal kecemburuan dari kalimat yang terakhir. Hehe.
Aku senang. Mungkin ini rasanya jadi pacar nuna, mendengarkan celotehan nuna sementara aku berbaring di kasur seperti ini, membayangkan apa yang sedang dilakukan nuna sambil bercerita padaku dari sana.
Kami terus mengobrol. Dan semakin malam, aku semakin mengantuk.
“nuna” panggilku setelah beberapa detik kami sama-sama terdiam.
“hm?”
“kupingku panas.” ujarku jujur.
“kupingku juga.”
Aku melirik jam dinding di kamar nuna. Tentu saja kuping kami panas, kami sudah menelpon lebih dari empat jam dari tadi.
“sudahi saja, yuk. Mulutku kering lama-lama ngobrol begini.” Kata nuna lagi.
“mau aku basahi pakai liurku?” tanyaku iseng.
“mana sini?” respon nuna di luar perkiraanku.
“nuna curang! Kalau jauh baru mau aku cium. Huu~” protesku.
Tawa nuna terdengar lagi.
“pokoknya nanti kalau nuna pulang, jangan marah kalau aku langsung cium ya, nuna” ujarku lagi.
Nuna tidak menjawabnya. Yang kudengar hanya suara tawa kecil saja. Tapi aku anggap itu sebagai kata ‘iya’.
Aku menguap. Sepertinya aku benar-benar mengantuk.
“kapan nuna akan menelponku lagi?” tanyaku.
“molla. Mungkin besok?” ujar nuna tak yakin.
“jinjja??” mataku langsung melebar girang.
“ne, besok pagi aku akan menelpon untuk mengingatkanmu agar tidak sarapan dengan ramyeon lagi.” jelas nuna kemudian.
Aku langsung memberengut.
“ne, nunim~ algesseumnida.” Aku sengaja membuat-buat suaraku, “aku akan tunggu telpon nuna besok.”
Aku tersenyum lagi. Besok aku bisa mendengar suara nuna lagi!
“geurae. Sepertinya kau masih sempat mimpi indah.” Kata nuna lagi.
“eung! Nuna juga mimpikan aku ya~”
“ne, hahaha”
“nuna?”
“eung?”
Aku tersenyum lagi. Yang satu ini tak mungkin aku melewatkannya.
“ppoppo?” pintaku.
“ccuk!” nuna membalas cepat.
Aku tersenyum senang.
“yang panjang?” pintaku lagi.
“ccuuuu~~~~kk!!!”
Cengiranku makin lebar mendengarnya. Kalau nuna ada di depanku sekarang, aku akan mencium nuna dan tidak akan melepaskannya.
“ccuuk~!!” aku juga memberikan ppoppo pada nuna, “jal ja, nuna!”
“jal ja, taeminie~”
“ccuk!” aku memberi ppoppo di detik terakhir.
“haha, ccuk!”
Kemudian telpon terputus.
Aku masih terus memandang layar handphone-ku sendiri bermenit-menit setelahnya. Sedikitnya rasa rinduku sudah terhapus.
Aku memeluk bantal nuna lebih erat dan kembali mencoba memejamkan mataku seperti empat jam yang lalu.
Nuna, saranghae.

= = =