Tag Archive | Friendship

FF – SHINee/Honestly, I Love You (stuck)

annyeong~~~

ff yang ini ff shinee menyusul dua ff sebelumnya, yang onew ama minho. kali ini main cast nya jonghyun~^^ *lempar pita ke abang jjong*

yang ga suka yaoi, tenang aja, ini ff straight kok 🙂 cerita nya tentang jonghyun yang jatuh cinta ama temen masa kecil nya, tapi si temen yg emg ga peka, ga nyadar sama sekali kalo si jonghyun suka ama dia. sasil, cerita ini uda pernah di pablis d fb saya dengan main cast donghae, tapi saya rombak dikit jadi jonghyun karena saya pikir lbh cocok kalo abang jjong yg jd main cast nya. *bow k donghae*

saya minta maaf karena ini ff juga masi stuck, sama kaya 2 ff sebelumnya hehe *djitak reader* dan juga ini ff yang paling pendek dibanding 2 ff yang saya sebutin tadi.. mianhaee~~ *bow bareng tmin*

okeh 잘 일고보세요 aja deh 😉

= FF =

Title : Honestly, I Love You

Episode :  1 of ?

Status : Stuck

Cast:

  • SHINee Jonghyun (main cast)
  • SHINee Key
  • other casts are fake
= = =

Jonghyun PoV—

“kau lihat? Betapa mencoloknya dia di antara mereka”

Aku menoleh ke tempat yang ditunjuk seohan.

“hm,” gumamku pelan. Mataku terpaku lagi ke tanah.

Terdengar desahan pelan dari mulutnya.

“hh.. aku beruntung bisa hidup dan melihat orang sepertinya. Benar-benar sempurna..”

Aku menoleh padanya. Matanya menerawang, melihat jauh di depannya, melihat sebuah sosok yang setiap hari dikaguminya.

“kenapa kau tak mau mencoba berbicara padanya? Setiap hari kau hanya mengaguminya dari jauh saja. Aku bosan denganmu.” kataku sambil meregangkan otot-ototku.

Sudah lebih dua jam kami berada di sini. Duduk di bawah pohon yang rindang dan terlindungi dari pandangan siapapun. Mungkin lebih tepatnya kami duduk di antara semak-semak.

Dia menatapku dan menghembuskan napas panjang.

“baiklah, kita pulang. Aku tahu kau sudah lapar” ujarnya enteng sambil bersiap-siap berdiri.

“aku tak lapar” ujarku protes, tapi aku berdiri lebih dulu daripadanya. Dia mengulurkan tangannya agar aku membantunya berdiri.

“perutmu bunyi” katanya sambil menepuk-nepuk pantatnya yang kotor karena duduk di antara dedaunan tadi.

Aku memegang perutku karena ucapannya. Masa sih?

“masa? Kok aku tak mendengarnya?” kataku.

Dia tertawa, yang membuatku ikut tersenyum juga.

“aku bercanda” katanya sambil memegang tanganku, “gaja!”

Aku tersenyum padanya.

“seohanie, apa perempuan selalu seperti itu?” tanyaku padanya dalam perjalanan pulang kami.

“seperti apa maksudmu?” tanyanya heran dan menoleh padaku. Seohan melihat puncak kepalaku “JONGHYUN-AH!!”

Aku terlonjak.

“mwora?! Kau mengejutkanku”, aku mengelus dadaku.

“kau sudah tambah tinggi sekarang. Kau curang”

“hehe”, aku tertawa.

“kenapa sih, anak laki-laki cepat sekali tinggi?”

“nunaaaaa~~~~!!!”

Belum sempat aku menjawab, sebuah suara melengking yang datang dari arah belakang kami memekakkan telingaku.  Detik berikutnya, aku merasakan badanku terdorong ke depan. Pegangan tanganku pada seohan jadi terlepas. Aku tersungkur. Untung tanganku cepat menahan tubuhku. Aku menoleh ke belakang, melihat siapa yang mendorongku.

“kibum-ah!!” teriakku pada orang itu. Dia adiknya seohan. Dan dia selalu jengkel kalau kami berdekatan. Dia menjulurkan lidahnya padaku dan menggenggam tangan seohan.

“jonghyun tak boleh mengambil nunaku!” katanya.

“key-ya, yang sopan kalau bicara! Jonghyun ‘hyung’. Kau harus memanggil seperti itu!” kata seohan.

Kibum tersenyum manis pada seohan. Dasar lintah.

Aku bangkit berdiri, membersihkan pasir yang menempel di tanganku karena tersungkur tadi.

“nuna, ayo kita pulang. Aku ingin belajar masak lagi..” rengeknya.

“ya! Kibum! Kau laki-laki atau perempuan? Untuk apa kau belajar masak? Babo!” ujarku padanya sambil menjitaknya.

“nuna~~”, dia merengek, mengadu pada seohan.

“Gaja, Gaja! Sudah sore ini! Eomma bisa marah padaku kalau kau belum pulang”, seohan tak menggubris rengekan nya. Aku tersenyum senang.

“rasakan!” bisikku di telinga kibum saat berdiri di sebelahnya.

“nuna~~ jonghyun mengancamku~,” kibum malah merengek pada seohan.

“ya!! Siapa yang mengancam? Ani, ani! Aku tak mengancamnya!” ujarku saat seohan menatapku berang.

“kalian berdua ini tak pernah bisa akur!” kata seohan. Dia menjitak kami berdua.

Kami bertiga berjalan dalam diam setelah itu. Kibum manyun. Aku jadi ingin menjahili dia.

“key-ya~ kemarin kau jalan dengan seorang gadis, siapa dia?” tanyaku iseng.

Kibum langsung memandangku tak percaya. Matanya membesar.

“mwo?? Eopseo! Aku tak pernah berjalan dengan gadis manapun!” bantahnya, “dan kau tak boleh memanggilku ‘key’! hanya nuna yang boleh memanggil seperti itu~,” katanya lagi sambil bergelayut di lengan seohan, senyumnya mengembang saat melihat seohan.

“hissh~!” dengusku, merasa jengkel pada kibum yang selalu pura-pura baik di depan seohan.

“kau belum boleh punya pacar, key-ya! Nuna melarangmu!” ujar seohan tiba-tiba, nadanya sedikit tinggi.

Aku langsung mendelik ke arah seohan. Alisnya berkerut dan dia terus mengomel pada kibum.

Ternyata seohan menanggapi perkataanku tadi. Padahal aku cuma berbohong, biar saja si kibum sekali-sekali diberi pelajaran.

“nuna, aku tak pernah berpacaran! Jeongmalyo! Dia ini berbohong, nuna!” kibum membela dirinya sambil menunjukku dengan telunjuknya.

“jangan tunjuk jonghyun seperti itu, dia lebih tua darimu! Yang sopan pada yang lebih tua!” bentak seohan, “lagipula meski kau pacaran ataupun tidak, nuna sekarang memperingatkanmu untuk tidak melanjutkan hubunganmu dengan pacarmu itu—“

“nuna aku tidak pacaran~ Aku tidak berbohong nuna~” kibum mulai merengek dan mengeluarkan airmatanya.

“pokoknya nuna melarangmu!” ujar seohan lagi, nadanya mulai merendah. Mungkin karena kibum sudah mulai menangis. Kibum terus merengek sambil memeluk seohan. Perjalanan kami jadi terhenti karena dia. Seohan balas memeluknya dan membelai rambutnya.

“nuna tak pernah mem-membentakku seperti tadi~” kibum terisak di dalam dekapan seohan. Aku memutar bola mataku mendengar kata-katanya.

“uljimara~ nuna minta maaf.” Ujar seohan. Aku melihat kibum yang mengangguk-anggukkan kepalanya. “tapi kau juga harus sopan pada jonghyun. Tadi kau sudah berbuat kasar, sekarang ayo minta maaf.” Tambah seohan lagi.

Kibum melepas pelukannya dari seohan dan berbalik menghadapku.

“aku minta maaf, mianhaeyo,” ujar kibum sambil sedikit membungkuk.

“hm..” jawabku singkat.

Kami melanjutkan perjalanan lagi. Aku senyum-senyum sendiri sambil melirik kibum. Baru kali ini dia minta maaf padaku. Semuanya karena seohan, coba kalau seohan tadi lebih percaya omongan si kecil ini, mungkin aku—

DUG!

“AYA!!” erangku. Aku memegang tulang keringku.

“aigo!” suara lain terdengar. Kibum terjerembab di depan kami. Tapi aku hampir yakin itu hanya kamuflase agar dia punya alasan tidak sengaja menendang kakiku. Seohan tampak bingung melihat kami.

“kenapa kalian berdua tiba-tiba dapat kecelakaan begini?” ujarnya heran sambil membantu berdiri kibum. Sementara itu, aku menggosok-gosok kakiku bekas tendangan kibum tadi. Sakit sekali.

“ya!! Lain kali hati-hati kalau jalan!” bentakku pada kibum.

“aku juga jatuh! Memangnya kau tak lihat? Buta, ya??” tantang kibum. Aku hanya menatapnya jijik sambil meringis. Sakit sekali tulang keringku, besok pasti jadi memar.

“sudah!! Kalau kalian terus bertengkar, kita akan sampai di rumah malam hari! Ayo cepat!” seohan menengahi kami. Dia berjalan duluan sambil menggandeng kibum, aku mengikuti mereka sedikit tertinggal di belakang dengan agak terpincang-pincang.

= TBC =

*comments are loved :*

FF – SHINee/Missing Onew (stuck)

annyeong~~

ini ff sebenar ny saya buat ny ada 5. masing2 tokoh utama ny anak SHINee. kali ini, tokoh utama ny Onew. yang tokoh utama nya Minho uda dipablis dan bisa diliat di sini. untuk ff yang Minho itu ber-genre yaoi dan (sejauh ini) ga NC (kkk). untuk 3 ff lainnya bakal saya post lain waktu krna ff2 ntu sndiri masi tll dikit buat dipablis, plot ny jga masi blum kebaca. dan sekedar informasi, ff2 yg dsebut di atas masi stuck lima-lima nya.. wkwkwk

mengenai ff SHINee/Missing Onew ini, tadinya mau saya ikutin lomba ff SHINee menjelang ultah ke-3 mereka. tapi karna saya sibuk kuliah plus ide ny stuck buat lanjutin, jadi ny saya ga jadi ngikutin nh ff ke lomba itu. naah, dari pada berjamur di lptp saya, mending d pablis d sini. dsamping itu smua, saya tau nh ff kesan ny cepet2, soalny emg dasarny jga saya cpt2 nyelesein ny karna kmrn itu lomba ny pake batas waktu.

trus juga, karna nh ff masi stuck, mgkin kalo ada waktu (plus ada ide buat nerusin), kmungkinan besar episot selanjut ny itu semua ny onew pov, jdi d sana dijelasin semua ny tentang apa yg terjadi dari awal nh ff ampe ending ny.

terakir, makasi buat rider yang uda baca plus ninggalin jejak 🙂

잘 읽어보세요~~

= FF =

Title: Missing Onew

Episode : 1 of ?

Status : Stuck

Cast:

  • SHINee Onew (Main Cast)
  • other member of SHINee
  • other casts are fake

= = =

Author PoV—

Seorang pria berbadan besar menutup handphone-nya. Dia memandang temannya dengan tatapan khawatir.

“Kita salah orang,” ujarnya pelan.

Sang teman balas menatapnya dengan mata terbelalak. Dia tahu temannya itu tak bercanda.

“Eotteohke?” jawabnya dengan nada gusar.

Pria pertama menggeleng sambil mengangkat bahu. Keduanya tampak gelisah. Mereka mengalihkan pandangan ke sesosok pemuda yang terbaring lemah di tengah ruangan. Dari bagian kanan kepalanya mengalir darah segar yang masih baru. Wajahnya yang tampan dan putih kontras sekali dengan ruangan kumuh itu.

“Kita apakan dia? Bunuh?” tanya pria kedua, masih ada nada ragu dalam suaranya.

“Andwae, itu akan menyebabkan lebih banyak masalah.” jawab pria pertama. Pria itu mulai mondar-mandir, memegang dagunya sambil berpikir. Tiba-tiba dia menjentikkan jarinya.

“Kalau tak salah, di perjalanan ke sini aku melihat sungai. Kita buang saja dia di sana!” ujarnya kemudian.

“Apa itu tak terlalu beresiko?” tanya pria kedua bimbang.

Pria pertama menatap temannya, wajahnya benar-benar gelisah.

“Tak ada cara lain.” katanya akhirnya setelah beberapa saat berpikir, “Gaja!”

Sekali lagi kedua pria berbadan besar itu mengangkat badan si pria muda yang tak sadarkan diri.

~~~

Ga-eul meregangkan otot-ototnya. Dilihatnya mentari yang sudah makin tinggi dengan senyumnya.

“Sepertinya hari ini akan cerah,” ujarnya pada diri sendiri.

Ga-eul melangkahkan kakinya di rumput yang halus, berjalan terus menelusuri tepian sungai tempat dia biasa menyendiri. Sungai ini indah, tapi sejak Ga-eul menemukannya dia tak pernah melihat seorang pun mendatangi tempat ini selain dirinya sendiri. Ga-eul selalu menghabiskan waktu luangnya di pinggir sungai ini, dia merasa tenang di sini.

“Uugh~”

Langkah Ga-eul terhenti. Jelas sekali baru saja dia mendengar suara erangan manusia berasal dari daerah pepohonan di sebelah kanannya. Ga-eul menyipitkan matanya ke balik pepohonan, mencoba melihat siapa yang berada di sana selain dia.

Ga-eul memberanikan diri memasuki pepohonan itu. Kalau dari asal suaranya, Ga-eul yakin orang ini berada tak jauh dari pinggir sungai.

Seorang pria sedang duduk sambil memegang kepalanya saat Ga-eul melihatnya. Pria ini menatap Ga-eul dengan pandangan menyipit, dia tampak tak sehat. Ga-eul dapat melihat aliran darah kering yang menodai pelipis kanan pria ini dari tempatnya berdiri sekarang. Ga-eul terdiam menatapnya. Pria ini tampan. Benar-benar tampan.

“nuguseyo?” tanya Ga-eul padanya. Beberapa pertanyaan lain di otaknya mendesak keluar.

Pria ini melihatnya dengan pandangan bingung. Sesaat kemudian dia menggeleng.

 

Ga-eul PoV

Lahap sekali dia makan. Nasinya sampai berceceran ke pipinya.

Kutopang daguku dengan tangan.

Pria ini benar-benar aneh. Tampan, kelaparan dan hilang ingatan. Dan aku sama sekali belum pernah melihatnya di desa ini. Tak ada petunjuk apapun mengenainya, kartu identitas pun tidak.

“Kau benar-benar lupa dengan dirimu?” tanyaku tiba-tiba.

Pria ini menghentikan suapannya di udara. Dia melihatku dengan tatapan bingung dan mengangguk. Dia kemudian memasukkan suapannya ke dalam mulutnya dengan rakus. Benar-benar seperti orang bodoh.

“Namamu?” tanyaku lagi.

Dia menggeleng kuat-kuat, kali ini tak menyia-nyiakan waktunya untuk melihatku terlebih dahulu, dia masih sibuk dengan nasinya.

“Mulai sekarang namamu Kangga kalau begitu, tepi sungai.” jelasku.

Dia hanya mengangguk kuat-kuat sebagai balasan pernyataanku.

“Ayam ini enak sekali” katanya kemudian dengan mulut penuh.

Author PoV—

“Aku tak mau pulang! Aniya!! Lepaskan aku!!”

Key meronta dari pegangan erat Minho yang membelenggu lengannya. Wajah Key merah, menahan amarah sekaligus tangisan yang dipendamnya dari tadi. Usahanya untuk melepaskan diri dari Minho tak membuahkan hasil, tenaga Minho terlalu kuat untuknya.

“Hyung..” Minho menatap harap pada manajer mereka. Tangannya terasa sakit karena menahan kedua lengan Key yang terus meronta.

Manajer mereka membalas tatapan Minho dan kemudian mengalihkan pandangannya pada Key.

“Ya! Kibum! Dengarkan aku!” teriaknya.

“Ani, Hyung! Aku tak akan pulang! Aku akan menemukannya! Lepaskan aku, sialan!!” umpatan Key ditujukan pada Minho, tangannya terus meronta. Dia menatap Minho dengan tatapan tergarang yang pernah dibuatnya.

“KEY!! SHINee KEY!! Kau harus profesional!!”

Amarah sang manajer tak bisa ditahan. Dia berteriak tepat di depan wajah Key.

Key sontak terdiam, matanya yang sudah merah menatap mata manajer di depannya. Kata ‘SHINee Key’ yang dilontarkan manajernya membuatnya tak bisa berkata-kata, dua kata mujarab itu menyadarkannya.

Tangan Key sudah berhenti meronta, tapi Minho belum berani melepaskan pegangannya di tangan Key. Minho takut Key tiba-tiba kabur dari ruangan itu dan bertindak bodoh, seperti yang biasa Key lakukan jika dia sedang kalap.

Manajer menarik napasnya dalam-dalam sebelum menatap Key lagi.

“Kuharap kau bisa profesional, Kibum. Kita sudah kehilangan satu, dan perusahaan tak akan mau menerima laporan bahwa dua member SHINee tidak kembali ke Seoul setelah pemotretan kali ini, kau harus mengerti itu. Dan, Jonghyun,” Manajer mengalihkan pandangannya ke arah Jonghyun yang berdiri di sebelah kiri ruangan, “Kau menggantikan posisi Jinki sampai kami menemukan dia, kau yang paling tua sekarang. Aku minta tanggung jawabmu untuk sementara waktu.”

Jonghyun mengangguk pelan, wajahnya tertunduk, sama seperti tiga member lainnya.

“percayalah, aku juga amat berharap Jinki segera ditemukan dan semua hal berat ini segera berakhir. Aku minta kalian kuat sampai saat itu tiba,” manajer menambahkan kata-katanya. Sejenak kemudian dia keluar dari ruangan itu, meninggalkan empat member SHINee di dalamnya.

“lepaskan aku,” ujar Key pelan dengan kepala masih tertunduk.

Minho mengendurkan pegangannya, dia masih menatap Key cemas. Saat Key menjatuhkan tubuhnya di kursi, barulah Minho berani menjauhinya.

Key menutup wajahnya. Sebuah hantaman keras baginya mengetahui bahwa Onew hilang di desa kecil ini. Beberapa pikiran penuh penyesalan memenuhi benaknya. Andai saja malam itu dia yang menggantikan Onew membeli jus di mini market terdekat. Andai saja dia mengesampingkan sedikit sifat egoisnya dan tidak dengan hati puas menyuruh Onew yang kalah dalam permainan kecil yang mereka lakukan malam itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Akan lebih baik bagi SHINee kalau dia yang hilang, bukan Onew.

[Desa ㅇㅇㅇ]

Ga-eul PoV—

“Aku pulaang~”

Suara Sunggi terdengar dari ruang depan. Hal yang terdengar kemudian adalah derap langkahnya yang cepat-cepat.

“Nuna, aku pulang!” teriaknya saat membuka pintu geser ruang keluarga kami.

“Ye! Ara!” ujarku ketus tanpa mengalihkan pandanganku dari rajutanku.

Adik laki-lakiku, Sunggi, masih berumur duabelas tahun dan bersekolah di satu-satunya sekolah dasar di desa kami.

“Nuna! Tadi aku menang main bola melawan kelas sebelah!” ujarnya dengan keras.

“Oh, ya?” tanyaku sedikit bersemangat dan akhirnya menoleh padanya, “Berapa skorny—OMOO~!!!!”

Mataku terbelalak saat melihat Sunggi. Baju seragam sekolahnya penuh lumpur, hitam di sana-sini. Begitu juga dengan wajah, tangan dan kakinya.

“Ya!! Kau habis main bola atau habis main dengan babi??!!” bentakku, “Siapa yang akan mencuci bajumu, memangnya, hah?? Aku! Aissh~!! Lepas bajumu!!”

Sunggi hanya nyengir.

“Hehe~ yang penting aku ‘kan menang, nuna~ Ini bunga untuk nuna.”

Sunggi menyerahkan lima tangkai bunga mawar kepadaku. Emosiku sedikit melunak begitu melihat bunga segar itu. Beginilah dia, menyebalkan, tapi selalu bisa membuatku tersenyum.

“Kau menyogokku ya?” tanyaku dengan pandangan sinis. Aku menerima bunga-bunga itu dari tangannya, “Gomawo~”

“Aku tahu nuna akan suka” katanya lagi. Sunggi melepas bajunya dan berlari cepat-cepat menjauhiku.

“Aku mandi dulu, ya, nuna~!” teriaknya sambil berlari.

Aku terdiam sebentar sebelum teringat sesuatu.

“Ya!! Di kamar mandi masih ada Kangga!!”

Percuma saja, Sunggi pasti tak bisa mendengar kata-kataku.

Biarlah, sesama lelaki ini, pikirku dalam hati.

Aku menyebrangi ruangan, mengambil gelas tinggi, mengisinya dengan air dan meletakkan lima tangkai mawar itu ke dalamnya. Aku letakkan gelas beserta mawar itu di atas meja makan kami. Sambil tersenyum, aku menatanya sedikit.

“GYAAA~~~ NUNAAAA~~~~!!!!!”

Aku tersentak. Itu suara Sunggi.

Aku langsung berlari ke halaman belakang dengan panik.

Apa yang terjadi dengannya?

“Sunggi-ya! Gwaenchanhayo?” aku tersandung-sandung di halaman rumah yang berbatu-batu. Kulihat Sunggi yang menunjuk-nunjuk ke dalam bilik kamar mandi.

“Ada alien, Nuna!” ujar Sunggi dengan wajah takut.

Sedetik kemudian Kangga keluar dari dalam bilik.

“Di mana ada alien?” tanyanya bingung.

“Gyaa~~ Aliennya muncul~!! Nuna!! Selamatkan aku!” Sunggi berlari ke belakang punggungku dan melihat Kangga dengan wajah takut.

“Babo! Dia manusia! Kau sebodoh apa, sih?” aku menjitak kepala Sunggi pelan. Kangga hanya menatap kami dengan bingung.

“Manusia? Jeongmalyo?” tanya Sunggi polos, “Kenapa tampan sekali?”

Kangga tampak sedikit terkejut saat mendengar perkataan Sunggi, mukanya bersemu merah.

“O? gamsahamnida.” ujarnya pelan sambil menggaruk sedikit bagian belakang kepalanya. Dia tampak salah tingkah dan terlihat makin tampan.

“Kangga-ssi, ini adikku.” Aku memperkenalkan mereka berdua, “Sunggi-ya! Beri salam!”

“Annyeonghaseyo, Sunggi imnida~” ujar Sunggi, dia masih terlihat takut.

“A-annyeonghaseyo~” Kangga ikut memberi salam dan sedikit membungkukkan badannya.

“Kangga-ssi, apa kau mau istirahat? Kau bisa berbagi kamar dengan Sunggi.” kataku pada Kangga yang masih tampak kebingungan. Kasihan sekali, pasti benturan di kepalanya sangat keras sampai dia tampak seperti orang linglung begitu.

“Ye, gamsahamnida~” Kangga mengangguk dan berjalan mendahuluiku. Aku memperhatikannya sampai dia masuk ke dalam rumah.

Tarikan di bajuku mengalihkan pandanganku dari Kangga. Saat aku lihat ke bawah, Sunggi sedang menatapku dengan senyum lebarnya.

“Mwora?” tanyaku ketus.

“Pacar nuna, ya?” tanya Sunggi sambil memainkan alisnya.

Aku langsung menjitaknya.

“Aissh~! Bukan! Nanti aku ceritakan!” ujarku sedikit kesal, “Sudah, mandi sana!”

[Kantor SME]

Author Pov—

BRAKK!!!

“Jangan macam-macam!! Apa yang kalian lakukan selama di sana, hah??!  Dengan mudahnya kau mengatakan kalau salah satu member SHINee hilang saat pemotretan!! Kau tahu kalau acara ulang tahun SHINee yang ketiga akan diadakan tiga minggu lagi!! Kau ingin kantor kita diserbu fans-nya??!! Aissh~!!”

Direktur utama SM entertainment murka di seberang meja kerjanya yang hitam berkilat. Manajer SHINee hanya tertunduk di depannya. Dalam hati dia mengutuk, tapi entah mengutuk siapa dia pun tak tahu.

“Dengar! Ini hal serius! Kuharap berita ini tak sampai ke telinga Netizen atau media manapun. Hal ini harus ditutupi, kau mengerti?!” ancam direktur utama kepada manajer SHINee.

“Ne. Algesseumnida, Sajangnim” ujar manajer SHINee sambil menggangguk, “Saya permisi.” Dia tak mau lagi berlama-lama di ruangan panas itu. Kepalanya sudah cukup pusing saat mengetahui bahwa Onew hilang di tempat pemotretan lima jam yang lalu saat mereka masih di sana.

Sekarang seluruh member SHINee, minus Onew, sudah kembali ke Seoul. Jadwal SHINee makin padat menjelang ulang tahun mereka yang ketiga ini dan semuanya harus dilakukan tanpa kehadiran sang leader.

[Desa ㅇㅇㅇ]

Ga-eul PoV—

“Kau yakin, Sunggi?” bisikku pada Sunggi. Sunggi mengangguk kuat-kuat sebagai jawaban.

“Aku yakin sekali, nuna. Dia onew SHINee. Temanku tadi membawa majalah dari kota dan aku lihat ada Kangga hyung di dalamnya. Aku yakin, Nuna, aku tak mungkin salah orang. Jeongmalyo!” Sunggi ikut berbisik dengan bersemangat.

Aku menatap Kangga yang sedang berjemur di halaman rumah kami. Sudah dua minggu lebih Kangga tinggal bersamaku dan Sunggi dan baru hari ini kami mendapat info tentang dia. Itu pun karena kebetulan ada teman Sunggi yang membawa majalah dari kota.

Tiba-tiba, Kangga menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku menggerakkan tanganku, menyuruh dia mendekati aku dan Sunggi yang sedang duduk di beranda rumah. Aku harus memberitahunya mengenai hal ini.

“Waeyo?” tanya Kangga saat sudah berdiri di depan kami.

Aku mengedipkan mata beberapa kali sambil berpikir. Mungkin Sunggi benar. Dia tampan, bisa jadi dia memang artis.

“Emm.. pembicaraan ini sedikit serius.” ujarku padanya. Kangga mengangguk dan kemudian duduk di sebelahku. Dia tampak benar-benar ingin tahu apa yang akan aku katakan. “Kami sudah tahu siapa dirimu sebenarnya,” aku mulai bicara, melirik Sunggi sebentar lalu menatap Kangga lagi, “Kau artis” sambungku.

Kangga tampak terkejut saat aku berkata seperti itu, mulutnya sedikit terbuka.

“Na?” katanya tak percaya. Dia menunjuk dirinya sendiri.

Aku mengangkat bahu sebagai jawaban. Sejujurnya, aku juga masih belum yakin sepenuhnya kalau dia benar-benar orang terkenal. Aku menggigit bibir sambil terus berpikir.

“Kalau memang benar kau artis..” kataku, “kita harus secepatnya menelpon ke agensi-mu”

Kangga memandangku dengan tatapan aneh, aku tak bisa mengartikan pandangannya itu. Aku mencegah kontak mata dengannya dengan melihat Sunggi lagi.

[Kantor SME]

Author PoV—

Manajer SHINee berjalan cepat menuju ruangan kerja utama kantor SME. Sebuah berita bagus menunggunya di sana.

“Annyeonghaseyo” sapa menejer SHINee saat memasuki ruangan, beberapa karyawan yang sedang bekerja mengangkat kepala mereka sedikit untuk melihat siapa yang masuk ke ruangan dan kemudian sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka lagi. Manajer SHINee langsung bergerak ke meja seorang wanita yang berada di sudut ruangan, meja dengan tulisan ‘informasi’ di atasnya.

“Annyeonghaseyo, Hyuna-ssi,” sapanya lagi, “Bagaimana kabar terakhirnya?” tanyanya bersemangat.

“Telpon itu dari desa di sekitar tempat SHINee terakhir mengadakan pemotretan. Empatpuluh kilometer dari lokasi pemotretan. Gadis itu mengaku bernama Shim Ga-eul dan mengatakan bahwa Onew sedang bersamanya.” Jelas wanita itu sebelum menejer SHINee memintanya.

“Lalu?” kata manajer SHINee tak sabar.

“Dia mengatakan kalau Onew hilang ingatan saat dia menemukannya. Kami sudah mengirim orang untuk menjemputnya. Kira-kira besok pagi Onew sudah kembali ke tangan kita.” Kata wanita itu lagi sambil tersenyum.

Manajer SHINee menghembuskan napas lega saat mendengar berita itu. Wanita itu tertawa kecil melihatnya.

“Haha~ kau benar-benar stres, ya?” katanya. Menejer SHINee membalas senyum wanita itu.

“Tak perlu ditanyakan lagi. Jantungku benar-benar mau copot saat tau Onew hilang, belum lagi emosi member yang tak teratur selama leader mereka tidak ada—Omo! Aku lupa memberitahu mereka! Mereka pasti senang mendengar kabar ini! Aku akan pergi sekarang. Hubungi aku kalau ada info selanjutnya. Geureom~”

Manajer SHINee tersenyum sambil sedikit membungkuk pada wanita itu sebelum bergegas keluar ruangan. Bebannya sudah hilang sekarang. Acara perayaan ulang tahun ke-tiga SHINee yang diadakan kurang dari seminggu lagi mungkin akan sukses setelah mereka menemukan Onew.

Ga-eul PoV—

Setelah menutup telpon, aku menghembuskan napas panjang. Sambil menatap jendela rumahku, aku termenung memikirkan pembicaraan di telpon barusan. Sepertinya aku hanya mengucapkan beberapa kalimat dan tiba-tiba saja mereka mengatakan malam ini akan tiba di sini untuk menjemput Kangga. Semuanya terjadi dengan sangat cepat.

Aku berdiri dari tempat dudukku dan melangkahkan kakiku ke kamar Sunggi, tempat di mana Kangga sekarang sedang beristirahat. Setelah aku mengatakan padanya bahwa dia seorang artis tadi siang, dia mengeluh kepalanya sakit dan meminta waktu untuk beristirahat.

Aku mengetuk pintu pelan dan melongok ke dalam. Kulihat Kangga yang sedang duduk di tepian tempat tidur sambil memegang kepalanya yang tertunduk dengan kedua tangannya.

“Kangga-ssi? Gwaenchanhayo?” tanyaku sedikit cemas sembari melangkah mendekatinya. Kangga menoleh ke arahku saat aku masuk. Dia menatapku dengan sedikit aneh. Ada keringat yang mengalir di pelipisnya saat aku cukup dekat untuk melihatnya.

“Ga-eul-ssi..” ujarnya pelan, “…aku sudah ingat semua”

Taemin PoV—

Kami berempat sedang berada di dalam mobil setelah jadwal pemotretan hari ini berakhir.

“Jinjja?? Itu benar-benar dia?? Kau tidak bercanda ‘kan, Hyung??”

Aku melirik Key hyung yang sedang menelpon dengan suara keras.

“Kenapa dia?” tanya Jonghyun hyung pada Minho hyung. Jonghyun hyung yang berada di kursi depan di samping supir melirik ke kursi tengah, tempat di mana Key hyung dan Minho hyung duduk. Aku sendirian di kursi belakang. Kursi di sebelahku kosong karena Onew hyung tak ada.

“Molla. Tapi sepertinya berita bagus.” Jawab Minho hyung sambil terus menatap aneh pada Key hyung. Aku hanya mengangkat bahu dan meletakkan tanganku di sandaran kursi tengah dan menaruh daguku di atasnya. Kami bertiga menatap Key hyung dengan wajah penasaran.

“Ne, hyung! Aku akan memberitahu mereka.” Ujar Key hyung mengakhiri telponnya.

Jujur saja, aku merasa penasaran melihat ekspresi Key hyung yang gembira seperti itu. Sejak Onew hyung hilang tak pernah sedikit pun aku melihat senyum tulus yang dilontarkan Key hyung selain kepada Shawol. Oh! Apa mungkin ini memang berita tentang Onew hyung??

Key hyung menutup ponsel lipatnya, setelah itu dia memandang kami bertiga sambil tersenyum misterius, “Oh, Minho~ aku cinta kau~~” Key hyung setengah melompat memeluk Minho hyung yang sedang duduk di sebelahnya.

“ya! Lepaskan aku!” Minho hyung mencoba melepaskan diri dari dekapan Key hyung. Aku hanya tertawa melihatnya.

“ya! Kibum! Ada berita apa? Apa tentang Onew?” sela Jonghyun hyung. Aku langsung memandang Key hyung dengan wajah ingin tahu.

Key hyung tersenyum lebar begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jonghyun hyung. Lagi-lagi dia menatap kami satu-persatu. Aku tahu dia sengaja menunda waktu agar kami semakin penasaran. Dia selalu begitu.

“Ne! dia sudah ditemukan.” ujar Key hyung akhirnya.

Aku langsung tersenyum mendengar perkataannya. Itu kata-kata terindah yang aku dengar selama dua minggu belakangan.

“Ah! Akhirnya~!” teriakku sambil menghempaskan badanku ke sandaran kursi di belakangku. Jonghyun  hyung dan Minho hyung juga berteriak mengekspresikan kebahagiaan mereka. Sebentar saja keadaan mobil menjadi ramai. Padahal isi mobil ini hanya lima orang, kami berempat dan seorang ajeossi yang mengendarai mobil.

“Di mana dia selama ini?” tanya Jonghyun hyung.

“Ajik mollayo. Nanti kita bisa tanyakan sendiri pada orangnya. Manajer hyung bilang, besok si chicken maniac itu sudah akan ada di dorm sebelum jadwal pertama kita.”

“Sekarang dia ada di mana?”

Minho hyung yang ganti bertanya setelah itu. Aku hanya mendengarkan percakapan mereka sambil menutup mata di kursi belakang. Aku benar-benar merasa lega. Dua minggu lebih tanpa Onew hyung, SHINee benar-benar di luar kendali. Mungkin kami memang terlihat biasa saja saat bekerja, tapi di dorm emosi kami benar-benar tak bisa dikontrol, terlebih lagi Key hyung. Aku senang semuanya akan berakhir, paling tidak sampai besok pagi.

Aku terus menutup mataku. Mungkin kalau aku tidur sebentar, mimpiku akan indah kali ini.

= TBC =

FF – SHINee/Scholarship Boy (stuck)

annyeong~~

ini ff SHINee (total 5 buah ff dgn masing2 main cast ny para member shinee. ff dgn main cast Onew berjudul Missing Onew uda di-pablis. sementara 3 yang laen masi belum di-pablis), yang tokoh utama nya Minho *ngangkat mino*. ff yang ini ber-genre yaoi dan ga ada (atau belum ada) unsur NC. huohooo~ *snyumSetan*

naah, bagi rider yang ga hobi baca cerita yaoi, saya sarankan mundur perlahan, drpd ntar nya malah jiji sndiri trus lbh buruk lagi malah ng-bash saya lewat komen ato imel ato lewat manapun.  bagi yang suka yaoi~ silakan teruskan hwahaa:D

잘 읽어보세요~^ㅇ^

= FF =

Title: Scholarship Boy

Episode : 1 of ?

Status : Stuck

Cast:

  • SHINee Minho (Main Cast)
  • other members of SHINee
  • other casts are fake

Genre: Friendship, Yaoi

= = =

Author PoV—

Taemin melihat ke sekeliling. Gedung tiga lantai yang berdiri kokoh di depannya membuatnya sedikit terpana. Dia memperhatikan gedung itu dari sisi barat ke timur. Matanya meneliti relief-relief rumit yang dipahat rapi di dinding gedung. Dua tiang besar menyangga sisi depan beranda gedung.

“jinjjayo?” bisik taemin sembari melangkahkan kakinya ke tangga yang menuju beranda gedung.

Taemin masih tidak percaya dia mendapat beasiswa di sekolah megah ini. Dia tahu dia dapat beasiswa di salah satu sekolah swasta khusus laki-laki satu-satunya di kota kecil ini, tapi taemin tak pernah tahu kalau gedung sekolah ini benar-benar terlihat mewah.

Taemin berdecak kagum sekali lagi saat memasuki lobi gedung. Meski terlihat kuno dari luar, interior gedung ini benar-benar modern. Air terjun buatan yang dilapisi kaca berada di sisi dinding di sebelah kirinya. Di sebelah kanan, seorang wanita paruh baya berdiri di belakang meja tinggi serupa meja resepsionis. Papan kecil di atas meja itu bertuliskan ‘informasi’. Taemin menghampiri wanita itu.

“sillyehamnida” ujar taemin seraya membetulkan letak tali tas yang sedang disandangnya di bahu kanannya, kopernya diletakkan berdiri di sampingnya.

Wanita itu mengalihkan pandangannya dari kertas di depannya untuk melihat taemin, dibetulkannya letak kacamatanya. Wanita itu mengangkat sedikit kepalanya sambil menatap taemin dengan angkuh. Taemin tersenyum singkat sambil menganggukkan kepalanya pada wanita itu sebelum melanjutkan perkataannya.

“saya murid baru di sini dan sudah memesan satu kamar di asrama…”, taemin bingung harus berkata apa lagi, “mm.. jadi..”. belum sempat taemin menyelesaikan kalimatnya, wanita itu menyodorkan selembar formulir padanya.

“isi ini” ujar wanita itu singkat.

Taemin mengisi formulir itu dengan sedikit bingung. Beberapa pertanyaan aneh membuat alisnya sedikit berkerut.

“kamarmu nomor 415” ujar wanita itu singkat saat taemin menyerahkan formulir yang sudah diisinya. Sebuah kunci diletakkannya di atas meja. Taemin mengambil kunci itu dan memandang wanita itu bingung.

“gamsahamnida” ujarnya pelan sambil sedikit membungkukkan badan.

Minho pov—

Aku benci musim panas. Tubuhku jadi cepat berkeringat dan terasa lengket.

Kubuka t-shirt abu-abuku. Di kamar hanya ada aku, jadi tak perlu malu. Sebuah tempat tidur lain di ruangan ini masih kosong, masih belum ada yang menempati.

Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan menyambar notebook-ku. Tampilan desktop-nya tampak kabur, aku lupa memakai kacamata. Dengan malas aku berdiri dan mengambil kacamataku yang berada di atas meja. Dan saat itulah pintu kamarku terbuka. Aku langsung menoleh dan segera menyambar t-shirt-ku lagi begitu tahu siapa yang membuka pintu kamarku.

Seorang yeoja! Seorang yeoja berada di salah satu asrama di sekolah khusus putra ini. Seorang yeoja berdiri di depan pintu kamarku!

“annyeonghaseyo,” katanya ramah sambil tersenyum. Dia membungkukkan badannya.

Aku buru-buru memasang t-shirt-ku.

“ada yang bisa saya bantu?” tanyaku kaku.

Dia tersenyum lagi padaku.

“lee taemin imnida~ mulai hari ini aku akan tinggal di kamar ini.” katanya padaku sambil tersenyum.

Seorang namja?? Yang benar?

Aku membatin. Kucoba lihat dadanya untuk memastikan apakah benar dia seorang namja.

Rata. Berarti benar dia seorang namja.

Aku jadi kikuk. Kamarku berantakan. Oke, kamar kami karena mulai sekarang aku harus berbagi kamar dengannya. Tapi paling tidak semua barang-barang yang bertebaran ini semuanya barangku.

“ah ye. Silakan. Tempat tidurmu yang itu.” ujarku sambil menunjuk ke kasur yang berada di sebelah kiri ruangan. Sedikit rasa canggung menderaku.

“apa kau kelas satu juga?” tanyanya padaku saat dia masuk. Dilemparkannya ranselnya ke kasur itu dan dia mulai membongkar kopernya.

“ani, aku kelas dua.” jawabku sekenanya.

Mata taemin membesar dengan seketika.

“oh sunbae, mianhamnida.” katanya sambil membungkukkan badan.

“namaku minho. Choi minho.” kataku memperkenalkan diri.

“mannaseo bangapseumnida.” ujarnya sambil membungkuk lagi.

Aku tertawa melihatnya.

“haha, santai saja.” kataku padanya sambil memukul pundaknya pelan.

Dia mengangguk pelan dan tampak sedikit bersalah.

Aku duduk di tempat tidurku sementara dia membereskan barang-barangnya.

Kkotminam namja. Dia bahkan tampak cantik dengan setetes keringat di pelipisnya.

Choi minho! Dia namja! Kendalikan otakmu!

Aku bertengkar dengan otakku sendiri.

“kau masuk divisi apa?” tanyaku padanya untuk mengenyahkan pikiran-pikiran gilaku.

“piano klasik,” jawabnya singkat, “hyung apa?” tanyanya balik sambil menoleh ke arahku. Tangannya masih sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari pakaiannya.

“cello,” ujarku, “beasiswa?” tanyaku lagi padanya.

“ne,” jawabnya sambil mengangguk pelan, “dari mana hyung tahu?”

“murid beasiswa selalu datang lebih cepat dari pada murid reguler,” kataku.

Taemin mengangguk tanda mengerti. Dia kemudian meneruskan pekerjaannya yang tadi terhenti.

Kami terdiam lagi.

“apakah semua kamar di sini ditempati murid yang berbeda kelas dan divisi?” tanyanya kemudian memecah keheningan. Tertangkap oleh mataku lemarinya yang sudah penuh dengan pakaiannya.

“ani,” jawabku, “bisa dari divisi yang sama, seperti dua orang temanku—“

“choi minho~~~,”

Perkataanku terpotong oleh suara key. Pintu kamar ku—maaf, aku selalu lupa—pintu kamar kami menjeblak terbuka saat dia masuk. Jonghyun mengikuti di belakangnya. Mata key membesar saat melihat taemin.

“omona~~ gwiyeowo~~,” key langsung menghambur ke arah taemin dan menciumnya.

Ya, menciumnya. Tepat di bibir.

Aku—dan tentunya jonghyun—dapat melihat mata taemin yang membesar dari balik wajah key. Dia tampak terkejut dan berusaha keras melepaskan dirinya dari key. Anak malang.

Decakan keras terdengar saat key melepas bibirnya dari bibir taemin.

“lembut juga bibirmu, baby~,” kata key sambil menepuk pelan pipi taemin. Key kemudian berjalan ke ujung ruangan, tempat di mana cermin berada dan mulai mematut diri.

“aissh~ bajuku kusut,” gumamnya. Aku mengacuhkannya.

“anak baru?” tanya jonghyun padaku. Taemin masih terlihat syok, karena itu jonghyun bertanya padaku.

“hm,” aku mengangguk, “namanya lee taemin.”

Kulihat taemin yang masih memandang kosong ke dinding di depannya. Aku merasa sedikit iba padanya. Jonghyun mengikuti arah pandanganku. Sementara itu, taemin mulai menggeleng-geleng pelan seperti orang tak sadar.

“kasihan,” ujar jonghyun lagi. Dikeluarkannya lollipop yang dari tadi bersarang di mulutnya. Jonghyun lalu mengintip ke bawah kasurku. Dia mengambil majalah-majalah dewasa yang kuletakkan tepat di bawah kasurku. Sengaja aku buat laci kayu kecil yang menggantung di bawah kasurku untuk meletakkan barang-barang seperti itu.

“tak ada koleksi baru?” ujarnya sambil memeriksa majalah-majalah itu satu-persatu.

“menurutmu?” ujarku sinis.

Jonghyun balas memandangku dengan matanya yang besar. Sedetik kemudian dia mengangkat bahu. Tak lama kemudian, dia mulai menarik napas dalam-dalam. Halaman majalah-majalah itu masih terus dibukanya.

“sepertinya aku butuh waktu sendiri,” kata jonghyun tiba-tiba. Dia segera beranjak dari kasur dan berjalan ke arah pintu.

“ya! Lakukan bersama!” ujar key sambil menyusul jonghyun.

Blam!

Pintu menutup. Meninggalkan aku dan taemin dalam keheningan.

Aku melirik taemin. Dia masih termenung. Mungkin sedang memikirkan nasibnya pada hari pertama di sini.

“itu tadi temanku yang aku mau ceritakan. Mereka dari divisi vokal dan tinggal satu kamar. Yang memakai baju dan vest namanya key dan yang memakai atasan tanpa lengan berwarna hitam namanya jonghyun. Mereka—“

“mianhae, hyung,” potong taemin tiba-tiba, “tapi apakah aku terlihat seperti yeoja separah itu?”

Lama aku baru bisa mencerna pertanyaan taemin. Tapi setelah beberapa detik, baru aku mengerti maksudnya.

“haha,” aku tertawa pelan, “Key adalah kisser terhebat di asrama ini. Dia akan mencium siapa saja yang dianggapnya menarik dan kurasa kau adalah salah satunya”

“apakah dia gay?” tanya taemin cepat.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya.

“aniyo! Jangan salah paham dulu!” ujarku cepat, “begini, dia melakukannya hanya untuk kesenangan semata. Kisser dipilih oleh semua penghuni asrama dan tahun lalu key terpilih sebagai kisser di asrama ini. Di sini kisser, prince dan princess dipilih tiap tahun. Key hampir menduduki dua jabatan sekaligus tahun lalu. Hasil suara untuk princess dan kisser nya tertinggi di antara kandidat lainnya,” jelasku.

“princess??” tanya taemin.

Aku tersenyum mendengar nada suaranya yang terdengar heran.

“kau akan mengerti setelah berada cukup lama di sini,” kataku.

Dan kurasa kau yang akan jadi princess untuk tahun ini, taemin, lanjutku dalam hati sambil meliriknya. Wajah kusutnya terlihat sangat menarik.

“sepertinya aku butuh istirahat, hyung,” katanya sambil berjalan ke kasurnya.

“hm,” gumamku meng-iyakan. Kupandangi dia saat berjalan dan kemudian naik ke atas tempat tidurnya. Aku merasa geli sendiri. Mungkin dunia seperti ini dunia yang baru baginya, seperti apa yang kurasakan dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di sini.

-Flashback, Author PoV-

“ya! Choi minho!”

Minho berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Jonghyun setengah berlari mendekatinya.

“kupingmu itu tolong dibersihkan! Aku memanggilmu dari tadi, kau tak dengar juga!” ujar jonghyun kesal saat dia sudah sampai di depan minho.

“ada apa?” tanya minho tak peduli.
“kepala asrama menunggumu di ruang baca, sebaiknya kau segera ke sana.” jelas jonghyun.

Alis minho berkerut.

“kepala asrama?” ujarnya, “ada apa memangnya?”

=TBC=

FF – SHINee: HarPot version (stuck)

annyeong~^^

rider-deul ada yg suka harpot gaaa~~~???

nh ff terinspirasi dr kuis ttg ‘apakah patronus anda?’ (kira2 gtu jdul kuis ny -.-‘), trus sy ga sgaja (?) masukin nama2 anak syaini, trus muncul dh patronus masing2 ny^^ *lmpar kmbang k anak syaini* kalo mw srius si sbnr ny musti ijin dulu nh ama j.k. rowling berhub istilah2 dlm buku bliau dpake, tpi krna cma maen2 yah,, ijin ny kpn2 aja dh.. berhub sy jga fans ny harpot, anggap aja sy cover story gt, yaah, kalo dr korea kn ada cover dance, cover song, nah kalo ini cover story wkwkwk *nyengir kuda*

hhe, mian lg nh kalo nh ff gantung, ngambang, gaje, ga nyambung, dkk. soal ny sy emg cma iseng si bkin ny, trus jga ga ada niatan mw nyambung kkk *dtimpuk sndal ma rider*

trus jga kalo mw sxan dbayangin drpd nanggung, dsini tmin ny tlg d bygin yg rmbut almond jaman hello y rider, trus jga mino ny rmbut ny skrg yg uda mulai pnjang, kalo key trserah dh mw bayangin rmbut yg mana. trus jga berhub onyu ma jjong blum (ato nggak) muncul, tserah mo dbayangin sxan ato ga~ =~=b

=FF=

Title: SHINee HarPot version

Cast: SHINee

Genre: Friendship, Family

= = =

Minho PoV—

Lagi-lagi dia di sana sendirian, hanya ditemani dengan patronus-nya.

Kupu-kupu.

Begitu lemah. Tampak sangat rapuh untuk melindunginya.

Kepalanya bergoyang ke kanan-ke kiri, mengikuti arah terbang kupu-kupu yang mengeluarkan cahaya putih itu. Tampak kupu-kupu itu terbang pelan di depan wajahnya dan mulai mendekatinya, seperti ingin mencium bibirnya. Dia tampak terkejut namun kemudian tersenyum. Sorot matanya tak kelihatan dari sini, tapi entah kenapa aura kasih sayang yang keluar darinya amat berlimpah kepada kupu-kupu itu. Membuat orang yang melihatnya merasa mual karena besarnya rasa kasih sayang yang diberikannya pada penjaga kecilnya itu. Aku menelan ludah untuk mencegah rasa mual yang muncul tiba-tiba.

“Kau melihat siapa?”

Aku menoleh ke belakang. Key sedang berdiri sambil menatapku. Dia tampak penasaran dengan apa yang sedang kulihat di luar jendela. Aku mengalihkan pandanganku lagi ke arah sosok dengan patronusnya itu. Key mengikuti arah pandanganku.

“Siapa dia?” tanyanya.

Aku menggeleng sambil menggigit bibir.

Ya. Siapa dia? Sejak aku pertama kali melihatnya seminggu yang lalu, tak pernah sekalipun aku ingin mengetahui tentangnya lebih lanjut. Yang kutahu hanyalah, dia selalu duduk sendirian di atas bebatuan di pinggir danau dengan ditemani patronus kecilnya. Selalu sendirian.

Teng! Teng!

“pelajaran sudah akan dimulai, sebaiknya kau bergegas.” Kata key lagi. Aku menoleh padanya dan mengangguk tanda mengerti. Saat aku lihat lagi pemuda itu, dia sudah mulai berjalan ke arah kastil.

Aku meninggalkan tempatku dan berjalan cepat menyusul key.

(abis ini ceritanya pura2nya bbrapa mgu kmudian gtu.. jd mino ny uda kebelet pnasaran ny ama tmin, trus dia datangin tmin wkt tmin lagi2 duduk sndirian d pinggir danau. oke? sy uda ngasi latar dekorasi ny loh yaa~~~ =.=)

ZZZZUIIIINGG~~~~ *ngabur*

 

Taemin Pov—

“kenapa kupu-kupu?”

Bentuk bercahaya yang menemaniku langsung hilang begitu lamunanku dipecahkan oleh sebuah suara asing. Aku menoleh ke asal suara dari sebelah kiriku itu.

Seseorang berdiri sambil menatapku. Bukan orang yang kukenal. Mungkin aku pernah sesekali melihatnya di kastil, tapi lebih dari itu aku tak tahu siapa dia.

“maaf. Tapi, siapa—”

“choi minho imnida. aku orang yang selalu melihatmu, kalau kau tidak tahu,” potongnya, dia tampak sedikit salah tingkah, “maaf, tapi aku hanya selalu penasaran—kenapa kupu-kupu?”

Dia benar-benar tampak ingin tahu, terlihat dari sorot matanya.

Kenapa kupu-kupu?

Aku tersenyum kecil membayangkan cerita dibalik pertanyaan yang diajukannya itu.

“dia nuna-ku.” jawabku singkat.

“nuna-mu?” dia tampak bingung, “maaf, tapi aku masih belum mengerti.”

Sedikit nada tak sabaran bisa aku tangkap dari suaranya. Aku tertawa pelan.

“kura-kura,” kataku. Pikiranku sudah melayang jauh, tidak berada di tempat ini lagi.

“maaf—apa?” dia tampak makin bingung.

Aku tersenyum lagi, baru menyadari bahwa dia tak akan mengerti kalau aku tak menjelaskannya dari awal.

“patronus asliku kura-kura. Kupu-kupu, itu patronus nuna-ku.” Jelasku padanya.

Dia memiringkan kepalanya beberapa derajat dan menatapku dengan alis berkerut.

“a-aku tak pernah tahu kalau patronus bisa berubah.” Ujarnya ragu. Aku mengangguk setuju.

“tadinya aku pikir juga begitu. Tapi entahlah, mungkin aku terlalu merindukannya.” Pikiranku melayang lagi. Sebuah wajah familiar terbayang di depan mataku. Dalam sesaat, aku merasa bukan berada di tepi danau, tapi di rumah, bersama dengannya yang tersenyum ramah sementara memasak makanan untukku.

“expecto patronum” bisikku lagi dan cahaya putih samar kembali keluar dari ujung tongkatku, membentuk bentuk yang sudah sangat akrab di mataku. Aku terus tersenyum mengikuti arah terbangnya.

“patronus-mu indah.” Pujinya.

“kalau kau lihat yang aslinya mungkin kau akan lebih terpesona.”

“maaf?” tanyanya lagi.

Aku langsung menoleh padanya, wajahnya lagi-lagi tampak bingung.

Ah, aku bergumam lagi. Bayangan nuna selalu tampak lebih jelas kalau kupu-kupu ini bersamaku.

“maksudku nuna-ku.” kataku, “dia jauh lebih indah.”

Keningnya berkerut lagi, namun kali ini sebuah senyum menghiasi wajahnya.

“benarkah?” tanyanya memastikan, “di mana nuna-mu sekarang?”

Aku memandang rerumputan di bawah kakiku setelah dia bertanya seperti itu. Rasa rinduku makin membesar.

“kalau kau tanya sekarang mungkin dia sedang memetik berry di kebun kami. Biasanya jam-jam segini itu yang dia lakukan.” Aku bisa membayangkan nuna yang berdiri di antara pohon-pohon berry setinggi pinggang dengan keranjang rotan kecil di tangannya. Dia akan bersenandung pelan sementara tangan lembutnya terus memetik berry yang cukup matang.

“kau benar-benar tahu tentang dia, ya?” ujarnya lagi. Nadanya lebih kepada memastikan dirinya sendiri dari pada bertanya padaku. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

Aku kembali memperhatikan bentuk bercahaya yang terbang kesana kemari itu. Makhluk indah itu terus terbang di sekitarku, bermain-main dengan angin kecil yang berhembus. Terkadang terbang sedikit lebih jauh, tapi dia selalu kembali untuk mengelus pipiku atau sekadar menyentuh rambutku dan kemudian terbang lagi.

Bayangan nuna yang membelai rambutku langsung terlintas dipikiranku. Hangat tangannya bisa aku rasakan lewat sentuhan patronus kecil itu. Aku tersenyum dan terkekeh pelan. Mungkin aku dikira gila bagi orang yang melihatku saat ini, tapi ini benar-benar membuatku nyaman. Jika kupu-kupu itu ada di sebelahku, aku ikut merasakan nuna juga ada di sampingku, menemaniku selama berada di sini.

“kau dari ravenclaw?”

Suaranya lagi-lagi menghancurkan lamunanku. Antara kesal dan berterimakasih, aku menoleh padanya.

“ne. Biru, ‘kan?” aku menunjuk jubah hitam yang sedang kupakai. Vest berwarna biru menyembul dari baliknya.

“aku tak pernah melihatmu sebelumnya…” dia menggantung kata-katanya, sepertinya tak bisa menyambung kalimat apa yang sebaiknya dikatakannya.

“tentu saja. Aku baru masuk tahun ini.” Jelasku singkat.

“tahun ini??” ujarnya tak percaya dengan mata sedikit membesar, “tapi kau sudah membuat patronus!”

Dia tampak sedikit protes saat menunjuk kupu-kupuku. Sedikitnya aku bisa menangkap nada iri di dalamnya. Dan lagi-lagi bayangan nuna terbentuk jelas.

“nuna yang mengajarkan padaku. Hal-hal indah mudah sekali dibayangkan kalau itu mengenai nuna. Dan tiba-tiba saja dia muncul saat aku merasa benar-benar merindukannya.” kataku sambil melihat bentuk perak yang masih terus beterbangan di sekeliling kami, “dia seperti pengganti nuna bagiku.”

Aku mencoba mengingat saat pertama kali nuna memperkenalkan patronus kupu-kupunya padaku. Waktu itu dia sudah sangat menunggu umur tujuhbelasnya agar bisa memamerkan patronus-nya padaku di rumah. Aku ingat sekali waktu itu dia mematikan seluruh lampu rumah pada malam ulangtahunnya kemudian mendatangi kamarku dengan patronus kupu-kupu yang menerangi wajahnya, memberikan kehangatan di malam dingin waktu itu.

-flash back- (still Taemin PoV)

Tiba-tiba lampu padam. Semuanya menjadi gelap. Hanya cahaya bulan samar-samar yang menembus jendela kamarku. Aku terkejut dan melihat ke sekeliling, mencoba membiasakan mataku dengan kegelapan yang tiba-tiba. Kututup buku yang tadinya sedang kubaca dan mencoba menajamkan pendengaranku. Semuanya hening.

“nuna~?” panggilku sedikit takut.

Sesuatu bercahaya samar menembus celah pintu kamarku. Tapi pintu yang masih menutup tak memberikan aku petunjuk cahaya apa itu.

“nuna? Itu kau?” tanyaku lagi.

Seharusnya aku makin takut, tapi entah kenapa kehangatan yang muncul tiba-tiba membuang rasa takutku itu jauh-jauh.

Cklek!

Pintu kamarku terbuka dan nuna berjalan masuk, sebuah bentuk bercahaya terbang mengelilinginya. Dengan senyumnya, dia menghampiriku. Dia tampak bercahaya, nuna-ku.

“ya! Ucapkan selamat ulangtahun padaku!” ujarnya sedikit kesal. Aku langsung tersadar.

“Saengil chukhahaeyo, nuna~” ujarku pelan. Aku masih terpana dengan bentuk yang beterbangan itu. Mataku sedikit silau, tapi aku terus mengikuti kemana arah terbangnya. Saat aku teliti lagi ternyata bentuknya kupu-kupu.

“nuna, apa ini?” aku mencoba menyentuhnya dengan menyodorkan jari telunjukku. Kupu-kupu itu terbang mendekat dan hinggap di ujung jariku. Bibirku tertarik membentuk senyum saat kurasakan hangat yang dilepaskannya.

“kau curang! Aku saja tak pernah dihinggapi seperti itu.” Kata nuna tiba-tiba, dia mendudukkan badannya di sebelahku. Aku langsung nyengir sambil menatapnya.

“benarkah?” kataku, “hehehehe~” aku jadi tertawa kecil. Entah kenapa kebahagiaanku bertambah duakali lipat sehingga apapun yang kulihat sekarang, meski tidak lucu sekalipun mungkin bisa membuatku tertawa.

“itu patronusku. Kau suka?” tanya nuna. Aku mengangguk sebagai jawaban. Mataku masih terpaku pada kupu-kupu bercahaya itu.

“kalau kau sudah mendapatkan tongkatmu, kau bisa membuatnya.” Kata nuna lagi.

“benarkah?” aku bertanya bersemangat. Nuna mengangguk sambil tersenyum.

“tapi mungkin bukan kupu-kupu—bisa apapun asal bentuknya berupa hewan.” jelas nuna. Aku mengangguk-angguk sambil mendengarkannya.

“tapi, bagaimana cara membuatnya?” tanyaku. Meski terdengar mudah, aku tak yakin aku bisa membuatnya semudah keterangan nuna.

“kau tinggal ucapkan mantranya; expecto patronum. Tapi sebelumnya kau harus menyiapkan kenangan bahagia dalam benakmu. Kalau kau tak membayangkan sesuatu yang bahagia, jangan bermimpi kau bisa membuatnya.” Nuna mencubit pelan hidungku, membuatku tersenyum kecil.

Rasa tak sabaran ingin segera memiliki patronus menyerangku.

“aku tak sabar ingin memiliki satu..” gumamku sambil menatap nuna.

“aku tahu,” ujar nuna, “makanya itu aku memamerkannya padamu.”

Aku langsung mengerucutkan bibir setelah nuna berkata seperti itu. Ternyata nuna mau mempermainkan aku saja malam ini.

“baiklah, nuna. Aku iri.” gerutuku.

Nuna tertawa kecil dan mencubit pipiku kananku.

“gwiyeowo~” ujar nuna, “kau imut sekali, taemin~” kali ini nuna mencubit kedua belah pipiku. Aku hanya tersenyum malu. Nuna selalu memperlakukan aku seperti anak kecil, tapi anehnya aku menikmati itu.

“nanti…”, kataku, “aku akan memamerkan patronus-ku pada nuna.” janjiku.

“baiklah. Akan kutunggu.” Ujar nuna remeh, tapi kemudian dia tertawa lagi dan lagi-lagi mencubit pipiku. Aku membalas tawanya.

Kupu-kupu perak itu tak lagi berada di ujung jariku. Kini dia berputar-putar di samping nuna.

“tidurlah, taemin.” ujar nuna. Aku mengangguk dan merebahkan tubuhku di kasur. Nuna merapikan selimutku dan membungkusku dengan rapat. Setelah itu dia tersenyum dan berjalan ke pintu kamarku. Aku melihat punggungnya yang diterangi oleh cahaya samar yang berasal dari kupu-kupu itu.

“nuna” panggilku. Nuna langsung membalikkan badan dan menatapku. “jangan lupa nyalakan kembali lampunya, ya~” pintaku.

Nuna terkekeh pelan mendengar permintaanku.

“baiklah, taeminie~ selamat tidur.”

Saat nuna menutup pintu, kamarku kembali terang oleh lampu yang tiba-tiba hidup.

-flash back end-

=TBC=