Tag Archive | Kai

FF ㅡ 나 어떡해? (What should I do?)

= FF =

Title: What should I do?

Rating: PG

Main Cast: Nuna & Kai & Taemin

Support Cast: Seora (someone) as Nuna’s friend

Author’s note:

salahkan kai yang tampan sangat di MV History (argh)

tapi saya ga selingkuh dari taemin, taemin tetap yg nomer satu kok^^;; *peluk+ppoppo+kisu tmin*

>tmin: nunaa~~!! huweee~~~ *cambuk kai pake benang*

ini saya bikinnya sebenernya sambil ngebayangin nuna+tmin di nuna’s diary, jadi ceritanya ff ini rada nyambung gitu, tapi saya ngarep nya rider sekalian pada ga bayangin hal yang sama, soalnya saya ga mau tmin ngambek beneran kalo saya terusin ceritanya nuna pacaran ama kai. jadi yah, 여기까지만 ff nyaa hehe^^;; *peluk+ppoppo+kisu tmin lagi*
oke dah,
happy reading 🙂

= = =

-Nuna’s PoV-

“nuna, cepat pulang~ aku bosan sendirian di rumah~”

Hatiku terenyuh mendengar rengekannya, jadi rindu adikku.

“ne, sebentar lagi aku pulang.” Jawabku dengan senyuman. Padahal aku tahu dia tak akan bisa lihat karena kami berbicara melalui telepon, tapi tetap saja aku tersenyum.

“sebentar itu berapa lama, nuna~?”

Dia merengek lagi.

Haah~ tak tega juga.

“ini aku sudah mau pulang. Seora sedang keluar kamarnya, kalau dia sudah masuk nanti aku langsung pamit—nah, itu dia sudah masuk. Aku akan segera pulang. Tunggu saja. Aku matikan, ya“

Klik!

Seora melihatku dengan sebelah alis terangkat.

“adikmu?” tanyanya sembari duduk di atas tempat tidurnya.

“ng” jawabku singkat. Aku meraih jaket-ku dan mulai memasangnya.

“sudah mau pulang?” tanyanya lagi.

“ne, dia menyuruhku pulang.” Jawabku lagi. Tasku sudah aku lingkarkan di badanku. “aku pamit. Gomawo tehnya” ujarku sambil melirik ke gelas di atas meja kecil di tengah ruangan. Seora menjawabnya dengan anggukan kecil.

“kapan kau mau main lagi?” tanyanya.

“molla.” Aku sudah memegang kenop pintu kamar seora, “nanti aku hubungi lagi”

“oke” seora mengikutiku keluar ruangan.

Setelah aku berpamitan dengan orangtua seora, seora mengantarku sampai pintu depan.

“kau tahu jalannya kan?” tanya seora saat aku memasang sepatu.

“mm,” aku berpikir sebentar, “mudah-mudahan aku ingat.” Cengiran lebar melengkapi jawabanku.

“ah, aku yakin kau bisa pulang dengan selamat.”

“baiklah. Aku pulang dulu. Daah”

Seora melambaikan tangannya saat aku membuka pintu depan rumahnya.

Udara di lorong apartemen terasa dingin. Di lorong ini tidak diberi penghangat.

Aku terus berjalan sendirian. Kompleks sekitar apartemen tempat tinggal seora masih terasa asing bagiku. Daerah ini cukup jauh dari rumahku.

Sambil merapatkan lenganku ke badan, aku menapaki jalan turunan dengan langkah yang dipercepat. Seram juga rasanya jalan sendirian di jalanan sepi begini. Kalau ada orang mesum bagaimana?

Tiba-tiba dari rumah di sebelah kiri, aku mendengar suara berisik. Rumah itu tak terlalu besar tapi tak bisa dibilang kecil juga dan masih sepuluh meter di depanku, tapi aku bisa mendengar suara teriakan perempuan dari dalamnya saat pintu depannya terbuka. Sedetik kemudian, pintu itu menutup dengan suara ‘blamm’ keras dan saat itu juga suara teriakan perempuan itu teredam dan kemudian disusul oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa.

Jantungku langsung berdetak cepat, mengira-ngira apa yang terjadi.

Sebuah sosok cepat-cepat membelok ke kiri, menjauhi dari mana arah aku datang dan tempat sekarang di mana aku berdiri mematung. Sosok itu baru saja keluar dari halaman rumah yang aku sebutkan tadi. Sosok itu seperti sosok yang kukenal. Aku tak mungkin lupa sepatu itu. Sepatu itu selalu bisa aku tandai karena modelnya sama dengan model sepatu kesukaan adikku, hanya saja beda warna. Postur tubuhnya juga aku sangat mengenalnya.

Aku coba menyusul orang itu dengan mempercepat langkahku. Saat sudah cukup dekat, baru aku berani memanggil.

“kai?”

Sosok itu berhenti dan membalikkan badannya. Ternyata benar dia kai.

Kai melihatku dengan pandangan nanar. Meski gelap, aku masih bisa melihat airmata di wajahnya.

Saat kai melihatku, ekspresinya perlahan melunak. Dia kemudian menunduk dan pundaknya bergetar makin kencang. Isakannya mulai terdengar. Dia hanya berdiri diam di sana, dengan tangan dan kaki rapat. Meski aku baru beberapa kali bertemu dengannya, tapi aku tahu kalau saat ini anak ini butuh pelukan.

Aku mendekatinya dan memeluknya. Terkadang aku muak kenapa aku terlalu pendek dibandingkan orang-orang. Tapi paling tidak aku tahu kalau pelukanku meringankan bebannya dari isakannya yang makin keras.

Aku mencoba menepuk punggungnya dan membelai kepalanya.

Kai hanya menangis sebentar. Dia kemudian melepaskan pelukannya dariku.

“mianhae, nuna” ujarnya. Suaranya masih bergetar dan dia menunduk, tak berani melihatku.

Aku tak tega membiarkan anak ini sendiri. Dia sahabat adikku.

“kau mau cerita?” tanyaku.

~~~

Aku dan kai sedang berada di taman kecil tak jauh dari tempat aku bertemu dengan kai tadi. Kami duduk di salah satu bangku. Kai masih terus menunduk, dengan kedua siku di atas lututnya.

Tiba-tiba aku teringat pada adikku yang menyuruhku pulang cepat. Dia harus dikabari kalau aku mungkin sedikit terlambat.

 

Taemin, aku ada urusan mendadak. Mungkin aku pulang sedikit lebih lama

 

Setelah pesan itu terkirim, aku memasukkan handphone-ku ke tas dan memandang kai lagi.

“jadi, kau mau cerita dari mana?” tanyaku padanya.

Kai menceritakan semua keluh kesahnya padaku. Masalahnya cukup kompleks. Aku terus membiarkannya bercerita. Anak itu terlihat lemah. Saat dia tak tahan dan kemudian terisak keras lagi, aku kembali memeluknya. Aku percaya pelukan bisa meringankan beban batin seseorang. Pelukan selalu bekerja untuk taemin saat dia sedang sedih.

Kali ini kai menangis lebih lama. Mungkin setelah dia bercerita panjang lebar, dia merasa sedikit lebih dekat denganku.

Gara-gara hal ini aku jadi teringat taemin. Dua anak ini sama, pantas saja mereka bersahabat. Sok terlihat kuat, tapi sebenarnya lemah di dalam.

Aku terus menenangkan kai dengan menggosok punggungnya dengan perlahan. Isak kai sudah hilang, tapi sepertinya dia masih ingin seperti ini. Aku sudah bilang, pelukan itu ampuh.

Tak lama kemudian, kai melepas pelukannya. Paling tidak tadinya aku kira dia akan melepas pelukannya. Tapi kemudian, ternyata kai menciumku. Aku terkejut dan tak bisa berbuat apapun.

Ini begitu tiba-tiba. Bibir kai terasa dingin.

Apa yang harus aku lakukan? Membalasnya?

Kai menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mataku dan sedetik kemudian menatap bibirku, lalu kemudian kembali menciumku setelah memindahkan posisi kepalanya.

Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Getarannya sangat keras sampai bunyi getarannya terdengar.

Aku langsung menjauhkan diri dari kai dan meraih tasku.

Baru saja aku baru membuka tas untuk menjawab telpon, kai menggenggam kedua tanganku dan kemudian diletakkannya melingkar di pinggangnya.

Aku seperti terhipnotis saat kai sekali lagi menempelkan bibirnya di bibirku.

Getaran handphone-ku akhirnya berhenti. Digantikan oleh bibir kai yang mulai bergerak di seberang bibirku.

Terlalu hangat, aku tak bisa menolaknya.

Setelah beberapa lama, kai menjauhkan bibirnya dan dia memelukku lagi.

Aku membuka mata dan menatap jauh ke depanku. Pikiranku masih penuh dengan tanda tanya.

“nuna, kumohon jadi pacarku” bisik kai kemudian. Pelukannya di tubuhku semakin erat saat dia bicara seperti itu.

~~~

Aku baru ingat kalau tadi handphone-ku bergetar saat aku berada di atas kereta. Aku merogoh handphone-ku dan melihatnya.

Satu panggilan tak terjawab dari taemin. Lalu enam buah sms, juga darinya.

 

Nuna pulang jam berapa?? Jangan lama-lama~

 

Itu dikirim sebelum dia menelpon, sms-sms selanjutnya dikirim setelah dia menelponku tadi.

 

Nuna, kenapa tidak diangkat? Huwee~~

 

Nuna, kenapa tidak balas sms-ku? Urusannya penting sekali, ya?

 

Nuna, kalau urusannya sudah selesai dan sudah mau pulang, bilang aku yaa. Jangan lupa.

 

Nuna, ini sudah malam sekali. Urusan apa, sih?

 

Nuna, kenapa belum pulang juga?

 

Setelah membaca semua, aku segera membalas sms taemin.

 

Aku sudah di kereta. Sudah tidur?

 

Terkirim.

Aku menghembuskan napas berat. Pandanganku terlempar keluar jendela kereta. Hanya bayangan gelap yang ada karena ini kereta bawah tanah. Tapi di depan mataku sepertinya kejadian saat aku dan kai berdua di taman tadi terulang lagi.

Saat kai mengajakku berpacaran, aku menjawabnya dengan anggukan. Entah apa yang aku pikirkan tadi. Tapi anak itu sepertinya benar-benar butuh topangan. Aku tak bisa menolaknya pada saat seperti tadi. Tidak bisa.

Handphone yang ada di tanganku bergetar pelan. Taemin sudah membalas lagi.

 

Belum tidur, aku menunggu nuna. Nuna benar-benar membuat aku khawatir. Cepat pulang.

 

Aku membalas sms itu dengan ‘ne’ singkat. Kemudian aku memandangi lantai kereta.

Mungkin aku nuna terburuk yang pernah ada. Selama ini taemin berusaha berpacaran denganku. Dia sampai sakit entah berapa kali. Apa yang akan dia katakan kalau tahu aku berpacaran dengan kai?

Aku benar-benar bodoh.

= = =

FF/S/Nuna’s Diary (page 114-118)

= Nuna’s Diary =

Page: 114-118

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

“taeminie, kau ada di rumah~?”

Aku berteriak begitu menutup pintu depan. Taemin tak terlihat, mungkin dia di kamarnya.

“di kamar, nuna~” terdengar balasan teriakan taemin.

Setelah bersih-bersih sebentar, aku segera ke kamar taemin.

“nih, apel untukmu” ujarku sambil melemparkan apel pada taemin yang sedang duduk di kursi depan meja belajarnya.

“tebak tadi aku ketemu siapa?” ujarku bersemangat sambil menghempaskan bokongku di kasur taemin.

“hyapa?” tanya taemin tak jelas, dia sudah menikmati gigitan pertama apelnya.

“kai, temanmu! Hahaha anak itu lucu sekali” jawabku dengan tertawa.

“kai??” suara taemin terdengar dua oktaf lebih tinggi, “ketemu di mana?” tanyanya lagi, kali ini dia melap air apel yang mengalir dari ujung bibirnya dengan tangannya.

“di jalan, saat mau pulang,” jelasku, “aku ingin mengajaknya tadi tapi katanya dia ada urusan,” bayangan wajah kai yang terlihat sedikit merasa bersalah tadi terbayang lagi di otakku, “kau kapan-kapan ajak dia kesini, ya?” pintaku pada taemin.

“shirheo,” jawab taemin cepat, “nanti nuna mengacuhkan aku lagi.”

“tidak, kook~” ujarku sambil melebarkan senyum, “ajak dia main ke sini, ya? ya? Jebaal~~” aku menyatukan telapak tanganku sambil merengut pada taemin.

“nuna kan tahu sendiri aku cemburu pada dia!” taemin tampak kesal. Taemin menggigit apelnya lagi seperti punya dendam dengan apel itu.

“ah, taeminie jangan begitu~” aku mengambil salah satu tangan taemin dan menggoyang-goyangkannya, “ajak kai main kesini~”

“tapi kenapa harus kai? Aku kan masih punya teman lain!” taemin masih bersikeras.

“tapi kan yang mirip kau itu kai, bukan yang lain. Memangnya masih ada temanmu yang mirip kau lagi?” tanyaku.

Taemin diam sebentar.

“jadi nuna suka kai gara-gara kai mirip aku?” tanya taemin kemudian. Aku mengangguk sebagai jawaban.

“hehe,” taemin langsung nyengir lebar, “tapi nanti nuna salah ppoppo gara-gara kai mirip aku. Nanti ‘eh! Ternyata kai, aku kira taeminie~ Mianhae~’ begitu dengan muka senang. Huh!” taemin memperagakan aku yang seolah-olah salah ppoppo kai padahal seharusnya taemin. Tawaku lepas saat itu juga. Taemin memperagakannya dengan lucu sekali.

“aniyo~ tentu saja tak mungkin, taeminie~ kau kan lebih imut~” ujarku. Taemin langsung nyengir begitu aku bilang seperti itu. “dan kai lebih tampan~” tambahku lagi.

Senyum taemin hilang seketika.

“tuh kaaan~~~!! huwaaa~~ nunaa~~!!! Pokoknya aku tidak mau kai ke sini! Shirheo! Shirheo! Shirheo! Shirheo! Shirheo!”

Taemin terus berteriak begitu sambil menutup matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“aku ppoppo deh~” ujarku mencoba tawar-menawar dengannya.

“shirheo shirheo shirheo shirheo” taemin masih menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi nada suaranya menurun sedikit.

“ppoppo dua kali? Yang panjang?” cobaku lagi.

“shirheo shirheo shirheo shirheo”

“lima kali?”

“shirheo shirheo shirheo!!”

“kiseu deh, kiseu~” akhirnya aku menyerah. Taemin langsung diam.

“pakai lidah?” tawar taemin.

“hah?? Shirheo!” kali ini aku yang tak mau.

“ya sudah, tidak jadi.” Jawab taemin cepat sambil memalingkan wajahnya dariku.

“oke, pakai lidah!” kataku akhirnya. Sudah beberapa kali pakai lidah, sekali lagi juga tidak masalah.

“hehe~” taemin langsung nyengir, matanya menyipit karena senyumnya terlalu lebar, “sekarang?” tanya taemin lagi.

“ani! Setelah kai main ke sini!” ujarku sedikit kesal.

“ooh, nuna mau kita kiseu di depan kai? Oke!” taemin terlihat bersemangat.

“ya! Siapa yang bilang begitu??” protesku, “maksudku kalau kai sudah main ke sini dan dia pulang, baru kiseu!”

“pakai lidah ‘kan?” tanya taemin memastikan.

“ne!!” kataku tak sabar.

Taemin mengangguk-angguk tanda mengerti, di majukannya bibirnya. Dasar kecil.

“jadi, kapan kau mau undang kai ke sini?” tanyaku lagi. Bosan juga melihat dia terus mengangguk-angguk begitu.

“mm…” taemin tampak berpikir sebentar, “nuna coba ambilkan handphone-ku” taemin menunjuk handphone-nya yang diletakkan di atas bantal tidurnya. Aku mengambil handphone itu dan menyerahkannya pada taemin.

Taemin sibuk menekan-nekan layar handphone-nya dan setelah itu meletakkan handphone itu di depan telinganya. Dari tempatku terdengar nada sambung ‘tuut tuut’ dan tak lama kemudian terdengar sebuah suara dari seberang telpon.

“eo?”

Itu suara kai. Taemin melihatku sambil tersenyum.

“야. 너 어디냐? Ya. Neo eodinya? (hoi. Kau di mana?)”

Aku terus melihat taemin sambil tersenyum. Kai akan datang. Memang adikku yang satu ini bisa dipercaya.

Bayangan dua taemin yang sedang duduk di sofa sementara aku sibuk di dapur berkelana di otakku. Pasti sangat menyenangkan. Punya adik laki-laki satu saja sudah bahagia, apalagi dua. Mirip pula, yang satu imut, yang satu tampan. Haah~

“sudah, nuna! Dia akan datang malam ini.” suara taemin memecah lamunanku. Butuh dua detik untukku mencerna kata-kata taemin.

“malam ini???” ujarku histeris.

“ne, malam ini” jawab taemin enteng, “nuna mau dia main ke sini kan? Dia bisa malam ini.”

“tapi kan aku belum siap-siap taeminie~~” ujarku panik. Wajah taemin langsung berubah.

“siap-siap buat apa?? memangnya nuna mau pakai gaun pengantin begitu kai datang?” taemin tampak jengkel. Kadang-kadang aku heran dengan pikiran anak ini. Cemburunya tinggi sekali.

“paling tidak makanan, babo” aku jitak kepala taemin.

Kerutan di alis taemin makin dalam.

“nuna tak pernah sebelumnya bilang aku babo. Pasti gara-gara kai. Ya sudah aku suruh saja dia tidak jadi ke sini.” Taemin langsung menyambar handphone-nya yang tadi diletakkannya di meja dan mulai memencet-mencet lagi.

“eh, jangan! Biar dia ke sini! Kau tidak babo kok, taeminie~ kau imut~” aku langsung mengelus-elus pipi taemin. Rengutannya masih belum hilang.

“lihat. Kai belum datang saja nuna sudah begini, apalagi nanti kalau sudah datang. Huwaa~~ aku tidak mau dibilang babo lagi~~” taemin mulai merengek.

“mian mian mian~”

Ccuk! ccuk! ccuk!

Aku mencium pipi taemin tiga kali. Taemin langsung berhenti merengek.

“peluk dulu~” kata taemin sambil merentangkan tangannya. Aku langsung memeluknya.

“mianhae, taeminie~~” kataku sambil menggoyang-goyangkan badannya.

“nuna nanti jangan mengacuhkan aku seperti kemarin, ya~” kata taemin begitu pelukan kami lepas.

“tidak akan, yaksok” aku mengeluarkan jari kelingkingku.

“yaksok” balas taemin, dia mengaitkan jari kelingkingnya dengan punyaku.

“baiklah, aku beli bahan masakan dulu. Kau jaga rumah ya, kecil~”

Aku mencium pipi taemin sekali lagi dan bergegas keluar kamar. Sudah aku pikirkan akan masak apa malam ini.

***

Sekarang sudah sejam sebelum makan malam dan aku masih di luar. Jalanan macet, jadi perkiraan waktuku meleset. Dengan berjalan cepat sambil menenteng barang-barang, aku sibuk memikirkan apa aku bisa menyelesaikan semua masakan dalam waktu sejam.

Saat aku sampai di depan pintu rumah, sayup-sayup suara televisi terdengar dari dalam. Dengan sekali sentakan, aku membuka pintu kayu itu.

Dua taemin sedang menonton tv di sofa saat aku melihat ke dalam.

“eo? Wasseo? (oh, sudah datang?)”

Dua taemin juga yang melihat ke arahku saat aku berujar seperti itu. Aku tak bisa menahan senyumku.

“annyeonghaseyo” taemin yang maskulin langsung berdiri dan menunduk begitu melihatku.

“ah, santai saja. Silakan terus menonton, kai-ssi” ujarku sambil melepas sandal dan segera bergegas ke dapur.

“nuna lama sekali~” taemin yang feminim menggerutu pelan, tapi masih bisa kudengar. Hahaha, taemin pasti marah besar kalau dia tahu aku menamai dia ‘taemin yang feminim’.

Dari sekat dapur, aku melihat dua taemin yang sedang menonton siaran olah raga dengan serius. Saat mereka tersenyum lebar, baru jelas perbedaannya. Taemin adikku memang lebih imut. Tapi yang satu lagi tampan sekali dengan senyum seperti itu. Anak itu punya kharisma.

Sudah hampir sejam aku berada di dapur sambil mengintip dua anak itu menonton. Memasak kali ini adalah memasak paling membahagiakan di hidupku. Kalau kai sudah sering datang ke sini mungkin rasanya sudah tak terlalu wah seperti ini lagi. Karena ini yang pertama, bahagianya jadi berkali-kali lipat.

“nuna, apa masih lama?” tiba-tiba taemin menghampiriku. Taemin yang asli, bukan kai. Suaranya beda sekali dengan yang biasa. Kalau tak ada kai pasti yang dibilang, ‘nuna~ aku sudah lapaar~ kenapa lama sekali~?’ sambil merengek dan memegang perutnya.

“sebentar, sedikit lagi masak. Apa kai sudah lapar?”

Taemin menutup matanya saat aku bilang seperti itu, kemudian dia menghirup napas panjang dan membuangnya.

“aku yang lapar, nuna~ aku~~” taemin berbisik, tampangnya seperti mau menangis. Aku menutup mulut untuk menahan tawa. Saat aku melirik ke arah kai sebentar, anak itu ternyata juga sedang melihat kami. Saat pandangan kami bertemu, dia langsung pura-pura menonton tv lagi. Terdengar suara berdehem-nya dari sini. Hehe, dua anak ini sama-sama lucu. Sepertinya mereka sudah kelaparan sekarang.

“mianhae, masaknya benar-benar sebentar lagi. Aku janji lima menit lagi aku panggil kalian. Sekarang kau nonton dulu, oke?” aku membalikkan badan taemin dan menepuk pantatnya. Taemin langsung merengut melihatku, tapi langsung mengubah wajahnya lagi saat mendekati kai. Dasar anak aneh.

Dan lima menit kemudian, aku memanggil mereka.

“아들아~ 먹자~ adeura~ meokja~ (anak-anak~ ayo makan~)” panggilku.

Taemin dan kai segera ke dapur sambil bercanda dan tertawa-tawa. Melihat itu, laparku langsung hilang seketika.

“nuna seperti ajumma-ajumma bilang ‘adeul’ begitu.” Kata taemin saat dia sudah duduk di kursinya.

“berisik, cepat makan.” Ujarku menjitaknya sambil lalu.

“jal meokgesseumnida~” ujar dua taemin bersamaan.

Mereka makan dengan lahap. Ternyata memang benar sudah kelaparan.

“mianhae, aku lama memasak” kataku saat duduk di seberang mereka.

Kai langsung menggigit makanannya cepat-cepat dan menelannya dengan paksa.

“gwaenchanhayo, nuna” katanya kemudian. Lucu sekali. Dia sengaja menelan makanannya dulu baru berbicara sopan seperti itu. Aku tertawa lagi.

“kai-ssi. Tadi kau ada urusan apa? Apa tidak jadi?” tanyaku di sela-sela makan.

Kai diam sebentar. Saat kulihat taemin, dia sedang melirik-lirik kai.

“nuna, ini. Dia ini kan pemalu, mana mau kalau bukan aku yang mengajak.” Jelas taemin. Kai langsung menyenggol lengan taemin saat taemin berkata seperti itu. Taemin mengangkat bahunya dan meneruskan makan lagi.

“jwesonghaeyo, nuna” ujar kai tak enak.

“ah, gwaenchanha,” ujarku menenangkan, “tapi lain kali tak perlu malu main ke sini. Meski tak ada taemin, kau boleh main ke sini kok.”

“kai akan main lagi kesini bersamaku” ujar taemin tiba-tiba. Dia menatap lurus padaku. Aku hanya bisa nyengir melihatnya. Dan entah perasaanku saja atau memang benar, sepertinya kai juga mendengus menahan tawa.

Selesai makan, kami berbincang-bincang di meja makan dan tak lama kemudian, kai pamit pulang.

“terima kasih sudah diundang datang ke sini, nuna” ujar kai saat dia sudah berada di pintu depan.

“gwaenchanha. Mainlah sering-sering.” Balasku. Taemin hanya mengangguk-angguk di sampingku.

“geureom. Annyeonghi gyeseyo” kai membungkuk lagi. Dia menaikkan alisnya pada taemin sebagai salam terakhir kemudian dia pergi.

“haah~ nuna sudah senang sekarang?” tanya taemin saat aku menutup pintu depan.

Aku mengangguk-angguk dengan senyum mengembang.

“gomawo, taeminie~” ujarku sambil mencubit pipi berisinya.

“nah, kiseu~ kiseu~” taemin memajukan bibirnya, seperti sedang mencium udara.

“dasar!” ujarku.

Kiseu-nya hanya sebentar. Bahkan taemin yang menghentikannya duluan.

“kalau sering-sering rasanya tidak wah lagi ya, nuna. Seperti sudah biasa” ujar taemin tiba-tiba saat kami sudah duduk lagi di sofa untuk menonton.

“memang. Makanya jarang-jarang saja” ujarku.

Taemin langsung mengangguk.

“kapan ya, kai main ke sini lagi?” tanyaku dengan pandangan menerawang.

“kapan-kapan” jawab taemin cepat.

Aku langsung memukul lengannya.

“tapi, nuna,” ujar taemin lagi, “aku senang lihat nuna tersenyum bahagia seperti tadi. Apa sesenang itu bisa melihat dua-aku di rumah?”

Aku nyengir mendengarnya dan tersenyum lebar. Taemin hanya mengangguk-angguk.

“kalau ada tiga-aku, mungkin nuna mimisan. Kalau ada empat-aku, mungkin nuna pingsan. Kalau ada lima-aku—“

“kau imut sekali, taeminie~~” ujarku sambil mencubit pipinya. Tak tahan melihat dia berandai-andai seperti itu dengan jari-jarinya menghitung sendiri.

“hehe” taemin nyengir lebar dan dia menonton tv lagi. Aku juga mengikutinya menonton, tapi pikiranku masih melayang-layang.

Kalau ada lima-taeminie di rumah, aku tak tahu aku akan bagaimana.

= = =

FF/2S/NUNA’S DAY [sequel of Nuna’s Diary (page 100-105) special Nuna’s birthday] (part 1)

= Nuna’s Day =

Cast:

  • Taemin
  • Nuna

Part: 1 of 2

Description: sequel of NUNA’S DIARY (page 100-105), Taemin Point of View (full)

###

Cklek!

Aku mengintip ke dalam.

Nuna masih tidur. Aku mendekati nuna sambil mengintip sedikit. Hanya bagian atas wajah nuna saja yang terlihat dari balik selimut yang dipakainya menutupi sampai ke kepalanya.

Benar-benar masih tidur.

Aku menggigit bibirku. Bingung antara akan membangunkannya atau tidak.

Aku melihat ke jam dinding nuna. Sudah hampir jam sembilan. Kalau tidak dibangunkan sekarang, nanti waktunya tidak cukup.

Aku naik ke kasur nuna, berhati-hati agar nuna tidak terbangun.

Sambil bertumpu pada kedua lututku, aku mencoba mengintip nuna lagi. Masih belum terbangun.

Aku menghembuskan napas berat sebelum mulai membangunkan nuna.

“nuna~ ireona~”

Tak ada pergerakan sama sekali. Apa suaraku kurang keras?

“nunaa~~ ireonaa~~”

“ng”

Nuna bergumam sedikit, tapi masih belum membuka matanya.

“nuna, nuna~ ireona~~” kali ini aku mencoba sedikit menepuk-nepuk bahu nuna.

“ng~”

Nuna akhirnya membuka sedikit matanya. Alisnya berkerut saat melihatku.

“nuna, ireona~” kataku. Senyumku sedikit berkembang karena akhirnya nuna bangun juga.

“taemnie knapa ko berpekean sperti itu. Msuk sini, dingin”

Bukannya bangun, nuna malah melebarkan selimutnya dan menarikku masuk ke dalam. Kasur sedikit berderit saat aku terhempas tepat di samping nuna. Sebelum aku sadar sepenuhnya, nuna sudah membungkus kami berdua dengan selimut tebalnya.

Aku menelan ludah. Nuna sudah menutup matanya lagi. Jarak wajah nuna hanya beberapa senti, dekat sekali.

Nuna ini, kalau keadaannya begini aku kan jadi…

Tanpa sadar, sebelah tanganku sudah ada di pipi nuna. Aku menelan ludah sekali lagi.

Ini bukan salahku, nuna yang mulai duluan…

Ccu~k

Aku mengecup bibir nuna dengan lembut. Hanya sebentar saja, hanya mengecup saja. Kecupan ringan saja.

Saat aku menjauhkan bibirku, nuna masih belum bangun. Bibirnya sedikit terbuka, wajahnya terlihat pasrah sekali. Aku menelan ludah lagi. Bibir nuna…

Tidak! Aku harus membangunkan nuna!

Aku menggeleng sendiri dan segera bangun. Selimut nuna tersibak, memperlihatkan nuna yang bergelung.

“nuna, ireona~~ ayo kita pergi~~” aku mulai tak sabar. Aku menggoyang-goyangkan badan nuna sedikit keras.

“ngh, taeminie~ tidur dulu~ dingin sekali~”

Brugh!

Nuna menarikku lagi. Sekali lagi aku terbaring di sebelah nuna. Nuna masih menutup matanya.

“nuna, kalau tak bangun juga aku akan kiseu, lho” ancamku.

Tak ada respon dari nuna.

Nuna ini benar-benar…

“taeminie kau belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku” ujar nuna tiba-tiba dengan setengah bergumam. Matanya masih tertutup. Nuna jadi terlihat seperti orang mengigau. Tapi tidak, nuna memang biasa seperti itu. Kadang-kadang mengangkat telpon dengan mata tertutup kalau dia belum bangun sepenuhnya.

Aku melipat kedua tanganku.

“nuna ini nakal sekali. Kalau sudah bangun, buka mata doong” ujarku, sengaja tak mau melihat nuna dan mengalihkan pandanganku ke langit-langit kamar.

Ccuk!

Kecupan di pipi yang kuterima dua detik kemudian.

“baiklah aku sudah bangun, adik kecil. Sekarang kasih selamat untukku.”

Sambil menggembungkan pipi, aku melihat ke kiri, ke arah nuna. Nuna sudah membuka mata dan sedang melihatku dengan tersenyum. Tanpa mengatakan apa-apa, aku memajukan bibirku, maksudnya minta ppoppo.

Nuna memindahkan kedua tangannya menjadi di bawah kepalanya.

“kau dong yang ppoppo, kan aku yang ulang tahun” kata nuna kemudian.

Ccuk!

“saengil chukhahaeyo, nuna” ujarku segera setelah aku mencium cepat bibir kecil nuna.

Senyum nuna terkembang.

“senangnya, pagi-pagi sudah dapat hadiah ppoppo dari adikku~” nuna mencubit hidungku dan menggoyang-goyangkannya.

“a, nuna!” protesku.

“hehe” nuna nyengir. Kami bertatapan sebentar.

Hehe, nuna tidak tahu kalau tadi aku kiseu.

Aku mengeluarkan lidahku.

“ya! Kenapa kau merong padaku??”

“hehe” kali ini aku yang nyengir. “nuna, jadi pergi tidaak~?” tanyaku setengah merengek. Menyenangkan sekali pura-pura manja di depan nuna.

“jam berapa sekarang?” tanya nuna. Tanpa menunggu jawabanku, nuna memutar kepalanya untuk melihat jam dinding di sebelah pintu kamar, “wah baru jam sembilan~ ayo tidur lagi~”

Nuna menutup kami berdua dengan selimut sampai ke ujung kepala.

“nunaaa~~~~” suaraku teredam di dalam selimut.

“hehehehehe~~”

“nuna, jangan gelitiki akuu~~ hahahaha~~” aku menggeliat-geliat di dalam selimut saat dua tangan nuna meraba-raba pinggangku.

Beberapa saat kemudian, tangan nuna berhenti menggelitiki aku. Napas kami berpacu. Panas sekali di dalam sini.

“bhuaahh!”

Tiba-tiba nuna menyibak selimut.

“pemanasan pagi,” kata nuna sambil nyengir padaku. Tiba-tiba nuna mendorong badanku sampai aku tertelungkup. “gaja, gaja!” nuna menepuk bokongku sebelum turun dari kasur.

“nunaa~~!!!” teriakku.

“hahahaha~~” suara nuna menjauh.

***

Saat aku kembali, nuna tidak ada di tempat duduk yang ditunjuknya tadi. Aku melihat ke sekeliling. Ternyata nuna ada di sudut ruangan, di dekat permainan basket.

Aku mendekati nuna sambil setengah berlari.

“nuna!”

Nuna langsung membalikkan badannya begitu mendengar suaraku. Bibir kecilnya membentuk senyuman. Haduuh, nuna-ku~~

“ini kembaliannya,” aku menyerahkan dua lembar uang yang kupegang pada nuna, “nuna mau main basket duluan,ya?”  sambil menunggu nuna mengambil dompet, aku memperhatikan orang yang sedang main basket. Tunggu, sepertinya aku tahu orang ini, “KAI???”

Benar, kai! Dia langsung membalikkan badannya begitu melihatku.

“oh, kau!” katanya. Senyumnya mengembang, “kau ke sini juga??” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

“perkenalkan, ini nuna-ku.” Ujarku kemudian.

“annyeonghaseyo. Kai imnida.”

Nuna tak langsung menjawab. Nuna hanya melihat kai dengan senyum mengembang lebar. Matanya seperti penuh cahaya. Aku tak suka melihat nuna seperti itu.

“nuna!” aku menyenggol lengan nuna. Nuna sedikit terkejut dan tampak salah tingkah.

“ah, cheoum mannayo, taemini-eui nuna yeongmi imnida.”

“aku sering mendengar tentang nuna dari taemin,” kai langsung memulai pembicaraan. Terkadang aku iri pada kai yang selalu bisa mudah akrab dengan orang yang baru dikenalnya, tidak sepertiku.

“oh, geuraeyo? Taemin baru menceritakan tentangmu saat kami menginjak gedung ini,” Nuna melirikku sinis.

Apa-apaan itu mata nuna?? Aku tak suka. Saat nuna melihat kai lagi, mata nuna penuh cahaya lagi. Aku tak suka!

Mereka terus bercakap-cakap. Sepertinya menyenangkan sekali, aku merasa dianggap tak ada. Kenapa sih, harus bertemu kai di sini?

“ah, taeminie! Kau mau main basket? Barangkali kalian berdua bisa lomba? Aku tak pernah lihat kau main basket sebelumnya” nuna tampak bersemangat sekali. Kedua tangannya sampai terkepal begitu.

“geurae” kataku sambil langsung mengambil tempat di sebelah kai.

“kenapa wajahmu seperti itu?” bisik kai pelan saat aku mulai mengambil bola.

Aku tak menggubrisnya. Aku tak mau. Aku harus menang dalam permainan ini.

Permainan berlangsung cepat, dan aku yang menang. Yes! Tapi jadi panas sekali karena aku sungguh-sungguh bermainnya.

Nuna dan kai sudah bercakap-cakap lagi dan aku ditinggalkan kepanasan sendiri. Tiba-tiba nuna merogoh isi tasnya dan memberikan tisu pada kai.

Apa-apaan itu nuna?? Yang lebih berkeringat kan aku! Kenapa kai yang dikasih tisu duluan??

“nuna! Aku juga berkeringat!” protesku.

“aku tahu, aku tahu, nih!” nuna melempar kotak tisu kecil itu padaku dan kembali berbicara dengan kai.

Apa-apaan itu???? Aku benar-benar tak diperhatikan. Padahal aku yang menyusun rencana hari ini. Ingin menangis rasanya. Kenapa nuna begini padaku??

“kau sudah siap, taeminie? Ayo kita ke bawah.”

Nuna menarik lenganku dan memeluknya. Tapi aku sangat terkejut saat melihat ke kanan. Nuna juga melakukan hal yang sama dengan kai!

Aku sudah hampir ingin melepaskan diri dari nuna, kalau saja aku tak ingat ini ulang tahunnya. Kai juga tampak bingung. Dia hanya melihatku sambil mengangkat alisnya.

Nuna tetap menggandeng kami berdua sampai lantai bawah. Dia tampak bersemangat sekali. Selama seksi foto, dia yang paling banyak tertawa. Kalau diurutkan dari tertawa yang paling lebar itu nuna, kai, lalu aku. Nuna tertawa begitu lebarnya sampai matanya jadi menyipit, kai tertawa dan memperlihatkan gigi-giginya, aku hanya tersenyum tipis, begitu yang terlihat di foto yang sudah jadi.

Nuna bercakap-cakap lagi pada kai. Dari tadi nuna tak pernah melihat mataku. Aku kesal sekali. Kai dari tadi melirik-lirik padaku, wajahnya terlihat sedikit gelisah. Tapi nuna sama sekali tidak memperhatikanku.

“aku sudah benar-benar harus pergi sekarang. Terima kasih atas semuanya. Annyeonghi gyeseyo”

Kai pamit. Dia sempat memukul lenganku sedikit dan tersenyum sambil menaikkan alisnya. Kemudian dia pergi sambil membawa salah satu foto yang dikasih nuna barusan.

“haah~” nuna menghela napas panjang. Pandangannya tak putus melihat kai yang makin menjauh. Aku kesal melihatnya.

Nuna! Aku di sini! Di samping nuna!

“nah, kemana selanjutnya? Bioskop?” wajah nuna masih tersenyum saat bertanya itu padaku. Aku merapatkan gigiku, tak ingin marah atau menangis di depan nuna. Tanpa berkata apapun aku langsung pergi.

“taeminie?” nuna mencoba memanggilku, tapi aku tak mau menoleh ke belakang. Air mataku sudah jatuh dan aku tak mau nuna melihat ini.

“taeminie? Taeminie!”

Nuna berhasil menangkap tanganku. Aku menghentikan langkahku dan mencoba mengatur napas. Aku benar-benar tak mau nuna melihatku menangis, bagaimana ini?

“taeminie, kau kenapa?” nuna mencoba melihat wajahku. Aku langsung memalingkannya. Kemudian nuna mencoba meraih wajahku dan dihadapkannya ke arahnya.

“taeminie, kau menangis—?”

Grepp!

Aku langsung memeluk nuna. Aku tak mau nuna melihat air mata ini. Ini satu-satunya cara.

Detak jantung nuna terasa di depan dadaku. Aku memeluk nuna erat sekali.

“kau menangis, taeminie?” tanya nuna lagi. Salah satu tangannya mengelus rambutku. Aku menggeleng. Sementara itu tetesan air mataku sudah jatuh ke coat abu-abu nuna.

“waeyo~~?” tanya nuna. Nadanya dua kali lebih lembut dari nada-nada yang tadi. Nuna-ku sudah kembali.

“aku kehilangan nuna-ku dari satu jam yang tadi” jawabku lemah. Aku terus mencoba menahan agar napasku teratur. Susah sekali. Apalagi kami sedang berpelukan seperti ini.

Tak ada respon dari nuna setelah itu. Nuna hanya diam saja. Nuna terus diam sampai aku tenang. Tak perlu disembunyikan sebenarnya, nuna pasti sudah tahu kalau aku menangis dari tadi.

Nuna melepas pelukanku dan menangkap wajahku ke dalam kedua tangannya.

“kau cemburu pada kai, ya?” tanya nuna kemudian.

Aku hanya melihat nuna, kemudian mengangguk pelan.

Nuna menghapus air mataku yang barusan jatuh dengan ibu jarinya.

“uljima. Mianhae aku mengacuhkanmu, taeminie~”

Aku mengangguk lagi.

“sini, ppoppo!” ujar nuna sambil memajukan bibirnya.

Ccuk!

Aku mencium bibir nuna sekilas. Aku senang nuna mau melakukannya di depan umum.

“jangan menangis lagi. Ayo kita ke bioskop! Tonton film yang lucu supaya kau tertawa lagi, oke?”

Aku mengangguk dan tersenyum. Mataku pasti masih merah.

Nuna menarik tanganku sedikit bersemangat.

-TBC-

FF/S/Nuna’s Diary (page 100-105) special Nuna’s birthday (part 1)

= Nuna’s Diary =

Page: 100-105

Cast:

  • Nuna
  • Taemin

Genre: Family, Incest

= = =

Aku terus berjalan mengikuti jalan setapak itu. Banyak pohon-pohon tapi aku ragu ini di dalam hutan. Aku terus mengikuti cahaya yang terbang bebas itu, menuju suatu lembah yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Setelah aku hampir sampai di bawah, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Taemin. Dia menggunakan pakaian serba putih. Sebelah tangannya disodorkan ke depan untuk menyambut tanganku. Tiba-tiba seribu kupu-kupu warna-warni mengitari kami. Aneh sekali aku tidak takut, padahal aku takut sekali dengan serangga berwujud indah itu. Sebuah cahaya menyilaukan menyinari kami. Sosok taemin yang hanya berjarak semeter dariku terlihat memudar.

“na~ ireona~”

Aku mengerutkan alisku. Itu suara taemin.

“na, nuna~ ireona~”

Benar, suara taemin. Dan dia menyuruhku untuk bangun. Hh~ masih ngantuk. Dingin sekali. Aku membuka mataku.

Taemin duduk di depanku, senyumnya mengembang lebar. Dia mengenakan kaos abu-abu playboy-nya. Tipis sekali dengan cuaca dingin begini.

“taeminie, kenapa kau berpakaian seperti itu? Masuk sini, dingin.”

Kasur berderit kemudian. Sunyi sesaat dan aku melanjutkan mimpiku yang terpotong tadi.

Taemin masih tersenyum padaku. Wajahnya benar-benar polos, hampir seperti malaikat. Aku meneliti taemin lebih dalam lagi dan sedetik kemudian aku baru sadar kalau warna rambut taemin hitam. Ah, aku rindu warna rambut itu.

Taemin mendekatkan wajahnya kepadaku. Kami sepasang kekasih yang akan melangsungkan pernikahan berdua. Menggunakan baju putih-putih khas pengantin. Dan sekarang tiba saatnya taemin mencium pengantinnya: aku. Taemin mengecup bibirku dengan lembut. Beberapa detik kemudian, dia melepas bibirnya dan melihatku dengan dalam.

“and they live happily ever after” katanya.

Tiba-tiba semua menjadi dingin.

“nuna~ ireona~~ ayo kita pergi~~” taemin menggoyang-goyangkan badanku.

Dasar taemin! tak tahu kalau aku benar-benar ngantuk apa?

“taeminie~ tidur dulu~ dingin sekali~” aku kembali menarik selimut yang sebentar ini disibakkan taemin dariku. Dasar anak kecil! Mengganggu saja!

“nuna, kalau tak bangun juga aku akan kiseu, lho”

Oh, sudah berani mengancam rupanya.

Aku tak menggubrisnya, berusaha untuk tidur lagi. Tapi sudah tidak bisa. Sepertinya ‘live happily ever after’ tadi klimaks mimpiku. Sudah tidak bisa tidur lagi.

“taeminie, kau belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku” ujarku kemudian. Aku ingat hari ini ulang tahunku, aku sudah menunggu-nunggunya sejak lama.

“nuna ini nakal sekali. Kalau sudah bangun, buka mata doong~”

Hehehe, ‘nakal’ katanya. Kosa kata imut baru dari mana lagi itu?

Aku langsung membuka mata. Bibirku langsung membentuk senyuman begitu kulihat taemin yang menggembungkan pipinya dan melipat tangannya, sama sekali tak mau melihatku.

Ccuk~

Aku mencium pipi taemin. Aku tak tahan. Pipi berisinya terlihat imut sekali pagi ini.

“baiklah, aku sudah bangun, adik kecil. Sekarang kasih selamat untukku.”

Taemin tak langsung mengatakannya. Dia hanya melihatku dan memajukan bibirnya. Hahaha, dia minta di ppoppo. Dikiranya aku merasa bersalah lalu ppoppo itu sebagai permintaan maaf dariku, begitu? Tidak bisa, ini hariku.

“kau dong yang ppoppo, kan aku yang ulang tahun” kataku iseng. Taemin langsung tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya padaku.

Ccuk~

“saengil chukhahaeyo, nuna~~”

Lihat itu bibirnya, dan matanya yang membentuk senyuman. Benar-benar khas taemin. Wajah malaikatnya itu hadiah ulang tahun yang pertama hari ini untukku.

“senangnya, pagi-pagi sudah dapat hadiah ppoppo dari adikku~” aku mencubit hidung taemin dan memainkannya. Selalu tidak tahan dengan anak imut satu ini.

“aa, nuna!” dia tampak marah. Bahkan dengan wajah marahnya itu dia terlihat imut. Haha, sepertinya hariku akan bahagia.

Tiba-tiba taemin mengeluarkan lidahnya.

“ya! Kenapa kau merong padaku??” ujarku kesal. Baru saja aku berpikir hari ini akan sempurna, tiba-tiba anak kecil ini mengeluarkan lidahnya. Jelek sekali.

“hehe” taemin cuma nyengir, “nuna, jadi pergi tidaak~~” taemin langsung mengganti topik.

Aku ingat dia kemarin ingin jalan keluar denganku untuk hari ini. Aku langsung melihat jam.

“jam berapa sekarang? Wah, baru jam sembilan~ ayo tidur lagi~”

Aku melebarkan selimut dan menutup kami berdua di dalamnya.

Taemin tersenyum senang sambil melihatku. Karena selimut ini berwarna terang dan membiaskan cahaya ke dalam, aku masih bisa melihat wajah taemin dengan jelas. Dia tersenyum malu-malu sambil melihatku.

Kyaaa~~ imutnyaa~~~

Aku langsung menggelitiknya. Padahal aku ingin sekali mencubit karena geram, tapi nanti dia jadi sakit. Jadi aku gelitik saja.

“nunaa, jangan gelitiki aku~ hahahaha” taemin berusaha sekuat tenaga menahan serangan-serangan tanganku. Aku tak mudah menyerah begitu saja. Sambil tertawa, aku terus mencoba menggelitiki pinggang taemin.

Setelah beberapa lama, aku kehabisan tenaga. Di dalam selimut menjadi panas karena kami terus bergerak. Jantungku berdetak cepat, apalagi setelah melihat taemin yang menatap lurus ke arahku. Aku baru sadar ini bahaya. Kami berdua di dalam selimut dan karena bergerak barusan, napas kami berpacu, menambah rasa panas di dalam selimut.

“bhuahh!!” ujarku sembari membuka selimut lebar-lebar. Udara dingin tiba-tiba menyerang. Terkadang aku sedikit kecewa ulang tahunku selalu di musim dingin.

Saat aku lihat taemin, dia masih menatap ke arahku, tak bergerak sedikit pun.

“pemanasan pagi, hehe” ujarku mengalihkan. Aku segera menyibakkan selimut dan bangun.

Taemin masih terbaring di situ, masih melihatku. Pikiran isengku muncul lagi.

Aku menggulingkan badan taemin hingga dia tertelungkup dan memukul bokongnya yang berisi.

“gaja, gaja!” Aku langsung kabur sebelum taemin sempat protes.

“nunaaa~~~!!” teriaknya.

***

“jadi mau kemana kita hari ini?” tanyaku saat kami berjalan di pinggir jalan. Sudah satu jam kami meninggalkan rumah. Setelah berkendara dengan bis kota, kami turun di tempat yang diinginkan taemin. Rencana pergi keluar hari ini rencananya, jadi dia yang menyusun semua.

Taemin membuka handphone-nya dan melihat sesuatu di sana.

“pertama kita akan beli es krim, lalu ke game center, lalu photobox, lalu nonton,” ujarnya, matanya masih terpaku pada layar handphone-nya. Ternyata dia mencatatnya di sana.

“geurae,” ujarku singkat. Aku makin memasukkan tanganku lebih dalam ke kantong coat-ku. Dingin sekali hari ini. “jadi, di mana toko es krimnya?” tanyaku lagi. Aku sudah tak sabar masuk ke dalam toko yang hangat, meski hanya sebentar.

“sebentar lagi sampai, nuna. Itu diujung jalan yang ada papan nama warna hijau.” Jawabnya. Aku melirik taemin. Dia memakai jaket warna-warni dan selembar baju kaos di dalamnya. Dari dulu taemin selalu tahan dingin, aku juga tak tahu kenapa kami sangat berbeda.

“kau tak kedinginan taeminie?” tanyaku, “kau cuma pakai jaket kan? Tak mau pakai syal-ku?” tawarku lagi. Meski aku tahu dia tahan dingin, tapi tak tega juga membiarkannya seperti itu sementara aku terbungkus kain-kain tebal seperti ini.

“tidak kok, nuna. Aku pakai dua lapis baju di dalam.” Jawabnya singkat.

Oh, berarti aku salah tebak.

“oke, sudah sampai!” ujar taemin tiba-tiba. Dia menjejakkan kakinya di depan etalase kaca setinggi pinggang. Seorang ajumma berdiri di belakang etalase itu.

Aku sedikit kecewa sebenarnya. Kukira taemin memilih toko es krim yang memiliki meja-meja kecil dan berudara hangat di dalamnya. Ternyata hanya toko es krim kecil pinggir jalan.

“nuna mau rasa apa?” tanya taemin padaku.

“terserah,” jawabku tak bersemangat. Aku masih melihat bagian bawah etalase kaca itu, mencoba membaca tulisan-tulisan kecil di sana.

“tolong rasa ‘terserah’nya dua” ujar taemin tiba-tiba. Aku langsung mengangkat wajahku dan memandang taemin tak percaya.

“ya! Kau babo! Tolong vanilla dengan choco-chip dua” ujarku kemudian, yang disambut dengan senyuman ramah ajumma pemilik toko.

“silakan tunggu sebentar” ujarnya sambil berlalu pergi.

Taemin nyengir lebar saat aku memandangnya sinis.

“apa-apaan itu rasa ‘terserah’?? Kau ini bikin malu saja!”

“hehe” cengiran taemin makin lebar.

“ini, vanilla dengan chocochip dua, semuanya 4000 won.” Ajumma tadi ternyata sudah berdiri di depan kami dengan dua buah eskrim di kedua tangannya. Taemin langsung menyambar salah satunya dan langsung menjilatnya.

“nuna yang bayar” katanya tak peduli.

Aku sudah membuka dompetku saat dia bilang seperti itu.

“memangnya siapa lagi yang mau bayar? Ambilkan punyaku sekalian”

Aku menyerahkan selembar lima ribu won pada ajumma itu. Tak lama kemudian, dia datang dengan kembaliannya.

“gomapseumnida.”

“ne, manhi phaseyo” ujarku sambil membungkuk sedikit. Aku dan taemin kembali menyusuri jalan.

“yang mana punyaku?” tanyaku pada taemin. Taemin diam sebentar.

“mollayo, nuna. Dari tadi aku jilat dua-duanya.” Ujarnya polos.

“ih, kau ini!” aku mengambil acak salah satu es krim itu dan menjilatnya. Lidahku jadi makin dingin.

“di mana game centernya?” tanyaku tak sabar. Aku harus segera masuk ke ruangan hangat. Bisa mati kedinginan kalau begini.

“tak jauh dari sini, kok” jawab taemin enteng.

Lima menit kemudian, kami masuk ke dalam sebuah gedung yang memiliki papan nama meriah di luarnya.

“kalau pulang sekolah aku biasanya kesini, nuna~” ujar taemin begitu kami naik eskalator menuju lantai dua.

“oh, ya? Sama siapa?” tanyaku sambil menjilat es krimku. Aku melihat ke sekeliling. Tak banyak orang di sini. Mungkin yang rela keluar di hari dingin seperti ini untuk bermain di game center hanya kami.

“temanku. Namanya kai.”

Lantai dua gedung ini penuh permainan dan jauh lebih hangat. Aku jadi sedikit bersemangat. Es krimku sudah habis dan aku langsung membuang sisanya di tong sampah terdekat.

“kau yang beli kartunya, ini uangnya. Aku mau duduk di sana dulu.” Aku menyodorkan selembar uang sepuluh ribu won pada taemin dan menunjuk salah satu kursi tunggu di ruangan itu. Taemin menurut.

Benar-benar sepi di atas sini. Setiap permainan memang mengeluarkan suara, tapi sejauh yang aku lihat, selain kami hanya ada seorang anak laki-laki yang bermain basket di sudut ruangan. Permainannya cukup bagus. Tak ada satu bola pun yang tak masuk ring. Aku jadi ingin menguji taemin, apa dia bisa seperti anak itu juga?

Aku mendekati anak itu, permainannya benar-benar menarik. Sepertinya anak ini pemain basket, gerak tubuhnya juga teratur.

“nuna!” terdengar teriakan taemin dari belakang. Aku langsung membalikkan badanku. Taemin mendekatiku sambil setengah berlari.

“ini kembaliannya,” ujarnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang padaku. Aku merogoh dompet untuk meletakkan uang itu kembali pada tempatnya, “nuna mau main basket dulu, ya—KAI???”

Aku langsung mengangkat wajahku untuk melihat taemin. Aku mengikuti arah pandangannya, dan yang kulihat selanjutnya adalah anak laki-laki yang ada di belakangku. Anak laki-laki yang dari tadi aku perhatikan permainannya.

Tangan anak itu berhenti di udara setelah dia melempar sebuah bola. Wajahnya dipalingkannya ke belakang. Waktu seakan berhenti saat dia seperti itu.

“oh, kau!” ujarnya kemudian sedikit bersemangat. Anak ini meninggalkan permainannya dan malah berbalik untuk melihat kami, “kau kesini juga??” tanyanya pada taemin.

Taemin mengangguk sambil tersenyum. Senyumnya aneh, bukan senyum taemin yang kukenal. Dia lebih terlihat dewasa dengan senyum seperti itu. Apa dia berkepribadian yang beda kalau di depan teman-temannya?

“ah, perkenalkan. Ini nuna-ku” ujar taemin kemudian, mengenalkan aku pada anak yang bernama kai ini.

“oh, annyeonghaseyo. Kai imnida” ujarnya sambil membungkuk sedikit. Dia terlihat sedikit canggung.

Saat aku melihat keseluruhan wajahnya, aku terkejut. Anak ini mirip taemin. Kalau dilihat sekilas benar-benar mirip! Bibirnya sama-sama tebal, tapi bibir taeminie-ku lebih berisi. Matanya mirip, hidungnya juga. Tapi hidung taeminie sedikit lebih mancung. Bentuk wajahnya juga mirip. Hanya saja pipi taeminie lebih berisi, anak ini punya pipi yang tirus. Tapi secara keseluruhan, anak ini mirip taemin!

“nuna!” taemin menyenggol tanganku.

“ah, cheoum mannayo, taemini-eui nuna yeongmi imnida.” Ujarku cepat.

Aku benar-benar tak percaya mataku. Hadiah ulang tahun macam apa ini?? Taemin ada dua!

“aku sering mendengar tentang nuna dari taemin,” ujar kai lagi. Dia tersenyum kecil. Senyumnya beda dengan taemin. Senyum kai jauh lebih dewasa.

“geuraeyo? Taemin baru menceritakan tentangmu saat kami menginjak gedung ini,” aku melirik sedikit kesal pada taemin. Wajah taemin tak bisa ditebak. Dia hanya diam.

game over”

Sebuah suara memecahkan keheningan kami.

“ah, permainanmu—“

“gwaenchanhayo, nuna. Aku senang bertemu kalian di sini. Itu hanya permainan kecil.” ujar kai sopan.

“oh, geuraeyo?” aku menjawab sedikit salah tingkah. Kalau mataku tak salah lihat tadi nilainya sudah enam ratus lebih di angka digital di permainan itu. Aku mencoba melirik lagi dan benar ternyata nilainya sudah enam ratusan.

“ah, taeminie! Kau mau main basket? Barangkali kalian berdua bisa lomba? Aku tak pernah lihat kau main basket sebelumnya” ujarku bersemangat. Sepertinya akan menarik.

“geurae” ujar taemin tanpa ekspresi. Dia langsung mengambil tempat di salah satu permainan basket itu, “ayo kita mulai!” ujarnya lagi.

Dari belakang, aku melihat kai meringis ke arah taemin.

“kenapa wajahmu seperti itu?” tanyanya sebelum kedua anak itu mulai melempar bola.

***

“selanjutnya! Photobox!” ujarku bersemangat. Aku melihat taemin yang membuka setengah jaketnya sampai ke sikunya. Lehernya berkeringat. Dia benar-benar konsentrasi pada permainannya. Tadi taemin yang menang. Hanya beda tipis dengan angka yang diraih kai.

“aku juga boleh ikut?” tanya kai sambil menunjuk dirinya sendiri, tampak sedikit tak percaya setelah tadi aku bilang padanya untuk foto bertiga. Anak ini juga tampak kepanasan, tapi sepertinya tak separah taemin.

“tentu saja. Kita akan foto bertiga. Sebentar, kau berkeringat.” Aku merogoh ke dalam tasku dan mengeluarkan tisu kecil dari sana. Aku menyerahkannya pada kai.

“gomawoyo, nuna” ujarnya sambil tersenyum.

“nuna, aku juga berkeringat!” ujar taemin tiba-tiba. Alisnya membentuk kerutan.

“aku tahu, aku tahu, nih!” aku menyerahkan bungkus tisu itu kepada taemin setelah kai mengembalikannya.

“jadi, di mana photobox-nya?” tanyaku lagi. Aku benar-benar tak sabar. Bayangan foto dengan dua taemin terus berkelibat di kepalaku. Betapa bahagianya! Aku punya dua adik laki-laki!

“ada di lantai bawah.” Jawab kai cepat, “benar kita akan foto bertiga?” tanyanya masih tak percaya.

Aku tersenyum melihatnya.

“ne, kita akan foto bertiga. Kau sudah siap, taeminie? Ayo kita ke bawah.” Aku langsung menarik kedua lengan anak itu. Ya ampun, rasanya seperti punya adik kembar.

***

Sesi foto berjalan cepat. Dan aku sangat senang sekali. Empat foto yang sudah jadi. Aku berada di tengah, berada di antara taemin dan kai. Senyumku tak bisa hilang dari tadi.

“maaf, aku harus segera pergi” ujar kai tiba-tiba.

“ah? Waeyo~?? Kami baru akan nonton dan aku sudah ingin mengajakmu~” ujarku sedikit kecewa.

“aniyo, nuna. Aku harus pergi, aku sudah ada janji. Menyenangkan sekali bisa bermain dengan nuna hari ini.” anak satu ini selalu sopan. Ah, coba taemin sesopan ini padaku.

“aku juga menghabiskan waktu yang menyenangkan denganmu. Terima kasih sudah menemani~” aku berkata padanya sambil tersenyum. “ah, jamkkanman! Ini, satu untukmu.” Aku menyerahkan salah satu foto hasil jepretan tadi pada kai. Dia menerimanya dengan senyuman.

“jeongmal gomawoyo, nuna. Akan aku simpan baik-baik.” Ujarnya, sebentar kemudian dia melihat jam tangannya, “aku sudah benar-benar harus pergi sekarang. Terima kasih atas semuanya. Annyeonghi gyeseyo”

Kai sempat memukul lengan taemin sedikit sebelum dia benar-benar pergi.

“haah~” aku tak sadar menghela napas panjang. Aku terus mengikuti kai sampai dia tak terlihat lagi. “nah, kemana selanjutnya? Bioskop?” tanyaku pada taemin.

Taemin tak segera menjawab. Dia menatapku dingin. Sedetik kemudian dia berjalan mendahuluiku.

“taeminie?” aku berusaha mengejarnya.

= = =