Tag Archive | Leeteuk

FF – THE ONE (1/?)-(stuck)

= FF =

Title: THE ONE

Episode: 1 of ?

Status: Stuck

Cast:

  • Choi minho (SHINee Minho)
  • Kim Sunhi (someone)
  • Cho hyunhee (someone)
  • Park jungsoo (Super Junior Leeteuk)
  • Lee jinki (SHINee Onew)
  • Kim kibum (SHINee Key)
  • Kotani Yoshikazu

Genre: Family, Romance

= = =

Author PoV–

“sydney!!”

Key merentangkan tangannya lebar-lebar seolah dia ingin memeluk udara dingin disekitarnya. Napasnya beruap saat tertawa melihat pemandangan di depannya. Diletakkannya kedua tangannya di pagar pembatas. Hatinya puas melihat gedung opera itu. Sudah bertahun-tahun key ingin ke sydney, kota yang baru-baru ini diketahuinya sebagai kota kelahirannya. Panjang ceritanya sebelum key tahu bahwa kota megah ini adalah tempat dimana dia lahir.

Kotani berjalan mendekati key, berdiri di sebelahnya, ikut menikmati pemandangan indah yang disuguhkan di depan mata mereka.

“setelah berjuang keras, eh?” kata kotani pada key.

“haha, hyung,” kata key, kepalanya menunduk, airmatanya menetes, “setelah perjuangan keras. Ya, akhirnya aku di sini” katanya membenarkan kata-kata temannya itu. Senyumnya mengembang.

Kotani melirik key.

“kau menangis? Aissh~ jinjja,” katanya sambil mendengus. Samar-samar didengarnya perkataan beberapa wanita yang lewat di belakang mereka.

“what happen to him?” bisik wanita yang satu pada temannya. Kotani mendelik sebentar ke arah wanita-wanita itu.

“hapus airmatamu. Kau membuatku malu,” kata kotani pada key.

Key menghapus airmatanya dengan tangannya.

Kotani membalikkan badannya, bersandar pada pagar pembatas sementara key tetap menikmati indahnya gedung opera yang berdiri megah di depannya.

“mau sampai kapan kita di sini?” tanya kotani akhirnya. Dia sudah bosan berada di tempat itu.

Key tak menjawabnya. Matanya menerawang.

“aku akan menemukannya di sini, hyung,” ujar key yakin, “pasti”

Kotani menaikkan kancing tarik jaketnya.

“tidak sekarang, tapi. Kau akan mati kedinginan dengan baju itu jika tak kembali ke penginapan sekarang. Jujur saja, aku tak mau mengurus orang sakit di sini.” kotani beranjak dari posisinya dan mulai berjalan menjauhi key.

Key memandang gedung itu untuk terakhir kalinya. Dia tak akan datang ke sini lagi. Waktunya di negara ini hanya sebentar dan dia harus mencari seseorang sebelum dia kembali ke korea. Kim sunhi, kembarannya yang belum pernah ditemuinya.

“aku akan menemukanmu, sunhi,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Key lalu berjalan mengikuti kotani, meninggalkan jejak tangannya yang hangat di pagar pembatas.

~~~

Ting tong!

Minho beranjak dari kursinya. Tak ada seorang pun di rumah, dia harus membuka pintu.

Ting tong!

“tunggu sebentar!” ujar minho sedikit keras agar seseorang di balik pintu dapat mendengarnya. Dia menggaruk hudungnya yang gatal sebelum membuka pintu. Seseorang yang dilihatnya di balik pintu membuatnya terkejut.

“sunhi-ssi?” katanya sambil melihat gadis itu, alisnya berkerut.

Mata gadis itu melebar. Dia juga terkejut dengan orang yang ditemuinya.

“choi minho?” tanyanya, “ini rumahmu?”

“ne,” jawab minho singkat, “ada apa?”

“aku mengantarkan ini,” kata sunhi sambil mengangkat bungkusan berukuran sedang. Di depan bungkusan itu tertulis ‘cheong-gyeolhan loundry’. Minho menerima bungkusan itu.

“oh, kau bekerja di sini?” tanya minho. Dia sedikit takjub. Tak disangkanya teman sekelasnya ini sekolah sambil bekerja.

“ne,” jawab sunhi, “ada masalah?”

“ani,” ujar minho sambil menggeleng, “jangan salah paham dulu, aku bukan mengejekmu”

Sunhi mengangguk tanda mengerti.

“baiklah, aku permisi dulu” kata sunhi sambil membalikkan badannya.

Minho menutup pintu. Dia meletakkan bungkusan itu di atas meja kecil di ruang keluarga. Bayangannya melayang lagi saat dia melihat sunhi saat membuka pintu tadi.

Kim sunhi. Teman sekelasnya yang mendapat beasiswa selama tiga tahun di sekolahnya. Murid terpintar di kelas, nilai-nilainya selalu sempurna. Minho hanya sekali berinteraksi dengannya waktu itu, saat mereka mendapat tugas kelompok dan kebetulan berada dalam grup yang sama. Minho susah mendekati gadis pendiam seperti sunhi, makanya dia tak banyak omong dengannya.

“siapa yang datang?” tanya seseorang. Minho langsung menoleh.

“omma ada di rumah? Bukannya sedang pergi?” tanya minho kemudian kepada wanita itu.

“aniya,” jawab wanita bernama hyunhee itu sambil mengikat rambutnya. Dia membuka kulkas, mengeluarkan sayur untuk dimasak. “siapa yang datang?” tanyanya lagi pada minho.

Hyunhee, ibu minho, seorang wanita yang usianya sudah pertengahan kepala tiga tapi tetap tampak cantik. Hyunhee sering dikira kakak minho bila mereka jalan berdua.

“temanku,” jawab minho, “dia mengantarkan laundry”

“temanmu?” ulang hyunhee, “dia bekerja?”

“hm,” minho mengangguk. Dia memperhatikan pakaian ibunya. “mau kemana?” tanyanya curiga.

“tak kemana-mana,” jawab ibunya sambil tersenyum, “hanya saja jinki sebentar lagi akan ke sini”

Rahang minho mengeras. Pria itu lagi, pikirnya.

“aku akan pergi kalau begitu,” katanya tajam.

“waeyo?! Dia kemari karena ingin lebih dekat denganmu. Dua bulan lagi dia akan jadi ayahmu, minho!”. Intonasi hyunhee meninggi. Semenjak dia bercerai dengan ayah minho—jungsoo, anaknya itu jadi lebih jauh dengannya.

“aku ada urusan,” kata minho sambil memasang jaket hitam kesayangannya. Pintu depan sedikit dibantingnya saat dia keluar.

Udara dingin menyapu wajahnya saat minho mempercepat jalannya di jalanan yang sepi. Hatinya panas. Hidupnya terasa berantakan sejak lima bulan yang lalu, saat ayah dan ibunya bercerai. Sekarang semuanya terasa suram bagi minho. Tak ada yang menyayanginya. Dia anak tunggal, tak ada tempat baginya untuk berbagi kesedihan. Dan sekarang ibunya sudah menemukan pengganti ayahnya, seorang guru sekolah dasar bernama lee jinki. Entah apa yang ada dipikiran ibunya sampai bisa jatuh cinta pada pria yang jauh lebih muda dari usianya itu. Sementara itu, ayahnya sudah hidup dengan wanita lain, wanita yang dihamilinya bahkan sebelum dia bercerai dengan hyunhee.

BUGH!

Minho meninju batang pohon terdekat.

Bugh! Bugh! Bugh!

Minho meninju pohon itu berkali-kali. Melampiaskan kekesalannya. Hatinya pedih dan airmatanya terus mengalir.

“ugh~” erang minho.

Dari buku jarinya mengalir darah segar. Dia tak peduli pada darah itu. Dia tak peduli pada seseorang yang datang mendekat, yang melihatnya menangis—seorang remaja laki-laki berbadan tinggi menangis. Dia tak peduli. Dia tak mau peduli.

“choi minho?”

Sebuah suara memanggil namanya. Minho mengangkat kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya.

~~~

Minho menghirup kopi yang ada di tangannya. Sunhi yang membelikan kopi itu. Selama dua jam mereka duduk di bangku taman, dan selama itu juga minho tak berkata apapun pada sunhi.

Hari sudah gelap sekarang. Mereka hanya diterangi lampu taman yang temaram.

“gomapta,” kata minho akhirnya. Dia menoleh pada sunhi.

Sunhi yang sedang memperhatikan minho terkejut karena tiba-tiba minho berbicara padanya.

“a-ani, gwaenchanha” kata sunhi sedikit tergagap, dia mengalihkan pandangannya ke ayunan taman.

Mereka terdiam lagi. Sesekali sunhi melirik minho yang lagi-lagi berdiam diri.

Minho menghembuskan napas berat. Dipegangnya tangan kanannya yang terbungkus kain. Sunhi yang memanggilnya dan membantu mengobati lukanya tadi. Entah kenapa sunhi masih berkeliaran di sekitar rumahnya, minho tahu laundry tempat sunhi bekerja lumayan jauh dari rumahnya.

“kau tadi sedang apa, di sana?” tanya minho pada sunhi.

Sunhi melirik minho dan tersenyum terpaksa.

“aku tersesat” ujar sunhi malu.

Minho mengerutkan alisnya.

“tersesat? Yang benar saja?”

Minho hampir tak percaya masih ada orang yang tersesat di zaman sekarang.

“untuk apa aku berbohong?” ujar sunhi sedikit kesal, “kalau aku bisa pulang dari tadi, aku pasti sudah berbaring di kamarku yang hangat sekarang,” sunhi menggosok-gosok tangannya dan membenamkan tangannya lagi ke dalam saku jaketnya. Dia meniup napasnya dan uap hangat keluar dari mulutnya. Sunhi meniup dan meniup lagi, dia bermain-main dengan uap itu.

Minho memandang tanah. Bagaimanapun dia harus berterimakasih pada sunhi.

“mau kuantar?” kata minho tiba-tiba.

Sunhi mendelik pada minho dan tersenyum.

“kalau kau mau mengantarkanku sampai keluar dari komplek ini saja aku akan berterimakasih sekali. Setelah itu aku akan pulang sendiri,” jelasnya.

“baiklah,” ujar minho sambil beranjak dari bangku taman. Dia lalu berjalan keluar dari taman, sunhi mengikutinya.

Sepanjang perjalanan, mereka tak berbicara apapun. Sunhi lagi-lagi bermain-main dengan uap yang keluar dari mulutnya. Minho meliriknya.

“kau suka musim dingin?” tanya minho memulai pembicaraan.

Sunhi mengangguk dan tersenyum.

“sangat,” jawabnya.

“wae?” tanya minho lagi.

“tak ada alasannya. Aku hanya suka musim dingin,” sunhi melipat tangannya, “kau suka musim apa?”

Minho tak segera menjawab. Dia menghembuskan napas lagi.

“musim gugur, mungkin,” katanya sambil menoleh pada sunhi.

“wae?” ulang sunhi.

Minho tersenyum.

“tak ada alasannya. Hanya suka saja”

“ya!! Kau mengulang jawabanku!” ujar sunhi.

Minho tertawa pelan mendengarnya.

“sejak kapan kau bekerja begini?” tanya minho lagi.

“di laundry maksudmu? Baru seminggu,” jawab sunhi, “sebelumnya aku bekerja di restoran cina selama  sebelas bulan, tapi begitu mereka tahu kalau aku masih bersekolah aku langsung dikeluarkan,” jelas sunhi sambil mengibaskan tangannya, seolah-olah dia dibuang begitu saja.

Minho mengerutkan alisnya.

“lalu di tempat laundry ini? Apa mereka juga tak tahu kalau kau masih bersekolah?”

“tahu,” jawab sunhi enteng, “tapi sepertinya mereka membutuhkanku, karena itu aku diterima. Atau mereka punya alasan lain. Entahlah,” ujar sunhi lagi sambil menaikkan bahunya.

Minho mengangguk-angguk.

“eh? Ini sudah di luar komplek ‘kan? “, kata sunhi sambil melihat ke sekeliling. Mereka sudah sampai di jalan besar. “aku sampai di sini saja. gomawo sudah mengantarkan,” ujar sunhi lagi sambil sedikit membungkukkan badan.

“aku juga berterima kasih, tadi ini..”, minho mengangkat tangannya yang terbungkus kain.

“gwaenchanha~,” kata sunhi sambil tersenyum, “senang bisa membantumu. Annyeongi gyeseyo,” sunhi membalikkan badannya dan berjalan menjauh.

Minho tersenyum dan berjalan pulang ke rumahnya. Kain yang membalut tangannya terasa hangat.

~~~

“WHAT???!!” key berteriak kepada seorang pria, “apa yang anda maksud dengan ‘pindah’??”

Pria itu menulan ludah, tak disangkanya lelaki berdarah oriental yang terlihat cantik ini bisa berteriak seperti itu. Kotani melirik key, takut temannya itu lepas kontrol dan melakukan hal yang tidak-tidak.

“saya sudah bilang pada anda, nona kim sunhi sudah pindah,” ujar pria itu.

Key menghembuskan napasnya dengan hati-hati. Dia tak mau meledak lagi, dia ke sini untuk mencari adiknya, bukan untuk melampiaskan kekesalannya pada orang asing tak dikenal.

“baiklah,” kata key akhirnya, “kemana dia pindah?”

Pria itu menaikkan kacamatanya yang melorot dan melihat sebuah buku yang ada di tangannya.

“menurut keterangan di sini,” kata pria itu, “nona kim sunhi sudah pindah ke korea selatan”

Key menatap pria itu tak percaya.

“korea sela—“key tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Pencarian dan perjuangannya selama ini tak membuahkan hasil. Orang yang dicarinya malah berada di negaranya sendiri, korea selatan.

Key tak bisa membendung airmatanya. Dia segera pergi dari ruangan itu.

Kotani mencoba menahannya, tapi tak bisa. Kotani jadi merasa tak enak pada pria berkulit putih itu.

“maafkan kami,” kata kotani dengan bahasa inggris yang fasih, “Sudah tiga tahun dia mencari adiknya. Saya harap anda bisa mengerti atas perlakuannya tadi”

“oh, it’s okay, no problem. Saya rasa saya bisa mengerti,” kata pria itu sambil menoleh ke pintu tempat key keluar tadi.

“maaf, tapi apakah anda punya alamat nona kim sunhi sekarang? Di korea selatan, maksud saya,” kata kotani lagi.

Pria itu menghembuskan napas berat sambil melepas kacamatanya.

“we’re very sorry, kami tak punya alamat nona sunhi,” katanya, “tapi kami punya nomor telpon panti asuhan tempat nona sunhi pindah. Ini dia,” pria itu memberikan selembar kertas yang berisi nomor telpon panti asuhan yang dimaksud. Kotani meraih kertas itu dengan wajah berbinar.

“arigatou go—I mean, thank you very much, sir. I’m sure this is very useful for us”, kotani berdiri dan mengulurkan tangannya.

Pria itu menyambut tangan kotani.

“you are welcome,” ujarnya sambil tersenyum.

Kotani membungkukkan badannya sedikit saat dia pergi. Budaya timur yang satu itu tak pernah bisa hilang dimanapun dia berada.

Kotani keluar dari panti asuhan itu dan berjalan menuju mobil yang mereka sewa selama berada di australia. Key tak ada di dalam mobil itu. Kotani melihat ke sekeliling dan menemukan key yang sedang berjongkok di bawah pohon rindang, kepalanya tenggelam di balik tangannya. Kotani menghampiri temannya itu dan memegang bahunya. Dia tahu key sedang menangis.

“key-ah, sudahlah~” ujar kotani.

Key mengangkat kepalanya. Wajahnya bersimbah airmata.

“aku mencarinya kemana-mana, hyung. Banyak yang aku perjuangkan—yang aku lakukan—untuk bertemu dengannya. Sudah kemana-mana aku mencarinya. Tapi ternyata? Dia di korea dan aku tak tahu itu. Hyung, andai kau tahu perasaanku bagaimana”

Kotani menatap key prihatin.

“ini,” katanya sambil menyerahkan kertas yang berisi nomor telpon itu pada key, “ini nomor telpon panti asuhan tempat dia pindah, barangkali bermanfaat untukmu”

Key langsung merampas kertas itu dan membacanya.

“tinggal satu langkah lagi untuk bertemu adikmu. Semoga berhasil,” kata kotani pada key.

Advertisements